Special fic for SasuNaru's day.
My Lovely Rival
Pair: SasuNaru
Genre: Romance/Family
Rate T
Warning: Shou-ai, gaje, typo, OOC, AU, alur lambat, plot aneh, etc.
Don't Like, Don't Read!
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
My Lovely, Rival © Aizawa Narui
NARUTO'S POV
Siang itu matahari bersinar sangat terik, seolah-olah ingin menghanguskan semua yang ada di bumi. Kulitku serasa terbakar, peluh mulai mengalir di pelipisku. Sudah setengah jam aku berdiri di taman menunggu jemputan yang sampai sekarang belum datang juga. Aku mulai menggerutu tidak jelas, meruntuki supir pribadiku yang suka datang terlambat. Awas saja kalau sampai sepuluh menit lagi dia tidak muncul juga, aku tidak akan segan memutilasinya. Haah oke, mungkin aku berlebihan, tapi supir kesayanganku itu memang sudah keterlaluan, hampir setiap hari, aku harus rela bersabar menunggu jemputannya yang sudah pasti selalu terlambat. Huh, sebenarnya di sini yang majikan siapa yang bawahan siapa? Kenapa harus aku yang selalu makan hati tiap hari?
Gaah, semua ini gara-gara Tousan! Kalau saja Tousan mengijinkan aku menyetir mobil sendiri, aku pasti tidak harus mengalami nasib seperti ini. Dengan sangat terpaksa, aku harus bersabar sampai bulan Oktober tiba. Sesuai syarat yang diajukan Tousan, aku baru boleh membawa mobil sendiri saat umurku genap 17 tahun. Tapi bulan oktober itu 'kan masih lumayan lama, masih tiga bulan lagi.
Oh ya, aku lupa memperkenalkan diriku, namaku adalah Namikaze Naruto, saat ini aku masih tercatat sebagai siswa kelas dua di Konoha High School. Aku adalah putra ketiga dari Direktur Utama di Rasengan Corp. Aku punya seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan. Dua-duanya tidak ada yang mau meneruskan bisnis Tousan, jadinya mau tidak mau akulah yang dipersiapkan Tousan jadi penggantinya. Benar-benar kenyataan yang menyebalkan, kalau aku harus mengingat betapa berat beban yang harus aku tanggung nantinya. Ah sudahlah, itu tidak penting, yang penting sekarang, dimana sopirku ituuuuu? Dia tidak tahu apa, aku sudah hampir mati berdiri di sini?
Tin…tiiin..tiiinn…
Suara klakson mobil sukses membuyarkan lamunanku. Sebuah mobil Ferarri merah berhenti tepat di depanku. Dari dalam mobil itu keluar seorang pria muda berambut perak yang mengenakan masker penutup wajah. Dia adalah Hatake Kakashi, supir pribadiku, yang aku ceritakan tadi. Dasar, aneh. Punya wajah tampan kok malah ditutup pake masker. Dengan santai dia berjalan ke arahku.
"Maaf, Tuan muda, saya terlambat," kata Kakashi sambil membungkukkan badan. Aku mendengus mendengarnya. Entah sudah keberapa ratus kalinya aku mendengar kalimat yang sama darinya. Tanpa menghiraukannya, aku berjalan ke mobil, dengan kasar aku membuka pintu mobil dan dengan sekali sentak menutupnya keras-keras.
"Woi! Mau sampai kapan kau berdiri di situ, hah?" tegurku kesal, saat kulihat Kakashi masih berdiri mematung di luar mobil.
Kakashi hanya tersenyum mendengar kata-kataku. Dia kemudian naik ke mobil dan segera menghidupkan mesinnya. Tak lama kemudian mobil pun melaju di jalanan yang lumayan macet.
"Kakashi," panggilku seraya menoleh ke arahnya.
"Ya, Tuan muda."
"Ck…sudah berapa kali aku bilang padamu, jangan panggil aku Tuan muda!" kataku sambil menatap tajam ke arahnya. "Panggil saja aku, Naruto."
"Tapi, Tu-,"
"Tidak ada tapi-tapian, ini perintah!" ucapku tegas, memotong perkataan Kakashi.
Kakashi tampak menghela nafas panjang, "Baiklah," katanya sambil tersenyum padaku. "As your wish, Naruto."
Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Walaupun sifatnya yang selalu terlambat itu sering membuatku jengkel, tapi sebenarnya hubungan kami lumayan akrab. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri.
"Kakashi, sekarang kita ke café Deidara saja. Aku ingin mengerjakan tugas di sana," kataku sambil menyenderkan kepalaku pada sandaran kursi mobil. Kakashi hanya mengangguk pelan mengiyakan permintaanku. Mobil pun meluncur ke jalan Shinobi, tempat dimana Deidara, kakak laki-lakiku membuka café yang lumayan terkenal di kota Konoha. Yach seperti yang aku bilang tadi, Deidara tidak mau meneruskan bisnis keluarga. Dia lebih memilih membuka usaha sendiri. Sampai di café, aku segera turun dan mengajak Kakashi untuk ikut masuk bersamaku, tapi dengan sebuah senyuman misterius dia menolak ajakanku dan mengatakan kalau dia ingin pergi sebentar ke suatu tempat.
Aku yang mengerti arti senyuman itu langsung berdecak pelan, "Okay, jangan lama-lama. Dan ingat, jangan berbuat aneh-aneh di mobilku," kataku sambil berkacak pinggang.
Kakashi hanya terkekeh pelan mendengar wejangan dariku, "Baik Tuan Muda. Kalau anda ingin pulang, telpon saja sepuluh menit sebelumnya, saya pasti akan segera datang," kata Kakashi sambil membungkuk ala pelayan. Mau tak mau aku pun tersenyum melihat kelakuannya. Sesaat kemudian dia sudah melesat pergi dengan mobilku.
Begitu masuk ke dalam café, beberapa karyawan tampak menyapaku ramah. Kulemparkan senyuman sebagai balasan dari sapaan mereka. Siang itu, café tampak ramai seperti biasanya. Para waitress sibuk menanyakan dan mengantarkan pesanan. Dari dapur, Deidara muncul dengan sebuah nampan ditangannya. "Hei, Naru. Kenapa tidak bilang kalau kau mau mampir?" tegur Deidara sambil tersenyum. "Hari ini café penuh sekali, kau tunggu saja di ruanganku," kata Deidara sambil berjalan menuju ke meja no 12, disapanya tamunya dengan ramah sebelum meletakkan pesanan di meja. Aku tersenyum melihatnya. Itulah yang kusukai dari kakakku yang satu itu, meski dia pemilik café, tapi dia tidak pernah berpangku tangan melihat kesibukan karyawannya, dia tak pernah segan ikut membaur bersama karyawannya dan selalu tersenyum ramah pada setiap pengunjung cafenya. Mungkin karena itulah Deidara sangat dihormati karyawan dan disukai pelanggannya.
Aku pun melangkah menuju ke ruangan Deidara untuk meletakkan tasku. Setelah itu aku berjalan menuju ke dapur. Melihat Deidara dan semua karyawannya tampak sibuk dan kewalahan melayani tamu, aku memutuskan untuk ikut membantu.
"Hei, mau apa kau ke sini, Naruto?" tegur Ayame, koki di café ini. "Kenapa kau tidak ke ruangan Deidara saja?"
"Aku ingin membantu," kataku sambil mengambil seragam karyawan di loker dan mengganti baju seragam sekolahku dengan seragam café.
"Naru," Deidara tiba-tiba muncul di belakangku dengan ekspresi heran. "Mau apa kau dengan seragam karyawan itu?"
"Tentu saja aku mau membantumu, Aniki," kataku singkat.
"Bukankah kau ke sini untuk mengerjakan tugas?" tanya Deidara dengan pandangan menyelidik.
Aku pun mengangguk mengiyakan, "Ya sich, tadinya aku memang mau mengerjakan tugas, tapi sepertinya kau sedang kerepotan, jadi tak ada salahnya 'kan kalau aku membantumu, Aniki?"
"Thanks, Otouto," ucap Deidara sambil tersenyum.
Selesai mengganti seragam aku pun mengambil note pesanan dan langsung beranjak keluar. Tak lama aku dan Deidara pun sibuk melayani pengunjung café bersama karyawan yang lain.
Menjelang sore pengunjung café sudah mulai berkurang. Para karyawan tampak menghembuskan nafas lega, karena mereka akhirnya bisa sedikit beristirahat juga. Tak jauh beda, aku pun segera menghempaskan tubuhku pada sofa di ruangan Deidara. Kupejamkan mataku sesaat mengusir lelah yang kurasakan. Hampir saja aku terlelap kalau tidak kurasakan sebuah tepukan lembut dipipiku. Kubuka mataku perlahan, kulihat Deidara tersenyum lembut padaku.
"Kau pasti capek kan, Naru? Ayo minum dulu," kata Deidara sambil menyodorkan secangkir teh rempah padaku.
"Thanks," jawabku seraya meminum teh kesukaanku itu. Usai meminumnya, aku langsung berdiri menyambar tasku. "Aku pulang ya, Aniki."
"Eh? Mau pulang sekarang?" tanya Deidara heran. "Bukannya kau mau mengerjakan tugasmu?"
"Ya, tadinya begitu, tapi aku capek. Aku mau pulang saja, mau tidur," kataku. "Tugasnya aku kerjakan nanti malam saja di rumah."
"Maaf ya, karena ikut membantuku, kau jadi tidak bisa mengerjakan tugasmu," ucap Deidara terlihat menyesal.
"Tak apa, Aniki," jawabku tersenyum. "Oh ya, kapan Aniki mau pulang ke rumah?"
"Hei Naru~, memangnya Kakashi sudah kembali?" tanya Deidara mengalihkan pembicaraan. Mendengar pertanyaan itu, aku langsung menepuk dahi pelan.
"Ah benar juga, Kakashi kan belum kembali. Bagaimana aku bisa lupa menelponnya tadi? Dia 'kan Mr. Telat number one!" gerutuku kesal. Segera kuambil Hp di saku celanaku dan menelpon Kakashi agar segera menjemputku di café. Deidara hanya bisa terkekeh sembari geleng-geleng kepala melihat kelakuanku. Deidara memang sudah tahu betul sifat supir pribadiku itu.
"Aku mau ke dapur dulu memeriksa bahan-bahan yang baru datang, kau mau menunggu di sini atau di luar?" tanya Deidara padaku. Kulihat dia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Aku tunggu di luar saja," kataku seraya mengikuti Deidara keluar ruangan.
"Okay, terserah kau saja," kata Deidara sebelum menghilang di balik pintu dapur.
Kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan café yang mulai sepi, mencari tempat untuk menunggu Kakashi. Sore itu, hanya ada beberapa orang pengujung saja yang tengah berbincang santai sambil menikmati hidangan mereka. Aku tersenyum lebar saat melihat sebuah kursi kosong di pojok ruangan, benar-benar tempat yang srategis dan nyaman. Aku pun berjalan menuju ke meja no 16 itu. Saat aku menarik kursi untuk duduk, di saat bersamaan ada orang yang juga menarik kursi di depanku. Terkejut, aku pun memandang ke depan. Kulihat seorang pemuda berkulit putih dan berambut raven juga tengah menatap ke arahku.
"Hei, Dobe! Ini mejaku, kau cari saja meja yang lain," kata pemuda itu dingin.
Aku hanya bisa terdiam sebelum otakku mulai memproses kata-katanya. "Eh? Apa kau bilang tadi? Dobe? Enak saja kau mengatai orang, hah?" sergahku kesal. "Lagipula sejak kapan meja ini jadi milikmu, Teme?"
"Ck, berisik!" dengus pemuda itu seraya duduk di kursi yang di tariknya tadi. Tak mau kalah aku pun ikut duduk di kursi yang aku tarik tadi. Pandangan mata kami beradu, seolah ada kilatan cahaya petir di sana. Oh oke aku mulai berlebihan lagi. Kami masih saling menatap, menanti siapa yang akan lebih dulu mengalah.
"Apa maumu, Teme?" desisku sembari menatap tajam ke arah matanya.
"Pergi kau dari mejaku, Dobe!" ucapnya datar tanpa ekspresi, hanya matanya yang jelas menyiratkan rasa ketidaksukaannya akan kehadiranku di sini.
"Gaah, aku tidak mau! Aku yang lebih dulu sampai di meja ini, seharusnya kau yang pergi dari sini, Teme!" kataku, tetap tak mau mengalah. Enak saja dia menyuruh orang pergi. Jelas-jelas, aku yang lebih dulu sampai di meja ini.
"Hn. Kalau aku tidak mau, kau mau apa? Mau melemparku keluar, heh?" ejek pemuda itu.
"Kau ini menyebalkan sekali sich? Sudah aku bilang kan, kalau…" ucapanku terhenti saat tiba-tiba saja Deidara yang datang menghampiri kami dan menyela kata-kataku.
"Ada apa ini?" tanya Deidara sambil menatap bergantian ke arahku dan pemuda itu.
"Tanyakan saja padanya!" sungutku ke arah pemuda menyebalkan itu.
"Ada masalah, Sasuke?" tanya Deidara pada pemuda itu.
Eh? Ternyata Aniki mengenalnya? Siapa tadi namanya? Sasuke? Dasar, sesuai sekali dengan orangnya yang menyebalkan!
"Tak apa, Dei. Hanya ada bocah berisik yang sedikit menggangguku," jawab Sasuke santai.
Apa dia bilang tadi? Bocah berisik? Enak saja, lagi-lagi dia mengataiku seenaknya. Dasar, pantat ayam!
Deidara yang mengerti siapa yang di maksud Sasuke hanya tersenyum. "Kau kenapa, Naruto? Ada masalah dengan Sasuke?" tanya Deidara padaku.
"Dia yang mulai, Aniki!" kataku seraya menunjuk Sasuke. "Seenaknya saja dia duduk di meja yang lebih dulu aku tempati."
Deidara hanya tersenyum lagi mendengar kata-kataku itu. "Ayolah Naruto, jangan seperti anak kecil. Kau bisa mengalah dan menunggu di meja lain kan?"
Aku hanya mendengus mendengar perkataan Deidara. Kenapa juga harus aku yang mengalah? Bukannya membelaku malah ikut memojokkanku. Tanpa sadar aku memasang wajah cemberut yang membuat Deidara tertawa keras.
"Jangan tertawa Aniki…" desisku kesal. Deidara tampak tidak peduli, masih dengan setengah tertawa dia malah ikut menarik kursi dan duduk di sebelahku. Sesaat kemudian dia sudah asyik mengajak Sasuke ngobrol. Aku hanya bisa menggerutu melihat Deidara tampak akrab sekali dengan Sasuke. Siapa sich dia sebenarnya? Dimana Aniki mengenalnya? Apa dia salah satu pelanggan café ini? Tapi kenapa aku merasa wajahnya familiar sekali di mataku? Apa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya? Banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepalaku.
"Oh ya, Sasuke. Kau mau pesan apa?" tanya Deidara ramah.
"Tomato juice," jawab Sasuke singkat.
"Naruto, tolong kau buatkan pesanan Sasuke ya," Deidara tersenyum ke arahku. What? Aku yang harus membuatkan pesanannya? Aku mendelik tak percaya, tapi senyum di wajah Deidara membuatku tak bisa menolak permintaannya. Kulirik Sasuke yang juga tengah melirik ke arahku. Bisa kulihat sebuah senyuman mengejek tersungging di sudut bibirnya. Aku langsung berdecak sebal melihatnya. Ingin sekali rasanya aku siram wajah tampannya itu dengan segelas air. Eh? Tunggu dulu? Aku barusan tidak memujinya tampan kan? Arrrgh…menyebalkan! Dengan terpaksa aku berjalan ke dapur untuk membuatkan pesanan Sasuke. Sempat terbesit di pikiranku untuk mengerjai Sasuke, tapi aku urungkan karena tak mau membuat Deidara dalam masalah.
"Thanks, Otouto," kata Deidara saat melihatku membawa nampan berisi segelas tomato juice. Aku hanya tersenyum tipis padanya. Tapi begitu melihat Sasuke yang menatapku dingin, ekspresi wajahku langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Setengah merengut aku meletakkan gelas juice itu di hadapannya. Saat itulah kulihat Kakashi muncul di pintu café dengan wajah berseri-seri. Dasar, Mr. Telat number one. Awas kau nanti. Gara-gara menunggunya, aku harus bertemu dengan orang yang menyebalkan.
"Aniki, aku pulang dulu ya. Bye..." kataku sembari melambai pada Deidara. Secepat kilat kutarik Kakashi untuk meninggalkan café itu.
END OF NARUTO'S POV
.
.
NORMAL'S POV
Pagi itu kelas XI.A2 tampak gaduh, suara-suara riuh tampak terdengar dari dalam kelas. Para siawa sibuk membicarakan gossip baru yang menyebar pagi ini. Katanya, hari ini akan ada seorang siswa pertukaran dari SMA Oto Gakuen. Dia akan berada di KHS selama tiga bulan. Di sudut kelas, Naruto tampak duduk bersandar di kursi sambil mendengarkan sahabat-sahabatnya yang sedang membicarakan hal yang sama dengan teman-teman yang lain.
"Hei, kalian tahu tidak, katanya siswa itu sangat tampan lho," celetuk Sakura yang duduk tepat di depan Naruto.
"I-Iya. Kata Neji, dia memang tampan. Dia juga sangat pintar," kata Hinata menyambung kata-kata Sakura.
"Benarkah?" tanya Tenten antusias.
"Iya. Dia kan satu sekolah dengan Neji," jawab Hinata.
"Haah…sepintar apa sich dia? Paling juga tidak jauh lebih pintar dari Shikamaru 'kan?" kata Kiba sambil melirik Shikamaru yang sedang menguap lebar di sampingnya.
"Kalau soal itu aku tidak tahu, yang jelas dia lebih pintar dari Neji," Hinata menjawab pelan.
"Ah masa' dia lebih pintar dari sepupumu yang keren itu?" tanya Tenten penasaran. Hinata hanya menjawabnya dengan anggukan pasti.
"Katanya dia akan di tempatkan di kelas kita lho," Sakura memberi tahu dengan ekspresi serius.
"EH? Di kelas kita?" tanya Tenten, Kiba dan Hinata bersamaan.
"Iya, aku tidak sengaja mendengarnya tadi waktu menaruh buku di ruangan Asuma-sensei," jelas Sakura semangat.
"Bagaimana menurutmu, Naruto?" tanya Gaara yang dari tadi hanya diam saja. Diliriknya Naruto yang dari tadi hanya tersenyum mendengarkan sahabat-sahabatnya itu membicarakan tentang sang siswa pertukaran.
"Yach, kita lihat saja nanti. Kita tidak akan bisa menilai kalau belum melihat sendiri 'kan?" kata Naruto yang disambut dengan anggukan setuju oleh semua sahabat-sahabatnya.
Tak lama kemudian kelas menjadi hening saat wali kelas mereka Asuma-sensei memasuki ruangan.
"Selamat pagi anak-anak," sapa Asuma-sensei dengan rokok di mulutnya. "Hari ini, kelas kalian akan kedatangan seorang siswa pertukaran dari Oto Gakuen."
Mendengar perkataan Asuma kelas menjadi riuh kembali. Para siswa ribut membahas sang siswa pertukaran. Melihat siswa-siawanya ribut sendiri, membuat Asuma harus sedikit berteriak untuk menenangkan mereka.
"Perhatian, anak-anak. Bisa tenang tidak?" kata Asuma sambil mengetuk-ngetuk papan tulis. Seluruh siswa di kelas sontak terdiam. "Baiklah, kau boleh masuk sekarang."
Perhatian seluruh siswa pun tertuju ke arah pintu kelas, tak terkecuali Naruto. Dari luar masuklah seorang siswa yang langsung membuat seluruh siswi perempuan di kelas itu terpana. Jerit histeris pun mulai terdengar dari siswi-siswi tersebut.
Naruto sendiri langsung terbelalak saat melihat siapa siswa pertukaran itu. "Sasuke," desis Naruto tak percaya.
"Nah, silahkan perkenalkan dirimu pada teman-teman barumu," kata Asuma mempersilahkan.
Dengan gaya cool, Sasuke berdiri menatap semua teman sekelasnya yang baru, saat itulah pandangan matanya bertumbukan dengan Naruto yang juga tengah menatap ke arahnya. Sambil menatap lurus pada Naruto, Sasuke mulai memperkenalkan dirinya.
"Uchiha Sasuke. Siswa pertukaran dari Oto Gakuen, mohon bimbingannya," Kata Sasuke singkat.
Naruto tercekat mendengar kata-kata Sasuke. Uchiha? Astaga! Pantas saja dia merasa familiar dengan wajahnya. Ternyata Sasuke itu adalah adik dari Itachi, sahabat baik dari Deidara, pantas saja Deidara lumayan akrab dengan Sasuke.
"Baiklah Sasuke, kau boleh duduk di sebelah Naruto," kata Asuma-sensei sambil menunjuk bangku kosong di sebelah kanan Naruto. Dengan wajah stoic, Sasuke berjalan ke arah Naruto dan duduk di sampingnya.
"Nice to meet you again, Dobe," kata Sasuke tanpa menoleh ke arah Naruto. Naruto yang kesal cuma bisa mendelik mendengar kata-katanya. 'Kenapa sich aku harus bertemu lagi dengan makhluk menyebalkan ini?' Tanya Naruto dalam hati. Tak lama kemudian pelajaran pun di mulai dengan tenang.
.
.
"Naruto!" sebuah teriakan nyaring tampak mengejutkan Naruto yang tengah duduk santai di taman sekolah. Dari kejauhan tampak Kiba berlari menuju ke arahnya. Di tangan kanannya tergenggam sebuah kotak paket yang terbungkus rapi. Dengan nafas ngos-ngosan, Kiba berhenti tepat di depan Naruto.
"Kau kenapa, Kiba?" tanya Naruto heran.
Kiba langsung mengambil tempat di samping Naruto. Tanpa kata-kata disodorkannya paket itu pada Naruto.
Setengah bingung Naruto menerima paket itu, " Untukku?"
Kiba mengangguk sambil mengatur nafas. Dia terlihat kepayahan sekali setelah berlari-lari tadi.
"Dari siapa?" tanya Naruto sambil membolak-balik paket itu.
"Entahlah…tadi saat aku baru kembali dari kantin dan masuk kelas. Aku menemukan kado itu ada di mejamu, dengan kertas ini di atasnya," kata Kiba sambil menyodorkan selembar kertas pada Naruto.
Penasaran Naruto membuka kertas yang terlipat rapi itu, seketika matanya membulat sempurna saat membaca tulisan di kertas itu.
Special for you, my otouto. Hope you like it.
With love,
Your sister
Ino
Cepat-cepat Naruto membuka bungkus kado itu dan tersenyum lebar saat mendapati sebuah jacket keren warna oranye rancangan terbaru dari Aneki-nya. Seminggu yang lalu, Ino memang menelponnya dan memberitahu kalau jacket pesanannya sudah jadi dan siap di kirim. Naruto menatap puas jacket di tangannya itu. Rancangan Aneki-nya memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Sebagai salah satu desaigner papan atas di Perancis, nama Namikaze Ino sangat terkenal di kalangan pecinta fashion. Rancangannya yang fashionable dan unik selalu diminati banyak orang. Dengan semangat Naruto langsung mengenakan jacket itu.
"Bagaimana menurutmu, Kiba?" tanya Naruto sambil berpose ala model di depan Kiba.
"Bagus, terlihat sangat kau sekali Naruto," komentar Kiba nyengir. "Dari Aneki-mu ya?"
"Yupz…Aneki memang mengerti sekali dengan seleraku," kata Naruto sambil tersenyum lebar.
"Norak!" kata sebuah suara tiba-tiba saja mengagetkan Naruto. Sontak Naruto dan Kiba menoleh ke arah suara itu berasal. Naruto mendelik saat melihat Sasuke berdiri bersandar di bawah pohon mapple di belakangnya. "Pilihan warna yang payah!"
"Gaah, diam kau! Aku tidak tanya pendapatmu!" sergah Naruto kesal.
"Hn. Warna pilihanmu itu membuat desain yang bagus itu jadi terlihat pasaran!" kata Sasuke datar. "Kasihan sekali desaigner yang sudah susah payah membuatnya."
"Ck, itu bukan urusanmu, Teme!"
"Dasar, Dobe!"
"Teme jelek!"
"Berisik!"
"Oranye Boy!"
"Chicken butt!"
"Whatever!" tanpa banyak bicara lagi, Sasuke segera berlalu meninggalkan Naruto yang menggerutu gaje. Sementara Kiba hanya bisa bengong melihat interaksi Sasuke dan Naruto yang terlihat seperti Tom and Jerry itu.
"Kau ada masalah dengan Uchiha, Naruto?" tanya Kiba penasaran.
"Ya, dia itu sangat menyebalkan!" jawab Naruto ketus.
Kiba yang sudah melihat sendiri mengangguk-angguk paham. "Oh ya, kenapa Aneki-mu mengirim paket itu ke sekolah? Kenapa tidak ke rumahmu saja, Naruto?"
Naruto menghela nafas pelan, "Kau 'kan tahu sendiri Kiba, sejak kedua kakakku menolak meneruskan bisnis keluarga, hubungan mereka dengan Tousan jadi merenggang. Apalagi setelah mereka keluar dari rumah dan dan memutuskan berkarier dengan pilihan mereka masing-masing. Jadi aku bisa mengerti alasan Aneki lebih memilih mengirimkan paket ini ke sekolah daripada ke rumah," jelas Naruto sambil memainkan jacket di tangannya.
Kiba hanya terdiam mendengar penjelasan Naruto. Dia memang sudah pernah mendengar hal ini dari Naruto. Sudah hampir dua tahun Naruto memendam rasa sedih karena keluarganya harus terpisah karena kekeras kepalaan kedua kakak dan Tousan-nya. Tak lama suara bel tanda masuk berbunyi, membuat pembicaraan mereka terhenti sampai di situ. Tanpa bicara mereka berdua berjalan masuk ke gedung sekolah.
.
.
Siang itu Naruto datang lagi ke café Deidara. Dia ingin menunjukkan jacket baru pemberian Ino pada Deidara. Keadaan café hari itu tak jauh beda dengan dengan hari-hari yang lalu, tampak penuh dengan pengunjung. Naruto langsung menghampiri Deidara yang sedang sibuk menanyakan pesanan tamunya.
"Butuh bantuan, Aniki?" tanya Naruto sambil mengambil note pesanan dari tangan Deidara.
Deidara tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Naruto pelan, "Dengan senang hati, Otouto."
Naruto tersenyum lebar dan segera beranjak ke ruangan Deidara. Setelah meletakkan tas sekolahnya, Naruto langsung berganti seragam café. Dengan cekatan Naruto melayani tamu-tamu yang datang. Saat Naruto akan mengantar pesanan di meja no tiga, tiba-tiba saja Deidara menarik lengannya dan menyuruhnya mengantarkan pesanan ke meja no 16. Naruto mengerutkan dahi heran, itu kan meja tempat insiden kemarin? Tanpa bertanya Naruto menuju ke meja yang di maksud. Sampai di meja itu, Naruto langsung merengut kesal. Di sana duduk dua orang yang sedang ngobrol santai, salah satu diantaranya adalah orang yang paling tidak ingin ditemui Naruto saat ini.
Naruto meletakkan pesanan mereka ke meja dan menyapa salah satu dari mereka, "Siang, Itachi-nii."
"Hai, siang Naruto," jawab Itachi ramah. "Apa kabar?"
Naruto memaksakan diri tersenyum menjawab pertanyaan itu, " Baik. Itachi-nii sendiri bagaimana?"
"Baik juga. Oh ya, kenalkan. Ini adikku, Sasuke," kata Itachi sembari menunjuk Sasuke. "Mulai hari ini, dia sekolah di KHS."
"Ya, kami sekelas kok, Itachi-nii," kata Naruto sambil melirik Sasuke yang tampak cuek meminum juice tomatnya.
"Benarkah? Wah, senangnya kalian sudah saling mengenal," kata Itachi tersenyum.
"Ehm…aku permisi dulu. Masih banyak tamu yang yang harus aku layani," kata Naruto. "Silahkan menikmati hidangannya."
"Hahaha…kau rajin sekali ya, Naruto. Baiklah, selamat bekerja," ucap Itachi sambil meninju lengan Naruto pelan.
Naruto pun berlalu dari sana, tanpa menyadari kalau Sasuke tengah menatapnya dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya.
Sorenya, Naruto dan Deidara tampak duduk berdua di sofa di ruangan Deidara. di tangan mereka tergenggam secangkir teh melati yang masih mengepulkan asap yang menebarkan aroma wangi yang menenangkan.
"Hei, Aniki. Coba lihat ini," kata Naruto seraya memperlihatkan jacket barunya. "Bagus tidak?"
Deidara tersenyum simpul, "jacket dari Ino ya?"
"Ya, tadi Aneki mengirimkannya ke sekolah."
"Bagus. Dia memang berbakat jadi desaigner," puji Deidara tulus. "Sayang, Tousan tidak menyukai pilihan Ino."
"Pilihanmu juga Aniki," sambung Naruto.
"Hmm…ya. Maafkan kami ya. Karena kami, sekarang kau yang harus memikul beban berat sebagai penerus perusahaan Namikaze," ucap Deidara pelan.
Naruto tersenyum mendengarnya, "Tak apa Aniki. Asal kalian berdua bahagia dengan pilihan hidup kalian, aku juga akan ikut bahagia untuk kalian."
"Thanks, Otouto," Deidara memeluk Naruto erat, Naruto pun membalas pelukan kakaknya tersebut dengan hangat. "Oh ya, ini sudah sore, sebaiknya kau pulang sekarang. Kalau tidak, Tousan bisa marah dan melarangmu datang ke sini lagi."
"Baiklah. Sampai besok," ucap Naruto sambil melepas pelukan mereka. "Bye Aniki…"
"Bye, Otouto…" dengan senyuman lembut Deidara memandang Naruto sampai bayangannya menghilang di balik pintu.
.
.
Hari ini adalah hari minggu, karena bosan kalau harus seharian di rumah, Naruto memutuskan untuk pergi ke Pantai. Sudah lama sekali rasanya dia tidak menyelam. Pagi-pagi sekali Naruto sudah siap dengan semua peralatan menyelamnya. Kakashi pun tampak sudah siap berdiri di depan mobil menunggu Naruto. Melihat Kakashi yang masih setengah mengantuk dengan wajah malas, Naruto langsung memasang wajah cemberut.
"Hei Kakashi. Awas ya, kalau aku sampai tidak selamat tiba di tempat tujuan, akan aku hantui kau tujuh turunan!" ancam Naruto yang langsung disambut gelak tawa Kakashi.
"Hahaha…tenang saja Naruto. Kau pasti aman bersamaku," goda Kakashi.
"Ck, diam kau. Ayo cepat kita berangkat!" kata Naruto sambil memberikan death glare pada Kakashi. Kakashi hanya terkekeh pelan menanggapi death glare Naruto.
Sepuluh menit kemudian mobil Ferarri merah itu sudah berada di tengah hiruk pikuk jalanan yang lumayan macet. Yach namanya juga weekend, semua orang pasti ingin memanfaatkannya dengan liburan bersama keluarga. keluarga? Naruto merenung mengingat kapan terakhir dia dan keluarganya pergi berlibur bersama. Haah sudah lama sekali rasanya. Dia rindu saat-saat bahagia dulu, saat dia, Tousan, Kaasan dan kedua kakaknya masih sering tertawa bersama. Entah kapan, saat-saat itu akan kembali dia rasakan.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga jam, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Sebuah pantai yang di daerah terpencil, yang masih sepi pengunjung. Dengan senyuman lebar Naruto turun dari mobil. Direntangkan tangannya lebar-lebar sambil menghirup dalam-dalam segarnya udara pagi. Karena Kakashi masih sibuk mempersiapkan semua peralatan yang di butuhkan untuk menyelam, Naruto memutuskan berjalan-jalan lebih dulu di sekitar pantai. Saat sampai di sisi pantai yang agak jauh dari tempat parkir mobil, Naruto duduk-duduk di sisi karang yang agak menjorok ke pantai. Dipandanginya hamparan pantai yang luas dengan langit biru yang membentang, sungguh pemandangan yang sangat indah. Saat itu tiba-tiba saja pandangan matanya tetumbuk pada suatu pemandangan lain yang membuat jantungnya berdebar kencang. Pemandangan yang jauh lebih indah dari apa yang baru saja dilihatnya tadi.
TBC…
A/N: Hallo minna-san, Happy SasuNaru day for all…
Ai datang lagi dengan sebuah fic twoshoot yang panjang dan gaje.
Semoga fic Ai berkenan di hati para reader semua.
Kalau ada saran, kritik atau flame, silahkan review… ^^
