Special fic for SasuNaru's day.

My Lovely Rival

Pair: SasuNaru

Genre: Romance/Family

Rate T

Warning: Shou-ai, gaje, typo, OOC, AU, alur cepet, etc.

Don't Like, Don't Read!

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

My Lovely, Rival © Aizawa Narui

Chapter 2

NARUTO'S POV

Aku berjalan perlahan menyusuri pantai. Saat sampai di sebuah karang yang agak menjorok ke pantai, aku memutuskan untuk berhenti sejenak menikmati pemandangan indah yang terhampar di hadapanku. Aku tercekat saat melihat sekumpulan kura-kura kecil yang tengah berjalan menuju ke pantai. Tidak jauh dari kumpulan kura-kura itu ada seorang pemuda yang tengah duduk jongkok dengan sebuah kotak besar di tangannya. Pemuda itu tampak masih sibuk melepas beberapa ekor kura-kura lagi dari dalam kotak besar itu. Yang membuatku terkejut adalah aku mengenali siapa pemuda itu.

"Sasuke…" desisku tak percaya. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu. Tanpa kusadari aku berjalan mendekat ke arahnya. "Butuh bantuan?" tawarku padanya saat aku sudah berdiri di tepat di belakangnya.

Sasuke tampaknya tidak terlalu terkejut mendengar sapaanku, dia hanya menoleh sekilas lalu kembali sibuk dengan kegiatannya. Tiba-tiba saja Sasuke menyodorkan kotak besar itu kehadapanku. Melihat itu, aku langsung ikut jongkok di sebelahnya. Perlahan aku mengambil kura-kura kecil yang ada di dalamnya dan melepaskannya.

"Mereka lucu ya?" tanya Sasuke sambil tersenyum lembut. Sesaat aku terpana melihat senyuman itu. Tidak bisa kupercaya, seorang Uchiha Sasuke ternyata bisa tersenyum selembut itu. Tanpa berkedip aku menatap Sasuke. Terpesona pada senyumannya yang sanggup membuat jantungku berdebar-debar. Entah perasaan apa ini, yang jelas saat ini aku merasa sangat nyaman di dekatnya. Kulihat Sasuke masih tersenyum menatap kumpulan kura-kura itu. Tidak kusangka, seorang Sasuke yang begitu menyebalkan itu ternyata punya sisi lembut seperti ini.

"Ya, mereka memang lucu," jawabku dengan senyuman terbaikku. "Kau yang menangkarkan mereka ya?"

"Hn. Banyaknya perburuan telur kura-kura oleh manusia membuat populasi meraka berkurang drastis. Sayang kalau mereka harus punah," kata Sasuke sembari mendudukan dirinya di pasir.

"Ya, manusia terkadang memang bisa jadi musuh terbesar alam," kataku ikut duduk di sebelah Sasuke. Setelah itu kami terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Tak ada lagi kata yang terucap. Kulirik Sasuke yang sedang menengadah memandang langit biru. Wajah tampannya tampak bercahaya dan semakin menawan di bawah sinar matahari pagi. Sungguh pemandangan yang indah. Jantungku kembali berdegup kencang. Benar-benar wajah yang rupawan, seandainya saja sifatnya itu tidak menyebalkan, aku pasti mau dengannya. Eh? Apa sih yang aku pikirkan? Cepat-cepat aku menggelengkan kepalaku. Haah..sepertinya ada yang salah dengan otakku. Aku tersenyum sendiri menyadari kalau ini adalah kali pertama kami bisa berinteraksi secara normal. Ternyata Sasuke tidaklah semenyebalkan yang aku kira.

"Oh ya, sedang apa kau di sini, Dobe?" tanya Sasuke memecah keheningan.

"Hanya merasa bosan saja di rumah, jadi aku putuskan untuk pergi menyelam," jawabku. "Kau mau ikut?"

"No, thanks. Aku harus pulang sekarang," kata Sasuke seraya berdiri. "Bye, Dobe…"

Aku hanya terdiam menatap Sasuke yang mulai berjalan menjauh. Sebenarnya aku masih ingin ngobrol banyak dengannya, tapi masa' iya, aku harus menahannya di sini? Ya sudahlah, toh kami masih bisa ketemu lagi besok di sekolah. Setelah Sasuke menghilang dari pandanganku, entah mengapa ada satu rasa aneh yang menyelusup di hatiku. Seakan ada ruang kosong dan hampa yang muncul di sana. Keinginanku untuk menyelam tiba-tiba saja lenyap. Aku bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tempat pakir.

"Kau kemana saja, Naruto?" tanya Kakashi saat melihat kedatanganku. "Ayo, semua perlengkapannya sudah siap, kita…"

"…kita pulang," kataku memotong perkataan Kakashi. Kakashi terbengong mendengar kata-kataku. Dahinya tampak berkerut heran. Tapi, tanpa bertanya Kakashi menuruti perkataanku. Dibereskannya lagi semua perlengkapan menyelam yang disiapkannya tadi. Tidak lama kemudian mobil kami sudah melaju di jalanan yang ramai. Selama perjalanan aku hanya diam sambil memandang ke luar jendela, tanpa sadar aku tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi..

END OF NARUTO'S POV

.

.

NORMAL POV

Sudah hampir seminggu ini Naruto selalu datang dan membantu Deidara di cafenya. Meski Deidara sudah melarang, Naruto tetap keras kepala dan mengacuhkan larangan itu. Selama itu pula Naruto jadi terbiasa dengan Sasuke yang setiap hari selalu mengunjungi café. Hubungan mereka yang semula seperti Tom and Jerry perlahan mulai membaik, meski tak bisa di bilang akur. Paling tidak, sekarang dia bisa berinteraksi dengan Sasuke tanpa saling memaki.

Sore itu, Naruto melihat Sasuke sedang duduk menyendiri di pojok ruangan café, di meja favoritnya. Perlahan Naruto menghampiri Sasuke.

"Boleh aku duduk?" tanya Naruto sambil tersenyum. Masih diingatnya dengan jelas, insiden beberapa hari yang lalu. Insiden yang menjadi awal pertemuan mereka.

Sasuke hanya melirik sesaat sebelum menjawab singkat dengan kata favoritnya, "Hn."

Naruto pun menarik kursi dan duduk di depan Sasuke. Dilihatnya dua gelas juice tomat yang sudah kosong. "Hei, kau suka sekali dengan tomat ya? Aku lihat, setiap kali kau ke sini yang kau pesan selalu juice tomat," tanya Naruto penasaran.

"Yeah, begitulah. Kenapa, ada masalah?"

"Tentu saja tidak. Oh ya, bagaimana kabar Itachi-nii?" tanya Naruto lagi, mencoba mencari bahan pembicaraan.

"Tanya saja sendiri pada orangnya," jawab Sasuke singkat.

"Ck kau ini, apa susahnya sih menjawab pertanyaanku?"

"Hn. Kau berisik, Dobe," kata Sasuke datar.

"Aku kan cuma bertanya, Teme," sergah Naruto agak jengkel. "Sudahlah, aku pergi saja," kata Naruto beranjak dari duduknya. 'Meski sudah tidak pernah mengajak bertengkar lagi, ternyata Sasuke masih saja tetap menyebalkan.' Sungut Naruto dalam hati.

"Terserah," jawab Sasuke acuh. Setelah Naruto pergi dari hadapannya. Tampak sekilas Sasuke menghembuskan nafas lega. "Terlalu lama berada di dekatmu, lama-lama aku bisa kehilangan kendali,Dobe," desah Sasuke pelan.

.

.

Pagi itu, Naruto tampak berlari terburu-buru menuju kelas. Gara-gara keasyikan bergadang nonton world cup, dia jadi bangun kesiangan dan lupa mengerjakan PR matematika. Dari rumah dia sudah berniat meminjam PR matematika Shikamaru atau Gaara kemudian menyalinnya. Tapi sayang, niatnya itu tak kesampaian dan ia harus rela gigit jari. Saat sampai di kelas, ternyata ia sudah terlambat. Buku PR Shikamaru dan Gaara sudah menjadi santapan umum. Terlihat teman-teman sekelasnya sudah merubungi meja Shikamaru dan Gaara untuk mencontek PR matematika mereka. Rupanya teman-teman sekelasnya pun tak jauh beda dengannya.

Naruto menghela nafas panjang. Kalau sudah begini, ia harus pinjam buku PR siapa lagi coba? Dengan langkah gontai Naruto berjalan menuju mejanya, baru saja ia duduk, saa tiba-tiba sebuah buku melayang ke arahnya. Buku bersampul coklat itu jatuh tepat di depanya. Diraihnya buku itu dan ditelitinya dengan seksama. Mata Naruto langsung membulat sempurna saat membaca tulisan yang tertera di sampul buku itu. 'Uchiha Sasuke. Buku PR Matemetika'. Refleks dialihkannya pandangan matanya ke meja Sasuke yang ada di sebelah kanannya. Dilihatnya Sasuke melirik sekilas ke arahnya sebelum memejamkan matanya menikmati alunan lagu dari ipodnya.

Ragu-ragu Naruto membuka lembar demi lembar buku itu. Tampak deretan angka-angka yang tersusun rapi di sana. Sasuke memang pintar sih, tapi karena sifat dinginnya itu, tak ada satu pun teman sekelas yang berani mendekat apalagi meminjam buku PR padanya. Kalaupun ada, belum tentu juga akan dipinjami. 'Tapi kenapa dia meminjamkan buku PR-nya padaku? Bahkan tanpa aku minta?' pikir Naruto dalam hati. Rupanya bukan hanya Naruto saja yang kebingungan, teman-teman sekelas mereka yang melihat kejadian itu mau tak mau ikut mengernyitkan dahi. Tapi tak ada satu pun diantara mereka yang berani berkomentar. Naruto pun tak mau ambil pusing, karena tak punya pilihan lain, tanpa buang waktu lagi dia langsung menyalin deretan angka-angka itu ke dalam buku PR-nya

.

.

Pagi itu Naruto dan teman-teman sekelasnya baru saja selesai pelajaran olah raga. Mereka tampak sedang beristirahat di tepi lapangan. Setelah pertandingan basket tadi, rasanya tubuh mereka terasa sangat lelah. Bayangkan saja, sebelum pertandingan basket di mulai, Guy-sensei, guru olah raga mereka yang kelewat semangat itu, menyuruh mereka pemanasan dengan lari keliling lapangan sepakbola sebanyak 15 putaran dan push up 100 kali.

"Naruto, kau mau minum apa?" tanya Kiba pada Naruto yang sedang duduk bersandar di sebuah pohon.

"Terserah kau saja, asal dingin dan segar," jawab Naruto sambil nyengir. Baru saja Naruto selesai mengucapkan kata-kata itu, tiba-tiba saja dirasakannya sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Terkejut Naruto pun terlonjak bangun. Ditelengkannya kepalanya heran saat melihat Sasuke berdiri di samping pohon dengan sebotol orange juice dingin tergenggam di tangannya. Tanpa berkata apapun, Sasuke melemparkan botol juice itu ke arah Naruto yang dengan refleks langsung menangkapnya. Setelah itu Sasuke berlalu pergi begitu saja, membuat Kiba dan teman-teman yang lain yang kebetulan ada di situ saling berpandangan heran. Naruto menatap Sasuke yang tengah berjalan menuju ke gedung sekolah, di saat yang sama Sasuke juga tengah menoleh dan menatap ke arahnya, sesaat mereka saling tatap sebelum Sasuke berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi. Naruto tersenyum melihat botol orange juice di tangannya, tanpa mempedulikan tatapan heran teman-temannya, dibukanya tutup botol orange juice itu lalu meneguk isinya sampai habis separuh.

.

.

"Kiba…" panggil Naruto pada Kiba yang sedang asyik dengan HP-nya. Kiba hanya berdehem menanggapi panggilan Naruto. Saat ini, mereka sedang ada di atap sekolah, tempat favorit mereka saat istirahat siang. "Menurutmu, ada yang berubah pada Sasuke tidak?"

"Entahlah, akhir-akhir ini Sasuke memang terlihat baik padamu. Tapi hanya padamu Naruto, sedangkan padaku dan teman-teman sekelas sikapnya sama saja," komentar Kiba tanpa menoleh.

Naruto yang mendengar komentar Kiba tersenyum. Ya, itu benar juga sih, Sasuke terlihat ramah dan baik padanya. Meski tidak bisa di bilang sepenuhnya baik, tapi paling tidak, Sasuke tidak lagi acuh dan dingin. 'Apa sekarang Sasuke sudah bisa menerima kehadiranku sebagai seorang teman?' pikir Naruto dalam hati. Teman…Naruto tersenyum pahit saat memikirkan kata itu. Entah kenapa rasanya ada yang aneh saat membayangkan Sasuke menganggapnya sebagai teman. Ditatapnya awan putih di langit sembari menghembuskan nafas panjang. Dicobanya menetralkan perasaan aneh hatinya. Naruto mengepalkan tangan erat-erat, ia tidak boleh lagi mempunyai pikiran dan perasaan aneh seperti itu.

.

.

Malam hari saat Naruto tengah sibuk di depan computer mengerjakan tugas di kamarnya, tiba-tiba saja Tousan-nya masuk dan duduk di ranjangnya. Naruto yang terkejut langsung berbalik dan menatap heran pada Tousannya. Tidak biasanya Tousan-nya mendatanginya di kamar, kalau pun ada perlu biasanya Naruto-lah yang akan dipanggil.

Minato tersenyum melihat tatapan bingung putra bungsunya itu, "Kenapa, apa Tousan tidak boleh masuk kamarmu?"

Naruto pun balas tersenyum dan duduk di samping Tousan-nya. "Tentu saja boleh. Apa Tousan ada perlu denganku?" tanya Naruto pelan.

Minato menghela nafas sejenak, "Bagaimana kabar kedua kakakmu?" tanya Minato sambari menatap foto keluarga mereka yang di pajang Naruto di meja di sisi ranjangnya.

Naruto membeku mendengar pertanyaan Tousan-nya. Apa dia tidak salah dengar? Setelah sekian lama, Tousan akhirnya menanyakan keadaan kedua kakaknya?

"Mereka baik-baik saja, Tousan," jawab Naruto pelan.

"Syukurlah," kata Minato, diraihnya bingkai foto itu dan mengelus permukaan kacanya lembut. "Tousan, rindu pada mereka berdua."

Perasaan Naruto membuncah bahagia mendengar kata-kata Tousan-nya barusan. Setengah tidak percaya Naruto mengulangi kata-kata itu, "T-tousan merindukan mereka?" tanya Naruto hati-hati.

"Ya. Tousan sadar, Tousan salah. Seharusnya sebagai orang tua, Tousan mendukung pilihan mereka, bukannya menghalangi. Semoga saja mereka mau memaafkan Tousan."

"Dei-nii dan Ino-nee pasti senang mendengarnya. Lagipula mereka tidak pernah marah pada Tousan, justru merekalah yang merasa bersalah karena menentang keinginan Tousan," kata Naruto dengan senyuman.

Minato pun tersenyum dan mengelus lembut kepala Naruto. "Tousan tidak akan mengulangi lagi kesalahan Tousan. Kalau kau pun menolak untuk meneruskan perusahaan keluarga, Tousan tidak akan memaksamu. Kau bebas menentukan pilihan hidupmu."

Naruto menggeleng pelan, "Tidak Tousan, aku tidak akan mengecewakan Tousan. Aku pasti akan belajar jadi pemimpin yang baik seperti Tousan."

Minato menatap haru putra bungsunya itu. "Terima kasih," ucap Minato tulus. Mendengar itu Naruto langsung memeluk Tousan-nya hangat. "Ajaklah kedua kakakmu pulang. Kaasan sangat merindukan mereka."

Naruto mengangguk dalam pelukan Tousan-nya. 'Thanks, God. Akhirnya Engkau mendengar doaku,' Kata Naruto dalam hati.

.

.

Keesokan harinya Naruto berangkat sekolah dengan semangat. Wajahnya tampak berseri-seri, senyuman tidak lepas dari bibirnya. Sudah tidak sabar rasanya ia menunggu jam pulang sekolah. Ingin cepat-cepat menyampaikan kata-kata Tousan-nya semalam pada Deidara. Karena terlalu senang, Naruto jadi tidak fokus berjalan, tanpa sengaja ia terpeleset saat menaiki tangga menuju lantai dua. Hampir saja ia jatuh menyentuh lantai kalau saja tidak ada sebuah tangan yang menahan tubuhnya. Karena takut terjatuh, refleks Naruto memeluk erat tubuh penolongnya itu. Tercium bau maskulin yang menenangkan, penasaran siapa penolongnya, Naruto pun mendongakan kepalanya. Naruto tercekat saat melihat siapa yang tengah dipeluknya.

"Sasuke..." desis Naruto tak percaya. Naruto membeku saat Sasuke menatap matanya. Sesaat mereka larut diam. Sasuke pun tak berkedip menatap mata biru seindah langit itu dengan pandangan yang susah di jelaskan dengan kata-kata. Ia seolah larut dalam pesona Shapire yang mengikat dan menghanyutkan onyx-nya dalam dimensi lain.

Tanpa di sadari, entah siapa yang memulai lebih dulu, wajah mereka saling mendekat, meniadakan jarak di antara mereka sehingga sedetik kemudian bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman lembut yang singkat. Ciuman yang seakan mewakili seluruh isi hati mereka saat itu. Suara bel tanda masuk yang berbunyi nyaring, membuat mereka tersentak dan seketika melepaskan diri satu sama lain. Menyadari apa yang baru saja mereka lakukan membuat Sasuke dan Naruto jadi salah tingkah. Buru-buru mereka membuang pandangan mereka ke arah lain. Masing-masing dari mereka sibuk memikirkan apa yang baru saja mereka lakukan.

'Damn! Apa yang baru saja aku lakukan? Bodoh! Bagaimana mungkin aku bisa menciumnya? Mau ditaruh dimana mukaku nanti. Seharusnya aku bisa menahan diri. Dasar, bodoh. Memang sih, sejak bertemu dengannya aku sudah menyukainya, tapi belum tentu dia juga menyukaiku 'kan? Terdengar konyol mungkin, tapi si Oranye boy-Dobe itu memang sudah mencuri hatiku. Sekarang apa yang harus aku katakan padanya? Bagaimana kalau dia marah padaku? Haah… padahal, akhir-akhir ini hubunganku dengannya sudah mulai membaik,' kata Sasuke meruntuki kebodohannya dalam hati. Perlahan diliriknya Naruto dari ekor matanya. Dilihatnya Naruto tengah diam membelakanginya. 'Apa yang sedang dipikirkannya? Ck sekarang apa yang harus aku lakukan? Okay, karena sudah terlanjur basah lebih baik aku nyebur saja sekalian. Aku ungkapkan saja isi hatiku padanya. Masa bodoh, dia terima atau tidak,' tekad Sasuke dalam hati.

'Astaga! Apa yang baru saja aku lakukan? Bagaimana mungkin, aku bisa berciuman dengan Sasuke? Kami ini kan sama-sama laki-laki. Apa yang akan dipikirkannya tentang aku nanti? Aku memang menyukainya, tapi belum tentu Sasuke juga menyukaiku 'kan? Bagaimana kalau dia malah membenciku? Haah…dasar, payah. Padahal, akhir-akhir ini hubungan kami sudah membaik. Apa sebaiknya aku minta maaf saja padanya ya?' pikir Naruto.

Di saat bersamaan mereka berbalik.

Dengan ekspresi salah tingkah Naruto memulai pembicaraan. "Sasuke, a-aku…"

"…aku menyukaimu, Dobe!" ucap Sasuke memotong kata-kata Naruto. Naruto membeku mendengar kata-kata Sasuke. Apa dia tidak salah dengar?

"A-apa kau bilang, Teme?" tanya Naruto tak percaya.

"Tidak ada siaran ulang, Dobe!" kata Sasuke sambil memalingkan wajah.

"Tapi aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang kau katakan, Teme," protes Naruto.

"Ya sudah. Kalau begitu kau lupakan saja."

"Eh? Enak saja. Mana mungkin aku melupakannya? Aku juga menyukaimu tahu," sergah Naruto kesal. Sesaat kemudian Naruto terbelalak menyadari apa yang baru saja dikatakannya.

Sementara itu, Sasuke tersenyum mendengar kata-kata Naruto. "Jadi…?"

"Jadi apa?"

"Ck, apa aku perlu mengatakannya, Dobe?"

"Mengatakan apa?" tanya Naruto bingung.

"Ternyata kau benar-benar Dobe!"

"Gaah…aku benar-benar tidak mengerti, Teme."

"Sudahlah, lupakan saja! Ayo, kita ke kelas," kata Sasuke sambil beranjak pergi.

"Tunggu, Teme. Ayo katakan…" pinta Naruto seraya menarik lengan Sasuke, menahannya agar tidak pergi.

"Katakan apa?" tanya Sasuke pura-pura tidak mengerti.

"Aaargh…kau benar-benar menyebalkan,Teme!" gerutu Naruto kesal.

"Hn." Kata Sasuke sambil berjalan menuju kelas. Tanpa diketahui Naruto yang berjalan di belakangnya, Sasuke menyunggingkan sebuah senyuman kecil di bibirnya.

Mau tak mau Naruto pun mengikuti Sasuke. Ekspresi kesal di wajah Naruto berangsur-angsur menghilang dan dengan segera berganti, sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Ternyata, Tuhan memang benar-benar menyayanginya. Semalam, ia mendapatkan kabar bahagia dari Tousan-nya dan sekarang, ia baru saja jadian dengan Sasuke. Meski ia sadar sepenuhnya, bahwa hubungannya dengan Sasuke akan mendapat banyak tentangan nantinya. Tapi Naruto percaya, kalau hari-harinya besok bersama Sasuke akan baik-baik saja. Demikian juga hubungannya dengan keluarganya, semuanya pasti akan kembali lagi seperti dulu. Ya, semua pasti akan baik-baik saja.

FIN

A/N:

Mohon maaf, Minna-san…

Chap 2 ini terpaksa Ai re-post, karena ada something wrong sekaligus nambahin beberapa kata yang hilang, tapi ga banyak kok, cuma nambahin 300an kata. Hehehe… *digetok*

Sebenarnya di fic ini banyak scene yang hilang, err…bukan hilang sebenarnya, tapi sengaja Ai potong karena fic ini sebenarnya adalah fic 6 chap yang (terpaksa) Ai jadikan twoshoot. ==a

Jadi harap maklum, kalau gaje…*nyengir* *diinjek reader*

Okay, ada kritik, saran atau flame, silahkan review… ^o^