ini sambungan yang ngegantung kemarin..... ^^

****Himeka Between Us****

Pairing : Kazune x Karin

Summary : Ya, ia tahu, kalau Himeka menyadari ikatan di antara mereka, mungkin dia akan menangis. Dan, Karin berjanji, ia bersedia melepas Kazune kapan saja, demi Himeka agar dia bahagia. Meski begitu, ia juga menyayangi Kazune, sepenuh hatinya.

KAMICHAMA KARIN © KOGE-DONBO


Langit mendung masih menggelayut. Disertai rintik-rintik sebagai pelengkap, menemani air mata yang juga turun di pipi seseorang yang tertinggal di pemakaman itu. Di sebelahnya berdiri seorang laki-laki dengan pakaian jas serba hitam, hanya kemeja dalamnyalah yang berwarna kontras, putih.

Perempuan itu menangis. Terisak. Segelintir penyesalan tersirat di balik isakan tangisnya itu.

"Sudahlah, Karin, ayo kita pulang...." laki-laki itu menyentuh bahunya yang basah karena terkena air hujan.

"Nanti...." katanya, terselip di isakan tangisnya.

"Himeka tidak akan senang kau menangisinya seperti ini....."

"Tapi.... A... Akulah yang paling bersalah selama hidupnya, Kazune....."

Kazune menghela nafas panjang, kemudian berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Karin.

"Bukan seperti itu...."

Karin menggeleng, sementara tangan kanannya tak lepas dari batu yang berukirkan sebuah nama, Kujyo Himeka.

"Aku telah merebut orang yang dia sayang, diam-diam di belakangnya, merampas semua kebahagiaannya...." matanya lurus menatap ukiran nama tersebut.

Kazune menghela nafas lagi, tangan kanannya pun merogoh saku bagian dalam jas hitam legamnya. Sebuah kertas berwarna putih yang terlipat rapi dengan empat kali lipatan.

"Karin...." ucapnya, dengan lembut mengelus punggung Karin, berusaha menenangkannya agar Karin menghentikan tangisnya sejenak dan mau menerima apa yang kini tergenggam di tangannya.

"Apa?" tanya Karin pelan, diselingi isakan yang masih tersisa.

"Bisa kau baca ini sebentar?" Kazune mengarahkan tangannya yang menggenggam kertas itu.

"Ini.... Apa?"

"Bacalah...."

Karin meraih kertas itu dengan tangan kanannya yang agak kotor, karena sedari tadi terus merengkuh tanah dari tempatnya berpijak.

Perlahan jemari Karin menarikan sebuah gerakan untuk membuka lipatan kertas itu satu persatu. Matanya pun dengan terpaku langsung tertuju pada kumpulan tulisan tangan yang rapi berbaris di kertas itu.

Karin, aku tahu.

Ya, aku tahu dan paham, meski kalian tidak mengatakannya secara langsung padaku.

Aku melihat semua yang tidak terlihat.

Aku merasa sesuatu yang tidak kalian tunjukkan secara tampak.

Aku mendengar kata yang tak terucapkan.

Tapi aku tidak marah.

Aku tidak dendam.

Meski terkadang aku merasa menyesal.

Menyesal, pertama karena aku telah mengganggu kalian,

Aku berada di tengah-tengah kalian dengan berdiri di atas keegoisanku.

Keegoisanku, karena aku telah memaksa memiliki Kazune, hanya untuk memuaskan semua egoku agar tercapai.

Kedua, aku menyesal karena aku tidak kunjung bisa melepas Kazune.

Walau hati Kazune tidak untukku,

Walau senyumnya tidak tersungging untukku,

Walau tangannya tidak terulur untuk cintaku.

Aku bodoh.

Aku egois.

Maafkan aku, Karin.

Tak ada lagi kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan hatiku saat ini kecuali permohonan maaf yang sangat....

Sangat ingin kau terima.

Sangat ingin agar kau bisa memaklumiku.

Memaklumiku, semua kebodohanku, keegoisanku, kepayahanku yang tidak mau mengerti betapa besar cinta Kazune padamu....

Maafkan aku, Karin.

Berbahagialah....

Nikmati cintamu bersama Kazune yang pasti berbalas itu.

Bahagiakan dia, buat dia tersenyum, jangan pernah kecewakan dia.

Jangan buat dia tersiksa....

Seperti yang pernah kulakukan....

Kubuat dia tersiksa dengan paksaan cintaku yang tak tahu diri.

Maafkan aku, Karin, Kazune......

Buatlah cinta kalian menjadi alas untuk sebuah kebahagiaan sejati yang tak mengenal waktu......

Jangan kau sesali dirimu yang datang belakangan,

Jangan salahkan dirimu karena kau sangka kaulah yang merebut Kazune dariku.

Tapi akulah yang salah.....

Akulah yang merebut Kazune dari sisi cinta sejatinya.....

Hontou ni gomen nasai.....

Sesaat Karin terdiam. Lidahnya kelu, walaupun pita suaranya mendesak untuk mengeluarkan kata-kata dan isakan yang tertahan sedari tadi.

Perlahan kertas tadi, yang putih bersih, hanya berhias tulisan hitam rapi menjadi basah akan titik-titik air hujan berteman air mata yang menyapa permukaan kertas itu.

"Himeka.... Kau tidak salah.... Tapi akulah yang...."

"Karin..... Sudahlah.... Kau tak perlu menyesali dirimu sendiri...."

"Tapi.... Karena aku, dia mesti pergi dengan keadaan yang sedih... Kecewa dan menyesal...." Karin menyeka pelupuk matanya.

Kazune menggeleng, kemudian tangannya menarik jemari Karin, mengajaknya berdiri. Karin hanya bisa menurut.

"Kalau kau ingin membuatnya senang...... Ada suatu cara untuk itu...." katanya, meletakkan kedua telapak tangannya pada bahu Karin. Menatapnya lurus, hingga yang terpantul di warna sapphire itu hanyalah sosok cantik berkepang dua yang bermata sembab.

"Ada? Bisakah?"

Tangan Kazune terulur ke punggung Karin, merengkuhnya, melingkarkan tangannya pada punggung Karin.

"Bahagiakan diriku.... Maka Himeka pasti akan senang disana...."

Karin akhirnya tersenyum, meski hanya senyum simpul.

"Ya...."

"Terima kasih, Himeka....."

-OWARI-

Fuawh......

review?