Author's Note:
Thanks untuk semua yang sudah mereview!! Megu cinta kaliaaan! *nemplok, peluk-peluk* *digampar*
Nah, akhirnya chapter 2 selesai sesuai deadline. Semoga tidak jelek karena bikinnya buru-buru… XP
Disclaimer:
I do not own Naruto. Naruto is belongs to Masashi Kishimoto-sensei. Maaf sensei, di chap satu kemarin Megu lupa nulis disclaimer, trus mau ngedit juga sayang pulsanya… *disiram tinta*
A Naruto Fanfiction, inspired by The Bird and The Bee's Song
Special Fic for Fujoshi Independence Day
Don't Stop The Music
-Chapter 2-
By: Chiaki Megumi
Langkah demi langkah masing-masing mereka ambil menuju lantai dansa. Sang pemilik mata biru tak bisa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari pria yang satu. Langkah tegapnya, punggung tegaknya, wajahnya, sinar matanya… dan auranya. Semuanya. Semuanya mencerminkan kekuatan sekaligus keindahan. Bagaikan karya seni yang hidup dan bergerak, tak sedikitpun membuat Naruto mampu memandang ke arah lain. Tak sabar rasanya berada lebih dekat dengan orang ini, berada di sisinya… berdansa dengannya… dan… ah, bagaimana kalau merayunya?—pikir Naruto tiba-tiba. Setelahnya, lagi-lagi senyum geli terukir di wajahnya saat mengingat dialog pertama mereka beberapa puluh detik yang lalu. Bohong kalau ia tak kesal mendengar kata 'dobe' keluar dari mulut lelaki itu, namun lebih bohong lagi kalau ia mengaku tak senang mendapat ajakan tersebut. Tapi tetap saja, tak sedikitpun ia menyangka pria bermata onyx ini akan berbuat begitu. Rupanya yang sedang tertarik berdansa dengan seseorang bukan dia saja ya…?
Mereka akhirnya sampai ke lantai kaca hitam tempat berdansa, tak begitu jauh dari tangga yang menghubungkan tingkat pertama dan lantai ini, tapi justru tak begitu sesak dengan orang-orang yang tengah menggoyangkan tubuhnya. Di sana, pria berambut hitam itu berdiri diam, memandang tanpa kata pada Naruto di hadapannya.
"Apalagi yang kau tunggu?" tanya Naruto sambil tersenyum penuh percaya diri pada pria yang tingginya hampir sama dengannya itu. Meski bertanya begini, sang pria pirang sekalipun belum juga menggerakkan tubuhnya, tetap berdiri diam berhadap-hadapan dengan partnernya.
Kedua mata hitam itu tak beralih dari sang lelaki pirang. Lalu suara yang sangat Naruto sukai itu kembali terdengar di telinganya… "Kubilang satu lagu, bukan satu setengah lagu."
"Kau mau menunggu sampai lagu ini habis?" balasnya sambil mengangkat alis seolah tak percaya, seringai penuh percaya diri itu kembali terukir di wajahnya, "Semakin banyak waktu yang kita habiskan dengan berdansa bersama akan semakin baik bagi kita, Cin-de-re-lla." Naruto sengaja memberi penekanan pada kata terakhir. Dan dengan sengaja pula ia meraih masing-masing pergelangan tangan lelaki muda di hadapannya ini dengan kedua tangannya sendiri, tak lupa Naruto menariknya hingga tubuh mereka benar-benar saling berhadapan.
Senyuman tak sedikitpun menghilang dari wajah Naruto, walaupun rasanya ia hampir bisa melihat wajah yang tadinya tanpa ekspresi itu mulai dipenuhi dengan kekesalan—hanya hampir. Toh tak sedikitpun sang pria yang memakai kemeja hitam berusaha melepaskan diri darinya. Tanpa sadar lelaki berkulit kecokelatan ini jadi semakin dipenuhi rasa ingin tahu. Apakah pria ini akan benar-benar menunjukkan kekesalannya andaikata ia memaksanya berdansa sekarang? Well, ia ingin sekali melihat wajah berkulit putih bersih ini menunjukkan lebih banyak ekspresi. Jadi apa salahnya dicoba…?
Hampir saja Naruto menggerakkan tubuhnya sendiri—tentu untuk memaksa sang partner ikut bergerak dengannya—namun gerakannya terpotong oleh pergantian lirik yang mengalun di telinganya.
"Ah," desah Naruto dengan dagu terangkat. Mereka tak sadar lagu sudah berganti, satu lagu yang menjadi perjanjian mereka kini telah berputar dan siap mengiringi siapapun yang ingin menari di dalamnya. Pria muda berambut pirang ini lalu mengubah posisi wajahnya, kembali memandang tepat pada dua mata onyx yang tiba-tiba saja sangat ia puja itu. Didapatinya lelaki muda itu tersenyum—bukan, mungkin lebih tepat disebut menyeringai tipis ke arahnya. Lalu, kedua pergelangan tangan itu tiba-tiba saja lepas dari genggaman tangannya—hanya untuk berpindah dan melingkari pinggangnya sendiri.
Pria muda berdasi merah ini berusaha sebisa mungkin untuk meredam rasa kejut sebelum mencoba membalas...
"Cinderella harusnya bersikap seperti Cinderella," ujar Naruto sambil tersenyum nakal—sedikit tidak menyukai dominasi yang tiba-tiba saja ditunjukkan oleh orang yang berada di hadapannya itu. GM Rasengan Industries inipun tidak membiarkan tangannya bebas lebih lama. Tangan kanannya balas ia sandarkan di pinggang orang itu, sedang jemari tangan kiri Naruto meraih bagian belakang kepala sang partner. Lagi-lagi ia mempersempit jarak di antara mereka berdua, menghadapkan senyum percaya diri yang ia miliki tepat di hadapan wajah stoic partnernya. Kontras, namun hampir tak terpisahkan.
Dalam posisi itu, merekapun mulai bergerak. Perlahan, namun pasti, setiap hentakan semakin menenggelamkan diri mereka dalam alunan musik yang memenuhi hampir seluruh bangunan ini. Gerakan demi gerakan semakin mendekatkan mereka. Tak ada lagi tangan ke tangan, hanya tubuh ke tubuh dan wajah ke wajah. Mata biru dan mata onyx terus berpandangan erat, bagaikan terikat satu sama lainnya.
Pria berambut keemasan ini benar-benar tak habis pikir… baru beberapa menit yang lalu ia datang ke tempat ini, baru beberapa menit yang lalu ia bertanya-tanya siapa gerangan yang akan menemaninya berdansa, dan baru beberapa menit yang lalu pula ia hampir menyesali kedatangannya di sini. Namun sekarang… di menit ini, di detik ini, rasanya ia lalui dengan begitu berharga. Betapa mata onyx hitam itu menenggelamkannya, menariknya untuk melupakan dimana ia sedang berada, membuatnya lupa akan semua orang di sekitar mereka.
Ia memang hampir tak bisa menerka apa yang ada di balik kedua mata hitam berkilau itu, sesuatu yang hanya ada di dalam pikiran partnernya. Tapi bohong rasanya kalau ia berkata sinar di mata itu tak sama dengan sinar di matanya sekarang. Semakin banyak mereka bergerak bersama, semakin mereka tenggelam dalam musik yang sama, semakin ia memikirkan dan mengharapkan satu hal… andai saja musik ini tak berhenti. Andai keadaan ini bisa terus berlangsung hingga pagi nanti.
Saat ia sadari, mereka telah berubah posisi. Namun masing-masing dari mereka ternyata tak bisa menahan diri untuk berada jauh dari tubuh sang partner. Lelaki itu membelakanginya, dengan tangan kanan yang masih terus menyentuh pinggang Naruto, dan tangan kiri yang meraih rambut keemasannya. Kedua tangannya sendiri menyentuh masing-masing sisi pinggang berbalut kemeja dan jas hitam itu, memegangnya tanpa berniat untuk melepasnya lagi. Ditariknya tubuh itu hingga tak ada jarak di antara mereka, hingga punggung dan dada mereka bersentuhan dalam alunan musik. Dengan posisi sedekat ini, aroma mint menyerbak ke hidungnya… entah berasal dari rambut hitam yang berada di depan wajahnya, ataukah bagian lain dari sang partner? Ia tak tahu, tapi ia juga hampir tak peduli. Apa susahnya memastikan sendiri?
Lelaki berkemeja putih inipun agak memiringkan kepalanya, lalu bergerak agak menunduk untuk bisa menyamakan posisi dengan orang yang memiliki tinggi hanya beberapa senti dibawahnya ini. Diraihnya lekuk leher berkulit putih itu dengan bibirnya.
Ah. Ternyata dari sini asalnya…
Tanpa sadar ia bersikap bagai mencandui bau itu. Dihirupnya dalam-dalam wangi mint yang menyebar di sekitar hidungnya. Dengan sengaja ia menggerakkan wajahnya—bibir dan hidungnya—di sekitar tempat yang sama, menyingkirkan kerah kemeja hitam di sana, dan terus mengecupinya. Samar-samar, di tengah gerakan dansa mereka, dirasakannya tubuh lelaki muda berambut hitam itu menegang. Nampaknya aksi menghirup wanginya ini menimbulkan sedikit reaksi pada partnernya.
Sebuah senyum kembali menghiasi wajah kecokelatan Naruto. Kedua tangannya kembali bergerak, tak lagi berada di sisi sang lelaki berambut hitam, melainkan melingkari dan mendekap tubuhnya erat. Dalam posisi itu mereka tak berhenti bergerak, berdansa, dan terus saja menenggelamkan diri dalam alunan serta hentakan musik.
Waktu semakin terasa bergerak lambat sekaligus begitu cepat. Naruto memejamkan mata, membiarkan panca indera lainnya menikmati semua. Tubuh hangat dalam dekapannya, harum wanginya, gerakan tubuhnya, iringan musiknya. Ia sungguh tak ingin lagu ini berhenti. Ia tak ingin musik ini berhenti. Ia ingin terus berada di sini… di lantai ini… dengan orang ini… ia tak ingin ini berhenti. Ia tak ingin ini semua berhenti. Jangan, jangan hentikan lagunya… Jangan hentikan musiknya… Jangan hentikan ini.
Kelopak dari mata biru yang tadinya terpejam akhirnya kembali membuka. Tubuh lelaki berkemeja hitam itu tiba-tiba saja tak lagi ada di dalam dekapannya. Tapi ternyata ia hanya ingin berubah posisi. Sekali lagi tungkai lengan berlapis jas hitam itu melingkari pinggangnya. Kini, tak hanya tubuh, lagi-lagi wajah mereka saling berhadapan. Dan untuk ke sekian kalinya mata mereka…
…biru bertemu onyx.
Naruto tahu apa yang lelaki itu sampaikan lewat mata onyxnya. Ia tahu, ia paham. Dan karena itulah ia mulai melakukan hal yang sama dengan sang partner. Ia menggerakkan wajahnya ke depan. Pelan namun pasti, di tengah semua gerakan mereka yang hampir berhenti, senti demi senti semakin tereliminasi. Dan kemudian…
...lagu berganti.
Masing-masing terpaku. Lagi-lagi mereka saling memandang, namun kali ini dalam perasaan tak tergambarkan.
Naruto hampir membuka mulutnya untuk mengucap sesuatu, "La—"
Namun terpotong oleh sebuah kecupan ringan di kedua bibirnya. Kecupan dari dua belah bibir yang sedari tadi sangat ingin ia sentuh dengan bibirnya sendiri. Mata biru itupun terbelalak. Ia terpaku, bagaikan kehilangan kontrol akan tubuhnya.
"...sorry, my prince,"—bibir itu berucap perlahan di hadapan bibirnya, dengan wajah tanpa ekspresi dan mata onyx yang terus mengarah ke mata birunya—"it's twelve already."
Lelaki itupun mundur selangkah, melepaskan dirinya dari dekapan sang pria muda lain. Lalu ia menatap wajah Naruto untuk yang terakhir kali, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan melewati keramaian dansa menuju pintu keluar.
Naruto membatu.
Tiba-tiba saja ia menyesali kedatangannya ke tempat ini.
Uchiha's Inc, 8.56 a.m., keesokan harinya…
Seorang lelaki muda berambut keemasan keluar dari mobil yang baru saja diparkirnya. Dengan tangan kiri yang memegang erat map merah dan disk presentasinya, perlahan namun pasti ia berjalan menuju lift. Kotak besi yang akan segera mengantarnya dari basement menuju lantai tujuh belas gedung Uchiha's Inc, tempat rapatnya akan diadakan empat menit lagi. Saat lift mulai bergerak, lelaki berjas hitam dan berkemeja biru muda ini berdiri dan menunggu. Setelah dirapikannya dasi hitam di lehernya, sesekali ia menggerakkan tangannya untuk memijit dahinya, berharap itu bisa sedikit mengurangi sakit kepala yang terus menyerangnya saat ini.
Bisa-bisanya… bisa-bisanya ia menghabiskan waktu berjam-jam di dalam Black Victorian dengan minuman hanya untuk melupakan orang itu. Sayang, ternyata bergelas-gelas minuman tak sedikitpun bisa menghapus bayangan sang partner dansa dari pikirannya. Mata onyxnya… kulit putihnya… rambut hitamnya… wangi mintnya… semuanya. Dimana lagi ia bisa menemui orang yang seperti itu? Kapan lagi ia bisa bertemu dengan sang Cinderella dan berdansa dengannya?
Ia masih tahu diri. Ia tahu orang itu telah memiliki seorang kekasih, dan ia tak mungkin mengganggu gugat hubungan itu. Itulah mengapa ia tak mengejar lelaki itu saat ia pergi. Namun yang sangat ia sesali… sang Cinderella tak meninggalkan satupun sepatu kaca… atau bahkan sebuah nama. Nampaknya ia harus bersiap menerima pengalaman kemarin sebagai sebuah kenangan manis sekaligus pahit dengan seseorang yang sama sekali tak dikenalnya.
Pintu besi lift terbuka, menampilkannya bagian dalam lantai tujuh belas gedung Uchiha di hadapan mata birunya. Sang Uzumaki berhenti memijit dahi, kembali melangkah menuju ruangan tempat rapatnya diadakan. Kaki berlapis sepatu pantovel itu semakin membawanya dekat dengan ruangan yang dimaksud. Jangan tanya kenapa ia tak lagi perlu dipandu. Rapat berkali-kali untuk proyek yang sama sudah cukup membuatnya hapal rute ini bagai jalan menuju ruang kantornya sendiri. Dalam setiap langkah yang ia ambil, tak henti-hentinya ia berharap efek aspirin yang diminumnya tadi akan segera bekerja.
Lelaki berkulit kecokelatan ini akhirnya sampai di depan pintu ruang rapat. Diraihnya gagang besi pintu ruangan dengan jemari kanannya, dan dihembuskannya napas berat. Ia sadar benar, mau tidak mau ia harus siap menghadapi apapun yang akan terjadi di dalam nanti. Dalam keadaan seperti inipun ia harus bisa menghadapi kedua Uchiha Brothers dan harus menyukseskan proyeknya. Dan apapun yang terjadi semalam, apapun sakit yang sedang menyerangnya saat ini, itu semua merupakan tanggung jawabnya sendiri. Walaupun begitu, sedikit banyak ia berharap dua orang itu belum datang ke tempat ini. Ia ingin bisa beristirahat dan mempersiapkan diri sejenak meski hanya untuk lima menit lamanya. Hampir saja Naruto mendorong sang pintu hingga terbuka, namun terhenti saat sebuah dialog sampai ke telinganya…
"Apa benar kau ditegur ibu lewat telpon? Kudengar kau pulang terlambat semalam, otouto."
Bukan hanya kenyataan bahwa dua orang pemimpin Uchiha's Inc sudah berada di dalam yang membuatnya terpaku, melainkan suara yang ia dengar berikutnya…
"…hn. Kau tahulah ibu dan sikap paranoidnya. Ayah memang meninggal karena kecelakaan di malam hari, tapi bukan berarti itu juga akan terjadi pada kita."
Kedua mata biru ini segera melebar. Jantungnya berdetak lebih cepat meski waktu justru terasa berjalan lebih lambat.
…suara ini. Suara ini. Suara yang sangat ia kagumi bahkan sejak pertama kali ia mendengarnya…
Suara orang itu.
Dengan segera ia mendorong pintu hingga terbuka, menampilkan dua orang yang sedang menanti dia dalam rapatnya. Menampilkan sepasang—tidak, dua pasang mata onyx yang berkilau terarah langsung kepadanya. Dan sepasang diantaranya adalah milik orang itu… seseorang dengan rambut hitam berkemeja putih corak vertikal hitam yang sedang duduk berpangku dagu menunggu kedatangannya. Seseorang yang sangat ingin dicarinya meski ia tak tahu bagaimana caranya. Seseorang yang juga meninggalkannya di 'pesta' semalam. Seseorang yang… telah mengambil hatinya.
Selama hampir tiga detik penuh mereka berdua hanya saling memandang tanpa kata. Orang ketiga di ruangan bernuansa kayu ini bagaikan tak ada lagi di sana. Pria berambut pirang ini bisa melihat jelas pancaran emosi yang sama dengannya di mata hitam berkilau yang terus ia tatap.
Ia tahu kata berikut mungkin akan sangat memalukan bagi orang itu. Dan ia juga paham kata itu bisa saja menggagalkan rapat sekaligus membuatnya kehilangan pekerjaan. Tapi sungguh, tak sedikitpun ia bisa menahan bibirnya untuk tidak mengucap kata itu. Dan itu… adalah kata yang paling berarti untuk diucapkannya saat ini…
"Cinderella…?"
…karena setidaknya, ia juga tahu pasti… ia tak akan kehilangan partner dansa lagi malam ini.
-
Fin
-
.
.
.
Ahh…! Alhamdulilah finish juga!! XD Ngetiknya ngebut, mumpung kompi lowong. Hehe.
Xixixi… maklumilah kalau deskrip Megu bermasalah. Khususnya untuk bagian dansa. Sejujurnya, Megu sendiri rada susah membayangkan gimana modelnya dua orang lelaki menari seperti itu. XP
Satu lagi, jangan heran kalau deskrip tempatnya mungkin aneh atau gimana… sumpah, Megu belum pernah ke night club seumur hidup! Eh, apa? Iya, Megu kuper, trus kenapa? *ngamuk* *ditendang*
Last…
Untuk para Yaoi dan Fujoshi-hater… (xixixi, Megu heran kalau ada yang bisa membaca sampai bagian ini!)
Kalian boleh merasa suci…
Kalian boleh menganggap kami hina…
Tapi satu hal yang pasti, kami para Fujoshi tidak akan mati semudah itu!
HAPPY FUJOSHI INDEPENDENCE DAY 2009!!! XD
-
Review if you don't mind! X)
