Oretachi no Symphony

A Naruto Fanfiction

--

Oretachi no Symphony © Emi Yoshikuni
Naruto © Kishimoto Masashi

--

Kushin Hero1ne proudly presents

"Ichiban no Monogatari" called Oretachi no Symphony.

LESSON 4: PLAY MY SYMPHONY!

Ada sebuah padang ilalang yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga. Warna-warna cerah termasuk warna pink kesukaannya juga menghiasi padang itu. Ia berjalan pelan diantara semak rerumputan yang tinggi itu. Tapi, ia menyukainya. Ia sangat senang dengan aroma dedaunan herbal dan bunga-bunga yang menyeruak di antara hamparan pucuk-pucuk daun kecil.

"Spring..."

Sakura mengigau. Apa yang dikatakan Naruto tentang Spring memang ada benarnya juga. Spring adalah melodi bak padang ilalang tapi kita juga bisa melakukan hanami. Spring bukan hanya milik anak-anak atau orang tua saja tapi Spring juga miliki mereka yang berjiwa muda. Spring adalah spirit bagi kaum muda untuk terus hidup dan mengembangkan sayapnya di udara.

"Mmm..."

Sakura berlari ke arah datangnya wewangian itu. Itu bukanlah aroma bunga dan dedaunan dari padang ilalang tapi sesuatu yang begitu― lezat. Sakura seperti mencium aroma enak dari arah dapur. Ia merasa sedang tertidur di suatu tempat yang tak dikenalnya. Saat ia berusaha untuk membuka kedua kelopak matanya, tiba-tiba sepasang mata biru memandangnya dengan senyum lebar.

"OI, Sakura-chan! Kau sudah sadar rupanya!"

Sakura mengangkat kedua kelopak matanya yang masih agak berat itu. Tapi, aroma harum itu menggodanya untuk segera bangun.

"Umm..."

"Hei, kelihatannya kau sangat lelah. Dasar si teme itu! Kalau kasih latihan, kira-kira juga dong!" seru Naruto sambil bertolak pinggang.

"Naruto? Aroma enak apa ini?" tanya Sakura sambil memutar-mutar kepalanya, berusaha mencari asal aroma yang diciumnya itu.

"Aroma enak?" Naruto memutar kepalanya sedikit dan melihat ke arah dapur. "Oo, si teme sedang masak. Entahlah, tiba-tiba saja saat dia tahu kau pingsan karena keletihan berlatih, dia membawamu ke apartemennya. Aku JUGA ikut! Terus, dia langsung sibuk di dapurnya."

"Apartemen Uchiha senpai? Inikah?" tanya Sakura pada dirinya sambil mencubit dagunya.

Sakura menaikkan kepalanya dari posisinya yang tertidur dari sebuah sofa empuk. Ia melihat ke sana ke mari, memandang setiap sudut ruangan tempat ia berada sekarang. Ruangan bernuansa hangat dengan warna merah marun yang menghiasi sudut langit-langit apartemen itu membuat perasaan Sakura menjadi lebih enak. Jendela apartemen yang agak terbuka membuat sinar mentari sedikit memberikan warna kekuningannya. Sakura tersenyum pelan.

"UAA... SUGOI... jadi, inikah isi apartemen Uchiha senpai? Rapi sekali..." ujar Sakura terkagum-kagum.

Naruto lalu meletakkan telapak tangannya seperti berupaya membisikkan sesuatu ke Sakura.

"Hei, hei, dengar ya, aku takut dia akan melakukan sesuatu padamu. Makanya... aku juga ikut menemanimu di sini. Lagipula, dengan begitu kita bisa latihan di tempatmu, iya kan Sakura-chan?"

Sakura mengangguk pelan dengan senyum khasnya yang manis itu. Tiba-tiba Naruto menjadi kemerahan. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

"Demo..."

"Kenapa?"

Sakura memanyunkan bibirnya dan meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya. Ia nampak sedang berpikir.

"Kenapa aku ada di apartemen Uchiha senpai, Naruto?" tanya Sakura berusaha menegakkan tubuhnya.

"Semalam, maunya sih kami meletakkanmu yang sedang tertidur itu di kamarmu tapi mengingat sangatlah aneh bila kita-kita ini yang cowok mau merogoh pakaianmu untuk mencari kunci apartemenmu, jadinya... Sasuke-teme bilang sebaiknya kau ditaruh di apartemennya saja." ungkap Naruto sejelas-jelasnya. Sakura hanya mengangguk pelan.

Sepersekian detik kemudian, Sakura berdiri dan memutar-mutar kepalanya; berusaha mencari asal aroma lezat itu. Ia berjalan pelan ke arah dapur apartemen Sasuke. Tiba-tiba saja...

"Kau sudah bangun ya, cewek bodoh."

"Jangan panggil dia bodoh, bodoh!" seru Naruto membela Sakura.

Sasuke muncul dari arah dapurnya sambil membawa sebuah panci panas yang berisi sesuatu yang lezat. Aroma wangi yang dicium oleh Sakura kembali menyeruak dari setiap syaraf-syaraf di sekitar hidungnya.

"Mukyaa... bubur dengan buah plum!" Sakura tiba-tiba meneriakkan sesuatu sambil mengacungkan kedua tangannya ke atas. Kalau sudah soal makanan, ia jadi semangat lagi. "Apa ini untukku, Uchiha senpai?"

Sakura tersenyum-senyum aneh ke arah Sasuke. Sasuke pun merasa terganggu.

"Minggir. Kalau sudah selesai dimakan, taruh saja mangkuknya di meja cucian. Aku mau mandi dulu." kata Sasuke datar sambil melepaskan celemek putihnya.

"UOO... rupanya si Uchiha itu pintar masak juga. Tapi, tentunya tidak seenak masakan papiku..." ujar Naruto yang tak mau mengakui kelezatan aroma masakan Sasuke.

Tanpa basa-basi Sakura langsung meletakkan beberapa sendok bubur buatan Sasuke itu ke dalam mangkuknya. Ia lalu mengambil sendok bubur yang telah dipersiapkan oleh Sasuke sebelumnya.

"ITADAKIMASU!" seru Sakura dengan senyum lebar, "Uchiha senpai memang yang nomor SATU!"

Naruto yang hanya melirik tanpa melakukan hal yang sama yang seperti Sakura lakukan tampak tidak tahan lagi dengan aroma harum masakan Sasuke itu. Tanpa basa-basi pula, ia duduk di bawah bersama dengan Sakura. Kedua musisi muda itu tidak berniat untuk duduk di atas sofa yang berhadapan dengan meja yang dipakainya sekarang. Mereka lebih suka duduk di lantai kayu hangat itu agar kehangatan itu dapat menyerupai sebuah kotatsu.

"Fuahh... SUGOI! SUGOI! SUGOI! Enak sekali........." Sakura menyeruput buburnya dengan perasaan bahagia. Jiwanya terasa melayang dan kini telah berada di langit ketujuh. Taman Eden itu tampak begitu indah. Seluruh penat dan letihnya karena latihan akhirnya hilang setelah menyantap bubur buatan Sasuke itu.

"HMM... lumayan." komentar Naruto dalam diam. Sebenarnya dalam hatinya ia ingin meneriakkan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Sakura. Tapi mengingat beberapa saat yang lalu ia baru saja bertengkar dengan Sasuke, rasa gengsi itu pun menutupi segalanya.

"Mm, Naruto."

"Ya?"

"Jam berapa sekarang?" tanya Sakura yang baru saja mengelap sekitar mulutnya yang belepotan bubur dengan tissu.

Naruto mengambil ponsel dari balik saku jeans-nya. Dilihatnya jam yang terletak di depan layar ponselnya itu. "Jam 9 lewat 20 pagi. Ha ha... kau tidur cukup lama juga ya, Sakura chan. Tadi, aku tertidur di sofa ini. Aneh juga menginap secara tak sengaja di rumah seorang Uchiha."

Sakura memanyunkan bibirnya dan menampakkan wajah kecewa. Naruto pun jadi bertanya-tanya akan wajah Sakura yang begitu.

"Ummmm."

"Kau kenapa, Sakura-chan? Apa kau sakit? Kau demam? Tidak enak badan?" tanya Naruto cepat.

Sakura yang baru saja menyelesaikan makanannya kemudian berdiri dan berjalan menuju meja cucian di dapur yang dimaksud Sasuke tadi. "Tidak apa-apa kok. Tenang saja, Naruto."

Sakura tersenyum manis sambil menjawab pertanyaan beruntun Naruto. Dengan pelan diletakkannya seluruh mangkuk kotor yang dipakainya untuk menyantap bubur nikmat buatan senpainya itu. Ia kemudian mengambil napas yang panjang dan menghembuskannya dengan pelan.

"Fuahhhh..."

Dengan sebuah helaan napas panjang, Sakura merasa telah kembali pada jiwanya yang dahulu. Ia kembali bersemangat dan ingin segera menjalani hari-harinya. Tapi, ia tidak tahu kalau hari itu adalah hari Minggu. Kegiatan sekolah tidak ada sehingga nampaknya ia harus mencari kesibukan sendiri.

"Sakura-chan! Ayo kita latihan!" seru Naruto sambil membawa mangkuk kotornya ke dalam dapur apartemen Sasuke itu.

"Ano... Itu..."

Sakura ingin sekali latihan dengan Naruto. Namun, ia ingat dengan latihan pentingnya bersama dengan Sasuke. Ia tidak mau mengecewakan guru yang selama ini mengasuhnya dan memberinya semangat, Tazuna sensei. Ia harus menguasai Pianos for zwei Klavier lusa esok. Ia harus menunda selama dua hari latihan pentingnya dengan Naruto demi dirinya dan demi gurunya itu...

....

I'm there for you

No matter what

I'm there for you

Never giving up

You know that's true

You will there for me

And I'm there for you

...

Ponsel Naruto berdering saat ia baru saja akan meletakkan mangkuknya ke meja cucian di samping kirinya. Dengan sigap diletakkannya mangkuk itu dan ia merogoh saku celananya. Ia lalu melihat ke layar tampilan ponselnya itu. Sebuah nama penting membuatnya agak bergidik.

"Moshimoshi." kata Naruto. "Oh, papi. Emm, sori. Latihan semalam benar-benar bikin lelah jadinya... harus menginap di rumah teman. Ehe..."

"Apa?! Tapi...Uh, oke. Oke, oke. Iya, aku pulang sekarang."

Dengan helaan napas panjang, Naruto menutup ponselnya. Terlihat aura kekecewaan di balik senyum lebarnya itu. Ia berharap bisa menjalani hari libur ini bersama dengan partnernya dan berlatih hingga mencapai titian nada sempurna. Akan tetapi, sesuatu penting mengharuskannya untuk menghentikan angan−angan itu.

"Dari ayahmu ya?" tanya Sakura pelan.

Naruto mengangguk kecewa. Bibirnya dimajukan dan tersirat kekecewaan besar dari wajahnya yang ceria itu. Ia lalu memegang kedua pundak Sakura dan tersenyum lebar ala dirinya.

"Maaf ya Sakura-chan. Ada urusan penting yang harus kulakukan sekarang juga. Hahh... maunya sih latihan tapi..."

"Mm, daijobu. Masih ada hari lain kan?" ujar Sakura dengan senyum yang selalu tersungging dari bibirnya.

"Hahh, padahal sudah susah-susah memberanikan diri untuk tinggal dengan si Uchiha itu tapi harus begini deh." keluh Naruto melepaskan kedua tangannya dari pundak Sakura.

"Memangnya kenapa harus susah-susah, dobe?"

Tiba-tiba suara Sasuke yang dingin itu kembali terdengar lagi. Naruto yang terusik kemudian membalikkan badannya dan melihat Sasuke. Ia pun berjalan tegap ke arah Sasuke yang baru saja memasukkan kancing bawah kemeja putihnya dalam lubangnya. Sasuke menatap Naruto dengan tatapan hampa. Mata onyx-nya menjadi lebih hitam dari biasanya.

"Apa?" tanyanya.

Naruto menatap dalam-dalam ke arah Sasuke. Sampai akhirnya ia hanya menghela napas panjang, "Aku harus pergi sekarang. Jangan sampai kelelahan lagi ya, Sakura-chan! Aku selalu menunggu latihan kita! Ja'."

Naruto berjalan keluar dari pintu apartemen Sasuke. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia menutup pintu itu. Sasuke memandang heran tapi tidak jadi masalah sekarang.

"Hoi! Makasih buat buburnya!" seru Naruto lewat bel suara yang terpasang di luar apartemen Sasuke, "Dan kau, teme! Jangan buat Sakura-chan pingsan lagi."

"Memangnya siapa yang membuatnya begitu? Dasar bodoh."

Sasuke telah selesai dengan kegiatannya mengancingi kemejanya. Ia lalu berjalan menuju dapur dan melihat Sakura yang terbengong sendiri. Sakura diam mematung dan entah kenapa ia jadi seperti itu. Ia merasa kosong.

"Hei bodoh. Kau mau apa bengong seperti itu? Kembali ke apartemenmu dan mandi sana. Kau bau sekali tau'." ujar Sasuke sadis sambil menggulung lengan bajunya ke atas. Ia baru saja mengambil sabun cuci piring dan sponge-nya.

"Kita akan melanjutkan latihan setelah kau mandi. Aku tidak mau mati tercekik saat latihan karena badanmu yang bau itu."

Sakura masih terdiam mematung. Sakura lalu menundukkan wajahnya. Rambutnya yang kusam terlihat begitu menyesakkan hati siapapun yang melihatnya. Sakura terdengar sedang menggumamkan sesuatu. Bibirnya pun dimanyunkan seperti biasa.

"Aryaa... air dan gas di kamarku dimatikan oleh petugasnya. Katanya, mereka sudah tidak mau memperbaiki ledeng dan kompor di kamarku yang berantakan itu. Aku tidak punya air untuk mandi dan gas untuk memasak."

Sakura tampak begitu sengsara. Ia merasa sangat kotor (dan bau). Ia menangisi nasibnya yang malang itu. Ia masih bisa hidup dari obento yang berhasil dicurinya dari teman-temannya dan makanan gratis malam sebelumnya dari restoran Naruto kemudian bubur gratis nan lezat buatan Sasuke. Tapi, untuk soal mandi dan cuci rambut...

"Kau hanya punya waktu dua hari sebelum pertunjukan itu, Sakura." kata Sasuke agak kalem. "Aku sudah berjanji pada gurumu untuk melatihmu menguasai Sonata for zwei Klavier hanya dalam waktu tiga hari. Dan kau juga menerimanya."

Sakura menundukkan lagi kepalanya. "Aku―aku hanya ingin membantu Naruto yang kesusahan begitu."

Sasuke memicingkan matanya saat mendengar perkataan Sakura yang apa adanya itu. Ia bertanya-tanya pada dirinya, ternyata ada juga orang yang lebih mengutamakan kesusahan orang yang tak begitu dikenalnya daripada kesusahan dirinya sendiri. Sakura menggaruk-garuk kepalanya yang terasa begitu gatal. Ia terlihat seperti orang kehilangan arah.

"Itu salahmu." kata Sasuke tak peduli, "Kalau kau punya waktu berharga yang bisa kau gunakan untuk menguasai latihan privatmu, sebaiknya kau tidak usah menerima tawaran orang bodoh macam dia!"

"NARUTO TIDAK BODOH!" teriak Sakura seketika, "Naruto itu... dia itu..."

"Hah, terserah kau sajalah. Tapi, tidak berarti dengan menerima tawaran si dobe itu, jam latihanmu berkurang."

"Auuu..."

Sakura pun akhirnya menyerah dengan semuanya. Ia lalu berjalan pelan ke arah pintu apartemen Sasuke. Saat ia baru saja membuka knop pintunya, nampak butiran air mata jatuh dari matanya. Ia hanya sedih dengan dirinya yang tak bisa diaturnya. Jika seandainya saja ia merapikan dan membersihkan kamarnya, petugas-petugas itu tidak akan mematikan aliran air dan gas dalam apartemennya.

Ia lalu membuka knop pintu apartemen senpainya itu. Tapi, tiba-tiba saja Sasuke menarik pergelangan tangan Sakura.

"Kita latihan di kamarku saja."

"Aryaa?" tanya Sakura kebingungan.

"Tapi sebelum itu―"

Wajah Sasuke yang agak mendekat dengan kepala Sakura sepertinya terusik dengan bau aneh yang menyuar dari balik rambut Sakura. Sasuke mengingat sebuah bau busuk aneh yang pernah diciumnya sebelumnya. Rambut Sakura benar-benar bau...

"Berapa kali kau mencuci rambutmu dalam seminggu, hah?" ujar Sasuke sambil menutup hidungnya dengan telapak tangannya.

"Ah! Itu... kadang sekali seminggu tapi kalau aku sedang ada mood, bisa dua kali dalam seminggu." jawabnya apa adanya. "Ehe, memangnya kenapa, Uchiha senpai?"

"Kau―"

"Kau―"

"Kau―"

"KAU BAU SEKALI!"

Tiba-tiba, Sasuke langsung menutup pintu apartemennya yang dibuka oleh Sakura dan sesegera mungkin menggapai kamar mandi apartemennya. Sambil menarik pergelangan tangan Sakura, ia lalu membanting kepala Sakura yang bau itu ke dalam bathup. Ditariknya shower mandinya dan dinyalakan dengan kecepatan tinggi. Sasuke menyiramkan air itu ke setiap helaian rambut pink Sakura. Sakura mengerjap dan berteriak-teriak.

"AAA... YAMETE... YAMETE..."

"Dasar cewek aneh! Tidak pernah kulihat cewek yang bahkan tak pernah mencuci rambutnya sendiri..." batin Sasuke mengumpat.

Sasuke lalu memencet botol shampoo yang beraroma melon itu. Diusapnya dengan air dan mulai mengeramasi rambut Sakura yang bau tadi.

"OI... MEMANGNYA IBUMU TAK PERNAH MENGAJARIMU HIDUP BERSIH, HAH?!" seru Sasuke saat rambut Sakura telah dipenuhi dengan busa putih.

Sakura merasa seperti ikan cincang yang dibumbui dan siap diletakkan di atas pemanggang yang panas. Kebiasaan buruknya untuk tidak mencuci rambutnya sudah dilakukannya sejak masuk bangku perkuliahan. Tapi, ia menikmati semua itu. Selama ia masih bisa bermain dengan pianonya, ia tidak peduli dengan apapun juga, meskipun itu berkaitan dengan membersihkan badannya sendiri.

"YAMETE..........."

"BERHENTI BERTERIAK-TERIAK, BAKA!"

"Mukyaa..."

Awal latihan Sakura sepertinya selalu berlangsung dengan kejadian-kejadian yang tak disukainya. Tapi, untuk yang satu ini bukankah hal yang sangat bagus?

"SETELAH INI, KAU JUGA HARUS MANDI!!"

"Uchiha senpai wa eraiiii..."

XXxx____xxXX

Sebuah nada adalah sesuatu yang bisa menimbulkan efek besar pada syaraf motoris seseorang. Apapun aliran musik yang telah tercipta di dunia ini, semua nada yang dibentuk akan membuat seseorang menggerakkan salah satu anggota tubuhnya. Melodi dalam sebuah orkestra adalah hal terindah bagi penikmat klasik, begitu pula yang dirasakan oleh Sakura saat ini. Setelah menyantap bubur buah plum dari surga karya Uchiha Sasuke, ia kini berada di taman lain yang lebih menyenangkan.

"Kau tahu, rambutmu ini bau sekali. Anehnya, ternyata masih ada seorang perempuan yang tahan memiliki aroma rambut yang seperti ini."

Seorang Sasuke yang bahkan tak pernah mengeringkan rambut ibunya sendiri dengan hairdryer malah melakukan hal tersebut pada rambut pink Sakura yang kini tampak lebih bersinar. Senyum lebar terlukis di wajahnya. Dalam sehari, ia benar-benar beruntung, sangat beruntung.

Alunan melodi Spring karya Wolfgang Amadeus Mozart menemani kedua pianis ini dalam sebuah ruangan hangat itu. Hari Minggu adalah hari yang menyenangkan untuk jalan-jalan dan menikmati alam terbuka tapi dengan adanya melodi Spring yang sangat indah itu, segalanya bisa dinikmati meskipun dalam sebuah apartemen.

"Ehe... arigatou ne, Uchiha senpai." ujar Sakura kecil. "Setelah ini, aku janji akan latihan."

Sakura menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya, membentuk tanda peace. Sasuke melihatnya tak begitu tertarik. Ia masih menekuni pekerjaannya mengeringkan rambut Sakura yang basah.

"Hn."

Sasuke merasa agak aneh dengan hal yang dilakukannya sekarang. Ia tidak habis pikir, seorang gadis seharusnya selalu memperhatikan dirinya terutama mahkota yang sangat dibanggakannya tapi yang dilihatnya sekarang malah sebaliknya. Ia jadi teringat dengan dirinya dulu ketika masih berhubungan dengan Hinata Hyuuga. Dalam sebulan, Hinata pasti meminta waktu Sasuke untuk menemaninya berbelanja ataupun ke salon. Namun, frekuensi kegiatan di salon jauh lebih kecil daripada shopping. Hinata adalah anak tunggal direktur perusahaan pembuat alat-alat musik orkestra, Hyuuga Corp. tapi ia termasuk anak yang mandiri. Ia bahkan lebih memilih untuk tinggal sendiri sehingga segala keperluan dirinya, ia siapkan secara matang. Ia pergi berbelanja bukan untuk pakaian atau sepatu mahal ala Madonna, melainkan berbelanja kebutuhan mingguannya. Sasuke pun (meskipun sedikit agak enggan) menemani Hinata melalukan rutinitasnya itu.

Pikiran masa lalu Sasuke menjadi buyar ketika Sakura menyentuh pipi Sasuke yang tampak bengong. Sasuke lalu tersadar dari lamunannya. Ia mematikan hairdryer yang dipegangnya dan meletakkannya di atas meja.

"Uchiha senpai? Kenapa bengong? Rambutku sudah kering dari tadi." ujar Sakura sambil masih menyentuh pipi Sasuke yang dipikirnya sangat empuk itu.

"Hei, hentikan bodoh." katanya sambil menyambar tangan Sakura dari wajahnya.

Sakura menggembungkan pipinya memanyunkan bibirnya, "Bu bu bu―"

"Kita latihan sekarang." Sasuke berdiri dari sofa empuk yang baru saja ia duduki. Sakura yang duduk diam di bawahnya pun ikut berdiri. Ia mengikuti langkah Sasuke yang pasti itu.

Di ruang tengah, sebuah piano hitam besar terlihat berdiri dengan kokoh, sama seperti piano yang ada di kamar apartemen Sakura. Sakura menatap Sasuke dengan tatapan bertanya.

"Pertama, kau dengarkan permainanku dulu. Tazuna sensei pernah berkata bahwa kau memiliki pendengaran yang sangat bagus, kan? Jadi, cermati permainanku dengan telinga yang kau banggakan itu."

Sakura mengangguk. Sasuke lalu duduk di kursi pianonya. Dengan satu hentakan pelan, ia mulai memainkan nada-nada yang terpatri jelas dalam susunan not balok dari scorebook yang berdiri tepat di hadapannya. Ia mulai dengan alunan simfoni sebuah piano klasik berusia dua abad. Beethoven adalah musisi jenius yang selalu membawa alunan melodinya hingga ke dasar timbre yang ingin seseorang dengar. Tak ada nada yang meleset. Semuanya adalah harmoni dengan tuts piano sebagai media ekspresi harmoni itu. Kesepuluh jari Sasuke bermain-main bak penari flamenco yang begitu ulet. Jari-jarinya menari di atas lantai putih dan hitam itu. Ia jelas menikmati permainannya begitu pula dengan Sakura yang sedari tadi berusaha mengikuti alunan melodi Sasuke dengan kedua tangannya.

Visualisasi kesepuluh jari Sasuke ia cetak melalui kesepuluh jarinya. Otaknya berhasil memproses dengan baik semua tempo, ketukan dan nada-nada sulit itu. Ia tersenyum bahagia melihat kedua pianis yang hidup dua ratus tahun yang lalu memainkan Sonata for zwei Klavier dengan bahagia.

"AHA... Uchiha senpai wa SUTEKI, SUTEKI..." seru Sakura saat Sasuke baru saja menyelesaikan nada terakhirnya.

Sasuke membuka kedua kelopak matanya yang ia biarkan tertutup saat memasuki not-not terakhir. Ia berusaha menyelami nada-nada itu hingga ke dasar hatinya tapi masih ada yang kurang, selalu ada yang kurang.

"Sudah kau dengar kan? Intinya ialah ketepatan tempo dan jari. Ketukannya sudah kuberitahu kemarin, selebihnya kau lakukan sendiri."

Sakura mengangguk kencang. "YOSH!"

"Kalau begitu, sekarang giliranmu." kata Sasuke sambil berdiri dari kursi pianonya. Ia lalu mempersilakan Sakura untuk duduk di kursi yang sama dan memulai memainkan bagiannya.

Seperti biasa, dengan sebuah helaan napas panjang, Sakura membuka matanya dan menatap rangkaian tuts-tuts piano berwarna putih dengan gradasi hitam sebagai penurun setengah nada itu. Kesepuluh jarinya menyentuh tuts-tuts tersebut dan sebuah melodi yang begitu sempurna terdengar begitu apik. Berbeda dengan permainan Sasuke yang terlalu tepat sesuai dengan peraturan dalam scorebook itu, Sakura memainkan Sonata for Two Pianos dengan caranya sendiri. Ia sungguh menikmati alunan melodi yang diciptakannya. Ia mampu membuat padang ilalangnya sendiri. Ia tak peduli dengan semua forte, pianissimo dan mezzo piano yang terangkai teratur dalam scorebook ciptaan Maestro Beethoven. Sakura adalah maestro akan permainannya. Ia menyelami dasar titian nada dengan simfoninya.

Piano hutan yang selalu terngiang di memori Sasuke kini melantunkan taman bunga Sakura yang sangat indah. Sasuke menutup kedua kelopak matanya dan berusaha mencari nada-nada yang hilang dari permainan Sakura. Seketika juga ia menghentikan permainan Sakura.

"Berhenti." ujar Sasuke lebih kalem.

Sakura pun berhenti memainkan jemarinya dan menatap wajah Sasuke yang tanpa raut wajah apapun. Sikapnya masih datar seperti biasa.

"Apa ada yang salah, Uchiha senpai?" tanya Sakura pelan, tak ingin menyulut emosi Sasuke lagi.

Sasuke yang berdiri tepat di belakang Sakura kemudian berjalan pelan ke arah meja kecil yang terdapat satu set music player andalannya. Dimasukkannya sebuah keping kaset dan dinyalakannya. Music player itu menyanyikan sebuah sonata yang sangat dikenal Sakura. Sonata for zwei Klavier asli terdengar begitu jelas di telinganya.

"Sonata for Two Pianos yang ASLI!" seru Sakura dengan senyum lebar.

"Kesalahan utamamu ialah kau sama sekali tidak mampu meletakkan pitch nada pada melodi-melodi lambat. Itulah fungsi dari sebuah scorebook. Terkadang seorang pemain ansambel lupa dengan tanda dinamik yang berada pada melodi-melodi tertentu, maka jika tidak bisa membaca scorebook―"

Sakura menjadi lemas ketika Sasuke mengucapkan kalimat yang terakhir. Ia memang tidak bisa membaca scorebook dengan cepat. Ia butuh beberapa saat untuk memainkan melodi dengan scorebook yang belum pernah ia pelajari sebelumnya. Sakura hanya memiliki memori yang bagus dan pendengaran cekatan dalam mempelajari sebuah simfoni.

"―kau bisa mendengar secara langsung permainan yang asli."

Sasuke tampak menampilkan senyum tipis tapi tak bisa dilihat Sakura yang sedang lemas dengan dirinya.

Sakura lalu mengangkat kepalanya dan mulai berimajinasi dengan alunan klasik sebuah Sonata for zwei Klavier yang mengalun pelan dan memenuhi seisi kamar apartemen Sasuke. Sasuke berdiri sambil menyandarkan punggungnya di jendela kamarnya yang tertutup sambil menatap Sakura yang sedang memainkan-mainkan kepalanya yang nampak mengikuti harmonisasi permainan Maestro Beethoven. Kedua matanya tertutup. Ia sangat menikmati alunan musik itu. Sasuke selalu bertanya-tanya pada dirinya. Saat ia melihat Sakura yang memainkan piano hutannya dengan begitu dalam bak seorang putri duyung yang menyelami lautan di samudera biru dengan hati yang riang, tak ada beban dalam setiap tekanan permainan Sakura. Sasuke merasa iri dengan sikap bodoh Sakura yang aneh dalam setiap performance-nya...

"Karya yang asli pasti selalu lebih bagus..." ujar Sakura kecil seraya membuka kedua kelopak matanya.

Sasuke berdiri tegap kembali dan memandang Sakura yang tersenyum manis ke arah piano hitam itu. Pipi Sakura yang kemerahan mengembang bak balon udara berwarna merah terbang ke udara. Rambut pinknya senada dengan wajahnya yang suka tersenyum itu, hanya saja sungguh berbeda dengan kelakuannya yang tidak biasa.

"Kita tak punya banyak waktu lagi. Setelah kau menguasai pitch nadanya, kita akan latihan di ruangan khususmu." kata Sasuke sambil menyilangkan kedua tangannya.

Sakura membalikkan kepalanya, menengok ke arah Sasuke yang menatapnya datar. Mata onyx-nya yang kelam terasa begitu dingin bagai pisau es yang siap menembak ke segala arah. Sakura yang melihat sedikit-sedikit ke arah Sasuke hanya bisa memajukan bibirnya dan tidak berpikir apapun.

"Apa?" Sasuke merasa terusik atas sepasang mata hijau yang menatapnya itu.

"Mm, Uchiha senpai sepertinya sangat sedih. Apa uchiha senpai kesepian?" tiba-tiba Sakura menanyakan hal yang tidak biasa. Sebelumnya, Sakura hanya bisa menatap takut ke mata kelam Sasuke itu. Tapi kini, ia semakin penasaran dengan sosok pria yang dipertemukannya oleh Tuhan. "Menurut Sakura, Uchiha senpai adalah orang yang sangat baik dan sangat pintar memasak. Tapi... ada sesua―"

Sasuke berjalan mendekat ke arah Sakura yang mulai memegangi dagunya untuk berpikir. Ia memegang ubun-ubun Sakura dengan telapak tangannya. Ada sebuah kehangatan aneh yang tiba-tiba dibawa syaraf sensorisnya ke area cerebellum-nya.

"Jangan berpikir yang macam-macam. Lanjutkan latihanmu, baka." Sasuke menekan kepala Sakura hingga Sakura terpaksa menundukkan kepalanya. Sakura pun mengelak dan akhirnya kembali ke posisi siapnya.

Pelan tapi pasti. Alunan nada pianissimo datang mengetuk pintu ruang ritme piano itu. Sakura tak mau menghentikan tarian flamenco-nya di atas lantai putih dan hitam itu. Ia masih ingin berdua saja dengan pianonya dan ia tak mau ada satu orangpun yang mengganggunya. Ruangan nada Sakura kini lebih teratur. Permainan jarinya menjadi lebih klasik dan riang. Ia kini telah mengetahui tiap alunan, melodi, harmoni, dinamik nada, ketukan, dan tempo yang semestinya ia lalui di tiap scorebook itu. Ia hanya mendengar tapi ia mampu membawa jiwanya jauh-jauh-jauh sekali dari dasar scorebook yang penuh dengan not-not. Sakura membawa kesepuluh jarinya dalam melodi indah yang sebenarnya. Soul-nya telah kembali ke bumi dan siap mengguncang dunia.

Sasuke agak tersenyum kecil saat Sakura mengakhiri melodi dua piano itu. Namun, cepat-cepat digantinya dengan seringai kecil.

Permainannya telah selesai. Waktu yang kini menunjukkan pukul tiga di sore hari itu membuat perut Sakura keroncongan lagi. Ia butuh energi untuk bermain lebih lama.

"Mukyaa... jam makan siang lewat lagi..." keluh Sakura sambil menjatuhkan kepalanya di atas tuts-tuts piano.

"OI, kau bisa merusak pianonya!" seru Sasuke sambil mengangkat kepala Sakura yang lunglai.

"Ehe... aku lapar."

"Dasar. Memangnya perutmu itu terbuat dari apa sih?! Seperti karet saja." Sasuke berusaha mengangkat kepala Sakura dan meluruskannya tapi percuma saja, Sakura dalam kondisi yang tak bagus untuk latihan sehingga meskipun ditendang sekalipun, ia takkan membalas.

....

I've been waiting for you

Here I come

...

Sebuah pesan singkat terpampang di layar ponsel Sasuke. Sesegera mungkin ia merogoh saku celana panjangnya dan diambilnya ponselnya itu. Sakura yang telah bebas dari perlakuan Sasuke kemudian merebahkan lagi kepalanya di atas tuts-tuts piano hingga membuat nada yang sumbang. Ia terus saja menggumamkan hal yang tak jelas.

"Lapar... lapar... lapar..."

Sasuke membuka ponselnya dan dibacanya pesan singkat itu.

Ada hal penting yang harus kita bicarakan.

Tunda semua acara pentingmu di hari Minggu ini.

Temui aku sekarang di sekolah.

Maestro Hatake Kakashi.

Sasuke memicingkan matanya; bertanya-tanya akan hal penting yang dimaksud oleh guru privatnya itu. Ia lalu meletakkan ponselnya ke dalam saku celananya kembali. Dilihatnya Sakura yang tampak sengsara seperti orang yang kesakitan.

"Angkat kepalamu."

Sakura menggelengkan kepalanya yang masih terbaring di atas tuts-tuts piano dengan kencang.

"Kita makan siang di restoran saja. Aku harus pergi ke suatu tempat. Setelah itu kau pulang sendiri." kata Sasuke sambil mengambil mantel hitamnya dan kunci mobilnya di dekat meja music player itu.

Dengan cepat Sakura mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke dengan senang. Jika dapat dilihat dengan jelas, tampak bintang-bintang menyilaukan di mata Sakura. Ia begitu mengagumi senpai yang baik itu bukan karena ketampanannya tapi karena kebaikannya dalam memberikan delicious meal untuknya.

"Traktir? BENARKAH? Mukyaa... Sakura senang sekali!"

"Hn."

XXxx____xxXX

Sakura melihat semua yang ingin dilihatnya dengan mobil Sasuke. Mobilnya melewati sebuah jembatan besar yang terlihat sebuah danau besar berwarna biru menyilaukan. Sakura terkagum-kagum akan keindahan ciptaan Tuhan yang luar biasa itu. Ia terus saja menatap kagum tanpa hentinya sehingga membuat Sasuke tidak bisa menyetir dengan nyaman.

"Diamlah, bodoh!" seru Sasuke pada akhirnya. Sakura yang juga sudah letih akhirnya diam.

"Bu... bu...bu... Uchiha senpai nggak asik." ujar Sakura seperti anak kecil.

"Cih."

"Ano, sebaiknya kita makan di restoran milik ayahnya Naruto SAJA!" teriak Sakura seketika. "Makanan di sana enak-enak. Ada nasi goreng spesial URAKEN yang enak itu, lalu, lalu, ada ramen porsi jumbo! Kalau senpai mau boleh ditambahkan dengan ca siu. Kemudian, AH! Ada juga kepiting rebus dengan bumbu kari. Atau kalau Uchiha senpai tidak suka seafood, kita bisa mencoba beefsteak yang super OISHI itu! Na, na, ada juga kare India yang pedas. Uwaa... aku sampai menangis saat mencoba kare itu. Uchiha senpai pasti juga akan mengalami hal yang sama, ehe... Terus, makanan yang lembut juga ada. Blackchips ice cream, Mocca ice cream, DAN takoyaki ice cre―"

"BISAKAH KAU BERHENTI MENGOCEH AKAN HAL YANG TAK JELAS ITU?" seru Sasuke dengan tatapan mengerikan.

Sakura menutup mulutnya yang terbuka itu. Ia lalu terdiam dan duduk manis tanpa mengoceh lagi. Sasuke benar-benar pusing dengan hari-harinya belakangan ini.

"Ano―Sakura hanya ingin melihat Uchiha senpai tertawa sekali saja. Tapi, Sakura selalu gagal." kata Sakura renyuh.

Sasuke melirik ke arah Sakura yang lemas itu. Kalau sudah diteriaki, Sakura pasti tertunduk lemas dan takut tapi untuk selanjutnya ia akan mengulanginya lagi. Tapi, rasa tak enak itu kemudian menggelayuti perasaan Sasuke. Ada sesuatu hal yang muncul di kepalanya untuk tidak membuat gadis malang di sampingnya itu lebih malang lagi.

"Hah, baiklah, baiklah. Kita makan di situ saja. Kau puas kan?" ujar Sasuke pada akhirnya.

Sakura menatap senang ke arah Sasuke. Senyum manisnya mengembang. "YOSHAAA!!!"

"OI, BERISIK TAU'!"

"Uchiha senpai wa yasashi..."

Kedua pianis yang terjebak dalam latihan Sonata for zwei Klavier itu menjalani hari pertama latihan mereka dengan perasaan yang berbeda-beda. Sakura, tentu saja, sangat beruntung dan senang dengan latihannya itu. Namun, yang dirasakan Sasuke sebaliknya. Ia seperti terikat oleh rantai besi namun sekuat apapun ia berusaha membukanya, ia tak mampu lepas dari belenggu itu sebab Sakura memegang kunci rantainya. Semoga saja simfoni mereka dapat menghasilkan sonata yang harmoni...

TSUDZUKU

KAMUS :

Mukyaa : hanya sebuah ungkapan akan ekspresi Sakura yang senang atau sedih.

Suteki : mengagumkan!

Erai : mengerikan, kejam

Yasashi : baik hati

Pitch : tinggi rendahnya nada

Timbre : warna suara

Forte : bunyi yang keras

Pianissimo : bunyi yang sangat lembut

Mezzo piano : bunyi yang agak lembut

Kisah ini memang terinspirasi dari sebuah manga karya Ninomiya Tomoka (ada yang tahu manga apakah itu?) tapi saya mencampurnya dengan imajinasi saya juga. Jadi, ada problem complex yang bakalan berasal dari pikiran saya.

Great thanks ditujukan bagi yang sudah mereview. DOUMO ARIGATOU GOZAIMASU!

Hubungan Sasuke dan Sakura sepertinya masih ada yang janggal (apakah Anda juga berpikiran yang sama?) tapi begitulah plotnya (khe khe khe)

Masih panjang dan membosankan (apakah menurut Anda begitu?).

Sangat mengharapkan review demi kelangsungan hidupnya fanfic ini (lebay!). Tapi, kalau tidak ada ya, tidak apa-apa. Tapi, kalau bisa sih dikasih review, ehe...

Mengenai bubur buah plum itu, ehem, waktu saya ke Hokkaido untuk mengikuti pertemuan Children Space Summit, sarapan pagi yang disediakan adalah bubur hangat dengan buah plum merah. Rasa buah plumnya sih agak kecut tapi sangat enak.

~Arigato Gozaimashita~

Emi Yoshikuni