-early morning-
"Minato! Minato! Ayo buka pintunya!" panggilku sambil mengetuk pintu kamar Minato untuk yang keempat kalinya. Lagi-lagi belum ada jawaban dari sang pemilik kamar.
"Aku masuk ya?"
CKLEK
Kulihat Minato sedang berbaring di tempat tidurnya berbalut selimut navy blue-nya. Aku bisa melihat rambut kebiruan Minato menyembul dibalik selimutnya. 'Dasar tukang tidur!' umpatku diam-diam
"Minatooo…. Heii… Bangun…" kataku sambil menghampiri tempat tidurnya
"Ayolaah… nanti kita telat…" bujukku sambil sedikit mengguncang-guncang tubuhnya
"Hn? Minako?" tanyanya malas dari balik selimut navy blue-nya. Kurasa dia baru saja bangun.
"Bangun!" omelku, kutempatkan kedua tanganku di pinggangku.
"Maaf, kayanya aku hari ini ga sekolah deh." katanya malas
"Kenapa?" tanyaku heran sambil mengangkat sebelah alisku. Dia membuka selimut yang membungkus tubuhnya sampai aku bisa melihat wajahnya dan menatapku dengan tatapan mengantuk.
"Pusing," katanya singkat sebelum menarik selimutnya lagi
"Kau demam?" tanyaku sambil menyibak selimutnya. Minato tidak menjawabku dan hanya memejamkan matanya saja. 'Kalau diperhatikan sih wajahnya memang sedikit memerah,' pikirku. Untuk meyakinkan diri, kuletakkan tanganku di dahi Minato, dan harus kuakui kalau dahi Minato memang cukup panas.
"Yah, kurasa kau memang demam." kataku singkat. Kutarik selimutnya ke dadanya dan beranjak keluar dari kamar bernuansa biru milik kembaranku itu. Saat aku mencapai ambang pintu, Minato memanggilku, "Hei, Minako!"
"Ya?" kutolehkan kepalaku ke arahnya
"Bilang pada kakek, jangan ganggu aku." kata Minato lemah
"Tenang saja, Minato. Aku tahu kau harus istirahat. Oh! Dan, pinjam sepedamu ya!" aku mengangguk
"Tapi, sepedaku…"
Tak kubiarkan Minato menyelesaikan kalimatnya, karena aku sudah duluan berlari ke bawah.
(downstair)
"Mana Minato?" tanya kakek
"Minato demam," jawabku cepat. Kuraih tasku yang tadi kutinggalkan di atas meja makan. "Dan Jii-chan, Minato bilang sedang tidak ingin diganggu. Jadi jii-chan jangan ganggu Minato ya!"
"Memang jii-chan suka mengganggu ya?" tanya kakek dengan wajah heran
"Kadang-kadang," kataku.
Lalu aku pergi ke garasi dan mengambil sepeda Minato. Aku memandang Theo sekilas sebelum mengayuh sepeda Minato kencang.
Aku hampir sampai di Gekkoukan High sampai aku menyadari satu hal, rem sepeda Minato ternyata blong. Aku sedikit panic karena melihat tikungan tajam di depanku. 'Ah, sial!' umpatku dalam hati. Kubanting setir sepeda Minato kearah kanan. Alhasil, aku dan sepeda Minato terjatuh dengan posisi sepeda Minato menindih kaki kananku.
"Aduuh… Sial banget aku pagi ini…" keluhku
Kulihat orang-orang mulai mengerumuniku, dan beberapa ada yang mencoba menolongku.
"Minako-chan!" panggil sebuah suara yang familier buatku
"Yukari-chan?"
"Kau kenapa?" tanyanya kaget
"Hanya terjatuh dari sepeda kok!" kataku santai
"Kau ga apa-apa kan? Ada yang terluka?"
"Ga ada kok!" kataku, padahal pergelangan kaki kananku dan tangan kananku terasa sangat sakit. Tanpa terasa, aku sedikit mengernyit.
"Benar? Tadi sepertinya kau menahan sakit." tanya Yukari
"Aku ga apa-apa kok!" kataku meyakinkan
"Lebih baik jangan dipaksakan. Kakimu terkilir dan kurasa tulang tanganmu retak," kata Theo yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku dengan sepeda silvernya
"T-theo?"
"Naik," katanya cepat
"Tapi—"
"Naik," dia menatapku dengan mata kuningnya yang menusuk
"Baiklah…" aku pun menyerah karena menatap matanya yang mengintimidasi. Yukari membantuku naik ke sepeda Theo. Setelah itu Theo langsung mengayuh dengan cepat ke Gekkoukan High.
-early morning, Gekkoukan High-
"Apa yang terjadi?" tanya seorang guru berkacamata tebal yang menggunakan jas lab dan celana pendek bergaris-garis kuning-putih, Edogawa-sensei
"Umm… Tadi aku jatuh dari sepeda," kataku gugup
"Kau pasti menyangga tubuhmu dengan tangan kananmu ya?" Tanya Edogawa-sensei sambil terus memeriksa lenganku
"Kurasa,"
"Ya… Sepertinya begitu. Kurasa Fortuna masih berpihak padamu, Arisato-kun. Retak tulangmu tidak terlalu parah, hanya retak tulang biasa—dan bukan tipe fissura—di bagian tulang ulnanya. Untunglah bukan di tulang radius, atau sakitnya akan lebih parah." jelas Edogawa-sensei panjang lebar.
Aku hanya mengagguk-angguk sambil memerhatikannya membebat tanganku dan menaruhnya dengan hati-hati di ambin yang tergantung di leherku.
"Yak, selesai. Sekarang kau bisa kembali ke kelas, Arisato-kun. Berhati-hatilah. Kurasa Thanatos mengincarmu dan Anubis sudah menunggumu, berharaplah Fortuna masih bersamamu."
"Arigatou Edogawa-sensei untuk… ehm, sarannya."
Edogawa-sensei tersenyum dan membukakan pintu UKS untukku.
-Afternoon-
Aku baru saja keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba sekelompok anak perempuan mendorongku masuk kembali ke kamar mandi dan menyudutkanku. Mereka menatapku dengan tatapan jijik, terutama perempuan berambut hitam dikucir dengan kulit yang warnanya sedikit gelap. 'Apa-apan sih mereka ini?'
"Hei, kau murid baru kan?" tanyanya
"Kalau ya, memang kenapa?" jawabku menantang
"Wah, Yuko, dia nantangin kamu tuh!" kata gadis berambut orange dengan kulit coklat tua, kogal kurasa
"Kamu nantangin aku, nih?" tanya gadis berambut hitam dikucir yang bernama Yuko itu
"Nantangin? Hahaha bahkan aku ga tahu apa masalah kalian sama aku!" kataku pedas
"Hoo, kasih tau aja, Natsuki!" seru seorang gadis berkacamata
"Jangan buru-buru dong, Chihiro. Masalah itu sih biar Yuko aja yang bilang." gadis berambut orange yang bergaya kogal itu menanggapi
"Hahaha benar juga ya kan, Fuuka?" tanya si gadis berkacamata pada seorang gadis kurus berambut aqua yang sejak tadi diam—bahkan sama sekali tidak bersikap kasar padaku
"I-iya," kata gadis yang dipanggil Fuuka itu dengan suara kecil
"Emangnya aku punya masalah sih sama kalian?" tanyaku kesal
"Dengar ya, murid baru! Jangan sekali-kali kamu deket-deket sama Theo-kun! Pokoknya ga boleh!" seru Yuko sambil mengangkat kerah bajuku, dan otomatis mengubah posisi ambin dan tangan kananku yang patah. Aku sedikit mengernyit.
"Hahaha sudahlah Yuko, kurasa dia ketakutan!" ejek gadis berkacamata bernama Chihiro
"Asal kau tahu saja ya, Theo-kun itu bukan cuma punyamu! Kami bahkan mengenalnya sebelum kau mengenalnya! Kalau kau berani-berani mendekatinya lagi, maka kau akan mendapat sesuatu yang tidak menyenangkan!" ancam Yuko. Aku tidak menjawab kata-kata Yuko dan malah menatap matanyalekat-lekat
"Yuko… Anak itu sepertinya benar-benar ketakutan!" ejek Natsuki
"Ya, kurasa anak itu tidak akan mau mendekati Theo-kun lagi!" kata Chihiro
"Sudahlah Yuko, biarkan saja anak itu," kata Fuuka lemah
"Huh!" Yuko melepaskan kerah bajuku dan meundur dua langkah.
"Ingat kata-kataku!" ancam Yuko. Setelah itu Yuko, Natsuki, Chihiro, dan Fuuka keluar dari kamar mandi.
to be continue..
