Akaba: Fic nya jadi dilanjutin?

Kotaro: Aku kira bakal di discontinue?

Mayu: Etto, aku awalnya agak bimbang. Ada 3 fic yang aku discontinue, termasuk ini tadinya. Tapi setelah aku baca ulang reviewnya, aku jadi ngerasa bersalah sama reader. Aku pikir, yang ini bakal aku lanjut aja. Tapi yang sisa dua lagi bakal aku pertimbangin dulu. ,_,

Kotaro: SMART! Bagus sekali! Karena dalam cerita ini harus ada yang bisa dipastikan sebagai pemenang! Apakah aku atau si maniak gitar ini?

Akaba: Siapa yang kau panggil maniak gitar, tukang sisir?

Kotaro: Aku bukan tukang sisir!

Mayu: Ya udah, mari lanjut xD

.

~~**An Eyeshield 21 Fanfiction**~~

~~**Triangle Love by Mayumi Koyuki**~~

~~**Eyeshield 21 by Riichiro Inagaki and Yusuke Murata**~~

~~**Warning! OOC, OC, typo(s), Gaje tingkat dewa, sok dramatis, sinetron abis, humor garing, etc**~~

~~**Genre(s): humor, parody, drama, friendship, romance**~~

.

"Ano… maukah… kau….."

"I-iya?"

"Maukah… kau menjadi kekasihku?"

Julie, Akaba, Kotaro, Musashi, dan Sena yang mendengarnya sontak mengatakan, "SERIOUSLY?!"

Hening. Semua terdiam saat itu. Siapa sangka, bahwa Miwa akan segera menyatakan cintanya pada Julie secepat ini.

"A…apa… barusan.. Si Miwa itu…" Kotaro nampak kaget. Dan juga tegang, karena menanti jawaban apa yang akan diberikan oleh Julie.

"Wah, berani sekali dia." Musashi berkomentar.

"Tch, as expected from a playboy." Ujar Akaba geram. Dan hampir saja dia berdiri dari mejanya jika tak ditahan oleh Sena.

"Tenanglah Akaba.." ujar Sena mencoba menenangkan.

Sedangkan Julie sendiri hanya diam. Dia tak pernah menyangka, pangeran yang selama ini ia dambakan, akhirnya menyatakan cinta juga padanya.

Bagaimanapun juga, Julie harus memikirkan jawaban yang tepat. Dalam keadaan seperti ini, pikiran Julie sudah berkecamuk. Entah dia harus menerima Miwa atau tidak. Julie sendiri sebenarnya sudah tahu mengenai Miwa yang playboy itu. Tapi cinta Julie murni padanya. Hanya saja, keinginan untuk menerima cinta Miwa tidak pernah ia sangka akan datang secepat ini. Bagaimana sekarang? Hatinya bimbang. Dia tak tahu harus menjawab apa. Dia merasa ini terlalu cepat.

"Umm.. begini, Miwa…" Julie akhirnya berbicara, "janji ya, kau tak akan marah?"

"Tentu." Ucap Miwa dengan senyum andalannya.

"Aku… minta sedikit waktu.. bisa?"

"Kenapa?"

"Aku… itu… hanya saja, aku merasa belum siap.. bukan aku menolak, bukan juga aku menerima. Tapi, sungguh, aku butuh waktu utuk memikirkan jawabannya."

"Baiklah kalau begitu. Aku tunggu jawabanmu dalam dua hari."

"Du-dua hari?" Julie sangat kaget. Mengingat dia juga ulang tahun tepat dalam waktu dua hari lagi. Bagaimana ini? Julie sempat berpikir, sepertinya ini memang sudah dirancang oleh Miwa agar memberinya kejutan saat di hari ulang tahunnya. Romantis memang, tapi Julie masih merasa ada yang mengganjal.

"Iya. Dua hari. Bagaimana?"

"B-baiklah…"

"Kalau begitu, bagaimana jika sekarang kita pulang? Sudah hampir sore. Jangan sampai kau pulang terlalu malam. Biar aku antar ya?"

"Baik. Terima kasih."

Tak lama, mereka berdua pun pergi meninggalkan restoran. Akaba, Kotaro, Musashi, dan Sena juga ikut keluar restoran. Hingga mereka berempat saling bertemu di depan restoran, dan mereka melihat satu sama lain dengan pandangan aneh.

"W-wah, pacar yang kau bawa cantik sekali, tuan detektif! Dia benar-benar menggemaskan!" ucap Kotaro sambil memandang Sena dan Akaba tanpa menyadari kalau itu mereka berdua.

"Ya. Dan apa kau baru saja menikah? Beritahu penghulumu, bahwa kau berterima kasi padanya." Ujar Akaba sambil melirik Musashi dan Kotaro. Tentu saja, dia juga tak mengenali mereka.

"Ah, bisa saja. Aku belum menikah tuan detektif. Hahaha…."

"Oh, kukira kau baru saja menikah.."

"Dia kerabatku. Aku masih SMA. Hahaha.."

"Anak SMA masuk geng motor? Sungguh, anak dewasa jaman sekarang tumbuh dewasa dengan cara yang berbeda-beda."

"Memangnya anda sudah menikah?"

"Belum. Tapi gadis imut ini akan menjadi calon istriku."

"Oh, dan mungkin kau bisa minta bantuan kerabatku ini untuk menikahkanmu! Bagaimana?"

"Bisa bisa! Mungkin nanti akan aku kontak."

Sena pun ikut masuk ke dalam pembicaraan, "Umm, kapan kita pulang?"

"Ah!" Akaba jadi terbawa alur tanpa ia sadari, "Benar juga, aku harus pergi. Mungkin pacarku ini sudah kedinginan. Sampai jumpa."

"Ya, sampai jumpa tuan detektif!" Kotaro melambaikan tangannya, dan berjalan pulang juga bersama Musashi.

~Akaba's side~

"Sena.."

"Iya, Akaba?"

"Jangan salah paham. Aku hanya berusaha menutupi kedok kita."

"Tapi, dia bukan Kotaro 'kan? Kenapa harus—"

Muka Akaba tiba-tiba berubah merah sedikit, "Aku.. terbawa alur cerita dari drama yang aku buat sendiri.."

"HIEEE!"

"M-mau bagaimana lagi? Kau benar-benar terlihat seperti seorang gadis kecil yang manis! Jika kau benar-benar perempuan, sudah kupacari kau!"

"HIIIEEE, AKABA KAU HOMO!"

"AKU MASIH NORMAL! AURA KEWANITAAN YANG KAU MILIKI ITU TIDAK NORMAL!"

"AURA KEWANITAAN?!"

"Dengan kata lain…" Akaba mengambil ponselnya, dan memotret Sena yang masih berpakaian ala gadis lolita, "kau ini trap yang berbahaya."

"HIEEE!"

~Kotaro's Side~

"Hey, Paman…"

"Panggil aku Musashi."

"Baiklah, Paman Musashi."

"Cukup Musashi saja."

"Baiklah, Musashi saja."

"Musashi!"

"Ayolah, nama panggilan itu tidak terlalu penting 'kan? Lagipula, aku masih kagum dengan si tuan deketif tadi dan pacarnya! Bukankah mereka berdua terlihat mesra? Jika kau benar-benar seorang penghulu, mungkin ada baiknya kau yang menikahkan mereka saja. Aku rela menjadi saksi kedua insan yang berbahagia itu. melihat mereka sangat dekat, membuatku juga ingin segera mendapatkan Julie."

"Tapi bukankah dia ditembak oleh si laki-laki yang bernama Miwa itu?"

"Tapi Julie belum menjawab 'kan? Masih ada kesempatan buatku!"

"Ya, terserahlah."

"Aku harap, suatu hari aku juga bisa seperti tuan detektif dan pacarnya tadi."

"Ya, semoga saja."

….

Bodoh sekali bukan?

*Skip time; kamar Julie*

-Julie's POV-

Aku baru saja selesai mengganti pakaianku dengan baju tidur. Dan aku juga baru sampai dari restoran setelah diantar Miwa sampai ke rumah.

Bicara soal Miwa…

Bagaimana sekarang? Selama ini aku selalu bermimpi bahwa Miwa akan menyatakan cintanya padaku. Tapi, tak pernah kusangka akan benar-benar terjadi! Apakah ini yang namanya mimpi jadi kenyataan? Apakah sebaiknya aku bicarakan soal ini besok pada Akaba dan Kotaro? Ya, kurasa sebaiknya aku bertanya dulu pada mereka. Karena, aku juga merasa ada yang aneh.

Ada sesuatu yang mengganjal di sini…

Di hati ini…

*esok harinya; ruang klub Bando*

-Normal POV-

Julie memasuki ruangan klub. Dan pemandangan yang biasa—Akaba dan Kotaro tengah berkelahi—tengah ia lihat saat ini. Namun sungguh, Julie sedang tak ingin melerai mereka. Dia malah murung, dan duduk di sofa sambil memegang catatan manajernya. Akaba dan Kotaro yang menyadari perubahan sikap pada Julie, langsung menghampirinya.

"Kau kenapa Julie?" tanya mereka bersamaan yang kemudian diakhiri dengan saling menatap sinis.

"Tidak, aku tidak apa-apa." Jawab Julie. Yang tentu saja, itu adalah sebuah kebohongan.

"Ceritalah." Ujar Kotaro. Pastinya dia tak akan bersikap sok tahu. Jika iya, maka hari di mana dia membuntuti Julie kemarin akan sia-sia.

"Iya, kami akan mendengarkanmu. Lagipula, anak-anak lain belum ada yang datang." Sahut Akaba. Dia juga berpikiran sama seperti Kotaro.

"Terima kasih. Mungkin aku akan cerita sepulang sekolah saja." Yang berarti Julie setuju dengan tawaran mereka.

"Baiklah kalau begitu." Ucap Akaba dan Kotaro bersamaan lagi. Dan tentu saja, tatapan sinis kembali muncul di wajah mereka.

*skip time; sepulang sekolah; atap sekolah*

Akaba, Kotaro, dan Julie pergi ke atas atap untuk memenuhi janji Julie yang akan curhat. Sambil melihat langit biru di atas sana, Julie pun memulai pembicaraan, "Ini… soal Miwa…"

"Miwa? Kenapa lagi dia?" tanya Akaba.

"Kemarin…." Julie membelakangi Akaba dan Kotaro, "Miwa menyatakan cinta padaku."

"Benarkah?" tanya Kotaro pura-pura terkejut.

Julie mengangguk pelan.

Akaba pun mengajukan pertanyaan, "Lalu? Apa kau menerimanya?"

"Tidak.." sahut Julie, "atau mungkin belum. Entahlah, aku juga tak tahu."

"Kenapa?" Kotaro bingung sekarang.

"Aku merasa, akan ada hal buruk yang terjadi jika aku menerima Miwa. Ya, aku tahu dia playboy. Tapi apakah kau pernah melihat Miwa menggandeng seorang gadis di sekolah semenjak putus dari pacarnya yang terakhir tiga bulan yang lalu? Tiga bulan itu bukan waktu yang sebentar. Jadi, ada kemungkinan dia sudah tidak playboy lagi 'kan?"

"Ya, itu mungkin saja…" ujar Akaba mencoba berpikir objektif, "tapi Julie, aku tetap tak setuju jika kau berpacaran dengannya. Untuk alasan yang sama, aku juga merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Ada yang tidak benar di sini."

Kotaro menambahkan, "Ada satu hal yang aneh. Miwa menyatakan cinta pada Julie tanpa pendekatan dahulu. Jika dia memang tidak playboy lagi, bukankah dia seharusnya melakukan pendekatan pada Julie? Ini dalam waktu kurang dari beberapa jam sudah main tembak. Aneh bukan? Hanya seorang playboy sejati yang mampu melakukan hal seperti itu."

"Kurasa iramamu tak meleset kali ini…" Akaba nampaknya setuju dengan gagasan Kotaro.

"Keh, jangan menganggap remeh kemampuanku dalam menganalisa ya!" Kotaro nampak bangga.

"Jadi, aku harus bagaimana? Aku harus segera menjawabnya besok!" tanya Julie.

Kotaro dan Akaba terbelalak. Benar juga, besok Julie ulang tahun, dan belum ada kemajuan apapun di antara mereka berdua gara-gara ada Miwa. Bagaimana sekarang?

Mereka bertiga pun larut dalam pikiran masing-masing, hingga akhirnya Julie memutuskan untuk mengajak Akaba dan Kotaro ke ruang klub untuk bersiap latihan sore.

*skip time; sepulang latihan*

Akaba pulang bersama Kotaro hari ini. Mereka pulang bersama karena akan membeli kado untuk hadiah ulang tahun Julie nanti.

Akaba yang tengah sibuk menghitung uang di dompetnya disindir oleh Kotaro, "Tak punya uang eh? Hahaha, dasar miskin! Jual saja gitar bodohmu itu, baru kau bisa beli hadiah untuk Julie!"

Akaba langsung panas mendengar kata-kata Kotaro, "Fuu… Maaf saja, tapi justru uangku terlalu banyak dan sudah jauh melampaui target. Bahkan aku baru saja berpikir untuk memberikan sebagian padamu jika kau kekurangan uang."

"Enak saja, aku sudah menabung demi ulang tahun Julie! Julie akan lebih menghargai usahaku yang menabung giat daripada kau yang kerjanya hanya bisa meminta pada orang tua! Hahaha!"

"Fuu, jangan meremehkanku. Aku sudah berkeliling komplek rumahku, dan memainkan melodi indah bersama gitarku kepada seluruh penghuni di sana lalu mendapatkan uang."

"Kau konser keliling? Hahaha! HAHAHAHAHA! Kau lebih pantas jadi pengamen jalanan, bodoh! Hahaha!"

"Tch, daripada kau, menabung tapi uangnya dari orang tua juga. Sama saja bohong."

"Apa katamu—"

"Jadi, bagaimana? Apa rencanamu berjalan lancar sayang?"

"Tidak juga, tapi aku yakin pasti. Dia akan menerimaku besok."

Perkelahian Akaba dan Kotaro terhenti ketika mereka mendengar suara orang yang tengah berbincang di balik tembok menuju gang yang ada di depan mereka. Dan mereka kenal jelas, bahwa itu suara Miwa dan seorang gadis. Maka mereka memutuskan untuk menguping sebentar dan bersembunyi.

"Jadi, bagaimana Hana? Apa kau sudah siap menjadi manajer Bando Spider yang baru?" tanya Miwa yang kontan membuat Akaba dan Kotaro kaget bukan main.

"Mulai besok ya? Hihi, tentu aku siap sayang! Aku harap kau juga sudah siap untuk menggantikan si Akaba Hayato itu sebagai bintang utama Bando." Ucap gadis bernama Hana yang tengah mengalungkan kedua tangannya di leher Miwa itu.

Akaba dan Kotaro bingung bukan main. Lagipula, siapa juga Hana itu? Jika Akaba memperhatikan gerak gerik mereka, nampaknya mereka berpacaran. Ternyata dugaan Akaba benar. Miwa masih saja seorang playboy, dan dia merencanakan sesuatu yang jauh lebih kejam kali ini terhadap Julie—tidak, terhadap Bando Spider dengan Julie sebagai medianya.

Kotaro dan Akaba memutuskan untuk pergi menjauh dari tempat itu sejauh mungkin.

*kemudian*

Mereka berdua jadi lupa harus membeli kado untuk Julie. Tapi bagi mereka, ada yang jauh lebih penting dibanding itu. Ya, Bando Spider tengah terancam. Itu yang mereka tahu.

"Hoi maniak gitar.."

"Apa, tukang sisir?"

"Menurutmu, gadis yang berambut biru tadi… err, siapa namanya?"

"Hana…"

"Ya, dia! Menurutmu, dia itu anak kelas mana? Aku jarang melihatnya."

"Bukan jarang lagi, tapi aku memang tak pernah melihatnya. Entah kenapa, aku takut besok menjadi hari ulang tahun terburuk bagi Julie."

"Nah, di sini tugas kita untuk menyelamatkan hari yang paling spesial baginya 'kan?"

"Ya, tapi kita tak bisa gegabah. Kita harus bertindak lambat tapi pasti."

"Hm, aku mengerti!"

*esok harinya; ruang kelas*

Akaba dan Kotaro nampak sibuk dengan HP mereka masing-masing. Seperti sednag SMSan. Dan itu merupakan pemandangan yang tidak biasa. Mengingat Akaba biasanya sibuk dengan gitar, dan Kotaro sibuk dengan sisirnya.

'Jangan bilang mereka berdua sedang SMSan satu sama lain sekarang..' batin Julie diiringi dengan sweatdrop.

"Baik, baik, duduklah anak-anak!" ucap guru yang hendak mengajar di kelas Akaba, Kotaro, dan Julie pagi ini. "Ada sedikit pengumuman. Kalian kedatangan murid baru hari ini!"

'Murid baru?' batin Akaba dan Kotaro.

"Ayo, silahkan masuk." Ucap sang guru pada seorang siswa yang berdiri di luar kelas dan berjalan masuk ke dalam, "Silahkan perkenalkan dirimu."

Gadis berambut biru ikal itu tersenyum dan berkata, "Namaku, Takegawa Hana. Salam kenal."

Akaba terbelalak, "Ha.. Hana?"

Kotaro terperangah, "Dia 'kan… yang kemarin…"

Akaba dan Kotaro melirik ke arah Miwa. Rupanya benar, Hana yang ada di kelas mereka sekarang adalah Hana kekasih Miwa yang kemarin. Terbukti, dari senyum yang dilontarkan Miwa pada Hana. Dia tidak terlihat penasaran dengan kehadiran Hana seperti siswa lain. Malah senyum itu cenderung seperti senyum yang…. Mesra?

Akaba melirik ke arah Kotaro, "Hari ini, Bando dalam bahaya. Mainkanlah beatmu yang paling bagus. Kita beraksi hari ini."

Kotaro melirik sambil menyisir, "Tentu, aku sudah siap dengan SMART!"

.

Fuu… TO BE CONTINUED dengan SMART!

.

Yosh, waktunya balas review :3

.

Guest: makasih reviewnya :3 iya ini lanjut kok. Maaf, tadinya mau discontinue, tapi ga jadi hehe xD

Anonymous: makasih, review lagi? :3

TheDevilQuarter: Makasih, silahkan review lagi xD

Sasaki Meiwa: sankyuu.. mohon review lagi :3

.

Yak, sekian. Yang login dah saya bales lewat PM XD

Next chap, mohon reviewnya lagi yaa.. jaaaa~ xD

.

Keep Spirit Up!

Mayu-chan