Yeeeyy! Finally chappie hampir terakhir dari sekuel Cat Incident! Mungkin bakal banyak ketidak jelasan yang menyelimuti chapter ini… kenapa? karena saia NGANTUK BERAT pas ngarang chappie ini… koq bisa? INI SEMUA KARENA SEKOLAH SIALAN YANG BILANG HARUS NGAMBIL IJAZAH BESOK! TAUNYA MASIH MINGGU DEPAN! DASAR SEKOLAH BRENGSEK! JAM TIDUR GUE BERKURANG TAU! Eh, koq jadi curhat? Eniwei, enjoy the story please! XD *ngakak setan sendirian*

Genre:Humour/Romance

Rated:T—aku terlalu takut buat ngasih rate K!

Warning:OOC, gajhe, yaoi, nyeleneh, Death Note Cuma numpang lewat, timeline(kapan dan dimana) gajhe, deelel deelel yang terlalu banyak ampe ga bisa disebutin!

Cat Incident

Chapter 6:

Our Feelings

By:Vanilla Amano

Light—udah pake baju—akhirnya berhasil keluar dari gedung tempatnya tinggal bersama L. kenapa berhasil keluar? Karena dia panik(karena L ngilang kaya tuyul) dan ga enak badan(masuk angin mungkin?), beberapa kali dia salah mencet tombol lift dan turun dilantai yang tidak seharusnya dia datangi.

Setelah berada diluar, Light langsung bersin-bersin ga terkendali. "Hattchhiii! Hatcchiii! Srooott—buset deh! Dingin amat diluar!" katanya disela-sela bersin berantainya. Sebenarnya, ga terlalu dingin cuacanya. Cuma karena Light lagi ga enak badan, jadinya cuaca kaya begini udah dia anggep dingin aja. Padahal cuacanya kaya di Indonesia pas musim hujan loh! (itu dingin ga sih? Karena menurut saia ngga terlalu… :p)

"Light? Kamu ga papa? Koq bersinnya brutal begitu?" tiba-tiba suara familiar itu terdengar dari samping kanannya. Light menoleh.

"Matt! Tepat seperti yang kubutuhkan!" sorak Light ceria ketika melihat bahwa Matt yang memanggilnya. Kelihatannya cowo bergoggle itu habis dari supermarket, terlihat dari tangannya yang memegang plastik berisi berpak-pak rokok malboro light. (O.o) Tapi… ada yang aneh dengan keadaan Matt. Kepalanya diperban, banyak bandaid tertempel dibagian badannya yang terekspos, begitu juga bekas cakaran dan gigitan disana-sini. (LOL)

"Ng… kamu kenapa, Matt?" tanya Light kebingungan. Sebenarnya dia sudah bisa menebak, setengah dari luka ini pasti diakibatkan 'kejadian' yang terjadi beberapa waktu yang lalu itu.

"This is the consequences if you asked Mello to have sex with you when he's mad…" jawab Matt datar, seakan itu adalah hal yang biasa. Jadi para seme sekalian, bila anda memiliki uke yang temperamental seperti Mello, jangan coba-coba ajak mereka 'you-know-what' pas lagi ngamuk kalo ga mau jadi kaya Matt. "Kamu sendiri kenapa ada disini? Koq ga sama L-san?"

"Oh em gee! Gue lupa—haattchhiii!" Light bersin lagi, kali ini tepat didepan wajah Matt.

"Euuw! Light, jorok banget sih lo!" Matt langsung mengelap bekas ingus Light dimukanya.

"Sori… sori… gue rada ga enak body nih…" kata Light sambil mengusap-usap hidungnya yang ingusan.

"Udah tau ga enak body koq malah keluyuran diluar!"

"Aku mencari Ryuuzaki."

"L-san? Memang dia tidak didalam?"

"Tadi dia kabur…"

"…"

"…"

"Kabur kenapa?"

"Urusan gue."

Matt kesel. 'Maksud gue sih mau bantuin… Tapi kalo orang yang mau dibantuin nyolot begini, rasa simpati(kartu maksud lo!) gue jadi ilang.' "Mau aku bantuin nyari L-san?" alih-alih ngeluyur pergi meninggalkan cowo pengidap God-complex plus panda-complex yang lagi stress plus sakit, dia menawarkan bantuannya.

"What! Seriously! Huraaayyy!" Light bersorak-sorak gajhe. Inilah efek samping masuk angin yang diderita semua God-complex, bersikap kaya anak kecil norak umur lima taun yang dibawa ibunya nonton ondel-ondel.

"Buruan sih!" Matt menyeret Light darisana karena merasa malu. Akhirnya, mereka memulai pencarian terhadap L.

Tidak susah mencari L, secara tuh manusia setengah panda mencolok banget ditengah-tengah kerumunan orang begini. Awalnya yang ditanyain ga tau kalo yang Light sama Matt maksud itu manusia, mereka malah ngira yang ditanyain itu panda yang lepas dari kebun binatang. Maklum, beberapa minggu yang lalu ada berita yang memberitakan sebuah panda lepas dari kebun binatang…

"Katanya dia berada disekitar sini… dimana dia?" Light celingukan. Saat ini mereka berada ditaman kota. Menurut orang yang terakhir mereka tanyai, mereka melihat pemuda-setengah-panda berjalan kearah taman kota.

"Kita harus berpencar. Aku akan kesini, kau kesana saja." Usul Matt sambil mencari kearah kiri.

"Baiklah," Light mengangguk. Dia berjalan kearah kanan, berharap menemukan L, bukan panda beneran. Ya iyalah! Siapa yang mau ketemu panda ditempat kaya begini! Tuh panda pasti ngamuk dan panik karena ada ditempat yang ga dia kenal! Jadi orang yang menemukannya pertama kali pasti bakal jadi korban kelaknatannya!

Light berjalan lebih jauh kedalam pelosok taman. Kenapa? karena emang tempat yang dia tuju itu di pelosok. Hmm… tempat yang mencurigakan…

'SREK SREK'

Salah satu semak bergerak-gerak mencurigakan. "Ryuuzaki!" Light segera menyingkap semak itu dan melongok kedalamnya.

"N-nii-san!" terlihat Sayu, dengan pakaian yang sedikit acak-acakan, rambut yang mencuat kesana-kemari plus ada daun-daun yang nyangkut dan muka yang lecek (?) kaya belom disetrika berbaring disana. Tapi dia tidak sendirian…

"Light-kun!" terlihat Matsuda, dengan jas yang sudah lepas, kemeja setengah terkancing dan dasi awut-awutan plus rambut kasar dengan muka cacat (?) berada diatas tubuh Sayu. Wow! Tertangkap basah nih! (O/O) ternyata adik sama kakak lebih berpengalaman adiknya…

"Oh, Sayu dan Matsuda… kupikir Ryuuzaki…" desah Light kecewa sambil berjalan pergi meninggalkan mereka berdua. Kelihatannya Light terlalu panik, kawatir dan sakit (jiwa?) untuk menyadari bahwa kemungkinan besar adiknya sedang 'make out' sama bawahan ayahnya…

Sayu dan Matsuda cengok.

"Ng… itu betul Light-kun kan?" tanya Matsuda kebingungan.

"Ya… begitulah… tapi ada yang aneh…" angguk Sayu. "Sudahlah. ayo kita lanjutkan, Matsuda-kun."

Dan mereka melanjutkan apalah itu yang sedang mereka lakukan sebelum dipergokin Light…

Sementara itu, Light masih sibuk mencari-cari L yang masih belum ditemukan. "Ryuuzaki!" dia memanggil nama itu sekali lagi. "Duh, dimana sih dia?" Light capek dan ga enak badan sendiri.

"Hiks…" tiba-tiba, dia mendengar suara halus itu. suara itu seperti suara tangisan yang memanggilnya. Arahnya dari balik sesemakan yang kelihatannya sangat lebat sampai sulit untuk ditembus. Light berjalan menerobos sesemakan itu sampai bajunya robek-robek, badannya lecet-lecet, dan penampilannya acak-acakan. :p

Dan terlihatlah… sebuah danau yang saaaaangat indah dan besar! (ga mungkin ada ditengah kota! XD) kelihatannya sesemakan itu mengarahkannya ketengah hutan yang berada di pinggir kota… (oh. Pantesan) dan dipinggir danau itu, terdapat L yang sedang jongkok sambil menangis. (referensi danau? Nonton aja Swan Lake versi Barbie!)

Light mendekati posisi L perlahan. Tujuan utamanya adalah mendekat tanpa suara dan mengagetkan L. tapi karena dia menginjak sebuah ranting kering, tujuannya hancur sudah.

'KREK'

"Siapa disana!" L langsung berbalik sigap.

"Ahaha… hai, Ryuuzaki," kata Light bego plus salting. Mata panda plus mulut L langsung terbuka lebar.

"Apa yang Light-kun lakukan disini?" tanya L dingin. Jejak-jejak air mata terpapar jelas diwajahnya, tapi kegelapan membantu menyembunyikannya dari penglihatan Light.

"Aku… mau minta maaf," kata Light. "Aku sama sekali tidak menyadari perasaanmu dan terus bermain-main… padahal maksudku bukan begitu…" ucapnya menyesal. L membuang wajahnya—maksudnya membuang wajah! Kalo membuang 'wajahnya' berarti dia ngebuang mukanya ke tong sampah dong! :p

"Tidak perlu minta maaf, Light-kun. Dari awal Light-kun memang tidak salah apa-apa. Saya saja yang terlalu temperamental," kata L datar tanpa menatap wajah Light.

'Temperamental? Segitu lo bilang temperamental? Kalo gitu Mello lo sebut apaan dong?' batin Light.

"Maaf sudah merepotkan Light-kun selama ini. Saya mengerti bila Light-kun tidak mau bekerja sama dengan saya lagi dalam segala kasus," tiba-tiba, L berjalan lebih dekat ke tepi danau itu. Light menatapnya dengan horror. "Selamat tinggal, Light-kun." Ucap L tanpa ekspresi.

"Jangan bunuh diri, Ryuuzakiiiii!" seru Light heboh sambil berlari kearah L. dengan cepat, dia memeluk tubuh kurus pucat—tapi seksi XD—panda tersebut. L terkesiap dan kehilangan keseimbangannya, begitu juga Light yang baru saja lari dengan kecepatan tinggi. Tanpa dia sadari, secara tidak langsung dia mendorong L kearah danau itu.

"…" keduanya terdiam ketika merasa mereka sudah tidak menapak tanah lagi.

'BYUUURR!'

Tidak lama kemudian, suara itu terdengar.

"Puaaah!" begitu berhasil naik ke permukaan, Light buru-buru menyembur air yang masuk kedalam mulut dan hidungnya. Dengan panik, dia mencari-cari L. "Ryuuzaki!" panggilnya. Tidak jauh dari tempatnya berada, terlihat L yang sedang megap-megap lagaknya orang yang nyaris tenggelam.

Sebelum L betul-betul tenggelam, dengan sigap Light sudah berenang kesebelahnya dan memegang tangannya. "Tenang, Ryuuzaki! Aku memegang tanganmu! Kau tidak akan tenggelam!" serunya.

"Peeh, peeh! Uhuk uhuk!" L menyemburkan semua air yang masuk kedalam mulut dan hidungnya tepat kewajah Light. "Kaget… tiba-tiba langsung tercebur begitu… saya jadi panik…" katanya datar tanpa ekspresi.

"Kau tidak apa-apa, Ryuuzaki?" tanya Light kawatir. Saking kawatirnya, dia ga peduli baru aja disembur air sama L. Pergelangan tangan L masih ada dalam genggamannya.

"Ya, rasanya saya tidak apa-apa…" L mengangguk. "Light-kun bodoh sekali… siapa yang mau bunuh diri sih?" tanyanya dengan tatapan panda tajam.

"Eh? Bukannya kau mau bunuh diri?" Light kebingungan. "Dengan berjalan ke tepi danau dan mengucapkan 'selamat tinggal'. Apa lagi yang akan dilakukan orang yang sudah melalukan dua hal diatas?"

"Saya hanya ingin melihat bulan yang terpantul dipermukaan air lebih jelas! 'selamat tinggal' itu maksudnya biar Light-kun pergi meninggalkan saya sendirian!" jelas L agak kesel. 'Enak aja saya dibilang mau bunuh diri! Masih banyak kasus yang belum berhasil dipecahkan tau!' batinnya kesal.

"Lagipula kalau saya bunuh diri kan bukan urusan Light-kun." Kata L tak acuh sambil berusaha melepaskan tangannya yang masih dipegang Light. Tapi Light tidak mau melepaskannya.

"Bodoh… jelas-jelas itu urusanku…" kata Light lirih. Mata panda L mengerjap-ngerjap bingung. "Kau ini jenius tapi bodoh ya dalam hal seperti ini…" dia tersenyum lembut. (author : "Alaaah… kaya lo ngga aja, Light…" Light : "Berisik! Namanya orang lagi ngegombal!")

"Eh?" gumam L bingung.

"Kalau aku tidak peduli padamu, untuk apa aku mengejar sampai kemari? Sampai badanku lecet-lecet, kepalaku pusing, masuk angin tambah parah dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya." (lo ngebanggain diri apa gimana sih?) "Bekas cakaran dan gigitan yang kau lihat tadi adalah bekas dari Kuro-rin. Tadi Kuro-rin sedikit reseh waktu mau kukasih makan, jadi inilah yang kudapat."

L membuang muka. "Bohong."

"Aku tidak bohong, Ryuuzaki. Tatap mataku!" Light memaksa L untuk menatap lurus kematanya. "Jelas-jelas bekas gigitan kucing dan manusia berbeda. Yang kau lihat adalah bekas gigitan kucing… hanya saja karena dibutakan kecemburuan(cailah bahasanya…), kau jadi gelap mata."

"…"

"Selama ini juga aku tidak bohong soal Kuro-rin… kejadian yang kualami bersama Matt juga karena dia. Sungguh!" jelas Light. "Kecuali… ciuman tidak sengaja itu…"

"Ci—apa!" L nyembur ke muka Light.

"M-maaf, Ryuuzaki! Waktu itu aku hanya ingin memfotomu dan menjualnya ke E-Bay saja! Tapi tanpa sengaja aku tersandung dan kemudian, 'cuup' begitu saja!" Light memohon maaf dan ampun kepada L yang aura hitam pandanya keluar.

"Light-kun… kau…"

"T-tunggu dulu! Bukankah kau suka padaku? Kenapa kau tidak senang aku sudah pernah menciummu?"

"Karena itu ciuman tidak sengaja yang saya terima saat saya lengah! Saya tidak menganggapnya ciuman sedikit pun!"

"Apa? Kau mau aku cium kalau sedang sadar dan tidak lengah?"

"Well, paling tidak saya bisa melakukan sesuatu untuk membalasnya atau menolaknya."

"Tahu tidak? Saat ini sepertinya kita sedang berdebat…"

"Dan saya tidak suka kalah. Karena itu, saya akan tetap berargumentasi dengan Light-kun."

"Begitu ya? Kau juga tahu aku tidak suka kalah kan?"

"Hal itulah yang membuat saya—"

L tidak bisa melanjutkan kata-katanya ketika tiba-tiba Light menempelkan bibirnya yang basah kebibir L sendiri. L terkejut, dia tidak menyangka hanya karena rasa tidak ingin kalah milik Light dia nekad menciumnya seperti ini!

Light melepaskan bibirnya. "Jadi, aku menang?" tanyanya seraya menjilat bibirnya puas. "Kau tidak menolak maupun melakukan apapun. Jadi, lengah tidak lengah sama saja kan?"

Wajah L memerah dengan cepat. "Apa-apaan? Saya hanya kaget saja!" katanya keras kepala. "Untuk apa Light-kun melakukannya? Hanya karena ingin menang saja? Rendah sekali…"

"Enak saja!" Light kesal. "Entah kenapa aku merasa kalau menjelaskan perasaanku dengan kata-kata akan percuma… terutama menghadapi orang sepertimu. Jadi aku memutuskan untuk menjelaskan dengan perbuatan saja."

L tidak mengatakan apa-apa. Dengan bantuan sinar bulan, Light dapat melihat sembutat merah dipipinya yang pucat itu. "Jadi? Apa aku kurang jelas?" tanya Light, kali ini dengan nada lembut.

"Ng…" L tidak menjawab. "Apa ini artinya saya tidak perlu menyerah?" tanyanya pelan.

Light ingin tertawa mendengar perkataan L barusan. "Bukannya tidak perlu, tapi kau memang tidak usah… aku sudah membalas perasaanmu!" katanya. Kemudian, dia mencium L lagi. Kali ini, L tidak terkejut dan langsung membalas ciumannya. Kemudian, Light membawa L menyelam bersamanya… (referensi? Event 'The Spring' di Final Fantasy X yang berlokasi di Macalania Lake dengan BGM:Suteki Dane! XD)

Kalau ditanya bagaimana rasa ciuman itu… pasti jawabannya hanya satu ; basah.

Sementara itu… orang yang terlupakan…

"Cih, L-san tidak ada disini…" keluh Matt kesal yang sudah mencari ke seluruh pelosok taman. Ralat! Matt tidak mencari ke danau tempat Light dan L sedang asyik 'mesra-mesraan' sekarang!

'JLUG'

Tiba-tiba, suara langkah itu terdengar tidak jauh dari tempatnya berdiri. "L-san!" Matt segera berbalik untuk melihat siapa pemilik langkah itu. kemudian…

"…" Matt bengong seketika begitu melihat panda(asli) itu sudah berdiri didepannya.

"…" Panda itu juga balas bengong ketika melihat manusia yang tidak dikenalnya. Dalam sekejap, insting panda itu berkata, 'manusia! Berbahaya!' dan menyerang Matt.

"Gyaaa!" Matt kabur terkencing-kencing.

"Ooong!" tapi panda tadi malah mengejarnya.

"Gila! Apa-apaan tuh panda! Mentang-mentang gue ngejar L-san yang mirip panda malah ketemunya panda beneran!"

"Ooooonnnggg!"

"Wwuuuaaaaa!"

'PSYUUU'

'BRUGH'

"Eh?"

"Matt?" suara Mello yang familiar terdengar tidak jauh dari tempatnya sekarang.

"Mello! Ngapain kau disini!" seru Matt tidak kalah bingung.

"Aku bisa menanyakan hal yang sama kepadamu! Ngapain kau disini!" kata Mello sambil berjalan mendekatinya. Dia mengulurkan tangan kanannya pada Matt.

Matt menyambut tangan itu dan berdiri. "Aku membantu Light mencari L-san yang kabur…" tapi setelah dia mengucapkan kata-kata itu, Mello langsung mencengkram tangannya dengan tenaga raksasa Haruno Sakura. "Aawww! Ahaaww!"

"Apaa?" tanya Mello geram. 'kretek kretek' = bunyi tulang Matt.

"Mello! Tanganku bisa patah!" jerit Matt kesakitan. "Aku hanya sekedar membantu Light mencari L-san saja koq! Tidak lebih daripada itu!"

Akhirnya, Mello tenang juga. "Memangnya L-san kemana?" tanyanya.

"Makanya sekarang aku mencarinya…" jawab Matt sambil mengelus-elus tangannya yang nyaris ancur. "Kau kenapa ada disini?"

"Lupa apa gimana sih? Kita kan dapet tugas buat ngembaliin seekor panda yang kabur dari kebun binatang en ngebawa dia balik, dodol!"

"Terus, barusan lo nembak dia?"

"Matty, inilah yang disebut peluru bius…"

"Oh."

Mello mendengus kesal. Dia mengeluarkan HPnya dan langsung menelepon seseorang. "Halo? Pak Kitagawa? Gue udah dapet pandanya nih! Buruan kesini yak!" katanya pada siapapun yang diteleponnya barusan.

"Apaan tuh barusan?"

"Pemilik kebun binatang…"

"…"

"Udah ah! Kita balik! Pasti si 'Lampu' udah nemuin L-san sekarang!"

"Dan kenapa tepatnya kalian berdua basah begini!" Mello menatap kesal pasangan didepannya yang cengangas-cengenges ga jelas karena sesuatu.

"Ehehe… kecebur…" kata Light sambil mesem-mesem ga jelas.

"Bukan salah saya…" kata L sambil ngikik kaya kuntilanak.

Mello sweatdropped, tapi begitu melihat tangan duo L itu bergandengan dia langsung ngeh sama keadaannya. "Mendingan kalian cepet pulang… nanti masuk angin loh…"

"Iya. Apalagi Light udah masuk angin begitu! Nanti makin parah loh!" kata Matt.

"HAATTCCHIIII!'

"Kelihatannya nasihat kita terlambat…" kata Mello sambil geleng-geleng prihatin.

"Ngehehe… sori, sori—srooot—abisnya keasikan sih…" kata Light lagi. "Mello, kamu naek mobil kan? Keberatan ga ngasih kita tumpangan?" pintanya dengan 'lampu' eyes yang binarnya melebihi puppy's eyes dan hamster's eyes. :p

"Keberatan banget tapi bisa protes apa aku?" Mello angkat bahu. Akhirnya, mereka diantar sampai ke gedung investigasi L dan diturunkan disana.

"Ah, benar juga. Titip salam buat Kuro-swan ya~" pesan Mello dengan candy candy's eyes.

"Aku juga! Aku juga!" Matt ikut-ikutan pake donald's eyes. Kayanya sekarang lagi musim 'eyes-eyes'an ya…

"Baiklah~ nanti aku sampaikan~" angguk Light pake lampu's eyesnya.

"Ok deh! Bye bye! Rukun-rukun aja ya!" Mello dan Matt berseru berbarengan sebelum mobil mereka kembali berjalan. Light dan L bertatapan kaget. Koq mereka tau…?

"Ngomong-ngomong soal Kuro-rin…" Light mendadak Kira mode:on. "Kamu percaya kan kalo sekarang dia yang membuat aku jadi kaya begini?" mereka memasuki gedung mewah dan besar itu.

"Percaya," angguk L. "Tapi apa Light-kun tidak merasa bahwa dia sengaja?" tanyanya.

"Eh?"

"Maksud saya… bila dia tidak melakukan hal-hal yang membuat saya cemburu, saya pasti tidak akan menyadari perasaan saya satu minggu yang lalu. Dan Light-kun juga tidak akan mengenai perasaan saya kalau saja saya tidak bersikap seperti itu." kata L.

'… jadi nih bocah juga baru sadar perasaannya sendiri seminggu yang lalu…?' batin Light sambil nahan kesel gimanaaaa… gitu. "Jadi inti dari perkataanmu adalah…?" tanyanya.

"Yah… kita tetap asuh Kuro-wan. Bagaimana?" usul L.

'Asuh? Mati aja lo sana! Ogah banget gue masih ngasuh makhluk jahanam, laknat, en nista kaya begitu!' "Hmm… tidakkah sebaiknya kita pertimbangkan lagi?" alih-alih menyuarakan isi hatinya, Light bertanya sesuatu yang sedikit lebih ramah.

"Hmm…" L membuka pintu yang menuju ke ruangannya biasa 'bersantai'. "Kuro-wan?" panggilnya. Tidak ada sahutan. Padahal biasanya Kurogane akan langsung berlari kearah mereka.

"Kuro-wan?" L memasuki ruangan itu sambil memanggil-manggil Kurogane. Light sendiri bingung.

'Kemana kucing sialan itu?' batinnya kebingungan. "Kuro-rin!" akhirnya, dia ikut mencarinya. Setelah dicari ke seluruh penjuru ruangan(bahkan satu gedung mereka jelajahi), Kurogane masih belum ketemu. Kemana kucing itu pergi!

"Light-kun, saya kawatir…" kata L cemas. Mata pandanya mengamati setiap kamera pengawas yang dia taruh di seluruh penjuru gedung.

"Sabar ya, Ryuuzaki. Aku juga cemas koq," kata Light yang jelas-jelas boong banget. Tapi dia udah mulai kawatir-kawatir gimanaaaa… gitu. "Gimana kalo kita telpon Matt, Mello sama Near? Suru mereka nyari diluar gitu loh…" usulnya.

"… baiklah." Angguk L setuju. Tatapannya kosong, layaknya tatapan seorang ibu yang anak semata wayangnya diculik. Light merasa kasihan melihatnya, jadi dia segera menelepon HP Matt, satu-satunya nomor yang dia tahu diantara trio pewaris L itu.

"Matt's speaking?" suara Matt terdengar dari ujung sana.

"Matt? Begini, aku mau minta tolong…" mulai Light pelan, berusaha tidak menggangu L yang tenggelam dalam kekawatirannya dengan cara ngomong di jarak 30 meter dari ibu panda itu.

"Heh? Light? Tumben lo yang nelepon, bukan L-san." Komentar Matt dengan suara yang kedengarnnya sedikit teredam.

"Lo lagi makan kacang ya?" tanya Light curiga.

"Yup. Camilan gue tiap lagi maen Magister Negi Magi. L-san kenapa?"

Light sweatdropped. 'Nih anak doyannya game ecchi begitu rupanya…' "Yah, L lagi sedikit ga bernyawa sekarang…"

"Emang napa? Jangan-jangan lo rape lagi! Dasar! Mentang-mentang baru jadian udah langsung ke 'stage' selanjutnya! Dasar mesum!"

"Enak aja lo kalo ngomong seenak jidat lo aja!" seru Light. Untung mereka ngomong di telepon, kalo ngga pasti Matt udah ngerasain 'kuah' kemurkaan Light sekarang. "Begini, nehi-nehi(?)! Kuro-rin menghilang!" jelasnya akhirnya.

"Eh? Kuro-kuro? Koq bisa?" tanya Matt. Kelihatannya kacangnya udah dia telen.

"Ga ngerti. Makanya aku mau minta tolong. Bisa ga kamu, Mello sama Near cariin Kuro-rin ga diluar?" pinta Light dengan suara yang sengaja dibuat melas supaya Matt ga tega nolak permintaan dia.

"Baru juga lo gue bantuin beberapa menit yang lalu… kenapa bukan lo aja yang nyari?" tanya Matt sangsi. Dia males banget beranjak dari tempatnya duduk sekarang. Selain lagi asyik makan kacang, dia juga lagi asyik melototin berbagai fanservice yang bertebaran di game yang sedang dia mainkan.

"Duh… gue ga bisa ninggalin L sendirian dalam kondisi kaya begini!" Light jingkrak-jingkrak ditempat dengan gemes. "Plis dong, Matt! Demi temen! Ya ga?"

'Sejak kapan lo temen gue!' Matt tidak menjawab. "Hmm… yaudah deh. Tapi gue nyari ga jauh-jauh dari gedung tempat lo berdua tinggal yak…" katanya akhirnya.

"Yes! Yes! Matty kamu baik sekali! Sini gue cium dulu!"

"Mati aja lo sono!" Matt dengan segera mematikan sambungan telepon mereka. Light menatap HPnya dengan pandangan kebingungan. Mas Light… mas Light… kamu ga ngerti kenapa Matt matiin HPnya begitu? Jelas-jelas gara-gara dia ngeri sama ucapanmu, dodol!

Ok, saya boong. Ini bukan chapter terakhir. =_= sumpah! Tadinya ini mau saya bikin chapter terakhir! Tapi ternyata terlalu panjang! Well, sedikit tambahan chapter ga bakal ngebunuh kita semua kan? *ditampar readers* tapi tenang aja karena saya udah updet double chapter… jadi yah, tamat-tamat jugalah istilahnya… yak, yang penasaran sama endingnya, silahkan pindah ke chapter selanjutnya!