Zoro memakai kemeja berwarna hitam dan celana kain hitam. Ia membawa sebuket bunga. Ia melihat ke arah kalender yang menunjukkan tanggal merah di beberapa baris,sebelum keluar dari kamarnya dan turun menuju lobby.
Hari ini,ia akan mengunjungi makam orangtuanya bersama Sanji. Ketika sampai di lobby,ia melihat Sanji yang juga berpakaian serba hitam seperti Zoro. Hanya saja,ia mengenakan jas hitam diatas kemejanya dan mengenakan dasi putih.
Sanji melihat Zoro,melambaikan tangan. Kemudian ia menggandeng tangan Zoro ketika Zoro menghampirinya. Zoro hanya tersenyum. Sanji melihat perubahan sikap Zoro. Biasanya marimo ini akan membalas sapaannya atau sekedar berkata 'hn'.
"Ada sesuatu yang kau pikirkan?" Tanya Sanji. Zoro menggeleng. Sanji jadi agak kuatir melihatnya.
"Ayolah,kau bisa memberitahuku."
Zoro menatap wajah Sanji yang terlihat mengkhawatirkannya untuk beberapa saat,kemudian menggeleng untuk yang kedua kalinya.
"Aku...tidak apa-apa."
"Aku tahu ada yang kau pikirkan."
Zoro terhenyak. Kenapa si pirang satu ini dapat melihat kedalam dirinya seperti membaca buku?atau melihat melalui kaca? Sanji semakin khawatir saat Zoro tidak menjawab.
"Apa kau menyesal bertunangan denganku?" Mereka sudah berada di dalam mobil alphard Sanji sekarang. Zoro terlihat terkejut,kemudian menggeleng kuat-kuat.
"Kumohon jangan berbohong padaku Zoro,a-aku tahu ada yang salah. Beritahu aku,kumohon."
Sanji benar-benar terlihat sedih sekarang,ia tahu bahwa ia terlalu cepat melamar Zoro,tapi ia tidak dapat menahan rasa yang ia miliki. Dan ia ingin mengakhirkan rasa itu di pelaminan. Mengakhirkan rasa cinta monyet dan memulai cinta sejati. Zoro memandang Sanji selama beberapa saat sebelum membuka mulutnya.
"Aku..aku teringat dengan orangtuaku. Apa yang akan mereka katakan? Tapi,mereka sudah meninggal. Apa mereka akan setuju?apa mereka akan setuju dengan..dengan keputusanku menerimamu?"
Pandangan Sanji melunak. Ia juga sempat merasakan hal sama dengan Zeff. Tapi ternyata tanpa diduganya,Zeff berkata kepadanya,"kau sudah bukan seorang anak kecil yang dulu masih merengek kepadaku minta diajarkan memasak. Sekarang kau sudah menjadi pemuda mandiri yang mengatur hidupmu sendiri. Aku tidak bisa mengatur hidupmu lagi. Jika kau berpikir bahwa Zoro adalah satu-satunya yang ada di hatimu,maka pergilah. Dapatkanlah ia. Aku selalu mendukungmu. Jika kau bahagia,maka aku juga bahagia.",kemudian ia memeluk putra tunggalnya itu,yang akan melanjutkan seluruh mimpinya. Baginya,Sanji adalah satu-satunya tujuan hidupnya setelah ia ditinggal mati oleh istrinya. Sanji tersenyum,kemudian balas memeluk ayahnya.
Kemudian,ia melamar Zoro pada malam itu,disaksikan oleh seluruh awak Thousand Sunny dan beberapa pasangan yang ikut bertepuk tangan disekitar mereka.
Sanji menatap Zoro sambil tersenyum,kemudian ia menempelkan bibirnya pada bibir Zoro,menghilangkan jarak diantara mereka. Setelah melepasnya,Zoro sudah membalas senyum Sanji. Sanji mengelus rambut Zoro dengan perlahan.
"Jangan khawatir,aku yakin mereka menginginkan yang terbaik,dan aku akan meyakinkan mereka bahwa akulah yang terbaik untukmu."
Zoro tersenyum,kemudian mencium Sanji lagi. Mereka berciuman selama beberapa saat.
Setelah itu,Sanji mengendarai mobilnya ke makam orangtua Zoro. Mereka berkendara dalam diam. Selewat beberapa waktu, Sanji mengerem di depan sebuah pemakaman umum. Mereka turun dari mobil dan berjalan masih dalam diam. Sanji mengikuti Zoro yang membawa buket bunga,melangkahkan kakinya menuju ke makam orangtua Zoro.
Tiba-tiba Zoro berhenti di salah satu makam yang berdampingan dan berlutut di depannya. Sanji mengikuti gerakannya,kemudian melipat tangan di depan dadanya,berdoa. Zoro menaruh buket bunga itu di depan makam orangtuanya dan berdoa seperti Sanji.
'Ayah,Ibu,pria yang berdiri di sampingku adalah tunanganku. Apakah kalian setuju?selama ini aku kesepian ditinggal oleh kalian berdua,tapi dialah yang mengisi adalah orang yang sangat kusayangi,tapi tidak bisa dibandingkan dengan kalian,',Zoro berkata dalam hati,'Ayah,Ibu,aku merindukan kalian. Tolong restui anakmu ini. Semoga kalian bisa bahagia dengan calon yang kupilih,sebab aku sangat bahagia. Aku menyayangi kalian berdua,tidurlah dengan damai.' Zoro mengakhiri doanya. Saat ia menoleh ke sampingnya,Sanji juga baru selesai berdoa. Kemudian mereka berdua berdiri. Zoro mengamit tangan Sanji. Sanji agak kaget dengan kejadian tidak biasa ini. Kemudian mereka berjalan meninggalkan makam orangtua Zoro. Mereka kembali naik ke mobil dan kembali ke apartemen Zoro.
Sesampainya di kamar Zoro,cahaya senja mulai mengintip dari jendela balkon,menyinari kamar itu. Sanji menghempaskan tubuhnya ke sofa. Zoro ikut duduk.
"Tadi..kau bilang apa pada ayah dan ibuku?" Tanya Zoro pada Sanji,tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Sanji tersenyum kemudian berdiri. Berdehem sok puitis,
"..'Izinkan saya mengambil Zoro dari tangan anda. Saya akan membahagiakan dan melindunginya sekuat yang saya bisa. Jika Zoro sendirian,biarkanlah saya menjadi keluarga yang akan menemaninya,yang pertama dan satu-satunya sejak kalian pergi meninggalkannya. Izinkan kami menikah. Restui saya dan anak anda. Saya berjanji tidak akan pernah menyakitinya.'.."
Zoro tersenyum bahagia,ia ikut berdiri dan memandang Sanji. Ia mengalungkan tangannya di leher Sanji, sementara tangan Sanji melingkari pinggangnya. Rambut itu,mata itu,bibir itu,ia sangat menyukai pemandangan yang dilihat oleh matanya. Sanji menempelkan hidungnya dengan hidung Zoro, sebelum bibir mereka bersatu. Lidah Sanji mencari izin untuk memasuki mulut Zoro,yang disambut dengan hangat. Lidah Sanji bertemu dan berduel untuk beberapa saat dengan lidah Zoro,menikmati kehangatan yang ditawarkan. Ketika melepaskan diri,mereka agak terengah-engah. Sinar matahari senja menyiram tubuh mereka. Sanji memeluk Zoro dengan erat dan berbisik di telinganya.
"Ayo,kita menikah."
XXXX skipskip XXXX
Malam hari,
Sanji sedang mendengarkan Zoro mandi,membayangkan air yang turun dari kulit tan-nya. Ia baru saja selesai menyiapkan makan malam untuknya dan Zoro,dan sekarang,ia sedang berada di depan kamar mandi,mendengarkan dengan mesum. Tiba-tiba pintu itu terbuka dan menampakkan Zoro yang membawa baju kotor dengan tangan kanannya. Tangan kirinya memegangi handuk putih yang melingkari pinggangnya. Selain handuk itu,ia tidak memakai apa-apa lagi. Memamerkan dada bidang dan tubuh yang seksi dengan air yang menetes-netes untuk Sanji nikmati. Mendadak Sanji ingin sekali jadi air.
Sanji hanya bisa menelan ludah karena dua alasan. Satu,tubuh Zoro yang menggoda iman itu,dan kedua,ia ke-gap sedang mencuri dengar (kalau bisa,ia ingin mencuri lihat) pacarnya mandi. Zoro mengeluarkan suara batuk kecil.
"Nah,ketahuan ngintip. Dasar koki cinta mesum."
Sanji tersenyum salting sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Tidak mengintip,hanya memastikan kau tidak menghabiskan air,"
Zoro mengangkat satu alisnya.
"Kau bisa menggunakan shower."
"Yah,apalah itu. Makan malam sudah siap,cepat pakai baju."
Sanji tidak tahan melihat si marimo ini berparade keliling kamar dengan telanjang. Rasanya ia ingin mendorong Zoro ke tempat tidur itu,melakukan hal-hal 'suci' (menurut Sanji) sampai pagi.
"Iya,tunggu sebentar," kata Zoro sambil pergi ke kamar tidurnya. Ia mengambil kaus hitam polos dan boxer hijau tua favoritnya. Sanji ingin mengambil rokok kesayangannya,tapi Zoro tidak pernah memperbolehkan ia merokok saat sedang bersamanya. Bisa-bisa ia ditendang keluar dari apartemen Zoro. Akhirnya Sanji pergi ke ruang makan (yang digabung dengan ruang tamu) dan menunggu sambil memperhatikan sekitar kamar apartemen Zoro. Zoro baru saja keluar dari kamar dan bergabung dengan Sanji di meja makan kecil berbentuk bundar. Ia menarik kursi coklat yang serasi dengan meja makannya dan berusaha melihat lebih jelas apa makan malamnya dan Sanji. "Eeh?kenapa kita hanya makan ramen?" Protes Zoro. Biasanya koki ini akan memasakkan makanan enak untuknya. Sekarang yang tersaji di meja hanyalah dua ramen instan. "Kau yang terlalu miskin! Aku tidak bisa menemukan bahan yang bisa dimasak di dapurmu. Hanya ada dua ramen instan ini. makanlah! Oh,setelah ini kita akan pergi belanja,jadi ganti bajumu setelah selesai. Oke?" Kata Sanji, berusaha menahan sabar atas komentar tunangannya yang kurang a-eh,maksudnya cukup berterimakasih.
Zoro menggerutu,tapi akhirnya ia makan juga karena perutnya memprotes minta diisi. Saat makan,Zoro melayangkan beberapa 'pujian' atas betapa rajinnya si koki cinta yang dibalas dengan tendangan 'halus,penuh kasih sayang' versi Sanji. Akhirnya mereka selesai makan dengan gerutuan dari keduanya. "Aku mau mandi dulu,jangan mengintip." Kata Sanji kepada Zoro. Zoro mencibir. "Tidak usah terlalu percaya diri. Seperti aku tidak ada kerjaan saja." Sanji terkikik sebelum menutup pintu kamar mandi di belakangnya. Beberapa saat kemudian terdengar suara air mengalir. Zoro menghela nafas,kemudian berjalan kembali menuju kamarnya untuk ganti baju. Sekarang ia memakai kaus putih dengan jaket hijau dan celana jeans hitam. Ia mengambil handphonenya dan berjalan ke balkon. 'Untung sekarang sudah libur,' katanya dalam hati. 'Jadi aku dan Sanji bisa menikmati waktu bersama lebih banyak. Oh iya,aku sudah merencanakan pernikahanku dengannya 2 bulan lagi..berarti awal desember aku sudah sibuk mempersiapkan pernikahan dan lain-lain. Syukurlah,kita libur sampai akhir tahun baru.' Plookk,tiba-tiba,handuk basah menyerang kepala Zoro. Zoro langsung melempar handuk itu,mendengar suara Sanji yang tertawa terbahak-bahak. "Kau..." Zoro memelototi Sanji,"rambutku jadi basah kan! Dasar menyebalkan!" Teriak Zoro. Sanji memegangi perutnya sambil mengangkat tangan tanda menyerah. "Maaf,maaf.." Zoro meninju pundak Sanji. "Habis wajahmu lucu sekali..aku jadi tidak tahan." Zoro agak blushing. Maksudnya tidak tahan...?
"Yap. Ayo kita berangkat." Sanji menarik tangan Zoro,meyeretnya keluar dari apartemen ke mobil miliknya. "Memangnya tadi kau sedang memikirkan apa?" Tanya Sanji ketika mereka sudah berada di dalam mobil alphard miliknya,sedikit tertawa,"kelihatannya serius sekali."
"Huh. Tidak memikirkan apa-apa."
"Pasti kau memikirkanku."
Zoro memukul Sanji dengan satu tangan. Sanji hanya tertawa.
"Baiklah!kita ke supermarket Supergrand!" Kata Sanji kegirangan seperti anak kecil. Zoro menghela nafas. Sanji sangat senang pada apapun yang berbau masakan (author:saya juga! #gakmaukalah). Zoro hanya bisa melirik pacarnya yang mulai menjalankan mobil sambil bersenandung kecil,wajahnya menyiratkan kebahagiaan tersendiri. Alhasil,Zoro jadi ikut tersenyum.
Mereka berbelanja di supermarket,membeli persediaan makanan yang menurut Sanji bisa buat makan 10 hari,sementara dalam hati Zoro,'ini bisa untuk dua bulan!' Tapi dia hanya diam dan menonton Sanji meloncat-loncat ketika diberi potongan harga. Orang-orang disekitar jadi menontonnya dan Sanji. Zoro menutup wajah dengan malu. "Oi,bisakah kita selesaikan ini lalu pulang?" Tanya Zoro,mulai tidak tahan dengan ketidaknyamanan ini. Sanji hanya menoleh sebentar dan mengangguk kecil kemudian mulai heboh kembali. Akhirnya dengan paksaan Zoro,mereka kembali berada di dalam Alphard Sanji dan pulang ke apartemen Zoro. Ketika kembali, mereka bersusah payah membawa belanjaan ke kamar Zoro. Setelah sampai di kamarnya,Zoro menghembuskan nafas lega dan menjatuhkan dirinya di atas sofa. Sanji hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan pacarnya sambil menyusun semua makanan yang beru mereka beli ke lemari dan kulkas dapur Zoro. Zoro berdiri kemudian berjalan ke arah kamar mandi. "Mau kemana kau?" Tanya Sanji. "Panggilan alam," sahut Zoro acuh. Sanji terkikik.
Beberapa menit kemudian,Zoro keluar dari kamar mandi,hanya untuk menemui Sanji yang sedang berbicara dengan seorang wanita berambut hitam di pintu. Bahkan Sanji memegang tangan wanita itu! Zoro geram. Ia baru meninggalkan Sanji selama kurang dari lima menit,tapi Sanji sudah menggoda cewek. Dan lagi,siapa dia? Zoro tidak pernah mengenal wanita satu ini.
"Tentu saja,Robin-chwan,aku yakin dia akan senang! Terima kasih banyak." Zoro mendengar Sanji berbicara. Zoro berjalan ke arah pintu,berusaha meredam emosi. "Wah,kelihatannya seru sekali. Boleh aku bergabung?" Tanya Zoro seraya melemparkan death glare kepada si Robin ini. Robin hanya tersenyum mengerti kemudian berpaling pada Sanji,yang tersenyum tidak enak. "Baiklah,Sanji-san,mungkin dua minggu lagi baru bisa dicetak. Aku akan datang lagi untuk membahas desainnya." Setelah itu dia tersenyum ke arah Sanji dan Zoro dan pergi.
"Apa-apaan kau marimo? Bukan begitu caranya memperlakukan wanita!" Kata Sanji dengan kilat mata pecinta-wanita. "Kalau begitu kejar saja dia." Kata Zoro dingin. "Toh,kau lebih tertarik padanya kan?ayo,kejarlah." Kata Zoro lagi. Sanji mangangkat alis,"ada apa denganmu?" "Tidak ada apa-apa." Jawab Zoro,masih dengan nada dingin yang tadi. Sanji memeluk Zoro. Yang dipeluk tidak memberikan respon,hanya berdiri. Tidak membalas tapi tidak memberontak. Tangan Sanji mengelilingi pinggang Zoro. Kemudian,Sanji mencium pipi Zoro. Zoro hanya berdiri diam. Sanji mulai menyusuri pipi Zoro dan sampai ke bibirnya. Sanji mencium Zoro dengan nafsu. Ia menyedot bibir bawah Zoro,yang akhirnya jatuh ke dalam pesona si koki-cinta dan mendesah nikmat. Zoro mengalungkan tangannya di leher Sanji,membalas ciuman Sanji dengan bersemangat. Sanji menjatuhkan tubuh Zoro ke tempat tidur,masih menciuminya. Zoro yang menutup mata dan menikmati ciuman bernafsu dari Sanji,akhirnya mulai membuka matanya. Tepat ketika Zoro membuka mata,Sanji melepaskan bibirnya dari bibir Zoro dengan suara 'pop' yang agak keras dan mulai menciumi leher milik Zoro,membuat tanda kepemilikan. Zoro merintih kecil. "Aah...ah! Ungh..San-sanji!" Zoro mendesah geli ketika Sanji menjilat dan menghisap 'sweet-spot' miliknya. Jaket hijau yang sedari tadi dikenakan Zoro sudah meninggalkan tubuhnya. Sanji menyelipkan tangan kebawah kaus hitam yang dipakai Zoro dan mengusap-ngusap punggung Zoro sambil menjilati leher Zoro. Zoro makin mendesah karena kehangatan tangan Sanji di kulit sensitif miliknya. Zoro menaikkan badannya ke atas agar bertemu dengan badan Sanji,mengusap bagian depan celana Sanji dengan miliknya sendiri. Ia dapat merasakan betapa terangsangnya mereka saat ini. tiba-tiba, Sanji melepaskan diri. Zoro menatap Sanji,langsung ke mata berwarna biru miliknya. Sanji balas menatap Zoro,wajahnya menyiratkan keraguan walaupun masih jelas ada nafsu di mata yang harusnya berwarna biru cerah itu. Warnyanya menggelap. "Apa..apa kau siap,Zoro?" Tanya Sanji perlahan. Zoro tidak menjawab. Dalam hatinya ia menginginkan lebih dari ini,tapi ini juga pengalaman pertamanya. Kalau jujur..ia memang takut. Zoro memandang Sanji yang terbaring di atasnya dengan tidak yakin. Tapi ia tidak ingin membuat wajah tampan itu kecewa karenanya. Sanji menyadari hal itu. Kemudian menurunkan wajahnya ke dahi Zoro,menciumnya ringan. "Tidak apa-apa. Kau tahu,aku bisa menunggu. Lagipula,aku ingin pertama kali kita melakukan itu,kita melakukannya dengan benar-benar siap." Kata Sanji sambil tersenyum lembut ke pemuda yang ada di bawahnya. Zoro bimbang. Apakah ia akan melakukannya sekarang,ataukah nanti?
Continue
