The Language of Flower
Summary: "Pernahkan kau mengerti apa arti dari semua bunga yang kukirim padamu? Jika digabungkan, bisa dijadikan sebuah kisah." SasuSaku. AU.
Disclaimer: I DO NOT OWN ANY OF THESE THINGS! 'Tradisi Rookie Daycare' itu idenya Helen ambil dari salah satu kreatifitas mama-nya oondagubrakitachi dalam menyembunyikan hadiah natal. Ahaha..! Makasi, ndy!
BALES REVIEW DULU, YOK!
kakkoii-chan: Makasi udah review! Lebih menggigit?? Binatang buas dong! *ga nyambung* Sasuke pura-pura cool? T.E.P.A.T. Mungkin aslinya dia tuh rapuh banget sampe osteroporosis (??). Tapi ga tau juga deh. Semua orang kan punya sisi lembut.. Emang semesteran kakkoii udah selse?
dilia shirashi: Makasi udah review! Deskrip makin berkembang? Oh ya? Gue bilang malah di chapter 3 deksripnya kurang.. Tapi makasi ya! Jiaela.. Sasu cuma ngomong 'Dasar cempreng' lo langsung guling-guling sambil ngakak?? Sas, lo punya bakat ngelawak tuh! Bakat terpendam Sasuke: NGELAWAK! Justru karena gebetan gue jalan-jalan gue malah jadi tambah semangat! Aih, engkau benar juga. Cie cie Dilia, bijak nih! Ahahaha..!! Iya sih, ini 'Sasuke'. Sasuke kan bukan orang yang kaya' gitu. Tapi kalo hasil poll-nya malah kebanyakan bilang 'iya' jangan salahin gue lo ya. Tapi gue udah bikin ide yang bisa muasin voter-voter semua, baik yang milih 'iya' maupun 'ngga'. Mudah-mudahan beneran puas lah..
kawaii-haruna: Makasi udah review! Iya iya, apdet Selasa. Tadinya mau apdet Kamis aja, cuma bisanya Selasa, ya udah Selasa.
naruto: Makasi udah review! Ya iyalah inget, orang kita sering testi-an! NaruHina-nya ngga nyata banget kok di chapter kemaren. Chapter-chapter selanjutnya sebisa mungkin Hinata muncul. Entah itu ngejemput Naruto bareng Neji dan Tenten ato apalah. Beneran email asli? Email dari sebuah website? Coba aja deh buka email-nya. Iya dong aku punya gebetan! *bangga* Ya iyalah manusia! Aku kan masih waras atuh neng..!
Mayu: Makasi udah review! Tau ga sih ide-mu itu malah jadi pencetus ide-ide lain dari TLoF selanjutnya? Makasi banyak loh! OOC ya? Banget? Yah? KOK GAGAL!!?? Helen aja deh yang nge-post sini! *udah gatel banget*
Yvne F.S. Devolnueht: Makasi udah review, neechan! Aih, akhirnya neechan review juga. Aku udah belajar kok. Cuma buka-buka halaman ama melototin latian doang. Oh ya? Emang fic ini terpengaruhi Unrevealed banget. Sasuke OOC tapi ga OOC banget gitu maksud neechan? Ahaha..! Makasi, neechan! *yang ulang taun siapa yang terima kasih siapa*
Ana-cHan: Makasi udah review! Aih, panjang sekali review-mu, nak. Iya, iya, kangen 10 besar nih aku.. Helen pikir Temari ama Kankurou itu lebih lucu kalo dijadiin anak kecil. Capek liat Temari yang udah gede. Pengen Temari yang keciiil..!! Kiyut! Tergantung pair-nya? Kalo SasuSaku? Iyaiya dong cakep!!! Kalo di Naruto mirip KIBA! Makanya nama samaran dia 'Kiba'. Aih, makasi! Doain biar bisa jadian, ya! *ngarep*
The Law of Gege: Makasi udah review! Huh! Dasar niisan! Tapi ga papa deh, kan kata niisan fic-nya bagus. Gyaa! Nanya ke FPI? Gimana tho caranya? Udahlah! Ngelanggar FPI beberapa kali kan kaga ada yang nangkep entar.. *dasar..*
Darbi arks XIII: Makasi udah review! Aih, ga papa ga log-in, kan yang penting review-nya! Sasuke kagok?? O.O Olala.. apa bener bisa ya? Ntar deh aku coba. Tugas yang di kasi ke Naru? You'll know soon enough. Triangle love ama Sai? Ngga, kok, tenang aja. Ahaha..! Makasi udah mau nongkorongin FFN tiap Selasa!!
Nakamura arigatou: Makasi udah review! Ahaha, makasi! Oh ya? Engkau fall in love sama Sasuke di fic ini? Wah wah..
5 sekawan: Makasi udah review! Iya, aku tau kok kalo kalian ada 5 orang. Namanya juga 5 sekawan! Biar seru? Oke deh!
Chika the Deidara's Lover: Makasi udah review! Aih, emang bener itu! Sakura pinter banget, ya? Sasuke, siap-siap aja lo.
puteeChan lagi2-ga-login: Ya kan gue bilang 'BAU'-nya, boo! Ya tapi kan dulu lo mau gue nulis nama buat nomor hape lo di hape gue itu 'Tenten Uchiha'. Dasar lo.. Gaara disini belom lahir! 'Canda lah. Gaara ada masih kelas 2 SD. Ntar gue munculin deh bareng komplotannya (baca: kakak-kakaknya). Tiga belas taun mereka temenan, boo. Mereka umurnya di sini pada 23 taun semua.
uzumaki khai: Makasi udah review! Gyaa~ Khai is bek!! *oke lebai* Iya, iya, bener kok A Confession. Anda tidak akan ketinggalan banyak, karena masih 2 chapter kok! Makasi compliment deskripsi-nya!
P. Ravenclaw: Makasi udah review! Hah? Kamu baru ulangan umum minggu ini!? Oke, oke, aku doain dari sini! *dari mana?*
Phillip William-Wammy: Makasi udah review! Aih, ga papa kok yang penting kan review-nya *dilempar kalender* Bukan reviewer ke-60 kamu.. 65?? Orang review-nya baru 64! Kamu reviewer ke 63..
Muggle 30.05.80: Makasi udah review! Kok balik lagi ke nama asal-mu? Ahaha..! Keliatan banget maksanya! Eniwei, bener Sasuke-nya ga OOC? Bilang aja OOC cuma ga OOC banget *maksa amat si gue!!?*
TheSyaoranSakuraLover: Makasi udah review! Perlu banget, ya? Ahaha..! Kaya'nya kamu ngebet banget ngeliat adegannya.. Tunggu aja, ya! UKS-nya udah selesai kok 2 minggu lalu. Dan udah bagi rapot juga.
harurunGAARA: Makasi udah review, neechan! Sasuke di sini lucu? Ketawa dong! *jayus* Ga papa kan yang penting reviewnya.
hiryuka nishimori: Makasi udah review! Iya, iya, mulai terungkap.. perlahan-lahan tapinya dong? Ehe..
pamellaaa: Makasi udah review! Aku browsing di internet. Banyak juga loh website yang ngebahas bahasa bunga! Oke, no prob!
Aih, makasi semua readers yang udah baca dan review chapter 3!
INI DIA UPDATE-AN-NYA. PLEASE WELCOME, CHAPTER 4, yang bisa dibilang 'Christmas Special'..
The Languange of Flower
By: Inuzumaki Helen
Inspired by: Unrevealed Mistake Of A One Night Stand by CommitedToKiba and Dandelion Pergi Ke Langit, Doraemon by Fujiko F. Fujio
Main character: Uchiha Sasuke and Haruno Sakura
Main pairing: SasuSaku
I own nothing but the idea of this story
Enjoy!
Fourth Stem (Christmas Special): Christmas Eve's Proposal
Sakura berdiri sambil tangannya membereskan bunga-bunga di sebuah rak putih di toko bunga Yamanaka. Ia masih terus memikirkan tentang bunga, kartu dan Sasuke.
"Tunggu dulu, kenapa ada Sasuke?" pikir Sakura. Ia cepat-cepat menggeleng-geleng kepalanya, mencoba mengeluarkan pikiran tentang Sasuke dari kepalanya. "Kenapa aku jadi begini, sih?" tanyanya pada diri sendiri.
Sakura telah selesai menata beberapa tangkai bunga lily putih ketika terdengar dentingan bel dari pintu depan, yang menandakan telah datang tamu baru. Sakura merapikan setangkai lily putih terakhir dan cepat-cepat menghampiri tamu itu.
"Selamat siang dan selamat datang di toko bunga Yama.. Loh? Sedang apa kau di sini?" tanya Sakura pada tamu di depannya.
"Aku mau membeli bunga, tentu saja," tamu itu memutar bola matanya pada kata 'tentu saja'.
"Oh. Ya. Tentu saja. Kau mau bunga apa, Sai?" tanya Sakura pada tamu itu yang tak lain dan tak bukan adalah Sai.
"Aku mau bunga yang bilang bahwa 'aku tidak bisa hidup tanpamu'," jawab Sai.
"Haduh, bahasa bunga lagi," batin Sakura. "Tu-tunggu sebentar, ya. Aku panggil Sasuke dulu," kata Sakura. Ia kemudian langsung melesat menuju meja kasir.
"Sasuke, bunga yang artinya 'aku tidak bisa hidup tanpamu' itu a-" Sakura memutuskan kalimatnya ketika ia sadar ia berbicara sendiri. Sasuke tidak ada di meja kasir, ataupun di balik rak-rak penuh bunga. Singkatnya, dia tidak ada di dalam toko.
"Heh!? Kemana perginya Sasuke!?" bisik Sakura dalam kepanikannya. "Aku 'kan tidak mengerti baha-" kalimat Sakura lagi-lagi terputus. Kali ini bukan dia yang memutuskan, tapi secarik kertas. Ia tidak sengaja menyenggol sebuah tempat pensil yang di bawahnya terdapat secarik kertas kecil. Kertas itu jatuh bersamaan dengan jatuhnya tempat pensil.
PRUK!
Sai yang mendengar suara seperti sebuah benda yang jatuh, langsung bertanya pada Sakura, "Sakura? Apa semua baik-baik saja? Apa itu tadi yang jatuh?" tanya Sai. Lebih tepatnya berseru.
"Ah, tidak apa-apa. Hanya sebuah tempat pensil. Jangan khawatir!" jawab Sakura sambil mengambil kertas tersebut. Sakura kemudian membaca pesan singkat itu.
Tiba-tiba dapat SMS kakakku mau datang ke apartemenku, jadi aku harus pergi membeli bahan makanan ini itu. Aku ke minimarket dekat sini, jadi aku tak akan lama.
-Sasuke-
Sakura menghela nafas. Sasuke pernah berkata, dengan tidak sengaja, tentang dia punya kakak laki-laki yang sekarang bekerja di sebuah perusahaan IT di luar kota. Jadi sekarang Sasuke tinggal di sebuah apartemen di dekat kantor Hokage (walikota Konoha). Lumayan jauh dari Daycare yang terletak di pinggir kota.
Sambil bertanya-tanya seperti apakah tampang kakak Sasuke itu dan apakah ia boleh menemuinya, mata Sakura menelusuri setiap kata dari surat itu sampai ke bagian bawah. Terdapat sebuah 'P.S' di sana.
P.S: Aku sudah catatkan beberapa bahasa bunga yang umum dan sedikit bunga yang 'agak tidak umum'. Kertasnya ada di bawah mouse komputer.
Sakura menoleh ke arah komputer di sebelahnya. Ia segera mengangkat mouse-nya. Di bawah mouse, terdapat secarik kertas besar. Sakura membuka lipatan kertas itu dan membacanya. Beberapa nama-nama bunga beserta artinya telah ditulis dengan rapi oleh Sasuke di atas kertas itu.
"Sakura? Kau tidak apa-apa di sana?" tiba-tiba terdengar suara Sai yang memanggil dari seberang ruangan. Sakura segera mengangkat mukanya dari kertas itu.
"Tidak, tidak ada apa-apa, Sai. Tunggu sebentar, ya," kata Sakura sambil memasukkan kertas tersebut ke dalam saku apron kuning-nya. Ia lalu berjalan cepat menuju Sai.
"Maaf, tadi ada sedikit masalah. Um.. kau mau beli bunga untuk apa?" tanya Sakura.
Sai celingukan ke kanan dan kiri. Setelah beberapa kali melakukan itu (sepertinya dia memastikan apa ada orang lain atau tidak), ia membalikkan kepalanya ke hadapan Sakura.
"Rahasia, ya, tapi malam ini aku mau melamar seseorang dan aku mencari bunga yang tepat untuk itu," kata Sai enteng.
Sakura tercengang, berusaha mencerna kalimat Sai tadi. "Malam ini. Sai. Melamar," Sakura mengurai garis besar kalimat Sai satu-persatu di dalam hatinya. Satu detik, ia masih belum mengerti. Dua detik, otaknya sudah mulai berjalan. Tiga detik, alisnya mengerut. Empat detik, matanya membulat.
"APA!!?" teriak Sakura. Teriakan 150 desibel Sakura membuat Sai menutup kupingnya selama beberapa saat. "Kau? Melamar? Malam INI!?" tanya Sakura. Ia menatap Sai. Jika matanya bisa berbicara, ia akan berkata, "You're insane!".
Sai melepas tangannya dari kupingnya. Ia lalu berkata 'auw' tanpa suara dan mengangguk. "Iya, malam ini. Apa ada yang salah dengan malam ini?" tanya Sai polos.
"Aku sahabatmu dan.. kau baru memberitahuku sekarang? Teganya kau!" kata Sakura sambil menonjok bahu Sai pelan. Mukanya masih menunjukkan ekspresi marah.
"Aku tadinya mau membuat ini kejutan. Untuk dia dan untuk teman-temanku juga. Maafkan aku," kata Sai sambil menggenggam tangan Sakura dan menyingkirkannya perlahan dari bahunya. "Lagipula, aku memang butuh bantuanmu untuk kelancaran acara ini juga sih," lanjutnya.
"Oke, sebelumnya, boleh kutanya beberapa hal?" tanya Sakura. Sai mengangguk. "Silahkan," kata Sai.
"Perempuan yang akan kau lamar ini.. Apa aku mengenalnya?" tanya Sakura. Sai tersenyum dan mengangguk pasti.
Sakura tersenyum dengan semangat. "Benarkah!? Oh, siapa dia? Berapa lama kau sudah berpacaran dengannya?" tanya Sakura makin antusias.
"Lama juga sih. Sudah 8 tahun," jawab Sai.
"8 TAHUN!? Dan aku tidak tahu sama sekali tentang itu?" tanya Sakura tidak percaya. Ia lalu memicingkan matanya. "What kind of best friend are you..?"
Sai tertawa ringan. "Dia tidak mau hubungan kami diketahui, bahkan oleh sahabatnya sendiri. Katanya dia takut jadi populer dan jadi banyak dibicarakan orang," jawab Sai.
"Tapi setidaknya kau beritahu aku. Aku 'kan bukan tukang gosip!" kata Sakura.
"Oh ya? Kalau begitu, siapa dulu sewaktu SMP yang menyebarkan cerita nyata bahwa Sai mempunyai banyak buku tulis berwarna pink dan bergambar hati dan bunga?" tanya Sai. Alisnya berkerut tapi ia tetap tersenyum.
"Euh, itu.."
"Siapa yang dulu sewaktu SMP menyebarkan cerita bahwa wallpaper handphone Sai adalah sebuah boneka beruang polar kecil kesayangan Sai dari kecil?" tanya Sai lagi.
"Itu.."
"Lalu siapa yang dulu sewaktu SMP menyebarkan cerita bahwa Sai bisa menari Tango?" tanya Sai lagi.
"Itu.. Hei! Bisa menari Tango itu kan keren!" Sakura membela dirinya. Sai melipat kedua tangannya di depan dadanya. Raut mukanya berubah serius.
"Oke, oke. Mungkin dulu waktu SMP aku memang 'sedikit' berjiwa perempuan penggosip.." kata Sakura. Sai memberinya tatapan penuh arti. "Oke! Aku memang dulu waktu SMP berjiwa penggosip sejati, tapi aku sudah insaf! Kau bisa mempercayaiku walau sedikit juga.." kata Sakura, nada bicaranya menunjukkan bahwa ia kecewa.
Sai merasa bersalah. Ia lalu menarik tubuh Sakura pelan dan mendekapnya dalam sebuah pelukan. "Maafkan aku, karena tidak mempercayaimu. Habis kau dulu tukang gosip," kata Sai.
"Tapi 'kan sudah kubilang aku sudah insaf," jawab Sakura. Suaranya teredam di dada Sai.
"Kau 'kan tidak bilang kalau kau sudah insaf sebelum ini," kata Sai.
Sakura menghela nafas. "Tapi sekarang 'kan kau sudah tahu," katanya.
Di saat yang bersamaan, Sasuke kembali dari mini market yang jaraknya hanya beberapa meter dari toko bunga. Ia membawa sebuah tas kertas besar.
"Seenaknya saja dia. Dia kira dia raja? Minta ini minta itu. Tapi aku juga sih yang bodoh. Mau saja di peralat kakak sendiri. Ah, dasar Ita-" kata-kata Sasuke terputus ketika ia melihat Sakura..
..dan Sai. Berpelukan.
Sasuke merasa jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya. Ia hanya berdiri diam di tepi jalan, mengawasi saat Sai dan Sakura berpisah. Saat Sai membelai rambut Sakura dengan lembut. Saat Sai mengatakan sesuatu dan membuat Sakura tersenyum.
Sasuke menutup matanya, berusaha menenangkan dirinya dan menstabilkan detakan jantungnya. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Sai. Kenapa selalu Sai?" keluhnya dalam hati. Ia menghembuskan nafas lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke toko.
KLINING!
Sakura mendengar suara lonceng di pintu depan berbunyi. Ia cepat-cepat berbalik badan.
"Sela.. Oh, Sasuke. Selesai berbelanja?" tanya Sakura.
"Hn."
"Sepertinya kau beli banyak bahan makanan.." kata Sakura, melihat tas kertas besar berwarna coklat di tangan Sasuke. "Butuh bantuan?"
"Tidak," jawab Sasuke singkat. Ia terus berjalan menuju meja kasir tanpa menoleh pada Sakura ataupun Sai.
"Oookay.." Sakura menjawab pelan. Ia diam sebentar. Sai diam. Terdengar bunyi 'THUD' kecil yang menandakan bahwa Sasuke sudah meletakkan barang belanjaannya di meja. Setelah beberapa lama, Sakura menepuk tangannya sekali dan berbalik ke depan Sai sambil tersenyum.
"Tadi kau mau bunga apa?" tanya Sakura. Sai memasang ekspresi 'kan-tadi-sudah-kubilang'.
"Aku tidak tahu aku sebenarnya mencari bunga apa," kata Sai. Ia memasukkan tangan kirinya ke saku celananya dan berjalan menuju sebuah rak. "Aku hanya mau bunga yang mempunyai arti 'Aku tak bisa hidup tanpamu'," lanjutnya. Tangan kanannya memegang setangkai bunga Forget-Me-Not berwarna biru.
Sadar ia sudah bertanya sebanyak tiga kali, dan jawaban yang keluar dari mulut Sai selalu itu dan menyadari betapa ia membutuhkan Sasuke sekarang, Sakura berjalan cepat menuju meja kasir setelah menggumamkan, "Tunggu sebentar," pada Sai.
Sakura sampai di depan meja kasir dan meletakkan kedua tangannya di meja. Ia memajukan badannya sedikit.
"Sasuke!" bisiknya.
"Hn?" jawab Sasuke. Tangannya sibuk mengeluarkan barang-barang belanjaannya dari dalam tas kertas.
"Bunga apa yang mempunyai arti 'Aku tak bisa hidup tanpamu'?" tanya Sakura, masih berbisik. Ia bahkan tak tahu mengapa ia berbisik.
Gerakan tangan Sasuke tiba-tiba terhenti. Ia mengenyit lalu menoleh ke arah Sakura. "Primrose," katanya.
Kali ini Sakura yang mengenyit, bingung.
"Apa? Kau tidak pernah mendengar tentang bunga bernama Primrose?" tanya Sasuke. Sakura menggeleng pelan.
Sasuke menghela nafas. "Ambil saja di rak paling belakang. 'Kan sudah ada namanya di bawah rak," kata Sasuke. Matanya mengikuti gerakan tangannya yang sedang mengeluarkan sebungkus sosis dari dalam tas besar.
Sakura terdiam. Ia kelihatannya sedang mencerna baik-baik instruksi dari Sasuke tadi. Setelah sepenuhnya mengerti, ia berbalik badan menuju rak paling belakang.
"Oke.. Terima kasih," kata Sakura.
"Tapi.." tiba-tiba Sasuke bersuara, menyebabkan Sakura berbalik badan lagi. ".. Jangan salah pilih antara Primrose dan Evening Primrose. Karena artinya berbeda," lanjut Sasuke.
Sakura mengernyit bingung lagi. "Memang arti Eveving Primrose apa?" tanyanya.
"Primrose berarti 'Aku tak bisa hidup tanpamu' sementara Evening Primrose mempunyai arti 'Ketidak tetapan'," jawab Sasuke.
"Baiklah.. Terima kasih." Sakura kemudian berbalik badan dan berjalan menuju rak paling belakang.
-FLORIOGRAPHY-
"Primrose.. Primrose.. Ah, ini dia!" Sakura bergumam pada dirinya sendiri. Ia kemudian mengambil setangkai bunga Primrose yang ternyata bertangkai pendek. Ia lalu membaca nama di bawah rak.
'PRIMROSE'
"Yap, ini dia!" ujar Sakura. Ia lalu mengamati tangkai bunga tersebut. Bunga kecil yang dipegang Sakura itu mempunyai kelopak berwarna pale yellow dengan kuning yang lebih tua di bagian tengah bunga. "Tapi tangkainya pendek sekali.."
Sakura mengangkat bahu dan berjalan menuju tempat di mana Sai sedang berdiri.
"Sai! Aku menemukan bunga yang cocok dengan 'syarat-syarat'-mu," kata Sakura, mengangkat jari telunjuk dan jari tengah dari kedua tangannya membentuk tanda kutip.
"Oh ya? Coba kulihat," kata Sai. Sakura memberikan bunga di tangannya tersebut. Seperti yang Sakura lakukan ketika pertama kali melihat bunga, Sai mengamati bunga tersebut.
Sai menatap kelopak kuning muda itu lama. Kemudian matanya berpindah pada tangkai. "Tangkainya.."
".. Pendek. Aku tahu," Sakura melanjutkan kalimat Sai yang di putusnya. "Jangan khawatir, aku akan membuat buketnya. Dan aku yakin kau akan menyukainya," kata Sakura. Ia kemudian mengambil bunga itu dari tangan Sai dan berjalan menuju meja kasir. "Tunggu sebentar lagi, ya."
Setelah beberapa lama, Sakura kembali ke depan Sai dengan membawa sebuket bunga Primrose. Dengan tambahan beberapa daun, buket itu tampak indah, bagi yang tidak menyukai bunga sekalipun.
"Wow," ujar Sai. Ia mengambil buket yang di pegang Sakura. "Apa yang kau lakukan dengan bunga bertangkai kecil tadi?" tanyanya.
Sakura tersenyum. "Aku hanya menambahkan beberapa daun saja. Primrose itu cantik, sayang tangkainya pendek, jadi ia tidak bisa diberikan hanya setangkai saja. Ia lebih cantik kalau bergabung bersama teman-temannya.. dan paling cantik kalau di tambah dengan daun," kata Sakura.
Sai memandang buket bunga di tangannya dengan tatapan kagum. "Berapa semua ini?" tanyanya.
"Ah, itu kerjaan Sasuke. Sana, bayar dulu!" kata Sakura sambil mendorong tubuh Sai menuju meja kasir. "Aku tata ulang rak tengah dulu, ya." Dengan itu, Sakura berjalan meninggalkan Sai di depan meja kasir menuju rak bagian tengah.
Sai berbalik badan. "Siang, Sasuke," sapanya. Ia meletakkan buket bunganya di meja.
"Hn," jawab Sasuke singkat.
Merasa tidak nyaman dengan keadaannya sekarang, Sai cepat-cepat bertanya harga buket. "Berapa harga ini?" tanyanya sambil menunjuk buket di meja.
"108 ryo," jawab Sasuke. Sai mengangguk dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya. Sasuke mengambil uang itu, memasukkannya ke dalam tempat uang di mesin kasir dan mengeluarkan 2 ryo dari tempat uang. Semuanya ia kerjakan dengan cepat. Entah ia memang mempunyai kecepatan luar biasa atau ia ingin cepat-cepat Sai pergi dari toko.
Sai menerima uang kembalian 2 ryo dari Sasuke dan berbalik badan menuju pintu keluar tanpa mengucapkan terima kasih pada Sasuke. Sasuke toh diam saja.
"Sakura, terima kasih, ya," kata Sai, sesaat sebelum ia keluar dari toko.
Sakura mendongak. "Sama-sama," jawabnya, tersenyum.
Sai balas tersenyum dan keluar dari toko. Tepat sebelum kaki kiri Sai melangkah keluar, Sakura menghentikannya.
"Sai, tunggu sebentar!" kata Sakura. Sai berhenti dan menoleh. "Aku mau tanya satu hal," katanya sambil berjalan mendekat pada Sai.
Sai berbalik badan sepenuhnya menghadap Sakura. "Apa itu?"
"Kau bilang kau akan butuh aku untuk 'rencana pelamaran' ini, bukan?" tanya Sakura. Sai mengangguk. "Tapi, aku bahkan tidak tahu siapa yang akan kau lamar. Bagaimana aku bisa membantumu?" tanya Sakura lagi. Sai mengangkat kepalanya mengerti. Sepertinya ia bisa membaca kemana arah pembicaraan Sakura kali ini.
"Jadi, intinya.."
"Kau mau tahu siapa yang akan aku lamar? Begitu?" tanya Sai pelan. Sakura mengangguk.
Sai menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah menatap Sasuke lama dan memastikan bahwa Sasuke tidak sedang memperhatikan ia dan Sakura, Sai akhirnya menjawab pertanyaan Sakura dengan cara berbisik.
"Baiklah. Kau kenal baik dengannya. Dia adalah.."
KLINING!
Bunyi bel terdengar dari luar pintu. Berkali-kali terdengar bunyi yang sama. Merasa terganggu, Tenten keluar untuk mengecek.
Tenten membuka pintu dan mendapati Shikamaru dan Temari sedang bermain dengan hiasan bel yang digantung di pintu.
"Hei! Kelas 3 SMP kelakuan kelas 3 SD.. Jangan dimainin..!" seru Tenten. Shikamaru dan Temari tersenyum lebar dan berlari menuju halaman belakang.
"Tumben Shikamaru aktif. Biasanya dia tidur terus.." gumam Tenten sambil menggaruk belakang kepalanya bingung.
"Jingle bells, jingle bells, jingle all the WAY..!!!" teriak 10 anak SD yang sedang menyanyi Jingle Bells. Dengan serta merta, Sakura dan Naruto menutup kuping mereka.
"Hoy! Kalian ini! Jangan teriak-teriak!" teriak Naruto sambil mengejar 10 anak SD tadi yang sedang berlari sambil tertawa.
Sakura menghela nafas, sebisa mungkin menikmati pagi dari malam natal itu. Malam ini adalah malam natal.. dan malam dimana Sai, sahabatnya, akan melamar seorang perempuan beruntung yang Sakura kenal baik dari SD. Dan perempuan itu adalah..
"Haduh, berantakan begini. Siapa yang akan membersihkannya?" tanya Ino.
Sakura menoleh. "Ah, Ino. Biar aku, Tenten, Sasuke dan Naruto saja yang membereskan. Ini kan malam natal, kau istirahat saja. Ya?" ujar Sakura, berusaha meyakinkan Ino agar ia beristirahat.
"Tapi.."
"Sudahlah. Kau istirahat saja! Sana, naik dan tidur siang. Kau akan membutuhkannya," kata Sakura seraya mendorong badan Ino ke arah tangga.
"Tapi.. yah, kalau itu maumu. Terima kasih, ya," ujar Ino sambil menaiki tangga.
Sakura tersenyum. "Sama-sama," jawabnya.
Setelah mendengar bunyi 'BRAK' pertanda Ino sudah menutup pintu, Tenten datang menghampiri Sakura.
"Kasihan ya, Ino. Malam natal pun harus bekerja. Kasihan kita juga sih.." kata Tenten.
Sakura menghela nafas lagi. "Yang lebih kasihan itu anak-anak ini. Orang tua mereka tetap bekerja di malam natal," kata Sakura sambil memperhatikan Naruto yang masih mengejar 2 anak SD.
"Iya, tapi 'kan orang tua mereka tidak pulang malam. Mereka masih bisa merayakan malam natal bersama," ujar Tenten.
Sakura merangkul bahu sahabatnya itu. "Tenten, apa kau tidak senang merayakan malam natal bersama teman-temanmu di sini?" tanya Sakura.
Tenten menundukkan kepalanya. "Senang. Tapi, Neji.."
Sakura melepas rangkulannya dan menatap Tenten tidak percaya. "Kukira Neji akan datang?" tanya Sakura.
"Tadinya.."
Sakura menampakkan ekspresi sedih. Ia lalu memeluk Tenten. "Aw.. Memang Neji kenapa?" tanyanya.
"Katanya dia masih banyak kerjaan yang belum selesai di kantor jadi dia memutuskan untuk lembur," jawab Tenten.
Seketika, Sakura melepas pelukannya dengan Tenten. "Heh? Lembur? Di malam natal!? Kantor macam apa itu!?" tanya Sakura tidak percaya.
"Sudahlah, Sakura. Dia memang sibuk kok. Kami juga sudah jarang bertemu," kata Tenten menenangkan Sakura.
Sakura mengangguk. Ia lalu teringat sesuatu. Sesuatu yang harus ia beritahu kepada Tenten setelah ia memberitahu Naruto.
"Tenten, kau mau tahu suatu rahasia?" tanya Sakura.
Tenten menoleh. Dapat terbaca dari ekspresinya bahwa ia super antusias. "Apa? Apa?" tanya Tenten tidak sabar seperti anak kecil yang tidak sabar untuk segera mendapatkan mainan mobil-mobilan dari Santa.
Sakura tersenyum dan membisikkan sesuatu ke telinga Tenten. Selang beberapa detik, Tenten yang tersenyum.
"Benarkah?" tanya Tenten. Sakura mengangguk semangat.
"Apa kau sudah merencanakan semuanya?" tanya Tenten lagi.
Sakura kembali mengangguk. "Lampu, makanan.. semuanya."
"Semuanya?"
"Semuanya."
Tenten menarik nafas dalam-dalam. "Oke, baiklah. Aku ikut dalam rencana itu!" ujarnya.
"Tidak usah bilang pun kau sudah aku hitung ikut.." balas Sakura.
"Terima kasih. Baiklah, ayo kita periksa dulu hadiah untuk anak-anak," ajak Tenten. Sakura mengangguk dan berjalan mengikuti Tenten ke arah ruang tengah.
Di atas perapian di ruang tengah, terdapat berpuluh-puluh kaus kaki berwarna-warni yang di gantung di dinding perapian. Nama anak-anak yang menjadi pemilik kaus kaki tersebut tercetak jelas dengan berbagai font. Tenten merogoh salah satu kaus kaki dan mengeluarkan secarik kertas kecil. Setelah yakin bahwa tulisan di atas kertas itu adalah tulisan miliknya, ia meletakkan kertas itu lagi ke dalam kaus kaki dan merogoh kaus kaki lain. Satu persatu kaus kaki ia periksa, apakah ada kertas dengan tulisannya di dalam atau tidak.
Sementara itu, Sakura mengecek ruang tengah. Apa ada hadiah natal yang terlihat atau tidak. Setelah selesai mengecek ruang tengah, ia pergi untuk mengecek dapur.
Di bawah kursi, tak ada. Di dalam lemari, tak ada. Di belakang rice-cooker, tak ada. Tinggal mengecek kulkas saja.
"Itu.." Sakura memicingkan matanya. Ia melihat pintu kulkas terbuka.. dan ada seseorang di depan kulkas, sepertinya sedang mencari sesuatu. Sakura tersenyum dan berjalan menuju orang itu.
"Hei!" Sakura menepuk bahu orang itu pelan. Orang itu berdiri seketika. Sepertinya ia kaget. "Sedang apa?".
"Kukira Ino baru membeli persediaan tomat yang banyak kemarin?" tanya Sasuke.
"Ah, yeah, anak-anak menghabiskannya. Aku tak tahu mereka ternyata suka tomat," jawab Sakura sambil menahan tawa.
Raut muka Sasuke berubah menjadi raut muka kesal. "Anak-anak? Mereka itu? Anak-anak yang bahkan diberi burger pun pasti menyingkirkan segala sayuran yang ada di dalamnya?" tanya Sasuke tidak percaya.
"Iya, anak-anak itu," jawab Sakura lagi. Ia mengamati muka Sasuke. "Kenapa? Kau kesal karena tomatmu dimakan oleh mereka?" tanya Sakura.
Sasuke memberinya pandangan malas. "Mereka rakus. Itu saja," kata Sasuke sambil berjalan menuju meja makan dan menarik satu kursi. Ia lalu membanting tubuhnya ke atas kursi itu.
"Memang hanya kau yang bisa rakus soal tomat?" ucap Sakura pada dirinya sendiri dengan suara pelan. Ia kemudian berbalik menghadap Sasuke. "Daripada bermuram durja karena tidak dapat tomat, sebaiknya kau membantuku melakukan final check-up dengan hadiah natal anak-anak. Takutnya ada hadiah yang menyembul dan kelihatan oleh mereka sebelum waktunya," kata Sakura.
Sasuke menatap Sakura lama. Dengan tatapan menimbang-nimbang. Sakura membalas tatapan Sasuke dengan tatapan 'well?'.
Sasuke menghela nafas panjang. Ia kemudian berdiri. "Baiklah," jawabnya. Ia lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan berjalan keluar dapur, melewati Sakura yang masih berdiri diam di tempatnya.
Sakura tersenyum. "Thank you," katanya pelan. Ia mengamati dapur sebentar sebelum pergi menyusul Sasuke.
"Hei, kalian semua! Kumpul di ruang tengah!" seru Naruto pada anak-anak yang sedang bermain di lorong lantai dua. Anak-anak itu tahu apa yang akan mereka lakukan di ruang tengah. Dalam sekejap, mereka meninggalkan apa yang tadi mereka lakukan dan melesat menuju ruang tengah. Naruto hanya bisa geleng-geleng kepala.
Kelima sensei di Daycare itu hanya membutuhkan waktu setengah menit untuk mengumpulkan anak-anak di ruang tengah. Tidak terkecuali anak-anak SMA, yang biasanya malas di suruh ini itu. Di ruang tengah, mereka sudah duduk rapi, menunggu instruksi selanjutnya.
Di depan anak-anak yang duduk bersila dengan rapinya, berdiri kelima sensei tersebut. Ino berdiri di tengah.
"Baiklah, anak-anak. Inilah tradisi 'Rookie Daycare' yang sudah dijalankan selama 5 tahun. Kalian tentu tahu apa itu?" ucap Ino kepada anak-anak.
"Mencari harta karun hadiah natal!!" seru anak-anak di depan Ino. Ino tersenyum mendengar anak-anak asuhannya bersemangat seperti itu.
"Di kaus kaki sudah tertera nama kalian masing-masing. Yang harus kalian lakukan hanya menemukan hadiah kalian masing-masing yang tersebar di seluruh penjuru Daycare hanya dengan secarik kertas berisi petunjuk," jelas Ino. Anak-anak mengangguk mengerti.
"Pukul berapa sekarang, Sakura?" tanya Tenten. Ino masih menjelaskan aturan main panjang lebar.
Sakura melihat jam di handphone-nya. "Pukul 5 kurang 2. Anak-anak dijemput orang tuanya minimal pukul setengah 7, maksimal setengah 8. Rencana dijalankan pukul 8," jawab Sakura.
Tenten mengangguk mengerti.
"Batas waktu penemuan adalah pukul 6. Dan pukul 6 lebih 5, kalian boleh membuka hadiah kalian. Jika ada yang belum menemukan hadiah saat pukul 6, para sensei akan membantu kalian. Maksimal 10 menit sebelum pukul 6. Mengerti?" tanya Ino.
"Mengerti, Ino-sensei!" seru anak-anak lagi.
Ino melihat jam tangannya. "Oh, sudah jam 5," ujarnya. Ia lalu menginstruksikan agar para sensei menyingkir dari hadapan anak-anak. Anak-anak sudah memaku pandangan mereka pada kaus kaki mereka, tidak peduli dengan menyingkirnya para sensei.
"Oke, pencarian.." Anak-anak berdiri dan bersiap menyerbu kaus kaki mereka. "DIMULAI!"
Dalam sekejap, anak-anak yang memenuhi ruang tengah langsung menyerbu tempat di mana kaus kaki di gantung. Ada yang langsung mendapat kaus kaki milik mereka sendiri, ada yang mencari sampai sekitar 2 menit.
Kesibukan anak-anak ini di manfaatkan kelima sensei itu untuk istirahat di ruang tengah yang karpetnya sudah berantakan.
"Ah, kalau begini 'kan enak.." ujar Naruto seraya duduk di atas sofa oranye di ruang tengah. Tenten duduk di sampingnya.
"Ruang tengah adalah tempat yang paling tepat untuk memperhatikan kelakuan anak-anak saat sedang mencari hadiah natal," sahut Tenten. Naruto mengangguk setuju.
"Dan kegiatan memperhatikan ini akan menjadi tambah enak.." Ino membalikkan badannya ke arah sebuah meja kecil di samping sofa dan mengambil 2 gelas coklat. ".. dengan coklat panas!" lanjutnya.
Teman-temannya (kecuali Sasuke) menyerukan kalimat setujunya dan mengambil gelas berisi coklat panasnya masing-masing. Sakura mengambil gelas coklatnya dari tangan Ino.
"Ngomong-ngomong, Ino.." kata Tenten. Kalimatnya terputus karena dia sedang menyeruput coklatnya. ".. kau jangan makan atau minum coklat terlalu banyak. Kau bisa.." kalimat Tenten kembali terputus.
".. Jadi gendut. Aku tahu. Terima kasih, Tenten," sambung Ino. Tenten mengangkat bahunya.
RRR!
Terdengar handphone Sasuke bergetar keras. Sasuke berdiri dan mengangkatnya.
"Halo? Aniki?"
"Sasuke, aku ke Daycare ya. Mau ambil mobilmu. Mobilmu harus dibawa ke bengkel. Tadi ada telepon dari bengkel, katanya harusnya kau membawa mobilmu 2 hari yang lalu," cerocos Itachi, kakak Sasuke.
"Lalu nanti aku pulang dengan apa?" tanya Sasuke.
"Aku jemput?"
"JANGAN!" seru Sasuke yang membuat teman-temannya kaget. "Kau drop mobilmu di Daycare saja lalu pulang dengan bis," saran Sasuke.
"Jangan sembarangan! Uchiha Itachi tidak naik bis!" seru Itachi dari seberang telepon.
"Heh, belagu. Pokoknya aku tidak akan mau di jemput olehmu dan tidak akan mau naik bis juga. Bisa-bisa di bis nanti aku bertemu dengan cewek-cewek gila yang suka mengejarku itu!" bisik Sasuke.
"Ya mau bagaimana lagi? BMW-mu harus di servis. Kau 'kan cuma punya satu mobil," kata Itachi.
"Di servis besok aja emang kenapa?" tanya Sasuke.
"Mungkin besok mereka ngga akan nelpon lagi!" jawab Itachi.
"Emang harus nunggu di telepon?" tanya Sasuke lagi.
"Ngga sih, tapi.."
"Ya sudah tidak usah!" ujar Sasuke. Ia lalu menutup tutup handphone-nya dan menghabiskan coklatnya.
"Tadi itu Itachi?" tanya Naruto. Sasuke mengangguk.
"Ada apa dengan aniki-mu?" tanya Sakura.
"Tidak ada apa-apa. Aku mengawasi anak-anak dari luar saja," kata Sasuke. Ia lalu meletakkan gelas bekas coklat itu di meja kecil di samping sofa dan berjalan menuju pintu keluar. Saat Sasuke membuka pintu, dapat terlihat anak-anak berlari ke sana-sini, memanjat pohon dan mengangkat pot tanaman.
"Sepertinya kita benar-benar harus kerja bakti malam i-" kalimat Ino di putus oleh Sakura.
"Oh, kau tidak usah kerja bakti, Ino!" potong Sakura. Ino menatapnya bingung.
"Kenapa?"
"Um.. kotor adalah musuh nomor 1 kecantikan, bukan?" tanya Sakura.
"Kedua," koreksi Ino.
"Kedua. Maaf."
Hening.. Hanya terdengar suara teriakan anak-anak di luar.
"Tapi.. memang kenapa?" tanya Ino lagi.
"Diam saja di kantormu sampai kami selesai membersihkan semua ini. Tak akan lama. Kau harus tampil cantik malam ini," kata Sakura.
"Ada acara apa malam ini? Pernikahan? Pernikahan siapa?" tanya Ino dengan semangat.
"Yah.. semacam itulah," kata Tenten.
"Tapi kau tidak perlu memakai gaun. Tema acaranya.. um.. pakaian sehari-hari," sambung Sakura.
Sadar bahwa ini semaki mengarah ke girl-talk, Naruto beranjak dari tempatnya.
"Aku ke dapur dulu, ya," kata Naruto. Dan pergilah Naruto ke dapur.
"Pakaian sehari-hari?" lanjut Ino. "Itu acara pernikahan?"
"Pertunangan sih, lebih tepatnya," jawab Tenten.
"Di mana? Siapa yang tunangan?" tanya Ino.
"Uh.. Tenten dan Neji!" jawab Sakura asal.
Ino menoleh pelan ke arah Tenten. "Kau.. dan Neji?" tanya Ino tidak percaya.
"Tidak.. maksudku, i-iya!" sahut Tenten.
"Aku sahabatmu dan aku tidak tahu hal ini!? Selamat ya.." kata Ino. Ia kemudian memeluk Tenten.
"Iya, terima kasih. Maaf, tadinya aku mau memberitahumu cuma kau sibuk," kata Tenten.
Ino melepas pelukannya. "Baiklah, maafkan aku," katanya sambil tertawa.
Pukul 07:30. Semua anak sudah membuka hadiah mereka dan sudah dijemput oleh orang tua mereka. Daycare sudah bersih. Sesaat setelah anak terakhir pergi bersama orang tuanya, Sakura segera menelepon seseorang sementara Tenten dan Naruto mengerjakan persiapan 'pertunangan' itu di halaman belakang. Ino sedang di kamar slash kantornya.
Selesai menelepon, Sakura segera menghampiri Tenten dan Naruto di halaman belakang.
"Semua sudah siap?" tanya Sakura.
Naruto mengangguk. "Kau yakin kau tidak akan menyediakan ramen?" tanya Naruto.
"Tidak, Naruto. Ini acara penting yang tidak bisa dirusak oleh ramen," ucap Sakura.
"Kau sudah telepon Sai?" tanya Tenten.
Sakura mengangguk. "Dia sedang dalam perjalanan," jawab Sakura.
"Ngomong-ngomong, ada yang lihat kemana si Teme pergi?" tanya Naruto sambil celingukan.
"Sasuke? Aku tidak lihat mobilnya juga di luar," kata Tenten.
"Kemana sih itu anak?"
"Ino, turunlah!" seru Sakura dari lantai bawah. Terdengar Ino berseru 'Ya!' dari lantai atas. Kemudian terdengar suara tangga kayu yang diinjak, menandakan Ino sedang turun tangga.
Karena di beritahu bahwa malam ini adalah malam spesial, Ino sudah menata rambutnya sebagus mungkin. Ia juga memakai baju sehari-harinya yang paling bagus.
"Wow, Ino! Kau cantik sekali!" kata Sakura.
Ino tersenyum. "Terima kasih," katanya.
Rambut Ino masih di kuncir satu, namun sudah di keriting. Sebuah jepit rambut berbentuk bunga berwarna hijau muda terpasang dengan rapinya di rambutnya. Ia memakai baju berwarna kuning yang senada dengan rambutnya, dengan jaket denim dan celana panjang jean's berwarna sama dengan jaketnya.
"Acaranya di belakang?" tanya Ino ketika ia melihat lampu-lampu sudah terpasang di belakang rumahnya.
"Uh.. iya," jawab Sakura.
"Kau belum minta izin padaku, lho," kata Ino.
"Baiklah. Ino, bolehkah aku memakai halaman belakang rumahmu untuk acara ini?" tanya Sakura meminta izin Ino.
"Hum.. Baiklah!" jawab Ino semangat.
"Terima kasih."
"Ayo, kita ke belakang," ujar Ino sambil menarik lengan Sakura. Tapi, Sakura melepas lengannya dari genggaman Ino.
"Ke belakangnya nanti saja," kata Sakura.
Ino mengernyit bingung. "Kenapa?"
Sakura memutar otaknya untuk mencari alasan yang tepat. "Tunggu sampai.. semua orang sudah datang! Ya, sampai semua orang sudah datang," kata Sakura sambil mengangguk yakin, bersyukur karena jawabannya mendapat sambutan anggukan dari Ino.
"Baiklah.."
TING NONG!
Tenten mendengar suara bel di pintu depan, menandakan ada seseorang di depan pintu yang sedang menunggu untuk dibukakan pintu. Tenten segera berjalan cepat menuju pintu.
Tenten menggunakan tangan kirinya untuk membuka pintu kayu di depannya. Saat pintu sudah terbuka lebar, ia bisa melihat 2 orang berambut panjang di depannya.
"Neji..? Hinata..? Kukira kalian.."
"Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku, dibantu Hinata. Jadi, tak ada lembur," sambung Neji datar.
Tenten tersenyum. "Senang kalian ada di sini. Ayo, masuk," Tenten menyuruh kedua orang di depannya untuk masuk. Mereka melakukan seperti yang di suruh Tenten.
"Um.. Tenten-chan?" panggil Hinata.
"Ya, Hinata? Oh, Naruto ada di halaman belakang, sedang mengganti bohlam yang rusak," kata Tenten. Hinata tersenyum yang bisa diartikan 'terima kasih' dan berjalan menuju halaman
belakang.
Tenten menatap Neji lama sambil tersenyum. Neji juga menatap Tenten dengan tatapan 'apa?'. Tenten menggeleng. Neji kemudian merangkulnya dan mereka berdua berjalan menuju
halaman belakang.
"Hei, Sai sudah datang!" seru Naruto. Ia, Hinata, Tenten dan Neji segera bersiap di tempatnya masing-masing, sementara Sakura masih bersama Ino. Naruto mengecek jamnya. Pukul 8. Sai memang orang yang tepat waktu..
Di kamar Ino, Sakura mengerling pada jam dinding yang dipaku di atas jendela. Sudah pukul 8. Seharusnya Sai sudah datang. Akhirnya ia berdiri dan memanggil Ino yang sedang menulis di atas beberapa kertas.
"Ino? Kita ke bawah, yuk," ajak Sakura. Ino mendongak dari kertasnya. Ia kemudian mengangguk, merapikan kertasnya dan berjalan menuju pintu, Sakura di belakangnya.
"Eh, Ino," kata Sakura, membuat Ino di depannya berhenti. "Bisa tolong ambilkan coklat di meja makan?" tanya Sakura.
"Kenapa tidak kau saja yang mengambilnya?" tanya Ino.
"Aku harus membantu Naruto dengan melakukan 'sentuhan terakhir'," kata Sakura.
Ino menghela nafas. "Baiklah."
Setelah Ino menghilang ke dapur, Sakura segera berlari menuju halaman belakang.
"Jadi, mana Ino?" tanya Sai yang sudah ada di halaman belakang.
"Dia ada di dapur, mengambil coklat," jawab Sakura sambil merapikan bajunya.
Sakura melihat ke sekeliling. Tenten, Neji, Hinata dan Naruto sudah ada di posisinya masing-masing. Namun, masihada satu orang lagi yang belum datang.
"Sasuke.. kau di mana?"
GREK!
Terdengar pintu belakang terbuka. Semua orang di halaman belakang menoleh.
"Um.. Sakura, coklatnya yang ini 'kan?" tanya Ino sambil menyerahkan sebatang besar coklat ke tangan Sakura.
"Ah, iya. Terima kasih, Ino," kata Sakura. Ia lalu meletakkan coklat di meja.
Ino melihat Sai melalui ekor matanya. "Halo, Sai! Kau ke sini karena mau menghadiri pesta pertunangan Neji dan Tenten 'kan?" tanya Ino.
Sai dan Neji tampak terkejut. Pesta pertunangan Neji dan Tenten? Siapa..!?
"Pesta pertunangan Neji dan Tenten?" tanya Sai tidak mengerti. Ino mengangguk innocently.
"Ah, iya, Sai di sini karena pesta pertunangan Neji dan Tenten!" kata Naruto memecah keheningan.
Sai mengangguk pelan dalam kebingungan. Ia menoleh ke arah Sakura, yang sedang mengatakan sesuatu tanpa suara. 'Jalani saja.'.
Sai menutup matanya perlahan, mengambil nafas dan membuangnya. Ia lalu membuka matanya.
"Ino," panggil Sai. Ino menoleh dengan senyumnya.
"Hm?"
".. Aku tahu ini akan terdengar sangat gila. Tapi yang mau bertunangan itu bukan Neji dan Tenten," kata Sai. Ia bisa melihat Neji menghembuskan nafas lega.
Ino menatap Sai bingung. "Bukan Neji dan Tenten? Kalau begitu.. siapa?" tanyanya.
Dengan satu anggukan dari Sakura, Sai kneeled down dan memperlihatkan sebuket bunga Primrose, buket bunga yang sudah Sakura buat, dari belakang badannya.
Bersamaan dengan Sai memperlihatkan buket Primrose, Sasuke turun dari mobilnya dan berjalan menuju halaman belakang. Ia terkejut ketika melihat Sai menyerahkan buket Primrose yang dibuat Sakura kepada Ino.
Sakura melihat Sasuke datang dengan tampang bingung. Ia lalu segera mengisyaratkan agar Sasuke cepat-cepat berdiri di sampingnya. Tapi, Sasuke tidak langsung berdiri. Ia masih mengernyit bingung ketika ia bertanya pada Sakura tanpa suara.
"Apa yang sedang Sai.."
"Kelihatannya dia sedang apa!?" balas Sakura, tanpa suara juga. "Cepat kesini, kau terlambat," lanjut Sakura. Sasuke segera berjalan menuju sisi Sakura dan berdiri diam di sampingnya ketika Sai memanggil nama Ino dan mengucapkan 4 kata yang sangat di nantikan oleh semua perempuan di dunia.
"Yamanaka Ino, will you marry me?"
Sakura, Naruto, Hinata, Tenten dan Neji tersenyum. Sasuke hanya bisa tercengang. Ternyata yang tercengang bukan hanya Sasuke, tapi juga Ino.
Sai, yang mungkin sudah tidak sabar akan jawaban Ino, memanggil namanya. "Ino?"
"Apa.. ada bunga solid color Carnation?" tanya Ino pelan.
Sai menatap Ino bingung. "Solid color Carnation? Tidak ada. Memang kenapa?" tanya Sai.
Ino kemudian tersenyum hangat. "Karena solid color Carnation berarti.. Ya!" Ia lalu langsung memeluk Sai. Teman-temannya pun langsung bersorak riang dan memeluk Sai dan Ino. Sasuke hanya diam di tempatnya. Melihat Sasuke yang tidak ikut bersenang-ria dengan teman-temannya, Sakura melepas pelukannya dan berjalan menuju Sasuke. Saat sudah ada di hadapannya, Sakura meninju bahu Sasuke pelan.
"Darimana saja kau!?" tanya Sakura.
"Apartemen. Ada masalah.. dengan Itachi," kata Sasuke. Sakura mengangguk memaklumi.
Sasuke kemudian berjalan menuju teman-temannya yang sudah melepas pelukan mereka dan menepuk bahu Sai. Sai menoleh.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Sasuke.
To Be Continue~Pour Etre Continuer~Para Ser ContinĂșa~Per Essere Continuare
Intinya: BERSAMBUNG!!
Hoho.. apakah yang akan Sasuke bicarakan pada Sai?
Wah, chapter ini SaiIno sekali! Biarlah, selingan dulu.
Ehe.. ke-kreatifan mama lo gue pinjem ya, ondy. Bilang makasi ke mama lo!
Maaf kalo ada typo dan kawan-kawannya. Dan kalo ada apa-apa yang ngga ngerti, tanya aja. Ato ada yang salah di sini, bilang aja, ntar Helen ganti.
Aaah..! Ga bisa banyak cingcong! Udah malem dan udah disuruh tidur. Yo wiss..
Review, please?
December 23, 2008, 9:11 pm
This story belongs to Inuzumaki Helen.
