DISCLAIMER: ATLUSS....
Setelah sekian lama, fic ini bisa saya update!!*PLAAAKKK!!!*
Hiks... Makasih untuk para Reviewers... *nangis lebay... –PPLLAAAKK!!-*
Yok, saya akan membalas ripiu... Dibantu dengan Hikari!!
Hikari: Hmm, mulai dari MelZzZ... Makasih, makasih... Oh, Shinji nii-chan mukanya ketuaan ya? Anda lebih suka Naoto cewek ya? Hah? Biar nanti sama Souji...
Naoto: Jangan dipermasalahkan lagi... *ngerebut kertas ripiu* Ehem, Lalu, Hayato Arisato Wiraqocha Rasca... terima kasih sudah mendukung saya jadi cowok...
Shinji: Setelah itu dari Snow Jo... Makasih ripiunya, akan diusahakan agar author tetap aktif....
Minato: Aanndd... Dari Lucielle Michaelis... Maaf ya, kalo kependekan, Lagi pula, Author emang gampang kehabisan ide! Jadii.... Gitu deh... Makasih ripiunya yaakk!!
Hikari: Heh? Nii-chan kenapa? Iwanishi Nana... Maaf ya, untuk kesalahan penulisannya, Author bikinnya pas lagi ngantuk berat sih...
Shinjiro: Lalu dari heylalaa... Naoto cowok... Suka nggak? Soal pairing? Tanyakan pada Author...
Minato: Lalu dari Mocca-Marocchi... Yah sang author sinting ini kebanyakan baca Detective Conan ma novel Misteri, jadinya kayak gini deh... Pasti bakal di apdet, jadi jangan berhenti penasaran!! WAHAHAHAHAH!!!
Naoto: Ehm, dari Otomo Minato, Souji-senpai dkk? Itu rahasia author… BTW, Minato-san, kenapa lu?
Hikari: Nii-chan... Kau kenapa?
Shinji: Woy, Author!! Lu apain si Minato?!
Author: Gua kasih sedikit bumbu OOC... Tapi ma dia dikirain makanan, trus dilahap semua... Jadinya yah, OOC banget....
Shinji: Kok lu nggak tanggung jawab?!
Author: Lah, dia yang ngelahap kok!!
Minato: What's up guys!! Minna, kita lanjut ke cerita nya nyok!! *Breakdance di lantai*
Hikari: N-nii-chan...
Shinji: *nepok jidat* Mimpi ape gue semalem?
Crime Scene, 23.30 p.m
Naoto POV
"Hrmph..." Aku melihat jam tanganku. Jam 23.30. Tak terasa, hampir 3 jam aku berputar-putar TKP dan sekitarnyamencari petunjuk. Akupun membuka buku catatanku. Menurut orang sekitar, sekitar jam 5 sampai 6 sore, ada 3 orang yang datang. Tapi semua langsung pulang setelahnya. Tapi, tak ada seorang pun yang tahu mereka siapa. Yang mereka tahu adalah salah satu dari mereka itu teman sekolah atau mungkin Pacar Sanada Hikari. Karena mereka sering melihat Hikari jalan-jalan dengan orang itu.
"Hm, tampaknya aku harus mengunjungi orangnya langsung..." Pikirku seraya menutup buku catatanku. Setelah itu, aku membetulkan posisi topiku, dan berjalan pulang.
Hospital, 07.00 a.m
Hikari POV
Aku terbangun karena setitik sinar Matahari masuk lewat jendela kamar Rumah sakit. Aku mengangkat kepalaku, dan tersadar kalau aku tertidur sambil menggenggam tangan Minato nii-chan. Saat aku ingin berdiri, aku menyadari sebuah Jaket merah tua menyelimutiku. Aku pun melihat sekeliling. Dan aku melihat Shinji nii-chan tertidur di sofa kamar dengan sebuah majalah menutupi wajahnya. Aku melipat jaket itu, lalu meletakkannya di samping Shinji nii-chan. Entah kenapa, aku merasa agak kedinginan, jadi aku membuat teh dengan air panas yang disediakan.
Saat aku selesai menyeduh teh, seseorang mengetuk pintu. "Sebentar..." Kataku sambil menaruh cangkir teh di meja. Saat pintu kubuka, kukira perawat atau dokter, ternyata bukan. Seorang anak laki-laki yang sepertinya seumuran denganku. Berambut biru, bola matanya biru, memakai topi biru.
"Apa kau Sanada Hikari-san?" Tanya anak laki-laki itu.
"Ya... Siapa kau dan apa maumu?" Tanyaku agak kasar. Aku tahu, dia pasti punya hubungan dengan kepolisian.
"Namaku Shirogane Naoto, seorang detektif. Aku dimintai tolong untuk memecahkan kasus pembunuhan suami istri keluarga Sanada." Ujar anak laki-laki itu.
"Ada apa, Hikari?" Tanya Shinji nii-chan yang ternyata sudah bangun. Saat dia melihat Shirogane-kun, dia langsung mendekatinya. "Kau lagi? Apalagi yang kau mau?" Tanya nii-chan kasar. Walau begitu, Shirogane-kun tetap tenang. Seolah-olah dia tahu tak akan terjadi apa-apa padanya.
"Aku hanya mencari bukti. Bukan masalah." Jawab Shirogane-kun.
"Bukti? Bukti apa?!" Shinji nii-chan naik darah.
"Jangan-jangan… wajah pelaku?" Tanyaku.
"Wah, Shinjiro dan Hikari… Lama tak bertemu ya?" Seorang laki-laki berambut hitam dengan tahi lalat dibawah matanya mendatangi aku dan Nii-chan.
"Ah, Ryoji oji-san…" Kata Shinji nii-chan. Dia sedikit membungkuk, spontan aku ikut membungkuk.
"Nii-chan… dia siapa?" Bisikku pada nii-chan. Tampaknya dia dengar.
"Ah, Hikari lupa padaku ya? Maklumlah, waktu bertemu denganmu terakhir kali, kau masih sangat kecil. Aku Mochizuki Ryoji, teman ibu dan ayahmu." Katanya. Aku hanya ber 'ooh' ria. "Hm? Siapa dia?" Tanya Ryoji oji-san saat melihat Shirogane-kun.
"Namaku--…"
"Aahahahaa… Dia teman sekolahku, hanya ingin menjenguk Minato nii-chan saja. Maklum, dia fans Minato nii-chan! Ng, aku dan dia mau ke kantin dulu ya." Aku mendorong Shirogane-kun menjauh dari situ.
"Hikari?" Panggil Shinji nii-chan. Aku hanya menoleh lalu tersenyum kecil.
-End of Hikari's POV-
"Hikari?" Panggil Shinji. Adiknya hanya menoleh sedikit, lalu tersenyum kecil. Tapi, Ryoji, dia melirik Hikari dan Naoto dengan tatapan aneh. Shinji yang menyadari itu langsung memanggilnya. "Ryoji oji-san… Ada apa? Kukira anda mau masuk." Kata Shinji. Ryoji yang tersadar langsung menoleh dan tersenyum.
"Ah, iya…" Lalu ia pun masuk mengikuti Shinji. Lalu ia duduk di sofa. "Em, Shinjiro. Pemakaman Mitsuru-san dan Akihiko akan diadakan 2 hari lagi." Ujarnya. Shinjiro hanya mengangguk.
DRRT DRRT
HP Ryoji bergetar. "Ah, maaf…" Ryoji merogoh kantung celananya. Lalu menjawab teleponnya. "Halo? Ah, Iya… Silahkan…" Dia agak menunduk untuk menyembunyikan seringai aneh yang terbentuk oleh bibirnya.
-Shinjiro's POV-
HP Ryoji oji-san bergetar. "Ah maaf…" Ryoji oji-san merogoh kantung celananya, lalu mengangkatnya. "Halo? Ah, iya… Silahkan…" Dia entah kenapa agak menunduk. Lalu dia menatapku lagi. "Jadi, Shinjiro… Apa kau akan ikut ke pemakaman orang tuamu?" Tanya Ryoji oji-san.
"Aku akan bertanya pada dokter terlebih dahulu…" Jawabku singkat.
"Untuk apa?" Tanya Ryoji oji-san.
"Untuk mengetahui apa Minato diijinkan ikut atau tidak. Tak mungkin aku dan Hikari meninggalkannya disini." Jelasku. "Kenapa dia bertanya hal yang sudah jelas seperti itu?" Pikirku.
"Hm… Begitu ya? Tapi, kurasa kalian takkan pergi…" Katanya sambil sedikit tersenyum… Bukan, dia bukan tersenyum, tapi… menyeringai? Seringai yang sangat menakutkan, membuatku sedikit berkeringat.
"Kenapa?" Tanyaku tetap tenang. Dia menghela napas.
"Shinjiro… kau ini… Bodoh ya?" Katanya sambil tertawa kecil. "Kau… benar-benar tidak sadar?" Tanya Ryoji oji-san. Aku membelalakkan mataku saat seseorang membekap mulutku dari belakang. Aku mengayunkan tanganku kebelakang. Orang itu menghindar ke arah bawah. Tapi, karena itu, aku berhasil lepas dari bekapannya.
"A-apa?!" Aku segera berdiri lalu agak menjauh dari mereka. "Apa maksudnya ini?!" Tanyaku. Ryoji oji-san hanya tertawa kecil.
"Hm… Tak tahukah kau? Sejak kau berbicara denganku, anak buahku menyelinap masuk dari pintu yang kau biarkan terbuka lebar." Dia menunjuk pintu kamar yang terbuka lebar-lebar. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat.
"Kurang ajar!! Apa maumu?!" Tanyaku geram. Aku tak peduli dengan kesopanan lagi.
"Wah, wah… Tidak sopan… Apa yang orang tuamu ajarkan padamu?" Tanyanya enteng, bukan… Mengejek orang tuaku.
"Brengsek!!" Aku maju, lalu bersiap menyerang anak buahnya yang tadi membekap mulutku.
BUAKK!!
Pukulanku kena telak. Dia terjatuh. Saat aku melihat sekelilingku, memang benar. Anak buahnya yang sial itu ada dimana-mana. Tapi mataku tertuju pada satu orang. Seseorang bertato dan berambut putih panjang yang berada dekat kasur Minato. Dia melepaskan infus Minato.
"Minato!!" Aku langsung berlari kearahnya. Yang menghalangiku, aku serang dengan kepalan tanganku. Saat aku sedikit lagi berhasil menyerang orang itu, aku merasakan sengatan listrik dari belakangku.
"Agh!!" Aku terjatuh, pandanganku samar-samar. Aku berusaha menoleh, lalu aku melihat Ryoji menyerangku dengan Stun Gun (A/N: Semoga bener… *PLAK*). Dia menyeringai.
"Haah… Makanya jangan gegabah…" Katanya sambil memanggil salah satu anak buahnya.
"Breng…sek…." Aku mengumpat sebelum aku kehilangan kesadaranku.
-Hikari's POV, 5 minutes before-
"Jadi, itu ciri-cirinya?" Tanya Shirogane-kun. Aku mengangguk. "Kenapa agak mirip dengan rekan kerja orang tuamu tadi?" Tanyanya heran.
"Aku juga tidak tahu… Kenapa mirip?" Aku menghela napasku lalu meminum the yang tadi kupesan.
"Hm… Akan kucoba mencari tahu lebih dalam lagi tentang hal ini… Mungkin aku juga akan bertanya pada Mochizuki-san…" Katanya. Tak berapa lama, aku merasakan firasat buruk. Bulu kudukku berdiri, aku merinding. "A-ada apa?" Tanya Shirogane-kun.
"F-firasat burukku kembali…" Aku memegang tanganku yang gemetar. Aku segera beranjak dari kursiku, lalu berlari menuju kamar nii-chan. Shirogane-kun mengikutiku.
-Naoto's POV-
Ketika aku melihat Hikari-san beranjak dari tempat duduknya dan berlari, aku langsung mengikutinya. Jarakku dengannya makin lama menjauh, tapi aku tetap mengejarnya. Saat aku berbelok, aku melihat dia mematung di depan kamar. Aku menghampirinya.
"Ada ap--…" Aku tak menyelesaikan pertanyaanku karena sudah jelas jawabannya.
Kosong…
Itulah kondisi kamar. Hanya ada sehelai jaket merah yang terjatuh dilantai kamar.
"N-nii-chan…" Hikari-san hanya menatap kamar itu. Entah apa yang dipikirkannya, dia masuk kedalam kamar, lalu melipat jaket merah itu lalu membawanya kearahku.
"Hikari-san??" Aku kaget. Dia tiba-tiba menangis dan memelukku. Aku mengerti mengapa ketika melihat sebuah Stun Gun tergeletak dikamar itu. Hanya satu pemikiran yang terlintas di pikiranku. Mereka berdua diculik.
"H-hikari? Kenapa? Ada apa?" Seorang perempuan berambut merah kecoklatan mendatangi kami. Hikari menoleh, dia melepaskan pelukannya dariku, lalu berlari kearah perempuan itu.
"M-minako nee-chan…" Bisiknya pelan.
"Ada apa? Kenapa menangis? Mana Shinjiro-kun dan Minato-kun?" Tanya perempuan bernama Minako itu. Tiba-tiba, Hikari-san terjatuh, dia pingsan.
"Hikari?!!" Kataku bersamaan dengan perempuan itu.
-Minato's POV-
Aku membuka mataku, dan mendapati diriku bukan dirumah sakit. "D-dimana ini?" Pikirku karena aku sedang tidak bisa berbicara. Aku agak menoleh, lalu melihat seseorang duduk di kursi dengan keadaan terikat. "S-siapa?" Tanyaku dalam hati.
"Hei… Sudah bangun?" Aku mengenal suara itu. Shinjiro? Kenapa dia disini? Terikat pula! "Kalau kau bingung, aku akanmengatakan padamu secara singkat…Kita diculik…" Kata Shinjiro. Aku membelalakkan mataku. Diculik?!
"Wah,wah… tampaknya kalian sudah sadar…" Aku medengar suara orang lain. Aku dapat melihatnya samar-samar. Bukankah itu Mochizuki Ryoji? Rekan kerja ayah dan ibu?
"Apa maumu, brengsek?" Kata Shinjiro. Tunggu, dia menyebutnya brengsek? Ada apa ini? Bukannya Shinjiro termasuk sopan pada orang yang dikenal? Kenapa dia menyebutnya brengsek?
"Hh… Tidak sopan sekali… Coba kau tidak melawan tadi di rumah sakit, atau mengikuti adikmu itu ke kantin… Kau takkan disini sekarang… Adikmu pintar juga… Tampaknya dia memang menghindariku…" Kata Ryoji oji-san.
"Heh, justru aku lebih bersyukur aku ada disini sekarang… Kalau aku keluar, mungkin aku akan membunuhmu..." Kata Shinjiro sambil menatap Ryoji oji-san dengan tajam.
"Hmm… mungkin juga itu yang akan kulakukan pada kalian berdua…" Dia mengeluarkan pisau lipatnya, lalu meletakkannya disamping leher Shinjiro. "Keluarga kalian akan habis. Kalau saja waktu itu Hikari atau Minato tidak melihat wajahku, mungkin kalian masih kubiarkan hidup." Dia menyeringai. Aku melihat setitik keringat mengalir dan terjatuh dari dagu Shinjiro.
"Heh… Kenapa harus takut pada sampah macam kau?" Ujar Shinjiro. Mendengar itu, Seringai itu berubah menjadi tertawa.
"Hahah… Boleh juga kau, Shinjiro… Padahal dalam keadaan terikat, dan aku dapat membunuhmu kapan saja… Tapi kau tetap bermulut besar!!" Dia menggoreskan pisaunya pada lengan Shinjiro.
"Agh!" Shinjiro mengerang pelan. Aku ingin memanggilnya, namun aku tak bisa bersuara.
"Hah! Sampai jumpa lagi…" Dia berjalan keluar. Aku menoleh kearah Shinjiro lagi, luka itu tidak dalam, namun darahnya tetap mengalir.
"Aku tak apa…" Ujar Shinjiro pelan. Tapi aku dapat melihat tatapan matanya yang masih tertuju pada pintu. Sorot mata penuh kemarahan dan kebencian. Tatapan yang seolah mengatakan 'Aku akan membunuhmu, aku janji…'
"Hikari… Semoga kau baik-baik saja…" Aku berharap dalam hati. Aku merasa tak berguna, seorang kakak yang bodoh. Seorang kakak yang hanya bisa mengelus kepala adiknya sambil tersenyum, seorang kakak yang tidak dapat melakukan apa-apa ketika dia tertangkap. Seorang kakak yang tak ada disisi adiknya saat dia membutuhkan. Seorang kakak yang…tak dapat melakukan apa-apa seperti bayi.
"Hei… Minato." Panggil Shinjiro. Aku menoleh. "Jangan khawatir, Hikari takkan tertangkap semudah itu, dan seseorang melindunginya sekarang, walau aku tak begitu mempercayainya." Ujar Shinjiro. Aku tersenyum.
~TO BE CONTINUED~
Pojok bacotan Author…
Author: Okeh, minna… Akhirnya saya meng apdet fic ini!! Iyeeeyy!!
All: Jangan lebay!!
Author: *pundung di pojok* Iya deh, iya…
All: *swt*
Author: Ah, saya ini gimana sih… Masa belom apa-apa udah konflik? Kayaknya genrenya ganti lagi deh… Eh, ganti, jangan? Ganti? Jangan…
Shinjiro: *nepok jidat* Dasar author sarap satu ini…
Author: *ngambil bunga, trus kelopaknya dicabutin satu-satu* Ganti? Jangan… Ganti? Jangan…
1 jam kemudian…
Author: Ganti? Jangan…
Minato: Woy, sarap!! Masih berapa lama?!
Author: bentar, masih banyak kelopaknya nih…
3 jam kemudian…
Author: Ah, capek… Nggak ganti deh…
Hikari: Akhirnya…
Author: Eh? Apa ganti aja yah?
Naoto: nggak punya pendirian lo!!!
Author: Bodo.. Eh, menurut readers gimana? Ganti jangan? Sampaikan lewat ripiu yak!
Sutradara sarap (bukan Author): Dan bagi yang punya pertanyaan buat para kru, silahkan sampaikan lewat ripiu.
Author: Eh, siapa lo ngenentuin sembarangan?!
SS (Sutradara Sarap): Gue? Sutradara!
Author: Sejak kapan lo bisa nentuin?!
SS: Sejak gue disini!!
Author: Ide lu boleh juga sih… okeh, bagi yang punya pertanyaan, silakan ditanyakan!! Dan jangan lupa ripiunya!!
All: TIDAAAKKK!!!!
