*
Empat
*
Baru lima belas menit berada di Gift Shop, Milo dan Aiolia langsung tepar nggak kuaaaaaaatttt!!! Gaaah! Duel di Sanctuary aja masih lebih menarik…di Gift Shop yang mereka liat cuma warna pink, pink, dan pink! Ampun deh…Milo dan Aiolia pun langsung mutusin untuk minum cappuccino di kafe sebelah, sementara Aphrodite masih bertahan di Gift Shop itu. Selain karena dianya nggak keberatan ngelihat warna pink, sepertinya cintanya pada Athena juga lumayan besar sampe-sampe dia betah berdiri lama-lama di sana.
"Bisa turun imej gue kalo kelamaan di sana," gumam Aiolia. "Bisa dikira om-om girang…"
"Kenapa sih cewek demen banget warna pink?" gumam Milo sambil mengaduk-aduk minumannya. "Kenapa cewek nggak suka hiasan dinding kayak yang dibikin Deathmask aja? Kan bagus tuh…lebih punya taste…," sambung Milo dengan gaya iklan. Aiolia terkikik pelan.
Mereka minum dalam tenang, sampai akhirnya Aiolia sedikit tersedak karena melihat ada orang yang dikenalnya berjalan dengan terburu-buru di luar kafe.
"Kenapa lo, Li?" tanya Milo.
"Ntu Shion, ya, Mi??"
"Hah?? Mana??"
"Itu!" Aiolia menunjuk ke jendela kafe. Milo mengikuti arah pandang Aiolia. Benar…Shion berjalan terburu-buru di luar, membawa sekuntum bouquet bunga. Shion dan bunga…jaka sembung ditabok…nggak nyambung bok…
"Eh, kita godain yuk, Li," kata Milo menyeringai. Aiolia balas menyeringai dan
mereka berdua pun keluar dari kafe, berusaha mengejar senior mereka.
"POPE SHIOOOOOOOOOOOOON!!!!!" panggil mereka, keras banget sehingga pasti bisa kedengaran sampai Jamir.
Panggilan itu sukses membuat Shion menoleh. Secara refleks ia langsung menyembunyikan bunga itu di balik punggungnya.
"Ngapain Anda di sini?" tanya Aiolia senang. "Itu bunga buat siapa?"
"Bunga apa?" tanya Shion gugup.
"Bunga itu!"
"Bukan buat apa-apa kok—"
"Hayo, mau ngerayain hari kasih sayang juga ya??!" tanya Milo ceria. "Mau ngasih ke siapa sih??"
"Nggak…saya…," mata Shion tiba-tiba menyipit ketika ia teringat sesuatu. "Kamu sudah bersihin kuilmu, belum, Milo?" tanyanya datar.
Wajah Milo langsung memerah. "Be…belum sih…"
"Kalo gitu kamu dihukum nggak dapet makan siang selama seminggu," sahut Shion tanpa ampun.
"Pope, Milo harus bantuin Aphrodite nyari kado buat Athena," sahut Aiolia membantu.
"Nanti kalo sudah pulang pasti saya bersihin," sahut Milo buru-buru, kemudian ia kembali nyengir. "Nah gantian saya dong yang nanya, ntu bunganya buat siapa??"
Sekarang ganti wajah Shion yang memerah…wah bener-bener keajaiban dunia… "Dibilangin bukan buat siapa-siapa—"
"Ngaku aja deh, Pope, udah kepergok juga…"
Shion menghela napas panjang. "Baiklah…," katanya akhirnya. "Tapi jangan bilang siapa-siapa ya…"
"Tenang aja," jawab Aiolia dan Milo sambil nyengir-nyengir.
"Mau saya taruh di makamnya Yuzuriha**," jawab Shion. Lalu ia, masih dengan wajah memerah, mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kalung bermata cincin. "Ini juga…"
Mata cokelat Aiolia berbinar-binar.
Tapi anehnya mata biru Milo agak meredup.
"Kenapa kalungnya harus bermata cincin?" tanya Aiolia.
"Karena cincin itu—"
"Miloooo!!! Aioooo!!!" ucapan Shion terpotong oleh panggilan dari Gift Shop. Milo dan Aiolia menarik napas panjang. "Kayaknya Dite dah selesai milih kadonya, Mi," kata Aiolia. "Pope Shion, kita ke sana dulu ya…salam buat Mu dan Kiki! Eh…sama Yuzuriha-san juga!" dan dua pemuda tampan itu pun segera berlari ke Gift Shop, sementara Shion hanya tersenyum dan menggeleng pelan, meninggalkan area perbelanjaan itu.
Di Gift Shop, Milo dan Aiolia malas-malasan mendekati Aphrodite.
"Udah dapet, belum, Dite?" tanya Milo.
"Udah! Lihat niiiih!!" kata Aphrodite cerah, menunjukkan sebuah kalung perak yang indah. Kalung itu belum ada liontinnya. "Bagus, nggak?"
"Lumayan," jawab Aiolia, sementara Milo melihat-lihat barang lain—rupanya tadi dia hampir lupa kalo dia juga harus nyari kado buat Athena.
"Tapi kok belum ada liontinnya?" tanya Aiolia.
"Ho-oh, aku binun nih mau milih liontin, pilihin dong," jawab Aphrodite sambil menunjuk etalase yang memajang berbagai bentuk dan warna liontin.
"Hmmmm…," Aiolia melihat-lihat liontin-liontin itu. Tiba-tiba saja di kepalanya muncul bola lampu ketika teringat pertemuannya dengan Shion tadi. Pada saat bersamaan, ia akhirnya juga memahami sesuatu yang lain. Tentang arti sebuah cincin. "Kenapa lo nggak beli cincin juga??" tanyanya. "Jadi ntar kalungnya dimasukin ama cincin itu dan cincin itu jadi liontinnya kalung terus kalungnya pake liontinnya ya sama cincin ntu—"
"Kamu ngomong apa sih, Aio??"
"Eeeh…maksud gue, yahh lo ngerti sendirilah…cincinnya jadi liontinnya kalung itu."
"Kenapa harus cincin?"
"Karena cincin itu…"
"…abadi...," Milo melanjutkan.
Aphrodite dan Aiolia tertegun.
"Bener, cincin itu abadi. Jadi cincin itu buat nunjukin kalo cinta lo ke Athena abadi, Dite," kata Aiolia. "Lo tau juga, ya, Mi…romantis juga."
"Gue pernah dikasih tahu…sama orangtua gue dulu. Sehari sebelum mereka meninggal," sahut Milo pelan.
"Oh…"
…
…
…
…………
"Aduh kok suasananya jadi sedih gini, sih…" gerutu Aphrodite.
"Tau tuh, tanya aja ma authornya," sahut Aiolia kesal. "Fic humor disisipi masa lalu yang sedih-sedih…"
"Dasar author mellow gaje," sungut Aphrodite. "Untung zodiaknya Pisces juga…"
Milo tertawa. "Ya udah sono, beli aja kalung ama cincinnya, kaga' usah ngurusin authornya…"
(Yuki: Miloooooo kau jahaatt…hikss…hikss…)
"Eh…ini ada kalung bagus," sambung Milo, meraih kalung perak dengan liontin berbentuk tetesan air yang sejak tadi menarik perhatiannya. "Gue beli ini aja deh buat Nona Saori."
Raut wajah Aphrodite tiba-tiba saja berubah mendengarnya: bibirnya berkerut-kerut, pipinya jadi abu-abu, dan matanya membelalak.
"Kamu juga mau beli kalung buat Athena??" tanyanya sewot.
Milo heran banget melihat fluktuasi raut wajah Aphrodite. "Iya, emang kenapa?"
"Huh!" sungut Aphrodite ngambek. "Niru-niru aja!"
"Ya ampuuun, Dite, gue ngerti lo cinta ama Athena! Tapi gue kan udah bilang, gue nganggep Athena seperti ibu gue sendiri…! Kalung ini kan nggak berarti apa-apa, cuma tanda kalo gue sayang Athena sebagai nyokap gue…kok lo cemburu gitu sih??" tanya Milo dengan tanda tanya besar di kepalanya. Nggak pernaaah deh seumur-umur dia seheran ini…padahal banyak banget kegilaan yang udah dilakuin Aphrodite, tapi nggak ada yang bikin dia nggak berkedip selama 20 detik kayak gini…
Aphrodite masih tetap monyong, sampai akhirnya, Milo mengalah dan mengembalikan kalung itu ke tempatnya. "Ya udah, gue nggak jadi beli," katanya kesal.
Wajah Aphrodite mendadak bersinar kembali, seperti awan mendung yang tiba-tiba saja berubah menjadi pelangi. (halah!) "Ya udah, aku bayar dulu yaaa," katanya, melangkah ringan menuju kasir.
Aiolia berjalan menghampiri Milo sambil menggeleng. "Susah ngadepin orang yang baru pertama kali jatuh cinta…"
Milo nyengir. Sekarang terpaksa dia harus milih-milih kado lain buat Athena. Yah…pikirnya kan Dite marah gara-gara hadiah yang dia pilih tadi sama-sama kalungnya. Kalau dia beli hadiah lain, mungkin Aphrodite nggak akan marah lagi. "Pernah ngalamin sendiri ya?" tanyanya pada Aiolia.
Aiolia cuma senyum-senyum. Ia masih mengikuti Milo yang sekarang ada di section baju cewek.
"Lo katanya juga nyari kado buat Marin, belum dapet?" tanya Milo, melihat-lihat gaun-gaun panjang yang ada di sana.
"Nggak deh, gue berubah pikiran…gue ngasih ke Aiolos aja. Ntar mampir dulu ke toko sebelah."
"Nggak jadi ngasih ke Marin? Kenapa?"
"Nggak pa pa, kan hari kasih sayang nggak cuma buat pacar. Lagian gue juga jarang ngasih hadiah ke kakak gue, budget gue seringnya buat nge-date ama Marin sih…"
Milo terkikik, lalu meraih salah satu gaun yang indah sekali. Gile nih Aa' Milo, seleranya selalu tinggi.
"Mi," kata Aiolia setelah beberapa saat. "Kamu…"
"'Kamu'??" sahut Milo spontan. "Tumben-tumben lo manggil gue 'kamu'…"
"Eh…mau ngomong serius soalnya, hehehe… Hmm…kamu…masih ingat kenangan tentang orangtua kamu-kah…?"
…
…
…
……………
"Nih authornya hobi banget sih nyisipin omongan sedih gak guna…," gumam Milo.
"Kamu…masih ingat sama orangtua kamu…?" Aiolia bertanya lagi.
"Hmmm…sedikit, sih…," jawab Milo pelan. "Gue kehilangan banget sih…makanya…gue ngelihat sosok ibu gue di Athena…"
"Kalo gue sih nggak inget…gue inget cuma dari cerita-ceritanya Aiolos aja…," sahut Aiolia lirih.
"Oh…," kata Milo. Kemudian ia tersenyum tulus. "Kita semua senasib, Li…"
"Iya…"
Mereka berdua saling tersenyum.
Beberapa detik kemudian terdengar suara ceria menghampiri Milo dan Aiolia. "Aku udah bayaaaarr!!! Dibungkus kotak dan kertas kado! Bagus kan??" Aphrodite menunjukkan hadiahnya yang sudah terkemas indah.
"Iya bagus," jawab Milo otomatis. Ia kemudian melangkah menuju kasir, membawa gaun putih indah yang sejak tadi dipegangnya.
"Eh," raut wajah Aphrodite mulai menunjukkan alarm bahaya lagi. Matanya menyipit memandang gerak-gerik Milo. "Milo, buat apa beli gaun?"
"Kado buat Athena, kan…elo sih nggak ngijinin gue beli kalung…"
Sekarang wajah Aphrodite bertransformasi lagi, miriiiiiiiiip sekali dengan yang tadi: bibir berkerut-kerut, pipi berubah berwarna abu-abu, dan mata membelalak.
"Mulai lagi deh…," gumam Aiolia.
"Kamu mau beli gaun itu buat Athena??" tanya Aphrodite pada Milo.
Milo menoleh ke arah Aphrodite, mata indahnya nggak berkedip sama sekali. "Iya, Dite…nah katanya tadi gue nggak boleh beli kalung…"
"Beli gaun juga berlebihan, tau!" gerutu Aphrodite.
Milo memandang Aiolia, mengharapkan bantuan. Tapi Aiolia hanya menggeleng pasrah.
"Duh, cemburuan banget sih lo, Dite!" sungut Milo. Ia akhirnya terpaksa batal membeli lagi, sampe kasirnya memberengut. Untung ganteng…, gumam kasirnya.
Melihat Milo menyerah, Aphrodite kembali berbinar-binar dan bersenandung kecil.
Dengan perasaan bete luar biasa, Milo dan Aiolia pun melangkah mengikuti Aphrodite yang beranjak keluar dari Gift Shop. Tapi sebelum Milo keluar, selagi Aphrodite berjalan paling depan dan tidak melihat, diam-diam si Scorpio itu mengambil kalung liontin berliontin bunga yang tadi dikembalikannya, membawanya ke kasir, dan cepat-cepat membayarnya. Lalu dimasukkannya kalung itu ke dalam sakunya.
"Sori, Dite…tapi gue bener-bener pengen ngasih kado buat Athena…," gumamnya dalam hati.
Tarararararararara…bab limaaa!!!
