Hai semua, Carmilla lagi disini. Aku tau cerita yang kemaren itu jeleeeekkk banget. Atau terlalu maksa, tapi mohon dimaafkan, saya ini pemula. Eniwei, ini sudah chapter 2, awalnya saya mau buat cerita ini SUPER SEDIH, alias gak bakalan ada cara untuk Cielle inget lagi sama Sebby, tapi terlaluuuu kasihaaaaaannnn….. ;( jadi saya buat begini. Selamat menikmati !
DISCLAIMER:
Gue : Kak Yana, boleh gak kado ulang tahunku tahun ini hak cipta Kuroshitsuji? Supaya nanti aku buat Sebastian ama Ciel yaoi-an mulu….
Yana:……GAK
Gue: Kak Yana, Kak Yana, ada kalimat terakhir gak? *ambil bazooka, boom
Iye iye, Kuroshitsuji milik Yana Toboso (KAGAAAAAAA)
Summary:
"Cielle yang kukenal dulu adalah gadis yang tidak mau dimanjakan dan bukan tipe orang yang akan merendahkan diri, kemana gadis yang kukenal itu?!" ujar Sebastian penuh kemarahan, Demous, si wanita iblis ini hanya terkikik pelan, "Yah, asal kau bisa memicu lagi ingatannya, tak masalah…."
"Lord Michaelis! Saya mohon, jangan keluar di saat cuaca dingin begini! Lord Michaelis!" panggil salah satu pelayan di rumah itu, Fred Meraktis. "Biarkan saja Fred, mungkin ia ingin keluar, bernostalgia mungkin….." ujar si butler wanita, Evelyn Leckie. "Tapi, Evelyn—" Sebelum si pelayan selesai bicara, Evelyn mengacungkan pedang pendeknya "Apa yang baru saja saya bilang?" si pelayan speechless, dia berjalan mundur lalu berlari masuk ke dalam kandang kuda. "Dasar, merepotkan saja….ya kan, Merihim?" Kata Evelyn, seraya menatap Sebastian dengan matanya yang berwarna keemasan, Sebastian tidak menjawab "Oh ayolah….kau masih menghormati manusia?" Sebastian berhenti berjalan, berputar dan menatap si Evelyn "Demous, aku tidak menghormati manusia, kurasa kau sudah tahu itu" ujarnya dengan nada marah, si butler ini masih sempat-sempatnya tertawa "Oh ya? Bukannya kau masih menghormati 'gadis' itu?" pancing Demous, "Kau pasti masih menganggap dia sebagai nona muda-mu" Sebastian tidak menghiraukan lagi si butler yang aslinya berwujud setan wanita bertanduk empat dan bermahkota itu. "Diam saja kau, Evelyn Leckie" Sebastian mengalihkan perhatiannya dari Evelyn ke salju yang turun satu per satu ke tanah.
XXXXXXXXXXXX
"Salju ya, aku merindukannya" bisik Cielle, menatap keluar. "Rasanya baru kemarin, aku bermain-main di tengah salju yang dingin ini…" mata birunya melihat keluar dengan pandangan sayu. Sebastian memeluknya dari belakang, membelai kapalanya dengan lembut "Apakah anda pernah merasa kesepian?" tanyanya sopan, Cielle menggeleng pelan "Dulu, iya. Sekarang, aku tidak akan pernah kesepian lagi"
Tidak akan pernah…..
XXXXXXXXXXXX
"Permisi!" panggil seorang bocah yang sekarang sedang berlari ke arah Sebastian "Maukah….anda membeli boneka gagak ini?" dari nada bicaranya, kau tahu bahwa gadis itu kedinginan. Sebastian menoleh ke anak itu, terpana.
Warna mata yang tidak serasi….
Bibirnya yang anggun, berwarna merah muda….
Rambutnya bagaikan benang berwarna hitam kebiruan….
Sosok gadis yang Ia cari-cari selama ini ada di depan matanya. Cielle. Sebastian berjalan mendekati anak itu, berlutut agar bisa melihat wajahnya. "Halo" sapanya lembut, mengusap-usap wajah Cielle yang putih bagaikan kertas. "Siapa namamu?" gadis itu tersenyum kepadanya "Namaku Cielle, orang-orang di panti asuhan memanggilku begitu, katanya aku seperti malaikat dari surga" jawabnya bangga, Sebastian malah senyum-senyum sendiri ketika mendengar jawabannya ' Jadi seperti inikah nonaku sebelum bertemu denganku? Manis sekali….' "Mengapa kau membuat boneka gagak? Belum tentu ada yang mau membelinya lho…" Cielle menggeleng kuat-kuat, Sebastian memang sering dibuat terkejut dengan jawaban anak kecil ini "Burung gagak itu…agak menenangkan hatiku….makanya, aku membuat boneka ini terus menerus, meskipun ditertawain teman-temanku aku tak peduli. Burung gagak itu benar-benar baik menurutku." Sesuai dugaan, Sebastian terkejut mendengar jawaban tersebut.
XXXXXXXXXXXX
"Hah, dasar, burung gagak, imejmu itu tak pernah bisa berubah ya" ujar Cielle ketus, mendengus dan membalikkan badannya "Memangnya kenapa, nona muda?" tanya Sebastian memancing Cielle untuk marah. Tidak sesuai dengan yang ia harapkan "Heh, tidak juga sih, imejmu itu menenangkan hatiku…." Cielle tersenyum tulus, mencium Sebastian dengan lembut.
Caranya untuk peduli denganku sangat membuatku bahagia…..
XXXXXXXXXXXX
"Nah Cielle" ujar Sebastian seraya mengusap lembut pipinya, "Aku mau membeli semua boneka gagakmu" Cielle speechless, kaget dan bingung di saat yang bersamaan "Ta-tapi—" Sebelum dia selesai bicara, Sebastian mengambil keranjangnya yang berisi boneka gagak tersebut, memberikannya 500 poundsterling "Ta-tapi ! I-Ini terlalu banyak…." Sebastian menggeleng, meletakkan telunjuknya di ujung bibir Cielle "Tidak apa-apa, gadis cilik yang manis sepertimu pantas mendapatkannya" ujar Sebastian memakaikan scarf coklat kemerahannya di leher Cielle "Ambillah, kau pasti kedinginan kan?" Sekarang giliran Cielle dibuat speechless oleh Sebastian, Ia tertawa kecil melihat wajah Cielle 'Seandainya kau tahu aku siapa, pasti kau sudah menamparku, ya kan, nona muda?' "Semoga kita bisa bertemu lagi ya, Cielle-ku yang manis" kata Sebastian seraya mencium keningnya. Ia dan Evelyn berjalan menjauh. Cielle? Well, Ia masih bengong di situ.
~K U R O S H I T S U J I~
"Demous!" panggil Sebastian penuh amarah, si butler cewek itu malah sempat sempatnya menggigiti tikus yang lewat. "Hei! Dengarkan aku!" Cewek itu melihatnya kesal "Apa sih?" Sebastian menarik kerah bajunya, Demous tidak bereaksi sedikit pun "Kau….katanya dia akan tetap sama! Cielle yang kukenal dulu adalah gadis yang tidak mau dimanjakan dan bukan tipe orang yang akan merendahkan diri, kemana gadis yang kukenal itu?!" ujar Sebastian penuh kemarahan, Demous, si wanita iblis ini hanya terkikik pelan, "Yah, asal kau bisa memicu lagi ingatannya, tak masalah…." Dia meloncat ke belakang Sebastian "Hmph, maukah kau mengulang kembali malam itu? Malam dimana dia kehilangan segalanya…."
Sebastian membalikkan badannya terkejut, Ia tidak mau melakukan hal tersebut, tapi Ia ingin sekali bertemu dengan Cielle yang ingat tentang dirinya.
Tiada waktu untuk memilih…..
Sebastian pasrah, mengangguk lemah "Baiklah, akan kulakukan"
Demous tersenyum jahat, "Kalau begitu, akan kupanggilkan Lilith, kita akan mengacau malam ini" ujarnya seraya meloncat ke langit, hilang di angkasa bagaikan burung. Sebastian menengadah, memperhatikan butlernya yang menghilang dengan cepat itu. Ia melihat ke keranjang yang dipenuhi burung gagak itu, "Maafkan aku, tapi aku ingin bertemu denganmu lagi….Cielle, kesayanganku"
Oke, maksa? Tau gue
Gombal? Apalagi, gue tau banget itu
Geblek? Apalagi
Apalagi!!!! Gue ini tidak diberkati untul menulis cerita tau ga sih!!!
*nangis bagaikan anak sakaw (emg anak sakaw bisa nangis…)
Read.....and......Review...... If....Not....I'll......Kill.....You!!!
