Oretachi no Symphony

A Naruto Fanfiction

--

Oretachi no Symphony © Emi Yoshikuni
Naruto © Kishimoto Masashi

--

Kushina Hero1ne proudly presents

"Ichiban no Monogatari" called Oretachi no Symphony.

LESSON 7 : TELL ME YOUR SECRET...

Kupu-kupu, belalang sembah, dan kabuto mushi. Ketiga serangga khas musim panas itu terbang di antara rerumputan hijau yang tertata rapi. Kupu-kupu cantik terbang diantara semak-semak yang tinggi dengan sayap yang berwarna merah muda, jingga, dan hitam yang menghiasi tubuhnya itu. Sayapnya yang lebar tak takut dengan kerasnya tiupan angin di musim panas. Begitu pula dengan belalang sembah hijau yang bertubuh kurus tapi cekatan itu. Tubuhnya yang panjang dan hijau sangat lekat dengan kecepatannya dalam hal melebarkan sayap dibanding dengan serangga apapun. Ia berada di garis yang paling depan, seperti tentara frontline yang siap menerima serangan dari musuh. Sedangkan, kabuto mushi terlihat sangat perhatian. Dengan sayap lebarnya hitam pekat, ia memandangi kedua serangga yang telah terbang jauh di depannya; mengawasi kalau-kalau ada serangga lain di belakang mereka yang siap menerkam. Ketiga serangga itu terbang jauh, jauh, jauh sekali hingga letih datang kepada mereka.

Di sebuah taman tersembunyi di area belakang kampus, terdapat air mancur kecil yang airnya bergemiricik dan mampu menyegarkan pikiran yang sedang kalut. Seorang pria muda bernama Naruto menengadah dan memandang langit yang begitu biru. Ia pun membanting badannya yang kecil nan cekatan ke taman rumput teki itu. Peluh sehabis berlari jauh dari gedung utama hingga ke area taman belakang kampus membuatnya tak tahan lagi untuk berkeringat. Sakura pun berdiri seraya membungkukkan badan dan memegangi kedua dengkulnya. Keringatnya berjatuhan di pelipisnya dan disekanya dengan punggung tangannya. Sasuke hanya duduk diam di taman itu sambil mengambil napas panjang. Rambutnya yang hitam legam tampak bersinar tatkala sinar mentari tiba-tiba kembali keluar dari awan putih itu.

"Mukyaa... akhirnya kita selamat dari para monster itu!" seru Sakura sambil mengepalkan kedua tangannya, seperti siap meninju siapapun.

"Mereka itu bukan monster, Sakura-chan. Tapi, gargoyle yang suka menerkam anak-anak..."

Suara Naruto tampak dimain-mainkan bak suara nenek sihir. Ia lalu bangkit dari posisinya dan berdiri tegap; mengejar Sakura dari belakang. Kedua musisi muda yang semangat itu berlari-lari lagi saling kejar-kejaran di sekitar air mancur itu. Tak tahan terus dikejar, Sakura akhirnya mengambil segenggam air di pelataran air mancur itu dan dikibaskannya ke arah Naruto. Naruto pun hanya tertawa-tawa riang, begitu pula dengan Sakura.

Sasuke yang telah tenang kemudian memicingkan matanya; melihat kelakuan kedua anak manusia yang dianggapnya terlalu riang itu. Wajahnya yang tenang sudah tak mampu mengeluarkan gurat-gurat kemarahan dan kebencian lagi. Ia terlalu letih untuk itu.

"UCHIHA-SENPAI!!" panggil Sakura sambil melambaikan tangannya ke arah Sasuke yang hanya bisa menundukkan wajahnya guna membetulkan napasnya yang hilang.

"Oi teme... kenapa duduk di situ saja?! Kau lelah sampai sebegitunya ya? Kau harus banyak olahraga! Jangan hanya memakai otakmu terus..."

Sasuke mengangkat kepalanya sedikit, matanya pun disipitkan karena sinar mentari yang terlalu silau membuat pandangannya mengabur. Ia melihat sedikit ke arah teriakan-teriakan itu.

"Dasar berisik, usuratonkachi!" serunya, berusaha berdiri dari posisinya. Sakura yang melihat Sasuke kesusahan berdiri kemudian berlari kecil ke arahnya. Wajah Sakura menampilkan raut kekhawatiran.

"Uchiha-senpai, daijobu?" tanyanya seraya memberi tangannya ke Sasuke.

"Hn." jawabnya; menampik tangan Sakura. "Dasar kau ini, selalu saja membawa lari seseorang secara tiba-tiba."

Sakura hanya nyengir dan terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Rambut pink cerahnya itu membuat mentari tersenyum dan tertarik sehingga ia memberi sedikit sinarnya pada rambutnya itu. Sasuke dapat melihat dengan jelas kedua pipi Sakura yang merah nan cerah itu. Entah kenapa, ada sesuatu yang aneh menggeliat-geliat di perutnya. Is there something wrong with me? batinnya bertanya sambil memegangi perutnya.

"Apa perut Uchiha-senpai sakit?" tanya Sakura lagi.

"Bah... itu sih karena otot perutnya yang mengalami ketegangan. Tak pernah olahraga ya kau?" tiba-tiba saja Naruto telah muncul tepat di belakang Sakura sambil berdecak pinggang. Wajah tak sukanya ditampilkan hanya untuk Sasuke. Mata onyx Sasuke pun memandang penuh ketidaksukaan ke arah Naruto.

"Bukan urusanmu." jawab Sasuke seadanya.

"Ya, ya, ya, bukan urusanku. Tapi... kita memang lari cukup jauh dari kumpulan cewek-cewek itu ya?" Naruto sedikit meregangkan kedua tangannya dengan mengangkatnya tinggi ke atas. Hembusan angin hangat menerpa rambut pirang jabriknya bak rerumputan hijau yang melambai-lambai.

Suara teriakan-teriakan dari para gadis di koridor ruang guru beberapa waktu yang lalu sudah tidak terlalu bising lagi. Meskipun terdengar samar-samar, yang jelas kumpulas gadis-gadis itu tak tahu letak sosok pujaan mereka, Uchiha Sasuke. Rupanya, strategi Sakura yang menarik paksa Sasuke dan berlari hingga jauh tak terhingga ini sukses besar. Hanya saja, raut tak suka diperlakukan seperti itu nampak jelas di balik wajah charming-nya.

"Sudah cukup. Aku harus kembali ke gedung utama."

Sasuke membalikkan kepalanya dari Sakura dan Naruto. Ia ingn secepatnya kembali ke kelasnya dan membicarakan mengenai berita mengejutkan yang didengarnya tadi dengan Kakashi. Ia masih butuh sedikit penjelasan.

"Tak ada kata terima kasih atau sebagainya. Semestinya, kau diajarkan cara berterima kasih kepada seseorang yang sudah menolongmu kan?" ujar Naruto dengan kening yang bertautan. "Sakura-chan jadi harus lari-lari sejauh ini untuk menolongmu, begitu pula aku."

Sasuke menghentikan langkahnya, tak melihat ke arah Sakura dan Naruto. "Tak ada yang menyuruhmu ikut lari juga, dobe." ujarnya sadis seraya memasukkan kedua tangannya dalam saku celana panjangnya. Semilir angin sedikit berhembus dan menerpa pula rambut kehitaman Sasuke. Ia seakan tak peduli dengan pertolongan Sakura.

Sakura yang tak suka dengan pertengkaran kecil antara Sasuke dan Naruto kemudian menengahi mereka. Ia lalu berlari kecil ke arah Sasuke.

"Ano.... kita memang harus meminta penjelasan dari Maestro Jiraiya kan? Ah ya, dan juga..." Sakura agak memegangi dagunya dan berpikir sejenak. Ia berusaha mengingat sesuatu. Karena kelamaan bicara, Sasuke pun berjalan menjauhi mereka.

"AH... kelas baru itu akan dimulai minggu depan kan, Naruto?"

Naruto mengangguk kecil, menatap Sakura yang masih berpikir. "Itu artinya, Naruto tidak bisa masuk kelas itu kalau belum ujian! Na, na, latihan Sakura dengan Uchiha-senpai sudah selesai. Jadi sekarang, kita bisa memulai lagi latihan kita yang tertunda itu!!" seru Sakura dengan senyum lebarnya. Naruto terkejut dengan perkataan Sakura itu. Ia hampir saja lupa dengan misi utamanya akhir-akhir ini.

Mendengar seruan Sakura mengenai ujian gagal Naruto itu. Sasuke yang sudah agak jauh dari mereka menghentikan langkahnya lagi. Masih dengan gaya stay cool-nya ia kemudian melanjutkan langkahnya yang cepat.

Naruto hanya memperlihatkan wajah tak sukanya saat melihat Sasuke berjalan menjauhi mereka berdua tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, seperti trims atau lebih bagus lagi makasih sudah membantu. Kedua tangannya disilangkan di depan dadanya dan bibirnya dimanyunkan.

"Tak usah sebegitu marahnya dengan Uchiha-senpai, Naruto. Uchiha-senpai memang seperti itu. Demo... Sakura yakin suatu saat nanti Uchiha-senpai akan membuka hatinya dan bicara dengan orang banyak." kata Sakura sambil menatap punggung Sasuke yang mulai menghilang dari pandangannya. Senyum manisnya terukir dari balik wajahnya plus dengan pipi yang kemerahan.

Melihat Sasuke yang terus saja berjalan tanpa melihat ke sekelilingnya, Sakura kemudian menyerukan sesuatu ke arahnya. Ia melambaikan tangannya dan berteriak. "UCHIHA-SENPAI... BERHATI-HATILAH DENGAN MONSTER-MONSTER ITU!"

"Dia tidak akan mendengarnya, Sakura-chan. Hhhh... sampai kapan dia mau bersikap acuh tak acuh begitu?"

Sakura memajukan bibirnya saat mendengar komentar Naruto terhadap Sasuke. Ia lalu meletakkan kedua tangannya di pinggulnya dan mengernyit.

"Bukannya yang bersikap acuh tak acuh adalah kamu, Naruto?"

"Eh?"

"Lupa dengan latihanmu." ujar Sakura melanjutkan kalimatnya yang tertunda. Naruto yang mendengarnya hanya menampilkan cengiran lebarnya dan senyum terkekeh-kekeh. "OH IYA! Bukannya Uchiha-senpai yang dipilih oleh Maestro Jiraiya sebagai asistennya ya?"

Sakura dan Naruto terkejut seketika. Mereka yang terdiam dalam hening akhirnya memutuskan untuk berlari lagi kembali ke gedung utama. Dengan langkah lebar dan cepat, Naruto dan Sakura berlari terus meskipun kaki mereka seperti daging ham yang baru saja diangkat dari penggorengan. Mereka tidak memperhatikan sekeliling mereka. Orang-orang yang menghalangi jalan mereka pun tak jadi masalah. Pelarian panjang itu akhirnya berakhir di sebuah ruangan khusus dengan sebuah piano dan berbagai bentuk viola dan violin yang berjejer di sekitar lemari penyimpanan. Ruangan Naruto tampak sepi. Tapi, bukan berarti semangat kedua anak manusia itu semakin meredup. Dengan penuh kepercayaan tinggi, baik Sakura maupun Naruto memulai lagi latihan mereka yang tertunda hingga mentari bergeser dari garis lengkungnya...

XXxx____xxXX

"Sudah mau pulang, Sasuke?" tanya Kakashi yang baru saja memakai mantel panjangnya yang berwarna coklat hangat. Ia melihat Sasuke yang sedang menutup pelindung tuts piano di ruangan khususnya yang luasnya dua kali luas ruangan khusus milik Sakura.

Sasuke mengangguk seraya mengangkat badannya lebih tegap. Wajahnya terlihat sangat lelah. Latihan sehari penuh setelah insiden kerjar-kejaran itu ternyata menyita banyak energinya. Ia bahkan belum makan siang padahal waktu sudah menunjukkan makan malam. Pukul enam di sore itu terlihat begitu kelam saat burung-burung gagak berkaok-kaok pulang ke sarangnya.

"Kau masih marah padaku soal asisten Maestro Jiraiya itu?" ujar Kakashi dengan tatapan khasnya, mata mengantuk seperti biasa. "Mungkin saja dengan menjadi asisten beliau, impian kecilmu itu bisa sedikit terwujud, eh."

Sasuke hanya mengeluarkan tatapan dinginnya ke arah pengasuhnya itu. Kakashi yang melihatnya hanya menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. Sasuke tidak ingin mengomentari masalah itu sekarang. Ia lebih memilih berkomentar dalam diam seraya menggulung kedua lengan sweater biru tua yang menjadi pelapis kemeja putihnya, menghangatkannya dari dinginnya udara musim gugur.

Kakashi membuka pintu ruangan khusus Sasuke dan keluar. Sasuke pun mengikutinya dari belakang.

"Setelah ini kau langsung mau pulang?" tanya Kakashi tepat di depan elevator sambil merogoh sesuatu dari balik tas kantor bututnya. Sebuah buku bersampul jingga dengan gambar lingkaran bergaris miring di tengahnya dibukanya sedikit demi sedikit.

"Masih membaca buku hentai itu, rupanya kau." komen Sasuke dengan wajah datar.

Kakashi hanya terkekeh. "Kau juga mau baca? Oh iya, sekarang kau sudah dewasa kan. Berapa umurmu sekarang? Mm, 20 tahun? Atau 30 tahun?"

"21 di tahun ini." jawab Sasuke dengan sedikit keras; membuat Kakashi bergidik ngeri.

"Ah iya. Aku sampai lupa padahal baru sebulan yang lalu kau berulang tahun. Kalau tidak salah, pacarmu itu, siapa lagi namanya? Oh iya, gadis Hyuuga yang manis itu memberimu kue tart yang besar sekali ya? Ya, ya, aku masih ingat waktu itu. Kejadian yang lucu sekali..."

Kakashi terus saja berceloteh tanpa henti membuat Sasuke kehilangan kesabarannya. Ia tidak peduli dengan kenangan manis, atau apalah, yang berhubungan dengan ulang tahunnya tepat di tanggal 23 Juli yang lalu. Merasa tidak tahan dengan celotehan Kakashi, Sasuke lalu memencet salah satu tombol berbentuk tanda panah ke bawah di dinding elevator itu. Sepersekian detik kemudian, pintu elevator itu terbuka. Kosong dan tak ada siapapun di dalamnya. Sasuke dan Kakashi masuk dalam diam.

"Boleh ku tahu perkembangan latihanmu dengan gadis kesayangan Tazuna-sensei?" tanya Kakashi tanpa melihat ke arah Sasuke. Kedua matanya bergerak-gerak, mengamati tiap huruf dan baris dalam buku yang sedang dibacanya.

Sasuke meregangkan lehernya yang kaku sambil menutup kedua kelopak matanya. Badannya terasa agak sakit. Rupanya apa yang dikatakan oleh Naruto pagi tadi memang benar. Sudah beberapa hari ini, ia lupa mengunjungi lapangan squash dekat kediaman utama keluarga Hinata karena latihannya dengan Sakura. Biasanya, ia selalu menghabiskan waktunya untuk berolahraga di lapangan itu. Melempari bola tenis di dinding dengan raket berat hingga peluh datang kepadanya.

"Dia sudah berhasil menyelesaikan Sonata for zwei Klavier itu dengan baik. Dia punya permainan jari yang unik."

Kakashi sedikit mengangkat kepalanya saat mendengar kata unik dari mulut Sasuke. Ia agak tertarik dengan pembicaraan tak penting itu.

"Unik, eh?"

"Tertarik untuk melihat permainan cewek aneh itu?" seringai kecil muncul di balik senyum kecil Sasuke.

Bunyi elevator terdengar seketika, membuat percakapan antara Kakashi dan Sasuke sedikit terinterupsi. Entah kenapa, Sasuke biasanya lebih memilih turun ke lantai dasar dengan menggunakan tangga gedung tapi untuk kali ini ia ingin menaiki elevator saja, mengingat badannya yang sedikit kaku sehabis berlarian dengan Sakura dan Naruto pagi itu.

Kedua murid dan guru itu keluar dari elevator sekolah. Sesampainya di lantai dasar, Kakashi lalu berjalan kecil menuju pintu keluar kampus dengan Sasuke yang juga mengikutinya dari belakang. Pertanyaan Sasuke di elevator tadi belum dijawabnya.

"Jadi, itulah mengapa Maestro Jiraiya memasukkan nama gadis itu ke dalam kelas spesialnya ya? Padahal piano sangatlah jarang dimainkan dalam orkestra. Itu sama saja dengan memasukkannya dalam sangkar besi."

"Kau belum tahu dia." jawab Sasuke seketika.

"Kau juga kan?" balas Kakashi sama dinginnya. "Hh, apapun yang Sarutobi-sama berikan padamu, kau terima saja. Menjadi asisten konduktor pun adalah salah satu permintaannya. Tapi... satu hal yang harus kau ingat, Sasuke―"

Sasuke baru saja akan berjalan menuruni undakan kecil di halaman kampusnya yang luas. Tapi, langkahnya itu terhenti oleh ucapan Kakashi. Ia memutar sedikiit kepalanya, mendengar dengan baik perkataan Kakashi.

"―semua ini bukan keputusan sepihak dari kami, pihak sekolah melainkan keputusan bersama antara aku, Sarutobi-sama, Maestro Jiraiya, dan ayahmu. Jangan bilang kalau kau masih musuhan sama ayahmu itu ya?"

Mendengar nama ayahnya, entah kenapa perasaan Sasuke tidak enak. Ia sudah lama tidak berkomunikasi dengan ayahnya sejak tahun pertamanya di Konoha Music University. Ada suatu masalah antara dirinya dengan sosok seorang ayah yang dulu sangat dibanggakannya. Masalah itu tentu saja berhubungan dengan masa depannya sebagai seorang musisi profesional.

"Bukan urusanmu, Kakashi." lanjutnya seraya berjalan cepat menjauhi Kakashi.

"Oi... kenapa kau selalu marah setiap kali kita bertemu untuk pulang?"

Sasuke melangkahkan kakinya yang lebar itu dengan cepat, berusaha untuk tidak mendengarkan segala perkataan Kakashi yang menurutnya selalu saja berusaha untuk menasehatinya. Namun, langkah cepatnya itu tiba-tiba terhenti ketika sebuah suara dentingan piano samar-samar menelitik pendengaran Sasuke yang tajam itu. Ia terhenti dan membalikkan badannya; melihat ke atas gedung kampusnya. Sebuah ruangan yang masih disinari dengan cahaya lampu merupakan asal dari suara piano itu.

"Spring?" kata Kakashi membuyarkan lamunan Sasuke. "Pianonya lumayan bagus tapi biolanya terlalu cepat."

"Hei, menurutmu apakah suara biola itu terlalu kaku, Kakashi?" tanya Sasuke tiba-tiba tanpa melihat ke arah Kakashi yang berdiri di sebelahnya.

Kakashi memegangi dagunya seraya berusaha mendengarkan dengan baik suara biola yang muncul dari ruangan yang masih bercahaya itu. Ia menganalisis komposisi permainan biolanya.

"Ya. Ketukannya terlalu cepat. Sepertinya, si pemain biola hanya memperhatikan tiap notasinya tanpa mendengarkan si piano. Berapa kalipun dicoba kalau si pemain biola tetap seperti ini, harmonisasi Spring tidak akan muncul. Memangnya kenapa, tiba-tiba kau bertanya soal permainan orang lain? Biasanya kau hanya mengejek dan mencela." ujar Kakashi datar. Sasuke nampak tidak terlalu memperhatikan perkataan Kakashi itu. Ia lalu berjalan lagi menuju lapangan parkir dan meninggalkan Kakashi.

XXxx____xxXX

Sore yang dalam seketika berubah menjadi malam tidak membuat seorang Sasuke lelah untuk belajar. Meskipun badannya sedikit sakit, ia terlalu penasaran dengan hal yang terus saja berputar-putar di kepalanya. Ia baru saja selesai dari rutinitas hariannya di petang hari, mandi dan mencuci rambut kemudian memasak makan malamnya sendiri. Ia meletakkan sepiring brocoli lettuce dengan kerang berbumbu ala France di atas meja ruang tengahnya. Masih saja terbayang akan suara piano dan biola yang tak bersatu itu. Ia berusaha untuk merelaksasi dirinya dan menyendok kudapan malamnya yang sehat namun pikiran tak berujung itu masih melayang-layang di kepalanya.

"Hah... kalau begini terus, yang akan mati adalah aku."

Sasuke berdiri pelan dan berjalan ke arah salah satu rak buku yang berdiri kokoh di ruangan bacanya. Diambilnya sebuah buku diantara tumpukan buku-buku yang tertata sangat rapi itu. Buku yang diambilnya memang sedikit usang tapi saat dibuka tiap lembarannya, buku itu berisi partitur nada dengan coretan-coretan pena di sekitarnya. Coretan seorang Sasuke sebagai mahasiswa sekolah musik di tahun pertamanya.

"Spring..."

Tiap halaman dalam buku bersampul biru muda itu dibuka secara perlahan oleh Sasuke sambil berjalan pelan ke arah sofa empuknya. Ia baru saja akan duduk di atas sofa itu saat sebuah suara bel terdengar, membuyarkan konsentrasi Sasuke.

"Siapa malam-malam begini?"

Sasuke membuka knop pintu apartemennya. Tanpa melihat terlebih dahulu orang yang memencet belnya, tanpa prasangka apapun, Sasuke membuka pintu itu dan melihat rambut pink muncul tiba-tiba di bawah hidungnya.

"Uchiha-senpai..." Sakura terdengar begitu sengsara. Terlihat, ia hanya membawa sebuah kaus dan celana tidur dengan sikat gigi. Sebuah air mata kecil keluar di sela-sela matanya yang berwarna hijau emerald itu.

"Apa, hah? Jangan bilang kalau gas dan air di apartemenmu masih belum diperbaiki oleh petugas apartemen. Dan, jangan bilang kalau kau belum mandi."

Sakura mengangguk pelan. Tak tahan dengan keadaan Sakura yang menyedihkan itu, Sasuke akhirnya menarik pergelangan tangan Sakura menuju ke dalam apartemennya. Sasuke benar-benar tidak memperhatikan sekelilingnya bahkan di luar koridor apartemennya padahal sepasang mata lavender baru saja tiba di ujung tangga itu. Sosok bak seorang dewi dengan mata lavender indah itu membawa sekeranjang buah yang dibungkus rapi dengan pita dan bunga. Saat dilihatnya suasana di kamar bernomor 202 itu, entah kenapa hati sang dewi hancur dan sakit. Hadiah permohonan maaf atas kelakuannya dulu pada sang arjuna menurutnya tidak berguna dan tak ada artinya untuk saat ini.

"Sasuke-kun..."

"Kau ini benar-benar seperti anak TK."

"AH! Sakura memang pernah bercita-cita ingin menjadi guru TK!" serunya seketika. "Tapi..."

Sakura tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena sebuah handuk lembut terlempar ke arah wajahnya. Sasuke melemparkan handuk baru yang diambilnya dari lemari di dekat meja music player. "Kau mandi dulu. Gunakan air dengan hemat."

"Hai'..." jawab Sakura dengan nada lemas, tak seperti biasanya. Sasuke yang biasanya selalu dihadapkan pada kelakuan Sakura yang menurutnya di luar batas kelakuan manusia normal kini hanya melihat dengan kerutan tipis di dahinya. Ada yang aneh dengan cewek itu, Sasuke membatin.

Tak perlu waktu lama untuk Sakura membersihkan seluruh bagian tubuhnya dengan air hangat. Ia keluar dari kamar mandi milik Sasuke dengan wajah tak bersemangat. Kaus tidurnya yang berwarna putih dengan gambar beruang teddy di tengahnya terlihat sangat cocok dengan rambut pinknya. Sasuke baru saja meletakkan sepiring makan malam untuk Sakura di atas meja ruang tengah apartemennya.

"Kalau kau belum membersihkan kamarmu sampai kelas baru itu dimulai, aku tidak akan menerima rengekanmu lagi."

"Hai'." jawab Sakura tanpa nada alias datar. "Senpai, apa ini makan malam Sakura?" tanya Sakura dengan senyum tipis.

"Hn."

Sakura duduk dengan tenang di bawah sofa empuk itu. Sakura ternyata lebih memilih duduk di lantai kayu berkarpet dibanding duduk di sofa. Sasuke pun hanya duduk di sofa itu dan menatap Sakura yang menyantap kudapan lezat buatannya dalam diam.

"Gochisousama deshita. Senpai..." Sakura meletakkan sendok dan garpu makan malamnya di atas piring yang telah kosong itu. Kemudian, ia bersuara.

"Hn."

"Apa menurut senpai, Sakura tidak bisa bermain piano berduet dengan biola? Berapa kali pun dicoba, latihan dengan Naruto selalu menemui jalan buntu. Hh..."

"Bukan salahmu."

"Eh?" Sakura tekejut dengan jawaban Sasuke. Ia pun memutar kepalanya dan melihat dalam-dalam ke arah Sasuke yang duduk di atasnya sambil membuka lagi buku bersampul biru yang belum sempat sepenuhnya dibaca. "Bukan salah Sakura?"

Sasuke mengangguk kecil. Mata onyx-nya pun membalas tatapan penuh tanya Sakura. "Dia tidak mentraktirmu lagi?"

Sakura menggelengkan kepalanya kencang-kencang, bibirnya juga dimanyunkan. "Karena latihannya menemui jalan buntu, baik Sakura maupun Naruto akhirnya pulang dalam diam. Kami pun berusaha mengintrospeksi diri kami masing-masing. Jangan-jangan... memang Sakura yang bodoh..."

"Syukurlah kalau kau sadar kalau ternyata kau itu sangat bodoh." ujar Sasuke tanpa perasaan. Sakura yang mendengarnya sedikit meringis. "Hahh... lihat scorebook ini. Sedikit berbeda memang dengan scorebook yang kau pelajari. Tapi, intinya sama."

Buku bersampul biru yang diambil Sasuke dari rak ruangan baca apartemennya kemudian disodorkannya ke arah Sakura. Sakura lalu mengambilnya dan berusaha menghilangkan air matanya dengan lengan kaus tidurnya yang panjang. Ia pun membaca dengan konsentrasi tinggi akan scorebook itu.

"Tidak usah terlalu berkonsentrasi. Kau lihat saja coretan di sebelah partiturnya. Yang utama ialah Spring adalah ungkapan perasaan Mozart yang kemudian bercampur menjadi satu. Ongaku sama saja seperti tubuh dengan jiwa. Bermain musik tanpa jiwa artinya mati. Kau tahu itu kan, kouhai?" ujar Sasuke seraya bangkit dari posisi duduknya. Ia berjalan menuju piano yang berdiri kokoh tepat di depan jendela ruang utamanya itu. "Kupikir kau adalah siswi yang pantang menyerah. Atau coward?"

Sakura mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke dalam-dalam. Senyum tipis kembali terukir di wajahnya. Pipinya yang kemerahan juga kembali cerah. "Sakura bukan seorang pengecut, Uchiha-senpai."

Sakura pun berdiri tegap dan berjalan pelan ke arah piano hitam Sasuke. Sekali lagi, meskipun bukan latihan resmi, Sakura menerima tutor gratis dari seorang Sasuke yang hebat itu. Ia duduk di atas kursi kecil piano dan dimulainya permainan musim semi itu dengan sebuah helaan napas panjang. Sasuke memicingkan matanya seraya menyilangkan kedua tangannya. Ia melihat permainan Sakura untuk kesekian kalinya dalam minggu itu. Tapi, meskipun agak enggan melihat wajah aneh Sakura setiap kali bertemu, namun yang membuatnya nyaman berbicara dengannya ialah karena suara piano hutan Sakura yang selalu terngiang di telinganya...

Hentakan nada pelan hingga cepat berlalu dengan baik di telingan seorang Sasuke. Sasuke yang mulai menyukai permainan melodi Sakura hanya bisa tersenyum tipis dan benar-benar tipis ke arah Sakura yang baru saja menyelesaikan nada terakhir Spring itu. Sakura yang kelelahan masih saja tersenyum lebar. Rambut pinknya terlihat bercahaya akibat kemilau rembulan yang benar-benar terang.

"Uwa.... full moon!" seru Sakura sambil menatap ke arah jendela tepat di belakangnya. Ia beranjak dari kursi piano dan melihat bulan purnama yang besar sekali. Ternyata di musim gugur, bulan pun belum malu-malu memperlihatkan cahayanya di malam hari, begitu pula dengan mentari.

Sasuke memutar kepalanya dan memandang Sakura yang tersenyum riang ke arah bulan penuh itu. "Kau memang seperti anak-anak. Berapa usiamu sekarang?"

"Dua puluh tahun!" jawabnya riang. "Masih anak-anak ya? Padahal, Obaasama bilang Sakura tidak akan pernah bisa menikah kalau sifat Sakura belum berubah. Hahh... apa aku akan menjadi perawan tua seperti nyonya Tsunade-shisou?" ujar Sakura terkekeh-kekeh.

Wajah Sasuke saat melihat Sakura sedikit melembut. Pandangannya pun terlihat lebih dewasa. Tak mau menatap ke arah Sakura terlalu lama, ia lalu melihat full moon seperti yang dilakukan oleh Sakura.

"Ano... setiap bulan purnama, Obaa-sama selalu menceritakan kisah putri kaguya pada Sakura. Sedih sekali jika menjadi sang putri, makanya... Sakura bertekad tidak akan menjadi putri apapun! Kalau bisa, Sakura mau menjadi kelinci kecil yang imut..."

"Kau lebih cocok jadi beruang madu daripada kelinci." ujar Sasuke datar.

Sakura hanya tertawa kecil. Liontin segiempat berornamen bulan sabit yang melingkar di leher Sakura kemudian dikeluarkannya. Ia lalu membuka liontin itu dan tersenyum sedih saat melihat dua lembar foto wajah seseorang yang berada di liontin itu.

"Okaa-sama dan Otou-sama adalah sosok orang tua yang sangat berharga bagi Sakura. Tapi― aku kabur dari rumah karena suatu hal. Katanya, aku berlari hingga ke jalan besar di malam dingin itu hingga sebuah mobil menyerempet tubuh mungilku. Aku amnesia untuk waktu yang lama namun akhirnya kepingan ingatan itu kembali. Hanya saja... saat ingatan telah kembali, aku sudah tidak berada di rumah okaa-sama dan otou-sama lagi. Ternyata, aku diselamatkan oleh ibu dari pihak okaa-sama. Aku mulai belajar piano sejak usiaku lima tahun. Waktu itu, aku masih tinggal di rumah okaa-sama dan otou-sama. Sesuatu yang menurutku aneh ialah aku masih bisa mengingat semua melodi yang pernah diajarkan oleh pembimbingku meskipun aku lupa akan semua memori dengan okaa-sama dan otou-sama. Makanya, Sakura pernah bilang ke Uchiha-senpai bahwa satu-satunya hal yang Sakura bisa lakukan hanyalah bermain piano."

Sasuke mendengar dalam diam. Adalah suatu kewajiban bagi seorang pria untuk mendengarkan seorang wanita yang sedang berbicara. Itulah hal yang diajarkan oleh ibunya saat ia masih kecil. Dan, mungkin inilah awal cerita masa lalu buruk Sakura mengenai scorebook.

"Lalu... okaa-sama dan otou-sama berusaha membawaku pulang ke rumah. Tapi, aku tidak mau. Aku hanya ingin bermain piano dengan caraku sendiri dan Obaa-sama memberikanku kebebasan itu. Oh iya, Sakura lupa dengan bagian Sakura punya kakak laki-laki!"

"Aniki?" tanya Sasuke pelan.

Sakura mengangguk kecil. Matanya terlihat menerawang jauh, memandang tiap kerlipan bintang dan benda-benda langit malam lainnya. Sebuah memori masa kecilnya tiba-tiba terlintas di kepalanya.

"Yang membawa tubuh mungil Sakura saat terjatuh di jalan adalah Onii-sama!" serunya seketika. "Tapi, sebelum pingsan, Sakura bilang ke Onii-sama untuk tidak membawa tubuh Sakura ke rumah tapi ke rumah nenek."

"Pantas saja kau lebih suka tinggal di rumah nenekmu. Sebelum amnesia, kau memang sudah dibawa ke rumahnya oleh kakakmu, kan." kata Sasuke rasional.

Sakura hanya menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. "Ehe... mungkin memang begitu."

Sasuke menghela napas pendek saat mendengar jawaban Sakura yang apa adanya itu. Biasanya, tak ada satu pun orang yang mau menceritakan suatu hal yang penting pada diri Sasuke sebelumnya. Namun, ia baru saja mendengar cerita seorang kouhai berambut pink yang belum terlalu dikenalnya. Sakura pun entah kenapa bisa dengan mudahnya menceritakan masa kecilnya pada Sasuke padahal Sakura terkenal dengan dirinya yang tertutup. Di balik wajah riangnya, Sakura terlalu banyak menyimpan rahasia sehingga ia perlu menutupinya.

"Kenapa tiba-tiba kau menceritakan hal seperti itu padaku?" tanya Sasuke masih dengan posisi menyilangkan kedua tangannya. Namun, tatapannya kini ke arah Sakura.

Sakura menaikkan bahunya. "Tak tahu. Tiba-tiba saja, semuanya keluar tanpa disadari."

"Kau memang tidak pernah sadar." balas Sasuke datar. "Lalu, dari mana kau dapatkan kebiasaan tidak pernah membersihkan kamar apartemenmu dan mencuci rambut sekali dalam seminggu, hah?"

Sakura mengangkat kepalanya, menunjuk dagunya. Ia tampak mengingat-ingat.

"Eh... siapa ya? AH! Itu mungkin kebiasaan Obaa-sama! Walaupun rumah Obaa-sama kecil tapi suasananya sangat MENYENANGKAN... Sedikit berantakan, kurasa. Ah... Sakura jadi ingin mengunjungi Obaa-sama..."

Seorang nenek berusia 70 tahunan dengan rambut tipis tentu saja akan menghemat penggunaan shampoo. Tapi, bagi gadis yang masih berusia dua puluh tahun, mencuci rambut sekali dalam seminggu dengan alasan menghemat shampoo adalah alasan yang irasional, Sasuke membatin.

"Boleh kutahu kenapa kau kabur dari rumah?" tanya Sasuke kemudian, memecah keheningan yang terjadi.

Kepala Sakura diputar tepat di arah tatapan Sasuke. Mata hijau emeraldnya memandang lurus-lurus mata onyx milik Sasuke. Cahaya bulan yang memisahkan jarak antara mereka agak memudar. Dinginnya malam di musim gugur terasa semakin membekukan daratan di manapun. Sakura yang menatap kembali full moon itu kemudian berjalan semakin mendekati jendela dingin itu. Jemarinya menyentuh kaca jendela yang agak membeku itu.

"Entahlah." jawab Sakura. Mata hijau emeraldnya terlihat kosong. Jelas Sakura berusaha melupakan alasannya kabur dari rumah ketika ia masih sangat kecil.

"Aku tidak memaksamu untuk menjawabnya." ujar Sasuke pelan seraya melepaskan kedua tangannya yang bersilangan dan memasukkannya ke dalam saku celananya. "Tazuna-sensei adalah sosok guru yang berharga bagimu kan?"

Sakura mengangguk kecil. Ia menutup liontin segiempat yang terus dipegangnya dan dimasukkannya kembali ke tempat persembunyiannya.

"Oh iya, Sakura belum tahu siapa pengasuh Uchiha-senpai!"

"Kau tidak akan berani melihatnya. Dia guru yang berbahaya." jawab Sasuke dengan nada pelan dan datar.

Sakura mengernyitkan dahinya. "Berbahaya? Hah... jangan-jangan, pengasuh Uchiha-senpai seperti raksasa hijau seperti yang di film-film itu kan?

"Bukan." jawab Sasuke masih datar.

"Ah, kalau bukan raksasa hijau berarti werewolf! Pantas saja Uchiha-senpai bilang berbahaya. Werewolf hanya berubah menjadi serigala jahat di setiap bulan purnama. Aryaa... dia bisa membahayakan masyarakat..."

Sasuke memegang wajahnya. Ia pusing dengan segala deskripsi tak logis Sakura akan sosok seorang Hatake Kakashi.

"Dia bukan raksasa hijau maupun werewolf, baka..."

"Kalau bukan raksasa hijau maupun werewolf. Jadi..."

Sakura terdiam sebentar. Sasuke sedikit melirik ke arah Sakura yang mencari-cari sosok monster apa lagi yang ingin diucapkannya. "Pasti drakula! Vampire jahat tukang hisap darah manusia! Vampire lebih berbahaya dari nyamuk malaria karena dia akan menghisap darah kita sampai habis sedangkan nyamuk malaria... eh, kalau nyamuk malaria..."

"Nyamuk malaria membawa bakteri bernama Anopheles. Bakteri itu mampu memecah eritrosit manusia normal sehingga kadar sel darah merah manusia akan mengalami penurunan drastis. Sel darah putih yang jumlahnya melebihi sel darah merah akan mengakibatkan demam tinggi dan mimisan. Nyamuk Anopheles lebih berbahaya dari vampire, kau tahu. Seekor nyamuk dapat membuat pandemi luar biasa. Bukannya kau sudah mempelajari biologi di bangku SMU? Semua hal di dunia ini bisa dijelaskan secara rasional. Alasan kenapa vampire menghisap darah manusia juga ada jawaban sciencetic-nya―"

"Benarkah?" tanya Sakura tak percaya. "Sakura kira drakula menghisap darah manusia karena mereka terkena kutukan oleh Tuhan."

"Jika semua orang jahat di dunia ini dikutuk oleh Tuhan, apakah mereka akan berubah menjadi drakula?" ujar Sasuke sewot. "Darah vampire tak mampu membentuk haemoglobin secara sempurna. Itulah mengapa mereka butuh pasokan darah dari luar, sama seperti transfusi darah pada manusia, untuk menyokong kehidupan mereka, mulai dari bernapas hingga berjalan."

Sakura lalu memanyunkan bibirnya. "Uchiha-senpai selalu saja tahu akan segala hal."

"Pengasuhku itu... bukan monster seperti yang kau maksud, Sakura. Ia lebih mengerikan dari para monster itu. Ia tak suka dengan anak-anak, terlebih lagi orang dewasa berperilaku seperti anak-anak sepertimu. Dan juga... "

Sasuke tiba-tiba teringat dengan buku berwarna jingga dengan gambar lingkaran bergaris miring yang menghiasi sampulnya. Icha-Icha Paradise. Buka aneh yang selalu dibawa-bawa oleh Kakashi ke mana-mana. Mengingat perilaku Kakashi yang seperti itu, mungkin itulah alasan mengapa Sasuke menyebut Kakashi lebih mengerikan dari para monster apapun.

Sasuke menggelengkan kepalanya, berusaha melupakan lamunannya itu. Ia bahkan tak sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Dan juga apa, senpai?" tanya Sakura penasaran.

"Iie, bukan apa-apa. Sudahlah. Jangan bicara hal yang aneh-aneh lagi."

Tak ingin berlama-lama dalam percakapan tak jelas itu, Sasuke lalu berjalan pelan ke arah salah satu lemari di ruang tengah itu. Sasuke mengambil sebuah tas yang berbentuk biola. Ia membuka tas biola itu dengan bow­-nya. Sakura melirik sedikit ke arah Sasuke yang sedang sibuk memperbaiki peg biolanya.

"Uchiha-senpai..."

"Apa?" tanya Sasuke yang sedang memutar-mutar sekrup kuping biolanya agar suaranya tidak fals.

"Uchiha-senpai pemain violin juga?" tanya Sakura seraya berjalan mendekati Sasuke.

"Hn."

Wajah Sakura kembali cerah. Ia rupanya sangat senang dengan pengakuan Sasuke itu. Ia tak menyangka seorang Uchiha-senpai, selain pintar bermain piano, juga sangat pintar bermain violin.

"SUGOI..." ujar Sakura dengan mata yang berbinar-binar.

Sasuke telah selesai mengatur biola yang telah lama tak digunakannya itu. Sedikit ada debu yang menutupi biola yang berwarna coklat tua itu. Namun, Sasuke mengelapnya dengan siku kemeja putihnya yang digelung hingga ke atas.

"Sore tadi, aku melihat ruangan Naruto masih menyala. Kalian rupanya masih latihan."

Sakura mengangguk kecil. "Tapi, selalu menemui jalan buntu..."

"Violin yang terlalu kaku akan membuat melodi yang dimainkan menjadi tidak enak untuk didengar. Meskipun dimainkan bersama dengan piano pun, tidak akan timbul harmonisasi Spring. Ada tiga hal yang harus dipahami oleh si dobe sebelum memainkan Spring ini―"

Sasuke meletakkan tulang pipi sebelah kirinya di chin rest biola coklatnya. Mata onyx-nya sedikit melirik ke arah biolanya. Stick biola itu diangkatnya ke udara dengan pelan dan kemudian dilengketkan ke senarnya. Sebuah suara halus ala senar biola terdengar samar-samar di telinga Sakura yang sangat peka. Sasuke membawakan alunan melodi Spring dengan begitu indah. Sakura baru menyadari perbedaan besar antara permainan Naruto dengan Sasuke. Spring ala Naruto terlalu riang dan cepat sedangkan Spring milik Sasuke sangat menghanyutkan, dalam, dan teratur. Meskipun tak ada emosi dalam melodi Sasuke, Sakura sangat menikmatinya. Ia tersenyum pada imajinasinya. Ia melihat padang ilalang di musim semi―

Kupu-kupu, belalang sembah dan kabuto mushi. Semestinya ketiga serangga itu hanya ada di musim panas. Namun, ketiga serangga itu terbang di sekeliling padang ilalang, membentuk suatu harmonisasi yang sungguh menyatu. Sadar dengan lamunan yang berujung, Sakura pun memutuskan untuk mengikuti permainan Sasuke dengan piano hutannya. Ia mendengar perlahan letak jemarinya untuk nada cepat yang baru saja didengarnya. Ia menemukannya... Ia mengikuti tarian flamenco Sasuke di atas lantai kayu. Rerumputan hijau dengan pohon Sakura tampak di sekitar mereka. Sakura dan Sasuke bak kupu-kupu dan kabuto mushi yang terbang di padang ilalang sedangkan belalang sembah masih saja berlari dari teriknya mentari musim panas...

"BRAVO... BRAVO..." seru Sakura setelah menyelesaikan nada terakhir miliknya. "Jadi, itu ya Spring yang sebenarnya..."

Sasuke meletakkan bow biolanya di atas meja music player. Napasnya agak tersengal-sengal. Rupanya, ia mendapatkan nyeri tulang leher. Sudah lama ia tidak bermain violin tapi kecakapannya tak berkurang sedikit pun. Ia duduk di sofa ruang tengah apartemennya seraya mengangkat kepalanya ke atas.

"Uchiha-senpai... daijobu desuka?" terdengar guratan kekhawatiran dari balik suara Sakura.

"Ya..." jawab Sasuke.

"Ano... soal yang tadi pagi, Sakura minta maaf karena membuat Uchiha-senpai harus lari berputar-putar mengelilingi sekolah. Pasti Uchiha-senpai lelah sekali. Dan juga... Sakura minta maaf karena selalu merepotkan Uchiha-senpai. HONTOU GOMENNASAI..."

Sakura berdiri dari kursi pianonya dan membungkukkan dalam-dalam kepalanya. Ia sangat menyesal telah menyusahkan Sasuke dalam beberapa hari ini dan selalu merepotkannya.

Lama sekali Sakura terus membungkukkan kepalanya hingga Sasuke kembali bersuara. Hening yang lama itu ternyata membuat seorang Sasuke tidak suka juga.

"Hei, menurutmu, apakah kita harus mengikuti jalan yang telah kita lalui selama ini hingga akhir atau memulai jalan baru yang menjadi mimpi kecil kita?"

Tiba-tiba Sasuke menanyakan hal yang tak bisa dimengerti oleh Sakura. Muncul berbagai tanda tanya besar di atas kepala Sakura. Processor otaknya tak mampu mengolah informasi dan data yang besar itu. Ia hanya bertanya-tanya dalam bingung.

"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu, Uchiha-senpai?"

Sasuke menengok ke arah Sakura yang memperlihatkan wajah bingungnya. Ia sudah salah menanyakan pertanyaan itu pada orang yang juga salah. Tapi, satu hal yang ia tahu bahwa pertanyaannya itu hanya bisa dijawab oleh seorang Hinata yang penyabar. Aneh juga, tiba-tiba saja ia teringat akan sosok Hinata yang sudah mengatakannya pengecut beberapa waktu yang lalu. Ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia bahkan bingung sebenarnya hubungan apa yang diinginkan oleh Hyuuga's heiress itu. Namun, wajah bodoh ala Sakura tidak pernah membuatnya bingung akan hubungan apa yang ada antara dia dan Sakura saat ini. Senpai dan kouhai, tentu saja. Ataukah dia tak sadar dengan hubungan baru yang muncul itu?

"Mana mungkin orang yang tak pernah sadar sepertimu bisa menjawabnya." komen Sasuke seraya meletakkan lengan kanannya tepat di atas matanya; mencoba untuk beristirahat.

Sakura menggembungkan pipinya dan memanyunkan bibirnya. "Apa Uchiha-senpai mau bilang kalau Sakura bodoh?"

"Hn."

Sakura semakin menggembungkan pipinya. "Sakura tidak bodoh!"

"Kau memang bodoh, baka onna." lanjut Sasuke datar.

"Tidak!"

"Baka..."

"Tidakkkk!!"

"Berhentilah berteriak-teriak, Sakura." ujar Sasuke pelan. Sakura pun akhirnya berhenti berteriak-teriak dan diam. Suara Sasuke menjadi semakin pelan. Samar-samar, ia tak bisa menahan rasa ngantuk itu dan lama-kelamaan, pandangannya mengabur.

"Katakan pada Naruto untuk melatih kembali biolanya yang terkesan terlalu rock itu, lalu, sebaiknya suruh dia menggunakan alat bantu pendengaran supaya bisa mendengarkan permainan pianomu―"

Sakura agak tertawa kecil saat mendengar Sasuke mengatakan alat bantu pendengaran untuk Naruto. Ia memperhatikan tiap nasehat Sasuke yang menurutnya sangat penting itu.

"―dan jangan terlalu memaksakan gaya permainannya yang bukan berasal dari dalam hatinya. Seandainya saja musik tak berjiwa... tak ada yang harus mati..."

Sasuke tak sadarkan diri. Ia akhirnya tertidur lelap di sofa empuknya. Sakura pun tak bisa memaksa Sasuke untuk bermain melodi lebih lama lagi. Sudah cukup bersalah baginya yang telah membuat Sasuke berlari seharian menghindari terkaman gadis-gadis Konoha Music University. Namun, hanya itu yang bisa dilakukannya. Bermain piano dan berlari...

Sakura mengambil sebuah selimut hangat dari kamar tidur Sasuke. Diletakkannya selimut hangat itu pada tubuh Sasuke yang nampak kedinginan itu. Senyum tipis terlihat di wajah merahnya. Ia memang perlu memberi kesempatan pada kakak kelasnya itu untuk mengistirahatkan dirinya, begitu pula dengan Sakura. Karena tak ingin mengganggu kedamaian Sasuke, ia lalu berinisiatif untuk pulang ke apartemennya dan terlelap di sana. Namun, saat ia baru saja melangkahkan kakinya menjauh dari sosok Sasuke yang sedang tertidur, tiba-tiba saja pergelangan tangannya yang kecil terasa ada yang menarik.

"Aryaa?"

"Hinata... kumohon jangan pergi..."

Sakura mengerutkan dahinya, bertanya-tanya dengan igauan Sasuke dalam tidurnya yang seperti bayi itu. "Hinata? Siapa?"

Sakura tak ingin berlama-lama berada dalam situasi aneh itu. Dengan pelan, ia berusaha melepaskan tarikan Sasuke yang keras itu. Agak keras rupanya hingga lama Sakura bisa terlepas dari belenggu itu. Beberapa menit kemudian, Sasuke melepas sendiri tarikannya dan mengambil posisi tidur yang lain.

"Ouch... " keluh Sakura seraya memegangi pergelangan tangan yang ditarik oleh Sasuke denga tangan yang lain. Entah kenapa saat mendengar Sasuke memanggil nama seseorang yang tak dikenal Sakura itu, sebuah perasaan tak enak menggelayuti hatinya.

"Uchiha senpai... konban wa..."

Mimpi panjang membawa Sasuke terlelap lama. Ia bak berjalan jauh, jauh sekali dari tempatnya sekarang. Ia tak tahu ia ada di mana. Namun, ia terus saja berjalan di tempat yang dipenuhi dengan awan putih itu. Sebuah suara dentingan piano hutan samar-samar terdengar dari arah kejauhan. Ia meyipitkan matanya, berusaha melihat dengan jelas sosok yang bermain piano itu. Hanya punggung dan rambut panjang sosok itu yang mampu dilihatnya. Rambut panjang berwarna cerah hingga ke pinggulnya sangat serasi dengan alunan melodi karya Choppin yang tenang. Sasuke menghentikan langkahnya. Ia hanya mampu melihat warna pink dari sosok pemain piano hutan itu sebelum mimpi lain datang kepadanya...

TSUDZUKU

KAMUS :

Kabuto mushi : sejenis kepik dengan dua capit di ujung kepalanya. Biasanya sayapnya berwarna hitam.

Gargoyle : makhluk gaib di cerita-cerita dongeng.

Hentai : artinya kurang lebih seperti ecchi (porno)

Squash : salah satu jenis olahraga yang mirip dengan tenis lapangan namun menggunakan dinding sebagai media arah pelemparan bola oleh raket.

Gochisousama deshita : aku selesai! (diucapkan setelah selesai makan)

Brocoli lettuce : sejenis makanan yang terbuat dari brocoli dengan mayonaise, dsb.

Ongaku :musik

Kouhai : adik kelas

Coward : pengecut

Okaa-sama : ibu (sopan). Penggunaan okaa-sama sangat jarang dalam pergaulan sehari-hari.

Otou-sama : ayah (sopan). Penggunaan otou-sama sangat jarang dalam pergaulan sehari-hari.

Onii-sama : kakak laki-laki (sopan). Penggunaan onii-sama sangat jarang dalam pergaulan sehari-hari.

Peg / sekrup kuping: pengatur panjang-pendek senar biola.

Hontou gomennasai : maaf yang sebesar-besarnya.

Konban wa : selamat malam.

Chapter kali ini menurut saya nggak terlalu seru (sambil garuk-garuk kepala yang gatal banget, belum keramas sejak beberapa hari yang lalu). Sepertinya percakapan antara Sasuke dan Sakura agak aneh. Saya juga bingung (~_~)'. Kalau menurut author yang baca gimana?

Saya belum mau memasukkan adegan fluffy antara Sasuke dan Sakura sampai cerita kelas S-OKE muncul. Maaf-maaf-maaf...

Eto... ini jawaban atas review teman-teman author.

kakkoi-chan : asisten konduktor dalam fic ini mungkin juga sama dengan maksud kamu (asisten dosen). Tapi, seiring berjalannya fic ini, pasti bakal ketahuan kerjaan Sasuke di S-OKE ngapain aja. Thanks udah mereviwe fic aku. Tetep baca ya...

hiryuka nishimori : makasih udah ngereview ceritaku. Semangat juga untuk tetep nulis fic.

kawaii-haruna : Jiraiya memang dikenal sebagai konduktor profesional. Kayaknya sih emang agak aneh gitu. Tapi, pas saya nyari karakter OC yang cocok, mungkin Jiraiya inilah yang bagus dijadiin guru pendiri S-OKE. And, makasih udah ngereview. Stay review ya!

Furukara Kyu : Ehe... makasih banget udah jadi author yang selalu review cerita aku. Saya setuju dengan komen di bawah fic kamu, Tomato Friendship. Hargailah karya orang lain dan hargai karyamu. Aku jadi mikir lama karena kata-kata itu. Memang kita harus menghargai karya siapapun. Eh, update Vampire Class-nya jangan lama-lama ya, daku penasaran nih. (maksa banget, maap!)

han : maaf baru bisa balas reviewnya sekarang. Nih, udah aku kasih kamus buat kata-kata yang nggak jelas. Makasih udah ngereview.

Great thanks ditujukan bagi author-author yang sudah mereview dan nggak sempat saya balas. Di chapter ini. Saya sangat bahagia saat melihat penulis-penulis yang nge-review cerita saya ini. Doumo Arigatou Gozaimasu! Review tambahan masih diharapkan tapi kalau tidak ada ya, tidak apa-apa. Tapi, lebih bagus kalau dikasih review sih, khe khe khe...

~Arigato Gozaimashita~

Emi Yoshikuni