The Languange of Flower

Summary: "Pernahkah kau mengerti apa arti dari semua bunga yang kukirim padamu? Jika digabungkan, bisa dijadikan sebuah kisah." SasuSaku. AU.

Disclaimer: I DO NOT OWN ANY OF THESE THINGS!

BALES REVIEW DULU, YOK!

Hyacinthoides: Makasi udah review ya kak! Nama kakak disebut langsung ge-er! Wehehe..! Hyacinthoides itu kan ada 6 macam. General Hyacinthoides (warnanya apa ga tau. Artinya 'Ketergesaan, duka cita atau bunga yang dipersembahkan untuk Apollo'), Blue Hyacinthoides (artinya 'Kesetiaan'), Purple Hyacinthoides (artinya 'Maafkan aku atau duka cita'), Red or pink Hyacinthoides (artinya 'Permainan'), White Hyacinthoides (artinya 'Kecantikan atau aku berdoa untukmu') dan Yellow Hyacinthoides (artinya 'Cemburu'). Begitulah.. Yang artinya terima kasih itu yang warnanya apa ya, kak?

dilia shiraishi: Makasi udah review, kouhai-ku tersayang!! *piring berterbangan* Iya, iya, spoiler abis. Masa sih punya lo spoiler juga? Tenang, disini ada Sai kok. PERAN BESAR pula! Neji cuma numpang lewat nama doang tapinya.. Hehe.. Tapi nama Neji ga muncul di chapter ini. Tapi mungkin Neji bakal nampang di chapter depan..

Chika the Deidara's Lover: Makasi udah review! Duh, summary-nya spoiler banget ya? Abis ga bisa mikir summary yang lebih keren! Ahahaha..! Sasuke bisa bahasa bunga emang keajaiban dunia ke-16!

Mayu Asuka: Makasi udah review! Oooh.. I lop yu tu, Asuka-chan!! 10 chapter? Whoa. Apa Helen sanggup bikin segitu ya? Threeshots nyasar jadi Tenshots (ada gitu yang namanya Tenshots?).. Tapi makasi loh udah setia baca fic-fic-ku! Arigatou gozaimasu! Cara nge-post fic? Loh? Bukannya udah pernah aku kasi tau ya lewat FS? Ntar deh aku kasi tau lewat FS lagi aja deh ya.

kawaii-haruna: Makasi udah review! Helen browsing google dong! Gampang kok dapetnya! Helen punya document-nya sendiri di laptop. Dari 2 website itu, wikipedia ama blog punya orang. Iya, Chouji kan masih TK jadi apa aja dimasukin.. Lha wong udah gede juga apa aja dimasukin? *digiles Chouji*

kakkoii-chan: Makasi udah review! Ehehe.. iya itu salah. Maap! Udah di-edit kok. Hehe.. Kalo gitu, tunggu bahasa-bahasa bunga lain di kota, maksud Helen, di chapter ini dan selanjutnya, dan selanjutnya.. dan selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya, dan se- *dibekep Kiba duluan* (Kiba??)

Yvne F.S. Devolnueht: Makasi udah review, neechan-ku tersayang! Iya, harus kuakui, emang tema-nya amat sangat girly.. Tapi kan aku cewe, udah kodrat-nya kalo nulis begini! *dilempar centong* Iya dong, Unrevealed is the best! Ehehe.. iya dong. Minjem disclaimer mereka sekalian. Softer side of an Uchiha? Heuheu.. mari kita lihat selembut apa Uchiha satu ini! By the way, Unrevealed juga memperlihatkan softer side of this Uchiha kan? Oiya, makasi ramalan tarotnya, loh, neechan!

Kosuke Seiichiro: Jah, niisan.. nge-review cuma dua kalimat doang. Ga papa deh, yang penting udah niisan review! Hehe.. Makasi udah review!

x Hinamori Sakura x: Makasi udah review! Ahaha..! Fic classic? Hehehe.. Ga ngebosenin? MAKASI BANYAK!!

Dani D'mile: Makasi udah review ya, kak! Iyalah enakan Sasuke yang calm dan nerangin bahasa bunga. Naru mah nerangin-nya pasti sambil tereak. Sakura malah jadi tambah ga ngerti!

Aika Uchiha: Makasi udah review! Ho? Suka baca fic-ku? MAKASI BANYAK BANGET!! Dan makasih fave-nya! YM? Udah Helen kasih. Cek review reply ya! Ato liat aja di profile Helen. Fic-fic SasuSaku-ku yang lain? Ada 3 lagi. Do You Really?, A Confession dan Ada Cinta. Ada Cinta itu punya temen sebenernya. Dia numpang di account Helen.

Darbi Arks XIII: Makasi udah review! Ahahaha..! Dari summary aja udah mantap? Hehehe.. Haduh, sabar, nak! Kok kaya'nya kamu histeris banget sih? Hahahaha!! Tapi makasi loh udah review dengan kata-kata kaya' fangirl yang ngeliat Sasuke! Jadi semangat nih!

puteeChan-ol-pake-kompie-skula: Iya iya lo OL di kompie sekolah.. Omjay kaga ngeliatin apa? Anyway, makasi udah nge-ripyu, Puddi! Apa segitu bagusnya kah? Makasi ya! Oiya, makasi juga udah ngedoain gue! SEMUANYA! puteeChan tadi pas sholat ngedoain Helen biar bisa jadian ama gebetan Helen loh! Wahaha..!! You're the best, Puddi!

dark aphrodite: Makasi udah review! Ga papa kok, telat pun yang penting nge-review. Hahaha! Sasuke-nya manis kali! Kalo imut, kakak cubit-cubit aja tuh si Sasu! Ampe lebam, ya! *digetok Sasuke* Sasuke jadi guru mah harus selalu dijauhkan dari mara bahaya (baca: murid-murid cewek terutama yang SMP dan SMA).

Tambal Panci: Makasi udah review! Kenapa namamu 'Tambal Panci'? Suka nambel panci *dilahap*? Hari Sabtu sekolah Helen libur kok. Sekolahmu emang ngga libur?

oondagubrakitachi: Tengkyu, tengkyuuu..!! Klise gimana, ndy? Eh, bedewe, lo tiap hari bawa laptop terus ya ke sekolah, biar bisa ngerjain LenKaho-nya! Jadi.. mo pake lagu apa nih? Ngomong-ngomong, makasi udah review!

Panik-kok-di-disko: Makasi udah review, kak! Iya, bahasa bunga kan emang keren banget! Dalem tapi manis! Hehehe..

P. Ravenclaw: Makasi udah review! Hehe.. tuh kan so sweet banget kan? Eh, yang so sweet itu bahasa bunga-nya, Sasuke-nya apa fic-nya? Maaf ya namamu aku spasi abis titik. Abis kalo ga di spasi ga bakal muncul.

Muggie: New Name: Makasi udah review, Muggie! Wah, engkau memakai nama pemberianku! Ralat, maksudnya, pemberian Flack. Kan dia yang pertama manggil kamu Muggie? Terharu juga.. Hiksu.. Ga papa OOT, yang penting review. Ahahaha..! Bangga amat kamu ama nama 'Muggie'!

Phillip William-Wammy: Makasi udah review! Iya, iya, kamu reviewer ke-20! Dan target review Helen di chapter 1 kalo bisa adalah 20 dan berkat kamu, chapter 2 muncul deh! Hehe.. Sasuke, mau ga tuh ajarin Wammy bahasa bunga?

nozomi. sora: Makasi udah review! Makasi, makasi! Hehehe.. Maaf ya namamu aku spasi abis titik. Kalo ga di spasi ntar namamu ga muncul soalnya..

5 sekawan: Makasi udah review, stevie! Makasi, makasi! CDWeb udah Helen review tuh! CDWeb juga mantap!

Nakamura arigatou: Makasi udah review! Ehehe.. makasi! Gara-gara baca Doraemon, nih! XXX udah aku review tuh!

Huhuhu.. makasi yang udah review di chapter 1! MAKASI BANYAK SEBANYAK-BANYAKNYA BANYAK DI DUNIA INI! *lebay? Bukan Helen namanya kalo ga lebay*

Dan.. INI DIA UPDATEAN-NYA, epribodeh!

A/N: Disini Konoha itu kota, bukan desa. Dan disini itu AU besar-besaran (?) jadi ngga ada ninja-ninjaan.


The Languange of Flower

By: Inuzumaki Helen

Inspired by: Unrevealed Mistake Of A One Night Stand by CommitedToKiba and Dandelion Pergi Ke Langit, Doraemon by Fujiko F. Fujio

Main character: Uchiha Sasuke and Haruno Sakura

Main pairing: SasuSaku

I own nothing but the idea of this story

Enjoy!


Second Stem: The Heartbreaking Laugh

Sakura berusaha memahami setiap kata yang terkandung dalam SMS yang baru saja Ino kirim ke handphone-nya. Ia mendekatkan layar handphone ke matanya. Ia membaca setiap kata di dalam SMS Ino perlahan dan keras-keras. Setelah yakin bahwa nama orang 'itu' lah yang ditulis oleh Ino, Sakura tertawa. Tertawa yang lebih menjurus ke tertawa sarkastik. Sedetik kemudian, ia berteriak kencang, sendiri di dalam mobilnya.


Esok paginya, setelah ia menutup dan mengunci pintu mobil, Sakura langsung melesat menuju kantor slash kamar Ino yang terletak di lantai 2 Rookie Daycare.

BRAK!

Sakura mendorong pintu kayu kantor Ino terbuka. Angin yang dibuat dari terdorongnya pintu tadi membuat berhelai-helai kertas jatuh ke lantai. Ada sehelai kertas yang menempel di muka Ino. Ino mengambilnya sambil menahan amarah.

"APAAN SIH!?" bentak Ino marah. Ia kemudian membungkuk untuk mengambil kertas-kertas yang tadi berterbangan.

"KAU YANG APAAN SIH!" Sakura balas membentak Ino. Ino kaget dan melongokkan kepalanya melewati meja kerjanya. Sakura berjalan menuju meja Ino dengan langkah berat. "Uh-oh.." batin Ino. "Membentak, nada tinggi, langkah berat.. Aku salah ngomong. Lagi!".

Sakura sampai di depan meja Ino. Di tangannya sudah ada handphone-nya. Ia menggenggam erat handphone-nya itu dan menunjukkan layarnya pada Ino.

"Apa maksud SMS ini!?" tanya Sakura setengah teriak. Ino berdiri, merapikan baju dan rambutnya, menarik nafas, lalu mendekatkan matanya pada layar handphone Sakura.

"Ah, SMS kemarin ya? Kau tau lah maksudnya!" kata Ino. Ia kemudian pura-pura sibuk dengan membereskan kertas-kertas yang berserakan di mejanya.

Sakura memandang Ino sinis. Ia tak percaya temannya baru saja berkata 'Kau tau lah maksudnya'. Ia tak pernah mengerti arti sebenar SMS itu!

"Aku tak pernah paham arti SMS satu ini," ucap Sakura, nada suaranya sudah mulai menurun. Mendengar suara Sakura yang sepertinya sudah tenang, Ino mendongakkan kepalanya.

"Sudah jelas kan aku jawab apa. Kau tinggal membacanya perlahan. Aku hanya menjawab namanya saja kok, tak ada yang lain," jawab Ino enteng.

Sakura melotot. "Aku dan 'dia' tak ada hubungan khusus apa-apa! Kami hanya teman!" kata Sakura.

"Benarkah?"

"Sumpah!"

"Demi?"

".. Aku tidak boleh bersumpah demi blablabla blablabla," kata Sakura.

Ino menghela nafas. Ia lalu mendorong Sakura menuju pintu keluar. "Kenapa kau histeris soal seperti itu? Itu kan hanya hipotesa," kata Ino.

"Soal itu.. kau tahu kan aku ini orangnya histerisan. Dan lagi aku sudah sebal dengan sifatmu yang asal-asalan itu!" kata Sakura sambil badannya di dorong oleh Ino.

"Ya, ya, ya. Aku mengerti. Maafkan aku. Sekarang, murid-murid sudah menunggumu dibawah," Ino mendorong Sakura sampai keluar ruangan. "Selamat mengajar!"

BRAK!

Pintu ditutup Ino.

Sakura menyipitkan matanya dengan sebal, menatap pintu yang dengan barbar-nya dibanting di depan mukanya. Sambil tetap memasang tampang sebal, ia berjalan menuju tangga dan turun ke lantai bawah.


"Huah.. Dasar Ino!"

"Ino kenapa, Sakura-chan?" tanya Naruto tiba-tiba, membuat Sakura kaget.

"Naruto! Ino mengeluarkan hipotesa asal lagi. Bikin sebal!" kata Sakura sambil berkacak pinggang.

"Oh.. Eh iya, Sakura-chan, ada seseorang di luar yang mau bertemu denganmu," kata Naruto sambil menunjuk pintu keluar. Sakura memandang pintu tersebut.

"Baiklah.. Terima kasih, Naru," ujarnya. Ia lalu berjalan menuju pintu.

Setelah melewati beberapa rintangan seperti anak-anak SD yang berlari-larian dengan anak TK, anak SMP yang sedang membawa PR-PR-nya dalam lembaran-lembaran kertas dan terpeleset jatuh, dan juga Kiba yang berlari-lari memutari Sakura tanpa alasan, akhirnya Sakura sampai di depan pintu. Perjalan dari tangga menuju pintu ia rasa seperti perjalanan blok A sampai blok F.

Tanpa membuang waktu, ia cepat-cepat membuka pintu berwarna biru Navy di depannya. Di jalan setapak menuju pintu, terlihat sesosok laki-laki yang sedang berdiri diam sambil melihat awan. Sakura mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali sebelum berjalan menghampiri sosok itu. Sebelum Sakura sempat menyapa orang itu, orang itu sudah menyadari kehadiran Sakura dan menyapanya terlebih dahulu.

"Ohayou, Sakura," sapa orang itu.

"Ohayou, Sai. Ada apa kesini?" balas Sakura.

"Aku sudah lama tidak jalan-jalan dan akhirnya hari ini aku memutuskan untuk mengambil udara segar. Sedang memikirkan mau kemana, terbesit keinginan untuk mengunjungi tempat ini. Jadi, begitulah.." ujar orang itu, Sai, sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Oh.. Eh iya, bagaimana kabar lukisanmu yang dipamerkan di Itali itu?" tanya Sakura mengubah topik pembicaraan.

"Sukses. Bahkan Presiden Itali berpikir untuk membeli lukisanku itu," jawab Sai.

"Lalu? Dibeli tidak?"

"Tidak. Memang sih harga yang dia berikan itu tinggi, secara presiden.. Tapi akhirnya aku tolak juga."

"Kenapa..?" tanya Sakura, agak kecewa juga mendengar temannya menolak kekayaan.

"Aku bilang padanya bahwa lukisanku itu adalah lukisan yang kubuat supaya orang-orang seluruh dunia bisa menikmatinya. Kalau dibeli olehnya, orang-orang lain tak bisa melihatnya. Tur lukisanku kan belum selesai," jawab Sai enteng.

"Kau ini.. Kalau lukisanmu tur, kenapa kau tidak ikut? Itu kan lukisanmu?" tanya Sakura.

"Nah.. aku tidak betah pindah-pindah hanya dalam beberapa hari. Walau keliling dunia juga.. Lagipula aku punya urusan yang lebih penting disini," kata Sai. Kepalanya menengadah ke arah sebuah jendela lantai 2 Daycare itu.

"Kalau lukisanmu sudah pulang, aku boleh lihat ya?" tanya Sakura.

"Tentu."

RRR!

Handphone Sakura berdering. Sakura mengecek caller-ID-nya. Ino.

"Mau apa lagi dia?" pikir Sakura. Ia memencet 'Answer'.

"Halo?"

"Yang sedang bersama secret admirer-nya!" seru Ino dari seberang telepon. Sakura menjauhkan kupingnya dari telepon selama beberapa saat. Ia menoleh pada Sai yang sedang memperhatikannya. Sakura tersenyum dan menunjuk pada handphone-nya. Sai mengangguk. Sakura menjauh beberapa meter dari Sai.

"Dia bukan secret admirer-ku, Ino!" ucap Sakura, dibawah sebuah pohon.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau dia bukan secret admirer-mu? Jangan-jangan kau berharap orang lain yang mengirimu bunga ya?" tanya Ino, mulai terdengar nada jahil di suaranya.

"Tentu saja! Sai bukan orang seperti itu, Ino, percayalah. Kau juga.. main menulis bahwa Sai adalah secret admirer-ku di SMS kemarin. Enak saja!" kata Sakura.

"Iya, aku tahu Sai bukan orang seperti itu. Kita kan sudah berteman dengannya hampir lama juga. Tapi kan ada kesempatan untuknya supaya berubah dan.." kata-kata Ino terpotong oleh Sakura yang duluan menjawab.

"Tidak akan terjadi! Bye!"

KLIK! Sakura memutuskan line. Di seberang, Ino menatap handphone-nya narnar dan balik mengerjakan dokumen-dokumen yang berserakan di mejanya.

Di halaman, Sakura memasukkan handphone-nya kedalam sakunya dan berjalan mendekat pada Sai.

"Kau kan tinggal di luar kota, jadi selama disini.. mau jalan-jalan? Aku temani. Kau kan jarang kesini," Sakura menawarkan diri untuk menemani Sai berjalan-jalan ke sekeliling kota. Sai tampak berpikir sesaat, kemudian ia tersenyum tipis.

"Boleh. Kalau kau bisa. Maksudku, kau kan masih kerja?" tanya Sai agak ragu sambil kembali memandang jendela di lantai 2.

"Ah, aku bisa minta cuti sehari ini ke Ino," ujar Sakura. Sakura bisa bersumpah bahwa ia melihat muka Sai memerah selama beberapa microsecond ketika ia menyebut nama Ino. Tapi Sakura tidak mengacuhkannya. Hanya fatamorgana mungkin.

"Baiklah." Sai mengangguk setuju.

Sakura tersenyum. Mereka diam selama beberapa saat. Keheningan itu terpecah oleh Sakura yang menepuk kedua tangannya. "Oke. Baiklah. Aku akan.. minta izin Ino dulu," katanya sambil menunjuk pintu dengan canggung. Sai mengangguk.

Saat berbalik, berbagai pikiran mulai menjamah otak Sakura. "Bagus, Sakura. Kenapa tiba-tiba canggung!?" pikiran Sakura berteriak.

Tanpa ia sadari, ada 4 pasang mata yang memperhatikannya sejak dari halaman. Dan sorot mata mereka menunjukkan ketidaksukaan..


Sakura melempar tasnya ke sofa rumahnya yang berwarna krem. Ia menutup matanya, mengambil nafas kemudian..

BRUK!

Sakura membanting dirinya ke kasur. Ia menutup matanya. Ia tak pernah menyangka bahwa Konoha sudah berubah sebesar itu. Berjalan-jalan di kota besar yang dulu ia kenal sebagai kota kecil membuatnya cukup lelah. Ia sudah lama tidak berjalan-jalan di tengah kota. 3 bulan. Tidak, 7 bulan, mungkin?

Sakura menutup matanya dengan punggung tangannya, menghalangi cahaya lampu. Ia diam selama beberapa menit sebelum akhirnya ia bangun dan meraba-raba meja kecil disamping tempat tidurnya.

"Koin.. koin.." batin Sakura sambil meraba-raba meja kecil mencari koin. Terdengar sebuah kerincing kecil. Ia segera mengambilnya.

"Nah, kepala atau ekor, ya?" tanya Sakura pada diri sendiri. Ia menggenggam koin itu selama beberapa saat sambil memejamkan matanya. Ia kemudian melemparnya tinggi-tinggi (sampai terpentok langit-langit). Ketika tinggi lemparan koin sudah sedada-nya, ia segera menangkap koin emas tersebut. Cepat-cepat ia melihat, sisi mana yang muncul.

"Kepala! Kepala itu.." Sakura berpikir selama beberapa saat. Sakura mengangkat bahu dan berjalan menuju sebuah CD player berwarna coklat miliknya yang terletak di depan tempat tidurnya. Ia memilih-milih berbagai CD dari tempatnya dan memasukkan 1 keping CD ke dalam player-nya. Terdengar intro dari sebuah lagu yang up-beat. Sakura berdiri. Ia kemudian bergerak mengikuti lagu.

Salah satu cara Sakura melepas lelah adalah dengan menari atau bermain instrumen kesayangannya, biola. Setiap ia lelah, ia akan melempar 'Deciding Coin', koin khususnya untuk menentukan apa dia akan menari atau bermain biola. Kepala untuk menari, ekor untuk biola.

Selain menjadi guru di Daycare, Sakura juga instruktur koreografer di sebuah gym. Ibunya dulu juga seorang instruktur koreografer, maka mau tak mau Sakura sudah diajari menari dari kecil. Ia bisa menari apa saja tapi ia lebih suka menari hip-hop dan tango.

Sakura mematikan lagu setelah menari selama 3 menit. Ia hendak mengambil minum ketika ia melihat sesuatu di teras belakang. Dengan alis terangkat, ia membuka pintu geser terasnya.

GREK!

Betapa terkejutnya Sakura ketika ia mendapati setangkai bunga mawar kuning tergeletak disitu, dengan sebuah kartu kuning yang diikat dengan pita kuning.

Sakura menatap bunga itu dengan bingung. Seingatnya ini hari Jum'at, bukan hari Kamis.

Bunga mawar kuning itu bagus. Terlihat manis dengan warna kuning cerahnya. Tapi Sakura merasa kesedihan yang tersimpan di dalam mawar itu. Sakura memandang awan yang sudah gelap dan langsung masuk kembali ke dalam.

Di dalam, ia duduk di sofa dan melepas ikatan pita pada kartu kuning (yang kali ini ukurannya agak lebih besar dari kartu-kartu sebelumnya) di tangkai bunga. Ia membuka kartu itu dan membaca isinya perlahan.

I'm writing you a poem today,
And don't know what to say.
There's so much I wish to tell you,
Each in a certain way.

I want to tell you everything,
Like the way I love you so.
I know you'll never feel the same.
A thought I'm saddened to know.

I saw the way you talked to him.
So happy.
You won't be like that when you're with me.
He'll never love you as much as I do,
That, you refuse to see.

I cannot tell you who I am,
Or else you're sure to hate me so.
But without me telling you my name,
In your heart, you might already know

Maaf aku mengirim ini tidak pada harinya. Tapi, aku benar-benar harus memperlihatkan ini kepadamu.

-Anonymous-

Sakura menatap kartu itu selama beberapa menit. Matanya tak henti berkedip bingung. Ia benar-benar tidak mengerti maksud dari puisi diatas. Dia mengerti, ya. Tapi arti sebenarnya.. ia tidak begitu mengerti. Ia hanya mengerti bahwa ini adalah puisi tentang..

"Kecemburuan?" ucap Sakura pelan. Sakura kemudian membaca kalimat terakhir dari puisi tersebut.

"In your heart, you might already know?" kutipnya pelan. "Aku tidak tahu siapa dia."

Di luar, seseorang mengawasi Sakura dalam kegelapan. Ia diam tanpa ekspresi. Setelah beberapa menit mengawasi Sakura, akhirnya ia pergi meninggalkan tempat persembunyiannya, di belakang sebuah pohon kecil.

To Be Continue~Pour Etre Continuer~Para Ser ContinĂșa~Per Essere Continuare

Intinya: BERSAMBUNG!!


Chapter 2! Huee.. Jelek banget ni chapter! Ga jelas! Dikit banget, ya? Lagi mampet ide, nih! Ada yang punya nomor telepon sedot ide? *ga penting*

Senangnya minggu terakhir pelajaran komputer gurunya (baca: Omjay) ga ada! Akhirnya Helen ngorbanin main Sally's Spa, Crazy Taxi dan kawan-kawannya dan menyelesaikan chapter 2. Gyaa~ Dari sini gebetan Helen bisa keliatan!! Ahem.

Anyway, disini Sai itu temen mereka-mereka (baca: guru-guru Daycare) sejak SMP. Sai ama Sakura itu yang paling deket soalnya waktu tahun ajaran pertama SMP, mereka yang duluan kenalan. Sai tinggal di Amegakure. Jadi kan luar kota?

Oh ya, puisi diatas itu adalah sebuah puisi yang ditulis oleh Alya Phoenix. Itu nama ga tau nama asli apa cuma username doang. Aku dapet puisinya dari sebuah website puisi soalnya. Tapi itu puisi aku rubah-rubah juga kok.

Maafkan kalo' ada typo dan kawan-kawannya. Udah mau UKS (Ulangan Kelas Semester) kan soalnya, jadi pikiran kemana-mana.

Oke, abis baca, review ya! Review loh!

December 2, 2008, 19:46 pm

This story belongs to Inuzumaki Helen.