"a..a?Se-sebastian?ti-ti-tidak ada a..pa-apa,kok,sungguh!"Kataku gagap.

"Ada apa?kudengar kau bicara sendiri?"Tanya Sebastian.

"ngg..ng.."Aku gugup

"Tak apa,kau bisa memberitahuku"

Hening sejenak.

Kemudian aku angkat bicara,

"Sebenarnya..aku menyukai ..aku tidak merasa seharusnya aku juga tidak menyukainya,"

"Heee?siapa orang itu?"

"Ng..eh…bukan siapa-sia-"

"Tuan Soma?wow"

"Eh?eeeeeeh?"Aku segera menutup mulut Sebastian.

"Ssssst!besar sekali suaramu!"Omelku ketika kulepaskan tanganku dari mulutnya.

"Memangnya benar,ya?"

"Sssssst!"

Sebastian menghela ia meletakkan satu tangan di pundakku.

"Tidak apa-apa,aku yakin dia juga menyukaimu kok."

"Darimana kau tahu?huh,"kataku agak tau banget sih jadi orang.(?)

"Cara dia menatapmu,"

"Eh?"

"Cara dia bicara padamu,"

"Eh?eh?"

"Cara dia memegang tanganmu,"

"Eh?eh?eh?"

"Dan perjuangannya membawamu kembali waktu itu."

"Eeeeh?"

"Memangnya kau memperhatikan?"

"Tentu saja,kalian ikut bahagia,"Sebastian tersenyum.

Aku jadi ikut itu bohong,aku agak terhibur.

"Terima kasih, memang baik!"

"sama-sama"

"Ng,bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Ya?"

"Kau menyukai tuan Ciel ya?

"Hm..mungkin,"

Kulihat ada sedikit semburat merah di pipi putih Sebastian.

"Ahahaha,kita sama-sama jaga rahasia ya."

"Iya"

"Nah,aku permisi"

Aku keluar dari dapur,membawa makan malam untuk tuan Soma.

Soma's POV

Aku berbaring,berusaha santai.

suara pintu terbuka.

"Ah,tuan Soma!ini makan malam anda,ayo dimakan!"Kudengar suara Agni yang jadi hangat.

"Nngh..iya,Agni."Aku bangun dari tempat tidur,berusaha berjalan,tapi rasa pusing yang tadi siang mulai aku mau muntah.

"A-ada apa,pangeran?",Agni terlihat khawatir.

"Ma-mau..muntah..ugh..hueeek!uhuk!"

Aku memuntahkan isi perutku dilantai.

Syukurlah,kalau aku muntah di karpet bisa-bisa Ciel langsung mengusirku.

"Pangeran!kau tidak apa-apa!"

Agni langsung menggendongku.

"To-toilet..uhukk!"

Agni dia menggendongku sampai di toilet.

Sesampainya di toilet,Agni langsung menurunkanku ke bangku kecil,kemudian membuka satu persatu kancing bajuku.

"A-agni..aku-aku pusing sekali.."

"Aku mengerti, membersihkan ini,kita kembali,ya",Agni menenangkanku.

Agni terus membuka bajuku,kemudian celana aku tinggal mengenakan celana sepertinya ia jadi agak gugup.

Kemudian ia mengambil handuk kecil disamping wastafel dan membasahinya dengan air.

Ia mulai mengusap tubuhku dengan handuk ,kemudian turun ke memijat lembut bagian belakang leherku dengan handuk hangat sedikit mendesah keenakan ketika dia mengusap 'sweet spot'-ku.

Tangannya turun makin kebawah.

Ia mengusap pundakku,kemudian dadaku yang mendesah ketika kurasakan handuk hangat itu menggesek putingku yang berdiri.

Agni tidak menunjukkan tanda-tanda dia melihatku mendesah,tapi sepertinya dia tahu bagian depan celana dalamku bertambah besar.

Handuk hangat turun ke perutku,mengusap ke punggungku,turun ke paha bagian depan dan belakang,setelah itu kaki.

"Nah!sudah selesai,pangeran!"Katanya mengambil piama baru di kloset,memakaikan piama itu kepadaku.

"Iya!ayo,Agni,kita kembali ke kamar,"

Kataku berusaha ceria.

Agni kembali mengangkatku ke kamar,menaruhku dengan hati-hati di duduk bersandar ke bantal sementara Ia menarik selimut menutupi sebagian tubuhku.

"Tunggu sebentar,pangeran,aku akan membersihkan lantai dulu."

Kemudian dia keluar kamar.

Beberapa menit kemudian dia datang membawa kain pel dan ember,membersihkan lantai yang kotor akibat muntahanku.

Aku hanya menatapnya.

Agak merasa bersalah.