Satu lagi chapter yang panjang. Happy reading and review! ^_^


LESSON 12 : EVERYTHING FOR MY DREAM...

Suara sepatu yang terus saja diketuk-ketuk terdengar mengisi koridor lantai tiga yang sepi itu. Takbiasanya Naruto merasa segelisah seperti ini sebelumnya. Naruto terkenal dengan karakternya yang selalu menyembunyikan segala perasaan gugup, resah, nerveous, dan sebagainya dengan cengiran lebarnya. Tapi kali ini, ia bak cumi-cumi yang terjerat kail nelayan. Untuk beberapa lama, otaknya seperti takberkerja. Suara degup jantungnya memenuhi tubuhnya yang bergerak-gerak takkaruan. Sesekali, ia melirik ke arah kertas kecil yang diremasnya kuat-kuat; memandang sebuah nomor yang tertulis baik di dalamnya.

"San-ban?"

Senyum ceria yang selalu tergambar di raut wajah seorang Uzumaki Naruto hilang seketika. Wajahnya pucat, seputih patung gips Maestro Schubert yang menghiasi halaman depan kampus Konoha Music University. Naruto memeluk lututnya seraya menggumamkan hal-hal yang takjelas. Ia hanya bisa terduduk diam di salah satu kursi kayu tepat di samping pintu ballroom orkestra. Keheningan yang melingkupi dirinya seperti ingin memakan jiwanya, merasuki tiap sumsum tulangnya hingga ia akhirnya mengacak-acak rambutnya sendiri.

"Tenanglah Naruto. Tenang... fuahh... fuahh..."

Naruto menolehkan kepalanya, melihat koridor yang tampak takberujung dengan tatapan lelah. Semalam, ia hanya mampu menghabiskan waktu istirahatnya selama tiga sampai empat jam saja. Ia merasa berbeda saat ini, terlalu berbeda. Ia memang sudah sering menghadapi berbagai pertunjukan musik bertema rock classic di beberapa tempat dan sudah terbiasa dalam menghadapi kegugupan dirinya di depan penonton. Tapi, untuk yang satu ini terlalu mengerikan hingga ia taksanggup lagi berdiri dengan kedua kakinya.

"Kau bisa, kau bisa, kau bisa..."

Dengan sugesti yang terus saja diucapkannya, Naruto berharap kerja kerasnya selama ini dapat memberikan hasil yang baik. Ia berusaha mengejar mimpinya tuk menjadi seorang chairperson kelas orkestra tahun ini meskipun ia sadar dengan kemampuannya yang jauh di bawah Nona Yamanaka di kelas A-Orchestra. Sebenarnya ia takpunya alasan hebat untuk menjawab pertanyaan kenapa kau ingin menjadi chairperson? Kalau disuruh menjawab, ia pasti hanya berkata 'aku ingin mengejar impian kecilku!'.

"Hahh..."

Sekali lagi, Naruto menghela nafas. Terkadang ia merasa iri dengan orang-orang hebat di luar sana, terutama terhadap Sasuke. Kemampuan Ore-sama yang satu ini jauh di atas dirinya. Jauh melebihi apapun juga dalam hal pautan nada dan melodi. Tapi, ia lupa dengan nasihat almarhum ibunya pada dirinya saat ia masih kecil. Almarhum ibunya selalu mengatakan pada diri Naruto untuk selalu bangga pada dirimu apa adanya dan selalu menjadi yang terbaik untuk dirimu sendiri meskipun saat sekarang ini Naruto tampak menyangsikannya.

"Di dalam diri yang lemah terdapat satu kekuatan yang melebihi apapun juga, bahkan melebihi kemampuan para jenius di luar sana, dan kekuatan itu ada di sebuah organ yang taktampak. Organ taktampak itu adalah hati. Ongaku sama seperti tubuh kita. Tanpa hati, ongaku hanya nada tanpa rasa. Ia hanya berdetak dalam diam dan terlihat hidup padahal ia hanya sebongkah nada mati yang disusun agar selalu hidup. Sama seperti zombie kan?"

Naruto tertawa miris. Ah! Untung saja ia masih sedikit mengingat perkataan almarhum ibunya yang sedikit dibumbui lelucon itu.

Mata biru langit yang jernih itu menyusup ke sela-sela memoar lama. Naruto berhenti meneteskan air matanya sejak kematian sang ibunda yang tragis itu. Ia ingin mengubur dalam-dalam semua tangis dan sifat cengengnya agar ia mampu menjadi seorang violinist yang mengerti akan soul of music.

Ia tertawa. Ia tersenyum. Ia berteman dengan siapapun. Ia mendengar keluh kesah sahabatnya. Ia melindungi hal yang berharga bagi dirinya. Dan ia berjuang demi impiannya. Untuk semua itu, ia akan melakukan apa saja. Apa saja untuk hal yang dianggapnya benar.

Seperti yang pernah Shikamaru katakan pada dirinya, tak selamanya seekor itik menjadi itik buruk rupa. Toh, mereka akan menjadi angsa. Ia masih menjadi itik buruk rupa dan terus menunggu waktu untuk bertransformasi menjadi angsa putih yang gagah itu. Tapi, ia takmenunggu dalam diam tentunya. Latihan keras bersama Sakura dan Sasuke sedikit memberikannya gambaran akan arti dari harmonisasi alunan nada. Dan itu cukup berpengaruh akan perkembangan transformasinya.

Jauh dari lubuk hatinya, ia ingin menunjukkan semua kemampuannya pada almarhum ibunya yang telah beristirahat dengan tenang di alam sana. Ia ingin melihat wajah senyum sang ibundanya sekali lagi.

Lagi...

KRIETT

Mata biru itu tersadar saat sebuah suara seperti pintu terbuka terdengar di telinga Naruto. Rupanya Naruto terlalu lama melamun. Ia lalu merogoh ponselnya dan memandangi angka-angka yang berubah setiap menitnya.

Waktu telah menunjukkan pukul delapan tepat. Naruto berusaha untuk menguatkan dirinya dengan sedikit menghela nafas panjang dan kembali menghirup udara lebih banyak. Ia membetulkan letak tas violin-nya yang hampir melorot dari bahunya. Suara pintu yang seperti dibuka tadi membuatnya menoleh, menatap sosok seorang gadis berambut hitam pendek yang ditemani dengan seorang pemuda berperawakan biasa keluar dengan wajah lesu.

Naruto merasa takmengenal sosok gadis itu. Gadis itu terlihat berjalan gontai dan nyaris menangis. Pemuda yang berdiri tepat di belakang gadis itu berusaha menguatkan hati sang gadis. Ia menepuk pundak sang gadis dan membisikkan beberapa kata yang membuat gadis itu sedikit tersenyum.

Pikiran Naruto semakin lama semakin dipenuhi dengan kekalutan dan kecemasan. Bagaimana jika nasibnya sama dengan gadis itu? Bagaimana jika ia tidak lulus dan mengecewakan ayah dan ibunya? Bagaimana ia mampu mewujudkan impiannya menjadi seorang chairperson di tahun ini? Bagaimana ia menghadapi semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya itu? Bagaimana―

"Oi, kau kenapa?"

Naruto yang terus saja memukul-mukul kepalanya dengan perasaan takut akhirnya menghentikan tingkah konyolnya itu. Ia sedikit mendongakkan kepalanya, melirik sesosok manusia yang berdiri tepat di hadapannya. Mata Naruto bisa menangkap sosok dengan kemeja putih berbalut mantel coklat panjang yang sudah menjadi ciri khasnya, terlihat menatap dirinya dengan wajah bosan. Sedikit kaget, Naruto menaikkan alisnya dan berusaha memperbaiki penglihatannya itu.

"Sasuke?"

"Hn." jawab Sasuke singkat. "Kau terlihat sungguh menyedihkan."

Naruto berusaha menenangkan dirinya meskipun matanya terus saja menatap sosok Sasuke yang baru saja duduk tenang di samping dirinya. Ia menatap Sasuke dengan mata birunya yang jernih itu, memandang sosok seorang Ore-sama yang terlihat lebih tenang dari biasanya. Sasuke membuka mantel panjangnya dengan perlahan sebelum akhirnya menatap sedikit kesal ke arah Naruto.

"Lihat apa?"

Naruto tersadar. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali melirik Sasuke dengan wajah lesunya. "Akhirnya kau juga yang datang. Kupikir kau marah padaku gara-gara percakapan yang kemarin. Ternyata―"

"Jangan memperkeruh susana, dobe." potong Sasuke, membuat Naruto mengerucutkan bibirnya. Raut wajahnya sedikit kembali normal meskipun masih terlihat keputusasaan pada dirinya. "Kau dapat nomor berapa?"

Naruto menyodorkan selembar potongan kertas yang sudah teremas hancur ke arah Sasuke. Sasuke mengambilnya dan membaca sebuah nomor yang berbentuk huruf E terbalik. "Tiga?" tanyanya, Naruto hanya menjawab dengan anggukan lesu.

"Yang pertama sudah keluar tadi. Sepertinya tidak lulus. Hahh..."

Masih dengan wajah lesu takbersemangat, Naruto melungkupkan kepalanya dalam lengannya. Ia kembali menggumamkan hal-hal takjelas dan ingin sekali mengakhiri kondisi yang serba takmenentu ini. Sasuke takmengerti kenapa Naruto sampai merasa terlalu gelisah menghadapi ujian akhir semester lalunya yang sebenarnya mampu ia hadapi. Taktahan melihat kelusuhan dalam diri Naruto, Sasuke kembali bercerita.

"Kau terlihat kacau sekali."

Mendengar perkataan Sasuke yang bernada hampa itu, Naruto menaikkan kepalanya dan menyandarkannya di dinding. Ia menatap langit-langit koridor sepi itu sebentar, telinganya menangkap suara violin klasik yang samar-samar terdengar dari arah ruangan ballroom orkestra. Alunan melodi Violin Concerto in D, Mvmt. 3 karya Wolfgang Amadeus Mozart mengalun pelan, sedikit mengobati kekakuan pada syaraf-syarafnya.

Seringai kecil muncul di wajah Naruto. Ia pun menjawab, "Yeah."

"Dengan wajah seperti itu, harmonisasi Spring takkan muncul, kau tahu." ujar Sasuke masih bernada hampa. Wajahnya takmenunjukkan ekspresi apapun. "Ini bukan akhir dari segalanya, dobe. Bukannya kau ahli dalam rising spirit?"

Naruto menolehkan kepalanya, memandang mata onyx Sasuke yang kelam itu. Ia kembali teringat dengan perkataan almarhum ibunya yang terngiang beberapa saat yang lalu. Refleks, Naruto bertanya hal yang di luar dugaan.

"Kau― Kau masih punya hati kan?"

Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Wajahnya memperlihatkan raut kebingungan. "Semua orang yang ada di kampus sini pasti punya hati kan?"

"Bu―bukan hati yang itu, teme. Tapi―"

"Kalau kau menanyakan hati yang satunya lagi, kurasa jawabanku adalah tidak tahu. Aku tidak suka mendengar pertanyaan seperti itu karena aku takbisa menjawabnya." sela Sasuke seraya melipat kedua tangannya di depan. "Hhh, sampai sekarang aku masih mencarinya. The soul of music..."

Naruto kembali menekuni lamunannya. Melodi milik Mestro dunia, Wolfgang Amadeus Mozart yang samar-samar terdengar itu membuatnya terdiam dalam sepi. Mendengar jawaban dari Sasuke yang agak mengejutkan, Naruto bertanya dalam hati. Kedua alisnya sedikit bertemu, wajahnya tampak sedih dan lusuh.

"Ibuku pernah bilang kalau setiap musisi harus punya hati. Tanpa hati, semuanya masih akan telihat hidup tapi terasa mati. Lalu, soul yang diharapkan muncul hanya akan berbentuk kepingan nada yang saling terpecah belah, tak bersatu dan terkadang hilang tanpa bekas―"

Sasuke sedikit menaikkan wajahnya saat mendengar perkataan Naruto yang tidak biasa itu. Anggapan bahwa Naruto hanyalah violinist yang takmemahami arti dari tiap not dalam scorebook sedikit hilang dalam dirinya. Mata onyx itu masih menatap tiap gerakan yang dibuat oleh Naruto, membaca dan mendengar setiap hal yang keluar dari mulutnya.

"―lalu, ongaku itu mirip seperti tubuh kita, lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Kalau ada bagian yang rusak atau hilang maka rusaklah semuanya apalagi jika yang rusak atau yang hilang adalah hati, tubuhmu akan mirip seperti zombie. Ha ha." ungkap Naruto yang diakhiri dengan kekehan kecil. Mata biru jernihnya kemudian beralih ke arah mata onyx Sasuke. "Ngomong-ngomong, Sakura-chan masih ada urusan keluarga ya?"

Mendengar kata Sakura, Sasuke kembali pada ingatannya beberapa waktu yang lalu saat Sakura masih terlarut dalam tidur lelapnya. Sasuke merasa sudah takada gunanya mengatakan kebohongan yang sama pada Naruto karena itu hanya akan menambah sindrom-kelesuan-sesaat-Naruto semakin bertambah.

"Dia ketiduran." jawab Sasuke singkat, membuat Naruto agak terkejut.

"Ke―Ketiduran? Pantas saja, tadi aku ke apartemennya tapi beberapa kali kupencet belnya, ia sama sekali tak keluar. Ia mungkin kelelahan karena urusan keluarga itu kan?" tanya Naruto dengan wajah polos.

Sasuke berdehem kecil sebelum akhirnya membalas, "Dia ketiduran di apartemenku. Dan dia tidak punya urusan keluarga kemarin. Dia― sakit."

"Eh?"

Angin dingin seakan berhembus di kepala Naruto saat ia berusaha mencerna baik-baik tiap kata yang diucapkan oleh Sasuke padanya. Mungkin saja ia salah dengar tapi rasa-rasanya Sasuke mengatakan kata apartemenku dan sakit. "Apa tadi kau bilang? Bisa diulang?"

Sasuke tahu Naruto pasti akan terkejut sekali saat mendengar pengakuannya itu. Ia hanya bisa menghela nafas panjang, "Dia ketiduran di apartemenku. Dan dia tidak punya urusan keluarga kemarin. Dia sakit." ulang Sasuke dengan nada penekanan. "Kau sudah mengerti?"

Hening sesaat. Ziing... Angin dingin yang berhembus tadi semakin terasa tatkala Naruto benar-benar memahami tiap perkataan Sasuke. Wajahnya berubah merah dan mata birunya yang tadinya terlihat resah memandang Sasuke penuh tanya.

"AP-APPHA?!! KAU APAKAN SAKURA-CHAN, TEME??"

Buakk!

Sasuke sepertinya harus melayangkan tinjunya ke arah kepala Naruto yang dipenuhi dengan rambut blonde itu. Ia tidak suka mendengar seseorang berteriak histeris ke arahnya dengan suara besar dan tatapan sengit. Naruto yang mendapat bogem mentah dari Sasuke hanya bisa meringis meskipun ia sedikit memaki ke arahnya.

"Untunglah. Si bodoh ini sudah kembali normal." Sasuke membatin.

Masih memegangi ubun-ubun kepalanya yang terasa sangat sakit itu, Naruto menunjukkan wajah emosinya ke arah Sasuke. "Kau kenapa sih?! Sakit tauk!"

"Itu juga salahmu, baka! Kenapa berteriak-teriak sehisteris itu di koridor sepi seperti ini? Suaramu bisa menggaung! Dasar." Sasuke merebahkan punggungnya di sisi dinding bercat cream itu. Kepalanya sedikit terangkat ke atas, mulai menatap langit-langit koridor. "Aku berbohong."

Naruto menoleh, tetap mengelus-elus kepalanya yang lumayan tidak sakit lagi. "Kenapa kau membohongiku dengan mengatakan Sakura-chan ada urusan keluarga, hah? Ore-sama?"

"Kalau kubilang dia sakit, kau pasti akan membuat keributan di kampus. Setelah itu, kau pasti akan lari ke apartemennya dan membuat keributan lagi." jawab Sasuke dengan tatapan dingin. "Lagipula, dia hanya demam."

Naruto mengernyitkan dahinya, menatap kesal ke arah Sasuke. Bibirnya dimanyunkan seraya melipat kedua tangannya di dadanya. Rupanya siasat membuat Naruto kesal adalah hal terbaik saat ia sedang lemas karena putus asa.

"Dia juga temanku, kau tahu. Sakura-chan adalah teman yang mau melihat diriku apa adanya, berbeda dengan dirimu yang sok itu. Hahh... lalu, kenapa dia malah ada di apartemenmu, hmm? Aku jadi curiga padamu." Mata Naruto terlihat disipitkan, wajahnya berusaha membaca raut muka Sasuke yang tenang dan hampa seperti biasa itu. Sasuke lalu mendorong wajah Naruto dari hadapannya.

"Aku tidak seperti yang kau pikirkan, dobe. Tiba-tiba saja dia terjatuh di depan apartemennya. Jadi, aku menyuruhnya istirahat di apartemenku, mengingat apartemennya yang sangat berantakan itu." jawab Sasuke cepat. "Dan aku tidak suka melihatmu memasang wajah aneh itu. Meskipun saling bertetangga, aku tetap menganggap dia sebagai adik kelas, tidak kurang tidak lebih. Jadi, tak ada yang perlu kau curigai."

Tatapan Naruto kembali normal namun masih sedikit curiga, "Yeah, yeah, yeah. Kalau Ore-sama sudah mengatakan hal yang demikian, apa boleh buat. Tapi―" Naruto menatap ke arah arlojinya sekali lagi. "―dia benar-benar sudah baikan, kan?"

"Hn."

"HAHH... Yokatta!" seru Naruto seraya melayangkan tinjunya ke atas. "Kalau kau berbohong padaku lagi dan mengatakan Sakura-chan baik-baik saja, maaf saja, aku akan membalas semua bogem mentahmu, teme."

"Hn, whatever." balas Sasuke dengan tatapan yang takkalah sengitnya.

Naruto sedikit menyunggingkan senyum tipisnya. "Dalam beberapa menit, peserta kedua akan segera keluar. Tak kusangka, akhirnya datang juga hari yang kutunggu-tunggu ini."

"Kalau kau memang benar menunggu-nunggu hari yang seperti ini, kenapa tidak sejak dari dulu kau meluluskan dirimu itu, hah?" tanya Sasuke, mengalihkan pandangan kosongnya ke arah Naruto.

Naruto menaikkan pundaknya dan mengeluarkan kekehannya. "Dulu, belum terpikirkan olehku untuk menjadi seorang violinist di depan panggung orkestra. Aku masih senang dengan band-ku. Proyek kami sangat banyak dan cukup menyita waktu. Jadi... aku enjoy dengan kebebasan itu."

"Hanya saja, aku kembali berpikir dan mengingat-ingat sesuatu. Ternyata impianku belum berhenti di situ. Masih ada hal yang harus kulakukan sebelum lulus dari KMU. Hampir saja aku lupa dengan janjiku pada almarhum ibuku saat aku masih ingusan. Dan ternyata―"

Naruto memutar kepalanya, menatap Sasuke yang sedari tadi mendengar perkataannya. "―aku ingin menjadi chairperson di panggung orkestra. Kau tahu, saat kau punya impian kecil dan tiba-tiba saja kau lupa dengan impian itu, akan ada masa kau akan kembali mencari ingatan itu. Meskipun saat sekarang ini kau sudah puas dengan dirimu tapi kau belum menemukan impian sejatimu yang terkubur dalam memori lama, maka hidupmu selamanya akan menjadi hampa. Jadi, aku akan berusaha mengejar mimpi kecil yang terlupakan ini walaupun banyak rintangan yang menghadang. Kau setuju dengan itu kan, Ore-sama?" ungkap Naruto yang diakhiri dengan senyum lebarnya.

Sepertinya apa yang dikatakan oleh Naruto itu benar. Mungkin saja Sasuke lupa dengan impian kecilnya sehingga hidupnya dalam bermusik seakan hampa. Tapi, untuk menemukan impian kecil itu, ia harus kembali mengingat kejadian sepuluh tahun yang masih terpecah-pecah. Beberapa kali diingat pun, ia takdapat menemukan kepingan puzzle yang menjadi jawaban atas kegelisahannya selama ini. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia lakukan tuk menemukan kepingan memori itu? Bagaimana―

"Kalau kau?"

"Hn? Apa?" tanya Sasuke yang baru saja tersadar dari pikirannya sendiri.

"Apa impianmu? AH! Aku tahu. Untuk ukuran orang sepertimu sih, pasti impian kecilmu tak jauh-jauh dari yang namanya, ingin menjadi koduktor profesional dan bermain di Phylaharmonic Orchestra atau ingin menjadi juara dunia yang tak terkalahkan dalam hal piano atau juga―"

"Aku ingin diakui oleh Maestro-ku." potong Sasuke, membuat Naruto sedikit kaget. "Aku― aku ingin menemukan ingatanku yang hilang. Dengan begitu, sense of music-ku akan kembali." lanjutnya dengan nada lebih tenang. "Impianku hanya itu. Tak ada yang begitu spesial."

"Heh, dasar orang jenius. Semua perkataannya terlalu susah untuk dimengerti."

"Kaunya saja yang bodoh." ejek Sasuke. Wajah Naruto sedikit panas.

"APA?! Aku tidak bodoh, kau tahu! Memang benar kan? Bahasa orang sepertimu akan sulit untuk dipahami!" kilah Naruto takmau kalah.

"Berisik. Kau ribut sekali."

Hening lagi dan Naruto sedikit tenang. Sepersekian detik kemudian, sebuah suara pintu yang terbuka terdengar. Mata biru jernihnya menatap lurus-lurus ke arah sosok pemuda jangkung dan gadis berpakaian serba merah keluar dengan ekspresi yang datar. Taklama, gadis itu lalu menangis sekencang-kencangnya. Naruto pun harus sampai menutup telinganya.

"Anko-sensei jahat sekali. Seperti biasa, dia tetap mengerikan..." Naruto membatin dalam ketakutan.

"Hei, sekarang giliranmu kan?" tanya Sasuke seraya berdiri dari posisi duduknya. Ia meregangkan kedua lengannya seraya membuka kancing pergelangan tangan di lengan kemejanya dan menggulungnya hingga ke siku.

"Hmm, yeah." Naruto memperbaiki letak tas biolanya yang nyaris jatuh itu. Matanya terus saja menatap punggung kedua orang yang tampak muram tadi. Sudah dua peserta tapi hasilnya sama semua. Tidak lulus. Ia terus mengarahkan pandangannya hingga kedua orang itu menghilang dari pengelihatannya. "Kau bisa, kau bisa, KAU BISA!"

Sasuke menghela nafas pendek saat dilihatnya mata Naruto yang takmau berpindah dari sosok gagal itu. Ia lalu menepuk pundak Naruto dan menyadarkannya. "Kau bisa lebih baik dari mereka. Kau takkan menyerah hanya karena ini kan, Naruto?"

Senyum kecil sedikit mengembang di wajah kusut Naruto. Mendengar perkataan Sasuke yang tampaknya sedikit membesarkan hatinya, muncul suatu harapan besar tumbuh dalam dirinya. Senyum kecil itu semakin lama semakin melebar. Semangat yang luntur itu pun kembali membara. Sasuke benar, pikirnya. Ia takkan berakhir hanya karena ini. Ia harus berjuang demi impian kecilnya dan janji pada ibunya...

"YOSH! GANBA NE!!" seru Naruto seraya melayangkan tinjunya ke langit. Ia lalu menoleh, menatap seringai kecil di wajah Sasuke. "Let's start the show."

"Hn."

Melodi itu kembali menuai alunan indah. Spring dalam musim gugur. Sungguh suatu keajaiban. Tapi, hanya para serangga yang mampu melakukan itu. Serangga dengan kecekatannya, membawa not-not lepas kembali ke dalam scorebook. Ada satu hal yang membuat para serangga itu mampu bertahan dari dinginnya musim gugur yang mencekam itu. Hanya ada satu hal...

Spirit of young heart


Matahari telah begitu tinggi namun udara masih terasa chilly. Gadis berambut pirang panjang ini masih tergulung dalam selimut tebal kasurnya yang berornamen European itu. Entah kenapa ia terlalu memaksakan dirinya berlatih terus menerus hingga benar-benar lupa waktu istirahat. Sungguh menjadi seorang chairperson kelas A-Orchestra begitu menyita waktu bebasnya.

...

All your worries leave them somewhere else

Find a dream you can follow

Reach for something when there's nothing left

And the world's feeling hollow

...

Ia mendengar ponselnya berbunyi dan bergetar dari arah meja kecil di samping kasur tebalnya. Cahaya mentari yang sedikit menyusup dari balik gorden keemasan kamarnya membuatnya sedikit sebal. Ia merenggut dan membiarkan ponselnya terus saja menyanyi.

Kesal. Ia lalu berdiri dan meraih ponsel yang baru saja dibelinya beberapa hari yang lalu itu. Ponsel lamanya ia biarkan terbenam dalam tumpukan baju di lemarinya sejak acara keluarga yang menurutnya sangat membosankan itu. Saat dibuka, wajah suntuknya berubah kaget. Rambutnya yang mencuat ke mana-mana terlihat takkaruan. Iris biru nila yang menghiasi bola matanya membulat.

"Usso!" umpatnya. "Oh My God. Aku lupa!! ARGHHH..." serunya seraya meloncat dari kasurnya dan sesegera mungkin meraih kamar mandi yang letaknya takjauh dari bagian utama kamar mewahnya itu.

Dilihat-lihat, rupaya Nona Yamanaka ini benar-benar lupa dengan janji yang dibuatnya sendiri bersama dengan anggota kelas A-Orchestra lainnya. Malam sebelumnya, ia sudah menginformasikan ke seluruh anggotanya untuk datang pagi-pagi sekali di kelas latihan mereka. Tapi nampaknya, yang meributkan jangan datang terlambat itulah yang datang paling terakhir.

Hei Ms. Chairperson. Aku tahu kau pasti lelah. Tapi, jangan lupakan latihan kelas kita.

Best Regard,

Sai

Untungnya saja, ada yang mengingatkan. Kalau tidak, Ino mungkin akan dikatai sebagai orang yang takprofesional, mengingat imej-nya yang terkenal sebagai nona tepat waktu, nona paling stylish, nona paling anggun, dan nona dengan banyak penggemar sudah lekat pada dirinya sejak tahun pertamanya.

Ino meletakkan odol banyak-banyak di sikatnya dan mulai menyikat giginya yang putih itu. Busa putih terlihat memenuhi mulutnya. Ia kembali teringat dengan sebuah nama yang mengirimkannya pesan singkat itu. Rasa-rasanya, tidak ada yang bernama Sai di kelasnya ataukah jangan-jangan penggemar barunya? Yah, Ino takmau ambil pusing sebab orang entah-siapa-itu sudah berbaik hati mengingatkannya.

"Sai? Sai siapa ya?"

Setelah berhasil menyelesaikan rutinitas panggilan alam di pagi –yang sebenarnya sudah siang–, Ino cepat-cepat berlari ke arah lemari pakaiannya. Semua pakaian hangat yang digantung rapi di lemarinya sedikit membuatnya kebingungan. Ino terkenal dengan mode pakaiannya yang benar-benar stylish dan itu cukup memberikannya keoercayaan diri yang tinggi.

Hanya saja, dia terus saja mengacak-acak seluruh pakaiannya itu. Memilih-milih pakaian yang cocok untuk hari ini adalah hal tersulit baginya. Bagaimana tidak. Ia punya segudang pakaian dengan merk limited edition, mulai dari Prada, Gucci, Calvin Klein, dan merk pakaian mahal lainnya. Dan semuanya membuatnya bingung untuk memilih.

Ino mendengar ponselnya bernyanyi-nyanyi lagi. Dengan sigap, ia meraihnya dan meletakkannya diantara tulang pipi bawah dan bahunya, sedangkan kedua tangannya masih mengaduk-aduk semua pakaian yang menurutnya cocok.

"Kau akan datang kan?"

"Iya, aku datang kok. Maaf, aku benar-benar lupa. Soalnya aku pulang jam dua pagi semalam. Setelah dari latihan keras, aku langsung menuju ke pesta peresmian pameran lukisan milik anak sahabat ayahku." jawab Ino. Matanya dengan cekatan mulai menarik salah satu blouse, jeans hitam ,dan muffler putih dari lemari kacanya itu.

"Dasar kau ini. Yang lain sudah datang lho. Memangnya kau sudah di mana sekarang?"

"Masih di rumah. Oh ya, tolong katakan yang lain untuk latihan sendiri dulu tanpa aku, ya? Dalam setengah jam aku sudah ada di sana."

"Yah, baiklah."

Senyum kecil muncul di wajah putih bersih milik Ino. Setelah menemukan pakaian yang bagus dan cocok, ia lalu melemparnya ke arah kasurnya yang sangat berantakan itu. Tangannya yang bebas kemudian mengambil ponsel diantara dagu dan bahunya.

"Oh ya, Minami. Sebelum kau tutup, ada yang ingin kutanyakan."

"Apa?"

Sebuah nama yang takfamilier di telinga Ino kembali teringat di kepalanya. Setelah menjatuhkan dirinya dan duduk di sisi kasurnya, ia kembali bicara. "Kau kenal dengan seseorang yang bernama Sai?"

"Sai?"

"Iya. Tadi dia mengirimkanku pesan untuk mengingatkan akan latihan kita. Tapi, sepertinya tak ada orang yang bernama Sai di kelas A. Kau kenal dia?"

Diam sesaat. Orang yang berbicara di arah seberang tidak menjawab pertanyaan Ino secara langsung. Ino pun penasaran dan mengulang pertanyaannya. "Hei, Minami. Kenapa diam sih?"

"Hmm, masa' kau lupa sih?! Dia itu kan murid yang ditransfer oleh Tsunade-Shishou ke kelas kita beberapa hari yang lalu."

"HAH? Kau yakin? Yang mana? Kok aku tidak tahu. Perasaan aku selalu ada di setiap kelas kita latihan deh." ujar Ino seraya membuka gorden keemasan kamarnya. Ia sedikit meregangkan tubuhnya di depan jendela besar itu. Cahaya mentari sedikit menyinari tubuh mulusnya.

"Mungkin kau sedang ke toilet atau apa karena kita pun kaget dia tiba-tiba ada di kursi cello ruangan latihan kita tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu. Memangnya benar dia yang mengingatkanmu? Wahh... jangan-jangan muncul satu penggemar lagi nih, Ino." kata Minami dengan nada menggoda.

Ino tampak mengabaikan godaan dari Minami ke arahnya itu. Ia malah berpikir dan mengingat-ingat semua wajah di kursi cello yang latihan di kelas A semalam. "Cello? Hmm..."

"Hei, kau cepatlah ganti baju dan segera ke sini. Semuanya bisa kabur kalau kau telat. Ok?"

"Hmm... ya." jawab Ino. Kepalanya menoleh ke arah pakaian yang sudah dipilihnya dengan susah payah. "Cello?"

Takmau terlalu lama berkutat dengan sosok Sai yang menurutnya misterius itu, Ino segera mengenakan pakaiannya dan mulai merias dirinya. Ino sebenarnya tipe gadis yang sedikit tomboy dan tidak terlalu menyukai riasan yang tebal. Namun, karena ia adalah seorang chairperson, sedikit menambahkan rias walaupun tipis akan menunjang performance-nya.

Tas violin­-nya yang ia letakkan tepat di atas meja kecil dengan vas bunga Petunia diraihnya dengan sigap. Setelah sedikit melirik ke arah cermin untuk memastikan dirinya sudah terlihat lebih baik, ia lalu melesat turun dari kamarnya dan menuju ruang keluarga di bagian gedung inti rumah nya yang terlihat dari luar sangat tradisional padahal dari dalam sangat Western. Ia mendapati sang ayah yang baru saja menyeruput kopi hangatnya dan membuka koran paginya di salah satu kursi empuk berwarna merah marun itu.

Ino sedikit tersenyum jahil saat ia melihat ayahnya terlihat begitu serius mengamati indeks perekonomian yang mulai naik dari halaman Economy Today. Sifat isengnya muncul lagi. Ia berjalan mengendap-endap, menuju ke arah belakang kursi ayahnya dan sesegera mungkin mendaratkan telapak tangannya di depan mata ayahnya.

"Hayo... Tebak siapa ini?"

"Cinderella?"

Ino memanyunkan bibirnya, "Bukan."

"Mermaid girl?"

"Bukan, ayah. Ayo, tebak lagi."

"Hmm, kalau bukan Cinderella ataupun Mermaid girl. Pasti―" ayah Ino meletakkan lembar korannya di pangkuannya dan segera melepas tangan Ino dari matanya. "―putri ayah yang paling cantik di seluruh dunia."

Ino tersenyum cerah. Rambut pirang panjangnya yang selalu ia biarkan terurai sedikit jatuh dan menggelitiki dahi ayahnya yang agak lebar itu. Ayahnya pun meminta Ino untuk duduk di sofa dan ikut menghabiskan sandwich yang tersajikan di meja. Ino pun menurut dan saat melihat salah satu pelayan rumahnya baru saja kembali dari arah ruang depan, Ino memanggilnya dan meminta dibawakan segelas jus jeruk.

"Kau cantik sekali hari ini, my lovely daughter." ujar Yamanakan Inoichi, ayah Ino dengan senyum yang takkalah jahilnya. Ia kembali menekuni halaman korannya. "Ada sesuatu penting hari ini?"

"Yeah." jawab Ino seraya memasukkan sepotong sandwich ke dalam mulutnya. "Latihan penting untuk festival kampus. Kemarin, tiba-tiba saja, Asume-sensei mengabarkan pada kelas A-Orchestra supaya menghentikan latihan penting untuk konser bulan Oktober dan malam Natal nanti dan beralih untuk lebih fokus dalam KMU Music Festival yang akan diselenggarakan minggu depan."

Ayahnya mengangguk mengerti. Kacamata bacanya terlihat sedikit turun dan ia mengangkatnya dengan telunjuknya, masih berkutat dengan angka-angka kenaikan kurva penjualan saham di bursa efek Konoha.

Ino mengambil gelas jus jeruknya dari tangan pelayannya yang selalu tersenyum ramah. "Trims."

"Doumo."

"Oh ya, Ibu mana, Yah?" tanya Ino. "Kok belum turun."

"Ibumu sudah pergi pagi-pagi sekali tadi. Katanya harus mengecek surat laporan keuangan perusahaannya dari Ame. Sekalian ke salon, katanya. Hahh... Ayah tak habis pikir, Ibumu itu bisa tahan duduk berlama-lama di kursi salon. Dan rupanya menurun ke anaknya." Ayah Ino sedikit mengeluarkan seringai kecilnya. Tapi, Ino membalas sama sinisnya.

"Tapi, Ayah suka kan?"

"Haha. Sepertinya begitu. Ya sudah, cepat sana pergi. Nanti temanmu yang lain menunggu terlalu lama."

"Hmm." Setelah meneguk sedikit jus jeruknya dan menghabiskannya perlahan, Ino lalu berdiri dari sofanya dan membetulkan letak tas violin yang tergantung di bahu kanannya. Taklupa ia lalu mencium dahi ayahnya yang benar-benar licin itu.

"OK! Aku pergi dulu ya, Yah. Wish me luck!"

"Always, my dear."

Dengan langkah cepat, Ino berlari kecil menuju pelataran garasi rumah kayunya yang terletak sedikit jauh dari gedung inti rumahnya yang bertingkat tiga, sebenarnya hanya dibatasi sebuah taman chaniwa yang menyejukkan. Ino tersenyum cerah seraya menyapa semua pelayan rumahnya yang berpakaian kimono sederhana. Mereka pun menjawab dengan menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Sesampainya di garasi mobil, ia lalu menarik kunci mobilnya dan memencet tombol alarmnya. BMW Silver-nya terlihat sangat mulus dan bercahaya. Ia memutar kunci mobilnya dan segera melesat menjauhi kompleks perumahan mewah di White Tulip Avenue itu. Dedaunan coklat yang berguguran itu memberikan kesan klasik bagi Ino. Selama perjalanan, ia terus saja mengingat tiap nada dan not yang terpatri pada scorebook yang dipilih kelas A-Orchestra dan berhasil terekam di kepalanya.

Allegro ma non troppo, un poco maestoso from Beethoven's Symphony No. 9 in D minor, Op. 125 terdengar mengalun pelan dalam kepala Ino. Takhanya memiliki pendengaran yang bagus, memorinya yang cepat dalam menghapal tiap not balok pada scorebook merupakan kunci kesuksesannya selama ini. Ia memang tipe gadis ambisius dan akan melakukan apa saja demi mendapatkan hal yang diinginkannya, apapun demi mimpinya...


Sasuke merasakan begitu banyak perubahan yang terjadi pada diri Naruto saat ini. Rupanya ia telah begitu keras melatih dirinya hingga mampu menjadi salah satu dari empat peserta yang lulus ujian violinist tingkat tiga, padahal ada sekitar belasan siswa KMU yang mengikutinya. Dan itu semua taklepas dari latihan singkatnya bersama Sakura dan dari dirinya.

Selama di dalam ballroom, Anko-sensei terus saja tersenyum sinis. Seringai ngeri yang setiap saat selalu muncul di bibirnya kala menjadi penguji agak membuat Naruto menelan ludah berkali-kali. Tapi, dari belakang, Sasuke selalu mengingatkannya untuk tenang. Melodi awal yang dibawakan oleh piano Sasuke mampu dikembalikannya dengan baik. Dan ia mampu menjadi dirinya sendiri sesuai apa yang dikatakannya pada Naruto sebelum memainkan melodi Spring.

"Kali ini tidak usah terpaut dengan tekhnik dan detail. Dengarkan saja intro yang kubawakan. Selebihnya, lakukan dengan sesuka hatimu."

Naruto pun menjadi dirinya sendiri. Ia mengekspresikan segala the joy of shining youthful-nya melalui alunan Allegro from Beethoven's Sonata for Piano and Violin in F major, Op. 24 "Spring". Ia telah dibebaskan dengan segala peraturan dan tekhnik itu oleh Ore-sama dan itu cukup membuatnya merasa nyaman membawakan violin-nya di depan para juri.

Perasaan senang dan lega begitu mengisi tubuh Naruto saat ia telah berhasil melewatkan satu momen yang sangat mendebarkan. Lepas sudah satu hal yang mengikat dirinya untuk mengejar mimpinya menjadi chairperson. Dan itu artinya, taklama lagi ia akan duduk di kursi depan orkestra dan menerima instruksi langsung dari seorang Maestro.

"HAHH... Rasanya bisa menghirup udara banyak-banyak dengan bebas..." seru Naruto yang baru saja menuruni undakan anak tangga menuju lantai dua di gedung pusat KMU. Sasuke yang mengikutinya dari belakang hanya menampakkan wajah datarnya seperti biasa.

"Tidak mengucapkan terima kasih pada Ore-sama ini, hm?"

Naruto berhenti sebentar dan berbalik, "Iya, iya. Arigatou ne, Sasuke. Dan, sampaikan rasa terima kasih juga untuk Sakura. Kalau bertemu, akan kutraktir lagi dia."

"Hn."

Sasuke sedikit menarik ujung bibirnya. Kedua musisi tahun terakhir itu kembali melanjutkan langkahnya.

"Kau tahu, sudah tak lama lagi. TAK LAMA LAGI. Kursi chairperson itu akan menunggu untuk diduduki olehku. Hahh... senang sekali..." seru Naruto, pikirannya terbang entah ke mana.

Entah ada perasaan ganjil muncul di sela-sela tulang rusuk Sasuke. Mungkinkah benar saat kau berhasil menolong seorang teman dan ia mengucapkan terima kasih padamu, perasaan senang akan muncul di hatimu? Mungkin saja benar.

Sasuke bisa mendengar samar-samar Naruto terus saja berceloteh tentang hal-hal yang akan dilakukannya saat menjadi seorang chairperson. Kalimat-kalimat seperti aku akan memberikan bonus potongan harga untuk semua menu di restoran untuk semua teman di kelas S atau aku akan membuat spanduk dengan tulisan besar-besar kalau aku adalah seorang chairperson, terdengar di telinga Sasuke. Namun, ia hanya bisa menjawab dengan dua huruf saja yaitu hn.

Tepat di ujung tangga lantai bawah, Sasuke sedikit menangkap potongan melodi Symphony No. 9 in D minor, Op. 125 karya Ludwig van Beethoven dari arah sebuah ruangan yang diketahuinya adalah kelas latihan milik kelas A-Orchestra. Ia terdiam sebentar dan berusaha meresap alunan harmonisasi yang benar-benar sempurna itu. Matanya sedikit tertutup saat alunan violin dan cello membawa melodi yang begitu teratur.

Naruto merasa diacuhkan. Semua perkataannya seakan tidak mendapatkan respon dari Sasuke. Saat berbalik kesal, ia lalu melongo, memandang Sasuke yang terhenyak dalam lamunannya. Sebuah tepukan keras membuat Sasuke terbangun.

"Kau melamun lagi?" tanya Naruto, bibirnya sedikit dimajukan.

Sasuke berbalik menatap kesal. "Bukan urusanmu." jawabnya ketus seraya melanjutkan kembali langkahnya.

"OI!" panggil Naruto, membuat Sasuke menghentikan langkahnya lagi. "Aku tahu kau pasti ingin sekali berada di depan podium konduktor kelas A-Orchestra. Kenapa tidak mencoba mendengar latihan mereka? Lagipula, kau juga sudah ditunjuk sama Tanuki-jiijii untuk menjadi asistennya di kelas S-Orchestra. Siapa tahu bisa memberikan sedikit gambaran, eh."

Naruto berjalan mendekati Sasuke yang termangu sedikit. Dengan pelan, ia menepuk satu pundak Sasuke. "Apapun untuk mimpimu, lakukan saja yang terbaik. Ma', kurasa aku harus memberitahukan kelulusanku yang menggembirakan ini pada Tou-san!" serunya. "Ganbatte ne, Ore-sama."

Mendengar perkataan Naruto yang menurutnya sedikit benar. Apapun untuk mimpimu, lakukan saja yang terbaik, ulangnya dalam hati. Sebuah seringai tipis menggantikan wajah datar Sasuke. Untuk beberapa saat, ia menatap punggung Naruto dari kejauhan. Mata onyx-nya terlihat takhampa lagi.


Ino baru saja memperbaiki peg violin-nya dan mencari-cari nada yang sesuai. Matanya terlihat begitu berkonsentrasi dengan scorebook yang ada di hadapannya. Kelas A-Orchestra sudah biasa berlatih sendiri tanpa ada seorang guru yang melatih. Sama seperti hari ini.

Anggota kelas A-Orchestra lainnya juga begitu serius dengan ansambel mereka masing-masing. Viola, violin, horn, flute, clarinet, oboe, cello, kontrabas, trumper, piccolo, bason, cornet, trombone dan timpani mengisi panggung kayu yang luas itu. Taklupa pula dengan kursi-kursi berwarna merah yang berdiri saling berkesinambungan tepat di depan panggung, layaknya ruangan bioskop.

Dengan sebuah hentakan pelan, Ino meminta kepada semua anggotanya untuk bersiap dengan ansambel mereka. Sang chairperson mulai menggesekkan stick violin-nya dengan pelan, memulai interlude akan Symphony No. 9 in D minor, Op. 125. Rambut pirang panjangnya seakan mengikuti tiap gerakan tubuhnya saat memainkan violin­-nya itu.

Harmonisasi alunan nada yang indah dan sempurna terasa memenuhi ruangan private milik kelas A-Orchestra itu. Suara-suara ansambel yang saling menyatu itu seakan mampu mengobati luka hati yang begitu dalam.

Sasuke baru saja mendudukkan dirinya di salah satu kursi penonton di ruangan itu. Cahaya terang yang hanya menyinari bagian panggung membuat dirinya seakan hilang termakan gelap. Ia begitu menikmati alunan nada yang dikeluarkan oleh siswa-siswi kelas orkestra paling terkenal di seantero sekolah musik di Konohagakure no Sato.

Dengan pelan, lantunan melodi itu akhirnya berhenti. Ino lalu berdiri dari kursinya dan menepukkan telapak tangannya, mengucapkan kata bravo. Semua yang mendengar pun hanya tersenyum puas dan mulai bercerita lagi, menganggap diberikan waktu istirahat oleh sang chairperson.

Merasa sedikit haus, Ino lalu turun dari panggung orkestra dan menuju salah satu kursi di mana ia meletakkan botol air minumnya di sana. Matanya seperti menangkap pemandangan yang takbiasa.

"Sasuke-kun?" tanyanya seraya mengernyitkan dahinya. "SASUKE?!"

"Hn."

"Suatu kejutan! Aku tidak tahu kau ada di situ. Sudah berapa lama kau melihat kami?" lanjut Ino, berjalan mendekati kursi Sasuke yang letaknya agak jauh.

"Beberapa menit yang lalu, kurasa." jawabnya yang dibalas senyum manis oleh Ino.

"Bagaimana kabarmu? Kuharap selalu baik. Berita yang waktu itu benar-benar membuatku terkejut, kau tahu. Tapi, itu bukan pertanyaan utama sekarang." ujar Ino sembari meneguk banyak-banyak air dalam botol. "Well, minggu depan akan ada festival musik. Asuma-sensei benar-benar mengepush kami. Kau tahu kan dia itu tipe guru yang ambisius."

"Sama seperti dirimu kan?"

Ino tertawa lebar dan kembali berbicara. "Yeah. Ambisi itu perlu. Tanpa ambisi, kau tak mungkin berusaha keras untuk mengejar mimpimu. Oh ya, bagaimana menurutmu melodi yang kelas kami bawa, eh Sasuke?"

Sasuke sedikit menoleh, menatap semua anggota kelas A yang terlihat bercanda tawa. Ada juga yang masih berkutat dengan ansambelnya dan scorebook. "Sangat teratur."

"YOKATTA!" seru Ino dengan perasaan lega. "Kalau yang mengatakannya adalah Sasuke-kun, aku percaya. Padahal tadi aku selalu merasa ada yang kurang."

Ino beralih menatap wajah Sasuke yang masih memandang ke arah panggung. Setelah dilihatnya baik-baik, rupanya Sasuke memusatkan pandangannya ke arah podium conductor yang menjadi inti dari panggung orkestra.

"Masih bermimpi berdiri di sana?" tanya Ino, membuyarkan pandangan Sasuke. "Sangat keren ya. Berdiri di depan para pemain ansambel dan menjadi pusat dari mata penonton. Hmm, Sasuke."

"Apa?"

"Kudengar dari Hinata―"

Mendengar kata Hinata, muncul perasaan aneh pada diri Sasuke. Sepertinya ia benar-benar melupakan masalah Hinata beberapa hari ini, terutama semenjak disibukkan dengan latihan privatnya bersama Sakura dan Naruto.

"Dia menceritakannya padamu ya?" tanya Sasuke, membuat Ino memutar bola matanya dan menatap ke arah langit-langit yang gelap.

"Ya. Apa karena gadis itu―"

"Tidak. Kurasa kalau aku masih melanjutkan hubungan itu, dia akan terus tersakiti oleh sikapku. Lagipula, saat ini aku benar-benar tak tahu untuk memulai hubungan lain yang lebih serius. Jadi, bukan karena siapapun." potong Sasuke. Ino hanya mengangguk paham.

"O-oke. Maaf. Tapi, kau tahu, jauh dari lubuk hatinya, ia masih berharap banyak darimu. Menurutku, kau harus bicara padanya dan membuat semuanya lebih jelas."

Sasuke terdiam sesaat. Mungkin karena ia begitu sibuk dan terus saja berkutat dengan kepingan memori bodoh yang menghantuinya, ia jadi kaku menghadapi orang lain.

Tiba-tiba saja, seorang pemuda berkulit putih pucat dengan rambut hitam pendek mendekati Ino dan Sasuke. Senyum polos yang selalu terpatri di wajahnya menjadi ciri khasnya.

"Sai? Kenapa?" tanya Ino yang akhirnya telah mengenal sosok orang yang telah berbaik hati mengingatkannya akan latihan penting pagi tadi.

"Yang lain sudah siap. Kita latihan lagi. Ayo." ajaknya, masih menyunggingkan senyum anehnya. Ia seperti menunduk pelan ke arah Sasuke dan hanya dibalas dengan tatapan singkat dari Sasuke.

"Ok. Mm, maaf ya, Sasuke. Aku harus latihan lagi. Kau bisa menikmati penampilan kami kalau kau mau."

"Hn."

Kedua musisi berdawai itu berjalan menjauhi Sasuke. Taklama, suara alunan Symphony No. 9 in D minor, Op. 125 terdengar pelan dan merdu, mengalun di setiap syaraf Sasuke. Dia jadi sedikit tenang meskipun di depannya nanti, ia akan dihadapkan dengan hal yang lebih rumit lagi.

Melihat podium conductor yang kosong itu, ingatan untuk berpindah divisi yang sempat hilang kembali membayangi dirinya. Sekarang, sudah takada lagi hal berat yang mengikat dirinya kecuali menjadi asisten Maestro Jiraiya di kelas S-Orchestra. Keinginan terdalam itu semakin menguat kala perasaan tuk meraih impian kecil menggelayuti dirinya. Apapun demi impianmu...

Uchiha Sasuke sudah membulatkan tekadnya untuk berpindah divisi tahun ini...

TSUDZUKU


Wow, Sasuke akan berganti divisi. Gimana dengan tanggapan Sakura ama Naruto ya? Hm, hm...

Eto... ini jawaban atas review teman-teman author.

Uchibi_nara : makasih sudah membaca! Dibaca lagi ya yang selanjutnya dan review lagi.

Hiryuka Nishimori : back to school nih. Hm, hm, belajar yang rajin ya. Well, Itachi always loves his baby brother. Tapi, dasar si Saskay. Emang di mana-mana nggak pernah sopan ama kakaknya. OK! Baca dan review ya!

HakAr4 s1N : Makasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca 11 chapter sekaligus. Hehe, iya nih, emang panjang banget. Soal fic kamu, nanti deh aku baca dan review. Ok! Baca lagi dan review ya.

Aika Uchiha : Eits, masih tetep eksis dong. Memang untuk beberapa lama saya tidak bisa menulis, mengingat saya harus menjalani banyak ujian juga di tahun ini. Maklum anak kelas tiga... Review!

Furukara Kyu : Kyu-san! Ganbatte buat Olimpiade-nya ya! Semangat! Semangat! ^_^. Hmm, kelihatannya sih si Saskay ada hati sama Saku. Kita lihat yang selanjutnya ya. Ok! Read and Review ya!

Kakkoi-chan : Ehe, iya nih. Masih panjang seperti biasa. Yang ini juga masih panjang. Hhehe -digiles becak-. Keep reading and review.

~Arigato Gozaimashita~

Emi Yoshikuni