Ehem! Saya ingin meminta maaf atas ketidakpastian akan fic ini yang rupanya menghilang dalam waktu yang benar-benar lama. Saya juga merasa bersalah dengan para readers yang sudah setia menunggu munculnya chapter-chapter selanjutnya –terima kasih banyak!–

Kemarin saya baru saja menyelesaikan UN 2009 tingkat SMU yang benar-benar mendebarkan. Dan, saya rindu sekali untuk kembali menulis fic ini. Saya sudah berusaha keras belajar agar bisa meraih sukses selama menghadapi UN! Mudah-mudahan ikhtiar saya berbuah manis. Amin.

Yosh! Back to the Show! Selamat membaca!


LESSON 11 : TO LEARN SOMETHING FROM HER

Angin musim gugur di malam itu terasa menusuk setiap persendian yang mungkin menempel di sela-sela tulangmu. Semilir angin autumn yang tak lama lagi akan berubah menjadi musim salju begitu menyesakkan dada kala keheningan yang benar-benar tak menyenangkan itu terjadi pada diri kita. Ditambah lagi, suasana kota Konoha terlihat mendukung perasaan itu. Dentingan lonceng-lonceng kecil yang menghiasi sudut jendela rumah makan bergaya France itu sedikit memberikan kesan untuk tersenyum. Yah, tersenyum sejenak sambil melupakan kejadian aneh yang kiranya membuat gadis berambut merah muda ini merasa takenak hati.

Sakura baru saja turun dari kursi belakang mobil sport merah milik Sasuke yang dikemudikan oleh Itachi. Sepertinya Itachi memaksa Sasuke untuk pergi ke suatu tempat setelah pertemuan takterduga beberapa saat yang lalu di apartemen Sakura. yang sangat dibanggakannya. Ia kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu saat ia masih berada dalam mobil.

Sebenarnya ia merasa takenak juga karena ia merasa bersalah tidak mendengar perkataan Sasuke, membiarkan pintu apartemennya terbuka begitu saja dan yang lebih penting ialah keluar dari kamarnya, padahal suhu tubuhnya belumlah terlalu normal. Selama di dalam mobil, ia hanya diam seribu bahasa. Biasanya ia begitu cerewet saat memandangi keindahan-keindahan yang ada di kota Konoha. Sasuke pun melakukan hal yang senada, diam dan memandangi hal yang entah-apa-itu dari jendela mobil di kursi depan. Sakura sedikit mengamati gerakan-gerakan senpai-nya itu. Tak bergeming dan terus saja menatap ke arah jendela. Sakura benar-benar merasa bersalah...

"Auu... Uchiha-senpai pasti kesal..."

Sedangkan sang pengemudi terus mengemudikan mobil otouto-nya itu dengan senyum, lumayan dibandingkan Sasuke yang hanya menampilkan wajah datar saat melakukan aktivitasnya. Merasa taksuka dengan keheningan mematikan itu, Itachi pun sedikit menatap ke arah adiknya yang tampak bad mood dan ke arah kaca spion yang letaknya di atas kepalanya. Ia melihat Sakura yang juga hanya menyandarkan kepalanya di sisi jendela.

Itachi memutar otak, berusaha menghangatkan suasana janggal itu dengan sedikit bercakap meskipun hanya dibalas dengan kata hn panjang dari Sasuke, sedangkan Sakura yang merasa takut dengan Sasuke pun hanya menjawab apa adanya. Merasa kesal diabaikan, Itachi menyalakan tape dan memutar-mutar pencari frekuensi gelombang radio. Ia berhenti memutar saat mendapati lagu aneh yang membuat Sasuke sedikit mengerjap.

"Itu lagu apa sih? Bikin sakit telinga saja."

"Kau taksuka lagu rock, otouto?" tanya Itachi dengan sedikit menyenandungkan lagu ribut itu. Sakura yang mendengarnya juga terkejut.

"Siapapun takkan suka dengan lagu macam begitu, baka aniki."

Itachi mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti dengan selera adiknya yang menurutnya terlalu masochist dan klasik, tipikal cowok jarang bicara. "Hehh... iya, iya."

Setelah insiden lagu rock metal yang membuat keributan di dalam mobil Sasuke yang dikemudikan oleh Itachi, suasana yang hening itu kembali datang. Sakura masih menatap keadaan kota Konoha yang menurutnya sangat menakjubkan. Meskipun langit terlihat gelap dan hitam serta takada bintang yang menghiasinya, kerlipan lampu-lampu kota yang menerangi sudut-sudut arteri utama kota berlambang api berkobar ini membuat Sakura hanya ber-wahh dalam diam.

Pikirannya hanya tertuju pada semua hal yang menurutnya belum pernah ia lalui selama menetap di kota Konoha. Ia merasa belum pernah memasuki area ini sebab yang ada hanya tempat-tempat mewah bergaya klasik yang menurutnya sangat mahal. Sakura pun memberanikan dirinya bertanya saat mobil sport merah itu baru saja melalui pusat keramaian bergaya parlente, dengan sebuah tugu besar serta patung rubah meloncat tepat di hadapannya.

"A-ano..."

"Ano...."

Itachi sedikit memutar kepalanya, melihat Sakura yang ingin sekali bertanya. "Yeah? Ada apa Sakura-chan?"

"Kita tidak salah jalan kan, Itachi-nii?"

"Hmm, kurasa tidak. Memangnya kenapa Sakura-chan?"

"Soalnya..."

Sasuke memutar kepalanya yang sedari tadi terus saja menatap ke arah jendela, ia menatap sebuah patung rubah yang ada di depannya. Ah, sudah lama ia tidak ke tempat itu. Terakhir kali ia ke tempat itu kala ulang tahun Hinata tahun lalu. Saat itu mereka masih menjalin hubungan yang serius dan masih teringat jelas raut wajah senang Hinata saat menerima sebuah kejutan tak disengaja yang datang dari Sasuke. Saat mengingat kejadian lucu itu, Sasuke secara taksengaja menyunggingkan senyum sinisnya. Itachi agak mengerutkan alisnya saat melihat adiknya yang tersenyum-senyum sendiri.

"Kenapa senyum-senyum sendiri, otouto? Hm, kau teringat dengan sesuatu kan? Atau kau memikirkan sesuatu?" tanya Itachi dengan nada menggoda, membuat Sasuke membalasnya dengan tatapan sinis.

"Bukan urusanmu." jawab Sasuke seraya melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Malah, aku berusaha untuk menjawab atas kedatanganmu yang mengejutkan ini."

"Memangnya tidak boleh ya seorang kakak mengunjungi adiknya yang sudah lebih tiga tahun tak ditemuinya?"

Sasuke menghela nafas pendek sebelum menjawab. "Bukan masalah itu. Kedatanganmu membuat orang yang duduk di belakang kita itu kebingungan." ujar Sasuke seraya menunjuk Sakura yang termangu dengan ibu jarinya. Sakura hanya tersenyum aneh. "Dasar, baru pertama kali bertemu dengan orang asing aneh langsung diminta untuk membersihkan apartemenmu. Bagaimana kalau ternyata orang ini adalah pencuri atau pembunuh bayaran yang salah masuk kamar, kau tetap welcome padanya?"

"Ah! I-itu―"

"Ya. Aku sendiri yang berniat membantunya. Dan, aku bukan pembunuh bayaran yang salah masuk kamar, baka otouto." jawab Itachi yang baru saja memutar setiran mobil Sasuke ke kanan, memasuki sebuah area parkir restoran mahal. "Lagipula, untuk ukuran seorang senpai, kau berada pada level bawah, bawah sekali." potong Itachi, berusaha membela Sakura. "Kau semestinya membantu Sakura-chan, baka otouto. Apalagi, Sakura-chan sangatlah manis."

Mendengar kata manis, Sakura malah blushing. Tak pernah sebelumnya ada seorang pria tampan memujinya begitu. Melihat karakter Sakura yang aneh dan suka berlarian seperti anak kecil seperti itu, mungkin di mata para lelaki, Sakura hanya anak kecil yang suka meminta permen. Ia lalu menggaruk-garuk kepalanya yang takgatal, merasa sudah dipuji oleh orang yang tidak terlalu dikenalnya.

"Mahir sebagai playboy ya kau? Benar-benar, pantas saja, selama ini kau terus saja sendiri. Mengingat kau selalu memuji gadis-gadis yang kau temui dalam sehari." ejek Sasuke dengan nada monoton.

"Aku ini pria setia, kau tahu. Yah, bukan masalah sudah sendiri atau sudah dimiliki sebab yang kuincar selama ini juga tidak pernah membalas pujianku. Jadi, sama saja."

Entah muncul perasaan aneh pada diri Sasuke saat mendengar jawaban bernada enteng dari kakaknya yang terkenal akan kemahirannya dalam memainkan stick viola itu. Sudah sangat lama sekali kenangan untuk pertama kalinya piano Sasuke berduet dengan viola sang kakak. Sasuke masih berada di Otogakure saat itu, ia pun mengingat dengan baik bagaimana Mestro Nagato mengajarinya untuk menggunakan kesepuluh jemarinya yang ulet untuk menari-nari di atas tuts-tuts piano. Tidak hanya piano, Maestro Nagato bersama dengan dorongan dari Itachi, melatih kemampuan Sasuke dalam memainkan violin. Ia mampu menguasainya dengan sempurna, bahkan pernah memeroleh rank pertama dalam Classic Harmony Championship di negara Sunagakure. Ia benar-benar senang dengan kemenangannya itu. Dan ia masih mengingat benar suara tepukan tangan orang-orang yang menyaksikan penampilan gemilangnya...

"Uchiha-senpai? Uchiha-senpai?"

Sasuke tersadar dari lamunannya. Ia memutar-mutar kepalanya menatap Itachi yang sudah takada di kursi pengemudi. Sepertinya kakaknya itu membiarkannya hampa sesaat di kursinya. Sakura terus saja mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil sport merah Sasuke, membuat sang pemilik mobil segera membuka pintunya.

"Ano... a-apa ada sesuatu yang Uchiha-senpai pikirkan sampai harus melamun begitu? A-apa Uchiha-senpai sedang mengalami kesusahan? A-a-apa Uchiha-senpai masih-masih-masih marah sama Sa―"

Melihat wajah Sakura yang ingin sekali meminta maaf, Sasuke hanya bisa menghela nafas panjang. Ia mengepalkan tangannya dan menggunakannya untuk memukul pelan kepala Sakura yang dipenuhi dengan rambut lembut berwarna merah muda bubblegum itu.

"Lupakan saja. Yang jelas kau sudah baikan."

Sakura mengangkat kepalanya dan menatap wajah sayu Sasuke yang sepertinya sangat lelah. Dengan senyum kecil, Sakura berusaha untuk kembali ceria lagi.

"Hei kalian! Jangan bermesra-mesraan terlalu lama di depan sana! Malu dilihat sama orang!" seru Itachi yang langsung dibalas dengan death glare oleh Sasuke. Itachi pun bergidik ngeri.

Sasuke berusaha membetulkan letak sweater coklat tuanya yang sedikit terbuka sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu masuk restoran ala France yang menjadi kesukaan kakaknya itu. Sakura bisa mendengar sumpahan dan makian dari Sasuke atas teriakan Itachi tadi padanya namun ia terus saja tersenyum, merasa sangat senang sudah bisa selangkah lebih maju untuk mengenal senpai misterius itu.

"Oi... kau jangan bengong di situ, baka onna." ujar Sasuke yang berjalan kembali ke tempat Sakura terdiam.

"Ah! Iya. Ehe, maaf." jawab Sakura dengan cengiran lebar.

"Ternyata bukan hanya aku saja yang melamun hari ini." kata Sasuke kecil.


Sakura menyandarkan punggungnya di salah satu dari puluhan kursi berbentuk dan berwarna sama di restoran mewah itu. Matanya berbinar-binar saat melihat begitu banyak koleksi lukisan dan maha karya orang-orang terkenal terpampang di sudut-sudut restoran bertema zaman Rennaissance. Itachi memilih tempat yang dekat dengan jendela supaya Sakura bisa menatap sepuasnya keindahan jantung kota klasik di Konohagakure no Sato. Rupa-rupanya Sakura memang tidak terbiasa dengan segala kemahadahsyatan hal yang ada di tempat ia berada. Ia bahkan taktahu bagaimana menggunakan semua alat makan yang diletakkan di depannya oleh seorang pelayan pria berkumis tipis dengan pakaian ala royal servants.

Eto, kenapa banyak sekali alat-alat makan yang Sakura taktahu? Hmmm... yang ini untuk apa, Uchiha-senpai?" tanya Sakura dengan nada polos seperti gadis kecil yang baru mengetahui kegunaan sendok dan garpu seraya menunjuk sebuah sendok berujung besar namun bergagang kecil.

"Itu un―"

"Itu untuk sup, Sakura-chan." jawab Itachi, memotong kata-kata Sasuke. Sasuke yang merasa sedikit diusik hanya memutar kepalanya, takmau menatap Itachi. Rupanya Itachi benar-beanr ingin membuatnya kesal untuk hari ini.

"Ooh." Sakura kemudian menunjuk salah satu pisau makan berukuran lebih kecil. "Kalau yang ini pasti untuk makan steik tapi yang kalau yang kecil untuk..."

"Itu untuk mengoleskan mentega di atas roti seperti garlic bread dan sebagainya." jawab Itachi dengan senyum, membuat Sasuke memangku dagunya dengan telapak tangannya di atas meja.

"Ooh. Tak kusangka begitu banyak sendok, garpu dan pisau makan yang ada di dunia ini!" seru Sakura dengan nada senang. "Biasanya, Sakura hanya memakai satu sendok atau sumpit."

Itachi merebahkan badannya di sandaran kursi empuknya seraya menatap wajah Sakura yang terlihat seperti boneka anak-anak. Gadis yang unik, ujarnya dalam batin. "Kau tidak mungkin menggunakan sumpit untuk makan sup kan? Dan juga, kau tidak akan menggunakan sendok untuk memakan steik. Jadi, untuk itulah sendok-sendok ini diciptakan. Dan― hei, dari tadi kau diam terus. Kau kenapa, otouto?"

Sasuke menoleh dan menatap Itachi yang tersenyum sinis padanya. Dia ini, sebenarnya mau apa sih? tanyanya kesal. Kemudian, Sasuke mengalihkan pandangannya pada Sakura yang menatap bingung ke arahnya. "Aku― baik. Puas?"

"Kau seperti tidak yakin. Apa... ada sesuatu yang lain yang mengusik pikiranmu sampai-sampai tadi kau melamun dalam mobil?" tanya Itachi seraya melipat tangannya.

Saat Sasuke ingin kembali berbicara, saat itu juga beberapa pelayan datang ke meja mereka. Mereka meletakkan pesanan-pesanan sepihak Itachi yang tentu menggugah selera. Sakura menggenggam kedua tangannya erat dan menatap senang ke arah kudapan-kudapan lezat itu. Takpernah ia bayangkan sebelumnya ada lobster sebesar betis atlet angkat besi. Kemudian, datang lagi beberapa piring kecil berisi kerang bersaus dengan sayur brokoli di atasnya, mirip seperti masakan Sasuke, tapi terlihat lebih elegan. Setelah menu utama dihidangkan, sang pelayan menurunkan beberapa piring puding dan gelas es krim berbagai rasa. Meja makan ketiga musisi itu penuh seketika.

"UAAA... OISHII..." seru Sakura seraya memeluk garpu kecil yang sedari tadi dipegangnya.

"Nah! Karena hari ini adalah hari yang patut untuk dirayakan. Ehem! Jadi, tuan rumah yang harus membayar semuanya. Betul kan, o-tou-to?"

"AP-APA?! Kau-Kau-Ka―"

"Yosh! ITADAKIMASU! Sakura-chan boleh mencoba semuanya. Tidak usah malu-malu." ujar Itachi dengan senyum tak berdosa. Sasuke seketika hanya bisa menjadi patung es yang kaku. Ia takbisa menerima semua perlakuan dari kakaknya yang secara tiba-tiba datang ke apartemennya dan dengan seenaknya memintanya membayar semua makanan yang semestinya tidak ia bayar.

"Demo..." Sakura sedikit menatap ke arah Sasuke yang masih terdiam kaku.

Itachi menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mencomot salah satu capit lobster besar yang ada di hadapannya. "Tak usah khawatirkan dia. Kau makan saja, ok?"

"Um, ok. YOSH! ITADAKIMASU!"

Sasuke menggumamkan hal-hal yang takjelas. Bagaimana mungkin ia mampu membayar semua makanan mahal itu, bahkan tanpa persetujuannya. Itachi sudah seenaknya meminta dirinya dan Sakura untuk mendatangi suatu tempat yang ternyata adalah restoran mahal di jantung kota klasik di Konoha. Dasar baka ANIKI!!


Alunan piannissimo bersama Un poco sostenuto - Allegro - meno Allegro Brahms's Symphony No. 1 in C major terdengar begitu merdu dan mampu memberikan kehangatan saat dinginnya malam kala itu sanggup meleburkan jiwa yang gelap. Keindahan harmonisasi dan alunan kompleks memasuki setiap aliran darah dan ikut berdetak pelan bersama jantungmu. Suara percikan air bak melodi harpa yang dimainkan oleh dewi-dewi Athena, meminta dewa perang, Ares untuk menyudahi pertengkaran sengitnya bersama dengan saudara tirinya, Hercules. Kembali pada kenyataan, angin masih saja membawa kabar burung yang tiada henti berisi harapan-harapan untuk mengembalikan sense of music dari pria berambut raven ini. Tapi, itu hanya surat dengan harapan kosong dan pria ini takpercaya dengan semua itu. Ia masih kehilangan hatinya...

Semilir angin dingin menerpa tubuh mungil gadis periang ini. Ia benar-benar lupa untuk membawa syal kesayangannya bersama dirinya, hanya ada pakaian hangat yang melilit hingga ujung lehernya. Sakura mengusap-usap telapak tangannya dan meniupnya dengan hembusan nafas hangat dari paru-parunya. Ia menatap sebentar ke arah air mancur besar yang ada di samping restoran itu sambil sesekali mengusap dirinya yang kedinginan.

Setelah membayar semua pesanan Itachi dengan kartu kreditnya yang untungnya saja masih terisi penuh, Sasuke harus mengurus hal lainnya yang lebih membosankan. Itachi baru saja berbicara dengan pemilik restoran yang ternyata adalah teman semasa kuliahnya di Kusagakure dan Sasuke harus menerima telepon dari salah satu reporter majalah 10 People of Today -sepertinya ia harus menjawab dengan sabar pertanyaan-pertanyaan dari pencari berita yang suka menggembor-gemborkan gosip asal itu-. Saat Itachi kembali ke meja mereka yang sudah sangat bersih, ia takmendapati Sakura di manapun. Dan, ia malah menemukan gadis yang suka tersenyum ini tengah berdiri diam di salah satu ujung air mancur dengan patung leprechaun yang memainkan suling ajaibnya.

Itachi mengambil syal miliknya dan tanpa sepengetahuan Sakura, ia melilitkannya di leher Sakura. Sakura membalikkan badannya dan menatap dalam-dalam ke arah Itachi yang tersenyum kecil. Kedua pipinya yang semerah buah badam terlihat bersemu cerah.

"Kalau tahu di luar dingin, kenapa malah ke sini?"

"Mm, di sini pemandangannya lebih indah." jawab Sakura dengan senyum lebar. "Uchiha-senpai di mana, Itachi-nii?"

"Sedang bicara dengan 'orang penting yang menyebalkan', katanya. Tunggu saja, sebentar lagi dia juga keluar kok." Itachi berjalan mendekati Sakura seraya membetulkan letak syal yang dililitkannya di leher Sakura. "Kalau kedinginan nanti bisa masuk angin. Oh ya, Sakura-chan, apa Sakura-chan selalu memanggil Sasuke dengan Uchiha-senpai? Bukankah itu terlalu― formal?"

Sakura meletakkan ujung telunjuknya di dagunya, seperti mengingat-ingat sesuatu. "Kenapa ya? Soalnya Sakura menganggap Uchiha-senpai adalah orang yang hebat! Makanya, Sakura harus memanggil demikian."

"Oh. Namaku juga Uchiha Itachi, kenapa tidak sekalian saja Sakura-chan panggil aku dengan Uchiha-nii atau Uchiha-niichan dan sebagainya. Atau, Sakura-chan pikir aku tidak sehebat adikku yang satu itu ya?" tanya Itachi dengan nada mendesak, membuat kedua pipi Sakura memerah.

"A-Ano... Ti-Tidak kok! Kalau Sakura memanggil Itachi-nii dengan Uchiha-nii, nanti Sakura bisa bingung. Soalnya, baik Itachi-nii maupun Uchiha-senpai jauh lebih-lebih-lebih―"

"Tua?" sambung Itachi dengan nada lemas. "Hm, kurasa memang lebih baik begitu, daripada Uchiha-nii, Itachi-nii terdengar lebih akrab. Lalu― Sakura-chan siswi divisi piano ya?"

Sakura mengangguk ditambah dengan senyum khasnya, "Yap!"

"Pernah mengikuti concour sebelumnya?" tanya Itachi seraya melipat kedua tangannya, menatap lurus-lurus ke arah Sakura. Percikan air dari arah air mancur sedikit membuat Sakura berjalan menjauh dan mendekati Itachi. Sakura hanya menjawab dengan gelengan.

Sakura menggenggam erat syal milik Itachi yang terlilit di tengkuknya, kedua mata hijau emerald­-nya menatap ujung sepatu boots merahnya yang takber-hak itu. Terlihat jelas Sakura berusaha mengingat atau mungkin ingin melupakan alasan ia menjadi seorang pianis. "Sakura... tidak akan pernah mengikuti concour. Tidak akan."

Hembusan angin dingin di malam itu sedikit menerbangkan ujung mantel panjang Itachi. Tidak pernah sebelumnya ia melihat seorang pianis yang tidak mau atau bahkan tidak pernah mengikuti concour. Padahal dengan concour, kesempatan untuk menjadi pianis kelas dunia dapat terbuka lebar. Sepertinya Itachi perlu menanyakan lebih jauh akan jawaban pasti dari Sakura.

"Dari ratusan musisi yang aku tanyai selama ini, kurasa hanya Sakura-chan seorang yang menjawab tidak akan mau mengikuti concour. Bukankah tujuan hidup seorang musisi hanya satu? Memainkan instrumennya hingga mati―" kata Itachi sedikit merendahkan suaranya di akhir ucapannya, "―selain itu, apalagi yang menjadi impian musisi?"

Sakura menaikkan pundaknya sebelum akhirnya kembali memandang mata onyx Itachi. "Sakura ingin menjadi seorang guru TK. Dengan piano, Sakura akan membuat anak-anak tersenyum dan tertawa sebab musik adalah hal yang bisa menghibur hati. Itulah impian Sakura sejak kecil. Demo―" Sakura terdiam sejenak, mengalihkan pandangannya ke arah pintu restoran yang terbuka. "―Ah! Uchiha-senpai!" seru Sakura seraya melambai-lambaikan tangannya ke arah Sasuke yang baru saja keluar dari restoran sembari menjejalkan ponselnya ke dalam saku celana panjangnya.

Itachi menatap Sakura yang tersenyum riang sambil masih melambaikan tangannya ke arah adiknya. Ia meneliti raut wajah Sakura kala itu dan mempelajarinya, dengan cepat dibuatnya suatu kesimpulan mengenai karakter diri Sakura yang baru dikenalnya hari ini. Benar-benar gadis yang unik.

Berbicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan musik, Itachi teringat dengan tujuannya yang sebenarnya berkunjung ke Konoha. "Erm― maaf ya, Sakura-chan. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan otouto-ku itu. Sebaiknya Sakura-chan masuk ke dalam restoran saja, mengingat udara di sini begitu dingin."

"Mm, baiklah. Karena sepertinya sangat penting, Sakura akan di sini saja." jawab Sakura masih dengan senyum tipis, meskipun ia sedikit merasa lelah dan ingin sekali tidur. "Kira-kira bicara tentang apa ya?"

Itachi menjawil lengan sweater coklat tua Sasuke dan memintanya untuk mengikutinya ke suatu tempat. Sasuke menatap bingung saat kakak satu-satunya itu secara tiba-tiba seperti memaksanya untuk pergi ke tempat yang takbanyak orang. Itachi mengeluarkan sinyal pada Sasuke untuk berhenti di sebuah tempat remang yang terletak di belakang restoran.

Lampu jalan berornamen klasik menjadi satu-satunya penerangan di pelataran lapangan belakang restoran itu. Serangga yang sangat peka terhadap rangsangan cahaya terbang mengelilingi lampu itu, membuat suara hening mematikan.

"Ada apa?" Sasuke memecah kesunyian itu dengan lebih duluan bertanya. Ia menatap punggung Itachi yang tengah menatap ke arah langit gelap di depannya.

"Kau tahu, aku baru saja menemukan satu hal unik hari ini. Ternyata kedatanganku ke Konoha tidak terlalu buruk, maksudku, selain melihatmu yang susah payah membayar seluruh makanan tadi."

Sasuke mengerucutkan bibirnya dan menatap sedikit kesal. "Kupikir kau malah senang membuatku susah payah membayar semua makanan tadi."

Itachi terkekeh dan masih memandangi langit hitam dengan awan malam tipis yang bergerak pelan. Sasuke menghela nafas panjang dan kembali berbicara. "Sudah malam, aku tidak mau berlama-lama di tempat ini, lagipula si bodoh itu masih tahap penyembuhan karena demam."

Mendengar perkataan Sasuke tentang si bodoh yang lain dan takbukan adalah Sakura, Itachi membalikkan badannya, mengernyitkan dahinya. "Dia sakit?"

"Yah, sebelum kau datang. Tapi, sepertinya dia sudah baikan. Dan― jangan bertele-tele Itachi. Aku tahu kedatanganmu ke sini bukanlah semata-mata karena ingin menemui adikmu ini. Pasti ada hal penting selain itu, iya kan?" tanya Sasuke, memperlihatkan wajah seriusnya ke arah Itachi.

Nada forte terasa begitu ekuivalen dengan tekanan yang diberikan oleh Sasuke pada Itachi. Semilir angin musim gugur mengibas anak-anak rambut Itachi yang jatuh di matanya, begitu pula dengan rambut runcing Sasuke itu. Menyerah pada high pressure yang terasa nyata, Itachi pun berusaha rileks dan mengungkapkan sesuatu di hadapan Sasuke.

"Gara-gara bertemu dengan kouhai-mu itu, aku jadi benar-benar lupa dengan tujuanku. Baiklah, baiklah, kalau kau memaksa." Itachi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel panjangnya dan berjalan mendekati Sasuke. Bayangan hitam yang timbul karena cahaya remang itu terlihat bak monster mengerikan yang suka memangsa anak-anak. Mata onyx Itachi kini berhadapan dengan mata yang sama milik adiknya, Uchiha Sasuke.

"Ini tentang Tou-san. Tahun ini, Tou-san akan membuat konser besar di Oto. Tou-san sendiri yang akan menjadi conductor-nya dan beliau berharap kau ada di sana. Kuharap kekerasan hatimu terhadap Tou-san sedikit melunak."

Sasuke agak mengernyitkan dahinya. Ia kembali mengingat bagaimana ia memutuskan sendiri untuk pindah ke Konoha dan bersekolah di Konoha Music University setelah lulus dari bangku SMU. Bahkan, Hinata yang juga satu SMU dengannya di Oto mengikuti impiannya tuk menjadi penyanyi soprano. Sasuke begitu kaget saat mendengar keinginan terdalam Hinata yang selalu diceritakannya pada dirinya. Sasuke mengenal Hinata sebagai gadis pemalu yang hanya membuka semua rahasianya pada dirinya yang juga merupakan sahabat kecil Hinata. Ia pun memutuskan bersekolah di kampus yang sama dengan Sasuke padahal yang diketahuinya, orangtua Hinata menginginkan Hinata untuk menjadi seorang wanita karier dalam home factory yang dibina oleh HyuugaCorp.

Entah kenapa memoar lama itu kembali berputar di kepalanya. Sasuke pergi ke Konoha tanpa izin orangtuanya dan selama ini ia mampu bertahan di Konoha Music University dari biaya beasiswa penuh selama ia bersekolah di sana. Ayahnya sesekali mengirimkan uang tapi tidak berkala. Sasuke kesal bukan karena masalah biaya sekolah atau biaya hidup sendiri yang takditanggung oleh ayahnya, tapi ia lebih kesal pada kekolotan ayahnya yang takmau mendengar keinginannya sendiri dan keinginan Maestro Nagato.

"Konser tahun ini adalah konser terakhir Tou-san sebagai seorang conductor. Apakah kau tidak merasa kasihan pada Tou-san atau― Kaa-san?" tanya Itachi, mata onyx-nya berusaha meyelami dasar relung hati Sasuke. "Aku tahu kalau Tou-san terkenal dengan sikap otoriternya tapi beliau tetaplah ayah kita, otouto. Lagipula, tahun ajaran kali ini adalah tahun terakhirmu. Itu artinya taklama lagi kau harus keluar, maksudku yah... belajar dan bekerja di luar negeri. Mengingat potensi keluarga kita yang besar, pastinya akan banyak sekali musisi di luar sana yang ingin mengambilmu."

Sasuke membenamkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ia mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Itachi. Terlihat bayangan resah di balik pembawaan Itachi yang kini berubah menjadi lebih dewasa. Mata onyx Sasuke menatap hampa dan kosong seperti black hole yang siap menghisap berbagai hal yang datang kepadanya.

"Kalau hanya untuk memberitahukan hal itu padaku, kenapa tak lewat telpon, surat atau e-mail saja? Toh mungkin jawabanku akan sama saja. Tidak."

Itachi mengela nafas panjang, berusaha menenangkan diri. "Apakah kau benar-benar benci dengan Tousan, ne otouto?"

"Mungkin." jawab Sasuke dengan nada biasa. "Kalau aku ke sana, Tou-san pasti akan menyuruhku untuk menetap di Oto atau setidaknya melepaskan statusku sebagai mahasiswa tingkat akhir di KMU. Jadi, tak ada gunanya aku ke sana."

"Hh, mengirim surat, e-mail atau meneleponmu, kurasa memang tak ada gunanya. Sebab―" Itachi sedikit memajukan langkahnya ke arah Sasuke. Jarak mereka taklebih dari tigapuluh centi saja. Sasuke tidak merasa takut dengan tekanan balik yang diberikan oleh Itachi. "―kau hanya mau mendengarkan orang lain saat berada tepat di hadapannya. Sifatmu itu sepertinya tak pernah berubah ya, otouto."

Sasuke bergumam pelan, masih menatap kakaknya yang lima tahun lebih tua darinya. Hening sesaat sampai akhirnya Itachi merasa lelah dengan sikap adiknya yang keras kepala itu. Itachi mengacak-acak bagian atas rambutnya yang berkucir kecil itu, membuatnya terlihat berantakan.

"Kau betul-betul membuatku bingung akan sikapmu, Sasuke. Kau mungkin hanya bisa memperkirakan tanpa melihat lebih dalam akan akibat besar atas sikap kerasmu selama ini. Kau pikir hanya Tou-san yang merasakan kekerasan hatimu itu? Apakah kau tidak melihat Kaa-san? Kaa-san terus saja menangisi kepergianmu secara tiba-tiba itu ke Konoha. Kaa-san tak menyangka kau bisa berubah sedemikian drastis hanya karena ingin mengejar impianmu menjadi musisi profesional yang mandiri. Aku tahu kau ingin kebebasan, otouto, tapi tidak semua kebebasan tidak memerlukan pengorbanan. Dan pengorbanan yang kau buat ialah tentang Kaa-san." ujar Itachi dengan nada sedikit keras.

Kebekuan malam yang terasa begitu mengikis lapisan epidermis kulit menjadi suatu alarm yang mengindikasikan munculnya keheningan malam yang benar-benar dingin. Angin semilir yang berhembus di daratan Konoha semakin mendingin kala detak jam terus saja berjalan. Diam dan sepi. Sunyi sekali dari segala euphoria yang biasanya akan memenuhi segala sudut di pagi dan siang hari. Malam memang waktu yang sunyi, waktu yang tepat untuk mendinginkan kepala yang panas itu.

Namun, Sasuke tetap takbergeming dari keputusannya. Ia tahu dengan jawabannya itu meskipun sekali lagi, mungkin saja atau pasti, ia akan menyakiti hati sang ibunda yang masih terdiam dalam kenangannya jauh di negeri seberang. Sasuke menutup sebentar kelopak matanya, membiarkan pikirannya rileks sebelum akhirnya bicara.

"Aku akan kembali saat aku berhasil menemukan kepingan hati yang hilang itu."

Itachi menaikkan alisnya, menatap terkejut ke arah sang adik kala mengucapkan pengakuan itu. Ia merasa tidak ada keraguan dalam perngakuannya itu, mungkin saja Sasuke benar-benar ingin mengucapkannya.

"Kau masih kehilangan sense of music-mu?" tanya Itachi yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Sasuke.

"Aku tahu kalau tidak semestinya aku melukai hati Kaa-san untuk yang kesekian kalinya. Tapi―"

Sasuke sedikit melangkah ke arah Itachi. Mata onyx-nya terlihat sedih dan menatap pilu. Kegelapan malam yang sepi itu menjadi aura misteri kala menatap mata milik Sasuke. Entah apa yang ada di hatinya saat ini, mungkin masih kosong dan seperti kertas putih sehingga kau bisa memberikan warna apapun yang kau suka pada hatinya. Dan ia akan menerimanya, menerimanya tanpa tahu apakah itu akan mengembalikan nokhtah merah di hatinya.

"―rasa bersalah karena kejadian sepukuh tahun yang lalu masih membekas di sini." lanjut Sasuke seraya meletakkan telapak tangannya di dadanya. Terlihat aura sendu dari dirinya yang hening itu. "Maestro Nagato memberiku satu kesempatan untuk menemukan kembali kepingan nada yang hilang itu. Aku belajar mengenal the soul of music dari beliau, bukan dari siapapun, bahkan Tou-san. Kurasa karena concour saat kelulusan, kenangan buruk itu kembali lagi dan, hh..." Sasuke menghela nafas pendek dan memegang separuh bagian wajahnya dengan telapak tangannya yang bebas. "Selalu ada yang hilang dan aku tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan kepingan puzzle-nya."

Kedua alis Itachi sedikit bertemu. Ia taktahu ternyata Sasuke masih saja memendam rasa bersalah atas kejadian lama yang sebenarnya bukan kesalahannya. Secara tekhnis memang bukan kesalahannya tapi ia hanya pemuda berusia sepuluh tahun kala itu. Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya menyelamatkan dirinya sendiri jika ia berada di situasi mengerikan saat itu. Ia hanya bisa mengingat bagian kecil yang masih blur dan karena itulah ia yakin bahwa dirinya-lah yang menjadi penyebab atas kematian orang yang sangat disayanginya setelah ayah dan ibunya.

"Itu bukan salahmu, Sasuke. Saat itu, kau masih sepuluh tahun dan dalam kondisi yang tak pasti seperti itu, setiap orang akan berusaha untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Para tetua keluarga pun tak ada yang menyalahkanmu. Lalu, kenapa kau masih menganggap bahwa dirimulah yang menjadi penyebab atas kematian Hiroshi-jiisan? Semua itu disebabkan karena kesalahan pilot dalam mendaratkan pesawatnya, Sasuke, bukan salahmu. Kau tahu itu?!" seru Itachi dengan nada yang lebih keras dari biasanya. Ia takmenyangka Sasuke masih mengantui dirinya sendiri dengan kenangan buruk antara ia, kakek dan neneknya sepuluh tahun yang lalu. "Gara-gara itu kau sampai kabur dari rumah? Apakah karena sesuatu yang kau takpernah lakukan kau sampai kehilangan sense of music-mu? Apakah karena itu, HAH?!"

"URUSEI! Kau tak ada saat kejadian itu, Itachi. Kau tidak tahu bagaimana rasanya KEHILANGAN ORANG YANG BERHARGA DI DEPANMU!"

Sasuke berusaha melawan segala arus dan tekanan yang diberikan Itachi olehnya. Bodoh sekali, bodoh sekali. Ia merasa dirinya begitu bodoh. Kenapa ia harus mengingat kejadian yang masih berwarna hitam dan putih itu? Padahal ia berusaha untuk menenangkan dirinya sejenak dan berusaha untuk menjadi musisi yang lebih baik. Padahal ia telah berusaha keras agar sense of music-nya kembali. Tapi, masih saja selalu datang.

"Aku butuh ingatan itu kembali! Aku harus tahu alasan kenapa selama sepuluh tahun ini aku selalu dihantui rasa bersalah! AKU PERLU INGATAN ITU, ITACHI! Itulah alasan mengapa aku kabur dari rumah. Ya, kabur dari rasa bersalahku dan mencarinya di suatu tempat yang jauh dari rumah. Jauh dari segala tekanan itu." seru Sasuke. Ia menatap sengit ke arah Itachi. Raut wajah emosi terlihat jelas di wajahnya. Itachi melihat guratan amarah yang terpatri jelas di wajah adiknya saat ini. Ia benar-benar takmenyangka Sasuke yang terkenal selalu menutupi emosinya saat menghadapi berbagai hal kini berubah.

"Argh!"

Sasuke berbalik dan menatap dinding bata di hadapannya. Ia memukul keras-keras batuan bata itu, berkali-kali dan diakhiri dengan pukulan keras oleh dahinya. Itachi membiarkan sang adik yang terlihat resah itu memukuli dirinya dan memaki dirinya sendiri.

"Hh, rupanya shock bad event benar-benar mampu membuat amnesia ya." ujar Itachi seraya menyisir anak-anak rambut yang jatuh di matanya dengan buku-buku jemarinya. "Kuberi saran, otouto."

Sasuke memutar sedikit matanya dan berusaha melihat sosok gelap Itachi dengan ekor matanya.

"Lakukan yang harus kau lakukan. Sampai hatimu siap, kembalilah ke rumah, otouto. Well, setidaknya aku senang bisa melihatmu yang terlihat dewasa itu tapi―" Itachi kembali mendongakkan kepalanya dan memandang langit yang semakin gelap itu. "―masih banyak hal yang harus kau pelajari di sini, Sasuke. Dan kurasa, kau bisa memulainya dari gadis itu." Itachi mengakhiri ucapannya dengan senyum.

Tubuh Sasuke terasa lebih ringan saat mendengarkan perkataan Itachi. Apakah itu artinya Itachi setuju dengan jawabannya untuk tidak kembali ke Oto dalam waktu dekat ini? Ia tidak tahu pasti tapi mungkin saja yang dikatakan Itachi ada benarnya. Belajar dari kouhai aneh yang sangat menikmati permainan pianonya meskipun kadang terjadi kesalahan adalah langkah yang mungkin bisa ia lakukan agar kepingan memori yang masih blur itu dapat kembali.

Angin berhembus semakin kencang. Malam memang benar-benar waktu yang tepat untuk mendinginkan kepala yang dipenuhi dengan berbagai kenangan buruk.

...

You're aching, you're breaking

And I can see the pain in your eyes

Since everybody's changing

And I don't know why.

...

Sebuah lagu terdengar di malam sunyi itu. Itachi merogoh-rogoh ponselnya dan menatap nama yang muncul di layarnya. Ia memaki kecil dan wajahnya berubah seperti seorang pegawai kantoran yang mengalami potongan gaji. Ia menekan keras-keras tombol menerima dan berbicara dengan seseorang yang sepertinya membuatnya sedikit kesal atau ketakutan.

Sasuke menatap Itachi yang berjalan berputar-putar di tempatnya berdiri. Ia bahkan melihat sang kakak seperti memaki dalam hati. Tidak berubah ya, Sasuke membatin.

"―yeah! Kalau begitu suruh anak buahmu untuk menjemputku di Le France sekarang juga!" seru Itachi sambil menutup ponselnya keras-keras. "Sial."

Itachi mendengus. Ia mengerucutkan bibirnya dan kembali menyisir anak-anak rambutnya yang berjatuhan dengan jemarinya. Perhatiannya kini beralih pada Sasuke yang sedikit lebih tenang dibandingkan yang tadi.

"Maaf. Tadi ada telepon dari manager bosku, hahh..."

Melihat wajah Itachi yang takmeyakinkan itu, Sasuke memutar kembali badannya dan menyandarkan punggungnya di dinding bata yang tadi diremuknya. Matanya melihat ke sisi sepatu Itachi yang semakin bergerak lebih maju.

"Kau kabur dari tugasmu kan, Itachi?"

Itachi memegang belakang tengkuknya seraya menggumamkan hal yang tak jelas. "Erm― kurasa begitu. Tapi, yang lebih penting sekarang adalah dirimu, Sasuke. Dengar. Bukan berarti dengan mengatakan kau masih harus belajar di sini, kau kuizinkan untuk tidak menemui Tou-san dan Kaa-san. Bagaimanapun juga, mereka berdua tetap orangtua kita. Kalau memang kau belum siap, akan kukatakan hal yang sebenarnya pada Tou-san. Kuharap beliau mau mengerti. Setelah bertahun-tahun berpisah darimu, kau tidak tahu betapa telah melunaknya hati Tou-san, Sasuke. Meskipun yah, sedikit masih otoriter."

"Bagus ternyata kau mengerti." jawab Sasuke sembari meluruskan tubuhnya.

Itachi menarik ujung bibirnya sedikit, "Aku mengerti karena aku kakakmu, Sasuke. Mungkin aku memang tidak ada bersamamu saat kejadian itu makanya tidak tahu rasanya kehilangan Hiroshi-jiisan di depanku. Tapi, kita tidak hidup dari masa lalu, Sasuke. Kita hidup untuk masa depan meskipun kau selalu ingin mengejar kenangan pahit akan dirimu di masa lalu."

"Hn." jawab Sasuke singkat. "Hari ini kau cerewet sekali, Itachi."

Itachi sedikit terkekeh. "Yah, untuk adikku yang malang ini kurasa aku harus sedikit cerewet. Oh ya, katakan salamku untuk Kakashi dan bilang padanya maaf aku tidak bisa mentraktirmu segelas tequilla lagi―"

"Hn."

"―dan, katakan padanya, kau masih hutang padaku sebesar 2000 yen karena kekalahanmu menebak warna one piece yang dipakai oleh Nyonya Tsunade dalam pakaian besarnya itu―"

"Hn."

"―lalu, katakan padanya bahwa pertandingan baseball waktu itu belum usai, kita harus melanjutkannya di lain waktu―

Mendengar perkataan Itachi yang terlalu banyak itu, Sasuke merasa sedikit kesal. Kakaknya yang ini benar-benar terlalu cerewet.

"―katakan padanya..."

"Bisakah kau berhenti mengoceh hal-hal katakan padanya atau bilang padanya. Kau sungguh banyak bicara, Itachi." seru Sasuke menatap kesal. Itachi yang mendengarnya kemudian berhenti bicara dan malah terkekeh sendiri.

"Iya, iya. Maafkan aku, otouto. Ya sudah, kurasa hanya itu."

Sasuke menghela nafas panjang dan mulai melangkahkan kakinya. "Sudah terlalu larut. Aku tidak mau membiarkan Sakura terus menunggu dalam diam. Kau akan dijemput, kan."

"Yeah, yeah, baiklah Tuan Muda Uchiha." balas Itachi dengan nada menggoda lagi. "Sepertinya kau tidak mau membiarkan tuan putrimu sakit lagi, iya kan? Wow, kau baik sekali, otouto."

"Berisik. Diam kau." Sasuke menunjukkan death glare-nya pada Itachi sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan pelataran lapangan belakang restoran yang hening itu.

Sesaat sebelum bayangan hitam Sasuke menghilang dari pandangannya, Itachi meneriakkan sesuatu ke arah Sasuke. "JAGA SAKURA-CHAN DENGAN BAIK YA, OTOUTO! DIA ITU GADIS YANG UNIK DAN... manis."

Sasuke hanya melambaikan tangan kanannya ke arah Itachi yang ada di belakangnya. Itachi menatap punggung adiknya dan bayangan hitam yang menghiasi dirinya yang terlihat semakin mengabur dengan gelapnya malam. Itachi tertawa kecil, tersenyum mendengar betapa ia ingin sekali menghilangkan kenangan buruk milik adiknya itu. Ia taktahu tapi satu hal pasti―

"Ganbatte ne, otouto."


Dedaunan coklat yang berjatuhan di sekitar area taman Le France sedikit menempel di rambut merah muda Sakura. Ia tidak tahu sudah beberapa lama ia terlelap di kursi taman. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan ia merasa seperti memeluk bantal hangat diantara kedua lengannya. Ia semakin mengeratkan lilitannya pada bantal lucu itu. Apakah ia bermimpi? Sakura tidak tahu tapi ia tetap melanjutkan tidurnya.

Sasuke meletakkan Sakura di punggungnya dengan melingkarkan lengannya pada kaki Sakura. Rupanya, ia menemukan Sakura terlelap dalam hening di kursi kayu taman Le France yang dipenuhi pohon beech yang sedang menggugurkan daunnya. Mata Sasuke mendapati syal merah yang dipakai Itachi berada di leher Sakura. Sasuke tidak ingin membangunkan Sakura yang terlihat lelah itu dan hal yang bisa dilakukannya hanya membawanya dari kursi dingin itu ke dalam mobil sport merahnya.

Sakura masih tertidur dengan lelap di kursi belakang mobil yang dikendarai oleh pemiliknya itu. sesekali, Sasuke melirik ke arah kaca spion dan menatap wajah Sakura yang menggeliat dalam pose tidurnya. Sebelum menyalakan mesin mobilnya, Sasuke menyelimutkan mantel panjang hitam miliknya yang diletakkannya di bagasi pada tubuh kecil Sakura. Sakura pastilah merasa begitu kedinginan tapi anehnya ia bisa tertidur di suatu tempat yang lebih dingin.

Dengan pelan, Sasuke menghentikan laju mobilnya tepat di depan apartemen yang sudah ditinggalinya selama kurang lebih empat tahun itu. Ia sedikit menatap letak kamarnya yang gelap dan beralih ke jendela sebelahnya yang merupakan kamar Sakura. Ia menolehkan kepalanya dan sesegera mungkin membuka pintu kursi belakang.

Entah apa yang ada di pikirannya saat menatap wajah lelap Sakura saat itu. Aura matanya terasa hampa dan kosong. Tapi, ia kembali mengingat perkataan Itachi beberapa saat yang lalu.

"―kau bisa memulainya dari gadis itu."

"Memulai?"

Sasuke melihat Sakura yang menggeliat dari tidurnya dan terdengar seperti mengigau. "Sushi, takoyaki, ramen..."

Rupanya, Sakura bermimpi memakan makanan lagi. Sasuke menggelengkan perlahan kepalanya dan berusaha menarik lengan kecil Sakura. Ia berbalik dan meletakkan Sakura kembali di punggunggnya. Dengan hati-hati, ia berusaha mengangkat berat tubuh kouhai-nya yang innocent itu.

Pelan dan pelan. Langkah kaki Sasuke akhirnya berakhir tepat di apartemennya. Melihat sepertinya Sakura lupa membawa kunci apartemennya yang hanya bisa dibuka dari dalam, Sasuke mau takmau kembali menidurkan Sakura di spring bed-nya. Dalam sehari, ia harus mengurusi gadis pemain piano ini. Sasuke membuka pintu apartemennya setelah berusaha merogoh kuncinya dari balik saku celananya. Tangannya berusaha menggapai lampu kamarnya dan membuang tubuh Sakura di atas kasur empuknya itu.

Sakura sedikit menggeliat lagi dan merasa telah berada di tempat yang lebih empuk, sesegera mungkin Sakura berusaha mencari-cari guling dan memeluknya. "Mukyaa..." igaunya dalam tidur.

"Dasar anak kecil." Sasuke membatin.

Sasuke menghenyakkan dirinya di sisi kasur yang selalu dipakainya untuk tidur itu. Ia duduk sebentar seraya mengacak-acak rambut hitamnya. Matanya menangkap jam weker berbentuk tanda musik untuk kunci G di atas meja kecil samping spring bed hangatnya. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas lewat empatpuluh. Sudah terlalu larut untuk belajar, pikirnya.

"Uchiha-senpai..."

Sasuke mengalihkan perhatiannya dan menatap Sakura yang tubuhnya tergulung seperti kucing itu. Ia bisa mendengar sesuatu dari balik igauannya.

"Uchiha-senpai..."

Sekali lagi, ia bisa mendengar Sakura tampak memanggil namanya dalam tidurnya. Sasuke sedikit mendekat ke arah wajah Sakura. Ia menatap pipi Sakura yang berubah sangat merah. Ia kemudian memegangi dahi Sakura, menganggap panas tubuh Sakura naik lagi.

"Hh, dia baik-baik saja."

"Uchiha-senpai. Issho ni... oretachi no yume o..."

Sasuke menaikkan alisnya, berusaha mendengarkan lebih jauh akan kata-kata Sakura dalam tidutnya. Ada beberapa bait kalimat lagi yang muncul setelah igauan kecil Sakura akan namanya.

"―piano to...Mmm."

Sakura membenamkan kepalanya dalam bantal. Igauannya berhenti sampai di situ dan Sasuke juga merasa terlalu lelah untuk hari ini. Cukup sudah hal-hal berat yang dilaluinya kali ini. Mulai dari latihan bersama Naruto, percakapan dengan Itachi dan terakhir...

"Sleep, Sakura." ujarnya seraya mengelus pelan kepala Sakura yang membuat Sakura tersenyum dalam tidurnya.


Pagi yang cerah itu benar-benar menjadi awal dari segalanya. Ya, tentu saja tak terkecuali bagi pria berambut blonde dengan gaya ala rocker ini. Ia sudah berjanji untuk tidak akan mengubah penampilannya meskipun akan terkesan aneh di depan para juri nanti. Naruto bangun pagi-pagi sekali, lebih pagi dari ayahnya. Ayahnya sempat menawarkannya untuk sarapan terlebih dahulu sebelum melaksanakan misi terbesar dalam hidupnya sebagai mahasiswa divisi violin di KMU. Tapi, karena terlalu khawatir dan resah, ia hanya bisa memasukkan sebuah nattou dan seteguk susu di pagi itu. Biasanya, Naruto perlu energi ekstra untuk melakukan rutinitasnya sebagai mahasiswa yang selalu ceria, tapi kali ini, karena terlalu gugup dan gugup, ia melupakan masalah perutnya.

Naruto mendatangi apartemen Sakura tepat pukul enam lewat tigapuluh. Ia terus saja menekan bel apartmen Sakura tapi tak ada jawaban. Semestinya mereka sudah harus ada di ballroom orkestra pukul tujuh dan sepertinya Naruto lupa mengatakan hal itu pada Sasuke kemarin. Akhirnya, ia mengambil inisiatif.

Naruto merobek secarik kertas dari notes yang untungnya saja dibawanya. Ia menuliskan sesuatu di kertas itu dan meletakkannya tepat di kotak kecil di samping pintu apartemen Sakura. Sebelum meninggalkan apartemen Sakura, Naruto menyerukan berbagai hal agar ia tetap semangat. Ayahnya juga taklupa terus memberikannya kata-kata penyemangat sejak malam lalu.

"Yosh! Chairperson S no Kurasu! Chairperson S no Kurasu! Chairperson S no Kurasu! CHAIRPERSON S NO KURASU!!"


Sasuke baru saja terbangun dari tidurnya yang singkat itu. Memang takperlu waktu yang lama bagi seorang Sasuke untuk tidur karena dia sudah terbiasa begadang karena belajar hingga larut malam. Ia berusaha menegakkan badannya yang terkulai di sofa ruang tengah apartemennya. Kemeja putihnya terlihat begitu lusuh dan kancingnya nyaris terbuka semua, memperlihatkan dada Sasuke yang bidang.

Dengan cepat, kakinya melangkah ke arah kamar mandi dan ia mulai melakukan rutinitas paginya. Setelah mengambil pakaian dari lemari di kamar yang masih ditempati oleh Sakura, ia beranjak ke dapur dan mulai memasak sarapan pagi untuk dirinya dan mungkin untuk Sakura. Hari ini, ia ingat harus menggantikan posisi Sakura sebagai helper bagi Naruto bila ia memang takmampu.

Sakura masih tertidur dengan pulasnya di kasur dengan bedcover hangat yang meliliti tubuhnya. Sasuke masuk ke dalam kamarnya sembari mengenakan mantel coklat panjangnya. Rupanya hari di luar sana memang terasa cerah tapi udara pasti lebih dingin dari hari kemarin, mengingat udara di malam sebelumnya sudah memberikan tanda-tanda yang amat jelas.

Dengan pelan, Sasuke memegang-megang pipi Sakura yang kemerahan, berusaha untuk membangunkannya tapi Sakura tetap tidak bergeming. Ia malah melihat Sakura semakin menggeliat. Dicoba beberapa kalipun, Sakura tetap saja tidak bangun. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk benar-benar menggantikan posisinya sebagai pianis di ujian akahir semester lalu Naruto.

"Sepertinya kau benar-benar lelah. Baiklah." ujar Sasuke kecil sebelum akhirnya meninggalkan Sakura yang masih tertidur pulas di kasurnya.

"Spring..."

Sakura bermimpi berada di padang ilalang. Sama seperti mimpi-mimpi sebelumnya. Tapi, kali ini terlihat berbeda. Lebih berbeda sebab kini ia bisa melihat sang belalang sembah dan kabuto mushi telah bersahabat kembali. Sang kupu-kupu tersenyum bahagia saat melihat kedua sahabatnya yang terpisah oleh jeratan jaring serangga bersatu kembali. Mereka dipersatukan oleh melodi Spring yang klasik itu...

TSUDZUKU


Sepertinya chapter ini masih sama seperti yang dulu. Panjang banget. Wordnya aja mpe enam ribuan. Tapi, saya berusaha agar chapter ini berisi hal-hal yang menjadi kunci akan cerita di chapter-chapter selanjutnya. Hm, hm.

Eto... ini jawaban atas review teman-teman author.

Furukara Kyu : Maapkan saya atas keterlambatan yang benar-benar terlambat dalam meng-update chapter selanjutnya. Jadi, karena chapter 11 udah diupdate, jadi rasa penasaran itu sudah tergantikan kan? -ditakol-. Yosh! Selamat membaca.

Kakkoi-chan : Kalo cinta segiempat itu kayaknya bakalan rumit banget ya? Hm, hm, hm... Ehe, terima kasih sudat mereview. Saya tunggu reiew selanjutnya.

Lil-ecchan : Jadi, udah ketahuan kan saya kelas berapa. Khe khe... -digiles becak- Makasih sudah mereview.

Hiryuka Nishimori : Kouhai-chan! -seneng, riang, gembira, UN udah lewat tapi masih berharap buat hasil yang terbaik-. Furuki pasti ganteng dong -ciehh, sok banget-. Nih, udah saya updet, jangan lupa mereview ya. -maksa nih, maksa nih-

MzProngs : Neechan! kok review cuma chapter satu doang? –digebukin gajah- Hmm, ehe, saya juga nggak pernah ngereview L'apt sejak memasuki bulan april deh kayaknya. Hehe... Baca dan review chapter-chapter lainnya ya, ya, ya?

Shirayuki Haruna : Gaara bukan kakaknya Sakura tapi Furuki. Hmm, iya juga sih, si Itachi bisa sebaik itu. Tapi, dia memang baik sih apalagi kalo liat cewek manis kayak Sakura -dibakar ama Susan'o-

Uchibi nara : Ok, makasih atas reviewnya. Baca lagi dan review lagi ya!

Min-Sunye : Makasih, ehe -blushing-. Trims sudah mereview. Bener banget! Fic ini memang inspirated from Nodame Cantabile. Baca terus ya dan direview!

~Arigato Gozaimashita~

Emi Yoshikuni