The Languange of Flower

Summary: "Pernahkah kau mengerti apa arti dari semua bunga yang kukirim padamu? Jika digabungkan, bisa dijadikan sebuah kisah." SasuSaku. AU.

Disclaimer: I DO NOT OWN ANY OF THESE THINGS!

Helen syok. Serius. Nulis ini dini hari jam setengah 1 lebih 15 bukan obat buat syok Helen ini. Mentalku sudah tidak kuat. Tidak kuat menahan semua beban ini. Aku sudah TIDAK KUAT! Pergi kau, penghancur rumah tangga! (ini sinetron apa curcol?) Anyway, intinya Helen lagi syok, dan karena ngga tau kapan syok ini bakal sembuh (kemungkinan tahun depan sembuhnya), jadi Helen selesaikan aja chapter 7-nya. Jadi, jangan salahin Helen kalo cerita chapter ini bener-bener penurunan drastis. Salahkan VIRUS SIALAN PEMAKAN DATA!! Yang mau tahu Helen syok karena apa.. let's just say that it involves my KPop data.. and TLoF documents. By my statement earlier, you get the picture. Terlalu menyedihkan untuk diceritakan. Mulai chapter ini, ngga ada lagi review reply karena memakan terlalu banyak tempat, harap dimengerti (?).


The Language of Flower

By: Inuzumaki Helen

Inspired by: Unrevealed Mistake Of A One Night Stand by CommitedToKiba and Dandelion Pergi Ke Langit, Doraemon, Fujiko F. Fujio

Main characters: Uchiha Sasuke and Haruno Sakura

Main pairing: SasuSaku

Warning: OOC, Timeline berantakan, Gaje, Minim deskrip

Enjoy!


Seventh Stem: Dissapointment

"Sasuke.. Bisa jelaskan hal ini?"

Kata-kata itu terus saja terngiang di telinga Sasuke, padahal ia tahu perempuan di sampingnya tidak lagi membuka mulut. Sasuke memejamkan matanya. Ingin rasanya ia mengeluarkan segala sumpah serapah dari mulutnya, tapi ia tahu itu hanya akan membuat Sakura takut.. dan melihat Sasuke dengan pandangan berbeda. Tapi, hey! Ia seorang Uchiha. Mengapa kebekuan menjalar sampai otaknya? Ia tidak bisa berpikir.

"Sasuke?" Suara lembut Sakura memecah keheningan yang telah wujud selama dua menit terakhir. Laki-laki di tempat duduk pengemudi itu membuka matanya perlahan, matanya lurus ke depan.

"Pulang." Satu kata simpel. Hanya itu yang bisa dilontarkan Sasuke di detik itu.

"Apa?" tanya Sakura tidak mengerti. Tentu, ia tahu arti kata 'pulang' (geez, demi ikan Anchovy di atas pizza!), tapi definisi Sasuke tentang 'pulang' itu bisa berbeda di situasi seperti ini.

"Ayo pulang saja," ucap Sasuke, sambil memutar kunci dan men-start mobilnya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat gadis (umur 23 masih bisa disebut gadis kah?) berambut pink di sampingnya mengangguk perlahan. Sasuke tersenyum di dalam hati. Kalau ia bisa mengantar Sakura sampai ke rumahnya dalam kurun waktu kurang dari satu menit, itu akan menutup mulutnya dari segala pertanyaan. Sayang, rumah mereka masih berkilo-kilometer jauhnya. Tapi tak apa. Setidaknya di menit itu ia tidak dibombardir oleh Sakura.


Kalau keheningan bisa membunuh, Sasuke sudah mati sedari tadi. 20 kilometer mereka lewati tanpa ada yang angkat bicara. Ia melihat bibir Sakura terbuka sebentar, lalu tertutup lagi. Terbuka, tertutup lagi. Begitu terus setiap satu menit sekali. Sasuke tidak begitu memperdulikannya. Kalau ada yang ingin dia bicarakan, keheningan ini sudah berhenti menyiksanya, 'kan?

Secara refleks, tangan Sasuke memutar setir ke arah kanan, ke arah rumah Sakura. Sakura menguap kecil. Sepertinya ia mengantuk. BMW silver itu berhenti tepat di depan pagar pink rumah Sakura. Rumah kecil itu jadi berwarna hitam karena lampu-lampunya belum dinyalakan. Tapi, sepertinya pemikiran bahwa rumah gelap gulita adalah sasaran empuk para pencuri tidak mengenyahkan Sakura dari mobil Sasuke. Gadis itu tetap duduk di atas jok, diam dan seperti sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Ah, ini, punyamu." Sakura menyerahkan kartu berwarna biru muda yang sejak 30 menit digenggam oleh tangannya. Sasuke mengambilnya tanpa banyak bicara. Sakura menguap lagi.

"Menurutku kita harus bicara," ujar Sakura.

"Nanti, kau butuh istira—"

"Tidak," potong Sakura. Ia menoleh 90 derajat ke arah Sasuke. "Sekarang."

Sasuke menatap Sakura tepat di matanya. Antara tidak percaya hanya secarik kertas bisa mengubah eskpresi Sakura 180 derajat dengan, ekspresi paten seorang Uchiha Sasuke, malas. Hanya secarik kertas, kenapa masalahnya sampai harus bicara serius? "Oke." Sasuke melepas seatbelt-nya dan memutar tubuhnya menghadap Sakura. "Apa?"

Sakura menghela nafas, berusaha berpikir kalimat apa yang patut ia keluarkan di setiap nanometer kubik karbon dioksida yang ia hembuskan. "Kau tahu, akhir-akhir ini, setiap hari Kamis, aku selalu mendapat setangkai bunga dengan kartu yang terlilit di tangkainya?" Sakura berhenti sebentar untuk melihat reaksi manusia di depannya. But the latter just sit still. "Aku kemudian tahu bahwa setiap bunga memiliki arti yang berbeda. Tahukah kau dimana aku tahu arti bunga-bunga itu?" tanya Sakura, berharap Sasuke membuka mulutnya, atau paling tidak menggeleng. Tapi Sasuke tetap datar.

"Aku—"

"Tahu dari aku. Aku mengerti," potong Sasuke. Mulut Sakura tetap terbuka. Orang di depannya memang aneh. "Dan inti sesi curhat ini adalah...?"

'Curhat, dia bilang?' batin Sakura. 'CURHAT!?'

"Apa ini terlihat seperti curhat menurutmu?" tanya Sakura, agak sedikit jengkel dengan kalimat terakhir Sasuke. Laki-laki berambut ayam itu hanya mengangkat bahu, yang menghasilkan mata Sakura memicing. "Kau benar-benar harus belajar arti internasional dari kata 'curhat'."

Sasuke memutar matanya, pandangannya kembali kepada tangannya yang masih berada di stir. "Kalau tidak ada yang penting, turun saja."

"ADA," seru Sakura, dan menekankan satu kata bertiga huruf itu. Matanya melototi wajah Sasuke.

Satu detik..

Dua detik..

Lima detik..

Lucu juga ia bisa menghitung detik yang berlalu ketika hal-hal penting yang lain menunggu untuk diperhatikan oleh pikirannya.

"Tidak ada yang penting," ujar Sasuke, singkat, dan menunjukkan fakta bahwa ia-pemilik-mobil-dan-penumpang-wajib-turun-sekarang.

"Aku menahan nafas selama 12 detik karena kukira kau akan menjelaskan semuanya," Sakura berbicara lagi, dan hembusan nafasnya yang keras terdengar di keheningan malam. "Kau sedang bermain rahasia denganku disini, Sasuke." Lipat tangan di dada.

"Oh, aku bermain rahasia denganmu setiap saat," ujar Sasuke, tatapannya kembali mengarah ke arah figur di samping kanannya. Atas pernyataannya itu, kontan mulut figur itu terbuka lebar.

"Jadi kau yang merusak hiasan natal dua tahun lalu?!" tanya Sakura, sedikit terkejut seorang Uchiha bisa merusak. Sedikit, karena lambat laun, Uchiha Sasuke telah terkontaminasi sifat-sifat Uzumaki Naruto.

"Bukan, itu Naruto."

"Would you stop it?! Ini tidak akan membawa kita kemana-mana. Aku mau penjelasan tentang kartu kecil biru yang sedang kau genggam erat-erat itu, Sasuke," kata Sakura, menunjuk kepada kartu yang, memang sedang Sasuke genggam erat-erat. Hm.. gugup, Uchiha?

"Kartu ini ada di mobilku—" Sasuke mengeluarkan suara setelah sekian detik ia membisu. "—karena kartu ini jalan sendiri dari tempat dimana hanya Tuhan yang tahu, dan mendarat disini. Aku tidak bisa menyalahkannya, toh ia tidak bersalah." Penjelasan konyol, ia tahu. Ia hanya bisa berharap sang Haruno terlalu polos untuk mengerti arti sebenarnya.

"Kartu benda mati."

"Tepat sekali. Dan benda mati tidak ikut campur urusan orang. Kau, Haruno Sakura, memintaku untuk pulang cepat dan disinilah kita, tepat di depan pagar rumahmu, tapi kau tidak mau turun sama sekali. Kau—" Sakura mengernyitkan keningnya. Kumpulan kalimat terpanjang yang pernah Sasuke ucapkan? "—jatuh cinta dengan jok mobil-ku, ya?"

Dan itu berhasil. Gadis itu merengut sebal dan membuka pintu. "Akan kutagih penjelasannya sampai kau menjelaskan dengan jujur!" ucapnya, ketika seluruh tubuhnya telah utuh berada di luar kendaraan silver itu. Sasuke mengangkat bahunya cuek, yang membuat Sakura tambah jengkel. Dan membuat Sasuke berpikir akan reparasi pintu penumpang besok. Berbicara, apalagi meminta penjelasan yang benar, kepada Uchiha Sasuke tidak semudah membalikkan truk 180 derajat. Bercekcok dengannya seperti berjalan di atas benang kusut yang tak ada habisnya. Itulah kekuatan silat lidah seorang Uchiha Sasuke.


Thursday, 7:15 AM. Time recorded.

Gadis bersurai merah muda itu menghela nafasnya sembari tangannya sibuk merapikan segala kerutan yang wujud di rok hitamnya. Hari ini hari Kamis, hari yang paling ia tunggu-tunggu. Setidaknya, ia harap setangkai bunga yang diberikan oleh 'pangerannya'—mulai sekarang ia akan menyebutnya seperti itu—akan meringankan beban hatinya. Tsk, seperti hatinya ada beban saja.

Ia keluar kamar untuk mendapati teras belakangnya kosong, tidak, maksudnya belum, ada tanda-tanda bunga. Sepertinya sore atau malam baru 'paketnya' akan datang. Menyapu pikiran-pikiran tersebut keluar dari otaknya, Sakura segera mengambil tasnya dan bergegas keluar. Kalau tidak cepat, ia akan ketinggalan bus menuju daycare. Kehilangan mobil memang menyakitkan, tahu?


Thursday, 7:35 AM. Time recorded.

Perjalanan dari rumah ke daycare dengan angkutan umum ternyata memakan waktu lebih cepat dari bayangannya. Ia kira ia akan sampai dalam waktu satu jam. Oke, ia hiperbolis, tapi ia benar-benar berpikir begitu. Turun dari bus (haltenya bersebelahan dengan daycare), ia langsung disambut oleh Kankurou yang berlari ke arahnya dengan kecepatan tinggi, kakaknya mengejar di belakang.

"Kembali kau kesini!"

Kankurou bersembunyi di belakang sensei-nya secepat mungkin. Sakura memandang Kankurou aneh. "Kau. Apa lagi yang kau kerjakan?" tanya Sakura, Temari telah berada di depannya.

"Aku hanya sedang melihat PR Temari-neechan dan aku tersandung dan, dan, dan... aku menginjaknya sampai robek.." ucap Kankurou agak pelan.

"Kau APA?"

"PR-ku robek, sensei. PR-KU ROBEK!!"

"HEI SUDAH DIAM!!"

Hening.

"Masuk. Sekarang. Kalian kakak-adik, memang sudah hukum alam kalian bertengkar, tapi tolong jangan disini. Kalau tidak, Ino akan menghajarmu," kata Sakura. Kedua anak itu lantas bergidik ngeri dan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba akur lagi. Kekejaman Ino memang sudah terkenal.


Thursday, 9:30 AM. Time recorded.

Setelah mengurus PR anak-anak yang masuk sekolah siang, kelima sensei itu berselonjor ria di ruang tengah. Sakura bahkan terlalu letih untuk memikirkan soal tagihannya kepada Sasuke.

"Anak-anak sudah pulang. Sekarang kita yang pulang, ya, Ino." Tenten berdiri dan mengambil tas hijaunya. Ino menghabiskan air di gelasnya.

"Ya, ya. Pulanglah. Besok jangan telat lagi, ya." Tenten mengangguk. Setelah beberapa lambaian, pintu pun tertutup.

"Ino, aku bantu kau dengan dokumennya, ya?" Naruto berbalik badan menghadap gadis yang disebut. Ino berpikir selama sesaat, kemudian mengangguk. Dalam hitungan detik, keduanya telah sampai di lantai atas, dan meninggalkan Sasuke dan Sakura sendiri di bawah.

"Kau mau ke taman?" ujar Sasuke setelah selama beberapa menit tidak terdengar suara dari ruang tengah. Sakura menoleh dan mengangguk. Masih lupa soal tagihan. Terlalu letih. Taman bisa jadi ajang refreshing.


Thursday, 9:45 AM. Time recorded.

Taman Konoha adalah taman dengan nama yang sangat tidak kreatif. Namun, tempat itu adalah salah satu tempat terindah yang pernah Haruno Sakura kunjungi. Dan sekarang disinilah ia berada, dengan temannya, Uchiha Sasuke. Salah satu alasan mengapa ia senang berada di taman kota tersebut, adalah karena banyak bunganya. Ia belum bilang kalau ia suka bunga, kan?

"Oh iya. SASUKE!" Sakura berseru. Seruannya seakan dapat membuat pohon bergoyang, kalau saja pohon tidak sekeras itu. Sasuke menutup kedua telinganya.

"Ya?" Buka telinga. Agar bisa dengar.

"Kau masih berhutang satu penjelasan padaku. Dan jangan berlagak bodoh, aku tahu kau tahu apa yang aku maksud," ujar Sakura, agak sedikit berseru.

Alis pemuda 23 tahun di depannya bertaut. "Kukira sudah kujelaskan padamu."

Sakura mendengus pelan. "Penjelasan macam apa itu? Kartu yang jalan sendiri? Tolonglah, Sasuke, aku bukan anak TK dengan segala fantasinya," ujarnya.

"Mungkin lain kali."

Itu tertanam di tanah 'jengkel'. Serius.

"Kau—"

RRR! RRR!

"HP-mu bunyi."

"Aku tahu!" Answer.

"Halo?"

"Sakura, kau ada dimana?"

"Aku? Di taman. Kenapa?"

"Oh? Taman Konoha? Aku juga disana."

"Benar? Wah.. bisa sama, ya? Kau dimana?"

"Tunggu, tunggu, sepertinya aku bisa melihatmu."

"Kau jangan coba-coba—"

"Terlambat."

End. Apa. Maksudnya?

"HEI!" Seseorang tiba-tiba memeluk tubuh ramping Sakura dari belakang. Gadis itu kontan melonjak kaget. Kepalanya berputar untuk melihat siapa yang telah memeluknya.

"Gaara! Jangan pernah lakukan itu lagi, sudah kubilang berkali-kali!" ucap Sakura seraya mengurut dadanya.

"Maaf." Pemuda berambut merah itu melirik Sasuke, yang ekspresinya tak bisa dibaca. "Siapa ini, Sakura?"

Sakura menoleh ke arah Sasuke dan tersenyum. "Gaara, ini Sasuke yang aku ceritakan itu." Sakura menunjuk Sasuke, memperkenalkan dirinya.

"Dan, Sasuke, ini Gaara..." Oh, ini yang namanya Gaara. Tapi, Gaara itu siapanya Sakura? Berbagai pikiran melintas hanya dalam hitungan nanosecond sebelum Sakura melanjutkan kalimatnya yang terputus. "... tunanganku."


Thursday, 7:00 PM. Time recorded.

Haruno Sakura tidak mengerti lelaki. Sasuke menjadi diam setelah ia diperkenalkan kepada Gaara. Dan ia diam saja ketika Gaara membawa Sakura pulang. Geleng-geleng. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran mereka, apalagi Sasuke.

Dan sekarang dia sudah selamat berada di rumahnya tercinta. Dan, oh. Apa itu?

"Bunganya sudah datang!" seru Sakura riang. Ia dengan cepat membuka pintu teras dan mengambil bunga tersebut. Carnation kuning? Bunga yang bagus. Tapi, ada yang aneh. Tak ada kartu kali ini. Sakura mengernyit. Aneh.

"ADUH!"

Sakura mendelik tajam ke arah semak-semak di dekatnya. Apa tadi ia baru dengan suara 'aduh' dari sana? Berhati-hati, ia berjalan menuju semak-semak, hanya untuk menemukan sesuatu yang mirip buah durian di sana. Tak ada bau buah durian, lagipula mana ada buah durian yang bisa—

"Naruto?"

Figur di semak itu mendongak kaget dan nyengir. Gigi putihnya terlihat jelas di kegelapan malam.


"Jangan salah sangka, ya. Aku BUKAN secret admirer-mu. Aku hanya.. semacam kurir. Begitulah."

Kalimat itu terus terulang selama 2 menit terakhir. Itu terus yang keluar dari mulut Naruto. Sakura sudah bersahabat dengan Naruto sejak mereka masih memakai popok, dan ia tahu ada sesuatu yang salah.

"Jangan anggap remeh aku, Naruto. Aku tahu kau mau bilang sesuatu."

"Aku hanya mau bilang bahwa aku hanya..."

"Kurir, aku mengerti. Ada yang lain lagi, bukan?" Sakura memancing pemuda di depannya. Pemuda itu, hanya dalam hitungan detik yang bisa dihitung dengan kesepuluh jari, menghela nafas pasrah. Ia kalah. Sakura tersenyum. Sahabatnya memang ember bocor yang dapat dipercaya.

"Oke, oke. Singkirkan senyum itu, seram melihatnya. Pertama, kau tahu arti bunga Carnation kuning?" tanya Naruto. Sakura menggeleng. "Carnation kuning. Arti: Kekecewaan."

Alis Sakura mengernyit. "Mengapa dia harus kecewa denganku?"

"Nah, itu dia. Jadi, asal-usul bagaimana aku bisa jadi kurirnya adalah..."

To Be Continue~Pour Etre Continuer~Para Ser Continúa~Per Essere Continuare

Intinya: BERSAMBUNG!!


ADALAH..?? Tak tau lah. Nanti aja. Okeeey inilah chapter 7 yang bener-bener gaje karena: 1) Saya masih syok. 2) Saya lagi UTS. 3) Saya buru-buru. Chapter ini udah ga jelas, singkat, minim deskrip, bertele-tele.. Jah, segala kelemahan ditumpahin kesini. Udah ah, saya mau tidur dulu, besok terakhir UTS.

HAPPY BIRTHDAY, MY FISHY TOCHAN!

Yep, hari ini ulang tahu Lee Donghae yang ke-23. Ah, papa saya. Jiahahaha.

Maaf bila ada typo dan kawan-kawannya.

Review, please?

October 15, 2009, 8:58 PM.

This story belongs to Inuzumaki Helen.