Oretachi no Symphony

A Naruto Fanfiction

--

Oretachi no Symphony © Emi Yoshikuni
Naruto © Kishimoto Masashi

--

Kushin Hero1ne proudly presents

"Ichiban no Monogatari" called Oretachi no Symphony.

LESSON 2 : PRELUDE

Terdengar suara alunan melodi yang begitu menusuk jiwa. Melodi-melodi itu bak berjalan beriringan mengitari taman firdaus dengan berbagai macam bunga dan ilalang. Orang itu merasa sangat nyaman, entah melodi apa yang mampu merasuki jiwanya sekarang padahal ia sudah memahami akan dirinya yang tak punya sense. Meskipun kelima panca inderanya hidup, ia masih tak mampu merasakan indahnya nyanyian-nyanyian yang klasik itu. Namun, kali ini berbeda. Semuanya seperti mengalir begitu saja melewati ubun-ubun kepalanya lalu ke setiap aliran darahnya dan memacu adrenalinnya untuk mengikuti alunan melodi itu.

Sedikit ada yang salah dengan ketukannya tapi ia tak memedulikannya. Ada yang salah dengan beat-nya tapi ia tetap mendengarnya dengan baik. Suara piano hutan itu mengalun pelan menyusup di setiap syarafnya.

Ia memang berada di sebuah padang ilalang. Suara klasik karya Beethoven yang tersusun dalam Symphony Nr. 7 merupakan simfoni yang telah lama tak didengarnya. Ia merasa kembali pulang ke tempat Maestro-nya. Ia kembali ke usianya yang ke sepuluh. Ia lupa akan phobianya dan segala mimpi buruknya. Piano hutan itu membawa jiwanya jauh ke angkasa, menelusuri tata surya. Ia berjalan di atas komet dan bintang-bintang. Matahari tersenyum padanya. Akan tetapi, sinarnya terlalu menyilaukan sehingga ia harus kembali pada kenyataan, kenyataan yang pahit, kenyataan yang siap menemani mimpi-mimpi buruknya, dan kenyataan yang bau?

Sasuke sedikit membuka matanya. Ia melihat sebuah ruangan yang berwarna-warni, indah sekali, batinnya. Ada warna jingga dan pink. Pink? Ini bukan kamarnya. Mana mungkin ada ornamen berwarna pink di kamar seorang Sasuke yang gelap itu? Ia berusaha kembali pada kesadarannya yang utuh. Seketika ia melihat sesuatu aneh yang tak pernah dilihatnya sebelumnya.

"Ha? Di-di mana INI?" tanyanya terkaget-kaget.

Suara piano hutan itu berhenti. Kesadaran Sasuke telah utuh sehingga semua hal yang ada di sekitarnya bisa dirasakannya dengan baik oleh kelima panca inderanya.

"Ah! Aku ingat!" seru seorang gadis berambut kusam dengan kaus oblong berwarna pink cerah, tak lupa bandana kuning yang menghiasi rambutnya yang juga berwarna pink.

Sasuke terheran-heran. Ia memandang di sekitarnya. Terlalu banyak benda-benda aneh yang memenuhi tempatnya tertidur beberapa waktu yang lalu. Kardus-kardus makanan kiriman dari kota lain, boneka-boneka tidur berukuran besar dan kecil, baju-baju yang belum disetrika, makanan kalengan yang tidak dibuang dan sampah-sampah aneh lainnya plus dengan aneka satwa yang hidup di sekitarnya, alias serangga.

"Uchiha senpai!" serunya lagi.

Sasuke berdiri dari tempatnya, ingin segera menyingkir dari tumpukan sampah yang membuatnya tak nyaman dan bau-bau aneh yang membuyarkan mimpi indahnya bersama dengan piano hutan itu. Ia berbalik ke arah suara itu. Dilihatnya seorang anak perempuan aneh dengan rambut yang sangat-sangat-sangat berantakan menatapnya dengan tatapan yang sama anehnya. Sasuke memicingkan satu matanya, kebingungan dengan dirinya sendiri.

"I-ini bukan kamarku. Si-siapa KAU?" teriaknya sambil menunjuk-nunjuk gadis itu.

"Uchiha senpai, ingat tidak kejadian tadi malam?" tanya gadis itu tanpa rasa bersalah.

Pakaian Sasuke yang putih bersih kini lusuh dan tak karuan. Sabuk celananya hilang entah ke mana tapi ia tak memperhatikannya. Ia terus saja menunjuk-nunjuk gadis itu sampai akhirnya ia jadi risih sendiri. Ia lalu bertanya-tanya pada dirinya, memangnya apa yang terjadi tadi malam sehingga ia berada di tempat terasing begitu. Ia memutar-mutar kepalanya, berusaha mencari pintu keluar dari ruangan pengap dan bau itu. Seketika, ia pun berlari ke arah pintu keluar kamar itu yang dipenuhi dengan hiasan-hiasan pintu tak jelas.

"Aryaa? U-uchiha senpai... sabuknya―" kata gadis itu sambil mengacungkan sebuah sabuk celana tanpa berdiri dari kursi pianonya. Ia jadi kebingungan lagi tapi senyum lebar kembali mengembang dari bibirnya.

Sasuke tampak ketakutan melihat hal yang baru saja dialaminya. Ia sudah sering menginap di rumah Hinata dan terbiasa dengan hal itu tapi untuk yang satu ini, ia nampak tak menyadari bahwa ia tertidur semalaman di sebuah kamar tepat di sebelah kamarnya sendiri.

"201? Ternyata ada juga adik kelas aneh yang tinggal bersebelahan denganku." ujarnya saat badannya sudah tenang.

Samar-samar Sasuke mendengar teriakan dari arah kamar bernomor 201 itu. Suara gadis aneh yang tiba-tiba saja membawanya masuk tidur ke dalam kamarnya yang terlalu berantakan dan bau. Mana ada gadis macam begitu di era modern begini, batinnya bertanya-tanya. Karena tak ingin terlalu lama terlibat dengan hal memalukan (?) yang baru saja ia alami, Sasuke langsung mengambil kunci kamar apartemennya di balik saku celananya dan membuka knop pintu kamar bernomor 202 itu.

"Dasar perempuan aneh. Kenapa ia bisa tinggal dengan sampah-sampah yang memenuhi kamarnya. Dan kenapa― kenapa aku bisa tertidur di kamar ITU?! Akh! Lupakan, lupakan, lupakan, Sasuke! LUPAKAN!" teriaknya sambil melepaskan seluruh pakaiannya dan melemparnya ke dalam boks cucian di kamar mandi. Ia juga menampar-nampari kedua pipinya dengan keras, berusaha untuk kembali kepada kenyataan yang benar-benar utuh.

Ia menyalakan shower yang terletak tepat di atas bathtub kamar mandinya. Ia menekan kenop showernya dengan kecepatan tinggi. Butiran-butiran air sedikit demi sedikit dan sangat deras mengalir dan membasahi tubuhnya yang putih itu. Ia berusaha untuk menenangkan diri dan melupakan seluruh kejadian yang menimpanya. Ia tak habis pikir kenapa ia bisa berada di kamar perempuan berambut pink itu, yang masih bisa diingatnya ialah ia baru saja menerima tamparan telak dari Hinata semalam. Hanya itu. Namun, rasanya masih sakit sampai sekarang.

Sasuke merasa sudah melupakan semua hal yang diasumsinya sebagai mimpi buruk saja. Ia menyeka rambutnya yang basah dan berjalan menuju lemari pakaiannya. Diambilnya kemeja putih dengan sweater cream yang diberikan ibunya di hari ulang tahunnya setahun yang lalu. Setelah ia menekuni memakai pakaiannya, ia seperti mendengar bel pintu kamarnya berbunyi. Ia lalu mendekati pintu kamarnya itu dan melihat orang yang menekan belnya.

"Dia..."

Rambut pink aneh menonjol tepat di depan matanya. Memoar aneh yang ingin dillupakannya kembali muncul lagi. Sasuke tak mau membuka pintu kamarnya meskipun sang gadis nampak menekan terus-menerus belnya itu. Sasuke harus menenangkan diri dulu sebelum menghadapi masalah yang satu ini. Lama-kelamaan, suara bel itu pun berhenti dan Sasuke melihat sang gadis yang tampak sangat sedih dan berjalan menjauh dari arah pintu.

"Fuuh... kenapa ada adik kelas yang bisa tinggal di sebelah apartemenku? Kenapa aku tidak menyadarinya? Hah... bukan saat ini aku memikirkan hal itu."

Tiba-tiba saja ponsel Sasuke berbunyi

....

I've been waiting for you

Here I come

...

"Pesan?"

Hoi, kau sudah bangun kan? Kelasku dimulai 30 menit lagi.

Kutunggu.

Maestro Hatake Kakashi.

Sasuke menutup ponselnya dan sesegera mungkin mengambil potongan roti yang ada di atas meja makannya. Untungnya, ia membeli roti isi sebelum sampai di apartemennya kemarin siang. Perkiraannya memang selalu tepat bak kalkulator yang dengan tepat mampu menghitung angka-angka tersulit apapun. Perkiraannya dalam musik juga tepat. Itulah yang membuatnya terkenal namun tidak semua hal yang diperhitungkannya itu bisa sepenuhnya diterima oleh Kakashi, guru privat pianonya.

Mobil sport merah itu telah terparkir di lapangan yang dijejali dengan kendaraan beroda empat itu. Beraneka bentuk dan macam mobil beserta aksesorisnya menghiasi tiap blok dalam lapangan itu. Sasuke baru saja keluar dari mobilnya ketika sekumpulan gadis-gadis dari divisi orchestra berjalan keluar dari lapangan parkir itu. Salah satu gadis yang paling cantik berjalan anggun sambil memunggungi tas biolanya. Syal rajutan putih dengan kaus berlengan panjang disertai dengan celana yang juga panjang menghiasi setiap lekukan-lekukan tubuhnya. Gadis itu secara tak sengaja menangkap pemandangan yang tidak biasa.

"Sasuke-kun? Ohayō!" sapanya pelan.

Sasuke berbalik ke arah suara itu, "Hn. Ohayō."

"Kudengar kamu berlibur ke Ame. Bagaimana suasana di sana?"

"Biasa." jawabnya apa adanya. Kemudian ia berjalan keluar dari lapangan parkir itu. Gadis berambut pirang panjang itu juga mengikutinya.

"Hm, jawaban khas dari seorang maestro muda, Sang Uchiha." ejeknya seraya membetulkan tas biolanya.

"Kudengar, katanya kelas A akan membuat konser di akhir tahun." ungkap Sasuke basa-basi.

Gadis cantik itu mengangguk pelan, "Ya. Kami sedang mempersiapkannya sekarang. Kurasa, latihan ekstra untuk setiap minggu tidak berlebihan kan?"

"Yah, kurasa. Tapi, untuk seorang chairperson sepertimu, latihan ekstra tidak hanya untuk tiap minggu saja kan, nona Yamanaka?" balas Sasuke dengan nada yang juga mengejek.

Gadis yang bernama Yamanaka Ino itu tertawa kecil. Ia hanya bisa tersenyum saat mendengar ejekan Sasuke itu.

"Impianku adalah menjadi seorang chairperson dan saat itu terwujud, panggung kolosal Takigakure akan menungguku. Betul kan, maestro Uchiha?" jawabnya dengan nada sadistik.

Sasuke tampak tersenyum kecil tapi berusaha menutupinya sambil menundukkan wajahnya.

"Ah, Asuma sensei pernah bilang padaku kalau Kakashi sensei masih mau menerimamu di tahun keempatmu, apa itu betul?" tanyanya penasaran.

Sasuke menghela napas pendek dan menatap gedung Konoha Music Academy yang berdiri dengan gagah itu. Tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk. Ino jadi kebingungan dengan sikap aneh Sasuke itu, ia pun menghentikan langkahnya.

"Ada apa?" tanya Ino.

"Tidak. Hanya berpikir." jawab Sasuke. Ia lalu melanjutkan langkahnya lagi menuju gedung kampus megah itu dan membuka knop pintu masuknya.

"Lalu, jawaban yang tadi..." tanya Ino masih penasaran dengan pertanyaannya yang belum dijawab oleh Sasuke.

Sasuke berbalik menatap Ino. Mata onyx-nya terasa begitu tajam seperti mampu memotong apapun yang ditatapnya. Sasuke lalu menatap langit yang begitu biru dengan sinar mentari yang terlihat begitu silau namun udara dingin khas autumn terasa begitu nyata.

"Y―"

"UCHIHA SENPAIII!"

Sebuah teriakan nyaring terdengar begitu memekikkan telingan Sasuke. Ia merasa terganggu. Saat dilihatnya arah teriakan itu, ia kembali mengingat memoar yang tadi pagi. Gadis berambut pink sebahu dengan bandana kuning disertai dengan tas samping yang begitu ringan plus pakaian ala musim semi yang serba sweater menjadi gambaran akan sosok itu. Sasuke membulatkan matanya.

"SABUKNYA..." teriaknya lagi sambil berlari-lari kecil ke arah Sasuke.

Sasuke memicingkan matanya, melihat hal mengerikan kedua yang dialaminya dalam dua hari belakangan ini. Ino yang sedari tadi tampak begitu tenang kini hanya bisa menatap kejadian itu dengan mata yang membulat. Ia sudah mengerti bahwa begitu banyak siswi Konoha Music University yang begitu mengagumi sosok Uchiha ini tapi untuk yang satu ini, seorang siswi nyentrik dari divisi piano berteriak-teriak ke arah Sasuke Uchiha.

"Sa-suke-san?" tanya Ino kecil. Ia seperti bertanya pada diri dirinya sendiri.

Gadis bernama Sakura Haruno, siswi divisi piano berlari kecil menuju Sasuke tapi Sasuke tampak tidak begitu tertarik dengan hal itu. Beberapa detik sebelum Sakura hendak melompat ke arah Sasuke, Sasuke dengan mudahnya menghindar dari tubuh Sakura yang akan jatuh. Karena tak ada yang mau memeganginya, Sakura melakukan roll ke depan dengan gaya mengerikan. Tak ada kendali, Sakura akhirnya menerima bogem mentah kedua di tahun ketiganya lagi. Dahinya mengenai sebuah batu besar yang tertanam di sekitar pepohonan dekat gedung kampus. Ia meringis kesakitan.

"Auu... sakit..."

"Mau apa dia?" umpat Sasuke sambil meremas-remas kedua tangannya.

"U-u-uchiha senpai, sabuk―nyaa..." ungkap Sakura sambil meringis kesakitan.

"Kau― kau, siapa, HAH?!" tanya Sasuke ke arah Sakura. Tampak guratan mengerikan muncul di balik wajahnya yang sangat putih itu.

Ketika Sakura sudah sadar dengan rasa sakitnya, ia lalu berlari kecil lagi ke arah Sasuke, "Semalam, aku lihat Uchiha senpai begitu sesak seperti tak bisa bernafas, jadi..."

Sakura lalu memperlihatkan sabuk celana milik Sasuke ke arah wajah Sasuke. Sasuke mengernyitkan keningnya dan bertanya-tanya.

"AKU LEPAS SAJA SABUKNYA!" lanjut Sakura dengan senyum lebar.

Tiba-tiba keadaan di sekitar kampus itu mendadak hening. Siswa-siswa yang berada di sekitar halaman kampus itu langsung memandang ke arah datangnya suara ribut itu. Siswi-siswi yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing menghentikan aktivitasnya itu. Mereka juga menatap ke arah keributan itu. Sedetik kemudian, mata-mata para penggemar Sasuke menangkap sosok yang sangat dikaguminya itu bak seorang Artemis.

"I-itu kan―"

"SASUKE-SAMA!!!!! KYAAA...."

"Dia baru saja datang! Dia sudah pulang, KYA..."

"SASUKE-SAMA..."

Teriakan-teriakan histeris dari para gadis itu langsung mengubah suasana yang hening menjadi euphoria sesaat. Sakura yang juga berusaha mendekati Sasuke tampak tak bisa melawan barisan para siswi yang sangat berisik itu. Sasuke mengerutkan keningnya dan berusaha ingin segera kabur.

"Sekarang, ada apa lagi ini. Kuso! Kenapa hari-hariku begitu aneh?"

"U-uchiha senpaiii... sabuknya..." ujar Sakura dengan nada yang lelah.

Keributan yang aneh itu mulai lagi. Sasuke memang setenar itu di kalangan gadis-gadis kampus bertema musik itu. Hari pertama di tahun keempatnya dimulai dengan adegan seperti biasa di mana siswi-siswi super ribut (begitu kata Sasuke) berteriak histeris saat melihat dirinya. Sasuke terjebak dalam hal yang tak pernah diimpikannya.

Jauh dari tempat itu, sepasang mata biru muda menangkap pemandangan membosankan yang selalu terjadi di tiap awal semester baru dari balik gorden jendela ruangan khususnya bersama dengan band-nya. Pria muda berambut blond memicingkan kedua matanya seraya memegangi biola uniknya. Tak seperti siswa divisi violin yang menyukai gaya klasik di setiap performance-nya, suasana rock selalu menyertai tiap penampilannya. Pakaiannya juga unik. Rompi berwarna hitam dengan kaus oblong berwarna jingga serta jeans biru tua adalah keunikan yang selalu menyertai pria muda ini. Naruto Uzumaki sedang mengumpat kecil ke arah keributan tak penting itu.

"Dasar Sasuke-teme, selalu saja membuat keributan, memangnya tak ada hal lain yang bisa dilakukannya selain menebarkan pesona begitu?"

"Hoi, bilang saja kalau kau iri pada ketampanannya kan, Naruto?" ujar salah satu teman band-nya yang sedang mengasah stick biolanya, Kiba Inuzuka.

"HEH, kalau soal itu mungkin aku kalah telak. Tapi... dalam soal soul of music, aku-lah RAJANYA!" jawabnya dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, "Lihat saja, di tahun ini, aku yang akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi chairperson di kelas A!"

Tiba-tiba hening. Namun, sepersekian detik kemudian, suara tawa keras melingkupi ruangan yang dipenuhi dengan berbagai peralatan violin dan sebuah piano besar. Poster-poster musisi rock juga tertempel di tiap sudut dinding ruangan itu.

"Hei Naruto, kau pikir kau bisa mengalahkan Miss Ino Yamanaka yang jenius itu? Hahahahaha... bermimipilah bodoh..." ujar Shikamaru yang sedang sibuk dengan komputernya. Rambut nanasnya berdiri dengan tegak.

"Ya, ya, ya, kau benar sekali Shikamaru. Hei Naruto, kalau kau ingin menjadi seorang chairperson, mulailah dengan mengubah soul-mu yang tak cocok dengan gaya orchestra." kata Kiba menganjurkan seraya menepuk bahu Naruto.

Naruto mengelak dari tepukan bahu Kiba. Ia lalu mengacungkan jarinya ke atas dan berteriak sekencang-kencangnya.

"Bagaimana pun caranya, yang jelas... TAHUN INI― AKU AKAN MENJADI CHAIRPERSON, lihat saja nanti."

Kedua teman band­-nya hanya menghela napas panjang. Berharap ada yang mampu memperbaiki otak sahabatnya itu. Naruto pun hanya tertawa sambil memperlihatkan gigi-giginya ke arah teman-temannya. Kiba dan Shikamaru pun hanya bisa tersenyum khawatir padanya.

"Ya sudah, kalau memang itu maumu. Tapi..." Shikamaru memegang dagunya dan menatap Naruto dengan mata yang begitu serius. "Kau belum ujian kelulusan untuk semester lalu kan?"

Naruto menghentikan senyum lebarnya dan kemudian ia menjadi lemas. Ia menundukkan kepalanya dan tampak seperti tak bersemangat lagi.

"Cuma kau yang belum ujian kelulusan untuk semester lalu. Kau tahu apa artinya itu?" lanjut Shikamaru, "Kau-tak-bisa-ikut-dalam-kelas orchestra-tahun-ini. Jadi..."

"AAA!! IYA, IYA, aku akan ujian, UJIAN!" jawab Naruto tampak tak ingin Shikamaru melanjutkan kalimatnya.

"Itu semua gara-gara kau yang terlalu semangat dalam proyek band kita tahun lalu. Jadinya... Ebisu sensei sudah tak mau mengurusimu lagi. Hahh..."

Naruto kembali menundukkan kepalanya, "Sebenarnya, aku sudah akan lulus tapi waktu itu..."

Naruto menceritakan kepada kedua temannya mengenai hal yang tak pernah diungkapkannya kepada siapapun bahkan kepada ayah angkatnya. Ia sudah tak punya pilihan lain selain menceritakan hal buruk itu kepada kedua temannya yang sangat dipercayainya itu. Naruto memulai ceritanya di awal bulai Mei semester lalu. Di saat bunga-bunga masih bermekaran dan sinar mentari masih begitu hangat. Musim panas adalah waktu untuk berkarya dan memainkan melodi-melodi namun sebuah violin tidak bisa mengikuti ujian kelulusan tanpa bantuan seorang pianis. Untuk itu, Naruto berusaha meminta Sasuke untuk menjadi pianis dalam ujian kelulusannya. Di hari pertama latihan mereka, Sasuke langsung menghentikan permainannya saat Naruto baru saja memasuki bagian inti permainannya. Entah kenapa Sasuke tampak sangat stres dengan permainan Naruto itu. Sasuke tidak bisa mengikuti tempo Naruto yang terlalu menggebu-gebu begitu (sesuai dengan gayanya yang menyerupai rocker). Akhirnya, Sasuke meninggalkan latihan Naruto begitu saja. Naruto pun jadi tak punya kesempatan lagi untuk menyelesaikan ujian semesternya sebab semua pianis yang ada mengikuti concour di akhir semester sedangkan Sasuke pergi berlibur...

"Hahh... dia itu benar-benar menyebalkan. TEME!!" umpat Naruto sambil meremas-remas kedua tangannya hingga urat-urat tangannya keluar.

Baik Kiba dan Shikamaru tak bisa berkomentar apapun akan cerita Naruto yang begitu― menyedihkan (?). Mereka hanya bisa menghela napas panjang dan kembali mengangkat semangat Naruto untuk mengambil ujian lagi.

"Bagaimana pun juga, sobat. Kau harus ujian kalau mau meraih impianmu menjadi chairperson. Hey, kau seperti bukan Naruto yang ku kenal. Naruto yang ku kenal adalah Naruto yang selalu semangat dan tak pernah berhenti berusaha hingga impiannya terwujud, IYA KAN?!"

Naruto mangangkat kepalanya dan tersenyum lebar lagi, "YOSH! AKU PASTI MERAIH KURSI CHAIRPERSON ITU! YEAHH..."

Suara tepukan tangan riuh rendah terdengar jelas di koklea Naruto. Kedua sahabatnya memberi applause pada semangat Naruto. Mereka bertiga pun kembali pada aktivitas mereka masing-masing. Naruto pun kembali memainkan violin-nya yang unik itu. Ia rupanya telah berusaha keras.

XXxx____xxXX

"SAKURA-SAN? Akhirnya kamu datang. Ayo masuk." kata Tazuna sensei, guru privat Sakura di tahun ketiganya.

"Hai'." Jawab Sakura dengan senyum lebar seperti biasa. "Sensei, Sakura tidak mengerti dengan scorebook ini."

Sakura mengambil sebuah scorebook yang diberikan Tazuna sensei di hari sebelumnya dari tas sampingnya. Ia mengernyitkan keningnya seraya berjalan mendekati sensei-nya yang duduk di kursi dekat jendela ruangan asri itu.

"Oh? Ini tentu saja tak bisa dimainkan seorang diri, Sakura-san." jawab Tazuna sensei pelan. "Karya Mozart yang berjudul Sonata for two Pianos ini dimainkan dengan dua piano."

"Dua piano?" tanya Sakura sambil mengeluarkan dua jarinya menunjukkan jumlah dua.

Tazuna-sensei mengangguk pelan dan tersenyum, "Makanya, sensei meminta orang ini untuk berduet denganmu."

"Eh? Berduet? Siapa?" tanya Sakura keheranan.

"TOK TOK TOK"

Seseorang mengetuk pintu kelas itu dan segera membuka knopnya. Tazuna sensei tampak begitu senang melihat orang yang baru saja melangkahkan kakinya ke dalam ruangan dengan dua piano itu. Sakura berbalik melihat sosok itu. Seketika...

"Uahh... Uchiha senpai!!"

Sasuke menghentikan langkahnya, memandang hal yang tak biasa lagi.

"Mungkin aku salah ruangan, maaf."

"Tidak, tidak. Kamu tidak salah ruangan, Uchiha san. Ini adalah kelas yang Hatake sensei maksud. Ayo masuk." Kata Tazuna sensei enteng.

Sasuke memicingkan matanya; melihat Sakura dan Tazuna sensei dengan tatapan aneh. Ia merasa Kakashi sensei mempermainkannya. Tak mungkin ia harus mengawali semester baru di tahun terakhirnya bersama dengan gadis aneh yang mengambil sabuknya ketika ia tertidur.

"AH, iya! Sabuknya. Uchiha senpai pasti ke sini untuk mengambil sabuk, iya kan?" kata Sakura seraya mengacungkan sabuk Sasuke untuk kedua kalinya dalam hari itu.

"Aku tak ada waktu untuk bermain-main. Jadi, kalau ingin latihan, kita bisa memulainya sekarang juga." Kata Sasuke dengan nada mengerikan seperti biasa.

Sakura tampak ketakutan, ia lalu meletakkan sabuk Sasuke di atas kursi.

"Ah ha ha, seperti yang Hatake sensei katakan. Sifatmu yang sangat disiplin itu memang tak ada duanya. Baiklah, baiklah, tapi... ada baiknya kalau aku memperkenalkan murid spesialku ini padamu. Namanya, Sakura Haruno-san, dia siswi andalanku dari divisi piano."

Sasuke menatap Sakura dengan tatapan murderer. Sakura jadi takut tapi kemudian berusaha membuat raut wajahnya agar tak terlihat ketakutan lagi.

"Yo-yo-yoroshiku... U-uchiha SENPAI!"

"Hn." balasnya.

Tazuna sensei berdiri dari kursinya dan menatap murid barunya dengan tatapan bangga. "Alasan Hatake sensei masih mau menerimamu ialah karena kamu adalah siswa berbakat dan sayang sekali jika sekolah ini membiarkan bakat luar biasamu berakhir begitu saja. Tapi..."

Tazuna sensei mengambil scorebook yang berjudul Sonata for zwei Klavier dan menyodorkannya kepada Sasuke. Sasuke membaca judul scorebook itu dan membuka tiap lembaran partitur not-not yang terpatri.

"Sudah bisa menebak dengan baik segala komposisinya, kan?" tanya Tazuna sensei.

"Hn," jawabnya, "Lalu, gadis ini..."

"AH! Aku akan berduet dengan Uchiha senpai. Mukyaa... senang sekali." kata Sakura dengan senyum lebar.

"Yah, begitulah. Hatake sensei memintamu untuk masuk ke kelasku agar kamu bisa mengajari Sakura-san akan melodi itu. Tapi, jangan khawatir, Sakura-san memiliki pendengaran yang sangat bagus, jadi ia mampu mengikuti permainan orang lain hanya dengan mendengar melodinya. Artinya, akan mudah baginya untuk memahami scorebook ini." ungkap Tazuna sensei lengkap.

Sakura nyengir sendiri dan tersenyum lebar. "Mohon bantuannya, Uchiha senpai!"

"Hn. Tapi, jangan menghalangi space nadaku."

"HAI'!" jawabnya sambil meletakkan tangan kanannya pada kepalanya seperti bentuk hormat.

"Bisa kita memulainya sekarang?" tanya Sasuke seraya meletakkan scorebook-nya di atas meja partitur piano.

"Oke." Sakura lalu melakukan hal yang sama. Kedua pianis ini lalu duduk di kursi pianonya masing-masing.

Sasuke mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dengan konsentrasi penuh, ia memperlihatkan kepada Sakura ketukan dan tempo dalam scorebook itu. Kedua jarinya mengetuk-ngetuk meja piano itu; Sakura mengikuti bunyi ketukan itu dan menyimpannya dalam memori otaknya.

"Bentuknya bukan pat-pat-tat-tat, tapi pat-pat...tat-tat. Ingat itu." Ujar Sasuke.

Sakura memanyunkan bibirnya dan berusaha memproses memori itu dalam kedua tangannya melalui kesepuluh jarinya. Sesegera mungkin, terdengar melodi indah dari kedua piano itu. Sasuke berusaha untuk mengikuti dengan baik tempo yang seharusnya. Namun, seiring dengan alunan melodi yang semakin memuncak, permainan Sakura yang kelewatan. Tempo dan ketukannya semakin cepat. Sasuke merasa terusik. Sakura tidak bisa memainkan kesepuluh jarinya di atas tuts piano sambil melihat scorebook yang terpampang di depannya. Ia terus memainkan melodi itu dengan mata yang tertutup. Pendengarannya yang bagus tidak bisa bertahan ketika telah sampai pada not-not yang lambat.

"Dasar!" umpat Sasuke dalam hatinya. Semakin lama, Sasuke tidak tahan dengan permainan yang kacau ini. Dan akhirnya...

"BAKAAAAAAAA!!!!" seru Sasuke sambil melemparkan scorebook-nya ke arah Sakura yang sedang memainkan karya Mozart itu tanpa melihat ke arah scorebook-nya sendiri.

"Gyabooooooo... " seru Sakura berlebihan.

Tazuna sensei hanya bisa tertawa melihat pemandangan tak tak biasa itu. Ia merasa pelajaran kali ini adalah hal yang bagus untuk siswi kesayangannya itu.

"Apa yang kau lakukan, HAH?!" seru Sasuke pada Sakura yang nampak memijit-mijit keningnya yang terkena lemparan telak Sasuke. "Bukankah seharusnya pat-pat...tat-tat tapi ketukanmu tiba-tiba berubah menjadi tak karuan begitu?! Lagipula, mana mungkin kau memainkan piano itu tanpa melihat ke arah scorebook-mu!"

Sakura meringis kesakitan, "Mukyaa... Sakura tidak bisa membaca not-not itu dengan baik. Huahh...."

Tazuna sensei berusaha menengahi pertengkaran satu pihak Sasuke ini. Ia pun meminta Sasuke untuk mengulang kembali permainannya dan menasehati Sakura agar berusaha mengikuti tempo yang sebenarnya. Tapi, hal yang sebelumnya terjadi, terjadi lagi, lagi dan lagi.

"Ano, bagaimana jika kita melanjutkan latihannya besok saja. Sekarang sudah jam makan siang. Iya kan, Sakura-san, Sasuke-san?" tanya Tazuna sensei dengan bijaksana.

"Tidak. Dia belum bisa memahami ketukannya. Berapa kalipun dicoba kalau ketukannya belum mampu dipahami takkan bisa menghasilkan melodi yang bagus." ungkap Sasuke dengan nada sadis.

"Aryaa..." keluh Sakura.

"Ha ha, aku mengerti Sasuke-san, tapi kita bisa menambah waktu latihannya menjadi seminggu lagi. Jadi―"

"Tidak." tiba-tiba Sasuke memotong perkataan Tazuna sensei, "Hanya dengan tiga hari latihan ini akan selesai. Dan dia―"

Sasuke menatap Sakura dengan tajam. Sakura pun hanya bisa menunduk sedih.

"―akan menguasai Sonata for zwei Klavier dalam waktu itu."

Tazuna sensei membulatkan matanya, terkejut dengan perkataan Sasuke. Namun, ia pun kembali pada senyum ramahnya, "Baiklah, kalau begitu. Semuanya kuserahkan padamu, Sasuke-san."

"Ah, sensei..." Sakura mengeluh dan nampak ingin menangis.

Sasuke terus menatap tajam ke arah Sakura yang sangat sedih. Menurutnya, permainan Sakura melebihi permainannya, hanya saja ia tak mampu membaca dengan baik scorebook yang harus dikuasainya. Dan sense musiknya bak piano hutan yang mengalun di sebuah padang ilalang. Sasuke merasa mendapat tantangan baru di tahun ini. Melatih seorang kouhai aneh yang tinggal bersebelahan dengannya dan juga memacu dirinya agar ia dapat diterima lagi oleh sang master, Kakashi sensei. Namun, setelah ini pun ia harus mencari, bukan, tapi lebih tepatnya menemukan seseorang yang gurunya katakan dalam suratnya. Ia bahkan tak pernah merasa mengenal nama ini.

"Maestro Jiraiya?"

TSUDZUKU

Lagi-lagi satu chapter yang terlalu panjang dan membosankan (apa menurut Anda begitu?). Tapi, saya sudah berusaha mewujudkan imajinasi saya.

Great thanks ditujukan bagi yang sudah mereview. Review tambahan masih diharapkan tapi kalau tidak ada ya, tidak apa-apa. Tapi, lebih bagus kalau dikasih review sih, khe khe khe...

~Arigato Gozaimashita~

Emi Yoshikuni