Oretachi no Symphony

A Naruto Fanfiction

--

Oretachi no Symphony © Emi Yoshikuni
Naruto © Kishimoto Masashi

--

Kushina Hero1ne proudly presents

"Ichiban no Monogatari" called Oretachi no Symphony.

LESSON 6 : NEW TEAM!

Sasuke baru saja sampai di sebuah kampus yang sangat dikenalnya itu. Gedungnya yang selalu berdiri dengan kokoh terlihat begitu menyilaukan mata. Mentari yang nampak ingin sekali pulang ke peraduannya terlihat lebih cerah dari biasanya. Patung konduktor dunia, Maestro Schubert masih berdiri di tempatnya dengan tegap dan raut wajah yang benar-benar tak pernah berubah. Sasuke agak menyipitkan matanya seraya mengangkat lengan kanannya ke depan matanya, berusaha untuk sedikit menghindar dari kilaunya sinar mentari sore. Sasuke berjalan cepat menuju pintu masuk gedung Konoha Music Academy. Dibukanya pintu kaca itu seraya menengok sedikit-sedikit ke belakangnya, nampak seperti memastikan tak ada siapapun yang mengikutinya.

Langkahnya yang cepat dan pasti terus saja menyusuri sebuah koridor luas di lantai tiga gedung kampusnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti tepat di sebuah pintu kayu yang lebar, dengan dua pintu yang di tengah-tengahnya terpatri sebuah nama yang diukir dengan baik.

Ruangan Direktur

Profesor Sarutobi.

Sasuke menghela napas pendek. Ia mengangkat satu tangannya dan diletakkannya punggung tangannya itu ke arah pintu. Ia mengetuk pelan pintu kayu itu hingga sebuah suara berat seorang pria tua memintanya untuk masuk.

"Masuklah Uchiha-san, kami sudah menunggumu."

Dengan pelan, Sasuke memutar knop pintu kayu tersebut. Sebuah suara khas dari pintu kayu terdengar begitu nyaring hingga orang-orang yang berdiri di dalam ruangan luas itu menatap Sasuke seketika.

Sasuke membungkukkan badannya dalam-dalam. Seorang kakek tua dengan mantel berwarna abu-abu hangat berdiri dari kursi kerjanya yang beroda itu. Ia tersenyum ramah seraya melambaikan tangannya ke arah Sasuke.

"Oh, akhirnya kamu datang juga, Uchiha-san. Senang sekali bisa melihatmu dalam keadaan sehat seperti biasanya. Apa kabarmu, nak?" tanya kakek tua yang bernama Profesor Sarutobi itu seraya berjalan pelan menuju tempat Sasuke berdiri.

"Saya baik-baik saja, Sarutobi-sama." ujar Sasuke seraya mengangkat kembali badannya. Mata onyx-nya yang kelam itu sedikit melirik ke arah kirinya. Ia melihat seseorang berambut perak jabrik yang memakai sweater coklat dengan dasi hitam yang menghiasi sweater-nya itu sedang tersenyum ke arahnya. Sasuke langsung mengembalikan lirikannya ke arah Profesor Sarutobi yang sedang menatapnya.

"Bagaimana latihanmu bersama Tazuna-sensei, Uchiha-san? Kudengar dari Hatake-san, kamu melatih siswi Tazuna-sensei hanya dalam waktu tiga hari saja, apa itu benar?"

Sasuke mengedipkan matanya sekali dan dijawabnya pertanyaan dari rektor kampusnya yang juga seorang konduktor profesional.

"Ya."

"Apa berhasil?"

Sasuke agak menimbang-nimbang pertanyaan Profesor Sarutobi itu. Akhirnya, Sasuke memberanikan diri untuk menjawabnya.

"Masih dalam proses, Sir."

Profesor Sarutobi mengangguk-anggukan kepalanya. Senyum khasnya seperti menunjukkan kebanggan pada siswa andalannya itu. Sasuke yang menatapnya datar tak mampu berkata-kata lebih dari itu. Hatake Kakashi yang masih tersenyum ke arah Sasuke kemudian menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya. Di balik senyum ramahnya, seperti terdapat tekanan mematikan yang luar biasa. Tapi bagi Sasuke, semua tatapan dan senyum itu sudah menjadi manisan yang selalu dirasakannya sejak tahun pertamanya bersama dengan guru privatnya itu.

"Bagaimana menurutmu, Hatake-san? Kurasa, murid kebanggaan kampus kita ini memang bisa diandalkan."

"Tidak usah terlalu formal, kurasa. Kita di sini sedang membicarakan mengenai rencana mengajar Maestro Jiraiya kan, Sarutobi-sama?"

Tiba-tiba Kakashi yang sedang berdiri dengan tenang di dekat jendela ruangan itu mengeluarkan suaranya. Ia lalu melepas silangan tangannya dan berjalan pelan ke arah Sasuke. Dimasukkannya kedua tangannya dalam saku celana berwarna hitamnya itu.

"Ah, ya, ya, aku lupa."

Kakek tua berambut jarang itu berjalan pelan dan duduk di sebuah sofa empuk yang terletak tepat di depan meja kantornya. Ia juga meminta Sasuke untuk duduk di depannya sedangkan Kakashi hanya berdiri di belakang sofa yang diduduki oleh Sasuke.

"Hm, sebaiknya kita mulai dari mana ya? Oh ya, pertama-tama, maaf kalau sudah mengganggu waktu bebasmu di hari minggu ini, Uchiha-san."

"Saya rasa, dia tak punya kesibukan di hari Minggu ini, Sarutobi-sama. Iya kan, Sasuke-kun?" tanya Kakashi dengan senyum yang selalu mengembang di wajahnya. Sepertinya, senyum itu adalah senyum yang penuh dengan kebohongan.

Sasuke tak bisa, bukan, tepatnya tak mau menjawab pertanyaan guru privatnya itu. Kakashi yang memiliki tekanan mengerikan itu seperti siap menerkam Sasuke bak tikus yang terperangkap dalam kandang singa.

"Meskipun begitu, Uchiha-san pasti memiliki hal penting yang harus dikerjakan hari ini kan?"

Sasuke sedikit melirik ke arah kaki meja di bawahnya dan berdiri tepat di depannya, memisahkannya dengan Profesor Sarutobi. Mata onyx-nya yang menyimpan berbagai rahasia itu kembali menatap datar ke arah Profesor Sarutobi yang baru saja menumpukan dagunya pada buku-buku jemarinya yang keriput.

"Saya hanya melatih permainan piano Haruno-san hari ini. Maaf kalau saya datang terlambat." jawabnya dengan kepala yang tertunduk dalam. "Apakah rencana mengajar guru baru yang dikatakan oleh Hatake-sensei tadi ada hubungannya dengan saya?"

"Ya. Sangat berhubungan, Uchiha-san." jawab Profesor Sarutobi pelan. "Terkadang, seorang maestro lupa akan kewajibannya dalam mengurusi daun-daun muda. Oleh karena itu, kami memanggilmu hari ini agar Uchiha-san bisa membantu Maestro Jiraiya memenuhi kewajibannya itu di sekolah ini."

"Maestro Jiraiya?" tanya Sasuke agak menyipitkan matanya.

Profesor Sarutobi mengangguk pelan. Ia meluruskan badannya dan menyandarkannya di sofa yang diduduki sekarang. "Mungkin nama itu agak asing bagimu yang sudah sering mendengar karya-karya maestro profesional setingkat Schubert. Tak pernahkah Uchiha-san mendengar simfoni berjudul Aoi Hana yang ditampilkan pada panggung Phylaharmonic Orchestra beberapa tahun yang lalu?"

Sasuke agaknya ingin membuka mulutnya untuk berbicara tapi buru-buru ditutupnya kembali; tak ingin mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya ingin mendengar saja.

"Dia itu dulu adalah murid kesayanganku. Sedikit bodoh, kurasa. Tapi, dia memiliki semua melodi yang tak dimiliki oleh semua musisi di kampus kita ini, bahkan aku. Yah, meskipun sudah menjadi sesama konduktor pun kita juga harus berbesar hati untuk belajar dari orang yang lebih muda kan, Uchiha-san? Kudengar, Uchiha-san pernah tinggal bersama dengan Maestro Nagato yang terkenal itu? Di Oto?"

Sasuke agak terkejut tapi ia berusaha untuk menutupinya dan kembali tenang. Ia mengangkat wajahnya dan mengangguk kecil. Ada perasaan aneh yang menggelayuti dirinya saat Profesor Sarutobi mengucapkan nama maestro masa kecilnya tadi. Ia merasa seperti seorang pasien psikiater yang ditanyai mengenai masa lalunya dan diminta untuk menceritakan segala kenangan lama yang ada dalam memorinya.

"Hm, itu artinya permainan pianomu memang sedikit terpengaruh oleh Maestro Nagato ya? Bagus, bagus sekali. Dengan begitu, akan semakin mudah bagimu untuk mengawasi anak-anak didikan Maestro Jiraiya nanti." ujar Profesor Sarutobi seraya berdiri dari sofa yang didudukinya. Ia lalu berjalan pelan ke arah jendela yang berdiri kokoh memberikan batasan antara ruangan luas berkarpet merah tua yang menempel pada lantai-lantainya dengan udara luar yang mulai dingin. Sinar mentari pun kian menghilang.

"Anak didikan?" tanya Sasuke dalam hati.

Sasuke mengernyitkan dahinya dan menatap Profesor Sarutobi dari tempatnya duduk. Siluet bayangan kakek tua yang diciptakan oleh sinar mentari yang kian menghilang itu membuat Sasuke agak memicingkan matanya. Kakashi yang masih berdiri tegap di belakang Sasuke hanya menguap lebar dan tak berkomentar apapun.

"Permintaannya yang benar-benar di luar dugaanku itu membuatku pusing. Tapi, apa boleh buat. Dari awal, aku sudah meduga, dia pasti akan meminta imbalan atas panggilanku untuk mengajar di sini. Oleh karenanya―"

Profesor Sarutobi membalikkan badannya dan memandang ke arah kedua pria berusia yang jauh lebih muda dari dirinya itu. Dengan senyuman lebar khasnya, ia mengucapkan hal yang jauh dari bayangan Sasuke sebelumnya.

"―berjuanglah, Uchiha-san. Jika suatu saat tiba-tiba kamu terikat dengan suatu ikatan yang tak bisa dilepas, maka berusahalah untuk melaluinya sebab itulah jalan yang terbaik. Kurasa hanya itu yang ingin kusampaikan padamu, Uchiha-san. Selebihnya, kamu bisa menanyakannya pada Hatake-san."

Kakek tua berambut jarang itu membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah sinar mentari sore di musim gugur melalui jendela dalam ruangannya. Sasuke agak berpikir sebentar dan kemudian berdiri tegap dari sofanya. Seraya membetulkan mantel hitamnya, ia berjalan pelan ke arah pintu keluar ruangan itu. Kakashi pun mengikutinya dari belakang. Sebelum membuka knop pintu ruangan hangat yang dilengkapi dengan pemanas bara api itu, Sasuke membungkukkan sedikit badannya sedangkan Kakashi masih saja menguap lebar.

"Saya pergi dulu, Sarutobi-sama."

Dari balik punggungnya, Profesor Sarutobi mengangguk pelan seraya menjawab "ya" kecil. Sasuke membalikkan badannya dan membuka knop pintu kayu yang lebar itu. Kakashi yang mengikutinya dari belakang; tampak tak tersenyum lagi.

Sasuke, bersama dengan guru privatnya itu berjalan menuruni tiap undakan anak tangga yang ada. Kakashi sepertinya sangat mengantuk sehingga selama berjalan, ia hanya bisa menguap lebar tanpa berbicara sepatah kata pun dengan murid kesayangannya itu. Tiba-tiba tepat di lantai dasar, Sasuke menghentikan langkahnya, membuat Kakashi agak bertanya-tanya.

"Kenapa berhenti, Sasuke?" tanya Kakashi seraya memegang rambut perak jabriknya itu.

"Kau sudah tahu dari awal kan? Kenapa tidak sekalian saja kau masukkan aku ke dalam kandang singa?" ujar Sasuke dengan nada menantang. Mata onyx-nya siap melawan mata Kakashi yang mengantuk itu. "Sudah cukup bagiku dengan menerima latihan konyol bersama cewek berambut pink aneh itu. Dan sekarang... apa lagi, hah?"

Kakashi menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia hanya tersenyum renyuh menerima perkataan Sasuke yang menurutnya sedikit kasar itu. Tapi, baginya hal itu sudah biasa.

"Menurutmu?" ungkap Kakashi datar. Ia lalu melanjutkan langkahnya yang terhenti itu. Dengan masih menggaruk-garuk kepalanya itu, Kakashi berjalan pelan menjauhi Sasuke. "Kau tahu, kau takkan pernah menjadi seorang konduktor kalau caramu berbicara dengan gurumu sendiri seperti itu."

"Sejak kapan kau peduli dengan cara bicaraku?" balas Sasuke datar yang lalu melanjutkan kembali langkahnya, berusaha mengejar Kakashi.

Kakashi hanya terkekeh-kekeh mendengar pengakuan muridnya yang satu itu. Ia mengangkat kepalanya, melihat langit-langit lantai dasar itu yang bergambar langit biru dan dihiasi dengan awan-awan putih. Lampu-lampu yang mulai dinyalakan di setiap sisi langit-langit itu membuat seorang Kakashi menerawang jauh. Matanya yang terkesan sangat mengantuk itu menjadi lebih mengantuk lagi. Ia menghela napas panjang.

"Ya, ya, aku memang tak peduli. Hanya bercanda, Sasuke."

Sasuke memicingkan matanya, memandang bosan ke arah Kakashi.

"Jadi... maksud dari surat yang waktu itu ternyata ini ya?" tanya Sasuke kemudian.

Kakashi hanya mengangguk kecil. "Ya... boleh dibilang seperti itu."

"Memangnya, kau mau aku melakukan apa dengan guru baru itu?"

"Kau cari saja jawabannya sendiri. Kau kan suka tantangan." jawab Kakashi apa adanya.

Sasuke mengeluarkan seringai tipisnya. "Setelah ini, aku akan berganti divisi." kata Sasuke seketika, membuat Kakashi terkejut. "Kenapa terkejut? Bukannya sudah kuberitahu?"

"Eh... iya, mungkin. Jadi, kata-katamu yang waktu itu serius ya? Kupikir kau hanya bercanda." ujar Kakashi seadanya; tidak melihat-lihat situasi. Ia hanya mengernyitkan dahinya seraya memegangi dagunya seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu. Kakashi yang akhirnya sadar kemudian memandang Sasuke yang tampak mengeluarkan death glare-nya.

"Hei, kalau memasang wajah mengerikan seperti itu, takkan ada wanita yang mau denganmu, Sasuke." kekeh Kakashi dengan senyum aneh. Tapi, Sasuke masih saja memberikan death glare-nya pada Kakashi. Tak lama, Kakashi pun memperlihatkan wajah takutnya. "Iya, iya, hanya bercanda lagi. Dasar kau ini, tak pernah berubah. Sebagai informasi tambahan, kelas A akan―"

"Membuat konser akhir tahun tepat pada hari Natal. Info itu sudah tersebar di mana-mana, Kakashi. Kau hanya mengulang perkataan semua guru-guru di kampus ini."

Kakashi memicingkan matanya, melihat Sasuke yang berjalan melaluinya. "Kau mau ikut bermain dalam konser itu kan? Meskipun tak ada piano tapi kau bisa bermain violin. Siapa tahu saja kau bisa menggeser jabatan si Yamanaka itu." kata Kakashi datar.

Kakashi memutar badannya dan menatap punggung Sasuke dengan wajah yang juga datar. Mendengar perkataan itu, Sasuke menghentikan langkahnya.

"Tidak." jawab Sasuke dengan nada yang datar. "Aku ingin membuat orkestraku sendiri dan bermain di dalamnya. Setelah latihan konyol bersama cewek berambut pink itu selesai, surat permohonan pemindahan divisi akan kukirim pada Sarutobi-sama."

"Ho... masih juga ingin mengejar mimpi kecilmu itu ya? Maestro Nagato pasti akan senang sekali melihatmu memainkan baton di depan panggung orkestra, ne? Tapi, kusarankan padamu untuk memikirkannya sekali lagi. Aku masih mau menerimamu di tahun terakhirmu di akademi ini bukan karena aku ingin melihatmu besar menjadi seorang konduktor melainkan―"

Sebuah tatapan serius ala Kakashi membuat Sasuke agak bergidik. Aura mengerikan yang hanya dimiliki oleh Hatake Kakashi, si guru peniru ini memang sangat ampuh melemahkan semangat murid-murid yang dianggapnya tak becus. Di kalangan para pengajar seantero kampus KMU, Hatake Kakashi-lah satu-satunya guru yang menguasai titi nada mutlak yang sangat sulit dicapai oleh para musisi. Sejak kedatangan Sasuke di Konoha Music University, Kakashi langsung menawarkan diri untuk menjadi guru privatnya. Menurutnya, Sasuke memiliki semua teknik permainan nada pada dirinya. Sebuah tantangan besar baginya untuk membesarkan Sasuke hingga sekarang ini. Tapi, melihat Sasuke menjadi seorang konduktor ternyata di luar rencananya.

"―menjadi dirimu sendiri." ujar Kakashi kemudian. Sasuke agak mengangkat kepalanya tapi tak memedulikan perkataan Kakashi itu.

"Kalau kau ingin menjadi seorang konduktor hanya untuk mendapat pengakuan dari Mestro Nagato, kau salah besar, Sasuke. Seorang musisi hidup bukan dari pengakuan tapi suara tepukan tangan para penonton yang menyaksikan pertunjukannya di panggung orkestra. Nikmati saja hidupmu yang sekarang ini. Dan kalau kau merasa sudah puas, yah... lanjutkan saja impian kecilmu itu."

Sasuke tetap berdiri dalam diam. Ia tak mau lebih banyak berkomentar akan penyataan Kakashi yang sangat bertentangan dengan prinsip hidupnya sekarang.

Sebuah seringai kecil tersungging di bibirnya. Sasuke seperti tertawa akan semua perkataan Kakashi yang dianggapnya hanya sebagai gurauan itu. Dengan sebuah helaan nepas panjang, Sasuke kembali melanjutkan langkah pastinya dan meninggalkan pengasuhnya itu. Kakashi yang melihat kelakuan muridnya itu hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya lagi tanpa menunjukkan raut wajah serius. Rupanya, nasehat apapun yang keluar darinya untuk Sasuke tidak akan mempan. Sasuke itu seperti shield yang digunakan oleh para prajurit perang sedangkan Kakashi adalah busur panah yang ujungnya terbuat dari cloroform. Sungguh sangat sulit melunakkan hati sedingin es batu itu...

"Yah, terserah kau sajalah, Sasuke." komen Kakashi yang ditutupi dengan mulut yang terbula lebar. Ia menguap ngantuk lagi. "Hoi, berjuang untuk latihanmu ya!"

Sasuke tak mendengarkan apapun lagi. Ia berjalan menjauhi Kakashi yang masih berdiri di tengah-tengah ruangan di lantai dasar itu. Pikirannya masih bertanya-tanya akan maksud perkataan dari Profesor Sarutobi beberapa waktu yang lalu. Apa maksudnya? batinnya bertanya dalam bingung. Sebenarnya, ikatan apa yang dimaksud oleh kakek tua itu? Dan kenapa harus dia yang membantu seorang maestro baru yang akan mengajar di kampus Konoha Music University? Semua pertanyaan itu bak burung-burung camar yang terbang di atas permukaan air yang tenang namun di dalamnya tersimpan berbagai makhluk laut yang mengerikan, seperti piranha.

Mobil sport merah itu menjauhi sebuah jalan luas yang di setiap sisinya dihiasi oleh pemandangan sebuah taman rumput. Sangat baik untuk melakukan piknik saat musim panas di taman itu. Namun, di musim gugur seperti ini, dedaunan coklat yang biasanya menempel di setiap ranting pepohonan itu berguguran dan hanya membuat sampah. Tapi, para cacing tentunya sangat menyukainya. Selain sebagai makanannya, dedaunan yang rontok itu merupakan kompos alami sebagai penyubur rumput hijau. Sasuke terus saja mengemudikan mobilnya itu dengan kecepatan penuh. Kalau sedang bad mood, saat sedang menyetir mobil di jalan yang sepi, ia terus saja bekerja pada kecepatan tinggi. Seperti biasa, Sasuke pun akhirnya sampai di gedung apartemennya. Ia keluar dari mobilnya dan berjalan lunglai. Kakek dan nenek pemilik apartemen yang menyapanya hanya dibalas dengan senyum tipis. Rupanya, Sasuke begitu letih. Belum lagi ia harus menaiki tiap anak tangga guna menggapai kamarnya sendiri.

Tepat di depan pintu kamarnya, ia sedikit melirik ke arah pintu kamar milik Sakura. Kamar bernomor 201 itu mengingatkannya akan suatu memori aneh di hari pertamanya sejak kembali dari liburannya di Amegakure. Tak perlu waktu banyak untuk memutar knop pintu kamarnya seraya membanting dirinya di sofa ruang ramu apartemennya yang empuk itu. Kepalanya sakit sekali dan ia pun tertidur...

XXxx____xxXX

"Hei, kalian dengar berita tentang kedatangan maestro Jiraiya yang terkenal itu ke kampus kita?"

"Iya! Katanya, Maestro Jiraiya-sama akan mengajar di kampus kita. SUGOI..."

"Kukira wajah seorang maestro harus menunjukkan suatu kebijaksanaan kan? Wajahnya di situ benar-benar jelek."

"Kau itu selalu berbicara tanpa kenal situasi ya."

"Maestro Jiraiya akan mengajar di kelas A. Uwahh... beruntung sekali anak-anak divisi orchestra itu."

"Hei, kalian semua juga bukan anak kelas A kan, kecuali si makhluk hijau ini. Kenapa malah heboh begitu?"

"Apa maksudmu?!"

Keributan yang terjadi tepat di sebuah majalah dinding yang tertempel rapi di salah satu dinding koridor Konoha Music University benar-benar membuat siswa-siwa yang lewat menjadi geger. Seorang siswa yang memegang stick khusus untuk pemain timpani tersenyum seraya menatap berbinar-binar ke arah sebuah kertas berornamen perak dengan huruf kapital besar yang tertulis MAESTRO JIRAIYA'S COMING! itu. Pria muda berpakaian serba hijau plus dengan syal yang juga berwarna hijau lumut masih saja meributkan akan berita dinding yang katanya sangat menakjubkan itu. Rambut bob-nya yang benar-benar lurus sudah menjadi ciri khasnya.

"Oi Lee, kau kan satu-satunya pemain timpani di angkatan kita. Beruntung sekali kau sering bermain di kelas A. Hei, bagaimana perkembangan konser akhir tahun kelas itu, eh?" tanya seorang siswa dari divisi violin yang juga merupakan teman se-bandnya Naruto, Inuzuka Kiba.

Cowok berpakaian serba hijau yang bernama Lee itu menghela napas panjang. Wajahnya menunjukkan suatu kebanggaan yang amat-luar-biasa.

"Sangat menyenangkan tentunya. Bermain di orkestra tentunya berbeda dengan bermain secara individu." jawabnya dengan nada sombong.

"Yang seperti itu kan sudah jelas! Tidak mungkin ada seorang pemain timpani bermain secara individual di depan panggung pementasan. Kau tidak usah bertanya akan hal yang sudah jelas itu, Inuzuka."

Seorang siswi dengan rambut yang dicepol dua seperti telinga panda tiba-tiba saja muncul diantara sekelompok siswa yang sedang meributkan akan big news itu. Nampak, ia sedang memunggungi sesuatu yang sangat besar, bahkan lebih besar dari badannya yang mungil itu. Ia menolakkan pinggangnya seraya mengernyitkan dahinya hingga membentuk huruf V yang sangat jelas.

"Hei, memangnya bertanya saja tidak boleh ya? Dasar cewek besar." balas Kiba seketika; membuat siswi pemain kontrabas itu semakin mengernyitkan dahinya.

"Aku bukan CEWEK BESAR! Dan jangan sebut-sebut nama itu hanya karena aku satu-satunya cewek dari divisi kontrabas!" serunya. Kiba yang mendengar seruan berukuran 100 desibel itu hanya menutup kedua lubang telinganya dengan jarinya. Wajahnya terlihat begitu lelah.

"Kalian berdua diamlah. Kita tidak boleh terlalu ribut di area belajar siswa." ujar salah satu siswa yang sedang memegang sebungkus keripik kentang dan yang paling lebar diantara mereka.

"Ck, ck, ck, Chouji, Chouji. Kalau kau terus saja mengunyah, mana bisa berat badanmu turun begitu." timpal Kiba. "Pemain horn harus punya napas yang kuat kan?"

"Malah kupikir, dengan Chouji yang mengunyah terus, napasnya akan semakin kuat. Kemudian, badannya yang besar itu akan semakin gen―" ujar salah satu siswa yang sedari tadi terus saja menampilkan senyum manis dari balik wajahnya. Namun, perkataannya tiba-tiba saja terpotong oleh Kiba yang secara spontan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Kiba seperti membisikkan sesuatu ke arah pria yang tersenyum itu dengan wajah mengerikan.

"Kata 'gendut' itu sangatlah tabu bagi Chouji!"

Pria yang terus tersenyum itu akhrinya diam. Ia kembali menampilkan senyum penuh kebohongan ke arah teman-temannya. Dan Chouji terus saja mengunyah keripik kentangnya.

"Sai... kukira, kau ada jam latihan di divisi orchestra sekarang?" tanya Ten-Ten, siswi bercepol dua dengan tas kontrabas yang terletak tepat di punggungnya.

"EH?!" sekonyong-konyong semua musisi yang ada di situ terkaget. Mereka seakan tak percaya dengan perkataan Ten-Ten tadi.

"Kenapa? Memangnya ada yang aneh dengan ucapanku?" tanya Ten-Ten dengan wajah yang bingung. Kedua alisnya mengkerut.

"ORKESTRA?! SEJAK KAPAN?! SAI..."

Siswa-siswa yang bergerombol membentuk kelompok besar tepat di depan mejalah dinding kampus itu berteriak terkaget-kaget ke arah Sai. Sai yang melihat teman-teman seangkatannya itu hanya tersenyum lebar dan tetap tersenyum. Ia tidak peduli dengan teriakan kaget teman-temannya. Yang hanya dipedulikannya sekarang ialah ternyata ia lupa dengan pengumuman yang diterimanya di malam sebelumnya. Sebuah telepon dari pihak kampus memberitakan padanya bahwa dia diminta untuk bermain di kelas A. Permainannya dalam concour beberapa bulan yang lalu ternyata memikat hati para pengajar di Konoha Music University. Bahkan, Tsunade-sama, pengajar khusus untuk divisi orchestra dan divisi vocal, yang katanya tidak menerima siswa yang mempunyai kemampuan pas-pasan, agak tertarik dengan permainan Sai.

"Oh iya, aku lupa. Maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang. Ja'." kata Sai masih dengan senyum penuh kebohongan ala dirinya. "Trims sudah mengingatkan, panda­-chan."

Ten-Ten yang merasa terusik dengan panggilan kecil yang diucapkan oleh Sai hanya bisa berdecak pinggang seraya mengernyitkan dahi. Ia masih kesal.

"Panda-chan? UAHAHA...." Kiba tertawa terpingkal-pingkal mendengar nama Ten-Ten yang aneh itu. Sai memang orang yang terlalu jujur.

Sebuah death glare yang benar-benar deathly menghujani seorang Inuzuka Kiba. Merasa tak kuat menerima tekanan luar biasa itu, Kiba akhirnya diam namun ia masih saja terkekeh-kekeh dan tertawa saat meninggalkan kerumunan teman-temannya itu. Lee yang juga tampak sudah tak tertarik dengan perbincangan itu akhirnya berjalan menjauhi mereka.

"Yah, aku juga harus latihan. Sampai jumpa."

Chouji dan Ten-Ten juga melakukan hal yang sama. Mereka pun akhirnya menghilang. Koridor yang ribut tadi menjadi tenang. Sangat hening. Terlalu hening untuk seorang Sasuke yang baru saja sampai di koridor itu. Ia hanya mendengar sepintas keributan siswa-siswa seangkatannya itu. Namun, sesuatu yang jelas ialah ia akhirnya mendapat jawaban atas segala pertanyaan yang bermunculan di kepalanya.

"Jadi dia yang bernama Maestro Jiraiya. Wajah yang aneh. Harus 'menemukan', eh?"

Sebuah seringai tipis muncul di balik wajah charming seorang Uchiha Sasuke. Tanpa membaca keseluruhan berita di majalah dinding itu, ia berlalu dan melanjutkan langkah cepatnya. Ia berjalan menuju sebuah kelas khusus yang terdapat dua buah piano di dalamnya. Saat ia melirik sedikit melalui kaca kecil yang terdapat pada pintu ruangan itu, ia tidak melihat siapapun. Kelas itu kosong.

"Dia belum datang, rupanya. Dasar."

Sasuke meletakkan scorebook-nya di atas meja piano yang akan dimainkannya. Melihat ruangan kelas yang kosong itu, Sasuke hanya terdiam sebentar. Sebuah buku bersampul tebal dengan lukisan wajah Mozart tergeletak di atas meja piano milik Sakura. Buku tebal itu seperti baru saja dibaca oleh seseorang. Pembatas bukunya hanya diletakkan sembarangan sehingga Sasuke dapat dengan mudah mendapati halaman buku yang tak sempat dibaca oleh si empunya.

"Sonata for zwei Klavier. Dibuat oleh W. A. Mozart pada abad ke-18. Sonata ini merupakan duet pertama kalinya dengan seorang wanita yang sangat dekat dengannya..."

Sasuke membaca sedikit bagian yang sangat jelas di lembaran yang terbuka. Ia mendapati chapter mengenai sejarah salah satu masterpiece Mozart yang sekarang dibacanya. Mata onyx-nya seperti berjalan-jalan menyusuri tiap baris dari literatur kuno itu. Hingga akhir paragraf, ia akhirnya menutup buku itu.

Seseorang membuka pelan knop pintu itu. Sasuke memutar kepalanya dan melihat Tazuna-sensei baru saja memasuki ruangannya bersama dengan Sakura. Seperti biasa, senyum ramah ala Tazuna-sensei mengembang ke arah Sasuke.

"Pagi sekali, Uchiha-san." ujar Tazuna-sensei seraya membuka mantel bulunya dan meletakkannya di gantungan baju.

"Dia terlambat."

"Yah... Sakura-san selalu terjebak di stasiun kereta. Tubuhnya yang mungil itu sangat mudah rapuh hanya dengan disenggol sedikit saja. Ia bahkan pernah datang ke sekolah dengan rok yang basah terkena lumpur. Katanya, dia terjatuh gara-gara ada orang gendut besar yang menyenggolnya di dekat stasiun kereta. Kasihan sekali dia itu. Tapi, semangatnya untuk belajar sangatlah tinggi." Tazuna-sensei menjelaskan alasan Sakura selalu terlambat. Namun, Sasuke tampak menyangsikan bagian di mana Sakura mudah rapuh. Anak yang suka makan itu ternyata rapuh?

"Lalu, bagaimana perkembangan latihannya?" tanya Tazuna-sensei pelan. Ia duduk di salah satu kursi dekat jendela kelas itu.

Sasuke memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan menatap Tazuna-sensei. "Sayangnya, dia masih belum bisa membaca scorebook dengan cepat. Tapi, selebihnya sudah bagus. Terkadang, ia selalu hilang ingatan."

"Hilang ingatan? Maksud Uchiha-san?" Tazuna-sensei bertanya dalam bingung.

"Seorang pianis tidak perlu menunjukkan raut wajah aneh saat bermain dengan pianonya. Dan dia― dia selalu melakukan itu."

Tazuna-sensei agak tertawa kecil mendengar kata-kata dari Sasuke. Ia kemudian menatap dalam-dalam ke arahnya.

"Dia punya masa lalu buruk dengan itu, Uchiha-san. Sakura-san itu tidak pernah berusaha untuk membenci belajar membaca scorebook dengan cepat, hanya saja saat ia mulai berkonsentrasi, ia tampak seperti patung. Ia bahkan lupa dengan apa yang harus dilakukannya. Jadi... karena itulah, aku meminta kepada para petinggi sekolah untuk menjadi guru privatnya Sakura-san. Kita tidak bisa menyalahkan orang yang punya phobia kan, Uchiha-san? Dan karena itulah, aku meminta Hatake-san agar kau mau melatihnya menghilangkan phobia­-nya itu terhadap scorebook. Bisa kan?"

Wajah Tazuna-sensei berubah menjadi sangat sendu. Tampak guratan permohonan dan kesedihan dari balik kerutan yang menghiasi wajah tuanya itu. Sasuke kemudian menutup kelopak matanya dan menghela napas pendek. Ia lalu mengeluarkan kedua tangannya dari balik saku celananya. Sepersekian detik kemudian, langkah-langkah riang Sakura terdengar. Sakura membuka knop pintu ruangan khususnya dan menampakkan wajah senangnya.

"Ohayou Gozaimasu, Sensei! Eto, Uchiha-senpai juga!"

"Ohayou, Sakura-san." balas Tazuna sensei dengan senyumnya.

Sasuke hanya ber-hn saja. Ia menatap Sakura yang riang itu dengan datar. Pipi Sakura yang merah itu rupanya memang benar-benar unik. Rambut pink-nya yang sama uniknya terlihat lebih rapi dengan bandana kuning yang selalu melekat di rambutnya. Pakaian hangat dengan rok putih yang mengembang hingga ke dengkulnya membuatnya seperti boneka barbie anak-anak. Sasuke masih menatapnya dengan kosong.

"Ano... sekarang Sakura sudah bisa membaca letak-letak tanda dinamiknya, Uchiha-senpai. Semalam, Sakura terus berlatih hingga subuh. Jadinya... Sakura terlambat datang. Gomen..." Sakura memegangi rambutnya seraya membungkuk meminta maaf pada Sasuke.

"Berita bagus. Kalau begitu, kita bisa lanjutkan latihannya." kata Sasuke yang kemudian duduk di kursi pianonya.

Sakura mengangguk. Ia mengambil scorebook-nya dari dalam tas sampingnya yang ringan. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju pianonya sendiri. Diletakkannya scorebook miliknya di meja partitur.

Tazuna-sensei menatap bangga ke arah Sakura. Ia pun melihat seberapa gigihnya usaha murid kesayangannya itu berlatih dalam menguasai sonata pertama di tahun ketiganya.

Sakura berusaha membawa melodi-melodinya beriringan dengan melodi milik Sasuke. Meskipun raut wajah yang tak bisa hilang itu terus ditampilkannya selama memainkan pianonya, Sasuke yang meliriknya membiarkan Sakura untuk terus begitu. Setelah mendengarkan penjelasan dari Tazuna-sensei mengenai masa lalu buruk Sakura, Sasuke lebih memilih untuk menuntun melodi riang Sakura menuju rangkaian simfoni air terjun. Tiap nada yang kedua pianis itu hasilkan akhirnya bersatu di sebuah danau yang sangat indah. Kemilau cahaya mentari yang mengintip ke arah mereka juga memberi kehangatan akan ruangan yang sedikit dingin itu. Jemari Sakura tampak menari-nari di atas rerumputan hijau. Sasuke yang melihatnya hanya tersenyum kecil. Ia pun berupaya untuk mengejar tarian Sakura yang lepas itu. Sebuah kepingan melodi yang pernah hilang seperti kembali di hati seorang Sasuke. Dia memainkan pianonya dengan lepas hingga di akhir ketukan.

"Bravo... Bravo..."

Suara tepukan tangan terdengar dari arah Tazuna-sensei. Sakura yang tampak begitu letih memainkan jemarinya di atas tuts pianonya memutar kepalanya dan melihat gurunya tersenyum bangga ke arahnya. Sakura sangat senang dengan latihannya yang ternyata tak sia-sia. Sasuke pun juga tersenyum tipis menatap kedua orang yang terlihat sangat riang itu.

"Permainanmu sangat bagus, Sakura-san!"

"BENARKAH ITU?!" seru Sakura tak percaya.

Tazuna-sensei hanya tersenyum lebar seraya terus menganggukkan kepalanya.

"Hanya dalam dua hari Sakura-san mampu menguasai sonata itu. Tak pernah kudengar sebelumnya ketepatan nada dan ketukan serta luapan emosi yang bersatu dengan harmonis itu. Sepertinya latihanmu dengan Uchiha-san tidak sia-sia, kan?"

Sakura mengeluarkan senyum lebarnya. Pipinya blushing saat melihat Sasuke yang agak tersenyum ke arahnya. Namun senyum tipis ala Sasuke itu cepat-cepat dihilangkannya. Sakura lalu memutar kepalanya dan memandang ke arah Tazuna-sensei.

"Uchiha-senpai berusaha mengubah permainan Sakura yang tak teratur itu. Kata Uchiha-senpai, Sakura selalu lupa di bagian melodi yang lambat. Dengan itu, Uchiha-senpai memberitahu Sakura untuk menulis tanda dinamiknya di sebelah partitur nada yang lambat supaya Sakura tahu tiap ketukannya!"

Sekali lagi Tazuna-sensei tersenyum bangga ke arah Sakura dan Sasuke. Sakura pun membalas senyum bangga dengan senyum lebar ala dirinya. Tak lama setelah itu, Sasuke lalu berdiri dari kursi pianonya sambil menutup scorebook miliknya. Sakura yang melihatnya agak mengernyitkan dahi dan bertanya.

"Uchiha-senpai, mau ke mana?" tanya Sakura agak penasaran.

"Kurasa, kita harus merayakan kesuksesan besar ini kan, Uchiha-san?" ujar Tazuna-sensei ke arah Sasuke yang baru saja memutar badannya.

"Ada hal penting yang harus saya lakukan setelah ini. Maaf, Anda bisa merayakannya tanpa saya." Sasuke menundukkan kepalanya sebelum akhirnya memutar knop pintu ruangan khusus Sakura itu.

"Uchiha-senpai! Sakura IKUT!" seru Sakura yang berusaha berdiri dari kursi pianonya.

Sasuke baru saja akan memutar knop pintu sebelum sebuah suara nyaring milik seorang pria muda berambut blondy terdengar bertalu-talu di sekitar koridor itu. Sasuke yang membuka pintu ruangan itu mengernyitkan dahinya seraya mendapati seorang Uzumaki Naruto berdiri tepat di hadapannya. Wajah Naruto penuh dengan peluh. Rupanya, ia berlari sekencang-kencangnya ke ruangan khusus Sakura itu. Dengan masih ber-hoshos ria, Naruto pun berteriak memanggil nama Sakura.

"SAKURA-CHAN! DAFTAR KELAS BARUNYA SUDAH ADA! AYO KITA LIHAT..."

Sakura membulatkan matanya dan berlari kecil ke arah pintu ruangannya itu. Sasuke yang hanya memandang Naruto dengan pandangan aneh tidak begitu tertarik dengan seruan-seruan tak jelas milik cowok blondy itu. Sasuke pun berusaha keluar dari Sakura dan Naruto yang menghalangi geraknya.

"Minggir, dobe."

"Iya, iya." jawab Naruto tak peduli. Saat ini ia tidak ingin bertengkar mulut dengan Sasuke sebab ia lebih memedulikan percakapannya dengan Sakura. Sasuke yang telah terbebas itu akhirnya bisa keluar juga.

"BENARKAH? Di mana, Naruto?" tanya Sakura berbinar-binar.

Tanpa panjang kata lagi, Naruto lalu menarik pergelangan tangan Sakura yang kecil itu. Ditarikanya Sakura dan dibawa larilah dirinya menjauh dari ruangan khususnya. Sasuke menyipitkan matanya saat ia mendengar sebuah kata dari teriakan Naruto pada Sakura yang sedikit telah menjauh dari dirinya.

"Si Tanuki-jiijii, er― maksudku, Maestro Jiraiya sudah membuatnya..."

Sasuke agak memutar kepalanya, berusaha memproses kata-kata yang sedikit didengarnya itu. Tazuna-sensei yang kebingungan dengan situasi itu pun keluar dari ruangan khusus Sakura dan melihat Sasuke yang masih berdiri mematung, berpikir.

"Ada berita seru apa di luar sana, Uchiha-san? Apa kamu tahu?"

Sasuke mengangkat kepalanya dan tersadar dari alam pikirannya. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak."

"Begitu ya? Baiklah. Selamat menjalani hari-harimu, Uchiha-san. Dan terima kasih karena sudah membantu Sakura-san." kata Tazuna-sensei dengan senyum ramahnya.

Sasuke lebih memilih untuk terus melanjutkan langkahnya. Ia hanya menjawab ungkapan terima kasih Tazuna-sensei dengan senyum tipis. Namun, sesuatu yang lain berkata dalam otaknya untuk ikut melihat euphoria di dekat papan pengumuman ruang guru itu...

KELAS KHUSUS "MAESTRO JIRAIYA"

VIOLIN: Kimihiro Watanuki, Karasuma Ichijou, Takano Akira, Watanabe Hajime, Uzumaki Naruto, Osakabe Itoko, Takigawa Yoshiki, Kririhara Natsuno, Megumi Haruna, Inuzuka Kiba, Otonashi Misa, Sato Yuuya, Harada Kimi,

Kato Kei, Kazuki Komon, Kinomoto Touya, Hitsugaya Fuuji, Mimiko

Usagi, Futaba Rentarou, Minami Itsuki, Kitahara Kenji, Masamori Kota.

VIOLA : Nara Shikamaru, Sugisaka Mizuki, Moegi Risa, Kunimitsu Fujitaka, Kiryuu Kana, Miyamoto Yuuki, Ishibori Mitsuhiko, Ninomiya Mizuo, Matsunaga Youichiro, Hiraki Shiori.

HORN : Tsubasa Andou, Hanabusa Saguru, Akimichi Chouji, Fukae Akira.

FLUTE: Mukogawa Reiko, Umeda Miko, Kuzuha Fuko, Karin.

CLARINET : Fuma Sasame, Shizuka Kanina, Kubo Shiori.

BASS CLARINET: Fujimura Takeshi.

OBOE : Shiro Naruo, Aburame Shino.

TRUMPET: Nakamura Hiro, Kikumaru Eiji, Himeya Jun.

BASON : Senjyu Ren, Akihira Takako..

PICCOLO: Nakashima Ken.

CORS ANGLAIS: Yuuichi Tate, Takayanagi Masataka.

CORNET: Fukuzawa Narita

TROMBONE: Noriko Nijyo, Shuusuke Kira, Takeshima Tsukako.

TUBA: Katsuragi Shiba.

CELLO: Ogasawara Sachiko, Tori Eriko, Tsukimori Echizen, Haruo Hana,

Mizuno Yoko, Ryousuke Keita, Shimako Toda, Hasekura Rei, Juri Ueno.

KONTRABAS: Ten-Ten, Morino Hidate, Hiroyama Kenichi, Kuran Ichiru, Hiroshi Tamaki,

Miyamoto Shinichi

TIMPANI: Rock Lee.

PIANO: Haruno Sakura.

Suara-suara teriakan dari para siswa yang mengelilingi papan pengumuman ruangan guru dan staf kampus membuat suasana bising yang memekikkan telinga. Para siswa perempuan yang merasa namanya tertera jelas di deretan nama-nama musisi yang akan mengikuti kelas khusus milik Maestro Jiraiya berteriak sekencang-kencangnya membuat suara bak sirine rumah sakit. Guru-guru yang tidak mengetahui akan pengumuman tak jelas itu kemudian mendekati sekumpulan siswa ribut itu. Seorang Tsunade yang sedang beristirahat di kursinya akhirnya turun tangan.

"DIAM!!" teriaknya dari arah ruang guru yang hanya dibatasi dengan tembok setinggi pinggul. "APA YANG SEDANG KALIAN RIBUTKAN, HAH?! KEMBALI KE KELAS KALIAN MASING-MASING!"

Kemudian, keributan yang benar-benar membisingkan itu hilang seketika. Hening sesaat sebelum Naruto datang dari arah sebaliknya bersama dengan Sakura. Langkah ribut Naruto memecah keheningan sesaat itu. Keributan kembali terjadi.

"KORE... KORE MITTE..." seru Naruto berusaha menerobos kumpulan siswa yang menghalangi pandangannya. "UOOO... si Tanuki-jiijii benar-benar memasukkan namaku dan namamu, Sakura-chan!"

Sakura tampaknya tak bisa menerobos dari kumpulan manusia-manusia itu. Ia hanya menunggu di luar sambil memajukan bibirnya. Dahinya mengkerut dan terus bertanya-tanya. Ia pun berusaha memanggil Naruto tapi tak didengarnya.

Urat-urat halus terlihat di dahi milik Tsunade yang tak ditutupi dengan poni itu. Ia hanya berdecak pinggang membuat guru-guru lain yang berdiri di belakangnya ketakutan. Meskipun diteriaki beberapa kali pun, kerumunan anak-anak itu tetap saja mengeluarkan suara-suara keras hingga akhirnya suara-suara itu terdengar di telinga Profesor Sarutobi.

"Ada apa ini, Tsunade?" tanya Profesor Sarutobi yang baru saja datang ke ruangan guru itu. Seorang pria berjas hitam plus dengan kaca hitam mengikutinya dari belakang, bak seorang bodyguard. "Hayate, kau pergilah dan siapkan mobil di luar."

Pria yang bernama Hayate itu mengangguk mengerti dan seketika berjalan menjauh dari Profesor Sarutobi. Tsunade yang tampak begitu stres akhirnya menceritakan seluruh euphoria yang tiba-tiba terjadi di papan pengumuman itu pada kakek yang penuh wibawa itu.

"Biarkan saja anak-anak itu, Tsunade." ujar Profesor Sarutobi dengan tenang. Senyum ramah yang muncul dari wajahnya yang telah dipenuhi dengan keriput itu mengembang.

"Ke-kenapa?" tanya Tsunade seraya agak melunakkan kerutan di dahinya dan menurunkan tangannya dari kedua pinggulnya. "Kita tidak bisa membiarkan keributan ini, Profesor."

"Tak apa, tak apa. Hal ini sudah kulegalkan. Kau tahu tidak, dia sudah kembali dari perjalanan jauhnya. Dan sebagai imbalan atas permintaanku, dia akan membentuk kelas baru. Kalau tidak salah, nama kelasnya itu..."

"Watashi no OKE. Atau kita bisa menyebutnya dengan S-OKE."

Seorang pria tua berusia kurang lebih lima puluh tahunan itu tiba-tiba saja muncul dari arah belakang Profesor Sarutobi dan Tsunade. Guru-guru lain yang menatap pria tua itu hanya membulatkan mata seraya terkejut kagum. Mereka semua tak menyangka bahwa hari itu mereka akan melihat sosok seorang maestro dunia secara langsung. Seorang Jiraiya baru saja tiba diantara kerumunan musisi-musisi itu. Rambut putih khas miliknya membuat Tsunade hanya melebarkan matanya dan terkaget.

"KAU― Kau―"

"Hai Tsunade. Long time no see, ne? Kau semakin cantik saja tapi semakin tua juga, khe khe..." kekeh Jiraiya seraya membuka topi koboi yang selalu dikenakannya. "Dan― apa kabarmu, kakek tua, ­er― maksudku, Sarutobi-jii."

"Ya, ya, aku baik-baik saja, anak bodoh. Sekarang kau puas kan?" jawab Profesor Sarutobi sambil meletakkan kedua tangannya di belakang. "Setelah ini, bagaimana caramu mengurus kedua kelas itu, hah?"

Jiraiya masih terkekeh. Senyum tua ala dirinya mengembang hingga ia memamerkan gigi-giginya yang putih dan berkilau itu.

"Maka dari itu, aku butuh bantuan salah satu siswa di kampus ini, kurasa. Apa Sarutobi-jii tahu kira-kira diantara bocah ingusan itu, siapa yang bisa memimpin kelasku." ujarnya sambil menggaruk-garuk belakang rambutnya yang putih.

"Kenal seseorang dari keluarga Uchiha?" tanya Profesor Sarutobi dengan wajah bijak. Dikeluarkannya selembar foto dari balik saku jasnya. Foto itu disodorkan ke arah Jiraiya.

"OHO... adiknya si Uchiha yang itu ya! Ya, ya, keluarga pemusik yang benar-benar hebat. Tak pernah kudengar kabar si kakak sejak konser terakhir beberapa tahun yang lalu. Apa anak ingusan ini sama hebatnya dengan kakaknya itu, heh?" Jiraiya memandangi foto Sasuke yang sedang bermain piano. Wajah Sasuke di foto itu begitu datar tapi sangat serius.

Profesor Sarutobi mengangkat bahunya. "Jangan samakan seseorang dengan sosok yang sangat dekat dengan dirinya, Jiraiya. Aku sudah pernah memberitahukan hal itu padamu. Lihatlah Tsunade, karena tak punya beban pikiran, dia masih saja menikmati hidupnya, berbeda denganmu yang suka berpindah-pindah."

Jiraiya menatap Tsunade yang masih terkejut dengan kedatangan dirinya. Kekehan lebar ala Jiraiya pun membuyarkan lamunan Tsunade. Setelah sadar, Tsunade yang merasa terus saja ditatap oleh Jiraiya akhirnya kembali pada posisi awalnya. Kedua tangannya diletakkan di pinggulnya dan dahinya mengkerut.

"Oleh karena itu, she's still single, jiijii..."

Jiraiya yang tak tahan lagi mendengar seruan-seruan dari pada siswa akhirnya meminta perhatian mereka. Seketika, muncul keheningan. Naruto yang mendengar suara teriakan dari seseorang yang dikenalnya pun membalas teriakan itu sama hebohnya.

"HOO... TANUKI-JIIJII...SEDANG APA DI SINI?"

Jiraiya yang merasa agak kesal dengan panggilan Naruto itu hanya mengernyit kecil seraya menatap ke arah Naruto yang hanya terkekeh riang. Setelah suasana di sekitarnya lebih tenang, Jiraiya berdehem keras.

"EHEM! Kurasa tak perlu memperkenalkan diri sebab semua yang di sini pasti tahu kan siapa pria terganteng ini―"

Naruto menjulurkan lidahnya, tanda tak setuju.

"―yah... tentunya berita tentang kelas baru yang kubentuk itu benar-benar bagus kan? Tapi sayangnya, maestro yang ganteng nan baik hati ini tidak bisa mengasuh kelas baru itu setiap hari karena sebenarnya kelas yang harus kuurus adalah kelas A orkestra."

Tampak guratan kekecawaan dari para siswa itu. Mereka ber-ah dan mengeluarkan kalimat-kalimat kecewa. Namun, Jiraiya menenangkan keributan itu lagi.

"Ya, ya, ya, aku tahu kalian semua pasti kecewa. OLEH KARENA ITULAH... aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian semua!"

Kerumunan siswa yang menutupi jalur jalan di koridor ruangan guru itu membuat Jiraiya sedikit memicingkan matanya tatkala rambut hitam mencolok dengan gaya stay cool yang mirip dengan seseorang yang pernah dikenalnya muncul. Sosok berambut hitam itu hanya terdiam tanpa mau mengikuti euphoria dari siswa-siswa yang menurutnya kurang kerjaan itu. Jiraiya kemudian mengacungkan telunjuknya menunjuk sosok itu.

"KAU YANG DI SANA!"

Siswa-siswa itu saling bertukar pandang, bertanya-tanya siapa yang dimaksud oleh Jiraiya. Ketika sadar dengan sosok yang ditunjuk, siswa-siswa itu termasuk Naruto dan Sakura melihat ke belakang mereka. Seorang Uchiha Sasuke baru saja bergabung dalam keributan itu.

"UCHIHA SASUKE, iya kan?"

Sasuke memicingkan matanya. Mata onyx-nya yang sedingin es itu menatap pria yang harus ditemukannya. Namun, pada akhirnya mereka saling bertemu. Tapi, kalau saja Sasuke tidak ikut dalam kerumunan itu, mereka tidak akan saling bertemu dan Sasuke tidak bisa menemukan Maestro Jiraiya.

"DENGAN BANGGA KUUMUMKAN BAHWA UCHIHA SASUKE YANG AKAN MENJADI ASISTENKU! Atau lebih tepatnya menggantikanku di depan para pemain ansambel kelas S-OKE, eh."

Semua orang yang ada di koridor itu, bahkan para guru pun terkejut akan perkataan Jiraiya itu. Sasuke yang mendengarnya terlihat begitu tenang. Wajahnya masih saja datar seperti biasa. Rupanya, ia sudah tahu dengan semua hal itu. Pertama, surat dari Kakashi, kedua, panggilan ke ruangan Profesor Sarutobi dan ketiga, kertas pengumuman di majalah dinding itu...

"ARYAA... UCHIHA-SENPAI? Asisten konduktor? SUGOI..." seru Sakura tiba-tiba

"KYAA... SASUKE-SAMA! SASUKE-SAMA AKAN MEMIMPIN KELAS S-OKE!"

"UNTUNG SAJA NAMAKU ADA DIANTARA PARA PEMAIN KELAS S-OKE! KYAA... SENANGNYA!"

Sasuke memutar-mutar kepalanya; melihat siswi-siswi KMU yang berteriak-teriak tak jelas dan memanggil-manggil namanya. Siswi-siswi itu pun akhirnya berlalu dan berusaha mendekati Sasuke. Sasuke yang hanya mengernyitkan dahinya berusaha menghindar, akhirnya tertolong dengan seruan dari Jiraiya.

"Nah... kita bisa memulai kelas baru ini minggu depan! JA'-NE... " ujar Jiraiya seketika, menghilang dari tempatnya berdiri.

"Jadi ini ya rencana Kakashi dan kakek tua itu?" umpat Sasuke dalam hatinya sambil mendengar teriakan-teriakan memusingkan dari siswa perempuan itu.

Sakura yang merasa agak cemburu (?) hanya menggembungkan pipinya saat melihat Sasuke yang dikelilingi oleh gadis-gadis dari berbagai divisi itu. Tiba-tiba saja, langkah raksasa Sakura terdengar di koridor dan membuat siswi-siswi itu berhenti berteriak-teriak. Saat keheningan terjadi, Sakura pun berjalan bak wanita perkasa ke arah Sasuke. Sasuke yang menatap Sakura dengan kerutan di dahinya hanya bertanya-tanya dalam hati.

"UCHIHA-SENPAI― AYO LARI..."

Sakura menggamit lengan Sasuke dan membawa lari dirinya menjauhi kerumunan siswi-siswi tak jelas itu. Naruto yang melihat Sakura berlari akhirnya berusaha keluar dari jebakan manusia itu dan ikut berlari mengejar Sakura yang sedang membawa lari Sasuke.

"SAKURA-CHAN... KAU MAU KE MANA?"

Sakura yang telah berlari agak jauh dari siswi-siswi yang ternyata juga berusaha mengejar Sasuke menengok ke belakang dan melihat Naruto yang berlari ke arahnya.

"MENYELAMATKAN UCHIHA-SENPAI DARI PARA MONSTER ITU!" jawab Sakura riang.

"OI... lepaskan tanganmu, henna onna!!" seru Sasuke berusaha melepaskan tarikan Sakura.

"SAKURA-CHAN... MATTE..."

Ketiga musisi muda itu berlari dengan riang. Mereka berlari entah ke mana, yang jelas bisa terbebas dari kerumunan siswi dan siswa yang sangat menyesakkan itu. Sakura terus saja tertawa lepas dan berlari bak kupu-kupu yang terbang bebas di atas hamparan bunga di padang ilalang. Naruto pun melakukan hal yang sama. Tawa riangnya bak angin musim semi itu terlihat begitu lepas. Sasuke yang akhirnya menerima saja perlakuan Sakura itu terus berlari juga. Peluh karena lelah bukan masalah asalkan mereka bisa menggapai pelangi melodi di awan putih itu...

"YOSHAAAA...."

TSUDZUKU

KAMUS :

Baton: stick yang selalu digunakan konduktor orkestra.

Shield: tameng

Cloroform : sejenis gabus

Kore mitte : lihat!

Tanuki-jiijii : paman tupai

Henna onna : cewek aneh

Matte : tunggu!

Oh tidak! Satu lagi chapter yang super-puanjang ini! Maaf-maaf-maaf. Kalau nulis biasa lupa sampai keasyikan nggak lihat panjangnya nih cerita. Maaf-maaf-maaf.

For information saja, nama-nama di kelas S-OKEnya Jiraiya itu bukan hyapasento bikinan saya tapi lihat di salah satu majalah anime kepunyaan saya.

Eh, temen-temen kelas S-OKE akhirnya muncul juga! Sasuke emang nggak kenal yang namanya Maestro Jiraiya sebelumnya. And, ada yang bisa nebak nggak, Sai bawa alat musik apa? Hayo, apa?

Great thanks ditujukan bagi yang sudah mereview. Saya sangat bahagia saat melihat penulis-penulis yang nge-review cerita saya ini. Doumo Arigatou Gozaimasu! Review tambahan masih diharapkan tapi kalau tidak ada ya, tidak apa-apa. Tapi, lebih bagus kalau dikasih review sih, khe khe khe...

Eto... buat Furukara-Kyu, makasih banget atas waktunya yang sudah baca cerita ini dari awal, (senyum tersipu-sipu) trus, buat hiryuka nishimori, ehe... makasih juga (sambil garuk-garuk kepala). Trus, kakkoi-chan, iya deh, aku doain kamu supaya bisa ke Nihon. Ganba nee. And, kawaii-haruna, makasih juga sudah ngereview my first fanfic yang tak jelas ini.

Sasuke lama kelamaan bakalan jatuh hati (?) pada Sakura kok meskipun Sakura-nya kayak anak-anak gitu. Plus, karakter Itachi sebagai kakak Sasuke juga akan saya munculkan. Dan, oh ya, Sakura itu memang punya masa lalu yang buruk banget tentang scorebook. Mau tahu apa? Apakah Sasuke bakal bisa hilangin masa lalunya Sakura itu? Gimana perkembangan S-OKE? KEEP READING GUYS...

~Arigato Gozaimashita~

Emi Yoshikuni