Judul:Terikat dengan Darah

Kata:1430 kata

Pasangan:Heiji H./Kazuha T.

Summary: Darah adalah cairan kehidupan. Sesuatu yang sangat kuat… hal yang paling kuat untuk mengikat sebuah sumpah, selamanya.


A/N: Rici nggak tahu sama sekali kenapa Rici nulis sebuah cerita yang genrenya Supernatural/Horor! Dan kenapa cerita itu karakter utamanya Heiji dan Kazuha! My first HeiKaz, please review onegai!


Terikat dengan Darah

By: Aricia Betelguese


Dia berdiri sendirian di dalam gang gelap itu, berteduh dari hujan yang turun tiba-tiba saat ia pulang dari latihan kendo. Udara dingin menusuk kulit, akan tetapi ia tenang-tenang saja. Jaket kesayangannya ia tarik agar lebih melindungi dirinya dari dingin.

Lalu rasa sakit muncul di lehernya. Diikuti oleh rasa hangat. Dan, sebelum matanya menutup, ia mendengar seseorang berkata…

"Maafkan aku, nak."


Heiji mengerang saat ia bangkit dari lantai yang keras. Mata terlatihnya dengan cepat mengawasi sekelilingnya. Dia ada di sebuah gang yang dingin dan gelap, sendirian, dan ia tak tahu sama sekali apa yang terjadi pada dirinya.

Ia menarik topinya turun, lalu melangkah ke mulut gang. Hari sudah gelap. Nyaris tak ada seorangpun di jalanan. Heiji menengok ke kiri dan ke kanan, lalu berjalan keluar. Ia lapar, lapar sekali.

Seorang anak kecil berlari melewatinya dan wangi sesuatu yang harum dan sedap tercium. Heiji menoleh. Anak itu tidak membawa apa apa…

Lalu seorang gadis muncul, mengejar anak itu, dan wangi itu muncul lagi.

Mungkin parfum, pikir Heiji sambil mengangkat bahu. Atau mungkin mereka baru makan. Atau mungkin—

Seseorang dengan mata merah darah muncul di depannya. Orang itu menyeringai, memamerkan deretan gigi giginya yang putih dan tajam. Kedua tangannya ada di dalam saku celana. Dengan santai ia melangkah ke arah Heiji.

Spontan Heiji mundur. Ia bukanlah seseorang yang mudah diintimidasi, tapi orang ini… mengerikan. Orang ini berbahaya, instingnya berseru, dan ia harus lari.

Sekarang.

Tapi sebelum Heiji bisa mencoba berlari, orang itu sudah berdiri persis di depannya.

"Hei," katanya, "Selamat datang."


Aku tertawa kecil saat melihat kebingungan di wajah anak itu. Kulit coklatnya menjadi seperti susu coklat. Dia terlihat lucu, dengan ekspresi bingungnya itu.

"Selamat datang?" katanya tajam. "Selamat datang ke mana?"

Aku mengangkat alis. Jadi anak ini tidak tahu kalau dia…

"Apa yang tadi kaulakukan di dalam gang itu?" tanyaku.

"Aku tak tahu." Katanya, mundur selangkah. "Aku bangun di situ—"

"Dan sebelum itu?"

"Aku—"

Wajahnya memucat.

Aku mendesah. "Oh, sudahlah." Keluhku. "Frizz bikin susah saja. Itu kebiasaan buruknya, main gigit saja tanpa menunjukkan dirinya sendiri." Aku menatapnya lurus lurus. "Siapa namamu?"

Dia sepertinya sempat berdebat dengan dirinya sendiri untuk memberitahuku atau tidak. Tapi sepertinya ia memutuskan untuk berkata jujur.

"Heiji Hattori."

"Oke," kataku, pelan dan jelas. "Heiji Hattori—kau baru saja diserang oleh seorang… vampir."

Diam sejenak. Lalu—

"APA MAKSUDMU?"

Tapi aku mengabaikannya. Aku mencium sesuatu. Bau. Bau… bau manusia.

Takut aku akan menggigit seseorang yang tidak bersalah jika aku bertemu dengan manusia itu, aku lari.


"TUNGGU, KAU MANUSIA ANEH!" Heiji berteriak. "KEMBALI KE SINI SEKARANG SEBELUM AKU—"

"AHOU!"

Oh, tidak. Perlahan-lahan, Heiji berputar ke arah sumber suara itu. Lalu—

BAM!

Sebuah tamparan mendarat di wajahnya. Heiji mundur beberapa langkah, untuk melihat Toyama Kazuha, teman masa kecilnya, berdiri di depannya dengan mata berapi api dan siap untuk menonjoknya bila diprovokasi sedikit saja.

Tapi baunya harum sekali… Rasa darahnya pasti enak—

Heiji menyetop pikirannya di situ. Sejak kapan dia dapat mencium bau Kazuha? Dan sejak kapan dia berpikir rasa darah—darah yang menjijikkan, kotor—enak?

Tapi semua pikiran tersebut terdorong keluar dari pikirannya saat sebuah tonjokan nyaris saja mengenai wajah Heiji.

"AHOU!" Heiji berseru marah. "APA SIH MAUMU? DATANG DATANG MARAH-MARAH?"

"KAU KE MANA SAJA, AHOU!" Kazuha menjerit. "KAMU MENGHILANG SEHARIAN PENUH LALU MUNCUL BERDIRI SENDIRIAN SEPERTI ORANG GILA!"

"AHOU! AKU BAIK BAIK SAJA!"

Persis pada saat itu ia merasakan seseuatu. Sebuah impuls, insting, yang menyuruhnya untuk—untuk menggigit Kazuha.

"Heiji? Kau baik-baik saja?"

Wajah Kazuha tiba tiba muncul di depannya, terlihat khawatir. Spontan Heiji mundur, menjauh dari Kazuha, berusaha menahan dirinya sendiri.

"Aku tidak apa-apa—pergi, Kazuha."

"Ahou!" Kata Kazuha kesal. "Kau bilang kau baik-baik saja, lalu wajahmu berubah warna jadi coklat susu, dan sekarang kau menyuruhku pergi?"

Butuh seluruh pengendalian diri Heiji untuk melawan keinginan untuk menggigit seseorang. Dan jika ia tinggal bersama Kazuha sedikit lebih lama lagi, ia tahu ia takkan tahan lagi. Maka Heiji melakukan sesuatu yang akan dilakukan orang waras jika ia berada dalam situasinya:

Ia berlari meninggalkan Kazuha.

"AHOU! MAU KE MANA KAU!" Kazuha berteriak, berlari untuk mengejarnya, tapi ia tertinggal jauh di belakang. Heiji tersadar bahwa larinya menjadi jauh lebih cepat dari pada sebelumnya. Ia mempercepat larinya lagi, dan tak lama kemudian Kazuha menghilang dari pandangan.

Heiji berbelok ke dalam gang lain; di sana ia berhenti, mengatur nafasnya yang terengah-engah. Sebuah aroma kembali muncul di udara, dan Heiji mengenalinya.

Aroma Kazuha.

Ia mundur, memasuki bagian gang yang remang-remang, tapi aroma itu terus menguat. Heiji tahu ia harus segera menjauhi Kazuha, tapi ia sudah kehabisan tenaga. Karena itulah ia diam saja saat Kazuha muncul di bibir gang, mendekatinya dengan hati-hati.

"Heiji? Kamu kelihatan pucat. Pulanglah…"

"Pergi, Kazuha. Sekarang, saat aku masih bisa menahan diri."

"Aku tidak akan pergi!" Kazuha berseru bandel. "Aku akan membawamu pulang!"

"Pergi."

"Tidak."

"Aku baik baik saja!" serunya frustasi. Kalau dia terus di sini maka Heiji bisa kehilangan kontrol dan menyerang Kazuha.

Seperti bagaimana seorang manusia vampir lain sudah menyerangnya…


Kazuha menatap teman masa kecilnya dengan khawatir. Ia terlihat sakit. Keringat dingin membanjiri tubuhnya dan wajahnya pucat.

"Heiji…" Kazuha mencoba lagi. "Ayolah, kita pulang…"

"Jangan di sini, Kazuha. Aku berbahaya."

"Berbahaya?" Kazuha tertawa kecil, meskipun suaranya bergetar. "Heiji, kau tidak akan menyakitiku."

"Mungkin saja." Katanya serak.

"Heiji—"

Dan secepat kilat, Heiji menahan kedua bahunya dan menggigit lehernya.

Rasanya sakit, sakit sekali. Kulit lehernya robek dan Kazuha merasakan darah mengalir, dan Heiji menjilati darah itu.

Kazuha tak percaya apa yang sedang terjadi.

"Heiji." Bisiknya.

Kata katanya sepertinya menyadarkan Heiji. Heiji mundur, melepaskan Kazuha, sambil melap darah dari mulutnya. Ia terlihat ketakutan.

"Pergi!" Heiji berteriak, menabrak dinding dan merosot ke lantai.

Perlahan, jari Kazuha menyentuh titik di lehernya di mana Heiji telah menggigitnya. Darah menggenang di situ. Kazuha ingin lari, tapi entah kenapa, kakinya terasa dingin dan beku.

Setetes air mata menetes di pipinya.

"Siapa, Heiji?"

Tak ada jawaban.

Heiji terlihat malu akan apa yang sudah diperbuatnya, Ia diam saja, di sudut itu.

"Aku memperingatkanmu, Kazuha." Katanya. Suaranya masih serak.

Tapi ia jelas terlihat lebih baik dari sebelumnya, Warna kulitnya sudah mulai kembali normal. Nafasnya tidak lagi terengah-engah.

"Heiji…" kata Kazuha, tidak yakin akan apa yang akan ia katakan. Tapi wajar saja. Ia baru saja mengetahui bahwa sahabat terbaiknya adalah seorang vampir.

"Mana omamorimu?"

Heiji menarik omamori yang kini terkena percikan darah dari sekeliling lehernya.

"Biar aku bersihkan." Kata Kazuha, mengambil omamori itu. Lalu ia berjongkok di depan Heiji.

Dia sedikit gemetar.

"Kau merasa baik baik saja?"

"Oh, tidak." Gumam Heiji tidak jelas. "Aku baru saja—ya tuhan, aku baru saja—"

"Ssh," kata Kazuha pelan. "Tidak apa apa kok."

"TIDAK APA APA KATAMU?" Heiji meledak. "AKU HARUS HIDUP DENGAN MENYAKITI ORANG LAIN DAN KATAMU TIDAK APA APA?"

"Heiji, aku tidak bermaksud—"

"TIDAK BERMAKSUD APA?"

"Heiji!" Kazuha mendesis.

"Maaf." Katanya pelan. Lalu ia memalingkan wajahnya.

"Kalau kau tidak mau menyakiti orang lain, Heiji—kau bisa—kau bisa…" Kazuha berhenti sejenak,"Kau bisa minum darahku."

"Kau gila." Gumam Heiji.

"Dan kamu sudah menjadi seorang ahou." Kata Kazuha tidak sabar. "Aku serius, Heiji. Ini—" dan ia memiringkan kepalanya agar Heiji bisa melihat luka di lehernya. "Minumlah."

"Singkirkan benda itu dari wajahku."

"Heiji! Aku akan baik baik saja. Kamu pucat."

Dan benar saja, Heiji sudah mulai kembali pucat.

"Kamu akan sakit Heiji!"

Kazuha, yang percaya pada hal-hal gaib, tahu segalanya tentang vampir. Dan kalau ada satu hal yang mereka butuhkan, yang penting bagi mereka, sepenting makan bagi manusia, adalah darah.

"'Zuha." Kata Heiji tidak jelas. "Maafkan aku."

Dan pada akhirnya, sang idiot itu kembali minum. Kazuha merasa sedikit pusing, tapi ia tidak mengatakannya.

Perlahan, Heiji mulai terlihat lebih baik. Pada saat itu ia melepaskan Kazuha, yang segera bersandar ke dinding, mulai kehilangan kesadaran karena banyaknya darah yang hilang.

"Kazuha!"

Kazuha membuka matanya.

"Tunggulah—"

Sesaat kemudian Kazuha merasakan tangan terampil Heiji membalut luka di lehernya. Pandangannya mulai menjadi tidak jelas.

"'Zuha—" katanya panik.

"Aku mau tidur." Gumam Kazuha. Itulah yang terakhir dia ingat sebelum Kazuha kehilangan kesadaran.


Ahou! Untuk apa dia melakukan ini! Heiji memarahi dirinya sendiri. Ia lalu mengangkat dan menggendong Kazuha.

Lalu ia melesat ke rumahnya.

Kurang dari semenit kemudian, ia sudah sampai ke rumah. Ia melompat ke jendela dan meletakkan Kazuha di atas tempat tidurnya.

Perbannya bekerja dengan cukup baik. Heiji hanya berharap Kazuha akan baik-baik saja.


Kazuha membuka matanya perlahan. Sinar matahari masuk melalui jendela yang terbuka. Ia mengucek mata.

"Kau bangun." Kata sebuah suara lega di kaki tempat tidur.

Kazuha menoleh. Di situ duduk Heiji, yang matanya terlihat merah. Jelas ia tidak tidur semalaman.

"Aku…" kata Heiji ragu-ragu.

"Kenapa, Heiji?"

Heiji terlihat menarik nafas dalam dalam. Lalu ia berkata,

"Terima kasih, Kazuha. Aku… cinta… kamu…"

Kazuha terdiam sejenak karena terkejut. Lalu ia menjawab…

"Aku juga, Heiji."


A/N: Menurut Aricia endingnya luar biasa jelek abisssss gak tahu kenapa rasanya gak pas!

Mungkin nanti Rici edit tapi sekarang Rici capek, ngetik sejam penuh! Jaa minna! Jangan lupa review!