Halo readers! Bertemu lagi dengan saya! Buat updet chapter 3 rada-rada lama… soalnya saya lagi terjangkit virus MM akut, jadinya saya fokusnya ke fic tentang mereka dulu, hhe~ ampun readers…

Genre:Humour/Romance

Rated:T—aku terlalu takut buat ngasih rate K!

Warning:OOC, gajhe, yaoi, nyeleneh, Death Note Cuma numpang lewat, timeline(kapan dan dimana) gajhe, deelel deelel yang terlalu banyak ampe ga bisa disebutin!

Cat Incident

Chapter 3:

Tujuan Kurogane

By:Vanilla Amano

"Hoaaah…" Light menguap lebar didepan TV yang sedang dia tonton. Dia mengucek-ucek matanya. "Hmm… melihara anak kucing tuh susah ya… apalagi yang baru lahir…" keluhnya.

"Pemirsa! Akhirnya tersangka pelaku pembunuhan berantai antara tikus got dan ular sawah tertangkap juga!" kata announcer di berita yang lagi dia tonton. "Tersangka bernama Vanilla Amano! Tersangka tertangkap sedang menjual sate ular di sekitar pasar kaget!"

Light menatap foto tersangka kasus pembunuhan itu dengan tatapan ingin(kyaa! Jadi malu!). maksudnya tatapan ingin membunuh(oh, ga jadi malu deh)… 'Sialan… coba ada Death Note sekarang… gue bisa ngelampiasin stress gue dengan membunuh para kriminal!' batin Light frustasi.

"Apa yang sedang Light-kun pikirkan sekarang?" tanya L yang mendadak muncul udah kaya tuyul aja.

"Eh, Ryuuzaki… lagi ga mikir apa-apa koq…" kata Light tanpa semangat. La ialah! Semaleman dia ga tidur demi melindungi Kurogane biar ga kebunuh sama L! "Oh ia, Watari kapan pulang?"

"Kelihatannya untuk sementara dia tidak akan pulang… terjadi badai kambing(?) di New York, jadi pesawat untuk sementara tidak bisa beroperasi." Jawab L.

"Oh…" tanggap Light singkat.

"Hmm…" L 'duduk' disebelah Light. "Light-kun ingat apa yang Light-kun katakan kemarin?" tanyanya tiba-tiba sambil ngemut jempol kaki—eh, jempol tangannya.

"Eh? Yang mana?" kata Light.

"Itu loh… yang tentang terserah saya… soalnya kan saya ibunya…" jelas L.

"Oh! Yang itu! Mana mungkin aku lupa! Hahaha!" Light ketawa gajhe. 'Gara-gara itu… aku jadi ingat ciuman ga sengaja kemarin…' wajahnya memanas, tapi ga nyampe blushing.

"Syukurlah Light-kun masih ingat…" L manggut-manggut. "Tapi jujur saja… menurut saya…" dia menatap wajah Light dengan pandangan lembut. "Light-kun… lebih cocok jadi ibu…(karena kau melindungi Kurogane dengan sepenuh hati)"

'DEG'

Jantung Light berdebar-debar kaya lonceng dipukul palu. 'Tenang, Light! Kau bukan gay!' batinnya yakin. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia tahu bahwa sejak 'kecelakaan' kemarin itu dia telah menyukai L. Dari jauh sebelum itu malahan!

Lalu, menatap wajah L yang lembut dari jarak sedekat ini… (mau!)membuat Light jadi kehilangan kerasionalannya. "Ryuuzaki…" panggilnya pelan.

"Eh?"

Light mendekatkan wajahnya ke wajah L yang hanya berjarak kurang dari 10 cm dari wajahnya sendiri. L kaget, tapi tidak menghindar. Kyaaa! Mau!

"Miaaaaw!"

Tapi nyaris saja mereka berciuman, Kurogane mengganggu dengan cara melompat keatas kepala Light. Sehingga cowo ganteng tapi sadis itu kehilangan keseimbangannya dan malah jatuh dari sofa.

"Waa!"

"Ah, Light-kun! Kau tidak apa-apa!" seru L kawatir.

"Kayanya… ga ada yang kurang deh…" kata Light kesakitan dari bawah. Dia bangkit berdiri sambil mengangkat Kurogane ditangannya. "Kurogane… laen kali ga boleh gitu ya…" 'Sialan! Gue udah mau nyium L malah lo gangguin!'

"Meoong~" kata Kurogane manja. Light jadi ga tega mutilasi dia.

"Anu… Light-kun…" panggil L. otomatis Light lompat ditempat. Mending kalo jadi nyium. Ini udah ga jadi, ketangkep basah lagi sama korbannya.

"Ia?" tanya Light ragu-ragu.

"Tadi itu… Light-kun hampir—"

"Ga usah dipikirin, Ryuuzaki! Tadi itu ada bulu mata jatoh di mukamu! Jadi aku bermaksud mengambilnya! Aku bukan mau menciummu koq!" jelas Light buru-buru sebelum L sempat mengatakan sesuatu yang lain.

"Oh… begitu…" anehnya, L kelihatan sedikit kecewa. Dia bangkit berdiri dan meraih Kurogane dari tangan Light. "Sudah waktunya Kurogane minum susu… saya akan memberinya susu." Katanya muram sambil berjalan ke dapur.

"…" Light bengong ditempat. 'Loh? Koq…?' pikirnya bingung.

"Lihat kedua pasangan ini, Matt. Menyedihkan sekali bukan?" tiba-tiba suara Mello terdengar dari pintu.

"Gyaa! Mello!" jerit Light kaget.

"Betul sekali, Mels. Mereka menyedihkan sekali. Ga kaya kita," suara Matt menyusul kemudian.

"Hyaa! Matt!" jerit Light kaget.

"Kalian mah pasangan bego," suara Near ikut-ikutan sejurus kemudian.

"Kyaa! Near!" jerit Light makin aneh.

"'Kyaa'? ga elit. Lo kan cowo," kata Mello. 3 anak didik L itu udah pada berdiri didepan pintu masuk. "Eh, eh, kita masuk ya? Ga boleh bilang 'ga' loh!" ancam Mello sambil masuk kedalam.

"Kalo Mello boleh masuk artinya aku juga boleh~" Matt nyusulin Mello kedalam.

"…" Near tanpa banyak omong maen nyelonong aja. Light cengok akut ditempat.

"Kenapa kalian ada disini!" seru Light histeris sambil nunjuk-nunjuk MMN.

"Koq nanya? Aku datang buat ngeliat keadaan anak kucing itu," jawab Mello sambil ngeluarin coklat dari kantong celananya terus dimakan.

"Dimana ada Mello, disitu ada Matt. Bukannya begitu ya?" jelas Matt singkat sambil maen NDS yang dia bawa.

"Aku penasaran sama anak kucing…" kata Near. "Kucing biasa aja aku belom pernah liat…"

'Kesian banget sih nih bocah…' batin yang lain prihatin.

"Terus? Anak kucingnya mana?" tanya Mello.

"Oh. Kurogane lagi didapur sama Ryuuzaki. Dia lagi dikasih makan," kata Light. Kemudian, L keluar dari dapur sambil nenteng Kurogane.

"Mello, Matt, Near? Kalian ngapain disini?" sambutan L beda daripada yang lain… (promosi dikit)

"Lucunya~" kata Near dan Mello bersamaan begitu Kurogane tertangkap dimata mereka. Matt sibuk maen NDS.

"Apa? Ini? Oh, maksudnya Kurogane," L menurunkan Kurogane dari tangannya. "Saya baru saja mau memberinya makan."

"Ryuuzaki, kalau kau lupa itu tugasku," kata Light. "Aku ga ngebiarin dia yang ngasih makan Kurogane kalo ga mau Kurogane mati." Dia berbisik ke Mello.

"Ah~" Mello mengangguk mengerti. "Boleh ga aku yang ngasih dia makan?" pintanya dengan puppy eyes.

"Tapi… Light-kun…" L melirik Light sekilas. Light tersenyum.

"Ga pa-pa. kasih aja." 'Paling ga Mello ga bakal bunuh Kurogane.'

"L-san, aku juga mau~" tiba-tiba Near ikutan memohon pake puppy eyes.

"Eh, tapi Mello…" L melirik Mello sekilas. Mello bersungut-sungut.

"Udah kasih aja! Toh, aku bukan anak kecil!"

Light ikutan senyum. "Ia, ga pa-pa koq. Kasih aja." 'Near juga ga bakal bunuh Kurogane kan?'

Beberapa detik kemudian… (kepemilikan Kurogane ada pada Near)

"Near! Lepaskan tangan jahanammu dari Kurogane!" (Mello)

"Botol susunya jangan dicekokin gitu napa! Bukannya makan dia malah bakal mati keselek!" (Light)

"Tapi Kuro-tan kan Cuma kucing…" *ngelepasin botol susu dari mulut Kurogane* (Near)

"Tetep aja makhluk hidup, begoooo!" (Light plus Mello)

"Meooong… T.T" *nangis* (Kurogane)

Sama aja kaya L… tapi L masih mending, masih ada segi kemanusiaan—eh, kehewanannya… kalo Near? Dia harusnya ditangkap oleh komnas HAB! (HAB:Hak Asasi Binatang)

Beberapa detik kemudian… (kepemilikan Kurogane ada pada Matt yang ikut-ikutan)

"Jadi, kalo kita pencet tombol 'start', otomatis gamenya pasti ke pause. Ngerti, Kuro-kuro?" *didepan TV sama PS3* (Matt)

"Meooong~" *mencet-mencet stik PS* (Kurogane)

"Kucing jangan diajarin maen game dong!" (Mello)

"Tidaaak! Jadi apa Kurogane nanti!" (Light)

"Emang kenapa? Suka-suka gue mau ngajarin Kuro-kuro apaan!" (Matt)

*bunuh Matt* (Light plus Mello)

Ini mah… bisa-bisa masuk Guiness Book of Record… kucing pertama yang bisa maen game en menang kompetesi PB…

Beberapa detik kemudian… (kepemilikan Kurogane ada pada L)

"Ayo, Kuro-wan… minum susunya ya~ jangan maen game aja~" *nyodokin botol susu* (L)

"Miaa—! *keselek susu*" (Kurogane)

"Kyaa!" (Mello)

"Kucing guee!" (Light)

"Salah… ini kucing kita bersama Light-kun…" *masih nyekokin Kurogane* (L)

*rebut Kurogane* (Light)

Udah kewajiban buat Light untuk merebut Kurogane sebelum lebih di torture sama L yang sadis sama binatang itu…

Beberapa detik kemudian… (kepemilikan Kurogane ada pada Light yang maen rebut aja)

"Kuro-rin! Kau masih hidup kan! Masih bersama papa kan! Ini angka berapa!" *ngacungin 3 jari didepan muka Kurogane* (Light)

"Meooong…" *terjemahan:mana gue tau!* (Kurogane)

"Kuro-rin… koq kayanya kamu sensi banget sih sama aku?" (Light)

"… dia jadi stress…" (Mello)

"Gimana kalo Mello aja yang urusin Kuro-wan?" (L)

Light akhirnya jadi eror dan stress sendiri ngurusin anak-anak, piaraan en istrinya… siapa sih yang ga stress!

Beberapa detik kemudian… (kepemilikan Kurogane ada pada Mello yang diberi kepercayaan) (author cape ngomentarin!)

Mello sedang meminumkan susu pada Kurogane dari botol susu sambil duduk disofa. Disini dia bener-bener kaya cewe!

"Wah, Mello kelihatan alami ya…" puji Light.

"Yah, wajar aja. Udah kebiasaan ngurusin kucing tetangga sih," kata Mello (sok) rendah hati.

"Mello akan jadi ibu yang baik…" komentar L.

"Ya. Ibu dari anakku…" kata Matt sambil meluk Mello tiba-tiba. Sebuah bogem mateng dari Mello mendarat diatas wajah Matt.

"Oh, Mello ga mau jadi ibu dari anaknya Matt? Kalo gitu jadi ibu dari anakku aja~" ajak Near sambil meluk-meluk Mello. Sebuah bogem mateng mendarat diatas wajah Near, kali ini dari Matt. Alhasil mereka tonjok-tonjokan.

"KALIAN KENAPA JADI GILA SIH!" seru Mello histeris.

"Salahin tuh kucing! Keimutannya udah membuat kita kehilangan kerasionalan kita!" balas Near dan Matt bersamaan.

"Ga ada urusannya kaleee sama kucing!"

"Err, kayanya Kurogane tersiksa deh kalo kamu marah-marah gitu," kata Light cemas sambil merhatiin Kurogane yang minum susunya kesendat-sendat.

"Oh, ia. Aku lupa," Mello kembali tenang. "Tenang saja, L. menjadi ibu memang tidak mudah… tapi dibalik kesulitan pasti selalu ada jalan… jangan menyerah ditengah jalan, nanti malah game over." Katanya bijak.

"…" L cengok. "Mello, bicaramu seperti ibu-ibu yang sudah memiliki jutaan anak saja…" katanya.

"Yah, sebelum jadi mafia aku sempat kerja di panti asuhan sih… jadi wajar aja deh," Mello angkat bahu. Oh my kambing, Mello pernah jadi matron? O.o

'Panti asuhan? Jutaan anak? Memang bisa dibilang begitu sih…' batin Near.

"Mengajar anak-anak itu menjadi mafia yang baik tidak mudah… cara menggunakan senjata api, menindas orang dan…"

"Yak, cukup! Ga usah dilanjutin!" potong Light sebelum omongan Mello lebih ngelantur lagi.

'Jadi yang dia maksud itu para calon mafia…' batin Near(lagi).

'Pantes tuh anak-anak pada betah… kalo bukan calon mafia juga udah kabur dari dulu kaleee…' batin Matt yang perhatiannya untuk sejenak teralih dari NDS.

"Hmm…" L memperhatikan Mello yang masih jadi 'ibu' Kurogane. "Mello, bisa ikut saya ke ruang belakang sebentar? Jangan lupa bawa Kurogane." Pintanya tiba-tiba.

"Eh? Buat apa?" tanya Mello.

"Ada yang ingin saya tanyakan." L berjalan pergi dari situ. Jadi mau tapi malu(?), Mello mengikutinya. Yang masih ada di ruang Utama langsung pada dag-dig-dug gajhe.

"Wah, mereka mau ngapain tuh?" tanya Near datar.

"Jangan pikirkan hal yang macam-macam, Near. Mereka kan sama-sama cowo," kata Light garing, berusaha menghibur diri sendiri.

"Terus kalo sama-sama cowo kenapa?" tanya Matt horror.

'Aku lupa kalo Matt sama Mello pacaran!' "Ng-ngga pa-pa koq, hhe…" Light ketawa garing.

"Huh. Dasar manusia aneh," kata Matt sambil lanjut maen NDS lagi. Bunyi 'pip-pep-pop' menggema diseluruh ruangan. Near, yang ga ada kerjaan juga, mulai nyusun Menara kartu dengan kartu yang selalu dia bawa. Light, ga ngapa-ngapain.

15 menit kemudian…

Mello dan L kembali dari ruang belakang. Tampang Mello kaya yang baru aja ngajarin jutaan calon mafia cara jalan yang bener, sementara tampang L puas banget kaya yang abis dibeliin toko Holland Bakery diseluruh dunia.

"Ah, kalian sudah kembali! Akhirnya…" sambut Light yang daritadi ga ngapa-ngapain. Dia udah menanti-nanti kapan 2 orang itu bakal keluar… "Kalian ngapain didalam?" tanyanya curiga.

"Ga ngapa-ngapain!" jawab L ceria(!).

"Gila… cape banget gue… Matt, Near, kita pulang!" seru Mello sambil narik Matt dan Near kearah pintu. "Awas lo L, kalo masih belom bisa 'melakukannya' dengan benar! Gue udah ngajarin sampe 'cape' begini!" ancamnya. Kemudian, dia membanting pintu dibelakangnya sambil masih menyeret Matt dan Near.

"…" Light bengong. "Kamu ngapain sama Mello didalem!" tanyanya histeris sampe ludahnya muncrat-muncrat.

"Meooong~" Kurogane melompat ke pelukan L.

"Mello mengajarkan saya bagaimana cara mengurus anak kucing yang baik," jawab L biasa banget. Light cengok. "Light-kun memangnya memikirkan apa?" tanyanya curiga.

"Eh? B, bukan apa-apa koq. Aku hanya penasaran saja!"

"Hmm… dari pengamatan saya sebagain detektif nomor 1(caile, narsis banget L!), Light-kun barusan saja memikirkan hal yang tidak baik."

"Hee?"

"Ternyata Light-kun pervert… tidak seperti yang saya duga. Saya pikir Light-kun baik, pintar dan terpelajar. Ternyata sama saja dengan cowo-cowo pada umumnya." Kata L sambil menaruh Kurogane dipundaknya dan berlalu ke dapur. Oh my kambing! L tau cowo laen selaen Light!

"Ryuuzaki! Tidak, kau salah paham! Aku tidak seperti itu!" sangkal light panik. Padahal bener tuh…

"…" Kurogane menatap Light tanpa ekspresi. Tapi kemudian… "Miaw…" (terjemahan:Sesuai rencana…) katanya sambil tersenyum laknat dengan muka kucingnya.

Light melongo 5 cm. 'Kurogane? Jadi ini rencanamu? Membuat Ryuuzaki membenciku supaya perhatiannya sepenuhnya tertuju padamu? Dasar kucing jahat! Dia bahkan lebih jahat dari Kira!'

Dan sejak detik itu, Kurogane dan Light bersaing dalam memperebutkan perhatian L.

Kayanya mulai dari chapter ini kedepannya bakal penuh dengan kegajean en ketidak jelasan deh! End of chapter 3! Saya bakal berusaha biar cepet updetnya! Nyahahaha~ review please!w