Feel you fear and sweating. Tears are run but you can't run.

Satu lagi chapter panjang. Selamat menikmati!

LESSON 10 : ONIISAMA...

Musim gugur pertama di kota yang setiap saat dilingkupi dengan awan putih dan langit biru itu membuat perasaan setiap orang yang melihatnya menjadi sedih. Musim gugur adalah awal yang dingin, sedingin salju yang membeku. Para orang tua selalu menasehati anak-anak mereka untuk pulang ke rumah lebih awal agar gelapnya malam di musim pre-winter itu tidak membekukan tubuh mereka. Begitu pula yang dilakukan oleh seorang pria yang kini telah menjadi ayah. Ia, sebagai seorang suami dan seorang ayah yang baik terlihat sangat memperhatikan anak pertamanya itu. Di tengah-tengah dinginnya jalanan Golden Bay Street, pria itu berjalan seraya memegangi tangan kecil putranya yang masih berusia tujuh tahun. Mantel dan syal tebal mengelilingi tubuh kedua pria berbeda usia itu. Sang anak merasa sangat senang dengan perlindungan yang diberikan oleh ayahnya kini. Senyum tipis terulas di bibir kecilnya. Pipinya kemerahan, semerah daun ginkou yang berguguran tepat di atas kepalanya. Sang anak berhenti berjalan, membuat sang ayah terhenti juga.

"Ada apa Furuki?"

"Daun ginkounya berjatuhan, yah! Warnanya sangat indah. Akan aku bawa pulang buat adik kecil. Adik kecil pasti senang!" jawab sang anak dengan riang.

Ia tentu saja tak mengerti mengapa ibunya mampu memasukkan seorang manusia dalam perutnya. Banyak sekali pertanyaan dalam benak pria-kecil-berusia-tujuh-tahun itu. Rasa keingintahuannya yang besar kelak akan menjadikannya sebagai putra prodigy dari keluarga pemusik Haruno. Ya. Haruno Furuki bersama dengan ayahnya, Haruno Hatori, kembali melanjutkan perjalanan pendek mereka setelah berhasil mengumpulkan dedaunan ginkou yang berguguran di zebracross.

Langkah demi langkah terjalin di petang itu. Keempat derap langkah akhirnya berakhir tepat di sebuah pagar besar berwarna coklat tua. Meskipun udara yang berhembus membuat si anak kedinginan, sang ayah berusaha mendekapnya agar tubuhnya bisa kembali hangat. Dingin. Tapi, sesegera mungkin rasa dingin itu berakhir ketika sebuah taman maze yang terletak dalam rumah mewah bergaya klasik itu seakan ingin membungkam tubuh mereka. Setelah memasuki area taman, si anak melepaskan dekapannya dari sang ayah dan berlari-lari hingga menuju sebuah rumah bercat putih dan cream. Si anak mendorong pintu itu dan berteriak-teriak tatkala beberapa maid yang telah siap di depan pintu menyapanya namun dihiraukan.

"Ibu... Ibu... Apa adik kecil masih tidur?!"

Sang ayah mengawasi gerak-gerik anak lelakinya yang berputar-putar mencari ibunya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kelakuan anak sulungnya itu. Terlalu senang punya adik, sang ayah membatin dalam kepasrahan. Sang maid yang menyapa si tuan besar kemudian mengambil mantel sang tuan yang telah dilepaskannya. Sang ayah kemudian memegang pundak sang anak.

"Furuki, lepaskan mantel dan sepatumu dulu baru ketemu sama ibu. Nanti kamar ibu dan adikmu bisa kotor. Kasihan kan dengan nona Isaribi kalau harus membersihkan lantai rumah ini terus-menerus?" ujar sang ayah menasehati dengan senyum hangat.

Sang anak hanya memanyunkan bibirnya. Rambut merah kecoklatannya terlihat bergoyang terkena suatu hembusan yang berasal dari ujung tangga lantai dua. Seketika, sang anak memutar kepalanya dan melihat ibunya yang terlihat kesusahan berjalan.

"IBU........" teriak sang anak, menghiraukan nasehat ayahnya.

"Jangan lari-lari Furuki-chan, nanti jatuh."

Sang ibu mengenakan sebuah gaun tidur yang menutupi seluruh tubuhnya yang agak gempal. Ia memegang abdomennya yang membuncit dan mengelus-elusnya. Rambut merah mudanya yang panjang diikat menyamping ke bawah. Wajah sang ibu benar-benar lelah namun senyum malaikat yang pasti dimiliki oleh semua ibu di dunia ini selalu melekat di wajah sayunya.

"Apa adik kecil masih tidur? Furuki mengumpulkan beberapa daun ginkou yang jatuh berguguran buat adik kecil. Dia pasti senang!"

Sang ibu memejamkan matanya tersenyum ke arah anak lelakinya yang riang itu. Lalu, sang ibu berganti mengelus-elus kepala sang anak dengan pelan. Sang anak sedikit tertawa dan tersenyum ceria. "Adik kecil masih tidur, Furuki-chan. Dua minggu lagi adik akan bangun. Furuki-chan pasti akan sangat senang melihat wajah adik kecil kalau bangun. Jadi, jangan dibangunkan sekarang ya."

Sang anak menganggukkan kepalanya, berusaha mengerti dengan seluruh bahasa yang diberikan oleh sang ibu kepadanya. Sang ibu pun hanya membalasnya dengan senyuman yang lembut, membuat sang anak semakin menyayangi sang ibu dan sang adik yang masih tertidur lelap...



Di usianya yang kini menginjak dua belas tahun, anak laki-laki normal seusianya itu pasti akan keluar dari rumah dan bermain sepak bola atau lempar bola kasti dengan teman-temannya. Tapi, yang dilakukannya kini hanya menatap langit biru musim semi dari balik jendela loteng rumah mewahnya yang tak bermandikan cahaya apapun, gelap dan suram, cocok dijadikan sebagai rumah hantu. Ia menyandarkan dirinya di sisi jendela seraya sedikit-sedikit melirik ke arah scorebook lusuh yang telah berulang-ulang kali dibacanya. Beethoven Symphony Nr. 9. Itulah judul scorebook yang tengah dibacanya. Merasa bosan dengan semua not itu, ia lalu kembali menatap langit dan sedikit menurunkan arah tatapannya menuju sebuah pohon Sakura yang tengah berguguran. Terlihat sangat indah namun sangat disayangkan bila harus berguguran di mana-mana. Kelopak-kelopaknya beterbangan dibawa angin seakan-akan menari-nari di langit pucat itu. Kemudian, ia teringat dengan warna merah muda itu. Warna yang sama dengan seorang gadis kecil yang sangat ribut dan ceria. Ya. Itu adalah adiknya, Haruno Sakura.

"NII-CHAANNNNNN......"

Khayalan pria muda berkelakuan bak orang dewasa itu terbuyarkan oleh suara berisik dari arah koridor loteng. Terdengar juga suara pintu yang dibuka perlahan kemudian dengan paksa. Sang adik ternyata tersangkut di pintu yang tampak terbuka-tidak terbuka itu. Ia meringis minta tolong pada sang kakak yang hanya menatapnya kosong dari arah dalam.

"NICHANNN... TOLONG BUKAKAN PINTUNYA... Sakura tidak bisa masuk..."

Akhirnya, tak tahan melihat rengekan "palsu" adiknya, sang kakak pun melangkahkan kakinya menuju pintu loteng gelap itu. Langkahnya terdengar khas, mengingat lantai kayu loteng itu yang agak rapuh. Dengan sebuah hentakan keras, sang kakak menarik kasar pintu yang sudah rusak itu. Alhasil, engsel pintunya lepas.

"AH! Pintunya RUSAK!" seru Sakura seraya masuk ke dalam loteng gelap itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat perbuatan sang kakak yang kelewatan. "Ck, ck, ck, itu hal yang berbahaya nii-chan. Kalau ayah tahu nii-chan merusak pintu, ayah pasti marah besar!"

Sang kakak hanya berdecak pinggang, terlihat tak ingin terlalu banyak mengurusi hal macam itu. Baginya, tak akan jadi masalah kalau sudah merusakkan pintu ruangan gelap dan "tak berpenghuni" itu. Kecuali jika merusak pintu ruang tamu, tentunya.

"TAPI... ITU ARTINYA NII-CHAN ADALAH ORANG YANG KUAT! MMM... seperti orang-orang GEMUK yang suka mengangkat orang-orang di tv!"

"Itu bukan tontonan untuk anak-kecil-sok-tahu sepertimu, Sakura." komen sang kakak masih berdecak pinggang. Sakura yang mendengar komentar kakaknya hanya menggembungkan pipinya yang benar-benar merah. Melihat ekspresi sang adik yang begitu lucu bak boneka kelinci, sang kakak pun mencubit pipi adiknya itu. Sakura pun hanya meringis.

"Sakura lebih baik bermain boneka barbie dan mengadakan upacara minum teh dengan boneka kelinci di kamar. Tidak boleh ke tempat ini lagi. Mengerti?" kata sang kakak dengan senyum tipis.

Sakura menggelengkan kepalanya dengan keras. Ia malah mengikuti pose kakaknya yang juga berdecak pinggang. "Sakura menolak!" serunya dengan nada tegas, membuat sang kakak mempertautkan kedua alisnya.

Lama keheningan terjadi antara kakak dan adik itu. Maka, sang kakak pun memutuskan untuk menggelitiki seluruh tubuh sang adik hingga sang adik mau juga keluar dari tempat gelap nan suram itu. Kedua bersaudara periang itu kini malah main kejar-kejaran di sekitar koridor lantai dua yang lebih terang dan membuat kegaduhan. Para maid yang tengah sibuk dengan kepentingannya hanya bisa memiring-miringkan tubuh mereka ketika kedua manusia ribut itu berlarian ke arah mana saja. Mereka terus berlari dan saling berkejar-kejaran hingga pelarian mereka berhenti di kamar sang adik yang berornamen pink, sang adik pun melompat ke arah spring bed queen size-nya. Sang kakak pun juga melempar tubuhnya ke atas tempat tidur sang adik yang dipenuhi dengan berbagai bentuk boneka kelinci itu.

"Hh, hh, hh..." sang kakak berusaha mengambil napas seraya memejamkan matanya.

Melihat sang kakak yang terlihat kelelahan, tampak gurat kekhawatiran dari wajah sang adik. Sang adik pun meletakkan kepalanya tepat di atas kepala sang kakak yang terhenyak di atas spring bed-nya. Rambut pink bubblegum sang adik sedikit terjatuh dan menutupi wajah sang kakak. Sang kakak merasa tergelitik akan ujung-ujung rambut sang adiknya itu.

"Geli, Sakura." ujar sang kakak seraya membuka kedua matanya yang terus terpejam.

Sang adik mencubit hidung tirus sang kakak. Sang kakak pun hanya meringis. "Aaaa..."

"Itu balasan karena sudah mencubit pipi Sakura dan sudah menggelitik Sakura." balas Sakura dengan nada tegas, kedua tangannya diletakkan di pinggulnya.

Sang kakak pun bangkit dari posisi tidurnya dan mengacak-acak rambut merah kecoklatannya. Tatapannya berubah ketika melihat sang adik yang seperti itu. Tatapan ingin terus melindungi dan tidak ingin dilepaskan. Itulah naruni milik seorang kakak. Naruni seorang Haruno Furuki di usia menuju remajanya. Iris matanya yang berwarna coklat itu terlihat sangat hangat. Sang adik pun merasakan hal yang senada.

"Sakura tahu kenapa Sakura diberi nama oleh ayah dan ibu seperti nama bunga yang indah itu?" tanya Furuki memecah keheningan sesaat. Tatapannya melembut, seperti berusaha membaca pikiran Sakura.

Sakura bergumam panjang dan akhirnya menemukan jawabannya. "ITU KARENA SAKURA SANGAT IMUT! Seperti nona kelinci...." jawab Sakura sambil terkekeh-kekeh dan memeluk boneka kelinci putih bergaun pink.

Furuki berusaha mendekatkan dirinya dengan tubuh kecil Sakura. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura sehingga ujung hidung mereka saling bertemu. Mata emerald Sakura yang bulat dan besar itu menatap bingung ke arah mata coklat sang kakak yang terlihat sayu dan sedih.

"Itu karena Sakura memiliki mata seindah permata zamrud milik dewi Aphrodite kemudian helaian rambut seindah bunga cherryblossom dan wajah imut seperti nona kelinci. Menurut Nii-san, Sakura lebih cantik dari 'Sakura'."

Mendengar perkataan yang terakhir, Sakura menjadi bingung dan mengerutkan keningnya. Sakura tak mengerti dengan hal itu. "Sakura lebih cantik dari 'Sakura'? Apa itu artinya kalau Sakura lebih jelek dari pohon Sakura?" tanya Sakura agak kesal, salah menafsirkan.

Furuki menjauhkan wajahnya dari wajah sang adik dan memulai rencana kecilnya, mengacak-acak rambut pink sang adik sampai lusuh dan tak beraturan. Furuki baru ingat kalau gadis berusia lima tahun itu akan sulit memahami maksud dari kalimat bermajasnya. Namun, Furuki terus melakukan aktivitasnya mengacak rambut sang adik hingga Sakura mengelak dan mendorong sang kakak.

"Sakura TIDAK JELEK!!!" seru Sakura tak mau disebut jelek. Padahal Furuki tak pernah mengucapkan kata jelek.

"Ya, Sakura memang tidak jelek tapi sangat-sangat-sangat jelek." balas sang kakak berusaha menggoda Sakura..

"MUKYAAAAAAA... NII-CHAN JAHAT........."

"Jelek..." kata Furuki ingin membuat sang adik kesal.

"TIDAK!!!"

"Sakura sangat jelek..."

"IIAAAA...."

"Jelek, jelek, jelek..."

"Tidak, tidak, tidak!!!" seru Sakura sambil mengusap matanya dengan punggung tangannya. Ternyata ia menitikkan air mata, sedih disebut jelek oleh kakaknya. Kegiatan bercanda itu memang akan menjadi serius saat kita mulai mengusik hati kecil seseorang.

Furuki menghela napas pendek dan menarik kedua tangan adiknya yang berusaha menutupi air mata yang membasahi kedua pipi merahnya. Dengan pelan Furuki mendekap sang adik dan memeluknya dalam-dalam. Telapak tangannya mengelus rambut pink-nya dengan pelan.

"Iya, iya, Sakura tidak jelek. Sakura adalah gadis imut seperti nona kelinci. Jangan menangis lagi. Kalau Sakura nangis, nona kelinci juga ikut sedih. Nanti, nona kelinci tidak mau bermain dengan Sakura lagi. Jadi― Sakura tersenyum lagi ya."

Sakura masih terisak dalam dekapan sang kakak dan kemudian, akhirnya isakan itu lama-kelamaan melemah dan tak terdengar lagi. Perlahan, Sakura melepas dekapannya dari sang kakak dan mulai tersenyum lagi. Sang kakak pun menghapus sisa air mata Sakura dengan ibu jarinya.

"Masih ingat dengan melodi pertama yang Obaa-chan ajarkan padamu Christmas?" tanya Furuki sambil menerawang jauh. Sakura meletakkan telunjuknya di dagunya dan berpikir.

"Ngg... Symphony Nr. 7?" tanya Sakura pelan.

"Mau bermain?" ajak Furuki ke arah Sakura. Sakura pun menganggukan kepalanya seraya menyerukan persetujuannya.

Maka, dua bersaudara itu beranjak dari tempat tidur milik Sakura dan berjalan menuju piano hitam besar yang terletak tepat di depan jendela-jendela tinggi di kamar Sakura itu. Furuki mengambil kursi dengan ukuran yang lebih panjang dan meminta Sakura untuk duduk di salah satu ujung kursinya sedangkan Furuki duduk di ujung kursi satunya.

"Nii-san yang akan memainkan nada mayor dan Sakura yang memainkan nada minor. Ok?" ujar Furuki. Sakura hanya mengiyakan.

"HAI'!"



Di akhir musim gugur itu, sang kakak harus kembali ke asrama Kumogakure Private Music Academy dan hal itu membuat sang ibu tampak kewalahan menghadapi tingkah manja sang adik. Tak ada sandaran lagi bagi dirinya yang rapuh dan lemah itu. Tak ada sang kakak yang akan menemaninya. Tak ada partner bermain piano. Tak ada lagi kejar-kejaran maupun dongeng sebelum tidur...

"Sakura akan mendapatkan instruktur baru hari ini. Jadi, bersikap yang ramah ya." kata sang ibu pada sosok Sakura yang tampak tak bergairah.

"Nii-chan jahat..." gumamnya kecil.

"Kakakmu tidak jahat, Sakura-chan. Ia harus kembali bersekolah untuk menggapai impiannya. Kalau Furuki-chan sudah berhasil menggapai impiannya maka sudah tidak akan susah lagi bagi Furuki-chan dan Sakura-chan untuk bermain piano untuk seterusnya." jawab sang ibu dengan senyum lembut seraya membetulkan bandana kuning Sakura. "Tapi, di pertengahan musim salju nanti, kakak Sakura-chan akan kembali pulang. Jadi, tenang saja ya."

Sakura menundukkan wajahnya lemas. Sang ibu yang menatap sedih ke arah putri bungsunya itu kemudian mengecup dahi Sakura, berusaha membuat hati Sakura lebih tegar.

"Seorang perempuan harus kuat dan tegar, Sakura-chan. Kalau Sakura-chan sedih, Furuki-chan juga pasti akan sedih dan tak bisa belajar dengan tenang. Ia pasti sedang gelisah sekarang. Sakura-chan tidak mau membuat Furuki-chan sedih kan?"

Sang ibu mengelus-elus ubun-ubun Sakura dengan lembut. Sedikit demi sedikit Sakura mengangkat kepalanya dan menatap mata emerald ibunya. Senyum tipis tersungging di bibir kecil Sakura.

"Sakura akan berusaha... Demo..."

"Ada apa, Sakura-chan?" tanya sang ibu dalam kekhawatiran.

"Apa ibu sakit? Kenapa setiap saat harus disuntik oleh orang-orang berbaju putih mengerikan itu? Ibu baik-baik saja kan?"

Gurat kesedihan melanda wajah sang ibu. Tak ada lagi wajah merona merah di balik semburat lembut milik sang ibu. Yang kini ada hanya senyum pahit. Pucat sekali, seperti manusia tanpa darah. Melihat sang anak yang juga khawatir akan dirinya yang lemah, sang ibu pun kembali memeluk erat Sakura, erat sekali, seperti tak ingin melepasnya.

"Sakura-chan, ibu baik-baik saja kok. Orang-orang berbaju putih itu hanya memberikan makanan tambahan buat ibu supaya ibu tetap semangat, seperti Sakura-chan. Jadi, tidak usah khawatir ya."

Dengan mudahnya, sang ibu berhasil membohongi Sakura. Ia tahu penyakit cyrosis hepatis itu tak lama lagi akan menghancurkan seluruh organ tubuhnya yang lain. Sang ibu masih bisa bertahan dengan bantuan suplai darah guna melakukan pencucian darah dan obat-obatan lainnya. Untuk apa menjelaskan hal rumit seperti itu pada anak berusia lima tahun? Tak ada artinya. Toh, tak ada pula yang peduli...



Seorang pria berkumis bertopi pemburu datang mengetuk ruang melodi Sakura yang sedang asyik memainkan salah satu karya Maestro Choppins. Alunan nada cepat dan riang. Kedua mata terpejam dan kepala yang digerak-gerakkan ke sana ke mari. Pria itu mendekati Sakura dan kemudian menghentakkan topi pemburunya di atas meja piano Sakura. Sakura pun terkaget dan menghentikan permainannya.

"Apakah itu cara yang diajarkan oleh orang tuamu dalam memainkan piano?" tanya pria itu dengan seringai tipis, membuat Sakura bergidik ngeri.

"Bukan. Obaa-chan yang mengajari Sakura." jawab Sakura kecil.

"Begitu ya?"

Seorang gadis berusia lima tahun akan kehilangan jiwa kekanakannya bila sesuatu yang tumbuh dalam hatinya ditekan dan dilarang untuk dikeluarkan. Dan itulah yang terjadi pada Sakura. Ia ingin lari tapi tak bisa. Ayahnya adalah orang yang kolot. Entah kenapa semakin bertambah usianya, beliau semakin otoriter. Sebagai keluarga Haruno, mengetahui peraturan dengan baik adalah di atas segala-galanya, tak ada pengecualian. Begitulah motonya. Sakura merasa telah kehilangan sosok seorang ayahnya akhir-akhir ini. Kemudian sang ibu, entah kenapa sang ibu selalu saja dibawa ke rumah sakit. Dalam seminggu, sang ibu pasti akan mengunjungi rumah sakit lebih dari sekali. Tapi, bagi Sakura kecil, itu adalah hal biasa. Namun, inilah titik balik dari awal hidupnya yang rumit itu...

"BERHENTI MENUNJUKKAN RAUT WAJAH SEPERTI ITU!"

Sakura menghentikan gerakan jemarinya. Melodi itu rusak dan hilang. Sakura tidak suka dengan semua perkataan-perkataan saat ia bermain piano. Sudah tak ada lagi rasa cinta akan terus memainkan piano. Hanya ada rasa benci. Benci. Benci.

"YAMETE!" serunya seraya berdiri dari kursi piano dan berlari jauh. Sang instruktur kemudian mengejar Sakura dan menarik pergelangan tangannya. Namun dengan sigap, Sakura lalu menggigit tangan instrukturnya. Sang instruktur mengerikan itu pun hanya meringis akan gigitan Sakura. Sakura kembali berlari dan keluar dari rumahnya dengan hanya membawa nona kelinci bersamanya.

"KEMBALI KAU ANAK NAKAL! KAU PIKIR DENGAN MENAMPILKAN RAUT WAJAH SEPERTI ITU KAU SUDAH DIKATAKAN TELAH MENGUASAI PIANO, HAHH?! SEORANG PIANIS HARUS SELALU MELIHAT KE ARAH SCOREBOOK-NYA! AYAH DAN IBUMU AKAN MALU MEMILIKI ANAK BERWAJAH BODOH SEPERTIMU!!!"

Untuk apa memikirkan semua perkataan tak berujung itu? Sakura tak peduli. Yang bisa ia lakukan sekarang ini hanya berlari. Meskipun dikejar sekalipun, kecepatan larinya tak berkurang. Malah, sang instruktur psycho itu kewalahan menghadapi langkah cepat Sakura kecil itu. Koridor demi koridor, taman demi taman dan pagar demi pagar dilewati oleh Sakura dengan sukses. Tak peduli dengan suara keras bak sirine ambulans di sekitar jalanan gelap itu. Tak peduli dengan para tunawisma ataupun gelandangan di tepi jalan gelap itu. Yang ada hanya perasaan untuk lari, menjauh dari dekapan sangkar monster itu...

"Onii-chan... doko nano?"

Hembusan semilir angin membawa suatu firasat buruk di hati seorang Furuki yang tengah memainkan Beethoven Symphony Nr. 9 di Planary Hall Kumogakure Private Music Academy. Jemarinya tiba-tiba saja terhenti di tengah-tengah melodi. Semua siswa yang mendengarnya beserta dengan para guru hanya terdiam dan ribut kemudian, memandang sang pianis yang berhenti seketika. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat itu dan sepersekian detik kemudian ia menekan sembarang tuts-tuts pianonya sehingga bunyi sumbang aneh terdengar. Furuki berdiri dari kursinya dan mengambil tasnya yang tergeletak di samping kursi pianonya. Ia berjalan menjauhi kerumunan siswa-siswi berjas biru tua yang menatapnya bingung. Bahkan, ia membiarkan para guru mencemoohnya karena lalai menyelesaikan permainannya.

"Oi, Furuki..."

Seorang pria berambut hitam dengan kucir kuda berdiri sambil melipat tangan di salah satu dinding koridor akademi itu. Furuki menghentikan langkahnya dan menatap pria itu.

"Seperti bukan kau saja. Kupikir kau adalah tipe anak baik yang tidak suka melanggar peraturan sekolah apalagi banyak para musisi profesional yang menontonmu tadi. Wah, bisa gawat kan."

Furuki mengembalikan posisi badannya dan melanjutkan langkahnya, berjalan di koridor yang remang itu. Di balik jendela-jendela tinggi itu hanya ada warna putih yang jatuh ke tanah. Salju yang dingin membungkam dirinya.

"Buka urusanmu, Uchiha." jawab Furuki tak peduli dan berjalan lagi.

"Firasat itu lagi? Seperti punya six sense saja." ujar pria berkucir itu dengan senyum menghina. "Haruno Furuki the Prodigy. Kalau aku... hanya Uchiha Itachi yang apa ya?"

Furuki tak menjawab apapun akan semua pernyataan dari teman sekamarnya itu. Uchiha Itachi adalah rival terbesanya. Meskipun sudah menjadi teman sekamar sejak setahun yang lalu, Furuki masih enggan bercerita banyak akan dirinya padanya, begitu pula dengan Itachi. Sinar lampu yang remang itu membuat siluet gelap dari punggung Furuki. Jas akademi biru tua yang melekat di tubuhnya terlihat semakin gelap. Bayangan Itachi yang tertutupi oleh gelapnya malam juga membuat siluet mengerikan. Dengan langkah pasti, Furuki berjalan menyusuri lorong-lorong yang gelap hingga ia berhenti tepat di depan pintu gerbang darurat akademi.

"Sakura..."

Ia membuka pintu darurat itu dan keluar dari sana seraya memandang sebentar ke arah langit gelap yang dihiasi dengan butiran es dingin. Semilir angin membawa sehelai kelopak bunga sakura yang telah rusak dan keing, mengenai ubun-ubunnya. Ia sadar dengan semua perasaan tak enak ini. Ada yang salah dengan adiknya.

Ada beberapa orang yang melihatnya dari arah kejauhan. Ia ketahuan akan kabur dari sekolah. Tanpa sadar, kaki Furuki membawanya berlari dari kejaran para petugas sekolah yang melihatnya kabur melalui pintu darurat. Ia tahu akan perbuatannya yang salah itu. Tapi, entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal di lubuk hatinya. Ia tidak tahu. Sejak dulu ia hanya diberkahi dengan sebuah firasat yang benar-benar kuat akan seseorang yang telah dekat dengannya terutama mengenai kondisi sang ibu yang terbaring lemah di rumah sakit. Mungkin saja itu six sense, seperti yang dikatakan oleh Itachi tapi dia tak percaya. Ia lebih mementingkan kemungkinan terburuk akan firasat malam yang dingin itu.

Salju memang melumpuhkan semua aktivitas setiap orang. Berjalan di zebracross tidak enak lagi terlebih di taman bermain. Sakura yang kebingungan akan ke mana hanya memutar-mutar kepalanya memandangi semua kemungkinan bantuan dari orang-dewasa-baik-hati. Tapi, salju menutupi pandangannya. Semuanya tampak mengabur. Interval napasnya tak lagi teratur. Ia berjalan gontai ke sebuah jalan luas itu. Kaki kecilnya sudah tak sanggup lagi menahan berat tubuhnya yang lemas. Pelarian jauh itu memang terasa begitu berat bagi Sakura kecil. Lemas dan ingin jatuh. Ketika jatuh pasti sakit. Kalau sakit pasti ada yang berdarah. Sorot lampu yang muncul dari balik kepulan kabut salju itu meyakinkan Sakura bahwa rasa sakit yang sekarang dirasakannya berasal dari arah situ. Ia terjatuh di atas tumpukan salju di jalanan gelap dan dingin. Akankah semua pelarian kecilnya berakhir di jalanan itu?



"Merah... sakit... apa itu?"

Semuanya tampak mengabur dan lama-kelamaan gelap. Sakura tak bisa melihat apapun lagi. Kini jalanan sepi itu terdengar samar-samar seperti menderu layaknya keributan di tengah pertunjukan sirkus.

"Sakura harus tegar karena seorang perempuan tidak akan bisa hidup jika tidak tegar―"

"―karena Sakura memilik mata emerald seperi zambrud milik dewi Aphrodite."

"Beethoven Symphony Nr. 7?"

Hanya melodi itu saja yang terus menderu di telinga Sakura di ambang batas kesadarannya itu. Entah sekarang ia ada di mana. Ia tak mengerti. Sakura membuka matanya perlahan, melihat sepasang mata coklat menatapnya sedih. Ia tahu ia tak bisa menjangkau melodi sang kakak saat ini bahkan mungkin untuk sampai kapanpun. Ataukah masih ada secuil harapan?

"Nii-chan?"

"Husst, Sakura tidur saja. Salju di luar sangat dingin lho."

"Obaa-chan... Piano... 7... Sakura ingin bertemu Obaa-chan... Sakura ingin latihan lagi... lebih... lebih..."

"Kenapa Sakura?"

"Supaya Sakura bisa selalu bersama Nii-cha―"

Furuki tahu akan firasat itu. Tak ada lagi yang mampu melindungi Sakura yang rapuh itu, baik ayah maupun ibunya. Semuanya memiliki urusan dan hal-hal lainnya. Ayah yang berubah menjadi otoriter dan lebih suka melakukan perjalanan bisnis dan ibu yang kini terbaring lemah di rumah sakit. Maid? Tak ada yang peduli. Ayah dan Ibu mereka melarang kedua anaknya untuk bertemu dengan keluarga dari pihak sang Ibu, entah kenapa. Hanya sang nenek yang memberanikan diri untuk datang diam-diam dan melihat cucunya yang masih kecil. Lalu, permainan jemari itu dimulai dari hiburan jemari sang nenek di atas piano. Beethoven Symphony Nr. 7 adalah melodi pertama yang Sakura kuasai yang berasal dari sang nenek.

Sang kakak menggendong tubuh mungil sang adik dari atas jalanan bersalju itu. Tak tahu ke mana ia akan pergi. Orang-orang yang meributkan hal itu malah kebingungan tatkala gadis kecil yang ditabrak oleh mobil porsche tua itu sudah tak ada lagi. Furuki harus membawa Sakura ke tempat yang ia inginkan sebab dengan cara itulah sang adik bisa terbebas dari sangkar emas...

"Maaf ya Sakura..."


Sakura tertidur dengan pulasnya di atas kasur empuk milik senpai "terbaik" menurut versinya. Ia bermimpi akan masa lalunya, jauh sekali dari ambang memorinya yang masih tersimpang. Demam tinggi yang mengganggunya membuat Sakura menemukan kembali potongan memori yang pernah hilang. Baru saja, ia sampai pada klimaks mimpi itu sampai-sampai ia mengigau tak jelas. Seperti ingin lari dari sebuah monster jahat yang hendak memakannya. Ia terus lari, lari hingga di lorong gelap. Lorong gelap itu mengeluarkan senoktah cahaya di ujungnya. Sakura berlari menuju asal cahaya itu. Ia berpikir pasti ada seseorang yang akan menolongnya tapi...

"Yamete!" seru Sakura sambil membangkitkan badannya. Keringatnya mengalir. Sepertinya istirahat panjang itu mampu menghilangkan rasa dingin akan demam yang dideritanya. Sakura menyeka keringatnya perlahan. Wajahnya terlihat sangat ketakutan. Telapak tangannya memegang dahinya. Sudah tak panas, hatinya membatin. "Onii-sama..."

"Kenapa Sakura tidak bisa ingat apa-apa, Obaa-sama?"

"Itu karena Sakura terkena syok."

"Apa itu syok?"

"Mmmmm, sulit menjelaskan pada anak kecil lucu sepertimu. Daripada bertanya hal-hal milik orang dewasa, lebih baik Sakura dan nenek bermain piano lagi ya!"

"HAI'!!!"

Pintu dengan sebuah lonceng kecil sebagai bel terbuka. Wangi musim semi yang hangat itu tercium oleh syaraf-syaraf hidung Sakura. Ia menoleh melihat sosok yang masuk ke dalam rumah berkayu itu. Seorang pria muda berkemeja putih membawa sekeranjang buah yang berwarna-warni.

"ONII-SAMA.......... APA ITU?" teriak Sakura kecil kegirangan.

"Menurut Sakura?"

"Mmmm, tunggu sebentar! Ada strawberry, apel, kemudian... er― jeruk, dan... yang berwarna aneh itu apa namanya?"

"Dragon fruit. Ini kesukaan Chiyo-baachan. Iya kan?"

Sang nenek keriput yang ditatap oleh pemuda itu tersenyum lebar. "AHAHAHA... CUCUKU YANG SATU INI MEMANG BENAR-BENAR PINTAR!!"

"Hahh, meninggalkan pesan tentang sebuah teka-teki aneh tepat di kotak pos rumah yang hanya bisa dibuka oleh ayah atau ibu atau aku. Ayah sedang tak ada di rumah dan ibu harus melakukan pengecekan darah di rumah sakit. Mengingat oleh-oleh yang Chiyo-baachan bawa dari liburan di Takigakure berupa buah dragonfruit yang konon katanya sangat mahal dan dapat membuat awet muda itu, tak salah lagi itu pasti jawaban akan teka-teki pot berduri merah milik sang dewa. Bukan begitu, Chiyo-baa-chan?"

"AHAHAHA... Kau pintar sekali, FURUKI...... Pantas saja ayahmu yang bodoh itu ingin kau pindah ke Suna. Lalu... bagaimana kabar Kimiko?"

"Ibu? Penyakitnya masih bisa ditahan sampai sekarang tapi tidak tahu untuk yang selanjutnya. Daripada itu..." jawabnya tanpa raut wajah apapun.

"Begitu ya? Lalu, apa dia masih terus memaksamu untuk mengatakan di mana 'dia'?" tanya Chiyo-baachan dengan ibu jari yang menunjuk ke arah Sakura.

"Ya. Tentunya tidak ada satu pun ibu di dunia ini yang tidak peduli dengan anaknya kan. Hanya saja— ibu sudah mengerti akan kemauan Sakura meskipun tetap bersikeras tak mau bertemu denganmu, Baa-chan."

"Yah, yah, yah, itu semua adalah kesalahanku. Dia begitu juga karenaku. Kalau saja dia tidak tahu semuanya, mungkin saja dia tidak perlu sampai kabur dari acara pertunangannya. Toh, ujung-ujungnya di tertangkap juga."

Hening sesaat hingga Furuki kembali berbicara. "Apa benar kalau ibu hanya anak adopsi?"

Chiyo-baa chan seakan terkejut dengan pertanyaan cucunya itu. Matanya sedikit membulat dan akhirnya kembali tenang. Nenek keriput itu menghela napas panjang.

"Ya. Karena itulah dia kabur. Bodoh sekali aku ini. Seharusnya tidak kukatakan pada Karura. Dia itu bermulut besar."

"Karura-san tidak bermulut besar, Chiyo-baa chan. Karura san dipaksa mengatakan hal yang sebenarnya oleh ibu. Sebagai seorang adik yang baik, Karura san tentu saja tidak ingin membuat ibu menangis-nangis bersujud di kakinya supaya menjawab rahasia yang tak pernah ibu ketahui sejak lahir." jawab Furuki seraya menyilangkan kedua tangannya. "Lagipula— baa-chan terlalu memaksakan cinta ibu pada ayah. Dan yang terjadi sekarang adalah, cinta itu habis dan musnah. Hanya ada aku dan—"

Tiba-tiba Sakura menarik-narik ujung mantel Furuki. Sakura kecil hanya melongo mendengar pembicaraan orang dewasa itu. Telunjuknya memegang ujung dagunya. Mata emeraldnya yang bulat menatap bingung.

"Siapa itu Kimiko, Chiyo-baachan?" tanya Sakura dengan wajah lugu.

Kedua orang dewasa itu menatap sedih ke arah Sakura. Pemuda bernama Furuki itu kemudian sedikit membungkuk hingga wajahnya setara dengan wajah Sakura. Dengan pelan, ia mengelus-elus ubun-ubun Sakura seraya tersenyum pahit.

"Kimiko-san adalah seorang wanita tercantik yang sangat pandai bermain piano, sama seperti Sakura. Kelak, Sakura akan seperti beliau dan piano hutan itu akan menjadi milik Sakura."

"Piano hutan? Apa itu?"

Furuki memejamkan matanya sebentar dan membukanya perlahan. "Saat dewasa nanti, Sakura akan mengetahuinya. Yang penting―"

Pemuda bernama Furuki itu berdiri tegap seraya menatap ke arah piano hitam yang terkena sedikit cahaya matahari dari jendela yang terbuka. Sakura pun memutar kepalanya, memandangi piano yang telah menemaninya sejak insiden waktu itu.

"―Sakura masih memiliki keinginan yang besar untuk terus bermain piano dan berusaha meraih cita-cita Sakura. Ngomong-ngomong, cita-cita Sakura itu apa?"

"Hmmmm..." Sakura memegang dagunya seraya menatao ke langit-langit. "AH! Chiyo-BAA CHAN pernah bilang sama Sakura kalau baa-chan mau melihat Sakura bermain di panggung orkestra! IYA KAN, CHIYO-BAA CHAN?"

Furuki menatap bosan ke arah neneknya. Tatapannya seperti ingin mengatakan "selalu-saja-memaksakan-kehendak-pada-cucumu". Melihat Furuki yang seeprti itu, Chiyo-baachan hanya tertawa lepas.

"HAHAHHAHA... HEI, setiap nenek menginginkan yang terbaik dari cucunya, iya kan, Sakura-CHAN?" ujarnya berusaha membela diri. Sakura pun mengiyakan.

"Yah... apapun itu asalkan berasal dari hati Sakura sendiri, Nii-san akan mendukung. Jangan terlalu membebani diri, oke?"

"HAI'...."



TRIING... TRIING...

Sakura memegang dahinya sekali lagi, memastikan ia sudah baikan. Panas akibat demam itu telah hilang meskipun ia merasa agak lemas. Dengan pelan, ia berdiri dari posisi duduknya dan berjalan gontai ke arah pintu apartemen Sasuke. Merasa tidak enak dengan orang yang terus menekan bel pintu, Sakura lalu memutar otak dan berusaha mencari kunci apartemen lcadangan yang mungkin saja ada di dalam apartemen Sasuke. Alhasil, Sakura pun menemukan sebuh kunci di bawah pot bunga dekat pintu. Sakura memutar kunci pintu itu dan kemudian menatap dua orang laki-laki berpakaian seragam biru tua tengah memandanginya.

"Konnichiwa! Apa Anda mengenal pemilik apartemen di sebelah Anda ini? Kami datang untuk memperbaiki air dan gas di dalam apartemennya tapi beberapa kali ditekan belnya, tak ada jawaban." kata pria gendut yang juga memakai seragam biru tua itu.

"Apartemen sebelah?"

Sakura sedikit mengeluarkan kepalanya dan melihat ke sana ke mari. Saat sadar hanya ada satu kamar di sebelah apartemen Sasuke, ia lalu berteriak. "Gyabooo... i-itu... apartemen, er—apartemen sa-sa-saya..."

"Oh benarkan? Bisa Anda membuka pintunya?" tanya pria kurus lainnya yang membawa kotak kecil yang kemungkinan berisi peralatan khususnya.

"Demo..."

Sakura ingat kalau ia belum membersihkan kamarnya sama sekali. Dan juga, ia teringat dengan perkataan Sasuke di malam sebelumnya.

Besok, mereka akan memperbaiki gas dan air di apartemenmu. Tapi, kau harus membersihkan kamarmu yang berantakan itu. Kau mengerti?

"Mukyaaa... nani ga suru?" ujar Sakura dalam hatinya.

Wajahnya terlihat ketakutan dan kepalanya dibiarkan berputar-putar seperti orang yang kebingungan. Kedua petugas yang memandang Sakura juga kebingungan. Kedua alis mereka saling bertemu.

"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya pria gendut, khawatir dengan keadaan aneh yang ditunjukkan oleh Sakura. "Apa Anda bisa membukakan pintu apartemennya? Soalnya, kami ada pekerjaan lain setelah ini."

"A-ano... ko-kore... eto...." Sakura masih memutar-mutar kepalanya mencari alasan agar kedua petugas itu bisa pergi. Tapi, ia juga berharap supaya air dan gas di apartemennya bisa menyala kembali, hanya saja kedua petugas itu hanya akan memperbaiki air dan gas apartemennya bila ia membersihkan kamarnya yang berantakan itu. "Ehh... kun-kuncinya tertinggal di... di..."

"Kuncinya ketinggalan ya? Oh, baiklah. Bagaimana kalau nona meminta kunci cadangan apartemen Anda dari pemilik apartemen ini. Pasti ada kan?" ujar pria yang kurus itu dengan wajah sok pintar.

"Er......... ehe, se-sepertinya bi—" perkataan Sakura tatkala sang petugas lalu menarik tangan Sakura dan membawanya ke lantai bawah. Terpaksa, Sakura menghadap nenek pemilik apartemen dan meminta kunci cadangan kamarnya, meskipun dengan wajah setengah hati. Kedua petugas itu hanya tersenyum-senyum saat mereka berhasil membantu Sakura mendapatkan kuci apartemennya yang katanya ketinggalan.

Sakura memutar kunci itu dalam waktu yang agak lama. Wajahnya takut setengah mati. Ia tak tahu reaksi apa yang akan diperlihatkan oleh kedua pertugas itu kalai mereka melihat keadaan yang sama dengan yang sebelumnya. Berantakan dan bau dengan sampah bertebaran di mana-mana. Saat pintunya terbuka, kedua petugas itu lalu masuk dengan wajah berseri-seri namun Sakura hanya memegangi jemarinya erat-erat dari luar apartemennya. Lama sekali terjadi keheningan dan tak ada suara, hingga suara teriakan dari arah dalam memekikkan seisi apartemen itu.

"NAN DA KORE??? SAMUI..........."

Kedua petugas itu lalu keluar dan berlari menuruni tangga. Ia tak mau lagi masuk ke dalam apartemen Sakura. Teriakan-teriakan komentar dari para petugas itu membuat gempar seluruh bagian dari apartemen itu. Tapi, bagi nenek pemilik apartemen yang agak deaf, hal itu sudah bukan masalah.

"Gyabooo... Uchiha-senpai pasti akan marah sekali sama Sakura... Mukyaaa...."

Kegemparan yang dibawa oleh kedua petugas itu berlanjut hingga mereka keluar dari pekarangan gedung apartemen itu. Dengan cepat, mereka lari terbirit-birit dan hampir saja menabrak seorang pemuda yang akan memasuki pekarangan apartemen itu. Pemuda itu menatap heran. Entah apa yang membuat orang-orang berpakaian biru itu lari sambil menutup hidung mereka.

"Ada apa sih?" batin pemuda itu bertanya.

Tanpa memperhatikan terlalu lama ke arah keributan, pemuda itu melanjutkan kembali langkahnya. Tepat di depan loker, ia menemukan sebuah nomor yang diketahuinya adalah nomor kamar yang dihuni oleh adiknya. Seringai kecil tercedut di bibirnya. Ia lalu berjalan lagi dan kemudian menaiki tiap undakan anak tangga hingga langkahnya berhenti saat mata onyx­-nya menangkap pemandangan tak biasa. Ia melihat seorang gadis sengsara tengah berdiri lemas di depan pintu apartemen yang tampak terbuka.

"Ha-hai." sapa pemuda itu ke arah gadis berambut merah muda yang ternyata adalah Sakura. Sakura pun memutar kepalanya dan menatap pria itu. Melihat wjah sang pria yang sangat mirip dengan seseorang, ia kemudian menggumamkan sesuatu.

"Uchiha-senpai?"

"Apa? Aku tidak dengar." ujar pria itu berusaha mendengar dengan jelas gumaman Sakura itu. "Kulihat tadi ada dua petugas yang lari terbirit-birit dari arah gedung ini. Kupikir jangan-jangan ada peristiwa kriminal atau apa." Pria itu berjalan pelan ke arah Sakura yang masih bertanya-tanya. Saat pria itu sedikit aga dekat dengan Sakura, ia terlihat seperti sedang mengendus-endus sesuatu. Ia menemukan bau busuk dari arah apartemen Sakura yang terbuka.

"Bau sekali... ini apartemen atau gudang sampah sih?" tanya pria itu berusaha masuk ke dalam apartemen Sakura. Dengan sigap, Sakura lalu mendorong tubuh pria itu dan menutup pintu apartemennya. Ia tertawa kecil.

"A-no... bukan apa-apa kok. Iya, bukan apa-apa."

Pria itu mengernyitkan dahinya. "Kau yakin?"

Sakura menganggukan kepalanya.

"Baiklah, kalau begitu. Tapi—" pria itu tampak meminta Sakura untuk mendekatkan dirinya ke arahnya. Sakura yang ternyata tidak menutup baik-baik pintu apartemennya merasa seperti ditarik oleh pria itu. Tubuh Sakura seperti bergerak maju ke depan dan dengan cepat pria itu membuka pintu apartemen Sakura. Sakura pun hanya terkaget saat tahu ia dipermainkan.

"Woww, ini apartemenmu ya? Hebat juga. Banyak sampah bertebaran di mana-mana. Mau kubantu?" tiba-tiba pria itu menawarkan bantuannya untuk membersihkan kamarnya yang super berantakan itu. Sakura yang mendengarnya hanya terkejut dan merasa tidak yakin.

"Demo... akan merepotkan. Lebih baik tidak usah."

"Tak apa. Kamar yang di sebelahmu itu adalah kamar adikku. Kalau dia sampai berteriak-teriak karena mencium bau apartemenmu ini, bisa berbahaya bagimu."

Sakura memiringkan kepalanya dan tampak bertanya-tanya. "Adik?"

"Ah ya! Maaf, lupa memperkenalkan diri. Namaku Uchiha Itachi, kakak Uchiha Sasuke yang menjadi tetanggamu itu. Hajimemashite..."

"U-U-UCHIHA SENPAI NO ONIISAN?!" tanya Sakura dalam kekagetan. Pria yang bernama Itachi itu malah kebingungan.

"Rupanya kalian sudah saling kenal ya? Hah, tentu saja. Kalian kan bertetangga tapi heran juga dia bisa bersosialiasi sama orang lain. Ma', bisa kita mulai acara bersih-bersihnya, nona—"

"Ah, Haruno Sakura! Sakura to omoimasu!" jawab Sakura tiba-tiba. Itachi yang merasa tidak asing mendengar nama belakang Sakura hanya menghiraukannya tapi yang jelas ia pernah mendengar nama itu.

"Sakura desu ne? Bagaimana kalau kupanggil Sakura-chan saja? Bisa kan?"

Wajah Sakura memerah mendengar namanya diberi kata 'chan' oleh kakak Sasuke itu. Padahal Naruto juga memakaikan kata 'chan' di akhir nama kecil Sakura tapi Sakura tidak merasa memerah atau apa. Sakura lalu tersadar dari lamunannya.

"Tahu di mana menyimpan vacuum cleaner-nya?" tanya Itachi sambil menggulung lengan kemeja putihnya. Sakura kemudian menunjukkan suatu benda diantara tumpukan-tumpukan box makanan di sudut kamarnya. Itachi pun berusaha berjalan mengarungi lautan sampah itu. Entah kenapa ia malah dengan sukarela membantu gadis berambut pink yang baru saja dikenalnya secara tak sengaja. Sepertinya ia memang harus melakukan itu atau jangan-jangan ada sesuatu yang lain?

"Anoo... arigatou gozaimasu!" seru Sakura setelah selesai melakukan acara bersih-bersih dengan kakak Sasuke itu. "Sekarang, kamar Sakura sudah bersih lagi... Mukyaa..."

Itachi menyeka keringat yang berjatuhan di tengkuknya dengan handuk kecil yang diberikan Sakura. Senyum kecil menghiasi wajahnya kala melihat kelakukan gadis bermabut pink itu. Ia teringat lagi dengan sebuah nama yang juga sama dengan nama belakang Sakura.

"Oh ya, tadi kau bilang nama keluargamu adalah Haruno kan?"

Sakura memutar kepalanya dan menatap Itachi. "Hai'. Memangnya kenapa?"

"Mm, tidak. Seperti kenal saja."

"Sou desuka? Ah! Karena Itachi-nii sudah mau membantu Sakura, Sakura akan mentraktir Itachi-nii!"

"Tidak usah. Adikku yang bodoh itu pasti sudah pulang sekarang. Dan pasti dia akan menyuguhi kakaknya ini dengan sesuatu yang enak-enak. Bagaimana kalau Sakura juga ikut bergabung?"

Lama Sakura berpikir. Dia merasa sudah terlalu banyak menerima makanan gratis dari Sasuke. Ia tak ingin memberatkan senpai-nya itu tapi untuk tawaran yang satu ini, sepertinya bagus juga. "Ano... Sakura—"

"SAKURA... KAU DI MANA?" sebuah suara yang sudah dikenal baik oleh telinga Sakura menggaung di sekitar koridor apartemennya. seorang Sasuke sedang mencari-cari Sakura yang menghilang entah ke mana. Sakura pun membuka perlahan pintu apartemennya tapi sayangnya langsung ditarik dari luar oleh Sasuke.

"Ehe... Uchiha-senpai... konban wa..."

"Dasar KAU INI! KENAPA KAU BIARKAN PINTU APARTEMENKU TERBUKA BEGITU SAJA, HAHH?! APA YANG KAU LAKUKAN? BUKANNYA SUDAH KUBERITAHU UNTUK DIAM DI DALAM SANA?!"

Suara keras dari arah pintu itu membuat Itachi penasaran. Meskipun agak samar, ia juga tahu akan pemilik suara itu. Ia lalu berjalan ke arah pintu apartemen Sakura dan melihat adiknya sedang berdecak pinggang.

"Sasuke?"

Sasuke mengedipkan matanya dan menatap orang yang memanggil namanya itu. Ia melihat mata onyx yang sama dengan matanya. Wajahnya perlahan kembali datar.

"Itachi."

TSUDZUKU

KAMUS :

Onii-chan : kakak laki-laki (panggilan sehari-hari)

Obaa-chan :nenek (panggilan sehari-hari)

Nani ga suru : apa yang harus kulakukan?

Nanda kore : apa itu?

Samui : bau

Konnichiwa : selamat siang

Sakura to omoimasu : call me Sakura

Sou desuka : benarkah?

Konban wa :selamat malam

Maaf, update cerita kini hanya seminggu sekali. Maklum, di kelas tiga ini Emi begitu sibuk. Terlalu banyak tugas-tugas dan bimbingan belajar yang harus dilalui. Mohon doanya ya!

Ehe, akhirnya Itachi nongol itu tapi Gaara belum nongol lagi. Tapi, di chapter ini ada gabungan antara masa lalu dan masa sekarang jadi agak membingungkan, mungkin...

Eto... ini jawaban atas review teman-teman author.

hiryuka nishimori : udah di terima belum Y!M-nya Emi? Emi udah ADD lho... makasih udah ngereview ya! Masalah bagian yang itu, maaf kalau harus seperti itu soalnya Emi sudah maksimal ngerjain fic ini mpe menangis darah (-lebay-). REVIEW LAGI!!!

Lil-ecchan : Mm, yang kuliah S2 itu bukan saya tapi kakak saya. KEEP REVIEW!

Furukara Kyu : Ehehe... cuma mau bilang tetep review ya! Selebihnya lewat ponsel aja. Fufufufu...

kawaii-haruna : Eh, tadi pagi, Emi liat kawaii-haruna lagi OL tapi kok nggak dibales-bales? Emi sukanya OL di ponsel, lewat e-buddy. Mau jawab pertanyaan haruna-san, 1) Anko manggil Sasuke 'sang adik' karena Sasuke itu adiknya Itachi yang juga pernah kuliah di KMU. 2) Hubungan Kakashi ma Anko adalah teman sekampus di KMU juga. Tapi, untuk yang seterusnya, hubungannya mungkin bakalan lebih.... 3)Dulu, Naruto pernah minta Sasuke buat jadi pianis di ujian semester enamnya tapi langsung ditolak ma Sasuke. Makanya Sasuke anggap Naruto sebagai teman lama. Makasih udah ngereview!!!!

Uchietam : Spring itu adalah karyanya Ludwig van Beethoven, musisi zaman klasik yang terkenal banget. Pernah nonton filnya Beethoven nggak? Itu tuh, yang anjing besar itu. (gak nyambung sih sebenarnya). Romeo dan Juliet adalah kisah antara gadis kaya dan pria miskin yang kalo nggak salah terakhirnya, baik si Romeo dan Julietnya mati. Yang bikin ceritanya itu Shakespear.

kakkoi-chan : makasih udah kasih semangat! Iya nih, Emi lagi butuh dorongan semangat untuk terus belajar... Kalo nonton live actionnya kan bisa didengar tuh melodinya, nah kalo di baca di manganya, kan cuma ada gambar, nggak ada suara. KEEP REVIEW...

Great thanks ditujukan bagi author-author yang sudah mereview dan nggak sempat saya balas. Di chapter ini. Saya sangat bahagia saat melihat penulis-penulis yang nge-review cerita saya ini. Doumo Arigatou Gozaimasu! Review tambahan masih diharapkan tapi kalau tidak ada ya, tidak apa-apa. Tapi, lebih bagus kalau dikasih review sih, khe khe khe...

~Arigato Gozaimashita~

Emi Yoshikuni