Half the Happiness Chapter 3
Sakura POV
Sekejap… aku teringat sebuah memori…
Aku mengingat seorang lelaki mengendarai mobil. Tiba-tiba pintu mobil terbuka … mobil terjatuh dan seseorang yang sedang menarik tangan orang lain.
BRAKKKKKKKK!
Terlambat…
Aku terlambat…
ah…
Hitam…
"Sakura…" Ada beberapa suara yang terdengar ditelingaku, kesadaranku kembali dan ada Naruto nii-san, Kiba, Sasuke, Ino, Hinata dan juga Gaara. Tak ada ibu ataupun Karin disampingku.
"Mana… Karin dan ibu?"Tanyaku agak lemas
"Karin masih di ruang icu. Dan ibumu terus menangis…"
"Karin… maafkan a-aku gara aku ka-"ucapku
"Dasar bodoh"Potong Naruto-san "Kau memang terlalu baik. Jangan bertindak sejauh itu!"Omelnya
"Heh, jangan marah-marah dirumah sakit!"Balas Ino
"Bi-biarkan aku menjenguk Karin…"Aku membuka selimutku dan melihat kakiku… diberi gips. "Kakiku? Kenapa… Be-begini?"
"Ah… itu akibat kau menolong Karin. Ka-kaki kananmu patah. Mungkin butuh waktu yang lama, atau bahkan, ehm se-selamanya tak bisa berjalan lagi…"
"A-apa? Ti-tidak mung..kin"
"Tapi… syukurlah kau selamat, Sakura."Ujar Sasuke
"Iya, untung saja kau masih diberikan kehidupan"Lanjut Gaara
"Walaupun kau tidak bisa berjalan, kau tetap sahabat kami"Timpa Temari
"Kapan aku mulai bisa keluar lagi?"Tanyaku
"Kata dokter sih seminggu lagi. Tapi nanti kau bisa pakai kursi roda, kok."Jawab Naruto-san sementara Sasuke hanya menatap Naruto-san tanpa ekspresi.
"Sejak kapan aku ada disini?"
"Cukup lama, Karin belum sadarkan diri. Sementara yang menabrak kalian lari begitu saja."Cerita Naruto-san dan tiba-tiba dokter masuk ke dalam kamarku.
"Bagaimana keadaanmu nona Haruno? apa yang kau rasakan?"
"Kakiku sangat sakit"
"Ya… kami sedang memeriksanya. Jangan banyak bergerak jika ingin cepat keluar."
"Baik, dokter"Jawabku
"Oke, kalau begitu. Selamat sore"
"Heh? sore?"aku bingung dan membuka tirai, sudah sore? "Aku tertidur berapa hari, sih?"
"1 setengah hari, mungkin… ahaha"Jawab Ino
"Hah? Sa-satu setengah hari? Gawat! Besok aku harus mengerjakan tu-"
"Ku pikir kau itu pintar, sudah pasti kau nggak sekolah selama seminggu!" Sasuke menyentil dahi lebar-ku
"Aaah, sudah sore?" Ino dan Temari panik "Kita harus ngebut! ada diskon di Supermarket Toyu!"Mereka langsung keluar dari kamar rawatku dan buru-buru ke supermarket karena diskon dan melupakan sehabatnya yang kini… perempuan sendiri!
"Ah…"Tinggal aku cewek sendiri… jangan tatap aku! jangan tatap aku!
"Uuung… kalau gitu, besok kuberitau apa saja tugas dari sekolah, cepat sembuh, ya." Gaara mengusap kepalaku sambil tersenyum lebar dan aku hanya mengangguk dan tersenyum, perlahan-lahan suara langkah kakinya menjauh hingga tak terdengar oleh telingaku.
"Jadi… sekarang kita mau ngapain?"Tanya Sasuke
"Aku mau pulang, besok aku harus berangkat jam 6 ke sekolah, aku jadi panitia, sih… daaah" Kiba juga ikut pulang. "Hu-h, kalau bisa akan kutolak perjanjian jadi panitia itu! Aku mau bersama Sakuraaa!" Kiba ngedumel.
"Aku sih disini saja…"Ucap Naruto-san sambil duduk dibangku kanan dan membaca komik.
"Aku juga disini" Ucap sasuke ikutan duduk dibangku sebelah kiri.
"Haaah. aku mau menjenguk Karin, nih! Aku khawatir!"Ucapku pelan. Tiba-tiba seorang suster yang bernama Shizune datang ke kamarku menambah keadaan menjadi LEBIH kacau.
"Maaf, waktu menjenguk sudah habis. Silakan kalian pulang".
"Hei anak kecil! Besok kau sekolah, sana pulang!" ucap Naruto-san yang menyindir Sasuke.
"Hei, kau juga harus pulang!"Balas Sasuke
"Kalau nggak ada aku nanti siapa yang membantunya naik ke kursi roda?"
"ada suster"
"Apa setiap saat selalu ada? lalu jika ingin dibantu mengambilkan sesuatu juga butuh suster untuk kesini? kan merepotkan"
"Sudah! jangan bertengkar! Kalau begitu anak dibawah 17 tahun harus pulang!"Omel suster dan Naruto menunjuk Sasuke lagi.
"Saya 17 pas, dan anak kecil itu baru 15"
"he-hei!"
"Nah, nak. waktunya pulang, jangan membuat keributan lagi!"Suster menarik Sasuke yang memberontak.
"Awas kau!"
"Haha..anak kecil, dasar kau ".
Aku hanya sweatdrop melihat tingkah mereka berdua. Yah, lumayan berdebar juga sih, toh sekarang…. Cuma berdua sama ehmNaruto-san. Beberapa menit setelah Sasuke diusir aku memutuskan untuk menjenguk Karin yang masih di ruang ICU, aku duduk di kursi roda dengan bantuan Naruto-san. Letak ruang ICU tak jauh dari kamar rawat, jadinya bisa agak cepat. Aku agak takut setelah melihat ibu yang menangis, dari kejauhan firasatku sudah nggak enak.
"I-ibu…"Ucapku…
Ibu menengok melihatku lalu ia berlari menghampiriku… untuk…
PLAK!
Ibu menamparku.
"Anak sialan! Pasti gara-gara kamu, kan! Gara-gara kamu! kau akan menghilangkan hartaku yang paling berharga lagi!"
"Ta-tante tolong tenang dulu! Sakura tidak bersalah!" Naruto-san mencoba menenangkan ibu
"Diam kamu! Gara-gara anak sialan itu! Kau akan membunuh semua keluargaku!"
"Eh? Maksudnya, ibu nggak menganggapku sebagai keluarga?"
"khh…"Ibu langsung terlihat panik
"Katakan padaku, bu…"
"Be-berisik! Gara-gara kamu ayah meninggal!"Teriaknya sambil menggoyangkan pundakku, aku hanya bisa bengong mendengar perkataan ibu bahwa… ayah sudah meninggal?
"lalu… yang mengirimiku surat itu siapa?"
"Orang lain. Dia bukan ayahmu, dan aku menyuruh kerabat dekat ayahmu sekaligus rekan kerjanya untuk mengirimi surat untukmu."Cerita ibu dan disitu dadaku terasa sangat sesak. Perlahan badanku bergetar dan lemas.. Cairan hangat memaksa untuk keluar dari mataku.. Air mataku.
"Lalu… jika Karin meninggal ibu nggak menganggapku keluarga?"
"Sebagai anak angkat!"Ucapnya serak "Karena kau sebenarnya bukan anak kami"
"Jadi… aku itu sebenarnya siapa?"
"Kau bukan anak kami yang sebenarnya! Anak kami yang sebenarnya hanya satu! Hanya Karin!"Disitu aku tak dapat mengungkapkan kata, ibu juga mulai merasa bersalah "Maafkan ibu, Sakura…"
"Kenapa ayah bisa meninggal?"Tanyaku
"Ingatkah permintaanmu sewaktu sebelum ayah pergi?"Tanya ibu balik dan aku mengangguk, aku ingat kalau permintaanku hanya sepucuk bunga indah yang sewaktu itu kulihat bersama ayah.
"Bunga yang kau minta letaknya hanya satu, dan bunga itu tumbuh di tempat yang rawan. Karena kita keluarga miskin waktu itu, ayah terpaksa tak membelinya ditoko karena tidak ada uang. Maka ia mengambilnya di tempat yang rawan, tempatnya sangat terjal… dan saat itu sehabis hujan, saat ia ingin mengambilnya, ia terpeleset dan jatuh ke lubang yang penuh dengan batu besar yang tajam, tempatnya dari atas juga sangat jauh dan terjal… saat ayah dibawa ke RS nyawanya sudah tak terselamatkan"Cerita ibu panjang lebar dan aku hanya bisa menatap wajah ibu yang sedang menahan tangisannya "Sejak itu ibu menganggapmu sebagai pembunuh. Karena ibu berpikir, seandainya ayah tak mengambil bunga itu untukmu, maka ayah tidak akan meninggal!"
"I-ibu…"
"Namun ibu juga merasa sedikit bersalah karena ibu menyalahkanmu yang tak tau apa pun…Ibu terus memarahimu untuk menghukummu karena kau yang telah membunuh ayah!"
"Lalu… darimana ibu menemukanku?"Tanyaku dengan menahan air mataku yang ingin keluar lebih deras. Tiba-tiba suster keluar dari
"Keluarga Karin, ia sudah sadar…"Panggil suster dan ibu berlari cepat ke ruang ICU, aku mengikutinya dari belakang bersama Naruto-san. Begitu masuk aku melihat sosok Karin sedang terbaring lemas, menatap langit-langit ruang ICU.
"Karin! karin! kau baik-baik saja, nak?"Tanya Ibu terburu-buru. Karin hanya mengangguk pelan, aku memegang tangan Karin yang agak dingin.
"Karin… maafkan aku, ya. Aku tak berhasil melindungimu"Ucapku. Karin menggelengkan kepalanya.
"Kau…su.-dah melindungiku… Sakura" Karin berusaha mengucapkan kata-kata dengan kondisinya yang memprihatinkan.
"Karin… berusaha supaya tetap sehat ya…"Aku menggenggam tangan Karin erat, Karin mengangguk
"Aku berusaha untuk kalian.."Balas Karin
Aku tersenyum "Karin…"
"Ibu… tolong.. jangan menuduh..atau memarahi Sakura la-gi"Pinta Karin
"Ke-kenapa?"
"Karena dia… dia telah menolongku.. bukan menolongku karena kecelakaan ini… saat di dinginnya cuaca, aku sendirian.. dia berhasil meluluhkan hatiku dengan pelukannya… aku merasa tak kesepian lagi."
"Tidak, Karin… Kau juga berusaha"Ujarku
"A-aku…sa-sangat menyayangi kalian…"
"Karin!"
"Kuharap… kalian tidak ada dendam…"
piip…pip~
"Karin, jangan-"
"KARIIIN!"Teriak ibu histeris "Suster!"Ibu berteriak panik dengan kencang suster juga dokter datang kemari, mengambil sebuah alat yang ditempelkan ke jantung Karin, setiap benda itu menyentuh badan Karin naik, hal itu terus berulang kali dilakukan oleh dokter, hingga sentuhan yang terakhir tak dapat membuatnya kembali. Ibu berteriak histeris dan menangis… Karin…telah tiada didunia ini…ia sudah dipanggil kembali, dia hidup di alam yang berbeda.
"Bu… sudahlah tenang, ibu jangan menangis, nanti Karin sedih karena ibu menangis"Aku mencoba untuk menenangkan ibu meskipun aku sendiri juga mengeluarkan air mata.
"Bagaimana ibu bisa senang kalau ibu kehilangan anak satu-satunya! Apa kau senang?"
"Tidak, a-aku juga sedih, tapi kalau terlalu berlebihan Karin akan tidak tenang karena ia berpikir ibu akan sangat terpuruk."Ujarku tegas dan ibu mulai agak tenang.
Tuhan… kumohon… jangan engkau ambil semua orang yang kusayang dan orang yang menyayangiku. Kumohon!
Aku berteriak dalam hati, memohon dan terus memohon. Aku takut jika nanti ibu akan pergi. Walaupun ternyata ia bukan ibu kandungku, aku tetap menyayangi ibuku!
"Ibu, aku mau keluar dulu, ya. Besok pagi adalah pemakamannya"
"Ya, hati-hati, ya…"
Aku diam ketika ibu berkata 'hati-hati, ya' karena sebelumnya ibu tak pernah berkata seperti itu padaku "I-iya"Balasku, lalu aku meminta Naruto-san untuk pergi menuju taman belakang. Dalam beberapa menit kami berdua sampai di taman belakang rumah sakit, luas sekali… Hawanya juga sejuk, apa karena cuacanya agak mendung?
"nah, sudah sampai… tapi agak mendung, nih."Ucap Naruto-san
"Iya, nggak apa kok"Balasku… kami diam selama 2 menit, sehingga aku harus membuka mulutku"Naruto-san…"
"Ya?"
"Kau pernah kehilangan orang yang kau sayang?"Tanyaku
"Hn? Pernah, kok. Dia… teman masa kecilku. Dia juga meninggal karna kecelakaan."
"Heh?"
"Waktu itu sih masih kecil banget, entah kenapa aku teringat hal ini."Naruto-san duduk dibangku taman rumah sakit, di depan kursi rodaku "Kejadian ini terjadi saat aku masih kelas 1 SD, dan dia masih TK. Dia meninggal di sebuah kecelakaan mobil, dan keluarganya juga telah tiada. Tapi sih kudengar ayahnya sekarat selama setahun dan akhirnya aku tak tau lagi. Tapi… yang pasti orang yang kusayang itu sudah meninggal"Cerita Naruto-san.
"lalu?"
"Maaf… aku tak berani meneruskannya"Dia berusaha untuk tersenyum
"Ah… maaf… tak apa kok"
"Ah, aku mau ke toilet sebentar!"Naruto-san langsung mengambil langkah seribu. Setelah memastikan Naruto-san pergi aku Aku langsung mencari tempat yang sepi, setelah aku menemukannya aku terdiam sejenak, lalu aku mengela nafasku dan mulai menangis lagi. Menumpahkan semua air mata yang terus kutahan sejak tadi… Selama beberapa menit aku terus menangis hingga tiba-tiba rintik-rintik hujan menetes, langit menangis, seperti diriku… Menangis… di sore ini, di cuaca yang sedingin ini... Aku langsung memajukan kursi rodaku ke pohon yg sangat tinggi dan besar, hingga dari kejauhan terlihat sosok Naruto-san lalu aku menghapus air mataku segera.
"Hei, kok kamu bisa disini, sih?"Tanya Naruto-san
"E…eh? Tadi aku mau nangkap kelinci, terus tiba-tiba ia pergi begitu saja, ehehe… maaf"Alasanku
"Hoooh… kau habis menangis, ya? dipipimu basah, tuh!"
"Eh? tadi kena rintikan hujan, dan aku langsung buru-buru kesini…"
"O…ooh… masuk akal juga, sih, padahal hujankan masih rintik- rintik begini. Kalau gitu kita masuk ke kamarmu saja, sudah jam 5"Naruto-san mendorong kursi rodaku.
Dalam beberapa menit kami berdua sampai di lantai 2, di kamar rawatku, terlihat sosok ibu yang sedang duduk tertidur di sebelah ranjangku. Seperti tertidur sehabis menangis.
"Ah… kalau ada ibumu aku pulang saja mungkin?"pinta Naruto-san
"Ah, boleh terima kasih ya, Naruto-san"Jawabku
"Iya.."Balas Naruto-san sambil mengambil tasnya "Sakura…" lanjutnya
"Ya?"
"Semoga kau cepat keluar dari rumah sakit, ya" Naruto-san mengusap rambutku "Jangan menangis seperti tadi"
"Hah? emang aku nangis, apa?"tanyaku lalu Naruto-san menunjukkan jarinya kearah mata kiriku. OMG, kepalaku memanas, ah tidak tidak tidak. Aku tidak mungkin blushing!
"Ini karena rintikan air hujan juga, ya?"
"Eh…"Wajahku tambah memerah karena malu. "I-iya!"
"tipuan yg bagus…"Ucapnya. Ia lagi-lagi mengusapkan tangannya ke rambutku lalu ia keluar dari kamar rawatku untuk pulang ke rumahnya.
"Na-Naruto-san?"
"Sakura…"Ibu terbangun dari tidurnya
"Ibu… maaf aku mengganggu tidurmu"Aku menundukkan kepalaku
"Tak apa. Ibu juga sudah agak lama tidur kok."
"O-oh…"
"Sakura, sini ibu bantu naik"Ibu beranjak bangun dari kursinya dan ia menolongku untuk naik ke ranjangku, ia membantuku untuk naik dan akhirnya ibu berhasil membantuku untuk naik ke ranjangku.
"Bu, aku ke pemakaman Karin besok boleh pakai tongkat saja? kan hanya kaki kananku"
"Boleh… agar kau bisa melihat Karin untuk terakhir kalinya"Ibu memelukku erat, tubuhnya hangat… sungguh sangat nyaman dipeluk seperti ini. Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan pelukan ibu.
Besok… adalah terakhir kalinya aku melihat Karin, kumohon tuhan… Aku berharap… Karin adalah orang terakhir yang hilang dari kehidupanku! Jangan engkau tambahkan lagi. Aku mohon!
To be continued…
Aduduh…Nggantung! Jadi bingung. Endingnya enakan Sasusaku apa Narusaku ya? Makasih ya buat Tobito Uchiha, Uchiharuno Rin, sama Red Sunday sky dan aiueo yang udah me-review. Berhubung ending udah dibuat, Via sama Ria (Viari) ga akan merubah pair yang sudah direncanakan. Hiks~ maaf ya buat yang pairnya ga terlalu disuka. Hueeee *plak*
Viari: "Review yak!"
