The Language of Flower
Summary: "Pernahkah kau mengerti apa arti dari semua bunga yang kukirim padamu? Jika digabungkan, bisa dijadikan sebuah kisah." SasuSaku. AU.
Disclaimer: I DO NOT OWN ANY OF THESE THINGS! Naruto © Masashi Kishimoto.
Hey hey HEY! Saya kembali membawa barang abstrak ini! Kaget liat TLoF nongol di halaman satu? Jangan. Karena ngga ada yang bisa diharapkan disini.
Seperti biasa, chapter ini dipenuhi oleh keputusasaan, keabalan, kesingkatan dan ketidakjelasan yang ditumpahkan semua oleh sang authoress. Ditambah PM. OH MY GOD SUN!! Tapi, yah.. di kelas saya ada Changmin sih, ngga apa dah (wee yang sekarang ngga sekelas ama Changmin) (eternal magnae kurang ajar minta dikulitin).
And minna-san, PREPARE FOR A SURPRISE! Walaupun saya yakin udah banyak yang ngira =.=' Tadinya mau buat jadi surprises, cuma saya sadar akan kelemahan saya dalam hal ide, maka saya stop di kata surprise tanpa plural. Oh well. Kejutan itu juga hasil dari baca berton-ton YunJae, YooSu dan HoMin (yes, I read HoMin and I love them) fluff.
The Language of Flower
By: Inuzumaki Helen
Inspired by: Unrevealed Mistake Of A One Night Stand by CommitedToKiba and Dandelion Pergi Ke Langit, Doraemon, Fujiko F. Fujio
Main characters: Uchiha Sasuke and Haruno Sakura
Main pairing: SasuSaku
Warning: OOC, Timeline berantakan, Gaje, Minim deskrip
Enjoy!
Eight stem: Secret(s) Unveiled
Thursday, 7:20 PM. Time recorded.
"Jadi, yah.. intinya, secret admirer-mu itu.." Naruto membentuk keempat jari telunjuk dan jari tengah di tangannya menjadi dua buah tanda petik, mulutnya terkunci rapat. Manik gadis di hadapannya melebar, antara masih berusaha mencerna kisah yang baru saja sahabatnya ceritakan dan tak percaya. Sebuah senyum terpatri di wajah pucat itu.
"Ternyata. Pantas saja." Gadis itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Alisnya bertaut, matanya memeriksa Naruto. "Lalu, suratnya dimana?"
Kali ini giliran alis lelaki di hadapannya yang menyambung. "Surat? Kartu kecil maksudmu?" tanyanya polos. Gadis bermahkota merah muda itu mengangguk tak sabar. Ia ingin tahu apa yang akan sang secret admirer tulis. Naruto melakukan hal sebaliknya, ia menggeleng.
"Dia tak memberikannya padaku," ujar lelaki berambut kuning itu.
"Apa? Kenapa?" tanya sang gadis, memajukan tubuhnya. Sang pujangga sepertinya sudah mencium ada yang tidak beres.
Naruto mengangkat bahunya. "Tidak tahu. Tumben, sih. Tapi dia tidak bilang apa-apa," ucapnya.
Sakura menyandarkan tubuhnya lagi. Ia mengajak perang rupanya, pikir sang Haruno. Tidak, tidak! Geleng-geleng. Apa-apaan itu, perang? Kau berlebihan, Sakura.
"Well, kalau begitu aku pulang dulu, ya. Penyamaranku sudah terungkap, aku tak bisa melapor yang sebenarnya pada 'bos'-ku itu," ujar Naruto seraya berdiri.
"Tolong jangan katakan apapun tentang hal ini, ya. Kalaupun kau akan disiksa, bilang saja aku yang memaksamu untuk cerita!" Sakura terlalu sayang dengan sahabatnya untuk membiarkannya disiksa sendiri. Seandainya mereka berdua sedang ada di sebuah komik, akan muncul efek suara jangkrik dan sebuah keringat besar turun dari belakang kepala Naruto.
"Dia, pujanggamu itu…" ejeknya, menekan kata 'pujangga' secara sengaja. "…tak akan menyiksaku, apalagi membunuhku. Selama aku menyimpan semuanya rahasia, kau, aku, dan sofamu itu akan selamat sampai dunia kiamat." Meracau.
Sudut bibir Sakura tertarik. Ia puas dengan jawaban sang kurir, walaupun hiperbolis juga. Ia segera mendorong sahabatnya itu keluar dari rumahnya, mengucapkan selamat malam, dan menutup pintu. Ia bisa mendengar sumpah serapah samar-samar dari balik pintu, tapi ia tak peduli.
Friday, 8:00 AM. Time recorded.
"Saku...RAAA~!!" sang pemilik daycare berteriak sembari berlari akan memeluk Sakura. Refleks, Sakura menghindar. Ino cemberut.
"Apa?"
"Kita kurang orang hari ini," ujar Ino.
Sakura melepas sepatunya. "Kenapa?"
Ia bisa mendengar sahabatnya itu menghela nafas. Ia sudah bisa mengira. "Tenten. Dia diajak Neji jalan-jalan keluar kota. Tadinya tak kubolehkan tapi dia memaksa. Aku kan jadi tidak enak," keluhnya. Tuh kan.
"Empat juga tidak apa, Ino," jawab sang Haruno sembari melepaskan sebuah bola di tangan Chouji yang (lagi-lagi) akan dilahapnya.
"Tapi aku juga banyak kerjaan, Sakura," protes Ino. Sakura memutar matanya. Ini dia. 'Kerjaan' yang ia maksud paling hanya membuka-buka dokumen secara asal dan sisanya digunakan untuk menelepon Sai. Kalau masih ada sisa, mungkin mencari cemilan dan menonton TV atau main komputer, sama sekali tak peduli dengan teman-temannya yang sedang berkutat dengan keganasan anak-anak di lantai bawah. "Dan kita tidak punya pekerja cadangan."
"Yah.. telepon seseorang yang kau kenal saja."
"Tidak ada."
"Kau tidak kenal seorang pun selain kami?"
"Bukan begitu, maksudnya.. aku ada kerjaan. Sebagai wakil manajer yang baik, kau akan menelepon orang untuk mengganti Tenten, ya." Kaki kanan si pirang sudah naik ke anak tangga satu. "I love you!" Dan pergilah ia ke dunianya sendiri di lantai atas. Sahabatnya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan Ino yang kadang bisa menjadi kekanakan. Mengeluarkan handphone-nya dari tas, pikirannya berputar di beberapa gambar, mencari siapa kiranya yang bagus untuk urusan ini.
Gambar satu; Hinata. Hinata? Ah, dia pasti sibuk. Menjadi editor itu bikin pusing, tambah begini dia bisa bunuh diri nanti. Hinata, coret. Gambar dua; Lee. Lee? Hm. Dia pasti senang dikelilingi semangat anak-anak muda. Ah, ya, dan semua anak pulang meneriakkan, "SEMANGAT MASA MUDA!" dan aku harus siap dipanggang para orang tua. Lee, coret. Gambar tiga; Gaara. Gaara? Pasti sibuk. Tapi, katanya hari ini dia libur? Tapi dia kan tidak suka anak-anak? Gaara, co—
"TUNGGU, TUNGGU JANGAN DICORET DULU!!" Tanpa sadar, Sakura berteriak, menerima berbagai tatapan aneh dari anak-anak di sekelilingnya. Ia tersenyum kecil, menyembunyikan rasa malunya dan menatap layar handphonenya. Sebuah nama dan sebuah nomor. Tanpa pikir panjang, ibu jarinya memencet tombol hijau itu.
"Halo?" Gaara. Tak ada kata menunggu dan ditunggu dalam kamusnya. Nada dering pertama baru berbunyi setengah dan dia sudah menjawab. Kadang Sakura bertanya dalam hati, entah tangannya yang sangat cepat mengangkat telepon, atau ia tidak ada kerjaan lain selain menunggu seseorang untuk meneleponnya?
"Gaara?"
Diam."Ya?"
Menghela nafas, Sakura mengutarakan maksud ia menelepon. "Daycare kekurangan orang. Tenten diculik Neji. Dan kau tahu seberapa bebalnya Ino. Ia menyuruhku untuk menelepon seseorang untuk membantu di Daycare hari ini."
Orang di seberang sepertinya sedang berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan Sakura, dan intinya.
"Dan kenapa kau meneleponku?"
Ah, sudah ia duga. "Orang-orang yang muncul di kepalaku sebelum kau hanyalah orang-orang sibuk. Dan, kau bilang padaku semalam kalau kau ada libur hari ini..." Tangannya mulai memainkan ujung roknya, gugup. Ayolah Sakura, kau tidak sedang mengajak Gaara untuk kencan! Itu tugas Gaara sebagai lelaki, ngomong-ngomong. "...jadi—" Ia pasti menolak. Dia kan anti manusia kecil bertitel bocah.
"Oke."
Tuh kan. Wait, what?
"A-apa?"
"Aku bilang 'oke'. Baiklah. Iya. Ne. Da. Sì. Sim. Mau bahasa apa lagi?"
Sakura tergagap. Ada yang salah dengan Gaara hari ini. Tapi, ia memutuskan untuk bertanya pada orangnya sendiri ketika sudah bertemu. "O-oke. Kalau begitu, kesini secepatnya, ya. Kutunggu."
"Hm."
Dan berakhir begitu saja. Serius, ada yang korslet di sirkuit Gaara.
"GAARA?!"
Angguk.
"Dia anti anak-anak, kau tahu."
Angguk lagi.
"Maksudnya, kenapa harus dia?"
Angkat bahu.
"Dia bisa melempar anak-anak kalau dia tidak—"
Terpotong. Dan bel berbunyi. Ingin keluar dari percakapan tidak jelas ini secepatnya, Haruno Sakura berlari menuruni tangga menuju pintu. Tersandung sedikit, namun akhirnya pintu terbuka, menampakkan seorang lelaki berambut merah yang sudah sangat familiar di matanya. Tersenyum lebar, ia mempersilakan lelaki itu masuk.
"Terima kasih sudah mau datang," ujar Sakura, sembari Gaara melepas sepatunya. "Kami semua bisa menangani ini, jadi kalau mau kau bisa—"
"Aku mau menemanimu bekerja." Suara Gaara sangat pelan, hampir berbisik.
"Maaf?"
Gaara menegakkan tubuhnya lagi dan menatap gadis dihadapannya. "Aku mau menemanimu bekerja." Kali ini suaranya lebih keras, dan lebih tegas. Walaupun ia bisa mendengar ketegasan di suara pemuda itu, Sakura tersenyum.
"Baiklah. Kalau itu maumu." Sakura mengangkat bahu dan berjalan mendahului Gaara. Gaara mengikuti dari belakang. Tiba-tiba, Sakura berhenti dan berbalik menatap Gaara. Tangannya terangkat, menyentuh pipi Gaara. "Terima kasih."
Gaara tersenyum tipis, sangat tipis untuk mata orang biasa, namun Sakura bisa melihatnya. Gadis itu balas tersenyum dan kembali berjalan, lupa bahwa ia tadinya mau bertanya apa yang salah dengan Gaara hari ini.
Anak-anak lebih liar hari ini, entah mengapa. Namun yang lebih aneh adalah bagaimana Gaara bertahan menghadapi anak-anak yang berlarian mengelilingi rumah dan hampir saja menghancurkan meja kalau tidak dihentikannya terlebih dahulu. Dan ia tak pernah mengeluh. Ia mengerjakan semuanya. Tanpa senyum, mukanya masih datar, namun ia dengan sabar melepas Chouji yang sudah mau menggerogoti kaki meja kayu di dapur tersebut dan melerai Kiba dan Shino yang saling lempar peralatan tulis ke muka masing-masing.
Dan yang lebih aneh daripada semua ini adalah Sasuke. Dia tampak lebih.. diam, hari ini. Oke, biasanya ia memang pendiam, namun kadang ia masih menjawab jika anak-anak bertanya padanya, bahkan tersenyum kecil. Sekarang? Ia bahkan belum mendengar suara, bahkan dengungan, keluar dari mulut Sasuke. Sejak Sakura membawa Gaara ke ruangan tengah untuk bertemu Sasuke dan Naruto, Uchiha itu seperti dikelilingi aura yang lebih gelap dari biasanya. Sakura hanya bisa menautkan alis.
"Lelah?" Sakura tersenyum, menawarkan segelas air kepada Gaara, yang sedang duduk di teras belakang. Gaara mendongak dan mengambil gelasnya. Menggumamkan sebuah 'terima kasih', ia meneguk seperempat air di gelas putih itu.
Anak-anak telah dijemput oleh orang tua mereka, dan jarum jam telah menunjukkan pukul 6. Sudah waktunya pula bagi para sensei untuk pulang, namun Sakura memutuskan untuk membantu Ino dengan arsip-arsip terbengkalai yang bahkan tak pernah bosnya itu sentuh. Naruto telah terbang pulang ke rumah, dan ia tak melihat Sasuke, karena itu ia mengasumsikan bahwa orang itu sudah pulang. Sakura duduk di sebelah Gaara.
"Ada yang salah denganmu hari ini, ya?" Sakura bertanya dengan hati-hati.
"Kenapa kau tanya?" Gaara bertanya balik, matanya tetap memandang lurus kearah pagar. Sakura menghela nafas.
"Tidak apa-apa, hanya saja kau aneh hari ini." Ia bisa merasa Gaara menaikkan satu alisnya walau ia tak melihat. "Sejauh yang aku tahu, kau tidak suka anak-anak. Lalu, mengapa tiba-tiba kau mengambil tawaranku untuk membantu disini?" Ia ikut menaikkan satu alis, memandang Gaara.
Gaara tampak berpikir sejenak, kemudian menjawab, "Salah, ya, kalau aku hanya ingin menghabiskan hari liburku denganmu, walau dengan menangani hal yang tak kusukai?". Orbsnya memandang manik hijau Sakura. Gadis itu tersenyum dan menggenggam tangan pemuda di sampingnya.
"Oke, aku tak akan mengeluh lagi." Sakura tertawa kecil. Ia mengistirahatkan kepalanya di bahu Gaara.
"Neji dan Tenten hari ini—" Frasanya terpotong, seperti mencari kata yang tepat untuk selanjutnya dilontarkan. "—besok kau dan aku, mau?"
Kalimat itu dengan serta merta mengangkat kepala Sakura dari bahu Gaara. Ia menatap Gaara, bingung. "Tapi, aku kira liburmu hanya hari ini?"
"Aku dapat tiga hari libur," ujar Gaara, mengangkat tiga jari tangan kirinya yang bebas. "Katanya karena aku sudah bekerja dengan baik. Semacam itulah."
"Oh, itu bagus! Mungkin aku bisa memaksa Ino untuk melepasku besok. Hari ini kan Tenten sudah." Sakura tersenyum membayangkan Ino yang cemberut karena tidak bisa menghabiskan waktu dengan Sai, dan menunduk memandang tangannya. "Kau pakai cincinnya?"
Gaara memandang tangan kanannya. Sebuah cincin putih melingkari jari manisnya. "Kau sendiri tidak pakai?"
Sakura memandang Gaara tidak percaya. "Lah, kan kau yang mau semua ini rahasia?" katanya, sengaja mendesis agar orang dalam radius lebih dari dua meter tidak bisa mendengar. Gaara tersenyum tipis dan menggenggam tangan Sakura. Gadis Haruno itu kembali mengistirahatkan kepalanya di bahu Gaara. "Sekarang kau mau beri tahu aku mengapa kita merahasiakan ini?"
Hening. Sakura bisa mendengar nafas Gaara yang teratur, sepertinya sedang berpikir. "Kapan-kapan," ucap Gaara akhirnya. Sakura memukul lengan Gaara pelan.
"Besok!" Dia terdengar lebih ke memohon daripada hanya bertutur. She put on her best pouting face, and it worked.
Gaara menghela nafas, sadar dirinya telah kalah. "Besok," ulangnya. Sakura tersenyum penuh kemenangan dan mulai bercerita tentang Tenten yang meneleponnya ketika sedang merapikan arsip Ino.
Dua meter. Dua meter adalah jarak yang memisahkan mereka, Sakura dan secret admirer-nya, yang sedang menguping (dan mengintip) dari balik pintu.
(saya tau saya selalu lebai dengan bagian ini, karena itu saya bikin simpelnya aja:)
TO BE CONTINUED.
I know I sucked. Kill me! *bangs head on keyboard* Aish, me and my desperation. Bagi orang sepintar Akamaru, pasti langsung ngerti apa maksud chapter ini. Bagi yang sepintar Shikamaru, pasti udah tau endingnya kayak gimana. Chapter ini pendek, tapi cukup penting juga. Ah, otak saya ngga bener jam 4 pagi =.=
Pengen tau kenapa saya meletakkan 'Time recorded'? ISENG *shot*! Saya juga ngga kasi begituan di moment-moment terakhir, ngga usah dipermasalahkan soal itu.
Dan memandang hari ini jam 4 pagi tanggal 2 Januari, jadi..
Otonjoubi omedetto, oonddangkoma! (oondagubrakitachi)
saengil chukkaeyeo, unnie-dongsaeng! coretyangbarudapetMANGDOONGIE!coret
Dan, wow. Saya ngerjain fic ini dua tahun. DUA TAHUN BISA PERCAYA GA SI LO?!! *kicked* Well, ini chapter comeback saya. Ehem. Semoga suka (AMIN!).
Seperti biasa, maafkan kalo ada typo dan kawan-kawannya. Kalo ada typo, bilang nanti saja koreksi. Kalo ada yang ngga jelas, bilang juga nanti chapter depan saya jelasin (kalo review pake account FFN, ya saya reply :P).
Saya ih, UN dua bulan lagi malah ngerjain beginian. Yang mau UN (termasuk saya) HWAITING, YA!
Ya ampun, saya bacot banget, ya? Ocehan ga penting semua. Tolong skip aja ocehan ngga jelas saya ini. Tapi, saya kangen loh nulis beginian di akhir chapter, bahkan udah gitu saya— *dibekep Wookie*.
So, review please?
January 2, 2010, 4:00 AM.
This story belongs to Inuzumaki Helen.
