Oretachi no Symphony

A Naruto Fanfiction

--

Oretachi no Symphony © Emi Yoshikuni
Naruto © Kishimoto Masashi

--

Kushina Hero1ne proudly presents

"Ichiban no Monogatari" called Oretachi no Symphony.

LESSON 5 : SURPRISING MEETING!

Segera setelah Naruto menerima telpon dari ayahnya, ia lalu melesat menuju rumah makan tercintanya itu. Naruto harus mengantarkan beberapa pesanan masakan daging asap dengan ukuran jumbo ke sebuah rumah bergaya Japanese di ujung jalan White Tulip Avenue. Semua pengantar pesanan dan koki yang ada sedang mengurusi sebuah pesta mewah di hotel berbintang enam sehingga Naruto yang harus mengantar pesanan yang satu itu. Dengan sepeda motor ninja milik Izumo, salah satu koki di rumah makan ayahnya, ia menyusuri kawasan perumahan elite itu dengan mata yang berbinar-binar. Kompleks perumahan mewah itu benar-benar membuatnya takjub. Dan tak kalah takjubnya, ada juga orang kaya yang memasang kamera pengintai di setiap sisi tembok pagar rumahnya yang tinggi itu. Naruto merasa diawasi.

"Kelakuan orang-orang kaya memang aneh." katanya mengomentari.

Ia kemudian menghentikan gerak motornya tepat di sebuah pagar kayu rumah yang benar-benar Japanese style. Pohon-pohon bonsai dengan rumput teki yang tumbuh subur dan tertata rapi di sekitarnya menjadikan rumah asri itu semakin indah. Rumah berlantai satu namun sangat lebar itu hampir seluruhnya tersusun dari balok kayu dan batuan bata. Air mancur yang bergerimicik membuat perasaan orang-orang yang melewatinya akan mengalami hipnotis sesaat. Suara gemericik air tersebut mampu menenangkan jiwa siapapun. Taman berjenis chaniwa itu memang sangat cocok dinikmati di kala melakukan chanoyu. Naruto memasang wajah takjubnya sekali lagi.

"Inikah rumahnya? Besar sekali..."

Naruto turun dari motornya dan mengambil rantang bersusun empat yang terikat kuat di kursi belakang motornya itu. Ia lalu membawanya dengan hati-hati. Sebuah bel suara membuat Naruto penasaran. Ditekannya tombol bel itu dan sebuah suara keluar seketika.

"Siapa? Ada perlu apa?"

"Ng, ini dari restoran URAKEN. Kami membawa menu yang dipesan oleh pemilik rumah ini." jawab Naruto sedikit nerves.

"Baik, tunggu sebentar. Kami akan membuka pintunya."

Secara otomatis bak pagar-pagar institusi internasional, pagar kayu itu membuka sendiri. Tanpa disentuh pun, susunan balok kayu itu terbuka dan mempersilakan Naruto untuk masuk. Naruto menengok sedikit-sedikit seraya berjalan pelan memasuki rumah keren itu.

"Woa..." ujar Naruto masih takjub.

Naruto berjalan dengan langkah tak pasti. Ia memutar-mutar kepalanya, memastikan dengan baik seluruh keindahan yang ada di halaman luas rumah itu. Ia hanya bergumam kecil dengan memperlihatkan mata birunya ke sebuah rumah yang menjadi pusat perhatian dari seluruh kumpulan keindahan itu.

Naruto memicingkan matanya; mengawasi kemungkinan adanya suatu individu yang akan mengucapkan selamat datang dan terima kasih padanya. Ia hanya berdiri bak patung jizou tepat di depan pintu tinggi dan besar itu. Biasanya rumah yang Japanese style akan menggunakan pintu geser sebagai pintu keluar-masuk rumahnya namun yang sekarang Naruto lihat ialah pintu berbentuk segiempat tinggi dan besar berornamen warna emas dan coklat kayu serta tak lupa sebuah lonceng kecil menempel di pintu itu.

Naruto menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu. Ia berpikir untuk mengetuk pintu itu tapi takut sekonyong-konyong muncul beberapa pasukan berbaju hitam yang akan menyambutnya.

Namun, yang kini bisa dirasakannya ialah sebuah suara violin indah yang berasal dari sebuah ruangan yang agak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Ruangan itu terletak tepat di depan air mancur khas Japanese yang memberikan suara gemericik air. Nada-nada mezzo piano mengalun dengan sangat indah bak ditemani oleh air-air yang mengalir dengan begitu teratur. Violin itu bukanlah biola biasa. Ya, tentu saja. Violin itu adalah biola milik seorang dewi yang berasal dari padang ilalang. Spring yang sangat dikenal Naruto bermain dalam melodi biola itu dengan sangat teratur. Tiap dinamik dan ketukannya sangat menggungah jiwa, tak terkecuali Naruto yang hanya bisa terdiam mematung.

"Siapa ya? Permainannya bagus sekali..." kata Naruto memuji dalam hati.

Naruto berusaha memutar kepalanya dan memundurkan badannya guna menangkap pemain violin surga itu. Ia hanya mampu melihat sesosok wanita berbalut kimono jingga tanpa tahu wajah wanita itu. Ia jadi penasaran hingga tak sadar suara vioin itu berhenti. Naruto mengernyitkan dahinya dan berusaha mendapatkan pemandangan yang lebih jelas akan pemilik melodi indah itu. Namun, ia tak berhasil, ia bahkan sudah tak melihat sosok wanita itu lagi.

"Ke mana dia pergi?"

Naruto masih memutar-mutar kepalanya, mencari pentunjuk akan jejak melodi biola Spring itu. Lama ia menunggu hingga sebuah suara terdengar dari balik pintu itu.

CKREKK

Seorang wanita berkimono muncul dari balik pintu megah itu. Naruto terkagum-kagum pada kecantikan dan keanggunan sang wanita yang terlihat sangat dewasa. Kimono berwarna dasar jingga dengan motif daun ginkou dan bunga krisan putih menghiasi kimononya. Rambut pirangnya yang indah itu digelung dengan penjepit rambut ala putri istana. Naruto membulatkan matanya dan sedikit mengerjap.

Wanita itu meletakkan kedua tangannya di depan seraya membungkukkan badannya, memberi hormat pada Naruto yang masih mmebulatkan matanya.

"Ohayou Gozaimasu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita cantik itu dengan suara rendah.

Naruto akhirnya kembali pada kesadarannya yang utuh dan menatap wanita yang membungkuk hormat di depannya. Ia, tanpa disadari telah menyodorkan rantang bersusun empat yang dipegangnya terus ke arah wanita itu, "Bodoh."

"Eh, anu, i―itu... i―ini, pe-pesanannya." ujar Naruto dengan nada yang tak teratur. Wajahnya memerah, napasnya tersengal-sengal dan jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya. Ia terkena syndrome kasmaran.

Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap Naruto tanpa senyum yang mengembang dari bibirnya. Tiba-tiba saja wanita itu menghela napas pendek dan meluruskan kedua tangannya. Ia juga sedikit memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri guna mengembalikan letak kepalanya yang menurutnya sangat pegal. Naruto membulatkan matanya lagi.

"Fuahh, hei, bagaimana aktingku tadi? Cocok tidak untuk pertemuan penting keluarga?"

Naruto memicingkan matanya dan menatap keheranan ke arah wanita itu. Wanita yang dianggapnya bak bidadari yang turun dari langit atau mungkin saja putri duyung yang rela menjual ekornya pada nenek sihir untuk ditukar dengan kaki agar ia bisa berjalan di daratan ternyata hanya berakting.

Mata biru nila itu menyusup ke mata biru muda Naruto. Dipicingkannya matanya. Wanita berambut pirang itu lalu memanyunkan bibirnya dan sepersekian detik kemudian, ia menarik paksa penjepit rambut yang menggelung indah rambutnya. Kini, rambut pirangnya terurai hingga ke pinggangnya. Naruto merasa mengenal wanita yang ditatapnya keheranan itu.

"Ano......." ujar Naruto dengan kosong.

"Oh IYA! Maaf! Maaf! Apa ini masakan daging asap URAKEN yang katanya SANGAT terkenal itu? YOKATTA... akhrnya, datang juga pesananku..." ungkap wanita pirang itu dengan senang seraya mengacungkan kedua tangannya ke atas.

Naruto hanya mengangguk terkaget-kaget. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi.

"HAH... baju berlapis-lapis ini terasa menyesakkan sekali! Akh, sekarang kan sudah abad ke-21, memangnya masih penting ya menggunakan pakaian menyusahkan seperti ini hanya untuk menghadiri pertemuan keluarga?"

"Eh?"

Wanita yang mengherankan Naruto itu berusaha memutar-mutar obi kimononya agar terlepas. Tapi, bagaimana pun juga, butuh kesabaran untuk melepaskan tiap ornamen yang tertempel dari kimononya itu. Ia merasa sangat tersiksa dan sesak. Naruto hanya membuka menutup mulutnya yang hendak mengatakan sesuatu tapi selalu tak bisa.

Tiba-tiba sebuah suara wanita lain bertalu-talu terdengar dari arah dalam rumah itu. Wanita yang sedang sibuk dengan pakaiannya tersadar lalu sesegera mungkin menaikkan wajahnya; ia menatap wajah Naruto yang kebingungan.

"Hei, biar kuambil pesanan itu. Dan ini bayaran plus dengan tipmu. Makasih. Bye..." ujarnya cepat.

"Ha-hai'." jawab Naruto sekadarnya. "Mungkinkah dia itu..."

"Mungkinkah dia itu perempuan yang tadi."

Wanita yang menarik dengan paksa rantang bersusun empat yang dipegang lemas oleh Naruto berlari kecil ke dalam rumahnya. Namun, ia lupa menutup pintu rumahnya yang sangat tradisional namun Western itu. Ia menundukkan sekali lagi wajahnya ke Naruto, memohon maaf atas ketidaksopanannya. Ditutupnya pintu rumahnya itu dengan wajah takut. Naruto yang tertunduk lemas lalu berjalan pelan ke arah pagar rumah itu. Sesampainya ia di depan pagar kayu yang secara otomatis tertutup itu, ia seperti mendengar sebuah suara yang berasal dari bel suara yang tertempel di samping kirinya.

"HEI, MAKASIH ATAS KIRIMAN MAKANANNYA!!"

Ternyata, itu adalah suara wanita yang tadi ditemuinya beberapa detik yang lalu. Naruto menaikkan alisnya dan hanya bisa tersenyum tipis. Untuk mengefisiensikan waktu, Naruto lalu memutar kunci motornya dan menggasnya. Motor ninja kebanggan Izumo itu melesat menjauh dari kompleks perumahan mewah itu.

XXxx____xxXX

Naruto baru saja melewati sebuah jalan yang dipenuhi dengan pepohonan Ek yang berdiri tegak di setiap sisi-sisi jalan. Warna coklat daun berjatuhan karena semilir angin musim gugur yang dingin itu. Tapi, Naruto tetap menjalankan motornya dengan perasaan bahagia. Entah kenapa, sejak ia meninggalkan rumah berkayu itu, perasaannya sungguh sangat nyaman namun diselimuti dengan kegelisahan. Tiba-tiba, sebuah ide brilian mendatangi Naruto.

"Tak ada salahnya kan duduk sebentar di taman bermain." katanya kecil sambil menepikan motornya di sebuah taman bermain anak-anak. Wajahnya memerah dan senyum lebar terlukis jelas. Ia berjalan kecil ke arah taman yang sepi itu dan kemudian duduk di sebuah perosotan.

"Fuahh... segarnya..." Naruto menghela napasnya dan kemudian meregangkan badannya. Ia lalu merebahkan badannya di atas perosotan itu.

Sebuah mimpi datang tak diundang ke khayalannya. Ia hanya ingin beristirahat sebentar saja dari rutinitasnya sebagai siswa divisi violin yang sedang berusaha meningkatkan kemampuannya agar ia dapat lulus dari ujian semester yang tak sempat ia lalui. Sebuah kenangan manis dengan almarhum ibunya saat ia berusia enam tahun tiba-tiba mengetuk pintu tidurnya. Ia mendapatkan sebuah viola untuk pertama kalinya di hari ulang tahunnya itu. Ia sangat senang sekali, tentunya. Setiap waktu, ia selalu memainkan viola kesayangannya tanpa istirahat hingga bakatnya diakui oleh sebuah institusi musik di Konoha. Ia berpindah kampus. Hanya saja, style-nya yang sangat berbeda itu membuatnya minder. Tapi, lama-kelamaan, ia berhasil membuka diri dan berteman dengan Inuzuka Kiba dan Nara Shikamaru yang mengakui akan bakatnya. Bersama-sama, mereka pun membentuk sebuah band unik beraliran rock simfoni. Mereka sudah sering diundang dalam berbagai acara, di area kampus maupun di luar area kampus. Namun, ketika sebuah ide brilian itu muncul, ia ingin mencoba bermain dalam divisi orchestra. Menjadi seorang chairperson dan membuktikan pada semua orang akan kemampuan permainan biolanya. Tapi...

"Good Morning? Boleh saya bertanya?"

Seorang pria tua bermantel tebal tiba-tiba saja membuyarkan lamunan Naruto. Naruto kemudian berdiri dan mengucek-ngucek matanya. Ia nyaris tertidur pulas.

"Ngg, siapa?" tanyanya masih setengah sadar. "Ada perlu apa, jiijii?"

Pria tua itu tersenyum seraya melepaskan topi koboinya. Rambut putih ala kakek-kakek tua menghiasi warna rambutnya itu. Naruto kemudian mengangkat tubuhnya dan menatap dengan baik pria tua itu.

"Apa kamu sedang kebingungan?" tanya pria tua itu seketika, membuat Naruto benar-benar kebingungan.

"Eh?" Naruto memasang wajah bingungnya. "Maksud jiijii?"

"Tak biasanya ada remaja muda sepertimu terlelap di tempat sepi seperti ini. Pasti, ada masalah dengan hidupmu, kan?"

Naruto memicingkan matanya dan menundukkan kepala. Ia melihat pasir perosotan yang berwarna putih itu dengan hampa.

"Entahlah." jawabnya singkat.

"Ho, ho, I see, I see."

Pria tua bermantel tebal itu mendongak dan memandangi langit yang begitu biru. Sinar mentari yang hangat terasa menyejukkan dan agak menyilaukan matanya.

"Hahh... kalau remaja muda sepertimu sudah kehilangan arah, maka semua orang tua di dunia ini akan kebingungan. Kalau ingin terus berjalan tanpa kehilangan arah, pertama-tama, lihatlah dunia ini dengan setiap sisinya yang berbeda, kedua, pelajarilah ilmu dari orang-orang besar, dan ketiga―"

Naruto menaikkan wajahnya. Ia mengernyitkan dahinya dan mendengar perkataan pria tua yang tak dikenalnya itu. Sepertinya ada sesuatu yang menarik di balik ucapannya.

"―teruslah berusaha untuk berdiri meskipun kau terjatuh. Kemudian, berlarilah sejauh-jauhnya."

Naruto kembali pada wajah normalnya meskipun masih datar. Ia menggumamkan sesuatu. "Aku tidak memiliki soul yang klasik itu. Makanya, tak ada yang mau mengakui permainan violin-ku. Hahhh... hanya Sakura-chan yang dengan senang hati mau menjadi partner piano dalam ujianku. Tapi sekarang, ia sedang sibuk dengan latihannya bersama si teme."

"Violin? Kau―kau pemain violin?" tanya pria tua itu tiba-tiba.

"Yeah." jawab Naruto dengan perasaan agak enggan.

"EHEM!" pria tua itu berdehem keras. "Dengar ya, anak muda. Kau itu masih memiliki waktu yang lebih lama daripada kami, yang tua-tua ini. Jangan jadikan kerikil kecil bahkan bongkahan GUNUNG MYOBOKUZAN menghancurkan SEMANGATMU!"

"Waktumu masih banyak. Gunakan semua waktumu itu untuk mencari melodi yang menurutmu hilang dan not-not yang tak bisa kau RAIH sekalipun! Tak ada kerikil tajam yang tak bisa diasah. Pernahkah kau mendengar cerita akan tetesan-tetesan air yang mampu meluluhkan kerasnya batu karang meskipun dalam ribuan tahun?"

Naruto menatap dalam-dalam pria tua itu. Seketika, pria tua itu mendekat ke arah Naruto dan berjongkok. Ia memandang Naruto dengan tatapan penuh harap.

"Jangan pernah menyerah mencari jati diri karena sebenarnya kekuatan yang terbesar berasal dari hati dan semangatmu." kata pria tua itu seraya memukul dada Naruto, berusaha menyemangatinya. Pria itu kemudian memakai kembali topi koboinya.

Naruto sedikit berpikir. Apa yang dikatakan pria tua itu mungkin saja ada benarnya. Ia hanya takut dengan segala pikiran orang lain akan dirinya. Ia sebenarnya sangat ingin menunjukkan dirinya di depan orang lain, makanya ia berusaha untuk menjadi seorang chairperson di tahun keempatnya ini, tahun terakhirnya. Naruto melihat pria tua itu menjauh darinya. Seketika, ia nampaknya harus menanyakan nama pria yang telah memberikannya petuah itu.

"Jiijii! Boleh kutahu nama Jiijii?" tanya Naruto dari kejauhan.

Pria tua itu berhenti melangkah. Ia lalu membalikkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Naruto. "Panggil saja Maestro Jiraiya."

"Hmm, apa Jiijii lapar? Aku akan mentraktir Jiijii!"

Mendengar kata traktir dari mulut Naruto, pria tua yang mengaku bernama Jiraiya itu menampilkan gigi-giginya yang putih. Senyum lebar mengembang dari wajahnya.

"With pleasure, young man." jawabnya.

XXxx____xxXX

Sasuke memarkirkan mobil sport merahnya tepat di pinggir jalan yang lengang itu. Dilihatnya Sakura yang sudah turun sedari tadi dan menatap berbinar-binar ke arah tulisan besar yang terpampang di atas pintu masuk rumah makan yang sangat dicintainya. Seperti rangkaian not dalam scorebook, Sasuke mampu meneliti kira-kira berjenis apa rumah makan itu. Meskipun tampak luarnya terlihat begitu tradisional namun Sakura mengenal dengan pasti isi dari rumah makan itu.

"Izakaya?" tanya Sasuke tanpa menoleh ke arah Sakura yang masih menatap bangga ke arah rumah makan berornamen hangat itu. Cocok sekali menemani dinginnya udara musim gugur.

"UN!" Sakura menganggukkan dengan keras kepalanya, "Tapi, bukan sembarang izakaya. URAKEN NO RESUTORAN DESU!" seru Sakura seraya mengangkat kedua tangannya ke langit. Udara yang dingin itu tidak pernah membuat Sakura takut mati kedinginan meskipun death glare yang sudah sering diperolehnya dari Sasuke mampu menusuk hingga ke ulu hati.

Sasuke memicingkan matanya, "Seleramu memang seperti kakek-kakek tua."

Sakura memutar kepalanya dan menatap sinis Sasuke. Ia merasa terhina dengan komentar Sasuke padanya. Seperti biasa, ia memanyunkan bibirnya lagi.

"Ngg... Uchiha senpai belum melihat isi restoran ini, makanya ngomong kayak gitu." ungkap Sakura tak mau kalah.

Sasuke tak berkomentar apapun. Kedua pianis muda itu kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam rumah makan yang menurut Sakura begitu keren. Dengan hati yang riang dan senang, Sakura menggeser pintu kayu rumah makan milik ayah Naruto itu. Pemandangan khas sebuah restoran makanan Jepang sangatlah kental. Kursi-kursi yang diletakkan teratur di setiap sudut ruangan dijejali dengan orang-orang yang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Kebanyakan orang-orang yang duduk di rumah makan itu disibukkan dengan makanan mereka namun ada juga beberapa orang yang hanya mengobrol dengan partner bicaranya. Sakura menatap riang ke suasana itu.

"Uwaaa... ramai seperti biasanya ya!" serunya diantara keributan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Sasuke hanya menatap hampa ke arah orang-orang itu. Ia memasukkan kedua tangannya dalam saku celana panjangnya dan dilihatnya seseorang yang memiliki warna rambut yang sama dengan Naruto. Namikaze Minato menyapa Sakura yang sedang memutar-mutar kepalanya, memandangi tiap sisi ruangan itu.

"SAKURA-SAN!"

"Ng? Aa, ayahnya Naruto! Uzumaki-jiisan, Ohayou Gozaimasu!" sapa Sakura hormat seraya membungkukkan badannya.

"Panggil Minato saja." jawab ayah Naruto itu berjalan mendekat ke arah Sakura dan Sasuke. Senyum khasnya mengembang. "Mencari Naruto ya? Dia tidak ada karena harus mengantarkan pesanan."

"Tidak. Kami tidak mencari Naruto. Kami ingin memesan sesuatu." Sakura tersenyum bahagia. Pipinya yang kemerah-merahan menggembung layaknya balon merah yang terbang ke udara. Sasuke nampak tidak tertarik dengan semua hal yang ada dalam rumah makan berlogo URAKEN itu.

"Begitukah? Baiklah. Ingin pesan apa?" tanya ayah Naruto pelan.

"Mmmm... hari ini bukan Sakura yang memutuskan akan makan apa. Tapi, orang ini―" Sakura membalikkan badannya seketika dan menarik lengan mantel Sasuke. Sasuke yang tak menampilkan ekspresi wajah apapun hanya bisa menerima perlakuan Sakura padanya.

Sasuke mengernyitkan keningnya sedikit dan menatap Sakura yang lebih pendek darinya. "Kau putuskan saja sendiri mau makan apa."

"TIDAK! Tidak boleh! Kalau ada orang baik yang ingin mentraktir kita, maka orang tersebut lah yang berhak memberikan saran." cerocos Sakura dengan cepat. Ia merasa bahwa bukan haknya sekarang untuk menikmati semua makanan gratisan dari senpainya itu.

"Memangnya aku ini ibumu yang harus memberi referensi akan makanan yang harus kau makan, hah?" ungkap Sasuke dengan nada sadis. Mata onyx­-nya yang kelam itu terlihat lebih kelam.

"Nggg... Uchiha senpai terlalu baik! Nanti bisa merepotkan. Bagaimana kalau aku makan terlalu banyak sehingga uang Uchiha-senpai yang menipis itu habis? Bagaimana kalau tiba-tiba saja Uchiha-senpai terkena denda parkir dan harus membayar dendanya? Bagaimana kalau Uchiha-senpai tiba-tiba sakit perut dan harus dibawa ke rumah sakit? Bagaimana kalau―"

"Hmmpphh..."

Mulut Sakura yang terus saja bercoleteh itu tiba-tiba saja tertutup oleh telapak tangan Sasuke. Sasuke tidak ingin mendengar gumaman-gumaman Sakura akan hal yang terlalu hiperbolis.

"Diam, berisik!" bisik Sasuke tepat di telinga Sakura.

Pipi Sakura memerah lagi. Ia blushing bukan karena dinginnya udara musim gugur tapi karena hembusan udara hangat dari arah Sasuke. Namun, Sakura berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Sasuke yang berusaha membuatnya diam. Sakura merasa agak sesak meskipun Sasuke hanya menutup mulutnya sebentar dan tak rapat. Ia memang tak pintar dalam hal pernafasan. Nilai pelajaran renangnya ketika masih di bangku sekolah selalu jelek karena ia bahkan tak bisa membuat gelembung ketika kepalanya berada dalam air. Sakura lalu menggigit telapak tangan Sasuke itu.

"Aa!" pekik Sasuke karena gigitan Sakura. "Hei, memangnya kau ini kucing apa?! Main gigit-gigit."

Sakura berusaha mengambil napas yang panjang dan menghembuskannya perlahan sedikit demi sedikit. Sasuke berhenti meringis atas kelakuan Sakura itu.

"Sakura tidak bisa bernapas, Uchiha senpai!" jawab Sakura sambil menggembungkan pipinya yang merah itu. "Fuahh... fuahh..."

"Berhenti menunjukkan wajah bodoh itu, bodoh." kata Sasuke masih agak kesal dengan perbuatan Sakura.

Sasuke memegang keningnya dan memijitnya sedikit-sedikit. Ia tidak ingin terlalu lama menghabiskan waktunya yang sia-sia hanya untuk menemani kouhai yang aneh itu makan siang. Sakura lalu menolak pinggang dan mengernyitkan dahinya. Namun, ia berpikir kembali akan suatu ide yang dapat mengeluarkannya dari situasi bingung itu.

"Bagaimana kalau Minato-jiisan yang memberikan saran?"

Ayah Naruto yang hanya bisa melihat bingung ke arah Sasuke dan Sakura akan pertengkaran kecil mereka akhirnya tersadar. Ia menatap Sakura dengan senyum khas yang selalu terlukis di balik wajahnya yang sangat mirip dengan Naruto itu.

"Saran ya?" Namikaze Minato berusaha mencari-cari menu yang kira-kira pas dengan selera kedua pemuda-pemudi itu. Bagi Sakura, semua makanan yang tersajikan dalam rumah makan itu lezat-lezat, tak peduli semahal atau semurah apapun harganya.

"Yang utama ialah, di restoran kami ini segala macam jenis kuliner ada dalam daftar menu. Sakura-san bisa memilih makanan ala Eastern atau juga Western. Bahkan, saya baru saja memasukkan menu Middle East yang sangat pedas itu."

Sakura menatap berbinar-binar akan semua penjelasan dari Minato itu. Ia lalu meneriakkan persetujuan akan saran yang diberikan ayah Naruto.

"UWAH... restoran URAKEN memang yang NOMOR SATU!" seru Sakura kegirangan. "Jadi, Uchiha senpai mau pesan a―"

Lagi-lagi, perkataan Sakura terpotong oleh interupsi dari Sasuke. Sakura lalu menggembunkan lagi pipinya dan kesal. "Aku pesan beef cheese burger dengan coffee latte. Saya rasa kedua menu itu pasti ada di tempat seperti ini kan?" ujar Sasuke masih dengan raut wajah yang datar.

"Baiklah. Segera datang beef cheese burger dan coffee latte! Lalu, Sakura-san ingin pesan apa?" ujar ayah Naruto itu dengan cepat.

Sakura memutar otaknya, berusaha mencari-cari menu yang kira-kira dapat memenuhi perutnya yang bernyanyi-nyanyi terus sedari tadi. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.

"AH! Aku ingin pesan RAMEN SPESIAL DENGAN CAMPURAN KOYA DAN DAUN BAWANG! Kemudian, kemudian, es krim blackchoco plus dengan waffel-nya!"

"YOSH! Pesanan Sakura-san dan―"

Minato menunjuk ke arah Sasuke. Ia ingin mengenal namanya. Sasuke kemudian menyadarinya dan hendak menjawab tapi Sakura dengan cepat menjawab pertanyaan yang bukan ditujukan untuknya.

"Uchiha Sasuke! Senpai nomor SATU yang pintar masak dan berasal dari divisi piano!" jawab Sakura semangat. "Iya kan, Uchiha senpai?"

"Terserah kau sajalah." balas Sasuke sambil berjalan kecil menuju sebuah meja yang kosong. Sakura pun mengikutinya.

"Oh, oke. Sakura-san dan Sasuke-san, dalam lima menit pesanannya akan datang." kata ayah Naruto. "Silakan menunggu."

Sakura tersenyum lebar. "HAI'!"

Maka, kedua pianis berbeda gaya itu pun menunggu pesanan mereka masing-masing di sebuah meja dekat jendela rumah makan itu. Sasuke hanya menegakkan lengannya pada meja seraya meletakkan telapak tangannya pada dagunya. Ia nampak memandangi orang-orang yang lewat melalui jendela besar di sebelah kirinya. Lain halnya dengan Sasuke yang begitu tenang, Sakura terus saja memutar-mutar kepalanya dan memandangi semua kegiatan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia kemudian membuka syal rajutan lembut berwarna hijau yang terbalut di sekitar lehernya. Sebuah liontin berbentuk segiempat dengan ornamen bulan sabit keluar dari tempat persembunyiannya. Sasuke yang melirik sedikit ke arah Sakura kemudian memicingkan matanya dan mulai memecah keheningan itu.

"Tak kusangka, perempuan yang jarang cuci rambut sepertimu ternyata masih memperhatikan penampilan juga."

Sakura menatap lurus-lurus ke arah Sasuke, berusaha menerjemahkan maksud kata-kata Sasuke. "Ah, ini ya!"

Sakura kemudian mengeluarkan liontin yang secara tak sengaja agak mengeluarkan kilaunya akibat cahaya mentari yang menerobos melalui jendela di sebelah kanan Sakura.

"Ini pemberian Obaa-sama. Obaa-sama adalah orang pertama yang mengakui bakatku untuk pertama kalinya. Kata beliau, tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain bermain piano. Makanya sejak lulus SMU, aku berusaha mewujudkan impian Obaa-sama yang ingin sekali melihatku bermain piano di atas panggung Phylaharmonic Orchestra. Itu adalah mimpi besar beliau yang mungkin saja saat ini akan sangat sulit kukabulkan―"

Sakura sedikit berkekeh di akhir penjelasannya. Wajah yang agak sendu itu kemudian berubah menjadi cerah lagi

"―demo, suatu hari, aku akan menunjukkan pada Obaa-sama bahwa sesulit apapun impian itu, aku bisa mewujudkannya!"

Sasuke melihat Sakura dengan raut wajah yang datar seperti biasa. Ia kemudian menghela napas pendek dan menyandarkan punggungnya ke kursi nyaman itu. Disilangkannya kedua tangannya tepat di depan dadanya. Mata onyx-nya yang hitam itu seperti berusaha membaca pikiran Sakura.

"Dengan kemampuan seperti itu, kau belum bisa mewujudkan impian nenekmu." kata Sasuke datar. Sakura yang melihatnya tampak lesu.

"Kurasa juga begitu. Setiap hari, aku selalu memainkan piano dengan berbagai melodi yang telah kudengar sebelumnya. Tazuna-sensei adalah guru pertama yang juga menyadari permainan jariku yang berbeda itu. Aku ini memang bodoh. Scorebook yang mudah saja harus kupelajari dalam hitungan hari. Hahh..."

Sakura menghela napas panjang. Ia lalu mendorong tubuhnya ke depan dan meletakkan kepalanya di atas meja seperti ingin tertidur. Senyum manis yang selalu terukir di balik pipinya yang blushing itu memudar. Ia sadar akan kekurangannya itu tapi semua hal yang tak bisa ia pelajari dengan cepat bukanlah berasal dari dalam dirinya yang memang tak ingin mempelajarinya, melainkan berasal dari sebuah memoar buruk di masa kecilnya yang berusaha ia lupakan...

Sasuke yang sebenarnya agak iri dengan cara Sakura membawakan setiap melodi dalam permainannya hanya bisa menatap tanpa berkomentar ke arah Sakura. Ia belum pernah mendengar dentingan tuts piano yang penuh dengan emosi dalam beberapa tahun belakangan ini. Tapi, dentingan tuts piano itu ternyata datang kepadanya dan dibawakan oleh seseorang yang sama sekali tak dikenalnya. Sakura memiliki caranya sendiri. Ia membuat peraturannya sendiri melalui piano hutannya. Emosi yang Sasuke ingin rasakan mampu dibawakan oleh Sakura melalui kesepuluh jemarinya yang ulet. Namun, ia tak memiliki emosi untuk merasakan melodi-melodiitu. Ia hanya memiliki ketepatan penjarian dan kecepatan membaca not, tak lebih dan tak kurang. Mungkin saja, hal sederhana itulah yang membuat seorang Hatake Kakashi merasa jenuh dengan permainan piano muridnya itu.

Keheningan yang muncul lagi tiba-tiba dipecahkan dengan kedatangan seorang wanita berpakaian serba putih dengan rok putih selutut yang membawa nampan besar berisikan pesanan Sasuke dan Sakura. Wanita berambut hitam panjang itu rupanya sangat atletis. Dua nampan besar dibawanya tanpa takut akan jatuh. Wanita yang bernama Ayame itu kemudian meletakkan mangkuk panas berisi ramen pesanan Sakura.

"Satu mangkuk ramen spesial koya dan daun bawang. Kemudian, satu gelas blackchoco ice cream plus waffel―" kata Ayame sambil menurunkan menu pesanan Sakura di atas mejanya.

"―beef cheese burger dan coffee latte sudah siap untuk dinikmati."

Sakura mengangkat wajahnya yang lesu itu. Setelah ia melihat asap yang mengepul dari mangkuk ramennya, semangatnya tumbuh lagi. Bintang kejora bersinar dari balik matanya.

"UWAA... SUGOI! Pasti lezat sekali..."

"Tentu saja! Ramen buatan paman Teuchi adalah yang nomor satu di seantero Konoha!" seru Ayame membalas seruan Sakura.

Tanpa basa-basi, Sakura mengambil sepasang sumpit yang telah disediakan di mejanya. Ia membuka pembungkus sumpitnya yang diikuti dengan membagi dua sumpit itu.

"ITADAKIMASU!"

Sakura menyeruput mi dalam ramennya yang panas itu. Semangatnya bila bertemu dengan makanan mampu menghancurkan gedung-gedung tinggi se-Konoha. Sasuke yang tak ambil peduli dengan kelakuan Sakura itu kemudian mengangkat cangkir coffee latte­-nya dan meniup asap panas yang dikeluarkannya.

"Apakah ada sesuatu lain yang ingin dipesan? Jus, misalnya?" tawar Ayame kepada Sasuke dan Sakura.

Sasuke menggelengkan kepalanya pelan. "Saya rasa ini cukup. Berapa semuanya?"

Sasuke menyeruput kopinya yang hangat itu. Ayame kemudian mengambil selembar kertas dari balik kantung celemeknya. Diberikannya kertas itu ke arah Sasuke. Sasuke membaca harga yang tercantum pada kertas itu.

"Semuanya 2500 yen." ujar Ayame kecil.

Sasuke merogoh dompetnya dari balik mantelnya. Dikeluarkannya uang seribuan berjumlah dua lembar kepada Ayame dan sekoin yen bertuliskan lima ratus. Ayame pun menerimanya dengan senyum manis.

"Arigatou Gozaimasu. Selamat menikmati."

"Doumo." balas Sasuke sopan.

Kedua pianis itu menyantap menu mereka dalam tenang. Dalam waktu singkat, Sasuke menghabiskan semua pesanannya dalam diam sedangkan Sakura baru saja menyendokkan es krim blackchoco yang mulai meleleh.

"Hei, aku pergi sekarang. Aku harus sampai di tempat yang kutuju sebelum pukul empat lewat tiga puluh. Kau tahu jalan pulang kan?"

Sakura yang menyeruput es krimnya dengan senang itu tiba-tiba memanyunkan bibirnya dan sejenak berpikir. "Hm, kalau jalan pulang sih tahu tapi..."

Sasuke sudah tahu kalau Sakura tidak membawa selembar bahkan sekoin pun uang. Dengan cepat, dirogohnya beberapa uang koin dan diberikannya pada Sakura.

"Ini untuk naik bus. Bagaimana pun caranya kau harus sampai di apartemenmu dan kembalilah berlatih sendiri. Lalu, jangan singgah ke mana-mana seperti anak kecil yang minta diberikan permen." kata Sasuke masih dengan nada sadis seperti biasanya.

"Mukyaa... anak kecil?" kata Sakura sambil menunjuk sendiri dirinya dengan wajah lesu.

"Demo... memangnya, Uchiha senpai mau ke mana?"

"Suatu tempat yang sudah sering kau datangi. Aku pergi dulu." jawab Sasuke datar.

Sasuke lalu berdiri dari kursinya dan berjalan dengan langkah pasti keluar dari restoran itu. Sakura menatap punggung Sasuke yang semakin menjauh itu. Sebuah tanda tanya besar muncul di kepala Sakura.

"Tempat yang sudah sering ku datangi? Apa ya? Mmm..."

Lama sekali Sakura berpikir hingga suatu keributan yang sangat dikenal Sakura terdengar di telinganya. Suara Naruto yang ribut tiba-tiba memenuhi seisi restoran itu. Sakura memutar kepalanya dan melihat Naruto yang baru saja masuk ke dalam restoran dan ditemani dengan seorang kakek tua yang tak dikenalnya.

"Naruto dan―"

"Ini adalah rumah makan PALING terkenal seantero KONOHA, jiijii! Rumah makan milik papiku adalah yang nomor SATU!" seru Naruto memperkenalkan rumah makan kebanggannya itu pada kakek tua yang ditemuinya beberapa waktu yang lalu di sebuah taman bermain.

"Oho... it's very NICE!" seru kakek tua itu lebih heboh. "Sepertinya enak-enak."

"Tentu saja! Silakan pesan apa saja dan dalam hitungan menit, semuanya siap. Jiijii duduk di situ saja." kata Naruto menawarkan tempat duduk dekat counter pembayaran pada kakek tua itu.

Sakura menatap Naruto yang sedang berbicara dengan seorang pria tua. Sakura mengernyitkan dahinya seraya menyendokkan es krimnya ke dalam mulutnya. Rambut pinknya yang tak biasa itu membuat kakek tua yang memutar-mutar kepalanya memperhatikan seisi restoran itu menjadi penasaran.

"Ah! Aku duduk di situ saja, Naruto."

Naruto membalikkan kepalanya, melihat kakek tua itu dengan tatapan bertanya

"Di situ? Itu kan―" Naruto memicingkan matanya, melihat sosok perempuan yang duduk tenang di dekat jendela. "―SAKURA-CHAN! Kenapa bisa ada di sini?"

Sakura mendengar teriakan Naruto yang memanggil namanya itu. Ia membulatkan matanya, melihat ke arah Naruto yang berlari kecil ke arahnya.

"Naruto!"

Kakek tua bertopi koboi itu menggumamkan sesuatu. "Jadi, itu ya yang namanya Sakura-chan? Pianis, eh?"

Naruto duduk di tempat Sasuke duduk beberapa waktu yang lalu. Wajah riang dengan senyum lebar terlukis jelas pada penglihatan Sakura. Kakek tua yang mengikuti Naruto pun duduk di sebelah Sakura. Sakura agak mengernyitkan keningnya, bertanya-tanya.

"Oho... jadi, nona cantik ini yang katanya akan menjadi partnermu, Naruto?" tanya kakek tua seraya melepas topi koboinya.

"HAIII'!" jawab Naruto dengan senyum lebar. "Ngomong-ngomong, kenapa Sakura-chan bisa ada di sini? Pasti makanan yang dibuat oleh si Uchiha-teme itu membuatmu sakit perut kan?"

"Eh he he, tidak. Karena latihannya sampai sore begitu dan Uchiha senpai harus pergi ke suatu tempat, kemudian Uchiha senpai bilang makan siang di restoran saja. Lalu, aku bilang makan siang di restoran milik ayah Naruto saja!" ungkap Sakura cepat.

"Sudah kubilang kan, tak ada satu pun orang yang lupa dengan kelezatan makanan yang ada di rumah makan INI!" balas Naruto sama riangnya.

"Uchiha?" tanya pria tua itu dalam hatinya.

Sepertinya percakapan antara Naruto dan Sakura yang terus saja membahas tentang makanan dan menu baru yang ayah Naruto masukkan dalam daftar membuat kakek tua yang duduk di sebelah Sakura merasa terkucilkan.

"EHEM!"

"Eh? Ada apa jiijii?" tanya Naruto seketika.

"Kalian melupakan satu orang di sini."

"AH! Ehe... maaf, maaf, maaf jiijii." ucap Naruto seraya menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal. "Karena keasyikan ngobrol soal menu baru ayahku, kita jadi lupa. Ehe..."

Sakura memegangi dagunya dan berusaha mengenali wajah milik kakek tua yang duduk di sebelahnya itu. Ia merasa mengenalnya tapi tak tahu pernah melihat di mana.

"Sebelum memesan makanan, aku ingin mengobrol sebentar dengan kalian berdua. Bisa kan?"

Sakura dan Naruto yang baru saja menyelesaikan percakapan mereka tentang makanan melihat pria tua berambut putih itu. Mereka lalu saling bertukar pandang dan Naruto mengangkat bahunya.

"Kenapa jiijii?" tanya Naruto pelan.

"EHEM! Aku sangat senang sekali kau sudah kembali riang, young man." katanya seraya menunjuk Naruto dengan telunjuknya.

Naruto hanya tersenyum lebar. "Yeah. Semua itu karena jiijii,kurasa. Lalu, jiijii mau bicara tentang apa?"

"Oh ya! Kudengar dari igauanmu ketika di taman bermain tadi, kau adalah pemain violin ya?"

Naruto mengangguk kencang dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya. Sakura hanya mengernyitkan dahi, bertanya-tanya.

"Dan lalu, YOU―" Pria tua itu menunjuk Sakura yang terkejut. Sakura memajukan sedikit bibirnya, keheranan dengan sikap pria tua yang merasa pernah ia lihat sebelumnya. "―pianis, eh?"

"Ngg... ha-hai'." jawab Sakura agak bergidik.

"Ho, ho... BRAVO, BRAVO..." seru si pria berambut putih dengan suara yang menggelegar. "Pernah bermain di orkestra sebelumnya?"

Sakura dan Naruto bertukar pandang lagi dan keduanya menggelengkan kepalanya.

"Ho... sayang sekali."

"Tentu saja belum pernah main di orkestra, jii―" tiba-tiba saja ucapan Sakura terpotong.

"NO! NO! Panggil Maestro Jiraiya saja." pria tua itu mengucapkan dengan bangga namanya itu. Sakura membulatkan matanya tapi reaksi Naruto biasa-biasa saja.

"Mestro? Maestro Jiraiya?" tanya Sakura dengan mata yang masih lebar. "Mmm..."

Sakura tampak berpikir lagi. Naruto yang menatap Sakura hanya memanyunkan bibirnya dan meletakkan telapak tangannya di dagunya. Ia menyandarkan kepalanya sambil menatap aneh ke arah Sakura dan pria tua itu.

"Memangnya siapa jiijii ini, Sakura-chan?"

"Ho, ho, pernahkah kalian mendengar sebuah sonata berjudul Aoi Hana? Sonata yang dimainkan dalam sebuah orkestra beberapa tahun yang lalu di panggung Phylaharmonic Orchestra? Bagi siswa sekolah musik seperti kalian pasti tahu kan?" ujar si pria tua dengan terkekeh-kekeh. "Kudengar orang yang menciptakannya sangatlah terkenal dan menurut desas-desus, orang itu akan pindah ke negara lain dan akan mengajar di salah satu sekolah musik negara tersebut. Hanya saja, sekarang orang itu sedang tidak ingin mengajar siapapun dan lebih suka mengobrol dengan anak-anak muda yang memiliki semangat hidup seperti kalian berdua."

Tiba-tiba sebuah lampu kuning menyala terang di atas kepala Sakura. Sakura mendapat sebuah ilham. "AH!! AKU TAHU! Maestro Jiraiya! Maestro terkenal yang berasal dari negara Kusa! Pencipta sonata untuk orkestra dengan melodi yang sangat indah! Iya kan, jii-san?"

"Ho, ho, you're definitely RIGHT, pinky!" jawab pria tua.

"Pinky?" ujar Sakura keheranan.

Naruto yang baru saja tersadar dari perkataan Sakura itu kemudian membulatkan matanya. Ia terkejut. Benar-benar terkejut.

"JADI... JIIJII INI... JIIJII INI... MAESTRO JIRAIYA YANG TERKENAL ITU?!" serunya sambil memukul mejanya. Naruto berdiri dari kursinya dan melebarkan matanya. Ia baru mengingat nama terkenal itu. Seorang maestro yang sudah sering menjadi konduktor di beberapa pertunjukan orkestra profesional di seluruh dunia. Sakura pun terkaget-kaget.

"Kenapa aku tidak menyadarinya ya?!" seru Naruto yang membuat semua mata pengunjung di sekitarnya menatap ke arahnya. Ia yang merasa jadi pusat perhatian kemudian meminta maaf dan duduk tenang di kursinya kembali. "Jadi, jiijii ini benar-benar maestro yang terkenal itu ya? Apa benar jiijii akan mengajar di Konoha? Di sekolah apa?"

Pria tua itu mengusung dadanya, merasa bangga dengan sebutan terkenal itu.

"Hei, hei, tenang dulu, young man. Yah... begitulah. Seseorang memintaku untuk sedikit memberi semangat pada musisi-musisi muda di negara ini. Kalau tidak salah nama sekolahnya..."

"Jangan-jangan, Konoha Music University, ya?" tanya Sakura lebih tenang.

"Ya! That's the name!" jawabnya riang. "Jangan-jangan juga, kalian berdua siswa sekolah itu ya?"

Sakura dan Naruto saling bertukar pandang untuk yang ketiga kalinya. Dengan sebuah helaan napas pendek, kedua musisi muda itu mengangguk kencang seraya menyerukan jawaban mereka secara bersamaan.

"HAIIII'!!!" jawab Sakura dan Naruto bersamaan.

"Ho, ho, menyenangkan sekali secara tak sengaja bertemu dengan siswa Konoha Music University. Kalian berdua tampak memiliki semangat muda seorang musisi ya?"

"YOSH!!" jawab Sakura dan Naruto secara bersamaan lagi.

"Oh ya, mengenai soal orkestra tadi, katanya kalian belum pernah bermain dalam orkestra ya?"

Sakura mengangguk, begitu pula dengan Naruto. "Tak ada piano dalam orkestra." kata Sakura seraya menundukkan wajahnya.

"Begitu ya? Hmmm..." pria tua itu memegangi dagunya sambil menatap ke arah kedua musisi muda itu. Tiba-tiba saja ia menyerukan sesuatu yang membuat Sakura dan Naruto benar-benar-sangat terkejut.

"Kalau begitu... AKAN KUMASUKKAN NAMA KALIAN DALAM KELAS ORKESTRA YANG AKAN KUBENTUK NANTI! Bagaimana? Kalian setuju kan?"

Baik Sakura dan Naruto hanya diam. Keempat bola mata menatap bingung ke arah pria tua bernama Jiraiya itu. Tiba-tiba sebuah teriakan keras memenuhi seisi restoran itu. Semua orang memandang ke arah meja dekat jendela tersebut. Keheningan muncul namun titik euphoria berkumpul pada meja Sakura dan Naruto itu. Mereka berdua tampak begitu senang.

"Benarkah itu jiijii?! A-apa, aku bisa menjadi chairperson-nya?" tanya Naruto.

"Itu tergantung. Tapi, untuk sementara... kau yang akan memimpin ansambelnya. Kalau kau bisa lulus dalam ujian yang kau bilang di taman tadi, kursi chairperson akan menjadi milikmu. Tapi, kalau kau mau berusaha, pasti akan ada jalan, young man. Lalu, kau, pinky―"

"Namaku Sakura Haruno, bukan pinky." ujar Sakura dengan nada sedikit kesal.

"Ok, ok. Dan kau, Haruno-san, kau akan menjadi maskot kelas S-OKE!"

"Ma-maskot?" tanya Sakura keheranan.

"S-OKE?" tanya Naruto yang juga keheranan.

Pria tua berambut putih itu hanya tersenyum lebar melihat wajah kebingungan Sakura dan Naruto. Benar-benar aneh. Tiba-tiba saja, pria tua yang berprofesi sebagai konduktor profesional itu akan membentuk kelasnya sendiri, S-OKE di Konoha Music University. Maestro Jiraiya memang seorang konduktor hebat namun untuk yang satu ini, baik Sakura maupun Naruto sedikit menyangsikan.

"YOSH!! AYO KITA KALAHKAN KELAS A ORKESTRA!" seru mestro Jiraiya itu seketika seraya menagcungkan tangannya ke atas. "Tapi... bolehkan aku meminta bantuan kepada murid-murid yang bersemangat ini dalam menyusun S-OKE?"

Meskipun masih bertanya-tanya dalam ketidakpastian, Sakura dan Naruto pun akhirnya mengangguk khawatir. Dan kemudian mereka juga menyerukan persetujuannya kepada maestro nyentrik itu. Sakura merasa senang sekali begitu pula dengan Naruto. Rupanya, dengan adanya kelas S-OKE (?), semangat kedua musisi itu untuk melalui semua ujian-ujiannya meningkat. Naruto menjadi lebih semangat lagi dan batinnya berkata untuk terus berlatih memainkan biolanya yang belum teratur itu. Dan Sakura pun merasa termotivasi untuk berlatih lagi demi gurunya dan senpai­nya...

"YOSH!!!"

TSUDZUKU

KAMUS :

Chaniwa : taman ala Jepang, yang secara harfiah berarti kebun/halaman teh.

Chanoyu : upacara minum teh

Jizou : patung dewa keselamatan yang sering diletakkan di jalanan maupun di kuil.

Viola : biola dengan ukuran yang lebih kecil dibanding violin. Digunakan untuk pemula.

Yokatta : syukurlah...

Izakaya : kedai minuman.

Gunung Myobokuzan : gunung yang dihuni oleh katak-katak di manga Naruto.

Waduh... kayaknya chapter ini adalah chapter yang terpanjang! Saya juga tidak tahu kenapa bisa sepanjang ini. Saya takut malah jadi membosankan. T_T. Maafkan saya... Maafkan saya...

Akhirnya, Jiraiya nongol juga tuh. Ehe... Di cerita ini, sifat Jiraiya nggak kayak yang di anime. Itu tuh... yang ero itu. Jadi, tenang aja deh...

Oh ya, saya memang pernah ke Nihon. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada bulan April saya pergi ke Hokkaido untuk mengikuti Children Space Summit. Pokoknya, menyenangkan deh. Bisa lihat bianglala di Tokyo (walaupun cuma sebentar). And, saya juga sudah merasakan air panas di onsen, ehe...

Great thanks ditujukan bagi yang sudah mereview. Saya sangat bahagia saat melihat penulis-penulis yang nge-review cerita saya ini. Doumo Arigatou Gozaimasu! Review tambahan masih diharapkan tapi kalau tidak ada ya, tidak apa-apa. Tapi, lebih bagus kalau dikasih review sih, khe khe khe...

Kapan ya kira-kira saya bisa balas semua review teman-teman author? Hmm... Hmm...

~Arigato Gozaimashita~

Emi Yoshikuni