Wah, ga nyangka chapter 1 kemaren dapet 9 review. Oke, readers, ini lanjutannya. Siapa bilang crita Zorobin cuma ada di Jaya-Skypea Arc? Di Enies Lobby juga ada kok. Cek di sini!
MelZzz: Wah, aq ga jadi bikin One Shot yg Enies Lobby. Aku pindah ke sini az.
"Mmm... Ma-Maukah kau menikah denganku?" kata Zoro terbata-bata.
"Apa? Aku tidak dengar?"
"Me-menikahlah denganku..."
"Kurang keras. Kau ini lelaki kan?"
Zoro sudah kehilangan kesabaran.
"MENIKAHLAH DENGANKU!"
Luffy tiba-tiba membuka pintu kabin dan melihat pemandangan ganjil. Zoro sedang menekuk lututnya dan menggenggam tangan....Sanji?
"Oh, pantas selama ini kau rasa-rasanya tak pernah tertarik pada wanita, Zoro," kata Luffy, "Nanti kuhubungi Ivankov untuk mengubah salah satu dari kalian menjadi wanita. Bagaimana?"
"INI BUKAN SEPERTI ITU!" kedua lelaki itu pun membentak Luffy.
"Lho?"
"Bukankah sudah kukatakan semalam kalau aku akan mengajari si Marimo bodoh ini untuk melamar Robin? Otakmu di mana sih?"
Luffy pun menggaruk-garuk kepalanya. "Ah, iya. Lupa, shishishi. Yosh, pokoknya aku akan mendukungmu, Zoro, dengan siapa pun yang kau inginkan."
"Dengan Robin tahu!" Sanji menendang Luffy keluar. "Aku tak sudi dipasangkan dengan pria, dikejar pria, dan dilamar pria. Aku juga tak mau bertemu dengan Ratu Waria itu lagi! Kutegaskan, ini bukan fic YAOI dan aku adalah pria paling heteroseksual dalam manga ini!"
"Huh!" tukas Zoro. "Kalau begitu kenapa pula aku harus latihan denganmu? Ini kan idemu sendiri."
"Aku ingin membantumu," jawab Sanji.
"Aku ga minta dan aku ga sudi dibantu olehmu."
"Kau sebut dirimu lelaki padahal kau ga jantan soal ini. Mau melamar dengan pakaian kumal? Tanpa cincin? Dengan kalimat dingin? Tanpa persiapan? Kau ingin ditertawakan hah?"
"Aku bukan pria romantis sepertimu! Jangan paksa aku melakukan ini!"
"Kau tak mengerti perasaan wanita. Robin-chan harus diperlakukan seperti itu atau aku tak akan memaafkanmu yang merusak moment indah setiap wanita."
"Kalau kau memang sedemikian peduli padanya, kenapa tidak kau saja yang melamarnya hah?"
Sanji tersentak. "Sadarkah apa yang kau ucapkan barusan?"
"Aku tak menarik kata-kataku."
"Tak kusangka Roronoa Zoro ternyata seorang pengecut."
Telinga Zoro memanas mendengar kata itu. "Aku pengecut katamu?"
"Di depan musuh kau percaya diri tapi mengatakan perasaanmu di depan wanita kau tak berani."
"Bukannya kau yang tak bisa berkutik di depan wanita?"
"Aku memang tak bisa menyakiti baik fisik maupun perasaan mereka. Tapi aku tak mau membohongi perasaanku sendiri."
"Kau memang tak pernah menyembunyikannya. Aku setiap hari melihatmu menari-nari agresif, gaje, dan lebay untuk mendekati Nami. Semua orang tahu itu!"
"Apa saat aku melamarnya, aku juga bersikap seperti orang bodoh yang biasanya?"
"Kau kira aku lupa melihatmu pingsan setelah Nami mengecupmu? Memalukan."
"Aku yakin kau bahkan lebih gemetar jika kau berada di posisiku. Setidaknya aku sudah mengutarakannya dengan sungguh-sungguh dan itu jawaban Nami. Aku bangga pada diriku!"
Begitulah, pagi-pagi kedua sahabat (?) itu sudah mulai bertengkar seperti biasa.
"BERHENTI BERTENGKAR!" Tangan Nami menghentikan mereka. Kedua cowok itu pun terkapar. Ia masuk bersama Ussop.
"Suara kalian keras sekali tahu?" kata Ussop.
"Eh? Apa Robin-chan mendengarnya?" tanya Sanji bangun.
"Untungnya tidak. Ia sedang bercengkerama dengan Hancock di pantai," jawab Nami.
"Ini gara-gara si Marimo bodoh..."
"Sudah kubilang aku tidak bisa dipaksa harus begini," Zoro membela diri.
"Memangnya apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin melamarnya dengan cara apa?" tanya Nami.
"Kalian tak perlu tahu. Itu sesuatu yang sangat pribadi."
"Oh, ga bisa," sambung Ussop mengacungkan telunjuk dan mengibaskannya. "Karena kamu sudah ga bisa menyembunyikannya dari kami lagi."
"Di hadapan kami, kau sudah bukan orang yang sok dingin lagi," kata Nami. "Sadarkah kalau sikapmu yang seperti itu menyebalkan? Makanya..."
"...Orang seperti kamu pantas dikerjai," desah Sanji.
Fufufu. Mereka mulai meledeknya lagi.
Semalam, Sanji dan Nami sudah menyusun rencana lalu mengutarakannya pada semua. Tentu saja kecuali kepada Robin. Mereka berusaha sehati-hati mungkin untuk tidak menimbulkan kecurigaan karena bisa-bisa Robin menumbuhkan telinganya di salah satu punggung mereka untuk mencuri dengar. Mereka pun membagi tugas. Franky dan Brook akan ke kota untuk memilih dan membeli jas dan celana yang bagus untuk Zoro. Ussop sendiri dengan ide kreatifnya mencetuskan bahwa ia akan membuat efek lightning yang akan disorotkan ke tengah dek tempat panggung utama Zoro akan melamar Robin. Chopper dan Luffy akan menyiapkan meja dan kursi dan berperan sebagai waiter. Nami dan Hancock harus mengajak Robin pergi ke kota selama para cowok mendekorasi kapal mereka untuk kejutan itu. Zoro sempat protes karena itu bukan style-nya tapi semua tidak mau dengar. Sanji pun terpaksa harus melatih Zoro menjadi seorang "pria sejati": mengajarkannya gesture melamar wanita dengan benar, menemaninya memilihkan cincin yang bagus, dan mendandaninya dengan pakaian elegan serta parfum.
"Kau mau kalah dari Luffy, Zoro?" kata Nami lagi. "Kata Hancock, Luffy memeluknya saat melamarnya," .
"Yang benar?" tanya Sanji. "Aku sendiri tak bisa sepede itu." Kalau aku tiba-tiba memeluk Nami dari belakang pasti sudah dijotos dulu dikira mesum sebelum sempat bilang, pikirnya.
"Cowok kayak Luffy bisa begitu? Apa kata dunia?" kata Ussop geleng-geleng.
Luffy memeluk dan melamar Hancock? Hahaha, pembaca pasti tahu maksudnya yang Hancock salah mengerti pelukan Luffy di Marine Ford. Lalu, saat Hancock menanyakannya pada Luffy kapan mereka bisa segera menikah, Luffy yang lugu menurut saja. Saat itu Luffy malah merasa bersalah jika benar sudah lupa hal sepenting itu dan menganggapnya menikahi Hancock karena ia bermaksud menepati janji pernah melamarnya. Tentu saja saat Hancock menceritakannya pada Nami dan Robin, ceritanya sudah dilebih-lebihkan.
"Pokoknya aku harus melamar Kaya dengan romantis! Aku tak mau kalah," tiba-tiba Ussop bersemangat. "Aku sudah ada ide sendiri. Kita harus merapat dan berlabuh ke Desa Syrup tengah malam tanpa diketahui penduduk desa. Lalu aku akan mengetuk jendela kamar Kaya seperti biasa. Kalian akan membantuku menjaga ketenangan lalu kalian bla bla bla"
Nami menjitak Ussop. "Itu urusan nanti, sekarang kita bantu Zoro dulu."
"Kau sebut dirimu pendekar terkuat?" ledek Sanji lagi. "Kau bahkan kalah dari Ussop."
"Pendekar terkuat dan pria pemberani itu beda, Sanji," ralat Ussop.
Zoro tak tahan mendengar semua ledekan itu. "Oke Oke, aku akan mengikuti rencana kalian. Puas?"
"Huh," kata Sanji. "Sekarang aku ingat kalau kamu diam-diam perhatian pada Robin dan cemburu padaku."
"Oh ya?" tanya Nami dan Ussop.
Sanji pun bercerita, contohnya:
Trhiller Bark. Sosok tak terlihat itu membuat kegaduhan di dek Sunny. Zoro nyaris memotong Sanji. Lubang palka terbuka sendiri. Dan, ia menempel-nempel pada Robin. Saat Sanji mendekati Robin dan mengelusnya lalu Zoro mengalihkan perhatian Sanji.
"Oi, Mister HUEK. Katanya mau menolong Nami?"
"Siapa yang kau sebut Mister HUEK?"
Strong World. Nami berhasil diselamatkan Luffy dari tangan Shiki. Sanji tentu saja bisa bernapas lega dan bisa istirahat. Ia tidak tidur berhari-hari karena mencemaskan Nami. Tapi belum lama ia tertidur, ia pun bangun.
"GAWAT! ROBIN-CHAN MASIH HILANG!"
"Bisa ga kamu tutup mulut dan tidur saja?" Zoro pun memukul tidur Sanji.
Mendengar cerita itu, Nami menjewer kuping Sanji. Seperti saat dulu ia cemburu pada Conis.
"AWWWW..," jerit Sanji. "Itu kan masa lalu, Nami-san."
Nami lalu melepaskan Sanji. Meski dulu ia hampir tak pernah peduli, ternyata mendengar bahwa kekasihmu dulu banyak merayu wanita tetap membuat hati sakit.
Ussop jadi ikut mengingat ulah Sanji soal cewek yg juga melibatkannya itu di Skypea, Thriller Bark, dan Strong World.
Sanji meledek Zoro lagi. "Sialan kau, Marimo. Selalu aku yang kena padahal di lubuk hatimu kau jauh lebih mengkhawatirkannya tapi tak mau menunjukkannya di depan orang lain. Bahkan tukang nyasar dan bodoh sepertimu bisa jauh lebih depan dariku saat di Enies Lobby padahal aku yang paling ingin.... AWWW"
Nami menjewer telinga Sanji kembali. "Kamu ingin memeluk dia kan?"
"Aaaa, kau kan waktu itu sudah menerjangku bersama Chopper, Nami-san."
"Aku sengaja!" jawab Nami.
"Kalau bukan gara-gara Nami yang sudah menghalangimu, aku juga pasti akan menghantamkanmu," sambung Zoro.
"Eh?" ketiga orang itu bengong tiba-tiba Zoro mengakuinya.
Di Enies Lobby setelah Robin selamat dan semua bergantian mendekatinya, sebenarnya Zoro cukup kalut dan tak punya muka untuk menatap Robin. Bayangkan saja, kau selama ini berkata tak pernah mempercayainya tapi ternyata ini kenyataannya. Kau hanya bisa melihatnya pergi keluar jendela kamar Iceburg dan belum berdaya melawan CP9. Kau terhimpit cerobong asap saat ia dibawa pergi naik kereta. Apa yang bisa kau lakukan untuk menebus kesalahanmu? Entah mengapa saat ia melihat Rocket Man yang berbentuk ikan hiu, hal itu seperti menggambarkan perasaannya. Kereta kecil itu rasanya akan mampu mengoyak lautan layaknya hiu sebagaimana ia sanggup membelah ombak dengan tebasan katana-nya. Entah mengapa ia kebetulan bertemu lawan dengan Zoan Jerapah yang bisa-bisanya berkata bahwa kau tak akan bisa menyelamatkannya, kalimat yang lebih pantas dilontarkan untuk Sanji yang ingin menjadi ksatria bagi wanita mana pun. Entah mengapa, mungkin juga karena Kaku lah yang menggenggam kunci aslinya. Zoro merasa semua kebetulan itu mungkin karena didorong perasaannya. Perasaan? Cih, pikir Zoro. Biasanya ia lebih mengedepankan logika. Dan, Zoro sadar semua logikanya dalam menilai Robin telah salah sejak awal ia menolaknya bergabung. Apa ini sudah bisa menujukkan bahwa aku sudah melupakan semua perbuatanmu dulu, Robin? Yang jelas, tak perlu kata-kata, hanya tindakan. Zoro yakin Robin pasti tahu dengan mudah mengapa ia ikut berdiri di sini bersama semuanya. Ini jawabanku, batin Zoro saat itu. Dan mereka pun hanya bertukar senyum. Ikatan kita mungkin seperti itu.
"Kau benar, Sanji," lanjut Zoro.
Sanji merasa salah dengar. Marimo memanggil dengan namaku? Terakhir dia masih sopan begitu di Little Garden.
"Kau ingat saat kau berkata bahwa pada Chopper bahwa adalah tugas kita sebagai lelaki untuk bisa memaafkan kebohongan wanita? Entah mengapa aku menjadi merasa sentimentil sepertimu."
"Zoro..," Sanji membalas dengan memanggil namanya juga.
"Kalimat itu serasa menamparku. Saat kau mengatakan hal itu, di saat yang sama aku justru meminta Luffy dan Nami memutuskan dengan tegas untuk memilih apakah Robin itu kawan atau lawan. Namun saat aku menatap Robin malam itu di kamar Pak Walikota, aku merasakan kebohongan matanya. Aku merasa ia hanya bisa menyembunyikan pikirannya padaku lewat senyum misteriusnya yang biasanya. Entahlah, apakah ini hanya terdorong pola pikiran Luffy yang selalu tak ingin ada nakama-nya terengut pergi darinya dan seperti biasa aku tergantung perintahnya? Ini bukan seperti saat Ussop sudah merasa tak sejalan dengan kita yang dianggapnya membuang Merry, setidaknya ia mau jujur menumpahkan semua isi hatinya. Tapi, siapa yang tahu isi hati Robin?"
"Itu sense lelaki, Zoro," kata Sanji. Di dalam hatinya, ia berteriak kencang bisa mengajarkan Zoro dalam hal ini. "Aku juga melihatnya seperti itu."
"Kau baru melihatnya di seberang kanal. Aku sudah lama melihatnya sejak ia pertama kali bergabung, kau tahu?"
"Ya ya, aku tahu kau terus mewaspadai dan memperhatikannya," Sanji mengakui. Ia sudah takluk di depan karena pesona Robin.
"Saat Chopper mengatakan bahwa Robin mengorbankan dirinya untuk keselamatan kita, aku merasa tak perlu mendengar penjelasan itu. Aku sudah tahu bahwa ia berbohong sementara kalian lebih membutuhkan alasan seperti Ussop apakah kita perlu melepas nakama lagi. Namun, kalimat itu tetaplah melecutku. Lantas, bagaimana aku bisa membiarkanmu mengambil jalan terdepan saat itu? Aku tidak rela, Sanji."
Sanji tersenyum. Bertambah satu langkah lagi mengalahkan Marimo, batinnya.
"Rasanya baru sekarang aku bisa mengatakan ini. Kau tahu kenapa aku bisa mengakui kekalahanku di depanmu?"
Hati Sanji semakin senang mendengarnya.
"Karena setelah itu aku yang mengambil alih! Kau pikir aku tak tahu apa yang ada di hatimu saat ini hah? Kau merasa terdepan? Yang benar saja? Kau gagal menolongnya di Puffling Tom. Di Enies Lobby, kau tersesat di menara dan aku yang lebih dulu mencapai atap. Kau hampir membuang waktu dengan bermain-main dengan agen wanita itu. Kau bahkan mengambil kunci yang salah. Siapa yang jadi ksatria waktu itu? Kau heh? Kau kalah!"
"Apa? Aku tadi bahkan sudah mengakui kekalahan itu (sebelum dijewer Nami) tapi kau malah memancingku lagi."
"Perasaan cintamu kepadanya memang tak pernah tulus tak seperti jika Nami yang ada di posisi Robin, itu yang membuatmu kalah. Sekarang kau tahu bagaimana muaknya aku melihat segala tingkahmu mendekatinya?"
"Kamu sendiri terlalu jaim saat itu dan bilang omongan terima kasih Robin ga guna!"
"Kamu sendiri marah-marah klo Nami ga minta kmu nyetir Merry! Kenapa sih kamu ga lebih perhatian ke dia az?"
"Lagipula saat itu, memangnya Robin-chan siapamu?"
"Robin-chwaan. Robin-chwaan. Hentikan panggilan itu."
"Kamu sendiri Lelaki Pengecut!"
"Kamunya yang Koki Genit!"
"Kau Pendekar Pedang Payah!"
"Kau Kaki Hitam Mesum!"
"Kepala Lumut Brengsek!"
"Alis Pelintir Pecundang!"
Mulai lagi deh. Dasar ego lelaki, pikir Nami dan Ussop sweatdropped. Tiba-tiba Luffy muncul di belakang mereka.
"Shishishishi, seperti biasa kalian mesra ya?"
"TUTUP MULUTMU!"
--xx--
Seperti kata Nami, Hancock dan Robin sedang berjalan di pantai dan memandang laut.
"Pernahkah dalam hatimu kau ingin berenang di laut atau bermain-main air di pantai bersama pasangan?" tanya Hancock.
"Sepertinya romantis," jawab Robin.
"Aku dan Luffy tak bisa. Aku iri jika melihat pasangan lain melakukannya. Padahal kami hidup di lautan."
Robin tersenyum melihat ekspresi Hancock yang sebaya dengannya tapi seperti gadis kecil yang salah satu keinginannya tidak terpenuhi. Itu pasti karena kemarin Sanji dan Nami berenang berdua di pantai. Robin sudah lama tahu bahwa Sanji sejatinya adalah pria paling romantis yang ia kenal, hanya saja kadang hal itu tertutup oleh kekonyolannya sendiri. Dan memang, setelah lamaran itu, mereka terlihat lebih mesra meski Nami masih malu menunjukkannya terang-terangan dan memilih bersikap biasa dengan sesekali memukul Sanji yang ingin dekat-dekat. Wajar jika Hancock sedikit cemburu karena Luffy tidak bisa seperti itu dan harus dirinya yang agresif.
"Berarti aku tak boleh mencari pasangan yang tak memiliki kekuatan buah setan agar kau tak semakin iri?" tanya Robin.
"Bukan. Aku justru ingin kau mencari pria yang bisa mengajakmu berenang. Tangannya harus kuat untuk menahanmu agar tak tenggelam."
Robin merasa sepertinya pembicaraan ini seolah telah diarahkan. Mendengar kalimat Hancock, Zoro langsung terlintas di benaknya. Ia ingat saat tiba di Skypea, mereka turun paling akhir untuk menuju pantai awan itu. Ia sempat ragu-ragu saat menjejakkan kakinya karena itu tetaplah laut meskipun bukan air. Ia tahu kekuatannya tak akan hilang, tapi sejak kecil ia sudah menelan buah Hana Hana dan ia tahu ia belum sempat belajar berenang. Itu tidak seperti pantai yang warna daratannya kelihatan jika dangkal. Di Skypea, baik laut maupun pulaunya tetap berwarna putih.
"Oi, Wanita. Kenapa tidak jadi turun?" seru Zoro saat itu menoleh. Ia sudah menjejakkan kaki di lautan awan.
"Tidak apa-apa," Robin sejenak ragu-ragu padahal ia melihat kaki Zoro hanya terbenam sampai pahanya.
Zoro tampak berpikir. Kemudian ia berkata, "Sudahlah, aku akan jalan di belakangmu."
Seperti biasa Zoro berbicara sinis. Entahlah, mungkin itu agar membuatnya lekas turun dari kapal tanpa perlu berpikiran macam-macam. Pernah suatu hari mereka berlabuh di suatu pulau, ia dan Nami ditemani Tuan Koki sedang bersantai di pantai. Saat tiba-tiba muncul dinosaurus dari hutan dan mereka harus segera lari ke kapal, Sanji memilih membopongnya untuk melewati air laut apalagi karena Nami sudah langsung terbirit-birit *liat Opening Clip ke-10*. Robin lantas membayangkan apa yang terjadi andai Zoro-lah yang mengulurkan tangannya, mengajaknya berenang atau membopongnya, dan berkata padanya bahwa ia harus percaya.
"Terima kasih, aku akan mengikuti saranmu," kata Robin kemudian.
Hancock lalu menggenggam tangan Robin. "Harus lho. Janji."
"Haha, iya." Robin yakin Hancock tak tahu apa-apa soal dirinya. Mungkin hanya kebetulan saja ia mengatakan itu. Tapi, kenapa dia barusan tampak antusias seolah lebih peduli dengan orang lain ya?
"Nanti malam, kau mau menemaniku jalan-jalan? Kau pasti belum puas berkeliling Kerajaan Goa."
"Tidak bersama Senchou?"
"Ti-ti-tidak."
Robin mulai menangkap keanehan.
"Nanti kita jalan-jalan saja bertiga," lanjut Hancock.
"Bertiga dengan Senchou kan?"
"Bukan. Dengan si Kucing Pencuri."
Ini pasti bukan karena aku dan Nami yang ingin dekat dengannya kan, pikir Robin. Butuh waktu mereka berdua terbiasa dengan keangkuhan Hancock dan sudah lama mereka tidak ambil pusing lagi soal itu. Lalu, kenapa tiba-tiba dia mengajak jalan bertiga ya?
"Kita belum pernah melakukannya kan? Maaf aku egois terus bersama Luffy padahal kita harusnya bisa menjalin persahabatan yang lebih erat antara sesama wanita. Apalagi, sebentar lagi kita semua akan berpisah bukan?" lanjut Hancock.
Ternyata dia bisa berpikiran dewasa juga ya, pikir Robin sedikit geli.
--xx--
Malam pun tiba. Sepanjang siang, Nami dan Hancock sibuk menghalau pandangan Robin yang memang sangat awas dalam melihat gerak-gerik yang tidak biasa. Ia heran melihat Zoro dan Sanji pergi bersama ke kota padahal nyaris mustahil dua orang itu mau berjalan bersama. Ia heran juga melihat Luffy, Ussop, dan Chopper tampak lebih serius dari biasanya dan tidak bermain di dek. Ia heran mengapa hari itu sepertinya Hancock sedang tak lengket dengan Luffy padahal biasanya hampir ga terpisahkan. Ia heran Franky dan Brook tampak pulang dengan membawa tas belanja pakaian. Bahkan malam ini, sepertinya semua tampak lebih sibuk.
"Kalian sedang mengerjakan apa?" tanya Robin pada Luffy. Sengaja mendekatinya karena tahu Luffy adalah orang paling jujur sekapal.
"Ooh, ini kami sedang...." jawab Luffy.
"Robin-chan," potong Sanji dengan cepat langsung mengahampirinya. "Seperti biasa, wanita tak perlu ikut beres-beres kapal."
"Kalian tak seperti sedang membersihkan kapal. Lagipula, kenapa tak melakukannya siang tadi?"
"Itu karena Franky sedang jalan-jalan jadi kami tak membersihkannya tanpa seizinnya. Eh, bukankah kau ada janji dengan Nami-san dan Hancock-sama?"
Sanji tahu ia harus hati-hati bicara. Nico Robin wanita yang menakutkan dan mampu mengorek informasi apapun. Sepertinya hampir tak bisa menyembunyikan apapun darinya kecuali kalau kamu sama-sama bertipe dingin seperti Marimo. Nami-san di mana kau? Lekas ajak Robin menjauhi kapal!
"Memang sih. Tapi aneh. Bukankah sebentar lagi jam makan malam?"
"Oh, aku belum selesai memasak."
"Tidak biasanya."
"Itu karena tadi aku sibuk jalan-jalan."
"Tapi kau bukan orang yang sampai meninggalkan pekerjaanmu."
"Aku terpaksa mengurusi Marimo."
"Kalian bertengkar di luar desa?"
"Ya ya, seperti itulah."
"Tidak babak belur."
"Dia tak mungkin bisa melukaiku."
"Kau juga tak bisa melukainya?"
"Aku kesal jika ingat kami imbang."
"Apa yang membuat kalian bertengkar kali ini?"
Banyak hal, pikir Sanji. Tak mungkin aku mengatakannya kan? Saat mencari cincin tadi tidak begitu mulus begitu saja karena Marimo sialan itu banyak protes sana-sini. Mana dia pilih yang harganya mahal pula, sekelas bangsawan Goa. Dasar cowok pengutang! Kalau beberapa tahun kemudian dojonya sukses, pokoknya ia harus membayar piutangku disertai bunga. Seharusnya tadi aku mengajak Luffy juga agar pertengkaran kami tak semakin panjang.
"Robin..." panggil Nami.
Bagus Nami-san, batin Sanji lega. Kau datang di saat yang tepat.
"Apa yang kau lakukan bersama Sanji-kun?" kata Nami mendekat. "Ia tak merayumu lagi kan?"
"Tidak, Nami," jawab Robin.
"Siapa tahu saja karena ini kesempatan terakhirnya memilikimu, ia masih berani merayumu," kata Nami menjewer telinga Sanji. Apalagi kalau ingat bahan pertengkarannya tadi pagi dengan Zoro, rasanya kesal, batin Nami.
"Nami-san. Sudah dong, jangan bahas itu lagi," pinta Sanji.
"Kesempatan terakhir?" tanya Robin.
"Aaa, bukan. Maksudku, besok aku akan lebih keras terhadapnya." Nami merasa keceplosan karena terbiasa. Ia lalu menggandeng tangan Robin. "Ayo, kita pergi! Hancock sudah menunggu."
Sanji menghela napas lega. Setelah Robin sudah tak kelihatan lagi, ia pun memberi sinyal pada yang lain untuk bersiap-siap. Dan, Ia sendiri harus segera kembali ke kabin mendandani Marimo...
Bersambung
Canon note:
1. Yg dikatakan Zoro soal serba kebetulan di Enies Lobby itu benar. Mulai dari yang lebih dulu sampai di atap daripada Sanji, Kaku yang bilang demikian, sampai nomor kunci borgolnya. Ikan hiu sendiri adalah lambang hewan untuk Zoro (Luffy=monyet, Nami=kucing, Ussop=tikus, Sanji=bebek, Robin=bangau, Franky=serigala, Brook=kuda). Yang Nami (bersama Chopper) menerjang Sanji saat Sanji hendak memeluk Robin itu juga benar kejadiannya. Yang Zoro dengar dari Chopper soal kalimat Sanji, Author hanya asal. Tapi saat Chopper cerita ke Luffy dkk soal ia dan Sanji yang melihat Robin; bisa jadi kalimat itu ikut terlontar.
2. Kalimat flashback Sanji juga benar terjadi. Saat menulis ini, Author emang blom nonton Movie 10: Strong World, tapi nemu resensi-nya di LiveJournal. Di resensi itu, penulis blog-nya nulis 10 dialog terlucu yg salah satunya aku kutip di atas (3 dialog terlucu benar2 mengenaskan buat Sanji hahaha).
3. Kalimat flashback Robin sih Author yang ngarang hehehe... Yang jelas, mereka berdua emang yg paling belakang turun dari Merry dan Zoro ada di belakang Robin.
4. Aku masih ga tau panggilan Hancock untuk kru lainnya karena Canon-nya blom nyampe sana. Tapi, mengingat sifatnya yg angkuh, kurasa dia cukup muak liat kru SH satu per satu yg aneh2 dan ga normal. Jadi lebih pas klo dia nyebut pakai julukan poster bounty-nya. Aku juga blom tau kira2 Sanji manggil Hancock pake sebutan apa, sekali lagi mengingat dia super angkuh, kurasa sebutan –sama lebih pas untuknya (lebay-nya ntar jadi Hancock-swaama).
5. Untuk adegan ZoSan, biar feel-nya dapet, aku iseng nontonin AMV di Youtube hehehe... Biasanya, emang Ussop yang sering ngeluh, Nami yang jelas suka menghentikan lewat pukulan, dan Luffy malah tertawa senang melihat anak buahnya seakrab itu.
Next Chapter: Kayak apa ya Zoro ngelamar Robin? Bagaimana suasana Sunny yang udah disiapkan untuk acara itu? Mana dia malu banget diliatin ma teman-temannya dari balik "layar" dan mereka kusak-kusuk. Lalu, seperti apa respon Robin menerimanya? Bonus cerita tambahan, 10 tahun kemudian: ZoSan (?).
