.

"Halo Kazu!" sapa gadis itu

"Hei Yuko."

"Ada apa?"

"Ini ada anak baru yang mau mendaftar ke klub kita." kata Kazushi sambil menunjukku yang berada di belakangnya. Aku menggeser posisi berdiriku sehingga tubuhku tidak terhalangi oleh tubuh Kazushi yang memang lebih besar dan tinggi dibandingku. Kulihat siswi bernama Yuko itu kaget melihatku,

"Kau?"

.

"Kau?"

"Kau kenal anak ini?" tanya Kazushi bingung

"Begitulah," Yuko menatapku tajam

"Kazushii!" panggil seorang siswa anggota klub kendo

"Permisi," kata Kazushi. Lalu siswa berwajah sangar berlari menghampiri temannya, "Ada apa sih Yuichi?"

"Katanya kau mau melawanku?" kata siswa itu. Kazushi hanya nyengir dan mengajak Yuichi ke arena berlatih klub kendo. Setelah itu mereka berdua pun memulai latihan mereka.

Kualihkan pandanganku pada siswi yang berdiri di depanku lagi. Yuko menatapku dengan mata cokelatnya yang menyiratkan ketidaksukaan. Dia menghela nafas. "Jadi, kau mau bergabung?" aku mengangguk.

"Kau tidak boleh bergabung," kata Yuko dingin

"A-apa? Kau hanya menolakku karena kau tidak suka padaku kan?" tuduhku. Gadis di depanku sama sekali tidak menjawab pertanyaanku dan malah menatap mata merahku semakin tajam.

"Benar-benar tidak adil," gerutuku sambil membalikkan tubuhku—berniat untuk meninggalkan ruang klub.

"Tunggu dulu!"

"Apa?" sahutku

"Itu… Aku memang tidak menyukaimu, tapi untuk hal ini sebagai manager aku tidak boleh mementingkan perasaan pribadi." kata Yuko

"Lalu?"

"Tanganmu," sambungnya sambil menunjuk tangan kananku yang tergantung di ambin

"Kurasa ini akan cepat sembuh!"

"Bukan itu. Toh kalau kau bergabung sekarang pun kau pasti tidak akan melakukan apapun kan? Dari pada membuang-buang waktu di klub ini, lebih baik sekalian nanti saja." jelas Yuko masih dengan tatapan sebal

"Begitu…" gumamku

"Sekarang, kalau sudah tidak ada keperluan lebih baik pergi saja!" kata Yuko tajam

"Huh!" dengusku sebelum berjalan ke pintu keluar klub kendo.

.

-after school, Gekkoukan High School 1F-

"Menyebalkan! Cuma gara-gara tanganku retak aja ga perlu ngusir kaya gitu dong! Sok hebat banget sih!" gerutuku kesal sambil berjalan di sepanjang koridor lantai 1. Kukepalkan tanganku erat-erat untuk menghilangkan rasa kesalku pada manager klub kendo bernama Yuko. Tiba-tiba seorang siswa menabrakku hingga aku tersungkur di lantai. "Aduh…" keluhku. 'Sial untung tangan kananku ga apa-apa… Huh! Bikin tambah kesal saja!'

"Maafkan aku." kata siswa yang menabrakku sambil mengulurkan tangannya. Kutengadahkan kepalaku, dan aku melihat seorang siswa berambut biru dan menggunakan kacamata full frame. Dia membatuku berdiri dan bertanya, "Kau tidak apa-apa?"

"Kurasa," kataku pelan

"Maaf ya, tadi aku tidak melihatmu."

'Tidak melihat? Matanya dimana sih? Padahal kan sudah pakai kaca mata?' teriakku dalam hati, "Umm.. Ya, tidak apa-apa." gumamku. Aku mengamati penampilannya. Tidak ada yang aneh, semuanya biasa saja seperti siswa yang lainnya, blazer Gekkoukan yang terkancing digunakan di luar kemeja putih yang rapi, celananya pun sama sekali tidak kusut, tapi dia tidak menggunakan pita hitam seperti siswa yang lainnya, dan di tangannya terdapat sebuah buku yang cukup tebal. Dia membetulkan letak kacamatanya sebentar dan mengangguk singkat padaku. Setelah itu dia mulai berjalan meninggalkanku sambil membaca buku tebal yang ada di tangannya.

'Pantas tadi dia tidak melihatku.' pikirku

.

Aku masih berjalan di sepanjang koridor sambil memerhatikan ruang-ruang klub. Aku berjalan ke sebuah pintu yang diberi tanda 'Science Room'. Di pintu itu terdapat kertas bertuliskan 'Photography Club'. Dengan ragu kubuka pintunya dan masuk ke dalam.

.

"Halo, mau bergabung ya?" tanya sebuah suara ramah

"Aku… eeh… Sebenarnya tidak. Hanya ingin lihat-lihat," jawabku gugup

"Ooh… begitu…" suara tadi langsung berubah jadi lesu.

Ternyata yang tadi bertanya padaku adalah siswa Gekkoukan berkacamata, rambutnya berwarna cokelat dan sedikit bergelombang, seragamnya pun tak kalah rapi dari siswa yang tadi menabrakku. Bedanya hanyalah pita hitamnya saja. Siswa yang sekarang berdiri di hadapanku memakai pita hitamnya, sedangkan yang tadi menabrakku tidak memakai pita hitamnya.

"Perkenalkan, aku ketua klub ini, Hiraga Keisuke kelas 3-C." dia mengulurkan tangannya

"Aku Arisato Minako kelas 2-F. Senang berkenalan denganmu, Hiraga-senpai." kami pun berjabatan tangan sebentar

"Ahahaha panggil saja aku Keisuke." katanya sambil menggaruk belakang lehernya dengan wajah yang sedikit memerah

"Baik, Keisuke-senpai." aku mengangguk

"Kau mau melihat-lihat klub ini kan? Ayo, kuantar!" ajak Keisuke-senpai. Aku mengangguk dan mengikutinya.

Keisuke-senpai menjelaskan berbagai hal tentang klub fotografi dan kadang-kadang menanyakan beberapa hal padaku seperti, 'Kau murid baru ya?', 'Apa kau tertarik dengan fotografi?', dan lain-lain.

Akhirnya Keisuke-senpai bertanya padaku, "Yakin nih tidak ingin ikut klub ini?"

"Sebenarnya aku mau, tapi aku sudah memutuskan untuk ikut ke klub kendo." jawabku

"Tapi kan kau bisa memilih satu sport club dan satu cultural club," sanggah Keisuke-senpai

'Oh iya! Benar juga! Waktu itu Yukari-chan juga bilang begitu!' aku tersentak, "Iya juga ya… Aku lupa…" gumamku

"Nah, apa kau mau ikut klub ini?"

"Mungkin." jawabku sambil mengangkat bahu, "Memang kenapa senpai mengajakku masuk ke klub ini setengah mati?" tambahku

"Hahahaha sebenarnya klub fotografi memang sedang kekurangan anggota." Keisuke-senpai menggaruk belakang lehernya lagi

"Memangnya klub ini kurang peminat ya?" tanyaku heran

"Yah… begitulah…" jawab Keisuke-senpai lesu

"Baiklah. Aku akan ikut klub fotografi." kataku

"Benarkah?" tanya Keisuke-senpai bersemangat

"Iya," aku mengangguk

"Yeah! Teman-teman, kita dapat anggota baru!" seru Keisuke-senpai pada semua anggota klub fotografi yang sedang dengan pekerjaannya masing-masing

"Halo… Aku Arisato Minako," aku memperkenalkan diriku

"Hai! Aku Kuga Ichirou!" seru seorang siswa botak

"Halo juga, namaku Ooyanagi Komugi," sapa siswi berambut dikepang satu dengan malu-malu

"Perkenalkan aku Nakamura Junichi," seorang siswa berambut hitam dikucir mengangguk kecil

"Nah, terakhir sekali lagi salam kenal, aku Hiraga Keisuke," kata Keisuke-senpai menutup sesi perkenalan. Aku hanya mengangguk sambil mencoba mengingat-ingat nama mereka.

"Apa anggotanya hanya segini?" tanyaku heran

"Aaa… Sebenarnya masih ada satu lagi. Tapi dia sedang ada urusan saat ini, jadi dia tidak bisa hadir," jawab anggota klub fotografi yang bernama Komugi

"Ya, namanya Shirato Jin." tambah si botak Ichirou. Sedangkan Junichi hanya mengangguk-angguk.

"Begitu…" aku ikut-ikutan menganggukkan kepalaku seperti Junichi. "Anu… Ng… Ngomong-ngomong apa ada yang bisa kukerjakan?" tanyaku

"Hahahaha sepertinya kau sangat bersemangat ya anggota baru!" si botak Ichirou mengacak-acak rambutku

"I-iya,"

"Apa kau punya pengalaman di bidang fotografi?" tanya Keisuke-senpai

"Umm… Kalau hanya iseng-iseng sih sering." jawabku

"Begitu… Apa kau bawa hasil fotomu?" Tanya Keisuke-senpai lagi

"Tidak. Maaf, senpai," kataku sambil sedikit membungkukkan badanku

"Sudahlah, tidak apa-apa. Ehm, sekarang kau bantu Ooyanagi saja, ya?" katanya sambil melirik Komugi yang sedari tadi asik memainkan kakinya, "Ooyanagi, tolong bantu Arisato, ya…" sambung Keisuke-senpai. Mendengar namanya disebut, Komugi langsung mengangkat kepalanya yang tadi ditundukkan.

"B-baik!" kata Komugi

Aku berjalan mengikuti Komugi ke sebuah meja. "Mohon bantuannya, Ooyanagi-san,"

"P-panggil saja aku Komugi," sahutnya malu-malu

"Baik, Komugi-san," aku mengangguk

Setelah itu kami berdua pun mencuci beberapa hasil jepretan anggota-anggota klub fotografi sampai Keisuke-senpai memutuskan untuk menyudahi kegiatan klub.

.

-evening, Shirogane Residence-

"Tadaima…" kataku saat aku membuka pintu. Tapi tidak ada jawaban. Aku sedikit bingung, karena biasanya paling tidak Elizabeth atau Kakek akan menjawabnya. Aku menyimpan sepatu sekolahku di sebuah rak yang ada di dekat pintu. "Tadaima…" ulangku. Tapi masih juga tak kudapatkan jawaban.

Saat aku akan berjalan ke ruang keluarga, terdengarlah suara orang berbicara yang disusul dengan suara tawa. 'Siapa itu?' tanyaku dalam hati. Terdengarlah suara yang sama berbicara kembali. 'Eeeh? Suara itu kan!' aku berlari ke ruang keluarga dan mendapati sosok-sosok yang kukenal sedang duduk di sofa hitam sambil bercanda dan tertawa-tawa. Mataku terbelalak ketika mendapati sosok yang duduk di samping Minato.

"Souji-nii!"

.

.


.

to be continued

.

Wah… udah sampai chapter 5 ternyata… Saku mau ngomong apa ya… hum… entahlah… Saku bingung. Saku hanya berharap semoga semua readers memaafkan kesalahan-kesalahan Saku yang udah bikin fic aneh ini. Makasih juga ya yang udah mau kasih review… Kalo gitu see ya in next chapter!