"Untuk apa kau membawaku kemari?"
"Ayolah,keluar dulu dari mobil."
Zoro ragu-ragu,tapi akhirnya keluar dari mobil Sanji dan menutup pintu di belakangnya. Sanji mengunci mobilnya.
"Nah,jelaskan padaku."
"Ikut aku dulu."
Sanji mengamit tangan Zoro dan membawanya ke pinggir pantai. Zoro tidak dapat melihat ke arah laut lepas karena gelap. Di sekeliling mereka cukup ramai,tapi Sanji terus menarik tangan mereka hingga sampai ke tempat yang agak sepi. Tempat ini juga dipenuhi pasangan-pasangan seperti Zoro dan Sanji. Bedanya,lebih banyak lelaki dengan perempuan.
"Nah,duduk disini."
Zoro tidak bisa berkata apa-apa saat Sanji mendorongnya ke tikar diatas pasir.
Sanji menghampiri penjual kentang bakar dan membeli coke untuknya dan Zoro. Kemudian kembali ke tempat yang tadi. Zoro sedang memandang laut lepas. Sekarang banyak kapal-kapal megah yang sepertinya hendak menepi,sehingga laut terlihat indah dengan banyak lampu dari kapal-kapal tersebut.
"Hei,ini untukmu."
Sanji menyodorkan kentang bakar dan coke yang baru ia beli kepada Zoro.
Zoro menerimanya kemudian menggumamkan 'terima kasih'. Mereka makan dalam diam untuk beberapa saat,mengamati laut yang kini dipenuhi kapal-kapal besar yang siap merapat.
"Nah,jadi,jelaskan padaku alasan kenapa aku dibawa kemari."
Zoro angkat bicara. Sanji menyesap coke-nya sebelum berbicara.
"Ng,tidak ada apa-apa sih."
Jawab Sanji santai,membuat Zoro agak sewot. Zoro diam selama beberapa saat.
"Zoro,ingat waktu pertama kali kita bertemu?waktu kau kelas 1 dan aku kelas 2."
Zoro tertawa.
"Tidak mungkin aku lupa. Bertemu dengan si koki bodoh ini."
Sanji ikut tertawa.
X FlashBack X
"Hei,kau!" Teriak Sanji kepada salah satu anak baru yang akan menjalani masa orientasi siswa. Marimo ini sangat susah dibilangin dan sama sekali tidak hormat pada seniornya! Sanji adalah wakil ketua osis. Anggota osis lainnya sudah menyerah menghadapi rumput kepala batu itu.
"Ng,apa?"
"Bukan 'ng,apa?'! Baris yang benar! Rapikan bajumu! Jangan mengecat rambut! Apa kau tidak bisa membaca peraturan? Dan mana name-tag mu?"
"Tidak bawa. Aku tidak mengecat rambut,ini asli. Apa urusanmu jika aku tidak memakai baju dengan benar? Luruskan dulu alismu yang keriting itu."
Sanji benar-benar meledak.
Akhirnya,masa orientasi pada hari itu harus dibubarkan karena guru-guru serta anggota osis lainnya harus melerai dua orang pemuda yang bertengkar dengan kekuatan diluar manusia biasa.
Setahun berikutnya dipenuhi dengan pertengkaran. Namun,tidak ada yang kebencian yang tersirat di mata keduanya.
Sanji selalu mencari masalah dengan Zoro agar ia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan si marimo. Zoro,memang tidak mengakui,tapi ia merasakan ada yang berbeda dengan Sanji. Lambat laun,seiring dengan pertengkaran yang ada,mereka makin mengenal lebih jauh tentang diri mereka. Muncullah rasa yang tak biasa diantara mereka.
Hingga pada akhirnya,dibawah langit cerah berangin sejuk bulan agustus,Sanji menyatakan rasa tersebut kepada Zoro. Walaupun melalui sedikit pertentangan batin,Zoro bisa menerima Sanji sepenuhnya.
X End Of FlashBack X
Sanji tersenyum kepada Zoro,yang membalas senyuman itu. Kemudian Sanji berdiri dan menarik tangan Zoro agar ikut berdiri. Mulanya Zoro agak bingung,tapi akhirnya ikut berdiri.
Tubuh kedua pemuda itu membentuk siluet panjang di pasir pantai Sunny. Sanji memandang Zoro dengan serius. Zoro membalas tatapan itu dengan sama seriusnya. Sanji menarik nafas dalam-dalam.
"Zoro,aku tahu kau baru berusia 16 tahun,dan aku 17 tahun. Tapi kita sudah bersama selama 3 tahun,dan itu bukanlah waktu yang sebentar..jadi.."
"Bisakah kau bicara langsung ke intinya?",potong Zoro.
"Bisakah kau tidak menyelaku untuk beberapa saat saja?kumohon?"
"Baiklah."
Sanji menarik nafas dalam-dalam lagi. Kemudian ia berlutut di depan Zoro dan mengeluarkan kotak hitam berukuran kecil dari dalam sakunya. Mata Zoro melebar,mengetahui kemana ini akan berjalan selanjutnya.
"Zoro,aku hanya akan bertanya padamu satu kali..."
Zoro menarik nafas. Sanji memegang tangan Zoro.
"May I be your one and only love forever? May I stand by your side from now,and forever? I promise I will make you happy,no matter what happen. Zoro..."
"Would you marry me?"
Pandangan Zoro agak kabur oleh air mata yang sedikit menggenang di pelupuk matanya. Zoro terisak pelan dan mengangkat Sanji agar berdiri pada kakinya. Mereka berpandangan selama beberapa saat. Walaupun dihalangi oleh air mata,Zoro dapat melihat wajah Sanji yang penuh harap. Ia memukul pundak Sanji pelan,kemudian ia memeluk Sanji dengan erat.
"Yes,yes I will. I love you,Sanji"
Sanji balas memeluk Zoro,melingkarkan tangannya pada pinggang Zoro yang langsing. Setelah Zoro melepaskannya,Sanji memasukkan cincin emas polos ke jari manis kiri Zoro. Terpahat dan dapat terbaca dengan jelas di permukaan cincin tersebut, tulisan "Sanji's". Zoro pun memasukkan cincin perak kehijauan ke jari manis Sanji. Sama dengan cincin miliknya,di permukaan cincin perak itu juga terdapat tulisan "Zoro's".
Mata mereka bertemu,disusul dengan bibir mereka. Tepat ketika Sanji menempelkan bibirnya di bibir Zoro,kembang api meledak di atas lautan sehingga mereka memisahkan diri. Jelas sekali salah seorang dari kapal-kapal besar yang tadi memasangnya. Namun itu bukan kembang api biasa.
Lama kelamaan,kembang api itu membentuk tulisan 'Sanji and Zoro forever!',berpendar indah di langit sebelum menghilang. Zoro melihat dengan pandangan bertanya ke arah Sanji yang menggaruk kepala dengan salah tingkah.
"Aku meminta temanku,kapten Luffy,untuk membuat kejutan ini untukmu. Itu dia."
Zoro menolehkan kepalanya ke salah satu kapal bernama 'Thousand Sunny' dan jelas-jelas seluruh awak kapal tersebut sedang melihat ke arahnya dan Sanji,memberikan applaus dan meneriakkan 'selamat! Semoga berbahagia!' Tapi suara itu dikalahkan oleh ucapan selamat dari suara menggelegar sang kapten,yang sedang berdiri disamping wanita berambut oranye. Ia melambaikan tangan kepada Sanji dan Zoro,yang dibalas oleh Sanji,dan oleh Zoro juga walaupun ia tidak mengenal kapten Luffy ini. Zoro yakin ia juga melihat sekelebatan rambut pirang yang ia yakini adalah milik Zeff,ayah Sanji. Ia sedang merangkul seorang wanita berambut hitam,tampak sedikit mabuk,tapi ikut berteriak untuk anaknya.
Sanji menolehkan kepalanya ke arah Zoro. Zoro berbisik,"terima kasih Sanji,ini adalah kencan terindah yang pernah kualami. Terima kasih.".
Sanji mencium Zoro seperti yang biasa dilakukannya. "Sama-sama,Zoro. Aku.." Sanji mengangkat tangan kiri Zoro dan mencium tangannya. Zoro blushing. Ini jelas hari terbaik dalam hidupnya.
"Aku mencintaimu."
End.
