Kotaro: lagi2 telat update, dasar author ga guna!
Mayu: Gomen, saya sibuk kuliahi… jadi.. jadi… *mewek*
Akaba: Ya sudahlah, tak apa. Kita lanjutkan saja…
Mayu: Kyaaaa, Akaba baik~
Kotaro: TIDAK SMART!
.
~~**An Eyeshield 21 Fanfiction**~~
~~**Triangle Love by Mayumi Koyuki**~~
~~**Eyeshield 21 by Riichiro Inagaki and Yusuke Murata**~~
~~**Warning! OOC, OC, typo(s), Gaje tingkat dewa, sok dramatis, sinetron abis, humor garing, etc**~~
~~**Genre(s): humor, parody, drama, friendship, romance**~~
.
Kotaro terperangah, "Dia 'kan… yang kemarin…"
Akaba dan Kotaro melirik ke arah Miwa. Rupanya benar, Hana yang ada di kelas mereka sekarang adalah Hana kekasih Miwa yang kemarin. Terbukti, dari senyum yang dilontarkan Miwa pada Hana. Dia tidak terlihat penasaran dengan kehadiran Hana seperti siswa lain. Malah senyum itu cenderung seperti senyum yang…. Mesra?
Akaba melirik ke arah Kotaro, "Hari ini, Bando dalam bahaya. Mainkanlah beatmu yang paling bagus. Kita beraksi hari ini."
Kotaro melirik sambil menyisir, "Tentu, aku sudah siap dengan SMART!"
*skip time*
~Atap Sekolah; Jam makan siang~
Julie dan Miwa tengah berbicara berdua. Ya, tepat hari ini adalah ulang tahun Julie. Pastinya, Miwa dan Hana sudah membuat rencana dengan sangat matang demi moment penting ini.
"Umm.. Julie… jadi, bagaimana?" tanya Miwa to the point.
"B-bagaimana apanya?" tanya Julie bercampur gugup.
"Soal… pernyataan cintaku yang kemarin.."
"Um… itu… anu…"
Miwa menggenggam tangan Julie dan menatapnya penuh cinta (?), "Jawab sekarang, Julie."
Julie merasa jantungnya mau copot saat itu juga. "A-aku.. aku…"
BRAK!
Ada yang menggebrak pintu atap sekolah, "Miwa…. Apa yang kaulakukan?"
Miwa dan Julie melirik ke arah pintu atap sekolah dan mendapati Hana yang terlihat emosi sekali. Hana menatap tajam ke arah Juliedan berjalan dengan penuh amarah mendekatinya. Hana langsung mendorong badan Miwa dan Julie untuk saling menjauh dan…
PLAK!
Hana menampar wajah Julie dengan sangat keras!
"Dasar wanita genit!" bentak Hana, "Beraninya kau merayu pacarku!"
'Pacar?!' batin Julie kaget sambil meringis menahan rasa sakit dan panas di pipinya.
"Miwa adalah pacarku! Berhenti sok cantik dan manis di hadapannya!"
"Tidak…" Julie mulai angkat bicara, "Tidak, kau salah! Aku dan Miwa tidak punya hubungan apa-apa! Kau salah paham!"
"Salah paham? Keh, salah paham apanya? Aku jelas melihat kau dan Miwa berpegangan tangan, dan kau terlihat malu-malu begitu!"
"I-itu karena… karena…"
"Lihat? Wajahmu yang hina itu kembali memerah! Berarti memang ada sesuatu di antara kalian!"
"Tidak! Sungguh! Sebenarnya… sebenarnya, Miwa meminta jawaban atas per—"
"Diam! Aku tak peduli dengan semua alasanmu!" Hana berbalik menatap Miwa dengan penuh amarah, "Dan kau, Miwa! Kau harus bertanggung jawab atas semua ini!"
"Eh?" Miwa heran dengan kata-kata Hana.
Hana tersenyum sinis, dan kembali menatap Julie, "Jika kau ingin aku mengampunimu, aku ingin kau memberiku sesuatu!"
"Sesuatu?" tanya Julie.
"Ya…"
"Katakanlah. Apapun itu, katakanlah!" Julie memang tidak merasa salah, tapi dia lebih baik merasa seperti itu, daripada di cap sebagai pengganggu hubungan orang lain. Dia tidak ingin reputasi Bando Spider ikut tercemar gara-gara memiliki manajer yang bajingan seperti dirinya.
"Apapun… eh?"
"Hu'um!"
"Baiklah… berikan aku…. Jabatanmu!"
"Hah?"
"Kaudengar? Jabatan!"
"Jabatan…. Maksudmu, jabatanku sebagai manajer Bando?"
"Tepat…"
"Tidak!"
"Kaubilang apapun, 'kan?"
"Tapi aku tak mau Bando jatuh ke tanganmu!"
"Kenapa? Kau jelas-jelas salah di sini! Kau mau aku sebarkan ke seluruh penjuru sekolah bahwa manajer klub amefuto terkenal, Bando Spider, adalah seorang wanita pengganggu hubungan orang lain?!"
"Tapi, sudah kubilang, kau salah paham!"
"Oh, baiklah… kalau begitu…." Hana berjalan menuju pagar atap sekolah dan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Tidak… tunggu!" Julie berusaha mengejar Hana dan menghentikan aksinya yang akan berteriak kencang, "Baik, baik! Aku mengerti! Aku akan memberikan jabatanku! Aku akan keluar dari Bando Spider, dan aku serahkan Bando Spider padamu!"
Hana berhenti berjalan, dan berbalik kembali menatap Julie, "Benarkah?"
"Y-ya…. Benar…"
"Baiklah, aku juga akan mengangkat Miwa sebagai pengganti Akaba!"
"A-apa?! Kenapa Miwa juga—"
"Dia pacarku, bahaya jika aku meninggalkan dia berkeliaran tanpa ada pengawasan dariku ketika aku sibuk di klub. Nanti, dia selingkuh denganmu lagi! Maka dari itu, dia harus ikut bergabung denganku."
"Kenapa tak jadikan dia anggota cadangan saja? Itu bisa tetap membuat Akaba ada di dalam tim tanpa kau harus kehilangan pacarmu!"
"Ckck, aku manajer Bando sekarang, apa hakmu mengaturku? Aku yang sekarang bertugas mengatur Bando, kau orang asing, diamlah!"
"Apa?!"
"Apa aku salah? Aku dengar kaubilang tadi bahwa kau bersedia keluar dari Bando, dan memberikan jabatanmu padaku…"
"….."
"Haha, baiklah, sampai jumpa! Tonton pertandingan kami nanti ya!"
"Tch…"
"Ayo, Miwa! Kita segera ke klub, mengecek anggota yang lainnya!"
Miwa tersenyum, dan langsung merangkul bahu Hana, "Ayo!"
Mereka berdua pun berjalan keluar atap sekolah, melewati pintu yang tadi di dobrak Hana, dan meninggalkan Julie sendirian.
BRUK
Julie terduduk lemas, dan air matanya mengalir begitu saja. Dia menangis. Dia menyesal. Kenapa dia bisa terhipnotis rayuan Miwa yang jelas-jelas playboy itu. dia juga menyesal, ak mampu mempertahankan Akaba di Bando. Dia merasa, semua ini salahnya.
*sepulang sekolah*
Julie berjalan lesu menuju gerbang sekolah. Dia melangkahkan kakinya untuk menuju rumah dan segera berdiam diri di kamarnya. "Ini ulang tahun terburuk…" gumamnya.
"Tidak juga…"
"Eh?"
Julie mendapati Akaba yang sedari tadi menunggunya di depan gerbang sekolah, "Yo, manajer."
"Aka….ba…"
"Ada apa?"
"…." Julie hanya bisa tertunduk lemas.
"Kau kenapa?"
"Maaf…"
"Maaf? Untuk?"
"Maafkan aku… aku… aku tak bisa…. Aku tak bisa mempertahankanmu di Bando! Aku… aku payah! Aku—eh?"
Akaba mengelus rambut Julie lembut, "Bicara apa kau? Ayo kita ke lapangan. Kita lihat yang sedang berlatih…"
"Tapi… aku… kau… Bando…."
"Aku tidak ikut berlatih dulu hari ini, jjariku sedang dalam kondisi yang buruk. Ini semua ulah Kotaro. Maaf ya, manajer."
"Berhenti memanggilku manajer. Aku… aku bukan lagi manajer Bando! Aku…."
"Apa yang kau bicarakan? Ayo, kita ke lapangan!"
"Jangan bergurau Akaba! Aku tahu kalau kau sudah mengetahui bahwa aku dan kau telah digantikan oleh Hana dan Miwa! Kita tak perlu datang menyaksikan pertandingan mereka! Kita ini orang asing!"
"Pokoknya, ayo kita ke lapangan!"
Akaba tersenyum dan menarik tangan Julie menuju lapangan. Julie tetap pasrah dengan pemandangan yang akan dia lihat nanti. Dia ingat pasti, bahwa hari ini jadwal latih tanding Bando dengan Ojou. Dia mungkin tak akan sanggup menahan air matanya, ketika Bando bertarung tanpa dirinya dan Akaba.
*di lapangan*
PRIIIIIT!
Peluit tanda pertandingan telah usai pun berbunyi.
"Ah, kita terlambat…" ucap Akaba dengan nada menyesal.
Julie yang sedari tadi diam dan tertunduk lesu, perlahan mengangkat kepalanya untuk bersiap melihat pemandangan yang menyakitkan di hadapannya,"Akaba, sudah kubilang, kita tak perlu—eh?"
Betapa kagetnya Julie, ketika dia tahu bahwa Bando kalah! Dan yang membuatnya lebih kaget, lawannya bukan Ojou, melainkan Deimon Devil Bats!
"K-kenapa….." tapi Julie kemudian sadar, "Oh iya, Hana pasti mengubah jadwal pertandingannya. Tapi… kenapa harus Deimon?"
Julie melihat Hana dan Miwa yang menangis di pinggir lapangan. Hana nampak memukuli Miwa, "Dasar bodoh! Bukankah kau berjanji untuk jadi lebih kuat, agar bisa masuk Bando?! Bukankah kau berjanji kau akan menang dan mengalahkan Hiruma Youichi?! Kenapa? Kenapa kau kalah?!"
Miwa juga ikut membentak, "Aku tak tahu mereka pada nyatanya sekuat ini! Kulihat di TV, mereka selalu mudah kalah! Aku tak tahu kalau mereka sudah bertambah kuat! Aku tak tahu, kalau Hiruma Youichi, si setan tukang teror itu ternyata sekuat ini!"
"Jadi…." Julie terbelalak, "Alasan mereka ingin merebut Bando… untuk mengalahkan Hiruma?"
"Bodoh bukan?" Akaba tersenyum, "Mereka ingin mengalahkan Deimon yang sekarang, tentu saja mustahil."
"Akaba… kenapa kau…"
"Hm?" Hiruma, yang sedari tadi meniup gelembung permen karetnya berteriak begitu melihat Akaba dan Julie, "Oh, itu dia si putri sialan yang sedang ulang tahun!"
Sena melirik ke arah kerumunan penonton, dan melihat Akaba juga Julie, "Ah, Akaba!"
"Ayo…" Akaba menarik tangan Julie, dan berjalan ke dalam lapangan.
"Kenapa ini… aku bingung…." Julie nampak sulit mendeskripsikan apa yang tengah terjadi.
"Tadi itu SMART sekali! Aku benar-benar puas!" Kotaro tiba-tiba menghampiri, "Kurasa, rencana kita benar-benar sukses!"
"Ya…" Akaba tersenyum, "Syukurlah Deimon bersedia membantu."
"Itu berkat si paman tua yang bersedia membantuku!"
"Itu juga berkat Sena yang bersedia membantuku!"
"Aku juga tidak tahu kalau kau ternyata punya cupidmu sendiri! Dasar tidak SMART!"
"Fuu, lihat siapa yang bicara di sini! Kau sendiri juga membawa sebuah melodi lain untuk mengiringimu!"
"Apa katamu, aku tidak mengerti!?"
"Sudahlah, kalian jangan bertengkar!" Julie memukul Akaba dan Kotaro dengan kertas gulung seperti biasa, "Jelaskan dulu padaku, apa yang terjadi!"
"Kau ingin penjelasan?" Hiruma menyeringai lebar sekali. Tim Deimon seolah sudah tahu apa yang akan dilakukan Hiruma, jadi mereka hanya bisa diam dan tertawa garing, "Kalau begitu.. akan kuberikan penjelasan sialannya serrrrrriiinnnnci mungkin! Kekekeke!"
"Beritahu aku!" Julie yakin Hiruma tak akan berbohong.
"Begini, dua laki-laki sialan ini datang merengek pada Si Anak Pendek dan Si Paman Tua Sialan untuk meminta bantuan mereka dekat denganmu dan menjauhimu dari si Pencuri Sialan itu!" Hiruma menunjuk Miwa dan Hana dengan pistolnya, "Tapi, kemudian rencana si Pencuri Sialan itu berhasil, dan merebut Bando Sialan dari kalian. Alhasil, si Paman Tua Sialan dan si Anak Pendek meminta bantuan Manajer Sialan untuk mengatur jadwal pertandingan antara Deimon dan Bando. Dan pacarnya si Pencuri Sialan itu adalah manajer yang sangat bodoh dan tidak tahu sistematika permainan! Jadi dia setuju begitu saja! Alhasil, Bando kalah telak! Kekekeke!"
"Ah, jadi begitu…" Julie sedikit bingung menerjemahkan nama orang yang disebutkan Hiruma, tapi pada akhirnya dia mengerti. Dia mengerti, bahwa Akaba dan Kotaro begitu peduli padanya.
Saat itu, Hana dan Miwa datang menghampiri.
BRUK!
Hana melemparkan buku catatannya pada Julie, "Aku keluar dari sini! Bando sungguh payah!"
Miwa juga melemparkan helm Bando ke tanah di hadapan Akaba, "Aku juga! Silahkan ambil helm itu! kerjasama Bando sangat payah!"
Dengan itu, Hana dan Miwa pergi meninggalkan lapangan dan diiringi sorak penonton yang berkata, "Huuuu!"
"Tentu saja kerjasamanya buruk…" Julie tersenyum, "Karena tak ada aku dan Akaba di sana. Iya 'kan, Kotaro?"
"Tentu saja. Teamwork kita yang paling SMART!" Kotaro menyisir entah untuk yang ke berapa kalinya.
"Fuu, melodi kita bertiga tak mungkin bisa dipisahkan." Akaba tiba-tiba sudah memetik gitarnya begitu saja.
"Baiklah…" Hiruma mengangkat pistolnya ke langit, "Pergilah kalian penonton sialaaaaaaan! Pertandingan berakhir, semua selesai! PERGI PERGI PERGI PERGI! YAAAA-HAAA!"
DOR DOR DOR DOR DOR!
Hiruma menembakkan pistolnya dengan sembarangan, hingga para penonton pun lari meninggalkan lapangan terbirit-birit!
"Ahaha…. Itulah Kak Hiruma…" Sena hanya bisa sweatdrop.
"Baik, sekarang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Musashi pada Kotaro.
"Hah?" Kotaro bingung.
"Oh iya." Sena juga menatap Akaba, "Kak Hiruma tak mungkin menyuruh penonton pergi begitu saja kalau bukan saat ini."
"Saat…. Ini?" Akaba bingung.
Mamori tersenyum, "Apa kalian lupa soal pernyataan cinta kalian?"
"Eh?" Akaba dan Kotaro mulai memerah begitu ingat tujuan awal mereka.
"Pernyataan… cinta?" Julie ikut bingung, tapi kemudian dia sadar, "Hah? Jangan bilang… Akaba dan Kotaro…. Akan menyatakan perasaan mereka satu sama lain!?"
"BUKAAAAN!" Akaba dan Kotaro menyanggahnya mentah-mentah.
"Eh? B-bukan ya.. ahahaha…"
"JANGAN TERTAWA!"
Mamori mulai angkat bicara lagi, "Tadinya, Kotaro meminta bantuan Musashi, dan Akaba meminta bantuan Sena untuk mendekatkan mereka padamu, dan menjauhkanmu dari pria yang bernama Miwa itu. mereka tahu dari awal, bahwa Miwa adalah orang yang tidak baik. Mereka tahu semua rencana Miwa dan pacarnya, jadi mereka memutuskan untuk mengikuti alur permainan Miwa dan pacarnya sejenak demi menjalankan rencana mereka. Dengan keluarnya Akaba dan Julie dari Bando, Kotaro mulai menjalankan rencana itu, rencana untuk membuat Miwa dan pacarnya pergi. Kotaro mengajukan latih tanding dengan Deimon pada pacarnya Miwa, dan dia yang tidak mengerti sistematika permainan, setuju begitu saja, dan mengajukan proposal padaku bersama Miwa dan Kotaro. Kotaro menjelaskan alasan mengapa Bando yang harusnya bertanding dengan Ojou jadi diubah melawan Deimon. Aku pun mendapat cerita tambahan soal Sena dan Musashi yang menjadi cupid, jadilah seperti sekarang ini."
"J-jadi… Akaba dan Kotaro… semua ini rencana mereka demi menyelamatkan Bando?" Julie nampak kaget dan tak percaya.
"Ini juga mereka anggap sebagai hadiah ulang tahun untukmu, Julie!"
"Kalian…." Julie begitu terharu dan menatap Akaba juga Kotaro.
Dua laki-laki yang sedari tadi diam itu kemudian angkat bicara. Dimulai dengan Akaba, "Jadi… bagaimana?"
"Eh?" Julie kembali bingung.
"Apa…. Kau senang?" tanya Kotaro.
"Tentu saja!" Julie tersenyum lebar, "Aku senang! Aku senang bisa kembali ke Bando! Aku senang memiliki kalian di sisiku! Aku senang sekali!"
Kotaro berkata, "Kalau begitu…."
Disambung Akaba, "…Siapa di antara kami sekarang…"
Kemudian mereka mengatakannya bersama, "…Yang akan kau pilih?!"
"He?" Julie langsung memerah. Begitu juga Akaba dan Kotaro.
Akaba menatap lurus Julie, "Aku yang berusaha membuat rencana ini lebih baik. Aku yang bahkan menenangkanmu di saat kau terpuruk depan gerbang tadi! Aku bekerja lebih untuk ini!"
Kotaro menyanggah, "Tidak, aku yang paling banyak berkorban untukmu! Aku bahkan harus menghadapi langsung kedua pencuri itu, bahkan ikut serta juga dalam pertandingan dan menahan kekuatan tendangan SMART milikku agar tidak masuk supaya tim Bando kalah dan rencana berjalan sukses!"
"Tidak, akulah yang paling berkerja keras!"
"Bukan, aku!"
"Aku!"
"Hentikan!" Julie yang biasanya menghentikan perkelahian Akaba dan Kotaro dengan pukulan kertas gulung, kali ini menghentikannya dengan menggenggam kedua tangan lelaki itu dengan tangan kiri dan kanannya.
"Julie…" Akaba dan Kotaro langsung diam dan semakin memerah.
"Aku… aku tak tahu siapa yang harus kupilih… lagipula, kalian berdua sama-sama bekerja keras demi membuat rencananya sukses dan memberikan hadiah ulang tahun terbaik untukku. Jujur, aku menyayangi kalian berdua, tapi aku tak bisa memilih salah satu di antara kalian…"
"Apa itu artinya… kau menolak kami?" tanya Akaba.
"Tidak, tidak seperti itu…"
"Kalau begitu, pilihlah!" Kotaro menegaskan.
"Bagaimana jika… aku memilih keduanya?"
"Eh?" Akaba dan Kotaro tercengang.
"A-aku tahu ini egois. Tapi, aku juga tak bisa memungkiri rasa sayangku pada kalian. Aku tak bisa memilih. Mungkin, ini menjadikanku sama saja dengan Miwa, aku mungkin memang serakah, ingin memiliki dua kekasih, tapi… aku…."
"Julie…." Kotaro nampak agak bingung.
"Um… biarkan aku memikirkannya dulu…" Akaba melepaskan tangan Julie, dan beranjak pergi.
"Aku… aku juga…" Kotaro pun melangkahkan kakinya ke ruang klub, untuk berganti pakaian dan pulang diikuti pemain Bando yang lainnya.
Tersisalah Deimon dan Julie di lapangan.
PUK
Mamori menepuk bahu Julie dan tersenyum. Julie menatap Mamori dan berkata, "Apa yang kulakukan benar?"
"Sejujurnya…." Mamori menanggapi, "Aku juga ragu. Aku tak tahu, apa itu benar atau tidak…"
"Bagaimana ini…. Aku…"
Hiruma berjalan melewati kedua gadis itu sambil meniup permen karetnya, "Si Anak Pendek dan si Paman Tua Sialan akan membantu mereka…"
"Eh?" Mamori melihat ke belakang, dan menyadari bahwa Sena dan Musashi sudah tak ada di tempat, "Ke mana mereka?"
"Melanjutkan peran mereka sebagai cupid.. kekekeke!"
*malam harinya*
~Kamar Akaba~
-Akaba's POV-
Aku terdiam sambil memetik gitarku. Kulantunkan melodi-melodi yang pelan dan mendayu-dayu. Kembali memikirkan soal jawaban Julie tadi, membuat dadaku sesak, dan pikiranku bingung. Apa yang kulakukan tak cukup untuk menjadi seseorang yang lebih di hatinya? Kenapa dia selalu memandang aku dan Kotaro sama? Ayolah, aku harus bagaimana?
"Ini menyakitkan… mengingat usahaku sia-sia…" gumamku dengan tatap mata yang nanar.
TOK TOK
"A…Akaba?"
Suara itu… Sena?!
CKLEK
"Ada apa?" tanyaku dengan aura suram.
"B-boleh aku masuk?" tanyanya balik dengan nada yang kikuk.
"Masuklah…" aku mempersilahkannya duduk di kasurku, sedangkan aku di lantai sambil memetik gitarku, "Jadi aku tanya lagi, ada apa?"
"A-anu… bukankah sebaiknya aku yang duduk di lantai?"
"Sudahlah, tak usah dipikirkan. Mau apa kau ke mari?"
"Aku… aku ingin membuatmu pasti akan satu hal…"
"Hm?"
"Soal jawaban Julie…"
"Aku sudah memutuskan…"
"Benarkah?"
"Ya, aku akan menolaknya… aku tak bisa jika harus diduakan…"
"Menurutku, kau jangan dulu berasumsi ke sana… maksudku, coba lihat sisi positifnya, mungkin dengan Julie memacari kalian berdua, hubungan kalian bisa makin dekat. Kau tahu, daripada seperti…"
"Friendzone… eh?"
"Y-ya, mungkin…. Sepertinya, dia berkata begitu untuk kebaikan kalian berdua. Ahahaha, m-memang rasanya aneh tapi…."
"Kau pikir… kau pikir aku senang dengan kenyataan bahwa kami harus friendzone?! Aku punya melodi kencang padanya yang bisa meledak setiap saat! Bagaimana bisa aku tahan dengan keadaan friendzone?!"
"Kalau begitu terima saja!"
"Eh?"
"Jika kau tak tahan menjadi teman, maka terimalah untuk didua olehnya! Bukankah itu lebih baik?! Masalah perasaan, itu bisa mengalir! Lambat laun, kau akan menerimanya! Tanpa kau sadari, kau dan Kotaro akan menjadi saingan yang sejati!"
"Sena…."
"Aku… aku tahu, bukan tempatku untuk bicara… tapi, aku tak tahan melihatmu kebingungan sementara jawabanmu tepat ada di hadapanmu!"
"…."
"Pergilah! Sebelum terlambat! Kau bilang kau akan berpacaran dengannya tepat di hari ulang tahunnya 'kan?! Ini belum tengah malam, jadi masih ada waktu! Cepatlah!"
JREEEENG!
Aku berdiri sambil memetik gitarku dengan nada yang semangat, "Doakan aku, Sena!"
BRAK!
Aku langsung membuka pintu, dan berlari ke luar rumah menuju ke rumah Julie.
"Kak Musashi… ini sudah benar, 'kan?" Sena menerawang ke langit-langit kamar.
*di lain tempat*
-Normal POV-
Akaba yang tengah berlari menuju rumah Julie, berpapasan dengan Kotaro di tengah jalan yang sepertinya berlari ke arah rumah Julie juga, sampai akhirnya mereka berlari bersama.
"Sepertinya kau baru saja mendapat pencerahan…" ucap Akaba di tengah pelariannya (?).
"Heh, kau juga sepertinya sama saja…" Kotaro menanggapi.
"Kali ini, kita akan menjadi saingan yang seutuhnya, ya.."
"Ya, kau benar! Heheheh!"
SREK!
Mereka mengerem (?) tepat di depan rumah Julie, kemudian berteriak bersama, "JULIEEE!"
"Eh?" Julie yang tengah galau di kamarnya langsung menuju balkon dan mendapati dua lelaki yang dicintainya tengah berdiri dengan nafas yang terengah-engah, "Kotaro? Akaba?!"
"Julie, aku sudah tahu jawabannya!" Kotaro agak meninggikan suaranya.
"Aku juga! Aku… aku akan mengatakannya sekarang!" sahut Akaba dengan nada suara yang di tinggikan juga.
"….." Julia sendiri menanti jawaban mereka berdua. Dia pasrah dengan jawaban apapun yang akan keluar dari mulut kedua lelaki itu.
Hingga kemudian, Akaba dan Kotaro berteriak, "KAMI BERSEDIA MENJADI KEKASIHMUUU!"
"Hah?!" Julie kaget bukan main, dengan kenyataan bahwa ada orang yang rela diduakan di dunia ini seperti mereka, "K-kalian…. Yakin?"
Kedua lelaki itu mengangguk mantap.
"Ah…." Julie tak sanggup bicara lagi. Dia senang sekali, bahwa ikatan antara dia, Akaba, dan Kotaro tak harus renggang karena cinta. Justru, ikatan mereka semakin kuat karena cinta itu sendiri. Dia menangis. Julie menangis. Menangis begitu saja, karena sedari tadi dia menahan air matanya, "Aku mencintai kalian… Akaba… Kotaro…"
Kotaro dan Akaba tersenyum, "We love you too, Julie!"
Sementara itu, Sena dan Musashi memperhatikan dari kejauhan diam-diam.
"Kau sepertinya mengatakannya tepat sesuai dengan yang kuperintahkan…" sahut Musashi.
"Tentu saja. Aku juga tak ingin hubungan mereka hancur." Ucap Sena.
"Yah.. meskipun jika dilihat lagi, nyatanya aneh juga…"
"Ia… memiliki dua pacar itu… rasanya… ahaha…"
"Kau sendiri?"
"Eh?"
"Apa kau mau diduakan seperti itu?"
"HIIEEE?! T-tentu saja tidak! Maksudku, Su-Suzuna 'kan…. Hanya milikku seorang… eh? A-apa yang kukatakan!? M-maksudku—"
"Jadi kau mengakui kalau kau menyukainya, eh? Hmm, mungkin aku akan menjadi cupid untukmu selanjutnya."
"Hentikan itu, Kak Musashi! Huh…."
"Hahahahaha! Kau tahu, menggelikan jika aku jadi cupid terus menerus!"
Sena sedikit membayangkan Musashi dengan dengan penampilan bagaikan cupid yang membawa panah asmara. Itu sontak membuatnya ingin muntah seketika, "I-iya benar sekali… hahaha!"
*esok harinya*
Seluruh sekolah mendapati pemandangan yang tak biasa. Julie datang ke sekolah dengan Akaba dan Kotaro. Ok, itu memang biasa. Yang membuatnya jadi luar biasa, Julie menggenggam tangan kedua lelaki itu, dan berjalan bertiga sambil bergandengan mesra.
Di tengah perjalanan menuju kelas, mereka bertemu dengan Hana. Mereka melihat Hana yang membawa tasnya dan tidak memakai seragam sekolah mereka.
"Hana? Mau ke mana kau?" tanya Julie.
"Aku akan pindah sekolah lagi. Menyakitkan rasanya jika aku terus berada di sini." Ucap Hana.
"Lalu Miwa?"
"Untukmu saja, aku sudah tak membutuhkannya lagi. Dia itu ternyata lemah. Aku sudah memutuskannya…"
"Eh?"
"Aku hanya memacarinya untuk percobaan merebut klub amefuto yang terkenal. Kebetulan, dia terobsesi ingin masuk Bando, namun tidak lolos seleksi. Jadi, aku memacarinya untuk membantuku merebut Bando Spider juga."
"Jangan pergi, Hana!" Miwa nampak berlari mengejar Hana. Terlihat dari nafasnya yang terengah-engah.
"Miwa?" Hana langsung berbalik menatap Miwa.
"Jangan bohongi perasaanmu sendiri, Hana!"
"Bohong?"
"Aku… aku tidak setengah hati memacarimu! Aku tulus menyayangimu! Aku… aku sungguh mencintaimu, aku tidak pernah sedikitpun memikirkan bahwa kau adalah alat untuk membantuku masuk Bando Spider! Tak apa jika aku tak masuk Bando Spider, tak apa jika aku hanya kau jadikan alat, asalkan itu artinya aku tetap berada di sisimu, itu sudah membuatku senang!"
"Miwa….."
"Kumohon, jangan pergi! Jangan tinggalkan sekolah ini! Aku… aku sejujurnya senang sekali ketika kau memutuskan untuk pindah kemari terlepas dari rencana kita yang akan merebut Bando! Aku… aku hanya ingin ada di sisimu, itu saja!"
"Tapi… aku…"
"Kumohon Hana, berhentilah membohongi perasaanmu! Aku tahu, kau juga sebenarnya mencintaiku! Tak usah pedulikan apa kata orang soal reputasimu yang sudah menghancurkan Bando! Masih ada aku di sisimu!"
"Benarkah?"
Julie melepaskan genggaman tangannya dari Akaba dan Kotaro, kemudian memegang kedua bahu Hana, "Masih ada juga aku, Akaba, dan Kotaro."
"Julie…" Hana nampak terharu.
"Yah, sejujurnya, aku juga merasa marah dan kesal, tapi melihat betapa besarnya cinta Miwa padamu, kupikir juga untuk apa terus menerus menyimpan dendam padamu atas kejadian kemarin, iya 'kan? Di samping itu, cinta akan selalu membuat segalanya lebih baik, kau tahu…"
"Tapi aku sudah—"
"Ah sudahlah, yang lalu biarlah berlalu! Sekarang, pergilah! Hampiri dia! Dia menunggumu!" Julie mendorong badan Hana, agar lebih dekat dengan Miwa.
Miwa berjalan perlahan ke hadapan Hana, dan memberikannya seragam sekolahnya, "Kau melupakan ini, Hana. Di sekolah, tak boleh memakai baju lain, selain seragam sekolahmu."
"Miwa…." Hana perlahan menitikan air matanya, dan memeluk Miwa dengan erat, "Terimakasih! Maafkan aku! Aku.. aku mencintaimu!"
"Aku juga.. Hana…" Miwa memeluk Hana kembali.
"Hah, sungguh pagi yang hangat dan penuh dengan cinta…" ucap Jullie.
"Yah, kita juga tak boleh kalah lovey-dovey dengan mereka! Kita pasangan yang jauh lebih SMART!" shaut Kotaro smabil menggenggam tangan kiri Julie.
"Fuu, melodi cinta kita jauh lebih bergairah dibanding mereka, tahu!" Akaba menggenggam tangan kanan Julie.
"Ah, kalian…" Julie tersipu malu.
"Tapi…" Kotaro kemudian menatap tajam Akaba, "Cintaku padamu tentunya sangat besar!"
Akaba mendelik tajam ke arah Kotaro, "Tidak, cintaku jauh lebih besar!"
"Punyaku sangat besar!"
"Punyaku lebih besar lagi!"
"Punya jauh lebih sangat besar!"
"Punyaku jauh melebihi besarnya daripada punyamu!"
"Punyaku lebih—"
"HENTIKAAAN!" Julie membanting kedua lelaki dalam genggamannya itu dengan masing-masing tangannya, "Ketika kalian mengucapkannya seperti itu, jadi terdengar aneh dan ambigu tahu!"
Yah, sesungguhnya, benar kata Julie. Cinta membuatnya segalanya lebih baik. Tak hanya cinta pada kekasih, tapi cinta untuk semua orang. Dan pada akhirnya, semua kembali ceria!
.
Fuu… OWARI dengan SMART!
.
YATTTAAAAAAAAAAAAA selesai jugaaaaa!
Ok, bales review dulu eaaaa xD
.
Fabulous: thanks :D
minorin-chaaan: Iya, ini ga discon kok. Udah aku beresin xDb
auau: hoho, coba buat terus jadi reviewer ya, biar ada yang review story saya terus :v /plak
Raka: sayangnya, bukan akaba SAJA yang menang wkwk xD
.
Yak, terimakasih buat yang udah review. Jangan bosen baca cerita saya ya xD
Promo dulu nih, biar makin saling kenal, add saya ya di:
FB search: Anezaki Tenshi Hana
Twitter search: AnezakiHana
Add yaaaa add yaaaaa xD /gaadatemen /okesip /noftw
Sekali lagi, arigatou gozaimasu! Matta neeee~ xD
.
Keep Spirit Up!
Mayu-chan
