Hello lagi….kemajuan banget ya fan fic ini gak gue tinggalin….haahhaha, gini deh kalo lagi rajin, apalagi libur satu minggu. Kali ini sebenarnya gue bingung mau nulis apeee….mana nulisnya endap2 lagi, REPOOOOT.

Disclaimer:

Kaloooooo aja Kuroshitsuji punya gue, gue udah tiap hari bikin Sebastian rape Ciel mulu. Tapi sayangnya Kuroshitsuji punya Yana Toboso. Yanaaaaaaaaaaa kenapa Kuroshitsuji gak dibuat yaoi aja sih?! Keren tauuukkkkk!!!

Summary:

"Kenapa…..padahal aku tidak mencuri uang itu….tuan itu memberikannya padaku…." Bisiknya perlahan, air mata mulai menetes dari matanya. "Untuk apa aku tinggal disini, di tempat orang tidak akan memberikan aku makanan….Mati saja kalian!!" ujarnya penuh amarah

Dan, itu pun terjadi……


"Cielle" panggilnya seraya tersenyum lembut, Cielle menoleh bingung. Jarang sekali Sebastian memanggilnya seperti itu. "Ada apa?" Sebastian menaruh sebuah nampan di meja Cielle, sebuah kue ulang tahun yang terlihat lezat sekali "Selamat ulang tahun ya, Cielle" Gadis itu melongo, speechless. Bahkan dia saja tidak ingat dengan ulang tahunnya. "Te-terimakasih…." Ujarnya terbata-bata, terharu. Sebastiantidak menjawab melainkan hanya menciumnya lembut, "Apakah itu termasuk hadiahnya?" tanya Cielle, Sebastian mengangguk "tentu saja, Cielle-ku yang manis"

Senyumannya yang jarang untuk dilihat, caranya tertawa yang manis, sungguh menghentikan waktu……

She Lost Everything

"Lilith…Lilith!" panggil Demous, berulang-ulang tapi si iblis ini tetap saja tertidur. "Lilith! Budeg ya?!" teriaknya tepat di kuping Lilith, si wanita iblis ini terbangun, cemberut "Apaan sih? Kupinku pengang deh jadinya…." Protesnya dongkol, Demous tersenyum licik "Aku ada berita baik lho…" desisnya menggoda, Lilith menatapnya bingung "Aku dan Merihim akan mengacau hari ini…..mau ikutan?" Lilith langsung mengangguk "Sudah lama aku tidak makan….bolehlah…."

~K U R O S H I T S U J I~

"Hmph, Cielle, pulang juga kau." Baru saja Madame Rose mau menghinanya, Ia melihat Cielle mengenggam uang yang banyak. "Ikut aku" Tidak pakai basa-basi Madame Rose langsung menyeret Cielle ke ruangannya yang penuh barang glamourus itu. "Kau mencurinya ya?!" tanyanya marah, menampar Cielle "Ti-tidak..a-aku—" belum sempat membela diri, Madame Rose sudah melayangkan tamparan lain ke pipi Cielle "Jadi anak jangan nakal! Berapa kali kubilang jangan mencuri hah?!" lagi-lagi Madame Rose menamparnya, pengurus asuhan yang satu itu memang ringan tangan. "Kau tidak akan mendapatkan makan malam!" Madame Rose menyeretnya ke kamar Cielle, menguncinya dari luar. Kuncinya sih, dibiarkan di pintu.

"Kenapa…..padahal aku tidak mencuri uang itu….tuan itu memberikannya padaku…." Bisiknya perlahan, air mata mulai menetes dari matanya. "Untuk apa aku tinggal disini, di tempat orang tidak akan memberikan aku makanan….Mati saja kalian!!" ujarnya penuh amarah

Dan, itu pun terjadi……

~K U R O S H I T S U J I~

Tidak ada yang mendengar langkah kakinya, tidak ada yang melihat bayangannya sedikit pun. Para iblis itu berloncatan dari atap ke atap lain. Hingga sampai ke tujuan mereka, panti asuhan tempat Cielle tinggal. "Disini, Merihim" bisik Lilith pelan, mereka pun masuk ke dalam melalui jendela yang terbuka lebar. "H-hei! Darimana kalian masuk!? Pencuri ya?!" Teriak Madame Rose, mengambil sebuah tatakan lilin "Dasar, tidak ada yang bisa dicuri disini!!" Ujarnya seraya melempar tatakan lilin tersebut yang diarahkan ke Sebastian, Ia berhasil menghindar. "Maaf ya, Madame" ujarnya mendekati Madame Rose "Saya disini, hanya untuk mengambil kembali majikan kecil saya" desisnya dengan nada jahat, Madame Rose pun sukses dibunuh olehnya. Lilith dan Demous sibuk menghisapi jiwa anak-anak kecil. Mereka tidak tahu bahwa ada seorang anak cewek yang mengawasi mereka, bukan, bukan Cielle. Ann. Dia berteriak, berlari ke kamar Cielle.

"Cielle! Cielle! Banguun!" jeritnya ketakutan, Cielle terbangun, terkantuk-kantuk tentunya "A-Ann? Ada apa?" Cielle terkejut melihat gadis yang lebih muda dua tahun darinya menangis. "Ke-Kenapa sih?" Cielle berjalan keluar, tepat disaat itu, Ia melihat Lilith yang hendak menghisap jiwanya. "JANGAN! LILITH!! GADIS ITU MILIK MERIHIM!" teriak Demous marah, Lilith membeku di tempat, memutar badannya "Gadis cilik, tenang-tenang saja disitu" katanya dengan nada jahat, "Merihim, nih, incaranmu" ujar Lilith, mengangkat Cielle dengan mudahnya, memberikannya ke Sebastian. Cielle meronta-ronta di pelukan Sebastian "Hei! Lepaskan aku!" Sebastian tidak menghiraukannya, melihat masuk kedalam kamar Cielle. Ann masih membeku di ujung kamar Cielle. Menangis ketakutan

"Ann!!! Jangan! Jangan kesini!!" teriak Cielle, berusaha turun dari pelukan Sebastian. "Kak Cielle….siapa orang itu?" tanyanya takut, Cielle menoleh ke orang yang menggendongnya, terpana. "Tu-Tuan? Kenapa kesini?" suaranya berubah lembut, kaget dan takut disaat yang sama "Sebentar lagi kau akan mengetahuinya….Young Mistress" Cielle terkejut dengan panggilan tersebut. Ketika ia baru akan bertanya, Ann sudah mati ditusuk pisau oleh Demous. Cielle terbelalak, Ia menjerit ketakutan "Ann! Ann! Tidak! Dia…Dia tidak boleh mati!! Ann!!!" Cielle menutup matanya, menangis ketakutan "Tolong! Siapapun…Ayah…Ibu…Tuhan…siapa saja…." Tepat disaat itu, sedikit demi sedikit dirinya kembali. "Tuhan….kenapa Dia tidak membantuku…Tuhan itu tidak ada!!" jeritnya. Demous dan Lilith tersenyum licik melihatnya "Benar –benar seorang lady yang pintar majikanmu ini, Merihim"

~K U R O S H I T S U J I~

Keesokan harinya….

"…"

"….."

"….Ya, tujuh hari, dia akan teringat denganmu lagi setelah tujuh hari, tepat jam tujuh malam, lewat tujuh menit dan tujuh detik. Segalanya angka keberuntungan. Ia akan diberkati dengan keberuntungan" ujar Demous

"Terima kasih untuk bantuannya Demous" ujar Sebastian, mengusap rambut Cielle. "Tidak apa-apa, aku dan Lilith juga berterima kasih, karena bisa menuntaskan kelaparan, hihi"ujarnya seraya tertawa jahat. "Nah, sekarang aku harus bertugas lagi. Selamat tinggal Merihim, kita tidak akan bertemu lagi….mungkin" ujarnya seraya terbang ke langit dan menghilang.

~K U R O S H I T S U J I~

"Selamat pagi, Bagaimana perasaanmu?" tanya Sebastian, mengecup pipinya lembut. "Eh? Ah baik-baik saja...." Dia mengambil teh yang sudah disiapkan Sebastian, meminumnya perlahan. Tiba-tiba saja ia teringat dengan kejadian semalam. Kulitnya pucat, seputih kertas. "T-tuan…semalam itu kenapa?" tanyanya takut, Sebastian tidak menjawab, melainkan menyodorkan koran hari ini.

PANTI ASUHAN TERBAKAR! TIDAK ADA YANG SELAMAT

"A-apa ini?!" matanya menunjukann rasa ketakutan. "A-aku kan….Ann! Ann!" desisnya ketakutan. Ia meringis pelan. "Ssh…tenanglah…" Sebastian memeluknya, sesekali mengusap lembut kepalanya."Tidak ada yang perlu kau khawatirkan sekarang…." Cielle melihat sekeliling, sedikit demi sedikit dia mulai ingat dengan ruangan ini. Tapi masih belum tahu jati dirinya. Ia tau dulu sekali ia pernah tidur di ruangan ini….tapi kapan? Dan mengapa? Ini bukan rumahnya kan?

"Sudah lebih baik?" tanya Sebastian, Cielle mengangguk lemah "Ann…meninggal ya?" Sebastian mengangguk, "Kalau mau, kita bisa mengunjungi tempat itu" Cielle terkejut, sering sekali ia dibuat speechless oleh lelaki ini. "Su-Sungguh? Kalau begitu aku mau!" Sebastian tersenyum, matanya yang merah kecoklatan bertemu mata Cielle yang sama sekali tidak serasi. "Mau? Tapi kau kemungkinan besar akan ketakutan….secara akan ada banyak mayat bergelimpangan…" Cielle menggeleng kuat –kuat "Tidak mau! Aku ingin ke tempat itu! Sekarang juga!" keras kepalanya mulai kembali, Sebastian menghela napas, menggendongnya. "Pegang yang kuat, kalau tidak mau jatuh" Cielle memasang muka bingung, meskipun begitu dia nurut-nurut saja. Setelah mencengkram coat Sebastian, barulah dia tahu kenapa dia disuruh pegang yang kuat,

Soalnya Sebastian meloncat dari atap ke atap lain

Cielle no comment selama perjalanan. Sebenarnya sih, dia mau teriak tapi takut.

~K U R O S H I T S U J I~

"Bagaimana?" tanya Sebastian iseng, Cielle ngos-ngosan. Rupanya dia benar –benar takut. "T-Tidak kusangka kau bisa melakukan itu…." Ujar Cielle terbata-bata, masih shock. Ketika ia mendongak, inilah yang membuatnya benar –benar takut. Panti asuhan itu terbakar tidak ada sisa, semuanya rata dengan tanah. Cielle jalan mendekat, diikuti oleh Sebastian. Dia melihat ke bawah, sebuah kalung dengan mata kalung berbentuk salju. "Kalungku" bisiknya. matanya berkaca-kaca, dia memeluk kalung itu, setengah menangis. "Aku….harus…melupakan ini!!" jeritnya sedih, melempar jauh kalung itu. Sebastian jadi teringat saat Cielle berusaha membuang cincin keluarga Phantomhive

XXXXXXXXXXXX

"Ci-Cielle! Apa yang kau lakukan?!" ujar Christopher, tunangan nona muda. "I-itu kan cincin keluarga Phantomhive! Kenapa kau buang?!" Cielle hanya tertawa licik, menatapnya dengan matanya yang berwarna biru tua. "Kenapa? Tanpa barang itupun…..akulah kepala keluarga Phantomhive. Cielle Phantomhive"

"Anda hanya berpura-pura tegar di depan Tuan Christopher" ujar Sebastian dengan suara pelan, memegang tangan dimana majikannya biasa memakai cincin itu. Ia meluncurkan tangannya yang bersarung tangan putih, memunculkan cincin dengan batu biru. "K-kau!" Sebastian tersenyum, meletakkan telunjuknya di bibir Cielle "Apa jadinya kalau butler keluarga Phantomhive tidak bisa melakukan hal ini?" Cielle speechless, dongkol. "Sebastian" panggilnya lemah "Tetaplah disisiku sampai aku tertidur" bisiknya hampir tidak terdengar. "Tentu saja, saya akan terus ada di sisi nona sampai kapan pun" ujarnya seraya mencium lembut pipi Cielle.

Ke ujung neraka sekali pun, saya akan terus ada di sisi nona….

XXXXXXXXXXXX

"Berapa kali aku bertanya ke kalung ini….berapa kali kalung ini menyaksikan kematian pemilik sebelumnya….Kakek dan nenekku …..Ayah dan Ibuku….lalu, …Ingin sekali aku memakainya, tapi pasti kalung itu akan ada saat aku mati nanti. Lebih baik kalung itu tidak pernah ada lagi…." Ujarnya ketakutan, Sebastian mendekat, mengambil tangannya. Kembali terulang, kalung itu muncul di tangan Cielle. Déja vu, Cielle tahu betul bahwa sesuatu yang seperti ini pernah terjadi. Dulu sekali tapi kapan? Kenapa dia tak mampu mengingat apapun? "T-Tuan! Ba-Bagaimana ini....." Sebastian tersenyum lici,, senyuman yang sama pernah dilihat oleh Cielle "Apa jadinya kalau saya tidak bisa melakukan hal inii?"

"Apa jadinya kalau seorang butler keluarga Phantomhive tidak bisa melakukan hal ini?"

Cielle membelalakkan matanya, kaget. Dimana dia pernah mendengar kalimat itu....

To Be Continued ~


Gue rasa ini lebih bagus dari yang dulu dulu. Please R n R (comment klo yg baca di FB)