Oretachi no Symphony

A Naruto Fanfiction

--

Oretachi no Symphony © Emi Yoshikuni
Naruto © Kishimoto Masashi

--

Kushin Hero1ne proudly presents

"Ichiban no Monogatari" called Oretachi no Symphony.

LESSON 3 : ROCK IS MY WAY!

Malam itu, Sakura merasa tubuhnya seperti ikan koi yang baru saja dilepas dari jaring nelayan. Tubuhnya menggelepar-gelepar dan siap untuk dicincang oleh koki dalam nampan yang besar. Sushi memang makanan kesukaannya tapi kalau menjadi potongan mackarel dalam sushi, tidak enak juga.

Ia menatap langit yang hitam itu dengan mata yang lelah. Kantung matanya berwarna keunguan. Rupanya ia begitu lelah. Bayangkan saja, ia terus saja memainkan Sonata for Two Pianos seharian penuh. Latihan dengan senpai yang galak seperti Sasuke Uchiha adalah hal terakhir yang diinginkannya tapi mengingat ia merasa agak mengagumi sang senpai, ia berusaha untuk tetap bertahan. Ia bahkan harus menunda jam makan siangnya hingga pukul 3 sore. Tak terasa, perutnya berbunyi lagi.

KRUYUKK

"Auu... aku lapar."

Sambil memegangi perutnya yang berbunyi terus-menerus, Sakura berjalan menyusuri jalanan yang sepi itu. Ia ingin sekali cepat-cepat sampai di apartemennya dan membuat sesuatu (padahal kamar apartemennya kacau begitu) untuk dimakan. Namun, ia teringat dengan perkataan mengerikan dari Sasuke sebelum ia meninggalkan kelas khususnya.

"Kau harus sampai di apartemenmu sebelum pukul 8. Mengingat kita berdekatan kamar, aku bisa mendengar latihan pianomu. Kalau kau belum memainkan pianomu sebelum waktu itu―

"―aku akan mengawasimu secara langsung."

"Mukyaa... Uchiha senpai kejam..."

Karena merasa tertekan dengan semua beban itu, Sakura tidak melihat-lihat di sekitarnya sehingga ia menabrak sesuatu, tepatnya, seseorang.

"Aa! Go-gomen! Gomennasai!" seru Sakura saat ia tak sengaja menabrak sesuatu itu.

"UOO! Hei, lihat-lihat kalau jalan. Bisa berbahaya tau'." ujar sesuatu itu sambil berusaha berdiri. Tas biola yang dipegangnya juga terjatuh. Kemudian, ia memungut dan memunggunginya.

"Maaf, maaf, maaf―" Sakura terus menundukkan kepalanya, meminta maaf pada sesuatu yang ditabraknya itu. Ternyata sesuatu itu adalah sesosok pria muda berambut blondy dengan pakaian yang tak biasa untuk siswa divisi violin.

"Hei, hei, hei, sudah. Kalau menunduk terus nanti lehermu juga sakit kan." kata pria muda itu dengan senyum lebar yang menjadi khasnya.

Sakura menaikkan wajahnya dan menatap pria muda itu. Ia mengernyitkan sedikit keningnya dan berusaha mengingat-ingat wajah itu. Pria muda itu agak melihat ke arah wajah Sakura yang begitu merah karena udara dingin. Tiba-tiba pipi Naruto juga memerah tak jelas.

"Kawai." ujarnya dalam hati.

"Ano... apa kamu siswa sekolah musik?" tanya Sakura agak pelan, membuyarkan lamunan pria itu.

"Ya?"

"Itu―" Sakura menunjuk biola yang dipunggungi oleh pria muda itu. Pria itu menengok sedikit ke arah belakangnya.

"AH YA! Tentu saja. Aku murid KMU. Namaku Uzumaki Naruto, siswa divisi violin yang akan menjadi CHAIRPERSON TAHUN INI, YEAH!" serunya tiba-tiba, membuat Sakura agak bergidik ketakutan.

"Memangnya kenapa?" tanya pria bernama Naruto itu.

"Ng. AH! Aku juga siswi Konoha Music University tapi aku dari divisi piano! Salam kenal!" Sakura menundukkan dalam-dalam kepalanya; memberi hormat kepada Naruto.

"Aryaa? BENARKAH?! Kamu siswi divisi piano di KMU?" tanya Naruto bersemangat. Sakura kemudian mengangguk kencang. "Uwa... ternyata dunia ini begitu kecil ya?"

Sakura hanya tertawa kecil sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

Sepersekian detik kemudian, sebuah ide brillian muncul di kepala Naruto. Ia terngiang dengan perkataan-perkataan teman band-nya mengenai ujian semester lalunya yang belum ia lalui. Lalu, tampak sebuah lampu menyala di atas kepalanya.

Tiba-tiba, Naruto memegangi kedua bahu Sakura. Ia menepuk pelan Sakura dan agak mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Dengan senyum lebar, ia lalu berusaha mengutarakan keinginannya.

"Hei, maukah kamu menjadi pianis dalam ujianku nanti? Onegaishimasuu..." pintanya dengan puppy eyes.

"HE? Pi-pianis?" tanya Sakura kebingungan. Naruto yang mendengarnya lalu mengangguk kencang dan melepaskan kedua tangannya dari bahu Sakura.

"Hahh, sudah begitu banyak siswa dari divisi piano yang kuminta untuk menjadi partner dalam ujianku tapi mereka semua berkata tidak bisa dan lebih buruk lagi malah berkata tidak mau. HUAH... KENAPA DUNIA INI BEGITU KEJAM PADAKU?!"

Sakura memanyunkan bibirnya dan mengerutkan alisnya. Ia merasa agak iba dengan pria malang (?) ini. Dengan wajah menimbang-nimbang, Sakura tampak berpikir.

"Mmm..."

"Kumohon, kumohon, kumohon..." pinta Naruto berulang-ulang.

Kerutan-kerutan di antara kedua alis Sakura tampak jelas. Ia memang suka membantu orang dalam kesulitan apapun, bahkan ia mampu menolong orang yang tak dikenalnya untuk diambilkan kucing kesayangannya yang terjebak di atas pohon setinggi 8 meter. Akan tetapi, untuk masalah ini...

KRUYUKK

"Bunyi apa itu?" tanya Naruto seraya mengerutkan keningnya. "Apa itu suara binatang buas?"

Perut Sakura memainkan melodi seperti biasanya. Sepertinya tingkat kelaparannya sudah tak bisa ditolerir lagi. Akhirnya, ia mendapat sebuah ilham.

"Mm, aku akan menjadi partner dalam ujianmu tapi dengan satu syarat." ungkap Sakura seraya mengangkat satu jari telunjuknya.

"Apa?"

Senyum lebar mengembang di wajah Sakura. Sebelumnya, ia tak pernah meminta siapapun untuk melakukan hal ini. Tapi, mengingat perutnya yang terus saja meminta untuk diisi, ia akhirnya mengutarakan syarat luar biasa ini. Bagaimana pun juga, kedua musisi berbeda aliran ini nampak begitu senang dengan kontrak yang telah mereka buat hanya dengan pertemuan singkat itu. Naruto akhirnya memiliki seorang pianis yang akan menemaninya dalam menyelesaikan ujian semesternya yang tertunda. Selamat tinggal kebodohan dan selamat tinggal Sasuke-teme, CHAIRPERSON, AKU DATANG! batin Naruto berkata dalam kegembiraan.

Kedua bocah riang itu berjalan menyusuri jalanan terang yang dipenuhi dengan lampion-lampion merah. Kyuubi no Kitsune Avenue adalah nama jalan yang sedang mereka telusuri sekarang. Jalanan bersih itu memang agak sepi tapi ketika mereka telah sampai di sebuah rumah yang lebih tepatnya dikatakan sebagai rumah makan, keadaan sepi yang menyelimuti jalanan itu hilang dalam hitungan detik.

"TADA... Ini adalah rumahku sekaligus rumah makan yang PALING terkenal seantero Konoha. Masakan papaku tak ada duanya!" serunya sambil membuka pintu rumah makan bernuansa tradisional itu. Warna-warna cerah memenuhi dekorasi rumah makan itu. Restoran bergaya elit tentu saja sudah kalah dengan rumah makan ini, begitu celotehan Naruto. Tapi, Sakura tak memedulikannya, yang ia inginkan sekarang adalah makan sepuasnya.

"Uwaa... sugoi!" ujar Sakura senang.

Naruto tampak menggembungkan dadanya. Pujian-pujian yang didengarnya terasa begitu menyejukkan hatinya.

Seorang pria berusia sekitar 40-an (begitu pikiran Sakura) sedang sibuk dengan beberapa menu yang dilihatnya. Ia berteriak pelan ke arah salah satu koki yang ada di dapur untuk mengerjakan tulisan yang ada di kertas kecil yang dipegang oleh pria itu. Pakaian serba putih dengan serbet yang juga berwarna putih merupakan ciri khas pria ini. Senyum tipis yang terpatri di wajahnya juga adalah ciri khasnya. Ayah Naruto ini tak perlu berlama-lama dalam mengerjakan blackchips ice cream yang dipesan oleh seorang anak kecil yang duduk di meja depan. Pria itu lalu keluar dari meja kerjanya dan meletakkan segelas es krim nikmat itu ke hadapan anak kecil yang sedang bermain dengan PSP-nya.

"YOSH! Satu es krim lezat karya Namikaze Minato sudah siap untuk dinikmati." ujarnya sambil meletakkan gelas berisi es krim itu tepat di depan anak kecil yang duduk di kursi meja depan bersama dengan tissunya.

"ARIGATOU!" jawab si anak.

"Dou Itashimashite. Selamat menikmati."

Senyum lebar mengembang di wajah anak itu. Sudah cukup dengan melihat senyum pelanggannya, seorang Minato merasa itulah harga setimpal yang diperolehnya sebagai seorang chef di rumah makan tradisional namun bergaya Western ini. Tanpa menoleh ke arah manapun, tiba-tiba saja ia mendengar suara khas dari seorang Naruto berteriak menyapanya.

"TADAIMA! PAPI! Ups, maksudku, tou-san!"

Sakura menatap sosok pria yang disapa oleh Naruto itu. Ia juga ikut tersenyum saat ayah Naruto itu berbalik menatap Naruto dan dia.

"Oi Naruto! Okaeri! Bagaimana sekolahmu, nak?"

"He he, menyenangkan seperti biasa, pap!" seru Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Oh ya, ada seseorang yang ingin kukenalkan pada papi."

"Hm? Siapa?" tanya Minato sambil mengelap kedua tangannya dengan serbet yang terikat di depan konter pembayaran.

Sakura tersenyum manis saat Naruto tampak mengeluarkan kode pada ayahnya untuk melihat ke arah sebelahnya.

"Hoo, gadis yang cantik sekali." kata ayah Naruto itu seperti mengatakan pacar barumu ya Naruto. Naruto lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, pertanda tidak ada apa-apa dengan Sakura.

"Konban wa." sapa Sakura sambil menundukkan kepalanya.

"Konban wa." balas Minato dengan senyum ala dirinya, "Temanmu ya, Naruto?"

Naruto mengangguk kencang. Tiba-tiba ia memegangi satu pundak Sakura, "Pap, dia yang akan menjadi partner dalam ujianku nanti."

"Oh, benarkah itu? Bolehkah ku tahu namamu?" tanya Minato sedikit mendekat ke arah Sakura dan Naruto.

"Sakura Haruno saya dari divisi piano saya baru saja bertemu dengan Uzumakisan di jalan tadi saya tidak menyangka kalau ternyata Uzumakisan juga siswa di Konoha Music University, begitu pula saya senang sekali bisa berkenalan dengan Uzumakisan." cerocos Sakura.

Minato mengangguk-angguk pelan saat mendengar perkataan Sakura yang begitu cepat. Wajahnya memperlihatkan kebingungan tapi berusaha ditutupinya dengan senyum khasnya. Sakura sudah tidak bisa menahan rasa laparnya lagi, makanya otaknya jadi lancar (?).

KRUYUKK

"Mukyaa... perutku berbunyi lagi." ungkap Sakura dari dalam hatinya.

"AH! Karena anak muda butuh energi yang lebih besar, maka... hari ini kau boleh makan sepuasnya, SA-KU-RA-CHAN, ehem!" ujar Naruto seraya mengerling ke arah ayahnya.

"Benarkah?" tanya Sakura dengan senang.

Naruto mengagguk kencang lagi. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Sakura, seperti berbisik, "Sesuai perjanjian kita, kan?"

"Un!"

"PAP, Nona Haruno adalah dewi fortuna-ku, jadi... tolong ya pap, ehe..." kata Naruto memohon pada ayahnya.

"Iya, iya, ayah tahu kok. Oh ya, Sakura-san ingin pesan apa? Di restoran ini kami memiliki semua yang diinginkan oleh pencinta kuliner. Kita bisa memulai dari nasi goreng spesial URAKEN, kurasa." kata Minato menganjurkan.

"Ah ya, TENTU SAJA." jawab Sakura dengan semangat

XXxx____xxXX

Waktu yang telah menunjukkan pukul delapan tepat itu membuat seorang Sasuke yang berkarakter busy person agak terusik dari kesibukannya yang baru saja selesai mencuci piring makan malamnya. Ia memang mandiri, segala hal yang mungkin ia kerjakan, ia kerjakan sendiri. Mulai dari membereskan tempat tidurnya, mencuci pakaian dalamnya, mengambil vacuum cleaner dan mulai membersihkan debu-debu di tiap pojok apartemennya dan memasak. Ia terlahir dengan jari-jari yang memiliki kelentukan dalam bermain tuts piano terutama dalam hal memasak. Semuanya mampu dikuasainya kecuali...

"Sudah jam 8 rupanya." katanya sambil meletakkan piring bersih yang sudah dicucinya ke dalam rak.

Ia lalu berjalan menuju sofa empuknya dan mengambil remote dvd player-nya. Seperti biasa, setelah makan malam, Sasuke pasti mendengarkan sebuah simfoni karya maestro terkenal tak terkecuali kaset pertama yang dihadiahkan oleh maestro Nagato padanya ketika ia masih di Oto. Ia lalu berusaha mengikuti alunan melodi itu dan mulai menggerak-gerakkan kedua tangannya bak seorang konduktor profesional.

Dengan pelan namun pasti, ia mengayun-ayunkan keduan tangannya mengikuti alunan simfoni indah itu. Spring karya Mestro Beethoven bak sebuah musim semi di tengah-tengah dinginnya udara musim gugur. Simfoni itu menggema di telinganya dengan begitu sempurna, hingga Spring berubah menjadi Rainy Day...

"TI TIT... TI TIT... TI TIT... TI TIT... TI TIT..."

Alarm ponsel Sasuke berbunyi. Sasuke lalu tersadar dari aktivitas mengayun-ayunkan tangan dan menggapai ponselnya yang terus berbunyi.

"Ada apa?" tanyanya pada dirinya sendiri. Dibukanya ponsel itu dan sebuah note terpampang di layar ponselnya itu.

Latihan dengan cewek bodoh

Pukul 8 tepat

Jangan lupa!

Sasuke ternyata mengaktifkan alarm ponselnya hanya untuk mengingatkan pada latihan duetnya bersama dengan gadis aneh yang tinggal bersebelahan dengannya. Namun, ia belum mendengar suara dentingan piano dari balik kamar apartemennya itu.

"Dia belum memainkannya. Dasar. Apa dia lupa?"

Sasuke beranjak dari sofa empuknya dan akan melangkahkan kakinya. Namun, ia berpikir ulang.

"Tidak, kalau aku menggedor pintu apartemennya nanti orang-orang akan berkata hal-hal yang aneh."

Sasuke akhirnya duduk kembali di sofanya. Berusaha untuk menenangkan diri, ia lalu menyalakan kaset yang dipause-nya. Namun, ia tak bisa kembali pada alunan melodi seperti yang pertama. Ia jadi kesal pada dirinya.

"Bodoh, bodoh, kenapa kau jadi begini Sasuke? Lupakan untuk sementara latihan itu."

Berapa kalipun ia mencoba untuk fokus, ingatan akan wajah bodoh Sakura saat latihan tadi siang muncul secara tiba-tiba di otaknya.

"Dia itu―"

Tanpa berpikir panjang lagi, Sasuke mengambil jaket hitamnya dan membuka pintu apartemennya. Ia berjalan menuju apartemen Sakura yang bernomor 201 itu. Ia lalu menekan bel apartemen Sakura. Berulang kali ditekannya tapi sang pemilik apartemen tak kunjung muncul. Sasuke kemudian membuat suatu kesimpulan.

"Dia benar-benar lupa dengan peringatanku. Dasar cewek bodoh."

Sasuke berpikir sejenak. Ia berusaha mencari-cari clue kira-kira di mana keberadaan Sakura sekarang. Ia berjanji pada Tazuna sensei, tidak, tepatnya berjanji pada dirinya sendiri akan melatih Sakura menguasai masterpiece karya Mozart, Sonata for zwei Klavier dalam waktu tiga hari saja. Ia merasa harus memenuhi janjinya itu karena bagaimana pun juga janji seorang Uchiha adalah hutang sampai mati (begitu katanya). Tiba-tiba saja, dentingan nyaring dibawa oleh syaraf motorisnya dan diterjemahkan oleh otaknya sebagai suatu jawaban.

"Sekolah." ujarnya kecil.

Dengan cepat ia masuk kembali dalam kamar apartemennya dan mengambil kunci mobil sport andalannya. Ia berjalan menuruni anak tangga gedung apartemen itu seraya membetulkan letak jaket yang dikenakannya. Dibukanya pintu mobil kesayangannya itu dan ia memutar kunci ke lubangnya. Secepat kilat, ia pun menginjak gas mobilnya itu dan melesat menjauhi apartemen yang telah ditinggali selama empat tahun belakangan.

XXxx____xxXX

"Tempat terbaik untuk latihan adalah di sekolah, tentu saja." kata Sakura sambil menaiki undakan kecil di halaman kampusnya itu. Ia mengayun-ayunkan tasnya yang ringan itu sambil menengok sedikit-sedikit ke arah Naruto yang berjalan sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya.

"Ternyata udara musim gugur di malam hari dingin sekali ya, brr..." katanya seraya mengusap-usap lengannya yang kedinginan, "Hei, di ruanganku ada piano. Kita latihan di situ saja."

Sakura menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk gedung Konoha Music University yang masih terbuka. Jam berjalannya aktivitas kampus ialah hingga tengah malam jadi bagi para siswa yang masih ingin berlatih maka diperbolehkan memakai perlengkapan di sekolah. Sakura sudah sering ke kampusnya hingga tengah malam hanya untuk mendengarkan anak-anak divisi orchestra latihan. Setelah melakukan rutinitas sehari-harinya yaitu bermain piano, ia langsung melesat ke aula orchestra.

Naruto membuka pintu masuk sekolahnya dan mempersilakan Sakura untuk masuk duluan, "Ladies first, kurasa."

"Trims." Balas Sakura dengan senyum lelah.

"Same-same." jawab Naruto dengan senyum lebarnya.

Kedua sahabat (?) yang baru saja dipertemukan oleh nasib ini berjalan menyusuri undakan-undakan anak tangga yang begitu banyak. Tapi, mengingat Naruto adalah anak yang sehat, begitu pula dengan Sakura yang suka sekali makan, stamina mereka pun masih ada. Mereka akhirnya sampai di sebuah koridor yang masih diberi cahaya yang terang. Agak ujung di koridor itu, Naruto lalu menunjuk pintu ruangan yang menjadi basecamp teman-teman band-nya.

"Dan inilah ruanganku." katanya sambil membukakan pintu ruangan khususnya.

"UWA... lebih luas daipada ruanganku. Hee... ada banyak sekali biola." seru Sakura agak sedikit kegirangan.

Naruto tersenyum bangga. "YOSH! AYO KITA LATIHAN!"

"HOI!!" seru Sakura kemudian. "Oh iya, memangnya kita akan memainkan apa di ujianmu nanti?"

Naruto lalu menatap Sakura dan teringat dengan sesuatu. Dengan cepat, ia merogoh sebuah scorebook dari atas meja komputer milik Shikamaru dan menyodorkannya ke hadapan Sakura.

"Itu. Bacalah."

Sakura membaca judul scorebook yang disodorkan Naruto kepadanya.

"Beethovenno Spring. Aryaa... aku tahu." ujar Sakura dengan senyum bahagia, "Melodi ini sudah pernah kumainkan di tahun pertamaku. Jangan khawatir Naruto-kun! Kita pasti bisa melalui ujianmu dengan BAIK!"

"BEGITUKAH? Bagus! Oke... kita mulai sekarang. Hajimemasho!!!" seru Naruto seraya melayangkan tinjunya ke langit.

"HAI'!!!" seru Sakura sambil melakukan hal yang sama.

Maka, kedua musisi muda itu pun mulai berada pada posisi siap memainkan instrumennya masing-masing. Naruto baru saja meletakkan biola kesayangannya di pundak kirinya dan menjepitnya dengan tulang pipinya. Dipegangnya stick biola itu dan ia menengok sedikit ke arah Sakura yang baru saja membuka penutup tuts pianonya. Setelah semuanya siap, Naruto lalu mengedipkan matanya ke arah Sakura.

Sebuah melodi merdu dari violin klasik mengalun sangat indah. Intro masterpiece karya Beethoven yang berjudul Spring itu mengisi seluruh penjuru ruangan hening nan sepi. Lantunan melodisasi yang harmonis kini dipadukan dengan sebuah alunan melodi piano yang juga sangat apik. Permainan jemari Sakura bak air yang mengalir dari sebuah air terjun dan kemudian bermuara di danau biru. Kedua instrumen penyegar jiwa ini bermain begitu terpadu hingga di awal climax-nya. Lama-kelamaan tempo biola yang teratur menjadi tak karuan. Piano hutan itu bak berubah menjadi kucing yang berlari mengejar nada yang tak bisa dijangkaunya. Nada-nada itu terkoyak dan hancur.

"Yamete...." seru Sakura seketika, membuat Naruto terkaget-kaget. Permainan melodi itu pun berhenti seketika. Sakura mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Fuahh..."

"Ke-kenapa?" tanya Naruto terheran-heran.

"Temponya berlarian. Ada yang salah dengan permainan kita, Naruto." ujar Sakura sambil memegangi dagunya dan mengernyitkan dahi.

"Eh? Apa iya? Kurasa semuanya sudah benar." Naruto menggaruk-garuk kepalanya, merasa semuanya baik-baik saja, "Ah, bagaimana kalau kita ulang sekali lagi?"

"Mm, baiklah."

Mereka mengulang lagi permainan itu. Seperti biasa, biola Naruto memainkan titik nada yang pertama kemudian diikuti dengan permainan piano. Sakura berusaha menyelami dasar nada dari Spring itu. Musim semi adalah musim bunga, musim bunga artinya musim cinta, di mana semua hal tumbuh dan berkembang. Tanpa melihat ke arah scorebook-nya seperti biasa, Sakura memainkan kesepuluh jemarinya dengan begitu telaten. Begitu pula dengan Naruto yang berusaha keras mencapai harmoni Spring itu. Namun, lagi-lagi terjadi hal yang sama. Tepat di tengah permainan, temponya hancur terkoyak oleh emosi yang berapi-api.

"Stop!" seru Sakura sekali lagi, membuat Naruto terkaget.

"Nande?" tanyanya masih keheranan. "Ada yang salah lagi?"

Sakura mengangguk pelan, "Temponya... temponya terlalu cepat, Naruto. Yang aku tahu Spring adalah musim semi yang indah. Artinya, nada yang dimainkan harus pelan dan teratur."

"Akh, Spring kan bermakna semangat muda bak padang ilalang. Artinya, nadanya harus bersemangat!" cerocos Naruto

Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya dan memanyunkan bibirnya, "Spring adalah waktu yang indah untuk hanami!"

"Bukan! Spring adalah waktu yang tepat untuk bersih-bersih!" seru Naruto tak mau dikalah.

"Tidak! Spring adalah melodi cinta seseorang untuk kekasihnya!" balas Sakura sama hebohnya.

"TIDAK! Spring merupakan soul seorang musisi profesional!"

"TIDAKKK! Spring adalah jiwa bagi tiap insan, tak terkecuali anak-anak maupun nenek-nenek!"

"TIDAKKKKK! SPRING adalah simfoni bagi anak remaja yang ingin terus hidup!"

"BUKANNN! Spring adalah..."

"TIDAKKKKKK! SPRING adalah...."

"TIDAKKKKKK! Spring adalah..."

"BUKANNN! Spring adalah..."

"TIDAKKKKKK! Spring adalah..."

"TIDAKKKKKK..."

"TIDAKKKKKK..."

"HENTIKANNNNN..." teriak Sakura seketika, membuat segala keributan diantara mereka berhenti. "Aryaa... aku capek."

Sakura melemparkan kepalanya ke atas meja piano. Ia nampak begitu lelah dan stres dengan permainannya sendiri, bukan, tapi permainan mereka.

"Hahh... jadi, apa yang harus kita lakukan, Sakura-chan? Ujianku dimulai minggu depan dan kalau aku tidak mengambil ujian itu..."

Sakura mengangkat sedikit kepalanya ke arah Naruto dan menatapnya.

"AKU TIDAK AKAN PERNAH MERAIH IMPIANKU MENJADI CHAIRPERSON, UWAA..." Naruto berusaha membuat Sakura agar tetap menjadi partnernya dalam ujian semester lalunya minggu depan. Sakura lalu menaikkan kepalanya dan menatap kasihan ke arah Naruto.

"Mmm, baiklah. AYO KITA ULANG LAGI!"

"AHA! Inilah jiwa anak muda yang diinginkan maestro Beethoven dalam Spring." ujar Naruto senang.

Naruto baru saja akan menggesekkan stick biolanya saat sebuah gedoran menganggu konsentrasinya. Ia jadi merasa terusik dengan suara ribut itu. Akhirnya, ia berjalan dengan wajah masam ke arah pintu ruangannya. Saat ia membuka knop pintunya, pemandangan yang tak menyenangkan muncul di hadapannya.

"SIAPA?!" teriaknya sambil menarik knop pintu.

"Cewek bodoh itu ada di sini kan?"

Naruto mengernyitkan keningnya dan Sakura agak bergidik. Saat Sakura berusaha membalikkan badannya dan melihat orang yang mengetuk dengan keras pintu ruangan khusus Naruto, ia jadi sweatdrop.

"Eh he he... Uchiha senpai." ujar Sakura ketakutan.

"Mau apa kau di sini, teme?" tanya Naruto dengan bibir yang dimanyunkan, tak senang dengan kedatangan rival sejatinya, Sasuke Uchiha.

"Bukankah sudah kuperingatkan padamu untuk kembali ke apartemenmu sebelum pukul delapan, hah?!" seru Sasuke dengan kedua alis yang membentuk huruf V.

"Hei, ini ruanganku! Dan Sakura-chan sedang latihan denganku. Jangan-ganggu-kami." ucap Naruto tapi tak begitu diperhatikan Sasuke.

"Aku sedang tak bicara denganmu dan aku tak peduli dengan latihanmu atau apa, dobe, yang jelas gadis bodoh yang kau ajak untuk menjadi partner dalam ujian gagalmu itu juga ada jam latihan tambahan denganku." jawab Sasuke dengan nada sadis. Emosi Naruto meletup saat ia mendengar cemoohan Sasuke akan kegagalan dirinya.

"Dengar ya, Tuan Sok, aku juga tak peduli kau peduli atau tidak. Yang jelas, Sakura-chan sedang sibuk sekarang dan tak bisa menerima interupsi apapun. TITIK."

Sakura yang berusaha menghindar dari tatapan ngeri Sasuke akhirnya tak bisa mengelak lagi. Saat Sasuke dan Naruto tengah berdebat mengenai hal-hal yang tak penting, Sakura berencana untuk kabur dari tempat itu. Sayangnya...

"Kau mau ke mana, hah?" tanya Sasuke sambil menarik kerah belakang baju Sakura.

Sakura tampak tak bisa melanjutkan langkahnya untuk keluar dari ruangan khusus milik Naruto itu. Naruto yang juga merasa terhina (?) tiba-tiba saja menarik kerah baju Sasuke dan hampir melayangkan tinjunya, tapi belum jadi.

"Kau jangan kasar sama Sakura-chan, BAKA-TEME!" seru Naruto sambil masih menarik kerah baju Sasuke. Sasuke pun mau tak mau melepaskan tarikannya pada kerah belakang baju Sakura.

Sasuke membalikkan wajahnya dan memperlihatkan mata onyx-nya yang kelam dan mengerikan itu. Naruto agak bergidik tapi dia tak mau kalah untuk hal remeh seperti itu. Ia pun berusaha mengeluarkan jurus tatapan mautnya pada Sasuke.

"Sakura-chan! Tenang saja. Selama ada aku, orang mengerikan ini tidak akan menyakitimu..." ujar Naruto pada Sakura yang hanya diam mematung.

Tiba-tiba, senyum seringai muncul di bibir tipis Sasuke. "Tampaknya usahamu untuk menjadi chairperson di tahun ini lumayan besar. Tapi... kalau orangnya sudah gagal, selamanya takkan bisa menggapai langit. Kau itu hanya itik yang mengharapkan terbang di angkasa."

"Omae..." emosi Naruto bergejolak dengan penghinaan Sasuke.

"Selain itu, pantas saja kau nyaris di drop out oleh pengasuhmu karena style-mu yang kacau itu, usuratonkachi." kata Sasuke tanpa raut wajah apapun, "Dan― singkirkan tanganmu, Uzumaki."

Sasuke bukan saja seorang pianis berjari-jari ulet tetapi juga seorang master aikido. Ditariknya tangan Naruto yang menarik keras kerah bajunya yang kancingnya hampir melorot. Naruto tampak meringis tapi berusaha mengelak dengan menarik paksa tangannya dari cengkeraman Sasuke.

"KUSOOO..." umpat Naruto. Tiba-tiba saja ia menarik pergelangan tangan Sakura yang sedang bebas. Sakura jadi kebingungan.

"Na-ru-to?"

"Dia sudah janji akan menjadi partnerku dan kami sedang latihan. KAU semestinya mengerti dan PAHAM akan kesibukan KAMI, U-chi-ha."

"Hm."

Sepersekian detik kemudian, Sasuke menarik pergelangan tangan Sakura yang lain sehingga sekarang kedua pemuda itu bermain tarik-tarikan bak tarik tambang dengan Sakura sebagai talinya.

"Mukyaa..." keluh Sakura tak paham. Ia sudah kelelahan sehingga tak bisa berkomentar apa-apa lagi. "Doshite? Aa..."

"Lepaskan dia, TEME!"

"Kau yang seharusnya melepas dia, baka."

"Kau sudah menyakiti Sakura-chan, aku tidak akan membiarkanmu melakukannya lagi!"

"Dia ada latihan penting dan tak bisa ditunda lagi! Kau pikir latihan konyolmu ini lebih berarti dari latihannya, HAH?!"

"Tentu saja, karena Sakura-chan adalah gadis jenius. Dia pasti bisa melakukan apa saja dengan cepat, termasuk latihanku!"

Sakura merasa dunia berputar di atas kepalanya dan lama-kelamaan dia berhalusinasi akan burung-burung pipit terbang di atas kepalanya.

"Ehe... selamat pagi burung kecil―"

Kepala Sakura menjadi lunglai dan tertunduk ke bawah. Ia pingsan. Rasa lelah sehabis latihan bersama senpai yang kejam dan latihan memusingkan dengan Naruto membuatnya menjadi letih. Ia butuh istirahat.

"UWA... Sakura? SAKURA-CHAN? SAKURA-CHAN?! KAU KENAPA?!" seru Naruto saat melihat Sakura yang jadi aneh.

"Lepaskan tarikanmu, Uzumaki. Kau hanya membuatnya semakin tercekik." kata Sasuke sambil melepas tarikan tangannya dan menggapai badan Sakura. Ia pun berusaha membawa Sakura dengan bridal style.

"EE? KAU MAU APAKAN DIA, HAH? LEPASKAN TANGANMU DARI SAKURA-CHAN!" seru Naruto saat tak mau Sasuke mengangkat berat tubuh Sakura.

"Dia butuh istirahat. Dasar si bodoh ini, padahal dia belum latihan sama sekali."

Sasuke berdiri sambil membawa Sakura dalam rangkulannya (?). "Aku akan membawanya pulang. Apartemennya bersebelahan denganku. Dan kau―"

"―kau sebaiknya melatih tempomu sendiri. Dari yang kudengar dalam permainan violin-mu, kau seperti petir dalam Spring. Lalu, Spring berubah seketika menjadi Rainy Day. Sakura yang berusaha mengejar tempomu menjadi kewalahan. Kau bahkan tak pernah mendengar permainan piano Sakura sama sekali. Meskipun kau yang akan menjadi objek pengamatan dalam ujian nanti, tidak berarti kau mengabaikan permainan pianonya, bodoh. Spring memerlukan harmonisasi. Dan harmonisasi itu diperoleh dari soul yang tenang, bukan soul yang berapi-api."

Naruto merasa tertohok dengan perkataan Sasuke yang barusan. Ia tak bisa membalas semua komentar Sasuke akan permainannya tadi. Dia baru sadar bahwa yang selama ini membuat latihannya kacau adalah dirinya sendiri. Kepala Naruto tertunduk namun tiba-tiba...

"Aku ikut."

"Hn?" Sasuke membalikkan badannya menatap Naruto. "Ikut apa?"

"Katamu, Sakura-chan tinggal bersebelahan denganmu. Itu artinya, itu artinya..."

Naruto kemudian menaikkan wajahnya dan mengerutkan dahinya, "AKU BISA LATIHAN DENGAN SAKURA-CHAN SETELAH DIA BANGUN! DAN JUGA... AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN SAKURA-CHAN KAU APA-APAI!"

Sasuke memicingkan matanya ke arah Naruto, "Memangnya kau pikir, aku ini pria macam apa, HAH?"

"Dengar ya, tidak ada yang tahu apa isi hati orang lain, teme."

Sasuke pun mau tak mau membiarkan Naruto untuk manaiki mobil sport merahnya guna menuju gedung apartemen kedua pianis itu. Sasuke meletakkan tubuh Sakura di kursi belakang sementara Naruto duduk bersebelahan dengan si supir, alias Sasuke.

"Kau sebaiknya jangan mengganggu latihannya." ujar Sasuke sambil memutar setiran mobilnya ke kiri.

"Jeez, kau pikir aku ini sebodoh yang kau kira, hah? Dengar ya, meskipun kau The Prodigy atau apalah namanya, I'm still the KING of violin."

Sasuke berusaha untuk tidak memulai pertengkaran apapun. Dengan kecepatan tinggi, mobilnya melaju kencang. Sakura nampaknya tidur dalam senyum. Apa dianya yang bodoh atau memang nasib yang seperti ini. Cukup beruntung bagi Sakura untuk bisa tinggal bersebelahan dengan seorang senpai cakep nan jenius, hanya saja ia tak pernah menyadarinya begitu pula dengan Sasuke. Mungkinkah ini nasib atau hanya kebetulan?

"HOI!! LIHAT-LIHAT SPEEDOMETERMU! KAU BISA MEMBUNUH SESEORANG DI DALAM SINI!!"

TSUDZUKU

KAMUS :

Gomennasai : maafkan saya

Scorebook : buku partitur nada

Dou Itashimashite : sama-sama

Hajimemasho : Ayo dimulai!

Hanami : piknik sambil menikmati bunga sakura yang bermekaran

Kuso : "Damn"

Teme : "jerk"

Dobe : "stupid"

Usuratonkachi : "very-very stupid / moron"

Yamete : berhenti! Stop it!

Chairperson : pemimpin ansambel (mungkin seperti ketua kelas dalam sebuah kelas, dengan konduktor berperan sebagai guru)

Onegaishimasu : kumohon

Oh ya, sebelumnya saya tidak memberikan kamus untuk kata-kata yang bergaris miring. Ah ya, maaf-maaf-maaf.

Bagaimana menurut Anda dengan chapter kali ini. Adegan pertarungan antara Naruto dan Sasuke kayaknya kurang gimana gitu... (emangnya kenapa?). Masih panjang dan membosankan (apakah menurut Anda begitu?)

Great thanks ditujukan bagi yang sudah mereview. Saya sangat bahagia saat melihat penulis-penulis yang nge-review cerita saya ini. Doumo Arigatou Gozaimasu! Review tambahan masih diharapkan tapi kalau tidak ada ya, tidak apa-apa. Tapi, lebih bagus kalau dikasih review sih, khe khe khe...

~Arigato Gozaimashita~

Emi Yoshikuni