Update chapter 2! Sebelumnya thanks buat review ya!^^
Note:Buat readers yang ga tau, 'lenjeh' itu tuh bahasa yang diciptain sama temen-temen sekelas aku… artinya kurang lebih sama aja kaya 'lebay'.
Genre:Humour/Romance
Rated:T—aku terlalu takut buat ngasih rate K!
Warning:OOC, gajhe, yaoi, nyeleneh, Death Note Cuma numpang lewat, timeline(kapan dan dimana) gajhe, deelel deelel yang terlalu banyak ampe ga bisa disebutin!
Cat Incident
Chapter 2:
The Cat's Name
By:Vanilla Amano
"Terus… kenapa kalian disini?" tanya Light ga suka pada 2 orang disampingnya.
"Kami diminta L untuk mengawasimu. Simple bukan?" jawab blonde disebelah kirinya, Mello.
"Selain itu, kami memang mau kencan," tambah Matt yang dengan sukses mendapat bogem mentah dari Mello.
"Ini sih namanya 2 orang… bukan seseorang…" (merengut)
"Memangnya kenapa? Mau protes!" (nodongin pistol)
"Sudah nasibmu dicurigai sebagai Kira…" (maen DS)
"…" Light tidak berkata apa-apa. 'Aku memang benci orang-orang ini… awas kalian kalau Death Note sudah kembali padaku… akan kubunuh kalian… khu khu khu…' pikirnya laknat plus psycho.
"Rasanya raut wajahmu berubah sedikit aneh… apa ada hal sadis yang membuatmu senang?" tanya Matt curiga.
"Ah, ngga~" geleng Light (sok) kyut. Matt ampe merinding gimanaa… gitu.
"Ngomong-ngomong… kita mau kemana sih?" tanya Mello telat banget.
"Mau ke Pet Shop," jawab Light. "Panjang umur. Itu dia tokonya."
Akhirnya mereka bertiga memasuki Pet Shop imut dan lucu yang baru aja ditunjuk Light.
"Marmut… lucunya~" kata Matt sambil ngedeketin kandang marmut.
"Ia ya, lucu," timbrung Light sambil ikut-ikutan ngedeketin kandang marmut. "Yang ini mirip Ryuuzaki… bulunya item kusem dan putih pudar… daritadi juga makan mulu…"
"Kalo yang bulunya pirang gajhe en makan coklat(marmut makan coklat?) ini mulu kaya Mello… jadi pengen aku cium…"
"Ia ya…"
"Sebelum obrolan kalian makin ngelantur coba kita bahas lagi kenapa kita ada disini!" seru Mello kesal sambil ngelempar sepatunya ke kepala Light dan Matt.
"Benar juga… aku belum memberi tahu kalian ya…" kata Light. 'Yah, walaupun aku merasa itu ga perlu…' Akhirnya Light menjelaskan mengenai anak kucing yang ditemukan L tadi.
"Jadi sebelum Ryuuzaki membunuhnya, aku harus membunuhnya lebih dulu—eh, salah. Maksudnya, aku harus menyelamatkannya lebih dulu dengan mencari makanannya," Light mengakhiri ceritanya.
"Lalu, anak kucing itu dimana sekarang?" tanya Matt.
"Aku meninggalkannya bersama Ryuuzaki dengan sebelumnya membuatnya berjanji untuk tidak memberi makan apa-apa terhadap kucing itu…" jawab Light sambil mulai melihat-lihat makanan kucing.
"Hmm… anak kucing ya?" gumam Mello. "Lumayan susah untuk memelihara anak kucing. Apalagi yang baru lahir… berapa umurnya?" tanyanya.
"Entahlah. Dilihat dari ukuran badannya sih kayanya baru umur 2-3 bulan." Jawab Light acuh.
"Rupanya memang baru lahir…" Mello bergumam-gumam sendiri.
Light mengambil salah 1 kaleng makanan kucing. "Ini saja deh… lalu untuk susunya…" dia bersiul-siul sambil berlalu ke rak susu. Tiba-tiba, seseorang menyambar bahunya kasar. "Adaauw! Apa-apaan sih!"
"Lo yang apa-apaan bego!" sembur Mello. Hujan lokal terjadi… "Namanya anak kucing baru lahir ga boleh sembarangan dikasih makan!"
"Hah? Kucing ya… kucing kan? Sama aja…"
"Enak aja! Jangan meremehkan bangsa kucing ya! Di film Ju-On yang terakhir para tokohnya tuh kena sial gara-gara ngelindes kucing! Lo mau digentayangin anak kucing itu gara-gara ngasih makan ga bener, hah!" (kali ini banjir lokal)
"Terus… harus diapain dong…?"
"Pertama-tama, anak kucing itu belum disapih! Jadi berikan laktoferin ini untuknya! Apa tidak susah untuk minum dari kaleng sekecil itu? Lalu belikan mainan lunak untuk digigit-gigit agar dia tidak menggigit-gigit jarimu terus. Giginya baru tumbuh, jadi pasti gatal rasanya. Selain itu belikan bola, benang dan mainan lainnya agar dia tidak stress. Lalu jangan lupa belikan pasir dan ajarkan dia untuk buang air pada tempatnya."
"Oh! Ternyata memelihara anak kucing tidak boleh sembarangan! Baiklah! Jadi lebih baik beli merk yang mana!" tanya Light antusias.
"Tidak perlu merk khusus yang penting berikan dia yang ada laktoferinnya!"
"Oh! Terus!"
"Lalu—"
Dan obrolan mengenai cara memelihara kucingpun berlanjut…
"…" Matt menatap mereka berdua dengan tatapan BT plus cemburu. 'Ternyata Mello maniak sama kucing… sampe ga keberatan ngobrol banyak sama orang yang dicurigain sebagai Kira dan lupa makan coklat begitu masuk kedalam Pet Shop… padahal biasanya dia stress kalo aku ajak beli game baru…'
"Tadaima…" seekor—eh, seorang cowo tampan berambut madu memasuki ruangan tempat biasanya L berada. "Ryuuzaki, aku pulang… kau dimana?" panggil Yagami Light sambil membereskan belanjaan yang dia bawa. Loh? Déjà vu? (referensi:baca chapter pertama)
Tidak ada jawaban. 'Dia kemana sih? Mati kedinginan lagi… ga mungkin ah… tiap hari juga dia terkurung di gedung penuh pendingin ruangan ini…' batin Light BT. "Ryuuzaki~" panggilnya sekali lagi. Masih tidak ada jawaban.
Light akhirnya memutuskan untuk mencari L disekeliling ruangan. Dia sempat berhenti di depan cermin. Kali ini bukan untuk mengagumi keperfectannya, tetapi untuk mengingat apa yang Mello katakan tadi di depan pintu masuk gedung L.
Flashback mode:on…
"Terima kasih ya untuk semuanya. Apalagi tentang mengajariku soal cara memelihara anak kucing," kata Light tulus. Tumben. *dibunuh Light*
"Yah, sama-sama deh," Matt angkat bahu.
"Oh ia. Aku lupa mengatakan 1 hal yang lebih penting lagi…" kata Mello tiba-tiba.
"Ng? apa itu?" tanya Light penasaran.
"Kau sudah memberikan kucing itu nama belum?" tanya Mello serius.
KRIK… KRIK…
Hening…
"Bye. Terima kasih untuk semuanya…" kata Light sambil memasuki gedung.
"Hei, aku serius bodoh!" sembur Mello lagi. "Memberi nama itu penting loh, jangan salah sangka. Ini kan sama saja seperti proses memberi nama pada anakmu yang baru saja lahir. Lagipula kan tidak enak memanggil kucing yang tidak punya nama." Jelasnya detail.
"Biasa saja. Aku bisa memanggilnya 'Meong'," kata Light acuh.
"Tidak sama! Meong itu nama umum tau! Tidak ada arti dan chemistrynya!" sembur Mello lagi. Light sama Matt sampai harus pake payung… "Dengar ya. Kau tidak mau kan punya anak yang arti namanya tidak ada?"
"Memang sih…" akhirnya Light khilaf. (lho?)
"Ya sudahlah! Kami kembali dulu ya! Ada 'urusan' yang harus kuselesaikan dengan Mello di kamar hotel!" pamit Matt sambil memeluk Mello dari belakang.
"Bodoh!" Mello menonjok Matt dengan sukses. "Pokoqnya ingat apa yang kukatakan… kalau tidak, kau akan menyesal…" ancamnya.
Flashback mode:off…
Light menatap wajahnya dicermin. "Hh… memberi nama ya…" dia menghembuskan nafas cape dan menunduk pasrah. "Diantara semua perkerjaan itulah yang paling susah…"
"Apalagi… kalau Mello bilang begitu…" kata Light sambil mendongak. "Proses memberi nama pada anak yang baru lahir… memangnya tuh kucing anak gue apa!" kemudian dia terdiam.
"Ryuuzaki kan yang menemukannya… seperti ibu yang baru melahirkan… lalu aku kemudian main merebut kucing itu dari pelukannya dan bermain dengannya kemudian membeli semua keperluannya karena Ryuuzaki tidak bisa(baca:tidak mau) keluar… seperti…" wajah Light memerah. "Seperti… ayah yang bermain dengan bayi yang baru lahir dan membelikan popok dan segala macamnya…"
"Huwaaa! Apa yang kupikirkan!" Light stress sendiri. "Sadar Yagami Light! Dia adalah musuhmu dalam menjadi dewa dunia baru!" batinnya frustasi. Kemudian dia menunduk lagi. "Yah, walaupun menurutku Ryuuzaki tidak jelek juga jadi ibu…" "Istriku…"
BWOOOOSSH!
Wajah Light merah kaya kepiting rebus dengan sukses. 'Cepat cari Ryuuzaki dan buang kucing itu agar aku tidak berpikir ngelantur kaya begini!' "Oi, Ryuuzaki!"
"Ryuuzaki!"
"Ryuuzaki!"
"Ryuuzaki!"
"R-Y-U-U-Z-A-K-I!"
BERISIK! *lempar Light pake sandal*
"Aduh… sandal darimana tuh?" Light meringis kesakitan. Tiba-tiba, dia menyadari bahwa pintu kamar tidur Ryuuzaki(yang nyaris ga pernah dipake) terbuka. Dia berjalan pelan menuju kamar itu dan membuka pintu pelan-pelan.
'KIET'
L tertidur dengan posisi kucing melingkar diatas tempat tidurnya sambil menaruh sebelah tangannya yang kurus diatas badan si kucing. Sementara si kucing itu sendiri meletakkan badannya begitu dekat dengan L, seakan mencari perlindungan dari dinginnya pendingin ruangan disana. Benar-benar terlihat seperti malaikat!
(L tidur! Bener-bener kejadian langka! Tapi dia perlu tidur buat keperluan fic ini jadi saya kasih dia obat tidur, kekeke… *ketawa laknat*)
Light menatap kedua sosok itu dengan wajah kaya mau nangis saking bahagianya. Dia menyodorkan tangannya untuk mengelus wajah L. 'Apa yang kulakukan!' tapi ga jadi karena dia keburu narik tangannya.
"…"
'Manisnya…' pikir Light. 'Kenapa kau harus jadi musuhku?'
"…"
'Ah, benar juga,' Light mengeluarkan HP dari saku jaketnya. HPnya adalah HP keluaran paling baru, paling canggih, paling ya gitu deh ngalahin BB(black berry) dan memiliki resolusi kamera yang lebih tajem dari celurit. Dia memosisikan kamera itu dengan angle yang tepat, dan…
'JEPRET'
Dia memotret L dan si kucing dari berbagai angle. Udah kaya stalker aja… 'Hehe…' Light tertawa mesum sambil melihat hasil jepretannya yang berjumlah lebih dari 30 biji. (buset! Gue juga mau ntuh foto!)
'Dengan ini foto almarhum(lha?) beres… kau bisa tenang, Ryuuzaki…' pikir Light laknat. 'Ah, kalau lebih dekat mungkin aku bisa dapat angle yang lebih bagus… close up mungkin…' dengan berpikir begitu, dia mendekati ranjang(dan wajah Ryuuzaki) lebih dekat. Kemudian, dia tersandung sesuatu. (apapun sesuatu itu aku senang dia tersandung!)
"Owaa!" kata Light kaget. Kemudian…
'CUP'
"…"
"…"
"…"
Yagami Light, terbujur kaku selama beberapa detik ketika kecelakaan tak terduga yang membuatnya MENCIUM bibir L, Ryuuzaki, Daneuve, Coil, siapa aja bolee… biar saya jelaskan.
Ketika Light terjatuh, tangannya berhasil menemukan pegangan, antara lain badan L. Kemudian, wajahnya terjatuh tepat didepan wajah L. dan secara kebetulan, bibir mereka bertemu.
Ketika sadar, Light langsung menarik badannya menjauh dari badan L. 'Manis… rasa taiyaki… dia habis makan taiyaki?' pikirnya sambil menyentuh bibirnya yang sudah kehilangan keperjakaannya oleh seekor panda tanpa sengaja. Wajahnya langsung berubah merah padam tanpa melewati merah terlebih dahulu.
"Ngh… Light-kun…?" suara baritone L membuat Light melompat dengan sukses.
"Waa! Ryuuzaki! Kau sudah bangun!" serunya kaget.
L bangun dan duduk dengan posisi normal diatas tempat tidurnya. Dia mengucek-ucek mata pandanya dengan imut. "Saya tertidur ya… berapa lama?" tanyanya.
"Entah. Aku baru datang. Tumben kau bisa tidur…" kata Light. "Benar juga, aku sudah membeli semua perlengkapan untuk kucing kita. Aku duluan keluar ya!" buru-buru dia melangkah keluar dari kamar itu.
"… kucing 'kita'?" gumam L. "Ngomong-ngomong… tadi ada apa diatas bibir saya?" tanyanya sambil mengelus bibirnya bingung.
'Kena deh… ciuman pertamaku… O/O' batin Light malu dengan wajah masih merah. Dia teringat kembali dengan kata-kata Mello dan khayalannya tadi. "Aaarrrggghh! Sudahlah! Jangan dipikirkan!"
"Apanya yang jangan dipikirkan, Light-kun? Alasan mengapa kau jadi Kira?" tanya L dari belakangnya sambil bawa-bawa tuh kucing.
"Ryuuzaki… bisa ga sih jangan nuduh aku Kira sehariiii… aja… please…" pinta Light bosan. Dia juga lagi stress lagi gara-gara masalah dirinya yang udah ga perjaka itu lagi, jadi pengen lebih bunuh L deh.
"Maaf. Itu tidak bisa. Sudah merupakan habitat saya untuk memojokkan orang yang saya anggap mencurigakan," kata L.
'Memojokkan…' batin Light. Wajahnya memerah lagi. "Gyaaa! Bisa ga sih stop mikirin hal-hal kaya gitu!" dan dia kembali stress dengan sukses.
"Light-kun?" panggil L kebingungan.
"Ya? Ada apa?"
"Wajah Light-kun merah. Tidak demam kan?"
"Tentu saja tidak!"
"Hmm…" L mengamati wajah Light dengan mata panda plus 'pecandu'nya. "Baiklah kalau begitu… ayo kita lihat rame-rame apa saja yang dibeli Light-kun~"
"Eh, ia…" Light mengeluarkan semua barang belanjaannya. "Semua ini aku beli atas rekomendasi Mello." Jelasnya ga penting banget.
"Mello…?" tanya L memastikan. Light mengangguk mantap. "Ternyata dia maniak kucing juga… saya pikir dia hanya maniak coklat." Katanya kurang ajar.
"Kau bisa dibunuh bila dia mendengarmu bicara seperti itu…" kata Light tapi dicuekin L. "Oh ia, ngomong-ngomong Mello juga bilang 1 hal lagi sama aku."
"Apa itu?"
"Kita harus memberi nama anak kucing itu," Light menunjuk si kucing dengan sebelah mata.
SIIING…
"…"
"…"
"Itu serius?" tanya L. lagi-lagi Light mengangguk. "Huh, merepotkan…"
"Ibu jahanam!" batin Light. "Bagaimana kalau Tama?" usulnya.
"Nama itu terlalu sederhana. Saya tidak suka. Banyak kucing dengan nama Tama." Tolak L tegas.
'Lalu kenapa! Yang penting tuh kucing punya nama kan! Dan kenapa Ryuuzaki bisa tau kalo Tama itu nama umum buat kucing! Dia nonton anime-kah!' batin Light. (lagi)
"Hmm…" L berpikir-pikir. "Shiro." Usulnya.
"Ngga bisa. Itu nama anjing. Lo mau dibunuh Mello gara-gara salah ngasih nama?"
"Lalu Light-kun punya ide apa?" tanya L.
"Nama ya…?" Light mikir. "Ryuk, Rem, Jealous… gimana kalo pilih salah 1 dari nama itu aja?" usul Light laknat. (Ryuk, Rem sama Jealous(?) bersin berjamaah).
"Nama-nama yang Light-kun usulkan aneh semua. Saya tidak suka," tolak L lagi. "Bagaimana kalau… Shiranui?" usulnya yakin.
"Dia didominasi warna item sementara warna putihnya Cuma dikit jadi ga bisa pake nama itu. Lagian nama itu udah dipake di komik lain yang ceritanya mengenai pelayan pecundang yang terlilit utang." Kali ini Light yang menolak.
"Kalau begitu…" L mengangkat si anak kucing itu keatas kepalanya. "Kurogane bagaimana?" usulnya.
"Hee?"
"Warnanya hitam, dan imagenya mendekati Kurogane dari Tsubasa Crhonicle… walau Kurogane yang ini lebih manja sih…" jelas L. "Lagipula aku suka nama itu." Katanya sambil tersenyum dengan imut. Kurogane juga ikut mengeong senang.
"Lihat kan? Kurogane juga senang dengan nama itu," kata L senang. "Bagaimana Light-kun?"
"…" Light tidak menjawab. Tapi sejurus kemudian dia tersenyum. "Terserah kau saja. Kau kan ibunya." Katanya.
Kali ini giliran wajah L yang memerah. "Ibu?" tanyanya. "Maksud Light-kun apa!"
Omake:
Jam 3 pagi, terjadi percakapan antara Mello dan Matt yang masih terbangun…
"Ah…" kata Mello mendadak.
"Ada apa, Mels?" tanya Matt bingung.
"Aku lupa bilang ke Light sialan kalo anak kucing tuh harus minum susu setiap 3 jam sekali… dia tau ga ya?"
"…"
"…"
"Tenang aja~ kan ada L~ dia kan insomnia sejati~ jadinya pasti dia bangun terus buat ngurusin tuh kucing~" hibur Matt.
"Tapi entah kenapa aku lebih mempercayai Light untuk mengurus kucing itu…" kata Mello dengan ekspresi muka kaya di komik komedi.
Sementara itu L dan Light… Light baru aja bangun tidur gara-gara denger teriakan(baca:eongan) putus asa Kurogane…
"Ryuuzaki! Botol susunya jangan disodokin begitu!"
"Eh? Memangnya kenapa?"
"Dia masih bayi! Kau bisa membunuhnya!"
"Begitu ya? Ya sudah, Light-kun saja yang mengurusnya…"
"Meong meong!"
"Gyaaa! Berikan dia padaku, Ryuuzaki!"
End of chapter 2… aku bayangin tuh kucing kaya kucingku dulu yang udah mati… dan namanya emang si item. Ini jadi fic kenangan antara aku dan si item! Hweee! *nangis seember* review please!
