Oretachi no Symphony

A Naruto Fanfiction

--

Oretachi no Symphony © Emi Yoshikuni
Naruto © Kishimoto Masashi

--

Kushina Hero1ne proudly presents

"Ichiban no Monogatari" called Oretachi no Symphony.

LESSON 8 : VINI, VIDI,...

Pagi itu terasa sangat hangat. Meskipun udara musim gugur sedikit menyelimuti kehangatan sinar matahari yang baru saja keluar dari rumahnya, siswa-siswi sekolah musik di kota ternama, Konohagakure no Sato bertebaran di mana-mana. Di sisi-sisi kampus, mulai dari gerbang pintu masuk hingga ke ujung atas gedung kampus, selalu saja ada keributan diantara anak-anak muda itu. Entah apa yang mereka bicarakan. Terlihat semangat-semangat khas anak muda dikobarkan oleh mereka yang tengah sibuk dengan percakapannya. Mungkin saja, berita kelas baru yang dibentuk oleh Maestro dunia di Konoha Music University menjadi inti keributan mereka.

Naruto baru saja tiba di kampusnya itu sambil menguap lebar. Rompi hitamnya yang khas serta kaus oblong jingga dengan motif pusaran air di tengahnya merupakan pakaian keberuntungannya. Dia memang menyukai hitam dan jingga, katanya dapat membawa hoki. Rambut blondy-nya dibiarkan teracak-acak tak beraturan. Ia memang tidak memedulikan soal penampilannya soalnya itu memang ciri khas seorang rocker. Tapi, semangatnya yang selalu besar itu kini tak tampak. Yang tampak dari sosok seorang Naruto kini ialah kantung mata berwarna keunguan dan tas biola yang tidak ditutup dengan baik.

"OI, NARUTO!!"

Seorang pemuda berambut hitam jabrik seperti buah nanas menyapa Naruto dari arah kejauhan. Naruto menyipitkan matanya dan melihat dengan baik sosok orang yang memanggilnya itu. Langkahnya pun terhenti.

"Shikamaru..." ujar Naruto tanpa semangat.

"Hei... kenapa dengan dirimu, buddy? Seperti bukan Naruto yang biasanya. Kau ada masalah? Bukannya kau adalah orang yang paling ribut soal kelas baru Meastro Jiraiya, lalu kenapa sekarang kau lemas begitu." Shikamaru berlari kecil dari arah belakang Naruto dan kemudian menepuk bahunya. Naruto memandang Shikamaru dengan wajah mengantuk.

"Percuma saja masuk ke S-OKE kalau aku tak lulus dari ujian semesterku, Shika..." jawab Naruto dengan tampang murung. Shikamaru terus menepuk bahu sohibnya itu, berusaha mengangkat semangat Naruto yang pupus. Langkah kedua pemuda itu berlanjut hingga mereka sampai di ujung tangga lantai dasar gedung kampus Konoha Music University.

Dengan pelan, baik Naruto dan Shikamaru menaiki tiap anak tangga kampus itu. Sesampainya mereka di depan pintu ruangan khusus Naruto dan teman band-nya, sebuah suara yang berasal dari dalam ruangan itu terdengar dengan begitu nyaring bak toa yang tak henti-hentinya menyerukan hal yang sama.

"HEI, HEI, HEI... KALIAN LIHAT TIDAK? LIHAT TIDAK?" seru Inuzuka Kiba dengan suara nyaringnya. Kedua caninus-nya terlihat begitu jelas.

"Lihat apa, Kiba?" tanya Shikamaru seraya meletakkan tas punggungnya yang besar di kursi komputernya. Seketika, Kiba menyodorkan sebuah kertas pengumuman tepat di hidung Shikamaru. Naruto hanya duduk diam di salah satu kursi dekat jendela ruangan pengap itu. Wajahnya terlihat mengantuk dan kusam. Ia meletakkan kepalanya di jendela yang tertutup, berusaha untuk tertidur.

Shikamaru mengernyitkan dahinya, tidak suka dengan kertas pengumuman yang tiba-tiba saja menempel di hidungnya. "S-OKE, ne?"

Kiba mengangguk-anggukan kepalanya dengan kencang. Semangatnya terlihat berkobar. Ia tampak menunggu respon dari pemuda berambut nanas itu alias Shikamaru. Tapi, Shikamaru seperti tak berkomentar apapun. Ia malah mulai menyibukkan diri dengan komputernya. Dasar computer geeky.

"Hoi... masa' kau tak senang sih, Shika? Kau tahu... ini adalah terobosan TERBESAR selama hidupku di kampus INI! Masuk dalam kelas orkestra dan bermain violin di depan para penonton! Suara tepukan tangan yang ramai dan ucapan 'BRAVO... BRAVO...'. Tak pernah kubayangkan hal ini sebelumnya..."

"Ya, ya, kuucapkan selamat kalau begitu." jawab Shikamaru yang masih menatap layar komputernya yang baru dinyalakan dengan bibir yang sedikit dimanyunkan.

"Hanya itu?"

"'Hanya itu' apa?" Shikamaru balik bertanya. "Memangnya kau minta aku berkata apa akan terobosan besar selama kau ada di kampus ini? Apakah aku harus bilang, 'Hei Kiba, selamat ya. Semoga sukses selalu.' atau kau mau aku bilang 'Selamat memasuki tahap baru dalam hidupmu'. Kau tidak melihat 'dia'?"

Mata Shikamaru seperti meminta Kiba untuk melihat Naruto yang hanya termenung dan melemas di sudut ruangan itu. Kiba pun memutar kepalanya dan memandang Naruto dengan tatapan keheranan.

"Ke-kenapa dengannya?" tanya Kiba pada akhirnya. Shikamaru hanya memutar bola matanya.

"Tak tahu. Yang jelas, down spirit syndrome."

Kiba mengerutkan keningnya. Kedua alisnya seperti bertemu dan menyatu. Wajahnya penuh dengan tanya. Ia tak tahu dengan keadaan sahabat biolanya yang terkenal periang itu. Namun, yang hanya bisa dilihat sekarang ialah sosok manusia berambut blondy yang mirip ikan belut. Terlihat lunglai, siap untuk dimasak di penggorengan panas.

"Oi, Naruto... Kau kenapa, sih?" tanya Kiba seraya berjalan mendekati Naruto yang tubuhnya seperti karet tak berbentuk. Naruto duduk di kursi yang terbalik. Kepalanya dibiarkan lunglai di penopang kursinya dan kedua tangannya hanya jatuh ke bawah. Tak ada aura semangat dari diri Naruto saat ini.

"S-OKE... maafkan aku..." gumam Naruto tak jelas.

"Hora, hora, bukannya sang pemilik semangat tinggi adalah tuan Uzumaki Naruto, ne? Hari ini setan apa yang memasuki dirimu, HAH? Di mana Naruto yang kukenal penuh dengan spirit itu?! Kita adalah teman kan? Ingat dengan moto kita? One for all, all for one."

"Memangnya kita punya moto?" tanya Naruto seketika. "Sejak kapan?"

Kiba jadi salah tingkah. Sebenarnya tidak ada moto yang mereka buat. Hanya kata-kata yang dianggapnya keren. Itupun diambilnya dari bagian salah satu film kolosal, The Three Musketeers.

"Dan― aku tidak kesetanan, Kiba." timpal Naruto dengan nada lemas.

Kiba hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Hee... gomen. Tapi, bukannya namamu juga masuk dalam S-OKE kan? Kenapa kau malah sedih? Kupikir, impianmu sejak dulu ialah bermain di panggung orkestra. Bukankah ini adalah kesempatan bagus?"

Naruto menggelengkan kepalanya pelan seraya menghela napas pendek. Kedua mata birunya seakan menerawang jauh dan terbang entah ke mana. Memang tidak biasa bagi Uzumaki Naruto yang terkenal dengan semangat tingginya itu kini hanya diam mematung tak ingin bicara dan melakukan apapun. Ayahnya pun terus saja menanyakan akan dirinya yang aneh ketika Naruto baru saja keluar dari kamarnya dengan wajah lesu, seperti tak pernah tidur selama beberapa hari.

Ada yang aneh dengan Naruto, kedua sahabat Naruto membatin dalam kepasrahan.

"Hei, memangnya latihanmu bersama dengan kouhai berambut pink itu gagal lagi? Atau, dia mengusirmu seperti yang dilakukan oleh si Uchiha itu?" tanya Kiba sambil menempelkan kertas pengumuman yang menghebohkan itu di sisi dinding ruangan yang telah dipenuhi dengan poster-poster penyanyi rocker.

Sekali lagi, Naruto menggelengkan kepalanya dengan lemas. "Tidak. Malah... semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Hanya saja..."

"Hanya saja apa?" tanya Kiba agak penasaran.

"Ngg... tak ada kekompakan antara pianonya dan biolaku. Lalu, kemarin kita memutuskan untuk merehab sebentar latihan kita untuk mencari tahu letak kesalahan permainannya. Tapi... meskipun sudah latihan sampai pagi pun, sama sekali tak ada jawaban........"

Naruto membanting kepalanya di sisi penopang kursi yang didudukinya sehinga bunyi dukk keras terdengar. Shikamaru hanya menghela napas panjang sedangkan Kiba tak tahu harus memperlihatkan raut wajah yang seperti apa.

"Kau perlu libur, Naruto." tiba-tiba Shikamaru mengeluarkan suaranya. Meskipun matanya masih asyik dengan software music composer yang diciptakannya sendiri tapi ia masih mau memberi saran pada temannya. Baik Naruto dan Kiba memalingkan wajahnya dan menatap Shikamaru. "Maksudku, untuk sehari saja kau bersenang-senang. Dengar ya, otak manusia itu sama seperti komputer. Tapi, intinya tentu saja berbeda. Kalau processor bekerja terus tanpa istirahat, maka komputer akan mengalami hang dan rusak. Begitu pula dengan otakmu. Jadi―"

Sebuah lampu kuning menyala di atas kepala Kiba. Dengan seringai besar di wajahnya, ia kemudian menepuk bahu Naruto dengan keras. Sebuah ilham datang kepadanya.

"Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan ke kebun binatang yang baru dibuka di dekat Ek forest itu? Kata kakakku yang juga bekerja sebagai dokter hewan di sana, akan ada binatang baru yang datang! Katanya lagi, binatang yang BESAR!" seru Kiba hiperbolis.

"Hei, jangan bilang kita ke sana untuk menerima kerja sambilan lagi?" tanya Shikamaru dengan wajah malas ala dirinya. "Kalau untuk itu, aku tidak mau."

Naruto hanya menatap lemas ke arah Kiba. Ia sebenarnya juga tidak ingin melakukan apapun di hari itu. Kantung matanya pun semakin menebal saja dengan warna hitam keungunan yang memberi corak di sekitarnya. Liburan sebenarnya yang diinginkan oleh Naruto ialah tidur.

"HOI... liburan seperti itu tidak hanya cuci mata sambil melihat-lihat binatang, kau tahu! Tapi, bisa juga menambah uang!" seru Kiba menjawab ketidakmauan Shikamaru mengikuti idenya.

"'Kalau soal uang, kau lebih baik mengamen di jalanan dengan biolamu. Pasti akan banyak orang yang akan membayar jasamu itu. Terlebih lagi, rock violin, pasti orang-orang akan memujamu." jawab Shikamaru dengan kedua alis yang bertaut.

"Sekarang bukan zamannya mengamen dengan cara klasik seperti itu! Dengar ya, kata kakakku, kita bisa mendapatkan setidaknya 5000 yen hanya dengan membersihkan kandang seekor gajah. UOO... 5000 yen... bisa membeli hamburger berapa banyak ya? Kalau ide ini kukasih tahu ke Chouji, dia pasti langsung berkata iya." timpal Kiba dengan nada mengejek.

"Kalau Chouji sih sudah pasti. Dia ya dia, aku ya aku." ujar Shikamaru sambil memanyunkan bibirnya. "Sekarang juga bukan zamannya mencari uang dengan otot saja, kau tahu!"

"Sama saja kan, kalau bekerja hanya menggunakan otak terus, lama-kelamaan bisa membuatmu gila, Mr. Geeky." ujar Kiba seraya berdecak pinggang. "Lihat dirimu, Ya Tuhan. Kau hanya bermain dengan komputermu terus setiap hari. Kenapa tidak sekalian saja kau masuk ke institut teknologi konoha yang terkenal dengan anak-anak jenius itu? Kau malah masuk ke kampus musik yang sangat berbeda dengan impianmu sejak kecil. Hei, Shikamaru..."

Shikamaru memutar bola matanya seraya menengadahkan kepalanya dan menatap langit-langit ruangan khusus itu. Terlihat ia sedang mengingat sesuatu di masa lalunya tapi sepersekian detik kemudian, wajah malas dan bibir manyun ala dirinya tampak seperti biasa.

"Hah... mungkin kau benar. Aku sudah salah masuk kampus. Tapi, aku salah masuk kampus karena aku memang orang yang salah." jawab Shikamaru apa adanya. Kiba hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Naruto memunculkan senyum tipis di balik wajahnya.

Kiba menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Ia memperlihatkan gigi-giginya yang putih. "Heh, itulah Shikamaru yang kukenal."

"Whatever you are, you are yourself. Tidak usah memikirkan menjadi siapapun kalau kau bisa menggapai langit meskipun kau hanya itik buruk rupa. Toh, seekor itik akan berubah menjadi angsa. Iya kan, Naruto?" ujar Shikamaru sebelum kembali menekuni pekerjaannya.

Mendengar perkataan Shikamaru, Naruto merasa agak bertanya-tanya dalam hatinya. Mungkin memang ia sudah berusaha dengan keras agar bisa masuk ke dalam kelas orkestra. Memang ia belum menyelesaikan ujiannya yang tertunda itu. Dan memang, ia hanyalah itik buruk rupa saat ini. Tapi, belum tentu menjad itik buruk rupa selamanya.

Naruto mengangkat wajahnya dan menatap kedua sahabatnya itu dengan senyum yang sedikit demi sedikit mengembang di balik wajah kusutnya. Senyum cerah kemudian menghiasi dirinya yang terlihat lemah.

"He he, aku memang hanya seekor itik buruk rupa tapi bukan itik selamanya―"

Naruto berdiri pelan dari kursinya dan terlihat lagi aura-aura semangat dari dalam dirinya. Entah bagaimana seorang Shikamaru mampu mengubah diri Naruto yang tampak lunglai itu hanya dengan perkataan biasa. Naruto pun mengangkat tinjunya ke langit.

"YOSH!! GANBA NE...." seru Naruto dengan semangat yang telah pulih. Kiba yang melihat Naruto telah sehat kembali pun menyunggingkan senyum tipis sedangkan Shikamaru terus saja menatap layar komputernya.

"Setelah ini, apa yang akan kau lakukan Naruto?" tanya Kiba sambil terus menatap Naruto yang memunggungi tas biolanya.

"Ng, mencari Sakura-chan!" jawabnya dengan senyum lebar. "Oh ya Shikamaru―"

Shikamaru berbalik dari pekerjaannya dan menatap Naruto dengan tampang bertanya-tanya, "Apa?"

"Danke Schön. Kau memang sohib yang keren!"

Shikamaru hanya menyunggingkan senyum kecilnya, melihat wajah Naruto yang terlihat membaik. "Vielen Danke."

"YOSH!! Hee... aku akan latihan lagi. BYE BYE MINNA!"

"HOO..." jawab Kiba seraya mengangkat tinjunya juga ke atas. "Terus semangat Naruto! Kita harus bertemu di S-OKE orkestra! Hei, kalau kau gagal dalam ujianmu, aku akan memukulmu hingga babak belur. INGAT ITU!"

Kiba terus saja menyerukan berbagai hal pada Naruto yang tampak menjauh. Naruto berjalan dengan langkah cepat di koridor kelas itu. Kiba hanya melihat Naruto yang tampak mengangkat tangan kanannya seperti mengucapkan selamat tinggal padanya. Kiba pun mengeluarkan cengiran lebarnya kala memandang punggung Naruto yang semakin menjauh, menjauh dan jauh sekali.

"Tenang saja. Dia pasti bisa melakukannya." komen Shikamaru kecil.

"Ya, aku tahu itu."

XXxx____xxXX

Udara musim gugur memang identik dengan hawanya yang dingin namun tak sedingin udara di musim salju yang terlalu membeku bak es. Tapi bagi seorang Sakura, tak ada hal apapun yang mampu menumbangkan semangatnya untuk terus bermain piano meskipun hawa dingin di ruangannya itu terasa nyata. Masih saja terlintas di pikirannya akan kejadian malam itu. Sejak ia meninggalkan kamar Sasuke untuk kembali ke apartemennya, perasaan menusuk bak es beku tertancap di ulu hatinya. Tak masalah baginya jika harus mendapat bogem mentah dari Sasuke sampai kepalanya benjol-benjol. Tapi, untuk kali ini, ada sebuah batu besar terpendam di kerongkongannya hingga ia tak bisa makan dan minum.

Dengan perasaan –entah seperti apa–, Sakura meletakkan kesepuluh jemarinya di atas tuts-tuts piano. Angin musim gugur yang dingin itu menyusup di sela-sela jendela ruangannya yang sepi. Ia sedang sendiri, tentu saja. Hanya dirinya dengan ditemani oleh piano kesayangan yang telah menemaninya selama tiga tahun belakangan ini.

Jemarinya bergerak, mengikuti not-not yang terpatri di atas scorebook itu. Rachmaninoff Piano Concerto 2 terdengar tenang dan damai. Jemari Sakura menari-nari seperti biasanya di atas tuts pianonya. Tanpa memperhatikan dengan baik ke arah scorebook-nya, Sakura memainkan karya Maestro Rachmaninoff dengan caranya sendiri. Ia memang selalu memainkan piano dengan wajah yang dipenuhi dengan raut emosi dan hal itu tak bisa diubah. Ia memang berbeda...

Di tengah suara piano hutannya yang hening dan tenang, Sakura merasa ada yang sedikit berubah dengan jemarinya. Ataukah ada hal yang aneh selain jemarinya? Ia tak tahu. Ia terus bermain hingga melodinya meleset. Sakura berhenti menggerakkan jemarinya seraya menatap bingung ke arah tangannya.

"Kenapa?"

Sakura berusaha memutar pergelangan tangannya yang menurutnya sedikit kaku. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Rasa nyeri menusuk pergelangan tangan kecilnya itu tapi hanya yang sebelah kanan. Kemudian, ia teringat dengan kejadian di malam itu. Saat Sasuke secara tak sadar menarik dan menggegam erat tangan kecil Sakura hingga muncul rasa sakit. Seorang pianis sangat bergantung pada kedua tangannya, tentu saja. Namun, Sakura hanya pasrah. Ia tahu Sasuke pasti tidaklah sadar akan perbuatannya itu. Dan, Sakura tidak mau menyalahkan siapapun termasuk senpai-nya.

"Uchiha-senpai..."

Pikiran Sakura kosong. Jemarinya bingung akan bergerak ke mana. Ia tak mampu lagi menikmati permainan Rachmaninoff, melodi kedua yang harus dipelajarinya setelah melodi karya W. A. Mozart dalam Sonata for Two Pianos. Yang ada hanya wajah sedih.

Sakura menundukkan kepalanya. Rambut pinknya yang halus itu menutupi sebagian wajahnya. Ia lalu meletakkan kepalanya di atas meja piano dan kedua tangannya yang juga diletakkan di atas. Ia menggumamkan hal-hal yang tak jelas seraya menyandarkan kepalanya di atas kedua tangannya itu. Terlihat jelas seorang Sakura yang tidak bersemangat.

"Tazuna-sensei, doko nano?"

Sakura memang tidak melihat guru kesayangannya, Tazuna-sensei, di kelasnya. Biasanya, Tazuna-sensei selalu datang lebih duluan daripada dirinya yang selalu terlambat. Tapi, kali ini lain cerita. Tak ada jejak satu pun akan kedatangan Tazuna-sensei di kampus berlogo musik itu.

Dalam kekalutan tak jelas itu, bandana kuning Sakura secara tak sengaja jatuh di lantai. Matanya yang terkesan sangat mengantuk tak peduli dengan bandana yang selalu menempel di rambut pinknya. Ia kembali menekuni tidurnya hingga sebuah suara ketukan pelan membangunkannya dari tidur kecilnya.

TOK TOK TOK

"Ngg... Dare?" tanya Sakura seraya mengucek-ngucek matanya yang sedikit menitikkan air mata.

Sakura berjalan lunglai ke arah pintu ruangan khususnya. Rambut pinknya terlihat acak-acakan tapi seperti biasa Sakura tak peduli. Tak butuh waktu lama untuk memutar knop pintu itu seraya melihat sosok orang yang mengetuk pintunya.

"Ohayou Gozaimasu!" sapa sosok pengetuk pintu itu.

"Ng, Ohayou. Ada apa?"

"Apa benar ini ruangan milik nona Haruno Sakura?" Sosok yang mengetuk pintu ruangan khusus Sakura itu memakai semacam scraft terikat di kepalanya bak seorang pengendara motor harley davidson. Kemudian, sosok itu juga seperti meletakkan sebatang bambu atau entah apa itu di mulutnya. Sakura yang menatapnya hanya bergidik ngeri.

"EH?!" seru Sakura ketakutan.

Pria yang tampak seperti preman itu hanya menatap keheranan ke arah Sakura. "Kenapa menatap aneh begitu, hah?"

"A-a-ano..."

"Ya, ya, namaku Shiranui Genma. Salam kenal. Ini, ambillah. Sepertinya surat dari gurumu. Cuma itu yang ingin kuberi tahu. Ja'."

Sakura membuka surat yang disodorkan oleh pria bernama Genma itu. Ternyata memang benar itu tulisan tangan milik gurunya, Tazuna-sensei. Ia hanya melihat sebuah kata 'sakit' dari berbagai kata di dalam suratnya. Sudah jelas kalau Tazuna-sensei absen menghadiri kelas Sakura karena demam musim gugur.

"Matte!"

Pria itu berbalik dan masih menatap keheranan ke arah Sakura. Entah kenapa tiba-tiba saja Sakura memanggilnya.

"Ada apa?"

"Ano... arigatou. Terima kasih sudah mengirimkan suratnya ke sini." ujar Sakura kecil sambil menundukkan kepalanya memberi hormat.

Pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Bambu kecil yang menyertai mulutnya digerak-gerakkan. "Doumo."

Sakura berjalan gontai ke arah kursi pianonya. Ia kembali menekuni tidurnya dan baru saja memulai untuk bermimpi. Namun, sebuah suara keras dengan langkah kaki besar membuyarkan angan-angan kosongnya.

"SAKURA-CHAN!!! APA KAU DI DALAM?"

"Naruto..." ujar Sakura dengan wajah letih seraya mengangkatnya dari atas meja pianonya.

"Hey, hey, tadi kulihat ada pria aneh keluar dari kelasmu, mau apa dia?"

Sakura mengucek-ngucek matanya lagi. Ia memandang wajah Naruto dengan hampa.

"Surat dari Tazuna-sensei. Tazuna-sensei terkena demam musim gugur." jawab Sakura apa adanya.

Naruto memegang pundak Sakura, berusaha menguatkan hatinya yang lunglai itu. Masih saja terlihat keadaan kouhai-nya yangbegitu tak teratur, ia lalu berusaha menegakkan kepala Sakura yang lemas.

"Oi, Oi... kenapa yang sekarang lemas malah kau? Dengar ya, bagaimana pun juga, kita harus tetap latihan! Jangan menyerah! Aku yakin kita pasti BISA!" seru Naruto dengan semangat membara.

Mendengar kata latihan, Sakura teringat dengan percakapan kecilnya dengan Sasuke di malam sebelumnya. Percakapan singkat namun penuh dengan memori.

Ada tiga hal yang harus dipahami oleh si dobe sebelum memainkan Spring ini―. Suara Sasuke terngiang di telinga Sakura. Ia kemudian menegakkan kepalanya dan mengacungkan tiga jarinya ke atas.

"Ada tiga hal―"

Naruto melihat dalam tanya. "Tiga hal? Tiga hal apa, Sakura-chan?"

"Ada tiga hal yang harus dipahami oleh Naruto sebelum memainkan Spring. Pertama, katakan pada Naruto untuk melatih kembali biolanya yang terkesan terlalu rock itu. Kedua, sebaiknya Naruto menggunakan alat bantu pendengaran supaya bisa mendengarkan permainan piano Sakura. Dan ketiga, jangan terlalu memaksakan gaya permainan Naruto yang bukan berasal dari dalam hati―"

Naruto menunjukkan ekspresi bingung. Entah kenapa tiba-tiba saja Sakura mengatakan hal yang sedemikian cepatnya seperti sedang mendikte anak-anak kecil dari sesuatu yang sudah dihapalnya di luar kepala. Sakura merasa sangat lega karena sudah memberikan informasi berharga dari senpai-nya ke Naruto. Pipinya yang kemerahan mengembang dan senyum terukir di balik bibir kecilnya.

"Hahh... Sakura lega sekali sudah mengatakan apa yang harus dikatakan..."

Sebuah suara dukk terdengar. Naruto menjatuhkan dirinya di lantai keramik kelas khusus Sakura itu. Pose tubuhnya mirip sekali seperti karakter-karakter komik Jepang yang sedang putus harapan. Terasa aua-aura keputusasaan dari balik wajah Naruto.

"Ke-kenapa Naruto? Apa Naruto sakit?" tanya Sakura seraya menggenggam jemarinya.

"Iie... i-itu pasti dari Sasuke kan?"

Sakura menganggukan kepalanya. "Uchiha-senpai yang mengatakan itu semua tapi..."

"Tapi apa, Sakura-chan?"

Sakura mengeluarkan senyum lebar di wajahnya yang kemerahan itu. Pipinya yang juga benar-benar merah seperti buah tomat terlihat lebih cerah dari biasanya.

"Uchiha-senpai tidak pernah mengatakan kalau permainan biola Naruto itu jelek. Itu artinya, Uchiha-senpai menghargai permainan biola Naruto yang terkesan rock. Hanya saja, Spring adalah lagu klasik yang penuh dengan perasaan, makanya, Naruto tidak usah terlalu terpaku pada peraturan. Begitu kata Uchiha-senpai!" seru Sakura, masih menyunggingkan senyum lebarnya.

"Begitu ya?" ujar Naruto berusaha berdiri dari keterpurukannya. "Jadi, yang harus kulakukan adalah―"

"BERMAIN BIOLA DARI DALAM HATI!" jawab Sakura melanjutkan perkataan Naruto. "Hmm, Naruto bisa memulainya dengan membuat padang ilalang Naruto sendiri. Kemudian, ada kupu-kupu, belalang sembah dan KABUTO MUSHI!"

Naruto mengangkat wajahnya dan meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya. Perlahan-lahan terbentuk huruf U besar di wajahnya. "SOU DA..."

Wajahnya kembali cerah seperti semula. Dengan kekehan ala Naruto, semangat yang pasang surut itu menjadi bergelombang lagi, siap menerjang tembok besi dan mengancurkannya. Dengan tinju yang melayang di angkasa, Naruto pun memulai lagi latihannya yang tertunda meski rasa ngantuk karena tidak tidur semalaman menghantui tubuhnya. Sakura pun memutuskan untuk berlatih lagi bersama Naruto agar semua perasaan bosan dan perasaan –entah apa itu– bisa hilang dari hatinya. Ia hanya ingin bermain piano tanpa adanya interupsi dari pikiran apapun. Sakura dan Naruto memulai lagi garis start mereka di padang ilalang yang basah itu karena hujan. Sang kupu-kupu yang telah berlari jauh bersama sang kabuto mushi melihat sang belalang sembah yang terjerat oleh jaring perangkap. Kupu-kupu menjulurkan sayapnya yang lebar dan cantik itu ke arah belalang sembah agar ia dapat berlari bersama-sama lagi sedangkan kabuto mushi terbang entah ke mana...

XXxx____xxXX

Langit sore yang tampak lebih gelap itu semakin menggelap bak ingin menelan mentari. Burung-burung gagak yang terbang pulang menuju sarangnya mengeluarkan suara-suara yang mengerikan. Keadaan di daratan pun tak ada bedanya. Manusia-manusia yang letih karena baru saja selesai dari rutinitas mereka sehari-hari terlihat memenuhi seluruh distrik utama di kota yang dingin itu. Syal dan sweater rajutan adalah dua hal yang sangat pas dipadukan di musim gugur ini. Dedaunan coklat berguguran di setiap sisi-sisi jalanan di pusat kota Konoha. Lampu-lampu yang berwarna-warni menghiasi jantung kota Konoha yang indah itu. Sebuah air mancur besar di tengah distrik pertokoan Konoha menggerimicikkan airnya yang sejuk. Sedikit dingin memang tapi tak apa bagi anak-anak yang berharap mendapatkan peruntungan di tahun itu. Anak-anak kecil di kota paling bersih itu selalu melemparkan koin-koin yen ke arah air mancur; berharap menemukan sesuatu yang baik di tahun naga itu. Ah ya! Ada juga seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tahun menepi di dekat air mancur itu. Tapi, pemuda itu hanya melihat-lihat kelakuan anak-anak kecil yang berebutan melempar koin lebih duluan dengan senyum tipis. Ia hanya melihat tanpa melemparkan koin seperti yang dilakukan oleh anak-anak itu.

Syal rajutan merah marun mengelilingi lehernya. Hembusan hawa dingin keluar dari napasnya. Mantel panjang berwarna coklat muda menutupi sebagian besar tubuhnya. Dan rambut merahnya yang khas itu sedikit berderai terkena hembusan angin petang yang sedikit chilly.

"Konoha... banyak yang berubah ya..."

Sebuah jam unik dengan rantai kecil keemasan seperti kalung dikeluarkannya dari balik saku mantel tebalnya. Ia memencet salah satu tombol di jam uniknya itu dan penutupnya terbuka seketika. Jam itu berdetik dan terus saja berdetik. Masih dengan senyum tipis, pemuda itu memandang penuh makna ke arah jam berornamen bulan sabit keemasannya. Raut wajah sedih dengan senyum kecil cocok menggambarkan keadaan pemuda jangkung itu. Jelas ada memori terpendam dalam jam emas kecil itu...

"Apa dia masih ingat aku ya?" tanyanya seraya memasukkan jam unik itu kembali ke tempat persembunyiannya. Ia tertawa kecil dan memalingkan kepalanya, berjalan meninggalkan kerumunan manusia yang tengah sibuk di sekitarnya.

Langkah demi langkah, pemuda jangkung berambut merah itu berjalan hingga menggapai sebuah jalan kecil yang dipenuhi dengan berbagai pohon Ek yang sedang menggugurkan daunnya yang berwarna kecoklatan. Jalanan itu tampak sangat sepi tapi lampu redup yang meneranginya malah membuat perasaan pemuda itu seperti tidak sendiri. Di ujung jalan sepi itu terdapat taman bermain anak-anak yang di sekelilingnya dihiasi dengan bunga sakura yang sedikit menebarkan kelopaknya. Angin dingin membuat sang bunga harus bersedia menerbangkan kelopak cantiknya yang berwarna merah muda. Pemuda itu terdiam sebentar dan memandang bunga sakura yang berguguran. Sebuah memori kecil akan bunga sakura dan seseorang kembali terlintas di pikirannya. Ia pun sedikit bersenandung.

"Sakura no shita de... watashitachi ni aitai... kumo ga zettai ni shiroi... kaze mo hontou ni kirei..."

...

And I don't want the world to see me

Cause I don't think that they'd understand

When everything might to be broken

I just want you to know who I am

...

Ia menghentikan senandung kecilnya ketika tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dirogohnya ponsel itu dari balik saku mantelnya dan melihat sebuah nama yang tertulis jelas di layar ponselnya.

"Temari-neesan?"

Hei, sudah sampai di Konoha?

Baik-baik saja kan? Tidak tersesat kan?

Sudah sepuluh tahun kita tidak ke Konoha,

Kupikir kau pasti tersesat di jalan dan malah jadi gembel.

He he, hanya bercanda.

Oh ya, jangan lupa membersihkan mouthpiece oboe-mu setiap hari

Hanya itu.

Pemuda itu hanya menghela napas pendek seraya tersenyum saat membaca pesan singkat dari kakak perempuannya yang menurutnya terlalu overprotective padanya. Ia lalu menutup ponselnya sebelum sesuatu lain mengusik dirinya.

"Masih ada lanjutannya?"

Dan juga, jangan terlambat makan

Tidur yang cukup. Kau tinggal di mansion ayah kan?

Baguslah, kalau begitu.

Lalu, salamku untuk "si nona" yang kau cari itu.

Salam hangat. Your lovely sister.

Dengan sebuah hentakan, ia menutup penutup ponselnya. Melihat langit yang terlihat lebih gelap dan hitam, si pemuda memutuskan untuk melanjutkan langkahnya yang tertunda itu. Bayangan dirinya yang kehitaman semakin lama semakin menghilang. Hembusan angin malam di musim gugur itu benar-benar menusuk jiwa seseorang yang kosong...

XXxx____xxXX

"YOSHAAAA..."

"SUTEKI... SUTEKI..."

Seruan-seruan kegembiraan dari arah sebuah ruangan khusus itu. Naruto dan Sakura akhirnya bisa melalui serangkaian terpaan badai dan cobaan lainnya yang selalu menghalangi latihan mereka. Mulai dari seorang murid tahun pertama yang salah masuk kelas, mengira kelas Sakura adalah kelasnya. Kemudian, ada juga seorang kakek yang berteriak-teriak di koridor seperti memanggil-manggil nama seseorang yang ternyata adalah cucunya yang kabur dari omiai kekkon. Lalu, telpon salah sambung yang masuk di ponsel Naruto dan terus saja mengira kalau Naruto itu adalah mantan pacarnya yang hilang sejak sebulan yang lalu. Dengan penjelasan yang panjang lebar akhirnya wanita salah sambung itu menutup telponnya itupun dengan bantuan Sakura yang merasa terusik akan interupsi latihannya hingga sejam lamanya. Tanpa basi-basi, Sakura lalu menarik ponsel Naruto dan menyerukan sesuatu yang membuat wajah Naruto memerah seperti ikan kakap.

"AKU INI ISTRINYA. JANGAN GANGGU LATIHAN KAMI, WEE..."

Padahal Naruto tahu kalau Sakura hanya bercanda sebab setelah mengatakan itu Sakura malah mengatai dirinya sendiri bodoh, bodoh dan bodoh. Naruto hanya terkekeh-kekeh begitu pula dengan Sakura. Cobaan-cobaan itu tentu saja tidak membuat semangat kedua musisi muda itu menghentikan latihan mereka. Yah, meskipun hingga siang berganti malam.

"Mukyaa... Sakura lelah..." keluh Sakura sambil membanting kepalanya ke tuts pianonya.

Naruto melakukan peregangan tubuh dengan mengangkat kedua tangannya ke atas. Ia juga menguap lebar, ingin sekali tidur.

"Aku juga lelah. Ingin sekali rasanya tidur..."

"Jam berapa sekarang, Naruto?" tanya Sakura.

Naruto melihat ke arah jam tangannya. "Sembilan lewat tiga puluh tepat. Hahh... aku mau pulang."

"Sembilan tiga puluh? GYABOO... Uchiha-senpai pasti marah sekali!!!" tiba-tiba saja Sakura berubah seketika. Ia teringat akan sesuatu tentang Sasuke pada pukul 9.30 malam. Tapi, ia juga lupa hal apa itu.

"Memangnya ada apa dengan si teme? HOO... jangan-jangan, dia menyuruhmu mengerjakan pekerjaan rumah tangga di apartemennya ya? Atau jangan-jangan... jangan-jangan..."

Sebuah pikiran aneh mengusik otak Naruto. Lagi-lagi, ia memikirkan hal-hal yang tak wajar. Masih terpaut dengan pikiran anehnya, Sakura pun meninggalkan Naruto di ruangannya sendiri. Saat sadar telah ditinggalkan oleh Sakura, Naruto pun bergegas untuk pulang.

"SAKURA-CHAN!!"

"APA?" jawab Sakura yang berjalan sangat cepat mendahului langkah Naruto.

"Besok kita latihan lagi YA!!" seru Naruto seraya melambaikan tangannya ke arah Sakura yang telah berada jauh darinya. "JUMAT NANTI, KITA AKAN BERTANDING, OKE?"

"HAI'... JA NE..."

"OYASUMINASAI..." Naruto memandang sendu ke arah Sakura yang sosoknya telah hilang itu. Masih melambaikan tangannya, ia berharap besar dari latihannya dengan Sakura. "YOSH... S-OKE... I'M COMING..."

Bayangan-bayangan akan sosok manusia yang menelusuri tiap jalan di Konoha membuat seorang Sakura sedikit bergidik. Tapi, saat ia keluar dari jalanan sepi itu dan melihat keramaian di jantung kota Konoha, ia malah ber­waah ria meskipun terlihat jelas warna keunguan di kantong matanya. Langkahnya cepat karena ia berlari, tentu saja. Ia pun akhirnya sampai di sebuah stasiun kereta Konoha agar ia bisa cepat-cepat kembali ke apartemennya dan mengingat sesuatu tentang Sasuke yang ia lupakan. Biasanya, Sakura tidak akan lupa dengan segala hal yang telah dilihatnya, photography memory, tapi sekarang ia benar-benar lupa.

Tak butuh waktu lama bagi Sakura untuk tiba di apartemennya meskipun ketika masih di dalam kereta ia hampir ketiduran. Untung saja, ada seorang nenek yang membangunkannya. Sakura tiba di apartemennya dengan wajah lusuh. Ia merogoh kunci apartemennya yang bernomor 201 itu dari balik kantung roknya. Namun, kuncinya terlepas dari tangan Sakura sehingga terjatuh di lantai. Saat memungutnya, sosok pemuda berambut hitam baru saja tiba di ujung tangga sambil membawa sekantung plastik yang penuh dengan bahan makanan. Sosok itu memicingkan mata onyx-nya; melihat Sakura berusaha mencari kunci apartemennya yang terjatuh.

"Hei, baka onna. Apa yang kau lakukan? Seperti kehilangan jarum atau entah apa."

Sakura mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke. "Ah, Uchiha-senpai, ano... kunci apartemen Sakura terjatuh. Sakura harus menemukannya, kalau tidak, Sakura tidak bisa tidur."

Sasuke merasa seperti menginjak sesuatu. Ia menundukkan kepalanya dan melihat ke bawah kakinya. Ternyata dia menginjak kunci Sakura.

Dia ini. Kalau tidak mau susah dicari kalau terjatuh, kenapa tidak diberi gantungan kunci saja. Sasuke membatin.

"Ini kuncimu. Sebaiknya kau kasih gantungan di kuncinya supaya tidak susah kalau dicari. Hahh... aku masuk dulu." ujar Sasuke sambil melanjutkan langkahnya menuju apartemennya.

"Hah... arigatou. Sakura akhirnya bisa tidur nyenyak..."

"Oh ya, tadi pagi, aku sudah bicara dengan petugas apartemen. Besok, mereka akan memperbaiki gas dan air di apartemenmu. Tapi, kau harus membersihkan kamarmu yang berantakan itu. Kau mengerti?"

Sakura menganggukan kepalanya dan menundukkannya dalam-dalam. "Terima kasih lagi, Uchiha-senpai. Sekarang, Sakura mau tidur dulu."

"Hn."

Kedua pianis yang saling bertetangga itu pun masuk ke dalam apartemen mereka masing-masing. Namun, Sakura benar-benar lupa akan sesuatu yang berhubungan dengan Sasuke malam itu, begitu pula dengan Sasuke. Karena mereka berdua sama-sama lupa, sudah tak jadi masalah. Sakura pun langsung merebahkan tubuhnya ke arah tumpukan-tumpukan bantal dan kantung plastik berisi boneka-boneka di ruang tengah apartemennya dan siap untuk bermimpi sedangkan Sasuke masih saja sibuk dengan masakannya.

"Apakah aku pernah bilang akan mentraktirnya?" tanya Sasuke pada dirinya sendiri. Sasuke hanya mengangkat bahunya dan melanjutkan pekerjaannya di dapur itu.

Malam yang dingin itu dengan cepat berganti dengan kokokan ayam jago di pagi yang cerah. Sasuke bangun lebih awal agar dapat berlatih piano sendiri di ruangan khususnya. Tapi, ia juga tak peduli untuk datang terlambat atau cepat sebab Kakashi pasti akan datang terlalu lambat untuk ukuran seorang instruktur pribadi. Yah, mau bagaimana lagi. Itu memang kebiasaan seorang Hatake Kakashi, si tukang terlambat.

Sasuke baru saja mengunci pintu apartemennya. Ketika ia membalikkan badannya dan mulai melangkahkah kakinya, tiba-tiba saja sebuah pemandangan asing terlihat jelas di depan matanya. Sakura tampak seperti seekor kucing yang selalu menggulungkan badannya. Tapi, Sakura bukan seekor kucing dan tak mungkin Sakura mau berpose seperti itu. Sasuke lalu mengernyitkan dahinya dan mendekati Sakura.

"Hei, bodoh. Kau sedang apa berpose seperti itu?"

"Nggg..." terdengar rengekan kecil dari Sakura.

Sasuke lalu memegang dahi Sakura yang tertutupi oleh poni pink itu. Rasa membakar dibawa oleh syaraf-syaraf telapak tangannya menuju ke otaknya. Sakura terkena demam musim gugur.

"Semalam kau makan apa, hah?"

"Nggg... mi instan." jawab Sakura dengan bibir yang dimanyunkan. Wajahnya berwarna begitu merah seperti tomat masak.

Melihat kondisi kamarnya yang sangat berantakan itu, ia pasti memakan mi instan yang sudah kadaluarsa. Sasuke membatin.

"Kau bisa berdiri?"

"Ngggg...."

"Tidak usah 'ngg' terus. Kau terkena demam tinggi dan satu-satunya obat untuk itu hanya istirahat dan minum paracetamol. Hei..." ujar Sasuke sambil berusaha mengangkat lengan mungil Sakura.

"Mana kunci apartemenmu?"

Sakura lalu memberi kunci apartemennya pada Sasuke. Setelah memutar kuncinya dan membuka pintunya, sebuah pemandangan tak layak terlintas di mata seorang Sasuke.

"Kau masih belum membereskan kamarmu?!" seru Sasuke pada Sakura yang berdiri lunglai.

"Nggg, semalam Sakura sudah merasa kedinginan. Jadi..."

"Dasar."

Tak ada ide lain selain meletakkan tubuh lemas Sakura di apartemennya sendiri. Begitulah yang ada di pikiran Sasuke. Ia tak mungkin meletakkan Sakura yang sedang sakit itu di kamarnya yang penuh dengan barang dan kotor. Ia takut dikira membiarkan seorang gadis malang mati kesakitan di sebelah kamarnya. Sepersekian detik kemudian, Sasuke lalu merogoh kunci apartemen dari balik saku celana panjangnya. Setelah pintu apartemennya terbuka, ia lalu menarik lengan kecil Sakura untuk masuk ke dalam apartemennya yang sangat rapi itu.

Sasuke menyalakan lampu apartemennya yang gelap itu. Ia lupa membuka gorden jendelanya sehingga apartemennya terkesan sangat gelap. Sakura hanya berdiri lemas di ujung pintu apertemen Sasuke.

"Sini. Kau tidur di kamarku tapi kau jangan macam-macam. Aku ambil obat dulu. Kau sudah makan?"

"Hai'."

Sasuke lalu bergegas mengambil kotak obat dari lemari di ruang tengah. Sakura pun berjalan pelan ke arah kamar yang ditunjuk Sasuke. Dengan pelan, ia duduk lemas di sisi ranjang empuk Sasuke yang hangat itu. Sakura memang orang yang benar-benar beruntung tapi mengingat ia sedang sakit, ia cukup tidak terlalu beruntung hari itu.

"Senpai..." panggil Sakura dengan nada lemah.

Sasuke masuk ke dalam kamarnya dan menyodorkan segelas air dan sebutir obat penurun panas pada Sakura. Sakura pun meminumnya tanpa disuruh.

"Uchiha-senpai..."

"Nani?"

"Ano... Sakura harus latihan dengan Naruto. Makanya... Sakura... Sakura harus―"

"Kau istirahat saja. Kalau si dobe tahu kau sakit parah, dia pasti akan sangat khawatir sampai-sampai bisa mengguncang seisi kampus dan membuat keributan tak jelas."

"Demo... hari ujiannya adalah besok... dan, dan, Sakura harus memantap―"

Perkataan Sakura terpotong dengan langkah pasti Sasuke yang keluar dari kamarnya. "Sudah kubilang kau tidur saja. Aku yang akan mengurusinya."

"Me-mengurusi? Bagaimana?"

"Hn. Kalau suhu tubuhmu belum turun sampai besok, aku yang akan menggantikan posisimu." jawabnya tanpa menoleh ke arah Sakura.

"Demo..."

"Tidak apa. Hanya memainkan Spring, kan? Melodi itu sudah pernah kumainkan sebelumnya. Kau beristirahatlah."

"Hai'..."

Sasuke lalu melanjutkan langkah pastinya dan berjalan keluar dari kamarnya yang berornamen coklat muda nan hangat itu. Sakura hanya bisa menatap sendu punggung Sasuke yang semakin lama semakin mengabur itu.

"Arigatou, Uchiha-senpai..."

Sebentar, langkah Sasuke terhenti saat mendengar ucapan kecil dan lemas dari bibir mungil Sakura. Ia hanya mengatakan hn dan segera keluar dari apartemennya. Ia, tentu saja, harus mengunci apartemennya dari luar sehingga Sakura terjebak di dalam apartemennya. Tapi, bagi Sakura itu bukan masalah sebab ia hanya ingin tidur di kasur yang empuk itu. Bantal, kasur dan bedcover serba berwarna putih itu benar-benar membuat tubuh Sakura sangat nyaman. Demam tinggi di musim gugur ternyata selamanya tidak memberi dampak buruk terlebih lagi jika tiba-tiba saja sang kabuto mushi datang menolong sang kupu-kupu yang keletihan karena berlari membantu sang belalang sembah yang terjerat oleh jaring keputusasaan...

TSUDZUKU

KAMUS :

Caninus : taring

Computer geeky : gila komputer

Down spirit syndrome : sindrom turunnya semangat

Hora : hei...

Kouhai : adik kelas.

Software music composer: perangkat lunak komposer musik.

Danke schon : terima kasih (Bhs. Jerman)

Vielen danke: sama-sama (Bhs. Jerman)

Doko nano : di mana?

Dare : siapa?

Iie : tidak.

Sou da : begitu ya?

Sakura no shita de... Watashitachi ni aitai... Kumo ga zettai ni shiroi... Kaze mo hontou ni kirei... :

Di bawah pohon sakura... kita bertemu... awan tentu berwarna putih... angin juga benar-benar indah

-neesan: panggilan untuk kakak perempuan.

Mouthpiece : ujung tempat memasukkan udara dari mulut pada alat musik oboe.

Suteki : mengagumkan!

Omiai kekkon : acara perjodohan.

Oyasuminasai : selamat beristirahat.

Paracetamol : obat penurun panas.

Demo : tapi...

Nani : apa?

Saya harap chapter kali ini bisa memuaskan... (~_~)'. Eto... karena sekarang sudah masuk sekolah, untuk posting chapter-chapter selanjutnya nggak secepat seperti yang sebelum-sebelumnya. Maaf-maaf-maaf. Emi juga udah kelas 3 SMU and yah... banyak hal yang mesti diurusi. Buat PR, ulangan harian, bimbingan belajar, TRY OUT, tes-tes percobaan buat SPMB, de el el (hahh... capekkk...)

MINNA, doakan supaya Emi bisa lulus UAN, UAS, dan SPMB ya! AMIN...

Eto... ini jawaban atas review teman-teman author

hiryuka nishimori : hu hui... akhirnya ada chemistry (kimia? .) nih antara Sasuke dan Sakura. He he... bagaimana menurut kamu? Makasih atas reviewnya. Jangan lupa review lagi ya...

Lil-ecchan : oh ya, maaf kalau sebelumnya saya nggak ngasih arti dari judul fic ini. Artinya ntu, 'Simfoni Kita'. Dan, makasih udah ngereview. Buat, fic kamu yang saya review juga (kalo nggak salah main pair-nya Kiba ma Hinata, maaf lupa judulnya), cepet-cepet di update ya! Thanks!

Furukara Kyu : maafkan atas kesalahan saya yang tidak disengaja itu. Kebalik ya kata-katanya? Maap deh. Trus, udah tau kan siapa dalang (eh maksudna...) yang jadi saingannya sasuke? Ehe... ehe... Trus, di review kamu, kamu nanya apakah Sakura tidur di apartemen Sasuke di chapter 7. Sebenanya sih nggak. Sakura tidur di apartemennya sendiri kok begitu pula dengan Sasuke. Waduh... kalo mereka tidur berduaan, bisa gawat tuh... (sambil garuk-garuk kelapa, eh kepala maksudnya)

kawaii-haruna: hai, mau jawab reviewnya nih! Si sakura itu emang kayak anak-anak banget. Dia sih selalu ngikut-ngikut aja. Kalo dikejar-kejar ma Naruto, di pasti lari-lari gitu... Makasih udah ngereview!!!!

Uchietam : saya juga nggak terlalu pintar main musik. Cuma bisa main pianika ma recorder doang tapi sekarang lagi belajar maen keyboard. And, di review kamu, kamu nanya apa itu konduktor (temennya isolator ya?). Iya juga sih, konduktor itu emang temennya isolator. Tapi, konduktor di sini artinya sama dengan dirigen (pemimpin orkestra musik). Itu tuh, yang suka gerak-gerakin tangan pake baton di depan pemain orkestra klasik. Thanks buat reviewnya! Review lagi ya!

kakkoi-chan : makasih atas pujian akan kalimat-kalimat yang saya rasa terlalu panjang ini. He he he...(hanya bisa terkekeh-kekeh dan tersenyum tersipu-sipu). Oh ya, waktu itu emang Hinata datang buat minta maaf ke Sasuke karena peristiwa di chapter 1 itu tuh... Tapi, Sasuke nggak manggil Hinata kok. Thanks udah ngereview...KEEP REVIEW...

Great thanks ditujukan bagi author-author yang sudah mereview dan nggak sempat saya balas. Di chapter ini. Saya sangat bahagia saat melihat penulis-penulis yang nge-review cerita saya ini. Doumo Arigatou Gozaimasu! Review tambahan masih diharapkan tapi kalau tidak ada ya, tidak apa-apa. Tapi, lebih bagus kalau dikasih review sih, khe khe khe...

~Arigato Gozaimashita~

Emi Yoshikuni