gak usah banyak bacot kali ini.... (baca:speechless)
****Himeka Between Us****
Pairing : Kazune x Karin
Summary : Ya, ia tahu, kalau Himeka menyadari ikatan di antara mereka, mungkin dia akan menangis. Dan, Karin berjanji, ia bersedia melepas Kazune kapan saja, demi Himeka agar dia bahagia. Meski begitu, ia juga menyayangi Kazune, sepenuh hatinya.
KAMICHAMA KARIN © KOGE-DONBO
Chapter II
"Mereka pacaran?!" pekik Karin dalam nuraninya.
Bisa saja kan? Si Himeka itu tidak seperti saudara Kazune, tidak mirip sama sekali dengan Kazune dan kedua orang tuanya. Dan mereka sungguh dekat dari kecil. Mungkin teman sejak kecil dan menjadi kekasih saat besar? Karin terus menduga-duga hal tersebut.
Dilihatnya lagi lebih seksama. Ada sesuatu yang berpendar terkena cahaya lampu, yang melingkar di pergelangan tangan Himeka.
Gelang?
Karin mencermati bentuknya. Sama persis dengan miliknya. Tidak ada beda, ketahuan jelas dari ornamen kupu-kupu kecil yang menghiasinya dengan sederhana dan simple.
Karin tidak lagi bisa tahan berada disini. Membuat hatinya sakit saja.
Sudah lama menunggu, dengan sejuta harapan dan beribu jurang keputusasaan?
Beginikah konsekuensinya atas penantian itu?
Karin menghempaskan langkahnya, ambil langkah seribu dari situ.
Apa ini sebuah penyesalan? Penyesalan karena ia terlalu lugu dan naif untuk menunggu sesuatu yang terlalu ambigu untuk dinanti?
Atau ini adalah sebuah kemarahan? Kemarahan yang terbakar, dan ditambah dengan kecemburuan yang membuat api kemarahan itu semakin menyala?
Karin tidak tahu dan tidak juga mengerti. Yang jelas, ia harus kabur dari tempat itu, sebelum menangis.
Rupanya hempasan kaki tadi menyadarkan Kazune bahwa mereka tidak hanya berdua disini. Mata safirnya berputar, mengalihkan pandangannya tadi yang hanya untuk Himeka.
"Ada apa, Kazune?" tanya Himeka dengan suara gemulainya.
"Ehm, kau pulang saja duluan, aku mau kesana dulu, ada yang harus kucari." Kazune berdiri dan mulai melangkahkan kakinya ke arah berlarinya Karin.
"Tapi...."
"Pulanglah. Nanti sakitmu bisa bertambah parah kalau terlalu lama diluar seperti ini." Kazune dengan lembut membelai rambut indigo Himeka yang lurus panjang.
Himeka tersenyum lembut.
"Hati-hati, Kazune...." Himeka berbalik, melemparkan senyum lembutnya pada Kazune yang mulai hilang dimakan kegelapan dalam larinya.
Kazune menata langkahnya dalam pengejaran ke arah Karin, tapi jaraknya dengan Karin sudah terlalu jauh untuk disejajarkan olehnya. Ia cuma menghela nafas, mempekirakan apa yang mesti ia jelaskan besok.
Karena ia tahu, Karin pasti menantinya selama bertahun-tahun. Intuisinya yang berkata. Sebab ia juga menanti saat dimana ia bisa kembali bertemu dengan cinta pertamanya.
:0:0:0:0:0:0:0:0:0:0:0:0:0:0:
Langit cerah. Angin sejuk yang bersahabat berhembus pelan.
Berbeda dengan Karin yang sangat murung kali, beroposisi dengan cuaca yang begitu mengobarkan semangat hati.
Ia memasuki kelas dengan gontai dan langkah yang terpaksa diseret. Yah, satu kata yang menggambarkan dirinya saat ini cuma satu, kecewa.
Tiba-tiba sebuah tangan meraihnya, memaksanya untuk berhenti melangkah.
"Tunggu, Karin!"
"Eh?" tanya Karin heran, matanya memandang sayu sosok di depannya.
"Kau lihat aku malam tadi, kan?" tanya Kazune, langsung tepat sasaran.
"Memangnya kenapa?" Karin kemudian mengubah ekspresi wajahnya, menjadi lebih menyiratkan kemarahan.
"Kau pasti mengira kalau Himeka....."
"Memang dia kekasihmu, kan?"
"Kau tidak tahu yang sebenarnya!"
"Apa lagi kenyataannya? Aku lihat malam itu, kau dan Himeka sedang...."
Kazune meletakkan jemarinya pada bibir Karin hingga menghentikan bicaranya.
"Aku sebenarnya menyukaimu. kau mau jadi kekasihku? Tentang aku dan Himeka, kau pasti akan tahu nanti....." Kazune menatap Karin dengan dalam, berhasil membuat Karin luluh.
Karin mesti berpikir sejenak, membungkam mulutnya dan menunduk. Pikirannya mempertimbangkan akan sebuah keputusan.
"Ba.... Baiklah..... Tapi, bisakah kau bilang padaku, Himeka itu apamu? Saudara? Sahabat? Atau apa?"
Kazune tersenyum sebentar, saat mulutnya sudah akan mengeluarkan kata-kata, Himeka tiba-tiba datang dan menyeret tangan Kazune.
"Kazune, temani aku ke taman sekolah disana sebentar, ya.... Ada yang mau kutunjukkan padamu...." katanya, dengan suara lembut nan gemulai khas Himeka yang biasanya.
Kazune mengalihkan pandangannya ke Himeka dan tersenyum lembut. Karin tahu, senyuman itu berbeda dengan senyum yang biasa Kazune perlihatkan pada orang lain.
"Baiklah. Ayo. Karin, kutinggal dulu, ya....." Kazune berlalu.
Sesaat kemudian, Karin merasakan bahwa dia adalah wanita paling bodoh. Mau-maunya menerima seorang laki-laki yang sudah jelas dekat dengan wanita lain yang bukan saudaranya, dan lebih terlihat sebagai seorang pacar. Memangnya dia selugu apa?
Dicobanya mengikuti Kazune dan Himeka. Yah, ia tahu itu tidak sopan, tapi mau apalagi? Ia mesti tahu untuk menentukan langkah selanjutnya, apa ia membatalkan kata 'baiklah'nya tadi, atau apakah selanjutnya.
Langkah terus Karin arahkan ke taman yang terletak disamping sekolah mereka yang besar itu.
Dan, Karin melihat sesuatu yang mengejutkan penglihatannya disitu.
Himeka sedang menangis dalam keadaan dipeluk oleh Kazune! Kazune dengan lembut merengkuhkan tangannya dipunggung Himeka, membelainya pelan.
Karin akhirnya tetap dengan keputusannya. Membatalkan jawabannya tadi dan menggantinya dengan kata 'tidak akan'. Meski hatinya pedih, ia tak bisa menerima cintanya terbagi, dengan kata lain bukan hanya dia yang ada dihatinya.
Karin lagi-lagi ambil langkah seribu tepat ketika Kazune menyadari keberadaannya. Kazune dengan cepat mengejarnya. Meninggalkan Himeka yang sendiri.
"Karin! Tunggu! Dengar penjelasanku!" Kazune akhirnya dapat menggenggam tangan Karin.
Karin berpaling dan menatapnya dengan wajah sedih.
"Kalau kau lebih menyayanginya, jangan kau beri harapan padaku...."
"Himeka bukan kekasihku!"
"Lantas?" Karin berusaha berontak.
"Diam dan dengarkan aku dulu!" Kazune memegang bahu Karin. Menatapnya dalam.
Karin menghela nafas. Menahan kesabaran.
"Dia saudara angkatku. Ayah mengadopsinya dari panti asuhan waktu dia bayi. Panti asuhan agak malas menampungnya, karena dia menderita penyakit langka. Ayah yang mengangkatnya dari panti asuhan di Jepang ini pun pergi ke London setelah menikah dengan ibuku.... Jadi Himeka sedikit lebih tua dariku."
Karin masih diam sementara Kazune menjeda perkataannya.
"Ayahku yang suka meneliti mencoba membuatkan obat untuknya. Tapi sayang, tubuhnya seperti memberikan reaksi negatif pada obat itu, yang menyebabkan pertahanan imunnya menurun dan bisa membuatnya sakit parah. Tapi beruntung, dia masih bisa bertahan hidup hingga saat ini....."
"Jadi....."
"Karena mengetahui kalau aku bukan saudara kandungnya, Himeka bilang dia menyukaiku. Padahal, aku hanya menanggapnya sebagai kakakku yang mesti kulindungi....."
Karin mengalihkan pandangannya. Ia menunduk. Ia tidak ingin menjadi egois.....
"Aku berusaha menyayanginya, membalas perasaannya yang sesungguhnya. Tapi aku bertemu kamu, yang membuatku tidak bisa mengalihkan pandanganku darimu, mengalihkan pikiranku dari bayanganmu.... Aku serius padamu, Karin! Aku cuma ingin memilikimu..... Tapi, kumohon mengertilah aku dan Himeka.... Aku hanya tidak ingin membuat dia sakit hati..... Karena aku ingin membahagiakan dia di sisa hidupnya ini......" Kazune menggerakkan jemarinya pelan di pipi Karin, yang membuat perempuan berkuncir dua itu tidak bisa menahan rasa tersipunya.
"Percayalah padaku, Karin....." Kazune meyakinkan lagi.
"Ya.... Aku percaya padamu....."
"Aku tahu aku egois.... Tapi aku tidak bisa merasakan kesendirian tanpa memilikimu.... Jagalah rahasia, kalau kita sebenarnya adalah kekasih..... Karena ayah bilang....."
"Ayahmu bilang apa?"
"Umurnya mungkin tidak sampai setengah tahun lagi...." Kazune menunduk sedih.
"Benarkah itu, Kazune?"
"Begitulah.... Aku tidak ingin membuatnya bersedih lagi..... Jadi harap maklumi ya.... Kalau aku dekat dengannya.... Itu semata-mata untuk membahagiakannya, disaat-saat terakhir hidupnya.... Janji jaga rahasia ini ya?" Kazune mengangkat kelingkingnya, mengisyaratkan untuk menaut sebuah janji.
Karin menyunggingkan senyum. "Baik." Karin menyambut uluran kelingking itu, menautkannya tanda ia setuju untuk janji itu.
Himeka kemudian datang dengan tergopoh-gopoh dan kesusahan mengatur nafasnya.
"Kazune.... Ada apa?"
"Tidak kok.... Ayo, mau kutemani ke kelas?" Kazune ramah.
Himeka tersenyum. Kazune lalu menarik tangannya, dan berpaling sebentar pada Karin. Tersenyum penuh arti.
"Maaf, Himeka...." gumamnya pelan.
Ya, ia tahu, kalau Himeka menyadari ikatan di antara mereka, mungkin dia akan menangis. Dan, Karin berjanji, ia bersedia melepas Kazune kapan saja, demi Himeka agar dia bahagia. Meski begitu, ia juga menyayangi Kazune, sepenuh hatinya. Tapi ia bersyukur, telah memiliki Kazune.
Karena ia tidak mau membuat Himeka bersedih. Kalau-kalau takdir balasan berpihak padanya.
--OWARI--
Hn.....? *liet2 lagi ending-nya*
nggantung ya?
Review?
