Tanggal 10 Januari lalu, nee-san Emi mesti balik ke Bandung buat lanjutin tugas S2 dari dosennya. Padahal masih ada libur sampe akhir Januari tapi gara-gara misunderstanding, nee-san balik deh ke sana...
Sebagian besar hidup itu kita memang dihabiskan untuk terus belajar, belajar dan belajar...
So, this story is dedicated for all the teachers and students arround the world, include Emi's great teacher (kayak GTO aja), Renold-sensei who is sooo alike Kakashi-sensei (XD, wakwakwak... malu ah!).
P.S : Kalau misalnya Renold-sensei dapat nih situs dan baca fic daku, jangan lupa bilang-bilang (paling juga nggak. Dasar Emi... Emi...)
LESSON 9 : A TEACHER AND HIS STUDENT
Koridor-koridor di lantai lima kampus terbesar se-Konoha itu terlihat sangat hening dan sepi. Seperti tak tampak sedikit pun kehidupan di sana. Tak ada suara maupun derap langkah manusia. Karpet berwarna bloody red yang menutupi seluruh sisi lantai koridornya memberi kesan gelap. Sungguh mengerikan. Meskipun bukan lantai teratas, lantai lima merupakan lantai yang dipenuhi dengan ruangan-ruangan misterius. Hanya orang-orang yang berkepentingan saja yang boleh memasuki ruangan-ruangan itu, misalnya saja seperti Hatake Kakashi. Tapi, untuk orang seperti Hatake Kakashi, ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu kosongnya di tempat terang, bukan seperti di koridor gelap di lantai lima itu. Terang saja, soalnya Hatake Kakashi tidak bisa membaca dengan hikmat buku anehnya yang berjudul Icha-Icha Paradise Vol.3 yang katanya baru saja keluar kemarin dan dalam kondisi 'persediaan terbatas'.
Dan benar saja, ada dua tempat yang sering dikunjungi oleh seorang Kakashi di kala istirahat makan siang. Pertama, taman belakang kampus yang terdapat kursi kayu. Di tempat itu, Kakashi biasanya menyicipi makan siangnya sambil membaca buku. Sebagian besar makan siangnya diperoleh dari siswi-siswi KMU yang mengagumi sosok guru muda berambut perak jabrik itu. Mereka secara diam-diam meletakkan obento ke dalam laci mejanya atau di atas mejanya di ruang guru. Tak perlu susah-susah untuk menjadi sosok yang dikagumi, katanya. Menurutnya, hanya dengan menampilkan sisi misterius dalam dirimu, maka cepat atau lambat para gadis tukang mengikik itu akan menjadikanmu bak dewa Neptunus. Dan itulah resep mujarab dari Hatake Kakashi. Kemungkinan kedua ialah, jika ia tak bisa ditemukan di kursi kayu taman belakang maka ia pasti berada di perpustakaan. Perpustakaan Konoha Music University memiliki luas seperti aula utama gedung orkestra (mungkin seluas Great Hall di Harry Potter). Terlalu banyak rak dan buku yang menjejali ruangan besar itu. Warna ruangannya didominasi dengan putih dan cream. Sangat bagus untuk merelaksasi diri dari rutinitas siswa-siswa KMU yang lelah bermain musik terus menerus. Begitu pula bagi seorang Kakashi.
...
I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign field
...
Ponsel Kakashi berbunyi. Sebuah pesan pendek tertera di layar ponselnya itu. Dengan helaan napas panjang ia membaca surat pendek dari seseorang yang menurutnya very important person dan pasti berhubungan dengan school council.
"Pertemuan dengan orang tua itu lagi. Hahh..."
Kakashi memasukkan buku bersampul jingga yang belum selesai dibacanya ke dalam tas kantornya. Ia pun mengenakan kembali mantel biru tua yang terpasang di kursinya. Tak lupa juga sambil mengacak-acak rambut keperakannya.
Langkah pasti Kakashi terdengar begitu khas. Suara kikikan dari para siswi yang secara tidak sengaja melihat sosok guru pujaannya itu terdengar di telinga Kakashi. Kakashi pun hanya membalas sapaan para muridnya itu dengan senyum tipis, mengingat kedua matanya yang terkesan mengantuk itu. Ah ya! Dia harus memberitahu hal ini pada Sasuke sebelum emosi Sasuke naik lagi. Sudah beberapa kali Kakashi selalu saja lupa untuk memberitahu kepentingannya pada Sasuke yang pernah menungguinya selama tiga jam tanpa hasil di ruangan khususnya. Dan sebagai hasilnya, Kakashi mendapatkan bogem mentah dari the prodigy, Uchiha Sasuke.
Kakashi memilih salah satu nomor dari sekian nomor yang tertera di buku alamat ponselnya. Sebuah nama 'Sasuke' dipencetnya dan terdengar bunyi sambungan masuk.
"Hei Sasuke. Begini, aku ada keperluan mendesak dan tidak bisa masuk di kelasmu setelah ini. Jadi, kau latihan sendiri saja ya―"
Tak ada jawaban dari balik pembicaraan itu. Sasuke tak merespon untuk waktu yang lama hingga akhirnya ia bersuara juga.
"Bukannya sejak tadi kau tidak masuk ke kelasku? Sudahlah, terserah kau saja."
Kakashi terkekeh. Benar juga sebenarnya. Dia memang belum memasuki kelas Sasuke sejak kedatangannya yang begitu telat di kampus. Tapi, biasanya Sasuke akan memarahinya selama beberapa menit sebelum menutup pembicaraan mereka. Kakashi pun sedikit berpikir kalau-kalau Sasuke salah makan atau apa. Sedang sibuk dengan partnernya mungkin, Kakashi membatin seraya berpikir yang tidak-tidak. Dengan helaan napas pendek, Kakashi melanjutkan kembali langkahnya seraya menutup ponselnya yang sambungannya telah lebih duluan diputus oleh Sasuke.
Kakashi masuk ke dalam elevator itu dan memencet tombol bertuliskan angka lima. Sesegera mungkin, elevator yang dimasukinya pun melesat naik ke atas. Tak perlu waktu lama agar sampai di lantai lima gedung utama kampus musik itu. Setelah pintu elevatornya terbuka, satu hal yang selalu Kakashi rasakan apabila berada di lantai lima adalah hening dan sepi. Tak ada suara satu pun kecuali suara langkah kakinya sendiri. Kakashi berjalan menelusuri koridor demi koridor hingga ia sampai di sebuah ujung koridor yang di sisi kanannya terdapat sebuah pintu kayu besar. Tulisan VIP tertera tepat di atas pintu besar itu. Baru saja Kakashi berencana untuk mengetuk pintu itu, tiba-tiba saja pintunya terbuka sendiri. Dengan wajah mengantuk, Kakashi masuk ke dalam ruangan yang sedikit redup dan lama-kelamaan terkena sorotan lampu sehingga membuat Kakashi harus memicingkan matanya.
"Hei Kakashi... Tidak terlambat lagi hari ini?" tanya seorang pria berjenggot yang berdiri sambil melipat kedua tangannya tepat di ujung pintu masuk ruangan luas yang dijejali dengan berbagai kursi meeting dan meja panjang berbentuk oval. Di bagian depan, kursi-kursi itu telah diduduki oleh orang-orang yang bagi Kakashi sudah tak asing lagi. Kumpulan orang-orang tua merepotkan, Kakashi membatin.
Kakashi menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Yah... kurasa begitu. Tak biasanya kau tidak merokok, Asuma."
"Kau tahu kan kalau istriku, Kurenai tidak suka dengan asap rokok apalagi ayah."
"Jadi, hanya di tempat tersembunyi ya kau baru merokok." balas Kakashi enteng.
"Kau juga sama kan. Membaca buku anehmu itu di tempat tersembunyi."
Kedua pria berusia tiga puluhan tahun itu tertawa akan perkataan mereka. "Bagaimana dengan siswa-siswi di kelas A?" tanya Kakashi memecah keheningan sehabis tertawa.
Pria berjenggot yang bernama Asuma itu memasukkan kedua tangannya dalam saku celananya seraya mengangkat bahu. "Yah... kau tahu kan, mereka semua itu adalah anak-anak yang terpilih. Hanya diberi tahu satu kali saja, pasti sudah mengerti. Terutama dengan si nona chairpeson. Wanita elegan yang lihai bermain violin. Tapi sayangnya, sudah beberapa hari ini dia tidak masuk kelasku. Kata teman-temannya, dia mengikuti acara keluarga penting entah di mana. Kau tahu ayahnya kan, si Inoichi itu. Benar-benar orang yang masih menjunjung tinggi adat dan budaya."
Kakashi mendengar dengan baik jawaban dari partner kerjanya di kampus berlogo musik itu. Ia tentu saja mengenal dengan baik Yamanaka Inoichi, salah satu anggota school council yang sangat sibuk dengan urusan di perusahaan otomotifnya. Anaknya yang bernama Yamanaka Ino adalah chairperson kelas A yang begitu banyak dikagumi oleh para siswa lelaki di Konoha Music University tapi ia tampak tak pernah memikirkan masalah pribadinya itu. Sampai sekarang, katanya, ia masih single dan belum pernah sama sekali berkencan atau sebagainya. Wanita cantik nan elegan seperti ini sangat langka, kata Kakashi dalam hatinya.
"Mungkinkah perjodohan? Omiai kekkon sudah sering terjadi di kota ini, bahkan tak jarang ada anak gadis yang masih berusia lima belas tahun dijodohkan dengan anak kerabat orang tuanya, jika perlu." ujar Kakashi dengan mata mengantuk.
"Bicara soal perjodohan, tak pernahkah terbersit di hatimu untuk sedikit memikirkan masa depanmu, ne Kakashi?" tanya Asuma dengan nada sedikit memaksa.
"Ah, ya. Masa depanku ya?" Kakashi memegang dagunya dan menerawang jauh. "Kupikir hal itu masih terlalu cepat untukku. Yahh... aku masih punya banyak fans, jadi... sayang sekali jika mereka tiba-tiba mengetahui kalau sosok idaman mereka ini ternyata sudah dimiliki oleh wanita lain."
"Dasar kau ini. Ngomong-ngomong, tak kusangka muridmu itu terpilih sebagai asisten Maestro Jiraiya di kelas yang dibentuknya kan? Apa namanya? S-OKE?"
"Hnn. Begitulah." jawab Kakashi dengan nada pasrah.
"Ingin sekali melihat seperti apa kelas baru itu. Yang kulihat dari daftar murid-muridnya, mereka semua termasuk dalam kategori underrank. Dan anehnya lagi, Jiraiya-sama memasukkan seorang pianis dalam kelas orkestranya. Hahh, bisa memalukan kalau begitu."
"Tidak ada yang tidak mungkin, Asuma." jawab Kakashi berusaha menentang ucapan Asuma. Senyum tipis dengan mata yang tertutup terlihat di wajah seorang Kakashi. "Mereka adalah kumpulan anak-anak yang kreatif, berbeda dengan kita yang sudah tua dan hanya bisa memprediksi. Lagipula, tidak ada yang tidak bisa kita percayai dari seorang Maestro Jiraiya, ne?"
Asuma menaikkan ujung bibirnya. "Ya.... "
Hening kembali menyelimuti di antara Kakashi dan Asuma. Namun, seketika percakapan itu terhenti oleh kedatangan seorang kakek tua berambut jarang yang sangat dihormati oleh seluruh penghuni KMU.
"Kakashi, kau akhirnya datang juga." ujar kakek tua yang bernama Sarutobi itu. Kakashi pun menundukkan kepalanya, memberi hormat. "Asuma, kau duduklah di depan. Orang-orang dari council itu sudah menunggu presentasimu."
"Baik, Otou-sama." jawab pria berjenggot itu seraya membungkukkan badannya dan sedikit melambaikan tangannya ke arah Kakashi.
"Sarutobi-sama." panggil Kakashi pelan. Orang yang dimaksud berbalik menatap Kakashi. "Apa Maestro Jiraiya hadir di meeting dengan school council kali ini?"
"Mana mungkin si bodoh itu mau duduk diam di kursi hingga berjam-jam lamanya. Dia itu tipe orang yang tidak bisa diam, Kakashi. Aku sudah tahu benar perilakunya sejak dia masih jadi mahasiswa tahun pertama. Paling-palingan dia pergi bersenang-senang di kedai minuman atau berubah menjadi pria genit lagi." jawab Sarutobi-sama dengan raut wajah yang tidak suka alias sedikit marah. Kakashi yang melihatnya hanya bisa terkekeh kecil.
"Jadi..." direktur kampus Konoha Music University itu melanjutkan percakapannya dengan Kakashi. "Apakah si Uchiha itu masih bersikeras akan berpindah divisi di tahun ini, Kakashi?"
Kakashi menatap lama ke arah layar presentasi yang telah berganti warna. Sebenarnya, Kakashi sedang memikirkan jawaban yang tepat. "Terkadang dia berkata demikian. Tapi, sampai saat ini dia belum memperlihatkan aksinya."
"Aksi?" tanya Sarutobi-sama dengan wajah bertanya-tanya. "Aksi apa itu, Kakashi?"
"Yah... dengan mengirimkan surat pemindahan divisi ke Anda, tentunya. Lagipula, dia sedang sibuk dengan sesuatu hal. Jadi, saya biarkan saja dia untuk mengembangkan sayapnya." jawab Kakashi seraya memasukkan kedua tangannya dalam saku mantelnya. "Dia sedang senang dengan sesuatu, saya rasa. Dan kalau sudah seperti itu, sangat susah baginya untuk diinterupsi. Dia orang yang fokus dan loyal."
"Loyal? Apakah itu berkaitan dengan rencana kecilmu bersama Tazuna-sensei tentang murid kesayangannya?" tanya Sarutobi-sama dalam keingintahuan.
Kakashi sedikit berpikir dan kemudian tersenyum. "Ya. Saya rasa demikian."
Sarutobi-sama tersenyum kecil seraya menepuk-nepuk lengan Kakashi, memintanya untuk duduk di salah satu kursi di ruangan luas nan gelap. Lampu-lampu di ruangan itu baru saja dimatikan agar lampu dari LCD-nya bisa dengan baik menyoroti gambar dalam presentasi itu. Kakashi mengambil kursi agak jauh dari tempat Sarutobi-sama terduduk. Kakashi memang tidak suka dengan acara presentasi macam begitu. Dia pasti hanya tertidur di kursinya namun terkadang juga ada seseorang yang selalu membuatnya terbangun. Dan itu pasti salah satu orang dari council.
Lama sekali hingga rapat itu baru selesai. Kakashi yang melihat sambil terkantuk-kantuk cuma menguap lebar. Tak ada satu pun hal yang dapat membuatnya berminat untuk memberi tanggapan atau sekadar bicara selama rapat itu berlangsung. Terlebih lagi jika yang bicara adalah Ketua Danzou. Kakashi sudah tidak berminat lagi melihat isi presentasinya bila orang tua agresor itu telah naik ke atas mimbar dan bicara. Boleh dikata, Kakashi tidak menyukai sikap Ketua Danzou yang terlalu otoriter. Bahkan, sudah sejak lama Kakashi tahu kalau Ketua Danzou sangat menginginkan kursi milik Sarutobi-sama sebagai Direktur Utama dari yayasan di Konoha Music University. Bahkan, pernah terdengar desas-desus yang mengatakan kalau Ketua Danzou menggunakan cara kotor untuk menjatuhkan beliau dari kursinya. Tapi, layaknya seperti orang yang tak punya wewenang bicara apapun, Kakashi tetap memperlihatkan wajah hormatnyapada Ketua Danzou bila mereka bertemu.
Orang tua yang bernama Mitokado Homura menaikkan tangannya dan meminta Kakashi untuk menjelaskan perkembangannya mengajar selama ini. Mau tak mau, Kakashi pun berdiri dari kursinya seraya memberi hormat sebelum duduk kembali di kursinya.
"Yahh... semua itu bukan saya yang menilai, Mitokado-sama. Tapi, tentunya dari para siswa yang saya ajar selama ini." jawab Kakashi enteng dan biasa.
"Begitukah? Saya dengar, Kakashi-san memutuskan untuk mengambil salah satu Uchiha yang itu untuk dijadikan murid. Apa selama ini Kakashi-san tidak merasa terbebani, mengingat pengaruh keluarga Uchiha yang besar itu."
Kakashi menggaruk-garuk belakang kepalanya seraya menatap ke atas langit-langit ruangan rapat yang gelap itu.
"Kalau dia gagal, artinya saya juga gagal. Begitu pula sebaliknya. Seorang murid akan besar karena pengaruh guru dan terutama orang tua mereka. Lagipula... saya tidak pernah melihat dirinya sebagai seseorang yang harus saya perlakukan secara istimewa meskipun Uchiha Fugaku-san adalah sosok yang sangat saya hormati."
Kakek tua itu hanya menganggukan kepalanya. Kakashi yang sangat tegang karena pertanyaan tiba-tiba itu akhirnya bisa tenang juga. Ia menghela napas panjang. Bagian inilah yang tidak disukai oleh Kakashi.
Selang beberapa lama, rapat itu akhirnya selesai. Para orang tua yang duduk di jejeran kursi paling depan tampak sedang membereskan berkas-berkas penting mereka atau ada juga yang hanya mengobrol. Dengan sedikit peregangan tubuh, Kakashi berdiri dari kursinya. Ia melihat Asuma tampak sibuk dengan semua file akan kelas A yang diasuhnya. Tanpa berkata-kata lagi, Kakashi memutuskan untuk segera keluar dari ruangan membosankan itu.
"Hei Kakashi!"
Seorang wanita berambut jabrik yang diikat ekor kuda ke atas dengan rambut yang sedikit jatuh menutupi kedua telinganya tampak menepuk keras bahu Kakashi dari belakang. Kontan, Kakashi lalu membalikkan badannya, melihat sosok wanita itu.
"Ho, nona Mitarashi. Kuat seperti biasanya ya?"
Tiba-tiba saja, wanita bernama Mitarashi Anko itu meninju lengan Kakashi. Kakashi hanya mengeluh dalam hati. "Sudah kubilang, panggil Anko saja, Kakashi..."
"Iya, iya, Anko." ujar Kakashi seraya mengelus-elus lengannya yang ditinju.
Sebuah cengiran lebar keluar dari wajah Anko. "Meeting yang membosankan ya. Fuahhhh... bagaimana rasanya ditanyai oleh Mitokado-sama?"
"Emmm, sedikit tegang. Yah... siapapun pasti akan tegang kan." jawab Kakashi sambil melanjutkan langkahnya yang terhenti. Wanita itu mengikuti langkah Kakashi.
"Ya, ya. Hei, masih sibuk mengajari 'sang adik'?"
Kakashi mengangguk pelan. "Tapi sebentar lagi dia akan masuk ke dalam kelas orkestra milik Maestro Jiraiya. Kalau kau?"
"YAH... Masih mengajar di divisi violin dan besok harus menilai ujian semester keenam muridku yang kuajar di tahun pertamanya hingga tahun keduanya yang katanya tertunda. Tapi... terkadang kita ingin melakukan sesuatu selain pekerjaan kita yang sekarang kan? Saat ini, aku sedang membuka program baru untuk siswa KMU yang berbakat. Kuharap dengan program ini, minat siswa-siwi KMU akan program studi belajar di luar negeri sedikit meningkat."
"Program studi luar negeri?" tanya Kakashi sedikit menunjukkan ekspresi bertanya.
Wanita itu mengangguk seraya memencet tombol di elevator, "Ini." katanya sambil menyodorkan sebuah brosur ke arah Kakashi. "Kalau 'sang adik' berminat, ada kurang lebih sepuluh kampus yang memiliki akses penuh dengan seluruh panggung orkestra terkenal di dunia yang bersedia menerimanya. Terlebih lagi, 'sang adik' adalah the prodigy from Uchiha, pastinya tidak akan susah baginya untuk mendapatkan beasiswa itu. Setelah lulus, ia bisa langsung bergabung di panggung orkestra dunia, bahkan lebih bagus lagi bermain di Phylaharmonic Orchestra. Bagus kan?"
"Sepertinya menarik." balas Kakashi singkat.
Anko hanya tersenyum kecil. "Kakashi―"
Kakashi mengangkat kepalanya dan menatap wanita tomboy bernama Anko itu. "Apa?"
"Muridmu itu― dia perlu dorongan untuk bisa menggapai mimpinya yang besar. Kita direkrut di sini tidak hanya mengajar daun-daun muda tetapi juga memberi mereka alasan untuk tetap menyukai musik dan terus bermain musik sepanjang hidup mereka. Meskipun tidak sesuai dengan harapan kita, kita harus mengerti akan keputusan mereka. Sama seperti kita dulu kan?―
Kedua instruktur itu hanya bertahan dalam diam selama berada di dalam elevator. Sepersekian detik kemudian, Anko melanjutkan kembali kata-katanya.
"―melihat dirimu yang cuek dan acuh-acuhan, sebenarnya kau ingin sekali melawan takdir-mu kan? Kau terus bermain piano hingga jemarimu membiru waktu itu... Tapi, baik Jiraiya-sama dan Tsunade-sama tetap membiarkanmu begitu. Kita yang tak tahan melihatmu hanya bisa berharap dari jauh kau bisa diterima kembali oleh ayahmu―"
"Kita semua punya masalah, Anko." Kakashi memotong perkataan Anko. "Tak hanya aku tapi... kita semua, guru kita, murid kita dan― orang-orang di sekitar kita. Tapi... itu semua tergantung pada cara kita menyikapinya. Mengenai ayahku, itu sudah berakhir. Sekarang hanya ada kita dan daun-daun muda itu."
"Ya, ya, ya. Masih saja ucapan seperti orang tua. Terkadang aku kagum padamu dan terkadang pula aku benci padamu. Di satu sisi, kau adalah sosok guru pujaan para siswi kampus ini. Kau tahu tidak, reputasimu di kalangan siswi-siswi KMU sejajar dengan reputasi muridmu, lho!"
Kakashi yang merasa dipuji hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Wahh, itu artinya aku memang bisa mengalahkan ketampanan mutlak milik keluarga Uchiha ya?" ujar Kakashi dengan nada bercanda. Anko hanya memanyunkan bibirnya.
"Tapi... di sisi lain kau juga bisa bersikap layaknya seperti kakek dan nenekku." balas Anko dengan seringai kecil.
"Heiii... kau mengejekku ya, Anko?"
Anko hanya bisa tertawa dan tertawa hingga pintu elevator itu terbuka. Maka, baik Kakashi dan Anko keluar dan saling melambaikan tangan.
"Salamku buat 'si adik' dan anjing-anjingmu itu, OKEY?" seru Anko sebelum meninggalkan Kakashi.
Kakashi hanya tersenyum melambaikan tangan. "Yo! Kalau saja anjing-anjingku bisa bicara, tentunya."
Mereka menjauh dan pergi ke tujuan mereka masing-masing. Masih saja Kakashi berpikir tentang percakapannya di elevator tadi. Ia teringat akan ayahnya, kemudian Sasuke. Ia memang melihat Sasuke seperti dirinya dulu. Dirinya yang hanya bisa menerima perintah, perintah dan perintah. Saat jiwa bergejolak dan memutuskan untuk mencari jalan sendiri, tak ada yang bisa dilakukan selain terus saja bermain piano hingga kedua tangan ini terasa perih seakan tertimpa oleh bebatuan keras. Sakit sekali tapi rasa sakit itu tidaklah sama dengan rasa sakit akan kekecewaan seorang ayah pada anaknya yang tidak mampu memenuhi keinginannya...
XXxx____xxXX
Suara sepatu yang terus saja diketuk-ketuk terdengar di ruangan khusus milik seorang Uzumaki Naruto. Sudah lama ia menunggu dan terus menunggu akan kedatangan Sakura yang semestinya akan melanjutkan latihan mereka. Sambil melirik sedikit-sedikit ke arah jam tangannya, Naruto berdiri sambil menyandarkan badannya di jendela yang tertutup. Kemudian, ia juga melirik ke arah pintunya, berharap Sakura tiba-tiba masuk dan mengeluarkan suara riangnya. Tapi, yang terdengar kini kesunyian. Sunyi sekali. Benar-benar sunyi.
"HAHHH..." Naruto mengacak-acak rambut pirangnya. Ia benar-benar sangat stres. "Sakura-chan, kau di mana sih?!"
Naruto masih mengetuk-ngetuk sepatunya dan sekarang sambil menggigit jempolnya. Tak lama dalam penantian, akhirnya Naruto mendengar suara pintu yang berdecit.
"SAKURA-CHANNNNNNN........." serunya seraya berjalan ke arah pintu dan dengan kedua tangan yang tampak siap memeluk Sakura.
KRIETT...
Pintu itu terbuka pelan. Naruto, tanpa melihat siapa yang masuk kemudian memeluk sosok itu. Saat sadar kalau Sakura tidak punya otot dan terkesan lebih tinggi darinya, ia pun membuka matanya, memandang sosok yang dipeluknya.
"Singkirkan tanganmu, usuratonkachi..."
Suara seorang yang amat dibenci oleh Naruto terdengar dengan pasti di telinganya. Sadar bukan Sakura yang dipeluknya, ia lalu melompat jauh dan terlihat membersihkan pakaiannya dari aura-aura mengerikan dari seorang Uchiha Sasuke.
"OMAEEEE...." Naruto berteriak ke arah Sasuke seraya mengeluarkan telunjuknya ke arahnya. "KENAPA KAU KE SINI, TEME?!" seru Naruto kemudian.
"Yah... Sakura sedang tidak bisa menghadiri latihanmu. Jadi, aku yang akan menggantikannya." jawab Sasuke dengan ekspresi datar seperti biasa.
"Ke-KENAPA Sakura-chan tidak bisa hadir, hah?!" tanya Naruto masih menunjuk ke arah Sasuke.
Sasuke memutar bola matanya seraya menyilangkan kedua tangannya. "Dia ada urusan keluarga yang penting dan tak bisa ditinggalkan. Bukannya sangat bagus jika Ore-sama* ini menjadi partner latihanmu, hah?" jawab Sasuke dengan nada tenang, padahal ia memberi jawaban yang asal-asalan.
"Tidak mungkin Sakura-chan tiba-tiba saja pergi tanpa memberi kabar sedikit pun padaku. Semestinya ia menelpon dulu sebelum pergi." terdengar raut kekecewaan dari ucapan Naruto. Seketika, ia menjatuhkan kepalanya lemas.
Sebuah helaan napas pendek membuat Sasuke mendapatkan alasan baru. Dengan tenang, ia menjawab kekecewaan Naruto pada Sakura yang tega meninggalkannya.
"Memangnya kau itu apanya dia, hah? Dia punya kehidupan begitu pula kau. Terkadang ada hal-hal yang berada di luar dugaan dan hal-hal itulah yang sekarang terjadi padanya."
"Kau juga apanya dia? Seenaknya saja masuk ke ruanganku dan tiba-tiba bermaksud menggantikan posisi Sakura-chan." ujar Naruto dengan bibir manyun, benar-benar manyun.
Seringai kecil keluar di balik wajah charming Sasuke. "Hanya tetangga yang tidak suka keributan. Lagipula, bagus juga kalau ada sedikit refreshing practice dengan seorang teman lama."
Naruto berdecak pinggang dan menunjuk-nunjuk lagi ke arah Sasuke. "HEI, mentang-mentang aku pernah memintamu jadi partner tapi kau tolak, jangan langsung datang tiba-tiba dan menjadikanku sebagai kelinci percobaanmu, BAKA!"
Ujung bibir Sasuke sedikit naik. Seringainya benar-benar membuat Naruto sedikit kaku dan akhirnya menurunkan telunjuknya. Lama keheningan terjadi, Sasuke pun berjalan kecil menuju piano yang terletak di ruangan Naruto itu. Scorebook yang dipegangnya dihentakkan di atas meja piano, nampak raut kekesalan di wajah Sasuke.
"Dia sudah memberitahu akan semua kesalahanmu, bukan?" tanya Sasuke masih melipat tangan di dada. Naruto hanya mengangguk tapi berusaha mengelak. "Lalu, apa ada kemajuan, heh?"
Setelah emosi Naruto reda, ia kemudian berpikir seraya menggaruk belakang kepalanya. Matanya seakan tak ingin bertemu langsung dengan mata onyx milik Sasuke sehingga ia hanya menatap ke arah langit-langit.
"Sepertinya begitu. TAPI..." tiba-tiba saja Naruto memberi penekanan pada kata terakhir. . "Memangnya benar kalau kau yang menganalisis itu semua, eh?"
Sasuke memutar kepalanya, menatap Naruto dengan mata yang disipitkan. Ia merasa diremehkan, bukan, direndahkan. Naruto tentu saja tidak tahu kalau selain pandai bermain piano, seorang Uchiha Sasuke juga hebat di alat musik string, seperti biola. Sasuke memutuskan untuk masuk ke dalam divisi piano karena merasa kurang akan permainan pianonya. Namun, kendati pun demikian, sebenarnya, alat musik pertama yang berani dipegang oleh Sasuke kecil adalah sebuah viola yang kemudian berkembang menjadi violin.
"First winner of Classic Harmony Championship." jawab Sasuke datar, membuat Naruto terbatuk.
"Apa?!" Naruto terlihat kaget dengan jawaban Sasuke. "First winner apa tadi?"
"Sebelum menguasai piano, aku terlebih dahulu belajar memainkan viola dan violin. Lalu, di usia 15 tahun mendapatkan gelar First winner of Classic Harmony Championship."
Naruto menyipitkan matanya tidak percaya seraya berdecak pinggang. "Heh, pasti hanya perlombaan lokal. Kalau aku sih juga pernah menjadi juara pertama National Junior Competition se-Konohagakure."
Mendengar pengakuan Naruto, Sasuke hanya menyeringai sambil tertawa kecil. Wajah Naruto terlihat sangat bangga akan dirinya. "Se-Konoha?" tanya Sasuke kemudian.
"TENTU SAJA!! DAKARA... ORANG-ORANG MENYEBUTKU SEBAGAI 'WHIZZ KID'."
Naruto masih saja menampilkan wajah bangganya tanpa memandang ke arah Sasuke yang terlihat begitu tenang. Tak ada sedikit pun raut kekagetan di balik wajahnya. Karena merasa tak memperoleh feedback, Naruto pun memandang kesal ke Sasuke.
"Kenapa hanya diam? Kau tidak mau mengakui bahwa di atas langit masih ada langit, Sa-su-ke-kun?"
Sasuke tertawa kecil. "Ya. Tentu saja, di atas nirwana masih ada taman firdaus. Dan taman firdaus itu adalah satu hal yang sama sekali di luar imajinasi-mu, Uzumaki."
"Imajinasi? Imajinasi apa?!" seru Naruto yang kini telah kehilangan kesabaran.
"First winner of Classic Harmony Championship pada kategori violin di negara Sunagakure. Melihat prestasi dunia-musik-klasik negara Suna yang jauh di atas Konoha, bukankah itu adalah taman firdaus yang sesungguhnya, ne U-zu-ma-ki-san?" balas Sasuke dengan nada lebih menyakitkan.
Naruto merasa tertohok. Benar-benar tertohok. Ia bak berubah menjadi patung es di daratan antartika yang dingin. Hening yang membekukan itu terasa seperti berada di antara hamparan padang es dan salju tebal. Ziingg. Siapapun tahu bahkan kalau perlu orang-orang se-Konoha juga tahu kalau negara Sunagakure adalah negara penghasil composer dan conductor hebat yang pastinya akan mendunia. Hal ini pun tak luput dari perhatian seorang Naruto yang masih berusia enam tahun. Melihat dari kejauhan almarhum sang ibu yang tengah bermain violin dan berperan sebagai seorang chairperson di panggung orkestra Sunagakure. Dari situlah bakat bermain violin ia dapatkan.
"Sonna...." hanya itu yang bisa diucapkan oleh Naruto.
"Hahhh, sudahlah. Memikirkan itu pun tak ada gunanya. Tak ada cara lain selain melewati melodiku kalau mau masuk ke panggung orkestra apalagi jika bermimpi menjadi seorang chairpeson." ujar Sasuke sedikit tenang, membuyarkan lamunan kosong Naruto. "Tak ada cara lain selain melawan melodiku, Uzumaki. Jadi, bersiap-siaplah dengan hujan petir yang akan kau dapatkan di tengah-tengah Spring." lanjut Sasuke dengan sorot mata tajam. Naruto yang melihatnya hanya menelan ludah.
Sasuke menggulung lengan sweater merah marunnya dan segera duduk di atas kursi kecil yang terletak tepat di depan tuts-tuts piano. "Ambil violin-mu dan kita mulai latihannya." ujar Sasuke yang membuka tiap lembaran scorebook-nya.
"Hnnnnnn..." jawab Naruto setengah hati.
Sasuke meletakkan kesepuluh jemari uletnya di atas tuts-tuts piano. Ia melirik ke arah Naruto dan menganggukan kepalanya seperti meminta Naruto untuk memulai intro dari violin-nya. Naruto pun mulai menggesekkan bow violin klasiknya dan terdengar sebuah melodi Spring yang riang dan full of joy. Itulah gaya Naruto ketika memainkan violin-nya. Sama seperti Sakura yang penuh dengan emosi, Naruto terus memainkan nada-nadanya dengan raut wajah bahagia dan semangat. Tak lama, alunan piano milik Sasuke mengikuti melodi milik si biola. Dengan cekatan, tiap jemari Sasuke menekan kumpulan tuts-tuts yang menjadi dasar tarian melodi Spring karya Maestro Beethoven. Spring adalah melodi yang indah dan penuh kegembiraan. Telihat jelas dari balik permainan Naruto bahwa ia sedang berkhayal tengah berada di sebuah padang ilalang yang ditumbuhi berbagai bunga musim semi dan serangga-serangga kecil. Kedua mata Naruto tertutup. Ia terus bermain, bermain dan bermain hingga nuansa musim semi yang diinginkan oleh Maestro Beethoven terbentuk dalam khayalnya.
"Padang bunga..."
"Semangat jiwa muda..."
"Padang ilalang, kupu-kupu, belalang sembah, dan kabuto mushi..."
"Harapan untuk terus hidup..."
Naruto membayangkan semua hal yang selalu diperbincangkannya bersama Sakura jika ingin menggapai titian nada sempurna dari Spring. Sasuke merasa ada yang berubah dengan permainan seorang Uzumaki Naruto yang dikenalnya dulu. Seorang siswa menonjol karena memiliki gaya yang sangat berbeda dari sekumpulan siswa-siswi Konoha Music University pada umumnya. Pemain musik klasik pasti identik dengan gaya kasual dan elegannya namun Uzumaki Naruto berani menjadi dirinya sendiri. Ia berusaha membuktikan kepada siapapun akan kemampuan dirinya. Tak hentinya terus saja memainkan biolanya tanpa menyerah. Setiap orang pasti memiliki karakternya masing-masing dan tak harus terkungkung oleh anggapan orang-orang di sekitarnya asalkan ia mampu terus bertahan dari susahnya rasa diterima itu...
Spring adalah spirit jiwa muda, begitu kata Naruto. Tak perlu arti khusus sebenarnya untuk menafsirkan arti dari Spring itu, tak terkecuali bagi seorang rocker. Meskipun Spring harus diakhiri dengan musim yang membuat tubuh kedinginan sekalipun.
"Fuhh..." Naruto menghembuskan napasnya karena merasa puas dengan permainannya. "Bagaimana menurutmu, Ore-sama*?"
Sasuke menatap Naruto yang terlihat berkeringat. Naruto pun menyeka keringatnya dengan punggung tangan kanannya yang dilapisi dengan wristband berwarna hitam. "Cukup banyak berubah."
"Berikan arti yang spesifik, teme." umpat Naruto dengan alis yang bertaut.
Sasuke memutar mata onyx-nya, "Artinya silakan diterjemahkan sendiri, dobe."
Naruto hanya berdecak pinggang dan memanyunkan bibirnya. "Ya sudah, kalau begitu. Kuanggap saja artinya SANGAT BAGUS!"
"Kupikir akan ada hujan petir di tengah-tengah melodi, ternyata kau bisa mengubahnya menjadi rerumputan hijau. Bagaimana gaya permainan violin-mu dapat berubah seperti itu, hah?" tanya Sasuke tiba-tiba seraya melipat tangan di depan dadanya.
Naruto membulatkan matanya, sedikit berpikir. "Mmm... tidak tahu. Tapi... setelah latihan lama dengan Sakura-chan, entah kenapa permainanku sedikit berubah dan malah mengikuti gaya permainannya. HE HE... Jangan-jangan, kau cemburu pada permainan pianonya Sakura-chan ya, Sasuke?"
Sasuke mengangkat bahu. Ia memijit tulang hidungnya yang terasa sangat lelah karena menggantung kedua mata onyx-nya. "Cemburu pun tak ada gunanya. Toh, tak akan bisa berubah."
Naruto mengernyitkan dahinya, menumpu kaki kirinya di atas kursi kayu kecil di dekatnya. Bow violin-nya ditunjuk ke arah wajah Sasuke dan bibirnya mencedut.
"Dengar ya, aku tidak tahu apa masalahmu sekarang ini tapi ada tiga hal yang sangat kuketahui darimu. Pertama, aku tahu kalau kau itu the prodigy sejak tahun pertama kita di kampus ini. Kedua, aku juga tahu kalau kau adalah sosok prince charming bagi cewek-cewek kampus ini. Dan ketiga, aku juga tahu kalau kau pintar segalanya sampai-sampai tak mau membagi kepintaranmu itu pada siapapun―"
Sasuke mengangkat kepalanya, melihat kedua mata biru Naruto yang berkilat-kilat. Ia membalas kernyitan Naruto dengan kernyitan yang sama. Melatih kembali teman seangkatan yang super berisik ini ternyata lumayan menyita waktu juga, sama saja seperti melatih Sakura yang aneh itu, hatinya membatin dalam kepasrahan.
"Tak ada yang memintamu untuk menilaiku. Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai prodigy atau apalah, aku juga tak pernah meminta Tuhan untuk dilahirkan dalam keluarga Uchiha, lalu, tidak pernah berharap punya kepintaran, wajah charming atau apapun itu, dan sebagainya, dan sebagainya." jawab Sasuke datar. Wajah Naruto dilingkupi aura kesal.
"Hei, semestinya kau bersyukur, teme. Memangnya tak pernahkah kau melihat orang yang dengan susah payah membangun jati dirinya hingga ia harus terjatuh berulang kali?" tanya Naruto menanggapi.
"Ya. Itu kau kan?"
Naruto menggembungkan pipinya seraya menunjuk wajah Sasuke dengan bow-nya. "Mungkin memang itu aku. Tapi, sesuai kata Shikamaru, meskipun sekarang aku hanyalah seekor itik buruk rupa tapi suatu saat pasti akan berubah menjadi angsa juga!"
"Yah, baguslah kalau begitu." komen Sasuke memasang wajah letih. "Asalkan kau tahu saja ke mana para angsa itu pergi ketika musim dingin."
"Ha-ha. Lucu sekali, Ore-sama*." balas Naruto dengan nada yang dibuat-buat lucu.
Wajah Sasuke sedikit melemas. Ia mengangkat lagi kepalanya dan menatap langit-langit ruangan yang penuh dengan poster-poster dan plakat-plakat aneh lainnya. Matanya menerawang jauh.
"Sakura... dia sebenarnya yang lebih pantas mendapat gelar-gelar itu." kata Sasuke memecahkan keheningan sesaat. Mata Naruto penuh tanya. "Piano hutan. Itu sebutanku akan permainan pianonya."
"Piano hutan? Seperti pernah dengar deh." Naruto memegangi dagunya, berusaha mengingat-ingat nama seseorang yang juga disebut-sebut sebagai pemilik piano hutan.
"Tentu saja, bodoh. Memangnya kau tidak pernah membaca buku sejarah musisi-musisi profesional se-Konoha apa? Kau ke manakan otakmu itu?" ujar Sasuke sedikit mengumpat. Orang yang diusik malah jadi emosi.
"AKU JUGA TAHU ITU! HANYA SAJA... Hanya saja... hanya saja..."
"Tahu kalau kau bodoh?"
Kedua alis Naruto terpaut. Tampak urat-urat wajahnya diperlihatkan. "BUKAN! Piano hutan itu milik seorang pianis wanita legendaris yang juga alumnus di kampus ini berpuluh tahun yang lalu kan?"
"Hah, akhirnya ingat juga. Tapi, wanita itu secara tiba-tiba menghilang entah karena apa. Yang kubaca dari laporan pengakuan teman-teman sekampusnya, sebelum peristiwa itu terjadi, wanita itu sempat bertemu dengan seorang pria yang katanya adalah kekasihnya yang juga siswa di kampus ini. Hanya saja, mengetahui ia berasal dari keluarga terpandang, maka, orang tuanya pun melarang hubungan itu, jadi―"
Sasuke tak sempat menyelesaikan perkataannya karena tiba-tiba saja Naruto memotongnya. "PASTI KEKASIHNYA ITU MEMBAWA LARI SI WANITA! Yaaa... pasti itu. Hahh... benar-benar kisah klasik percintaan bak romeo dan juliet. Benar-benar menyedihkan." kata Naruto sok bergaya bak pujangga. "Jangan-jangan, Sakura-chan hilang entah ke mana juga karena dibawa lari oleh kekasihnya. Tidakkkkkk...... Sakura-chan... kenapa kau mendahuluiku?!"
Entah kenapa Naruto bergaya terlalu berlebihan. Sasuke hanya memukul wajahnya dengan telapak tangannya. Mengingat Sakura yang tak pernah membersihkan kamarnya sendiri, kemudian suka mencuri obento orang lain, berlari-lari tak jelas, doyan makan, rapuh, suka traktiran, dan lain-lain, dan lain-lain, Sasuke tidak pernah membayangkan kalau Sakura punya secret admirer.
Si bodoh itu? Kekasih? Hahh... Sasuke membatin.
"Memangnya kau tahu apa tentang kisah Romeo dan Juliet? Bukannya kedua orang itu mati hanya gara-gara cinta irasional? Zaman Renaissance sudah berakhir berabad yang lalu. Kini kita dihadapkan pada sebuah realita hidup yang lebih daripada hanya sebuah cinta konyol seperti itu!" seru Sasuke bersikap rasional.
"Pantas saja kau selalu kesepian. Kau bahkan tak tahu bagaimana susahnya menyukai seseorang. Hehh, untuk orang sepertimu sih, hal klasik nan irasional seperti itu tak bisa kau mengerti. Padahal, musik juga harus pernuh dengan cinta, kau tahu."
Mendengar perkataan Naruto, Sasuke sedikit berpikir. Mungkin memang benar kalau selama ini dirinya yang kesepian itu terus saja terkungkung dalam gelap hanya karena ingin berpikir dengan logika. Ia teringat dengan satu cinta yang sudah ia dapatkan sejak ia lahir hingga sekarang. Tentu saja, cinta dari ibunya. Tapi, apakah cinta yang sebenarnya memang sudah diperoleh dan telah berhasil digenggamnya? Ia tak tahu. Tak pernah tahu. Hal klasik nan irasional seperti itu selamanya takkan bisa dipahaminya meskipun hingga hidup ribuan tahun pun. Lalu, ia teringat pada sosok wanita anggun pemilik mata lavender yang indah. Hyuuga Hinata. Awal terjadinya hubungan itu hanya dari sebuah pertemanan sejak kecil, lalu tumbuh menjadi sesuatu yang besar. Hinata, tentu saja sangat menyukai sosok Uchiha kecil ini hingga sekarang tapi orang yang dijadikan kekasih malah tak mengerti dengan hubungan yang dibentuk selama ini. Sebenarnya, cinta itu apa? Pertanyaan itulah yang menjadi dasar relung kepengecutannya terhadap hidup. Sama seperti yang dikatakan oleh Hinata waktu itu...
"Ai? Kalau cinta diibaratkan punya kekasih atau tidak. Dulu, aku punya tapi sekarang dia sudah membenciku, sangat membenciku. Kalau orang-orang bilang, cinta itu abadi dan takkan pernah hilang selamanya, lalu, kenapa dia malah membenciku. Jadi― di dunia ini cinta itu hanya sesuatu yang dianggap sebagai hal fana yang menyenangkan pada awalnya tapi tak tahu apa setelahnya. Yahh, seperti permen coklat tentunya. Atau mungkin seperti pakaian?"
Refleks, Naruto menarik kerah kemeja putih Sasuke yang terbalut oleh sweater. Entah kenapa rasanya ingin sekali menonjok wajah Sasuke saat itu. Naruto mengangkat tinjunya ke atas wajah Sasuke, dekat, sangat dekat. Namun, melihat raut wajah Sasuke yang biasa dan datar―tampak ingin dipukul―Naruto menghentikan geraknya. Ia mendengus.
....
I'm there for you
Never giving up
You know that's true
You will there for me
And I'm there for you
...
Naruto melepas tarikannya pada kerah kemeja Sasuke saat terdengar bunyi ponselnya. Sadar ia juga tak ingin membuat keributan, ia lalu merogoh ponsel dari balik saku jeans hitamnya. Lama ia bicara, seperti dengan orang penting, hingga ia pun memutus pembicaraannya dan menggapai tas biolanya yang terjatuh.
Dengan sigap, Naruto memasukkan violin-nya ke dalam tasnya. Tanpa memandang ke arah Sasuke, ia lalu berjalan keluar dari ruangannya masih dengan wajah kesal. Ia berhenti sebentar di ujung pintu.
"Itulah alasan mengapa dia meninggalkanmu, teme. Kau hanya melihatnya sebagai suatu barang yang tak memiliki jiwa dan tak pernah menghargai besar rasa sukanya pada dirimu yang menyedihkan itu."
Naruto keluar pergi dan menjauh dari pandangan Sasuke. Hening lama dan sepi sekali. Semuanya terdengar samar-samar. Mata onyx Sasuke melihat awan yang bergerak di atas langit, sedikit mengabur dan keabu-abuan. Mungkin saja akan turun hujan. Padahal pagi tadi terasa sangat hangat dan cerah tapi Tuhan malah mengubahnya sedemikian cepatnya. Sasuke hanya menganggapnya sebagai suatu peristiwa alam, biasa dan sering terjadi. Tapi, tidaklah semua di dunia ini harus disikapi dengan logika? Apakah cinta perlu logika? Tentu saja, itulah jawaban dari mulut Sasuke. Tapi, bagi orang-orang di luar sana, kasih sayang adalah suatu manifestasi atas rasa ingin melindungi sesuatu yang berharga hingga akan selalu abadi. Sama seperti musik. Musik butuh penghayatan. Penghayatan diambil dari sisi emosi manusia dan emosi pasti tak jauh dari kasih sayang. Oleh karena itu―
....
I've been waiting for you
Here I come
...
Sasuke merogoh ponselnya yang berbunyi. Dilihatnya sebuah nama yang tidak teralu asing baginya. Bahkan terlalu dikenalnya sampai-sampai ingin sekali menjauh dari orang itu.
"Itachi..."
XXxx____xxXX
KAMUS :
Ore-sama : di sini, yang menyebut dirinya sebagai Ore-sama hanya Sasuke saja. Ore artinya saya sedangkan –sama itu seakan-akan ingin memberitahu kepada seseorang bahwa Sasuke itu memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada Naruto dan para murid di KMU.
Dakara : oleh karena itu
Sonna : tidak mungkin
Oh ya, chapter ini lumayan panjang juga ya? Sebenarnya di chapter ini, Emi berencana masukin Itachi tapi ntar aja deh soalnya nanti malah tambah panjang ceritanya. Emi sedikit lesu akhir-akhir ini. Tak tahu kenapa. Tapi, sedang berusaha bangkit lagi!
Pasti banyak author yang baca fic ini bingung gimana suara melodi dari Sonata for 2 Pianos, Rachmaninoff Piano Concerto 2, Spring, Beethoven Symphony Nr. 7, de el el. Oleh karena itu, Emi cuma mau nyarankan untuk nonton live actionnya Nodame Cantabile kalau para author penasaran dengan melodi-melodi itu. Plus, Emi paling suka Beethoven Symphony Nr. 7 dan Rhapsody in Blue! Tapi, tetep suka semuanya............
Maaf, tak bisa terlalu banyak berkata-kata (-.-)'. Hanya jawaban atas review author-author.
Lady Bellatrix : Ehehe... ketauan ya? Iya sih, sebenarnya fic ini terinspirasi dari live actionnya Nodame Cantabile. Emi mengambil sosok Chiaki Shinichi (uwoo... daku terpesona) ke karakternya Sasuke, lalu Nodame sebagai Sakura. Ehehehe... menurut kamu bagus nggak? Thanks for the review.
Lil-ecchan : Maafkan atas kebodohan saia... ternyata fic kamu yang judulnya Ibara Hime itu udah selesai dalam satu chapter ya? Wahh... saya memang tak jeli. Saya pikir bakalan ada lanjutannya soalnya bagus kalau dikasih lanjutan. Tapi... bagus kok! Hehehh... Thanks for reviewing!
Furukara Kyu : Makasih atas dukungannya! Tetep baca dan baca dan baca dan baca terusssss ya, Kyu-san! Oh iya, Kyu-san punya YM nggak? Bakalan asyik tuh kalo punya YM. YM-nya Emi adalah bigfatliar_uchiha. MAKASIH ATAS REVIEWNYA!!!
kawaii-haruna: Semangatnya Naruto ntuh pasang surut sih, jadinya dia juga nggak percaya diri tapi pas udah ketemu ma piano hutannya Sakura, dia sedikit menemukan jati dirinya (halah...). Gaara itu bukan kakaknya Sakura yang pernah nolongin Sakura waktu kecil, Gaara itu... dia itu... adalah.... THANKS ATAS REVIEWNYA! Oh ya, Emi berencana nge-add YM –nya kawaii-haruna? Boleh nggak? Kalo YM-nya Emi itu bigfatliar_uchiha. Thanks atas waktunya memberi review!!
Uchietam: Hehe, makasih udah mau tetep nungguin kemunculan fic ini. Heee... saya sangat senang. Makasih udah ngereview! Review lagi ya!
kakkoi-chan : Huhuy, Gaara emang akhirnya muncul juga! Tapi, tahukan Anda siapakah Gaara dalam cerita ini. Ada hubungan apa dengan Sakura? Hehe, lihat di chapter-chapter selanjutnya –ditimpuk- ! thanks udah review!!!
Great thanks ditujukan bagi author-author yang sudah mereview dan nggak sempat saya balas. Di chapter ini. Saya sangat bahagia saat melihat penulis-penulis yang nge-review cerita saya ini. Doumo Arigatou Gozaimasu! Review tambahan masih diharapkan tapi kalau tidak ada ya, tidak apa-apa. Tapi, lebih bagus kalau dikasih review sih, khe khe khe...
~Arigato Gozaimashita~
Emi Yoshikuni
