.
-early morning, Shirogane Residence-
Theodore mengetuk pintu kamarku. Sebenarnya aku sudah bangun dari tadi, tapi yah... hari ini entah kenapa aku malas masuk sekolah. Apa gara-gara si kogal bernama Yuko dan teman-temannya itu ya? Ah aku sih tidak peduli pada mereka!
"Nona, bangunlah!" panggil Theo dari luar kamarku
"Sudah kok!" balasku
"Kalau begitu cepatlah bersiap-siap sekolah!" sahutnya
"Dasar kakek tua!" umpatku
.
Beberapa menit kemudian aku keluar dari kamarku dengan seragam yang kupakai asal-asalan dan ambin yang menggantung lengan kananku. Aku menuruni tangga rumahku dengan malas.
"Ohayou Minako," sapa kembaranku. Kulihat Minato masih mengenakan piyama biru lautnya. Kurasa dia tidak akan sekolah lagi hari ini
"Ohayou Minato," aku balas menyapa dengan malas
"Kau ini kenapa? Kok hari ini malah kau yang jadi pemalas? Tukaran sifat dengan Minato, ya?" tanya kakekku
"Umm... Aku hanya sedang tidak bersemangat." Kataku sambil menduduki kursi yang sudah disediakan untukku
"Apa yang terjadi kemarin?" tanya kakek
"Jii-chan... aku bukan anak kecil lagi," aku menghela nfas
"Terserahlah," kata kakek sambil mengangkat bahunya, "Ternyata kalian memang kembar," imbuhnya sambil menoleh ke arah Minato. Tapi seperti biasa, Minato tidak menggubris pernyataan kakek dan memilih mengunyah roti isinya.
Aku menyadari sepasang mata emas Theo tengah memerhatikanku dalam diam. Yah, aku sih tidak peduli! Aku mengambil roti isi yang telah dibuatkan Elizabeth. "Aku berangkat," kataku
"Hei! Kau kan belum makan!" kakek berseru
"Rotinya kubawa ke sekolah saja!" kataku tanpa menoleh. Sepertinya kakek ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Aku mengangkat bahuku sejenak sebelum berjalan menuju garasi untuk mengambil sepedaku.
"Saya pergi dulu," kata Theo cepat
Aku menggeleng pelan dan mempercepat langkahku.
"Sepertinya saya harus membonceng Anda lagi." kata Theo sambil menepuk pundakku
"Ah, ya kurasa," sahutku tidak peduli
"Baiklah, ayo." ajaknya
.
Aku duduk di boncengan sepeda bercat silver milik Theo. Theo mengayuh sepedanya dengan lambat. Angin yang berhembus di sekitarku sedikit mengacak-acak rambut orangeku. Kusipitkan mataku untuk menghalangi angin yang terkadang membawa debu-debu kecil. Aku sama sekali tidak berminat memulai percakapan, satu, karena malas; dan dua, karena tidak ada topik. Kurasa Theo pun sama, karena sejak tadi ia hanya mengauh sepedanya tanpa berkata apa-apa. 'Dasar orang pendiam!' kataku dalam hati.
Tapi ternyata dugaanku salah, Theo menyapaku. "Nona,"
"Apa?"
"Apa Anda punya masalah?" tanyanya
"Apa itu urusanmu?" tanyaku ketus
"Kalau Nona tidak ingin bercerita pada saya, terserah. Itu adalah hak Nona," kata Theo santai
"Um... Aku hanya ingin tanya satu hal," kataku ragu
"Ya?" dia menolehkan kepalanya sedikit padaku. Kubuka mulutku untuk berbicara, tapi kututup lagi.
"Ada apa, Nona?" tanya Theo, tapi kali ini dia tidak menolehkan kepalanya
"Eee… Apa pendapatmu tentang fangirlsmu?" tanyaku ragu. Kurasa wajah yang sedikit memerah
"Hn? Apa maksud Anda?"
"Yah, maksudku… um… Anak-anak Gekkoukan yang suka padamu," bisikku
"Ah, apa itu urusan Nona?" Awalnya aku hanya diam, tapi lalu aku sadar kalau jawabannya sengaja disamakan dengan jawabanku sebelumnya.
"THEOOOOO!" teriakku di telinganya. Kudengar dia terkekeh sebentar. Karena kesal, akhirnya kucubit pinggangnya dengan keras
"Aww… Iya… iya… Maafkan aku Nona," katanya sambil masih terkekeh
"Huh! Menyebalkan!" kulepaskan cubitanku dan membuang muka
"Anda ingin jawaban yang seperti apa?"
"Maksudmu? Tentu saja yang jujur!" bentakku
Theo mengayuh sepedanya tanpa mengatakan apapun. Aku merasa tidak enak karena telah membentaknya tadi. Tapi saat aku akan meminta maaf, tiba-tiba Theo menjawab pertanyaanku, "Kurasa mereka merepotkan,"
"Eh? Merepotkan?" Theo hanya menganggukkan kepalanya. Tadinya aku masih ingin menanyakan beberapa hal padanya, tapi kuurungkan niatku karena kami sudah memasuki gerbang Gekkoukan High.
.
-after school, class 2-F-
Bel yang menandakan jam pelajaran telah berakhir sudah selesai berdering beberapa menit yang lalu. Murid-murid kelas 2-F sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, termasuk aku. Aku memasukkan buku sejarahku ke dalam tas dan bersiap pulang. Saat aku akan berdiri, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Saat aku menoleh, aku melihat Theo.
"Apa?" tanyaku
"Sepertinya Anda harus pulang sendiri hari ini. Ada hal yang harus saya lakukan." katanya santai
"Terserahlah. Toh hari ini aku mau melihat-lihat klub." sahutku sambil mengangkat bahu
"Saya duluan," Theo menepuk pundakku sekali sebelum meninggalkan kelas kami. Aku menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu. Aku menghela nafas dan kembali mengambil tas yang tadi sempat kuletakkan di atas meja.
"Minakoo! Kau itu sebenarnya siapanya Theodore sih? Kok akrab banget?" kata Yukari tiba-tiba
"E-eh? Apa?"
"Eeeh… Aku mengangetkanmu ya? Hehe maaf," Yukari mengedipkan sebelah matanya dan menangkupkan kedua tangannya dalam gaya meminta maaf
"Ga apa-apa kok. Eh tadi kau bilang apa?" tanyaku gugup
"Itu… Kok kau akrab banget sama si Theodore sih?" ulang Yukari
"E-emangnya kenapa?" tanyaku
"Cuma pengen tau. Soalnya setau aku kalian jarang ngobrol kan?" kata Yukari sambil menunjuk wajahku, "Dan kulihat kau sudah 2 kali dibonceng si Theodore." tambah gadis berambut cokelat terang itu. Kurasakan beberapa pasang mata tengah menatap kami dengan pandangan ingin tahu.
"Eeee… Kurasa kita lanjutkan di tempat lain saja," kataku sambil menarik tangan Yukari dan berjalan keluar kelas.
"Kita ke rooftop saja!" kata Yukari sebelum menarikku ke rooftop.
.
-after school, rooftop-
"Jadi?" tanya Yukari saat kami sudah duduk di salah satu bangku di sana
"Uummm…. Ano… Sebenarnya Theo itu semacam pelayan pribadi… yah… bodyguard gitu deh," kataku pelan
"Wah! Keren!" seru Yukari dengan mata yang berbinar-binar
"Keren apanya? Theo itu merepotkan tau! Dia tuh cerewet banget!" keluhku
"Itu artinya dia peduli sama kamu!" sahut Yukari
"Huh! Itu kan Cuma gara-gara pekerjaannya aja!" gumamku
"Terus, kalo kembaranmu punya bodyguard juga?" tanya Yukari dengan wajah yang benar-benar penasaran
"Iya. Elizabeth," jawabku singkat
"Waaaah! Elizabeth-senpai?" seru Yukari lagi
"E-emangnya kenapa?" tanyaku
"Elizabeth-sanpai kan keren banget! Meskipun pendiem, tapi prestasinya bagus banget. Katanya selama bersekolah di Gekkoukan, dia belum pernah membayar SPP 100% kecuali saat kelas 1. Yah, karena selalu dapat beasiswa katanya." jelas Yukari, "Selain itu banyak juga loh siswa Gekkoukan yang suka padanya! Tapi, sampai sekarang ini Elizabeth-senpai belum punya pacar." lanjutnya
"Theodore juga ga kalah hebat loh! Dia benar-benar hebat di pelajaran kimia, sejarah, dan matematika—yah tentu saja di pelajaran lain juga hebat. Dia juga mengikuti jejak kakaknya dengan selalu mendapat beasiswa. Selain itu Theodore juga sangat popular dan punya banyak fangirls. Aku juga pernah dengar Kirijo-senpai menawarinya untuk masuk Student Council, loh! Bayangkan, KIRIJO-SENPAI SENDIRI YANG MENGAJAKNYA! Hebat…" jelas Yukari
"Kirijo-senpai itu siapa?" tanyaku
"Aduuuh Minakoo… Kirijo-senpai itu anak orang yang membuat sekolah ini. Orangnya tegas, cantik, prestasinya bagus, dan juga kaya. Pokoknya Kirijo-senpai pasti dapat nilai 10 dari 10 untuk perempuan paling sempurna se-Gekkoukan!" jelas Yukari bersemangat
"Oh, aku jadi penasaran orangnya seperti apa." kataku
"Yah, semoga kita bertemu dengannya nanti!" kata Yukari
"Ya. Ngomong-ngomong aku mau ke klub kendo dulu."
"Eeeeh? Kau ikut klub kendo?" seru Yukari kaget
"Tidak sih… Sebenarnya baru mau lihat-lihat." jawabku
"Begitu… baiklah! Ayo! Kuantar!"
Kami berdua pun berjalan ke klub kendo bersama-sama.
.
.
-after school, Kendo Club-
Aku membuka sebuah pintu yang bertuliskan "Klub Kendo". Kulihat banyak murid Gekkoukan tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang berlatih mengayunkan pedang kayu, ada yang sedang mengobrol, ada yang baru keluar dari ruang ganti, ada yang sedang mondar-mandir, dan ada juga yang hanya sedang menonton anggota klub lain yang sedang berlatih.
'Kurasa klub kendo bagus juga,' kataku dalam hati. Kulayangkan pandanganku pada anggota-anggota klub kendo yang sedang berlatih.
"Hya!"
"Hiiiattt!"
prak!
"Agh!"
Terdengar teriakan-teriakan dari masing-masing anggota klub kendo yang sedang berlatih. Mereka bergerak dengan lincah sambil memainkan pedang kayunya masing-masing dan mencoba menghalau serangan lawan. Gerakan-gerakan yang mereka buat sangat bagus dan kuat, menandakan semangat mereka. Aku sedikit bengong melihat mereka.
"Hei, sedang apa kau di depan pintu?" tanya sebuah suara. Suara yang berat, pasti milik laki-laki. Aku menoleh ke arah asal sumber suara tersebut.
Seorang pemuda yang memakai kostum kendo lengkap sedang menatapnya. Rambutnya yang pendek berwarna hitam, matanya berwarna cokelat gelap. Di tangannya, terdapat sebuah pedang kayu. "Hei, aku berbicara padamu!" katanya lagi
"E-eeh, maaf. A-ada apa?" tanyaku gugup
"Apa yang kau lakukan di depan pintu klub kami?" ulang siswa Gekkoukan yang berwajah sangar itu
"A-aku ingin melihat-lihat klub," jawabku pelan
"Hhh… Yang pasti jangan di depan pintu. Menghalangi jalan tau!" katanya sambil membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan ke tempat anggota-anggota klub kendo yang lain yang sedang berlatih. 'Menyeramkan,' batinku
Aku menyandarkan diriku di dinding yang ada di dekat pintu dan kembali memerhatikan anggota-anggota klub kendo yang sedang berlatih dengan semangat.
"Heaaaah!"
prak!
"Hyaaaah!"
prak!
"Agh!"
"Hiaaaat!"
"Hyaaah!"
prak!
'Sepertinya menyenangkan. Apa aku ikut klub ini saja ya?' tanyaku pada diriku sendiri. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya kuputuskan untuk ikut klub kendo.
"Masih di sini?" tanya sebuah suara
"Kau… yang tadi?" kulihat siswa Gekkoukan yang sangar itu sedang menatapku, "Aku mau ikut klub kendo," tambahku
"Kau? Dengan tangan seperti itu?" katanya sambil menunjuk tangan kananku yang tergantung di ambin
"T-tapi… Kurasa tanganku akan cepat sembuh," belaku
"Menyusahkan saja. Tapi terserah padamu," katanya. Aku tersenyum kecil. "Bicara saja sama manager," lanjutnya sambil menunjuk ke belakangnya. Kuikuti arah tangannya dan melihat seorang siswi Gekkoukan berkulit gelap dan berambut hitam. Dia mengenakan jaket berwarna hitam dan merah. 'I-itu kan anak yang kemarin? Siapa namanya? Umm… kalau tidak salah Yuko ya…' batinku kaget.
"Kuantar," kata siswa sangar itu. Lalu dia pun memimpin langkahku menuju siswi berkulit gelap itu.
"Kita belum kenalan kan? Aku Miyamoto Kazushi, kelas 2-F. Kau?" katanya sambil menoleh sedikit
"2-F? Kita sekelas dong?" kataku kaget
"Aku belum pernah melihatmu," celetuknya
"Ah, aku memang murid baru. Namaku Arisato Minako,"
"Ooh simurid baru ternyata."
Setelah itu tak ada lagi yang mengucapkan kata-kata. Kami berjalan dalam diam sampai akhirnya sosok siswi berkulit gelap yang menjadi manager klub kendo itu ada di depan kami.
"Halo Kazu!" sapa gadis itu
"Hei Yuko."
"Ada apa?"
"Ini ada anak baru yang mau mendaftar ke klub kita." kata Kazushi sambil menunjukku yang berada di belakangnya. Aku menggeser posisi berdiriku sehingga tubuhku tidak terhalangi oleh tubuh Kazushi yang memang lebih besar dan tinggi dibandingku. Kulihat siswi bernama Yuko itu kaget melihatku,
"Kau?"
.
.
.
to be continued
.
Yak, chapter ini pun selesai.. Maaf kalau jadinya kacau balau gini… Udah pendek, gaje, ancur, kacau lagi… Lengkaplah keanehan fic ini. Saku juga mohon maaf kalau masih banyak kesalahan… yah namanya juga newbie…
