Author : Melody-Cinta
Disclaimer : NATSUME
Pairing : Claire x Gray –maybe-
Genre : Hurt/Comfort/Tragedy
.
.
10 Years After That
.
Pesta berjalan dengan sangat meriah di Inn. Ini memang benar-benar pesta dan reunian yang mendadak, tapi entah tersihir atau bagaimana, malam itu, semua penduduk Mineral Town benar-benar berkumpul di Inn.
Claire duduk di sofa pojok ruangan bersama Ann. Ia sudah lelah. Sedari tadi ia terus berdiri, menari, bercerita tentang masa lalu dan sebagainya. Jadi, sekarang ia memilih untuk duduk dan meneguk segelas jus anggur.
"Ah, ya, Ann," Claire memanggil Ann. Ann yang sedang tersenyum mendengar beberapa lelucon yang dilontarkan segerombolan pria teralih perhatiannya menuju Claire. "Kau bilang ayahmu sudah tiada kan? Dan tadi kudengar dari teman-teman yang lain bahwa orang tua mereka, ah, mungkin semua orang tua disini meninggal. Kalau boleh aku tahu, apa alasannya?" tanya Claire. Ia meneguk jus anggurnya sebentar lalu melanjutkan. "Aku rasa mereka masih kuat untuk hidup sampai sekarang."
Ann tertegun. Ia menimang-nimang jus anggur yang ada di tangannya. "Sebenarnya.. mereka meninggal dalam waktu yang bersamaan." jawab Ann.
Claire terkejut. "Hah? Bagaimana bisa?" tanya Claire penasaran.
Ann menutup matanya sebentar. "Jadi ceritanya..
Pagi ini adalah salah satu dari sekian banyak pagi cerah di Mineral Town. Semua penduduk merasa bersemangat pagi itu.
"Ayah, semoga ayah bersenang-senang ya disana! Dan jangan lupakan oleh-oleh untuk-ku!" ujar Ann kepada ayahnya yang tengah memasukkan barang-barangnya kedalam koper.
"Siap deh! Gray, kau mau oleh-oleh apa?" tanya Dough kepada anak sulungnya, Gray.
Gray melirik sebentar dari koran. "Terserah." gumamnya lalu kembali membaca koran hari itu.
Pagi ini, semua penduduk Mineral Town yang tergolong punya anak, akan berwisata ke Forget-Me-Not Valley. Itu semua asal usul walikota agar semua orang tua di kota itu tidak merasa jenuh dengan kota Mineral Town. Semua penduduk pun setuju.
Semua anak-anak mereka rela mereka tinggalkan. Yah, karena mereka berpikir bahwa ini bukanlah wisata yang lama. Ya, mereka hanya berwisata di Forget-Me-Not Valley selama satu minggu.
Tuutt Tuutt!
Suara kapal mulai terdengar. Semua penduduk Mineral Town mulai memenuhi pantai dan pelabuhan. Para orang tua mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu kepada anak mereka sebelum mereka pergi. Dan saat itu, wajah-wajah para penduduk Mineral Town tampak sedih dan senang dalam waktu yang bersamaan.
"Ayah pergi dulu ya. Kalian jaga diri kalian baik-baik. Gray, jaga adikmu!" ayah memberitahu Gray yang tengah berdiri disamping Ann. Gray hanya mengangguk.
"Jaga dirimu baik-baik, Yah." Gray bersuara. Ann hanya menangis sambil tersenyum. Ia sedih karena ayahnya akan pergi, tapi ia senang, karena ayahnya akan merasa bahagia disana.
{Bagi penumpang kapal menuju Forget-Me-Not Valley, diharap segera naik keatas kapal sekarang juga. Kapal akan segera berangkat}
Suara nahkoda dari kapal mulai terdengar. Para orang tua mulai masuk ke dalam kapal itu dan melambaikan tangannya ke anak-anak mereka. Dan tentu saja dibalas oleh anak-anak mereka. Setelah beberapa menit, semua anak-anak yang berkumpul mulai pulang ke rumahnya masing-masing.
Tiga hari kemudian, mereka semua mendapat kabar bahwa kapal yang tengah ditumpangi oleh orang tua mereka menabrak karang dan tenggelam.
dan mayat mereka belum ditemukan sampai sekarang." cerita Ann panjang lebar masih sambil menimang-nimang jus anggurnya. Sudah lama ia tidak ingin bercerita tentang masalah ini, berharap agar dapat melupakan kejadian itu. Tapi tetap saja tidak bisa. Ia berusaha menahan air matanya yang memberontak keluar.
Mata Claire berkaca-kaca. Sungguh itu kejadian yang sangat menyedihkan bagi semua penduduk Mineral Town. Claire menaruh jus anggurnya di meja sebelahnya lalu memeluk Ann. "Maafkan aku telah bertanya macam-macam, Ann. Aku turut bersedih." Claire memeluk Ann dengan erat.
Ann menangis di pundak Claire. Tangisannya sudah tidak bisa ia bendung lagi. Dan malam itu pun terlewatkan begitu saja.
..(o)..
(Claire POV's)
Aku terbangun di pagi hari dengan kepala yang sangat pusing. Tiba-tiba, aku merasa perutku mual. Dengan cepat, aku berlari ke kamar mandi dan muntah berkali-kali.
"Claire! Kau tidak apa-apa?" tanya Jack yang tiba-tiba saja muncul sambil memegangi kedua pundak-ku.
Aku mengangguk. "Pa.. Paling kelelahan karena pesta kemarin… HOEK!" aku kembali menutup mulutku dan muntah di wastafel. Jack kelihatan semakin panik.
"Tunggu sebentar, Claire. Aku akan memanggil Ann dan Cliff untuk datang kemari. Tidak apa-apa kan kalau aku meninggalkanmu sebentar?" tanya Jack masih panik. Aku mengangguk lemah dan kembali muntah.
Beberapa menit kemudian, Ann dan Cliff berlari kearahku. "Claire! Kau tidak apa-apa?" tanya Ann yang juga terlihat panik. Aku mengangguk. Ia membopongku—yang dibantu oleh Jack tentunya—kearah kasur. Aku tiduran disana sambil memegangi perutku. Benar-benar, aku merasa sangat lemas dan pusing. Ada apa denganku?
"Tolong tunggu sebentar. Aku akan memanggil Trent!" Cliff dengan sigap segera berlari keluar kamar dan pergi ke Klinik.
Jack duduk disebelahku dan memeluk-ku. Aku merasa kehangatan darinya. Dan itu sedikit membuatku lebih nyaman. Tak lama setelah itu, Trent—atau dulu lebih sering kusebut Doctor—datang bersama Ellie.
"Tolong periksa istri saya dengan teliti, Dok!" Jack berkata dengan tidak sabar. Trent hanya memasang wajah dinginnya seperti biasa dan mendekatiku. Memeriksaku dengan teliti menggunakan stetoskop.
"Bagaimana?" tanya Jack khawatir. Aku sangat suka saat ia menjadi sangat khawatir dan peduli padaku. Ah, mungkin sifatnya inilah yang telah membuatku jatuh cinta pada Jack.
Trent menggeleng pelan. Membuat Jack, dan tentu saja aku, menjadi panik, khawatir dan penasaran. "Ini bukan karena sakit, kelelahan atau apapun," ujar Trent. Aku dan Jack—serta Ann, merasa heran. "Tapi, ini semua karena Claire sedang hamil," Lanjut Trent lagi. Tiba-tiba air mata keluar dari mataku. Aku terharu mendengar semua ini. "Baiklah, aku pergi dulu. Ayo, Ellie." Trent pun pergi bersama Ellie keluar ruangan.
Jack menatapku dengan haru dan memeluk-ku dengan penuh kasih sayang. "Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu. Sangat." Jack membisik-kan itu tepat di kupingku. Wajahku seketika merona dan aku merasa tidak dapat menjawab apa-apa. Aku terlalu senang tentang ini.
"Err.. Selamat atas kehamilanmu, Claire. Aku turut senang. Dan.. maaf, aku pergi dulu. Ada banyak yang harus aku persiapkan." aku mengangguk dan Ann pun keluar dari kamar ini. Maka, tinggal aku dan Jack di kamar ini.
..(^v^)..
(Gray POV's)
Aku menyeruput kopi yang ada di tanganku. Memandangi pemandangan luar yang cerah dan segar. Namun tak terlintas sedikit pun hasrat untuk keluar dari rumah ini.
Ternyata Claire sudah menikah, huh? Yah, tidak aneh sih. Aku saja sudah menikah, apalagi dia? Mana mungkin dia masih mengharapkanku sampai sekarang kan? Tapi.. aku tidak tahu apakah aku harus cemburu, kecewa atau malah senang atas pernikahannya. Entahlah. Perasaanku campur aduk saat dia kembali ke kota ini.
"Pagi yang cerah, ya?" tanya suara lembut dari sampingku. Aku menoleh. Mary sedang tersenyum sambil melihat keluar jendela. Ia sangat cantik hari ini, dengan baju terusan warna hijau lengan pendek, dan rambut yang digerai. Aku sangat terpesona olehnya. "Hei, jangan melihatku seperti itu, Gray. Aku malu." ucapnya. Aku tersadar dan tersenyum.
"Maafkan aku, tuan putri. Aku terpesona oleh kecantikanmu." ujarku. Baiklah, seperti aku sudah ketularan kegombalan Kai. Namun, ucapanku telah membuat Mary tersipu malu. Membuatnya tambah manis. "Ah, ya, dimana Remi sekarang?" tanyaku.
"Sedang bermain bersama Kaji. Sepertinya mereka sangat akrab." jawab Mary tersenyum senang. Kaji memang anak yang baik. Aku tidak melarang Remi bermain dengannya. Ditambah lagi, Kaji adalah anak sulung dari Kai dan Jill. Adiknya yang bernama Kyle juga manis.
"Aku senang Remi cepat akrab dengan siapa saja." aku tersenyum dan kembali menyeruput kopiku.
..($.$)..
(Normal POV's)
Jill tersenyum saat melihat kedua jagoannya tengah bermain dengan Remi. Mereka terlihat sangat senang dan gembira. Tak ia sangka, melihat anak kecil bermain saja sudah bisa membuat ia ikut senang dan bersemangat seperti mereka. Anak kecil memang ajaib!
Kriiiing!
Telepon rumah Jill berbunyi. Dengan sigap, ia mengangkat telepon rumah itu.
"Halo? Jill disini."
"Jill, ini aku Claire. Ada sesuatu yang ingin kuberitahu padamu!"
"Heh? Sesuatu apa?"
"Pokoknya cepat kesini!"
"Oh, baiklah. Erm, tapi kedua anak-ku sedang bermain dengan Remi. Bolehkah aku mengajak mereka juga?"
"Wah, tentu saja boleh! Cepat ya~"
"Oke deh! Tunggu aku disana ya! Dah!"
Jill menuju kearah kamarnya. Mengambil beberapa kebutuhan bayi—untuk Kyle tentunya—dan memasukkannya ke tas yang cukup besar. Setelah itu, ia pergi ke tempat dimana ketiga anak kecil itu sedang bermain.
"Baiklah, anak-anak. Sekarang kita akan pergi. Kalian ikut ya?" tanya Jill sambil tersenyum. Ia menggendong Kyle dan menggandeng tangan Remi. Bagaimana pun, yang harus lebih dipentingkan olehnya adalah anak perempuan dan anak bayi. Lagipula, Kaji selalu bilang bahwa dia sudah besar dan tidak mau digandeng lagi. Hah, dasar aneh, padahal umurnya saja baru empat tahun. Sama seperti Remi.
Mereka berjalan keluar dari arah pertanian Jill. Ya, Jill masih tinggal di pertaniannya yang dulu. Dengan Kai tentunya. Entahlah, tapi dibanding tempat lainnya, ia lebih suka tinggal disana.
"Kita mau kemana sih, Tante Jill?" tanya Remi menengadah untuk melihat Jill yang lebih tinggi darinya. Jill hanya tersenyum.
"Kita mau ke Inn." jawab Jill singkat dengan senyuman khasnya yang lembut.
"Kita mau makan ya, Ma?" tanya Kaji dengan semangat. Ya, memang anak Kai dan Jill yang satu ini hobi sekali makan. Mungkin karena masakan ayahnya yang (sangat) lezat itulah yang membuat dia menganggap semua makanan itu enak.
Jill menggeleng. "Kita mau mengunjungi Tante Claire, sweetheart," jawab Jill. Membuat Kaji sedikit kecewa. "Tapi kalau sempat, kita akan makan siang disana." lanjut Jill yang membuat Kaji tersenyum senang.
..(o.O)..
KLEK!
Jill dan ketiga anak kecil yang dibawanya memasuki kamar Claire. Disana, Claire terlihat terbaring lemas. Tapi ia terlihat tersenyum senang.
"Waa! Yang kecil lucu sekali! Siapa namanya? Kemarikan dia, aku ingin pegang~" Claire sontak berteriak girang saat melihat Kyle yang tengah digendong Jill.
Jill berjalan mendekat dan menaruh Kyle di sebelah Claire. Dan menaruh tasnya di lantai. "Namanya Kyle. Pangeran kecilku." ujar Jill tersenyum sambil mencubit pipi Kyle yang chubby di gendongan Claire.
"Aku rajanya!" seru Kaji tiba-tiba. Claire melirik kearah Kaji dan matanya terbelalak.
"Ya ampun! Apa kau miniatur Kai? Kau mirip sekali dengan Kai!" ujarnya setengah berteriak. Ya, Kaji memang sangat mirip dengan Kai. Dari kegemarannya memakai bandana, cara berpakaiannya, bahkan logatnya. Yang membuatnya beda hanya warna kulit. Kalau Kai hitam, ini adalah versi putihnya. Hm, sepertinya ia harus bersyukur karena mempunyai ibu yang putih seperti Jill.
Mata Claire terfokus pada seorang anak disamping Kaji. Seorang anak dengan paras yang mirip dengan Gray. Dan.. memiliki rambut berwarna pirang! Benar-benar mirip dengan Gray! "Kau.. siapa?" tanya Claire mencoba bertanya pada anak itu. "Aku.. Aku Remi. Anaknya Papa Gray dan Mama Mary." jawab anak itu malu-malu. Tampak semburat tipis di wajahnya.
Claire tertegun. Ternyata ia adalah anak Gray dan Mary. Entah ia harus senang atau kecewa dengan ini. Ia sangat bimbang.
To Be Continued ..
Chap ini khusus kubuat untuk menjawab pertanyaan kenapa para orang tua disini sudah pada meninggal. Dan ini juga untuk menjelaskan berapa umur Remi dan Kaji. Kalau umur Kyle, dia berumur dua tahun. Em.. tentang pairing, aku gak tau bakal berakhir Claire x Gray atau tidak. Tapi sepertinya sih tidak. Entahlah, kalau ada waktu dan kejadian yang tepat, mungkin akan kubuat Claire dengan Gray. Sekian curhatanku, mohon..
R
E
V
I
E
W
!
!
