Part IV
Tap.
Sunyi…
"Ugh, du-dulu, aku pernah menyukai seorang perempuan yang tak pernah mau membuka hatinya untukku…" Naruto mulai bicara. Kepalanya menunduk, menatap tanah di kakinya.
"A-aku terus, ugh, m-mencintainya. Karena dulu, aku menganggap dia adalah segalanya bagiku." Sambung Naruto lagi.
'Sakura-chan ya…" batin Hinata. Hatinya terasa perih mendengar penuturan Naruto barusan. Mulutnya masih bungkam dari tadi. Membiarkan Naruto yang berbicara, dan ia hanya perlu mendengar untuk mengertinya lebih baik.
"Aku dibodohkan oleh cinta. Hingga aku tak sadar bahwa ada perempuan baik hati yang mau menerima kelemahanku. A-aku malahan masih berharap perempuan yang kusukai itu mau menerimaku nanti. P-padahal aku tahu, di hati perempuan itu hanya ada 'Dia'" naruto mendongakkan kepalanya menatap Sasuke yang roboh, hanya untuk memberi isyarat pada Hinata bahwa 'Dia' yang dimaksud adalah Uchiha terakhir itu. Lalu kepalanya yang pirang kembali menunduk.
"L-lalu, saat itu. Saat Pain datang dan menghancurkan Konoha, engkau datang, seperti ini. Dan baru saat itulah mataku terbuka oleh cintamu." Hinata menunduk, menyembunyikan rona merah yang kini menjalari wajahnya yang cantik.
"Sa-saat, ugh, saat itu, aku merasa sangat berharga, merasa diakui dan diperlukan. Kau membuatku merasa diterima dengan tulus. Tapi aku juga benar-benar bodoh untuk menyadari letak hatiku sendiri." Naruto mendongak, memandang Hinata yang juga balas memandangnya. Mata mereka bertemu, indah, miris. Inikah perpisahan.
"Perlu waktu untuk orang bodoh sepertiku ini menyadari bahwa kaulah yang kubutuhkan. Bukan perempuan yang dulu menjadi pujaanku. Ugh."
"Na-naruto-kun…"
Hiraishin semakin menarik jiwa Naruto kedalam mulutnya. Wajah Naruto yang semula kecoklatan, kini berwajah pucat. Sangat pucat. Matanya terpejam erat dan mengerang pelan. Kedua tangannya yang terentang, berada erat dalam cengkeraman sang Dewa.
Menghiraukan perintah Naruto, Hinata menghampiri pemuda itu. Kedua tangannya membentuk segel, lalu dari kedua telapak tangannya keluar cakra hijau. Cakra pengobatan.
"Hi-hinata. Argh. Jangan kesini! Cepat pergi! Teriak Naruto begitu menyadari bahwa Hinata ada di hadapanya. Tangan gadis itu terus bekerja menutup luka yang ada dalam sekujur tubuh pemuda itu.
"Pergi Hinata!" Teriak Naruto lagi. Namun Hinata tetap bertahan. Ia menangis sesak, saat menyadari cakra medis-nya tak mampu mengembalikan Naruto ke kondisi yang lebih baik.
"Hinata per_"
"Aku tak menerima perintahmu lagi Naruto-kun." Hinata bangkit. Menghadap Naruto. Matanya yang sembab terlihat tegar. Tegas.
"Betapapun kau tak menyadariku dulu, aku tetap mencintaimu. Dengan apa adanya." Sambungnya lagi.
"Hi-hinata?" kali ini giliran Naruto yang terkaget-kaget.
"Jadi, biarkan aku disini untuk sejenak bersamamu. Bila harus mati melawan dewa kematian pun, tak masalah." Kata Hinata lagi. Kepalanya menunduk sejenak, lalu kembali menatap Naruto.
"Aku hanya ingin berada di sampingmu." Katanya lagi. Pandangan matanya melembut, lalu sebuah senyuman manis terukir di wajahnya.
Hening.
"Hinata…" panggil Naruto. Hinata mendongak.
"Bolehkah aku menggantikan posisimu yang dulu menyatakan perasaanmu padaku?" mata bulan Hyuuga itu melebar. Tak percaya. Rasanya hatinya bagai melonjak-lonjak gembira.
Hinata tak sanggup bila harus menjawabnya, jadi ia hanya mengangguk pelan sebagai pengganti kata 'iya'.
"Aku mungkin bukan lelaki yang bisa merangkai kata-kata indah untuk menyatakan cinta. Aku hanya pemuda bodoh yang sulit menyadari adanya cintamu. Aku hanya ingin kau tahu, bila aku punya waktu lebih lama, aku ingin engkau selalu bersamaku. Karena dengan itu, aku bisa mencintaimu dengan lebih dekat." Entah mengapa, rasa sakit yang ia dapat dari tangan sang Hiraishin lenyap. Berganti dengan kebahagiaan yang meledak-ledak saat mendapati tubuhnya menghangat karena gadis itu, Hyuuga Hinata memeluknya erat.
"A-aishiteru Naruto-kun." Katanya. Wajah cantik itu terbenam dalam dada Naruto. Memberikan rasa euphoria tersendiri merasuk ke hati pemuda kyuubi yang tersenyum.
"Aku lega." Kata Naruto lirih. Sangat lirih hingga Hinata tak bisa mendengarnya. Seulas senyuman damai tercipta di wajahnya yang tampan.
"Aaaaargh!" naruto berteriak. Berkali-kali lipat lebih keras dari sebelumnya. Tak pernah di duga-duga sebelumnya, tangan Hiraishin itu menyebar,. Merenggut semua nyawa ninja musuh yang masih bertarung di konoha. Mematikan seluruh musuh termasuk anggota akatsuki yang ada disana. Menimbulkan teriakan-teriakan keras dari musuh yang tersedot jiwanya. Lalu matanya menutup perlahan. Bersamaan dengan ambruknya tubuh tegapnya ke pelukan Hinata, Dewa kematian itu lenyap.
"Naruto-kuuun."
_Selamanya di Hatiku
_FLASHBACK OFF
_Normal POV
Mungkin pengorbanan Naruto membuat seorang gadis heiress Hyuuga kehilangan harapannya. Menjadikan gadis bernama Hinata sendiri selama 100 hari kepergiannya kini. Namun, pengorbanan itu tak sia-sia. Konoha, desanya yang mempunyai resiko hancur, kini kembali tegak berdiri.
Bukan itu saja, sahabat sekaligus rivalnya yang dulu menyandang predikat missing-nin paling dicari, kini berubah drastis. Menjadi seorang ninja yang lebih ramah, lebih mencintai konoha yang sempat akan ia hancurkan. Ia merasa kebaikan dan ketulusan hati Naruto dulu, harus dibayar.
Sejarah pasti akan mencatat betapa hebatnya sang Rokudaime Hokage mereka pada generasi-generasi berikutnya. Membawa berita bahwa kematian sang Hokage keenam yang dulu sempat dibenci karena monster dalam tubuhnya itu, menjadi sosok pahlawan yang tak ada duanya.
Lalu, pena sejarah juga akan mencatat bagaimana seorang Uchiha buronan bisa dikalahkan dan kembali mencintai desanya. Sejarah juga pasti akan mencatat nama-nama pahlawan yang gugur dalam pertempuran. Menuliskan betapa dahsyat perlawanan musuh yang menggempur Konoha. Menimbulkan rasa patriotisme dalam diri para generasi penerus mereka.
Namun, apakah sejarah juga akan mengabadikan sebuah kisah cinta terindah pada masa itu? Cinta yang sederhana, hanya membutuhkan sebuah pengakuan dan kesadaran akan tulusnya rasa itu. Cinta antara Uzumaki dan Hyuuga.
Gadis mata bulan itu bangkit berdiri, setelah terlalu lama berjongkok di depan makam sang pemuda kyuubi yang ia cintai. Sedih memang, ditinggal sendiri. Namun, gadis itu tau, pemuda itu akan selalu ada untuknya.
Mungkin, wujudnya sekarang tak terlihat lagi, namun heiress Hyuuga itu bisa merasakan kehangatan indah yang satu-satunya ditimbulkan pemuda Uzumaki itu. Hinata yakin, disana, diantara berjuta-juta bintang di angkasa, ada sosok itu. Sosok lelaki yang selalu ada dalam hatinya. Sampai mati.
"Naruto-kun…" matanya menerawang ke arah langit yang gelap. Lalu samar-samar, ia berbisik lagi
"Aku rindu padamu…"
Angin berhembus pelan, membawa setiap kata dari hembusan nafas Hinata kearah langit. Biarkan angin menyampaikan rasa rindu itu. Dan biarkan setiap udara terisi oleh rasa cintanya yang tak kunjung habis.
Sejarah mungkin tak akan pernah mencatat betapa seorang gadis Hyuuga telah memberikan ketulusannya pada Naruto, sang Rokudaime. Tapi, biarkan langit yang menyimpan kisah itu. Terukir di setiap rasi bintang yang tersebar di angkasa raya. Mungkin tak akan ada banyak orang yang tahu, tapi biarlah semesta yang menyimpan semuanya.
Seperti kehadiran sesosok roh putih yang tak diketahui Hinata. Roh putih itu mendekatinya hingga tepat berada di samping gadis itu. Lalu tersenyum indah saat mendengar gumaman gadis yang ada disampingnya.
"Aku benar-benar rindu padamu Naruto-kun."
Lalu, dengan lembut, roh itu membelai sayang rambut panjang Hinata. Andai Hinata bisa melihat sosok itu saat ini, andai Hinata punya kemampuan berkomunikasi dengan roh yang sudah tiada, dijamin, Hinata tak akan pernah melewatkan setiap waktunya untuk berada di depan makam rokudaime.
"Aku juga Hinata. Rindu sekali…" roh itu berbisik lirih di teling hinata. Lalu tersenyum cerah.
Hembusan angin datang lagi. Memberi kedamaian pada Hinata yang memejamkan mata bulanya.
"Aku tahu, kau ada disini, Naruto-kun…"
_Selamanya di Hatiku
-Owari-
