Part III

_Selalu di Hatiku

DUAAAARRR!

Ledakan besar terjadi. Dahsyat. Asap tebal membumbung tinggi.

Suara ledakan itu sejenak menyita perhatian para ninja yang sedang bertarung di dalam desa. Memandang takjub sekaligus heran ke arah hutan yang masih menjadi medan tempur Naruto dan Sasuke.

Belum habis keheranan mereka dengan ledakan besar itu, rasa kaget pun dating saat mereka tak lagi melihat wujud mengerikan Susano'o milik Sasuke. Dan hanya menyisakan sebuah setan mengerikan milik Naruto.

Kejadian itu pun tak luput dari pandangan seorang gadis klan Hyuuga yang baru keluar dari rumah sakit. Hatinya terus berdegup cemas.

Namun, saat menyadari bahwa Susano'o Sasuke telah hilang, hatinya sedikit lega.

"I-itu? Hiraishin?" Tanya seorang gadis bermata putih yang sama sepertinya. Hinata menoleh, lalu merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan adik perempuannya itu. Tangan kanannya mengusap-usap puncak kepala gadis kecil itu lembut.

"Tenang Hanabi-chan, Hiraishin itu milik Naruto-kun."

"T-tapi, kalau me-memakai jurus itu, Naruto-nii akan…" rasa takut dan cemas karena pertama kali melihat wujud Dewa kematian, membuat Hanabi sedikit gentar dan bicara tergagap.

"Sssstt, sudah. Naruto-kun, kuat kok." Kata Hinata mantap. Bukannya ia tak tahu resdiko apa yang akan menimpa pemuda Kyuubi yang sudah lama ia cintai itu, tapi ia berusaha meyakinkan hatinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ini demi desa. Demi Konoha.

"hanabi-chan, kau cari Neji-nii atau Tou-san ya, Nee-chan harus melakukan sesuatu."

_Selalu di Hatiku

"Aaargh." Sasuke berteriak kesakitan. Rohnya tercerabut paksa oleh tangan ghaib sang Hiraishin. Sakit yang teramat sangat ia rasakan di sekujur tubuhnya. Ia sudah tak kuasa untuk berdiri, tapi cengkeraman kuat Naruto membuatnya tetap berpijak.

"Sasuke, kembalilah! Aku akan melepaskanmu." Kata Naruto hampir putus asa. Ia merasakan perih yang terus menusuk dalam tubuhnya sendiri. Tangan ghaib yang muncul di perutnyalah penyebabnya.

"Tak akan pernah, bangsat! Argh.!" Rohnya semakin ditarik. Kedua tangannya sudah mulai pasif dan tak bisa di gerakkan.

"Kenapa? Kenapa sasuke!" naruto tak tahan lagi, rasa persahabatan itu tumpah disini. Di pertarungan yang mungkin terakhir baginya.

"Karena kalian telah membuat Itachi membunuh semua klanku! Kalian membuat kami saling membenci!" naruto tersentak, matanya melebar. Ia tak bisa mengerti apa yang diucapkan Sasuke tentang Konoha.

"Kalian… konoha telah membuatku menjadi sendirian." Sasuke berkata lagi. Namun kali ini tak ada emosi di dalamnya.

Naruto membelalak, sejenak ia mengerti ucapan terakhir sasuke. Dia kesepian. Pemuda itu ingin di perhatikan. Sama seperti dirinya. Ingiin diakui. Mata birunya menatap ke arah sharingan Sasuke. Hampa. Disana kosong. Naruto lalu memejamkan matanya pelan dan menundukkan kepalanya. Pergerakan tangan ghaib si Dewa kematian berhenti.

_Selalu di Hatiku

'Jangan!' seorang gadis bernama Hinata terus berlari menyusuri hutan.

'Hiraishin itu, a-akan me-mengambil Naruto-kun!' batinnya berkata lagi.

Mata bulannya yang sedari tadi mengaktifkan byakugan, kini mulai dibasahi oleh cairan bening yang keluar dari sudutnya. Bayangan seorang pemuda pirang terus menggelayuti pikirannya yang mulai gelisah tak menentu.

Langkahnya yang berlari, semakin cepat memasuki hutan belantara konoha. Melesat menuju satu tempat yang ia ketahui sekarang digunakan untuk berperang.

Konoha. Tentang desanya yang kini dipertaruhkan. Tentang pengabdian para ninja dan para penduduknya. Memperjuangkan sebuah harapan dan kebenaran. Mempertaruhkan keutuhan desa yang mengakar di hati para penghuninya. Membetuk sebuah ikatan yang saling mengeratkan, satu sama lain.

Dan Hokage. Sang rokudaime yang bertarung uintuk sebuah ikatan yang ia jaga. Persahabatan. Ini tentang pemuda itu. Naruto. Selalu naruto yang ada dalam hatinya. Selalu, dan tak pernah berubah.

"Aaargh!" sebuah teriakan keras menghentikan langkah Hinata. Di pasangnya pendengarannya, untuk mengetahui lebih jelas bahwa teriakan itu adalah milik Naruto.

Byakugannya mulai mencari posisi Naruto. Dia disana. Bertarung melawan Sasuke. Namun, seketika mata putihnya melebar tatkala melihat sebuah tangan ghaib yang menembus perut Naruto.

Semula, tangan itu menarik roh yang ia asumsikan sebagai roh Sasuke yang ada dalam cengkeraman Naruto. Tapi, perlahan roh Sasuke kembali ke dalam raganya. Pemuda missing-nin itu langsung terkapar tak berdaya di tanah. Dan sebagai gantinya, roh Naruto yang ditarik.

Tanpa berpikir lagi, Hinata menggerakkan tubuhnya menuju tempat itu. Bayangan wajah Naruto yang kesakitan, membuatnya berlari 2 kali lebih cepat dari sebelumnya.

'Naruto-kun…'

Bayangan itu sangat jelas, bahkan tanpa bantuan kemampuan pupil mata klan Hyuuga-nya. Sosok yang ia cintai dengan sepenuh hati, kini bertarung melawan kematiannya sendiri. Wajah yang kesakitan itu, suara yang mengerang perih itu, keringat yang turun dari sekujur tubuh yang penuh luka itu…

"Naruto-kun…" lirihnya.

'Bagaimana bisa? Hiraishin itu ,malah menyerang Naruto? Bukanya tadi Sasuke-san yang-…" batin Hinata heran. Namun rasa heran itu terhenti saat matanya mendapati sosok Sasuke yang tak jauh dari Naruto.

Hinata berasumsi bahwa keturunan terakhir Uchiha itu benar-benar sudah mati. Namun, ternyata itu salah. Sebuah pergerakan kecil dan erangan lirih yang berasal dari tubuh pucat penuh darah itu menandakan bahwa nyawanya masih utuh dalam raganya.

"A-apa? Ba-bagaimana b-bisa?" rasa herannya muncul kembali. Ia benar-benar tak habis pikir. Padahal tadi ia sempat melihat ledakan saat susano'o menghilang. Kenapa Sasuke masih hidup?

Belum sempat keherananya itu terjawab, sosok Sasuke Uchiha itu bangkit. Berjalan terseok-seok ke arah Naruto yang masih mengerang kesakitan. Pandangan mata hitam itu terus berbicara, seakan memprotes semua tindakan Naruto yang barusan dilakukan padanya. Pandangan mata itu sedih, tak percaya.

"Ke-kenapa? Kenapa kau tak membunuhku Naruto!" teriaknya. Pemuda kyuubi itu terkekeh pahit. Mata biru langitnya menyipit, menahan perih yang menyerang seluruh tubuhnya.

"Ka-kare-na k-kau, a-adalah Sahabat pertama-ku, sasuke." Nyaris tak terdengar.

"Aaargh!" naruto berteriak lagi. Tubuhnya menggelepar, tangan ghaib itu semakin menggila menyedot semua tenaga Naruto.

"Naruto-Kuuun" tak tahan lagi, Hinata berteriak, lalu berlari menghampiri orang yang selalu ada di hatinya itu. Air matanya tersaput angin saat ia melaju cepat. Ia tak peduli betapa sakit dari luka-luka yang juga ia dapatkan akibat pertempuran melawan ninja penyerang di desa tadi. Sekarang di matanya hanya ada satu pemuda. Satu nama di hatinya. Hanya satu.

Naruto.

Pemuda hokage itu menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. Matanya yang semula menyipit itu, membelalak tak percaya. Gadis itu, rasa itu, cinta itu, datang seperti tahun sebelumnya. Kedatangan yang tak pernah ia harapkan di pertempuran ini. tak ingin melihat gadis itu menangis. Lagi. Untuknya.

"Um, k-kalau Naruto-kun m-mau, me-mencontek saja k-kertas ulanganku ini…"

"Ano, a-aku hanya ingin m-memberikan obat i-ini. m-mohon diterima."

"Hihihi, Naruto-kun hebat."

"Senyum Naruto yang membawaku ke tempat yang tepat."

"Aku tak takut mati untuk melindungimu."

"Karena aku mencintaimu."

"Hi-hinata?" naruto bersuara.

WUUUSH.

"Aaaargh!" hiraishin itu semakin menarik jiwanya yang mati-matian ia pertahankan. Cakranya semakin terkuras. Tak terkecuali cakra kyuubi dalam tubuhnya.

Pergerakan Sasuke terhenti saat menemukan sesosok Hinata Hyuuga disana.

"Ga-gadis itu?" baru saja Sasuke akan bergerak menghampiri Hinata. Namun, kepalanya keburu terasa berat dan pandangan matanya berkunang-kunang. Cakranya memang sudah tandas akibat mangekyou sharingan yang ia gunakan terus menerus tadi. Tubuhnya ambruk ke tanah tempatnya berpijak. Namun sebelum kesadarannya hilang total, samara-samar ia berkata.

"Selamatkan Naruto…"

Hinata semakin mendekati Naruto, namun ia berhenti melangkah saat Naruto menatapnya.

"Ja-jangan m-mendekat. Ku-mohon." Lirih sang hokage muda. Namun, ternyata yang disuruh terus melanjutkan langkahnya.

"Hinata! Berhenti!" teriaknya lagi. Kali ini perintahnya diindahkan oleh Hinata.

Gadis itu masih menangis. Matanya menatap lurus ke arah Naruto, tak menghiraukan dewa kematian yang menjilati belatinya sendiri.

"Naruto-kun…"

"Tetap disana Hinata. A-aku ingin mengatakan se-sesuatu. Ugh."

"Tidak naruto-kun. Kita lawan dewa kematian ini bersama dulu. Jangan banyak bicara dulu. Lukamu akan semakin_"

"Kumohon dengarkan aku Hinata."

-TBC-