.

-early morning-

TOK TOK

"Minako, kau belum bangun?" tanya sebuah suara dari luar

"Nggghh… Lima menit lagi…" sahutku malas sambil menarik selimut flannelku menutupi wajahku

"Kau yakin?"

"Iya…" jawabku malas

Terdengarlah suara pintu terbuka dan langkah kaki. 'Theo sialan!' rutukku dari balik selimut

"Minako, sekarang sudah jam 7.10 loh. Kau bisa telat." kata suara itu

Aku langsung menyibak selimutku, "THEOOOOOOOO! KENAPA GA BANGUNIN AKU DARI TADI?" teriakku pada 'Theo'

"Sebenarnya dari tadi Theo sudah bolak-balik bangunin kamu, tadi kamu masih tetap tidur pulas," tutur seseorang. 'Tunggu, rasanya suara Theo lebih berat dari ini deh…'

"Hei, cepat bangun Minako," kata orang itu lagi. 'Tunggu, suara itu…'

Aku langsung membuka mataku dan langsung terbelalak ketika mendapati orang tadi kuteriaki adalah Souji-nii. "S-souji-nii? M-maafkan aku!" kataku

"Sudahlah, tidak apa-apa. Lebih baik kau cepat berangkat ke sekolah. Kau tidak mau telat kan?" aku langsung kelabakan mendengar pernyataan sekaligus pertanyaan Souji-nii.

"YA AMPUUUUUUN!"

.

-early morning, five minutes later, Shirogane Residence, downstair-

Aku menuruni tangga dengan terburu-buru dan hampir sukses membuatku jatuh bergulingan. Setelah aku mencapai anak tangga terakhir, aku langsung berlari secepat kilat ke meja makan. Suasananya sepi. Hanya ada kakek yang sedang sibuk membaca koran dan Souji-nii yang sedang minum kopi. Kusambar selembar roti yang ada di meja makan. "Aku pergi dulu, Kakek, Souji-nii!" kataku terburu-buru.

Baru saja aku akan berlari lagi, Souji-nii tiba-tiba memanggilku. "Minako!" aku hanya menoleh

"Mau kuantar?" tanyanya sambil menunjukkan kunci motor yang ada di tangannya

"MAU!" jawabku cepat

Lalu Souji-nii mengantarkanku dengan motornya.

.

-early morning, Gekkoukan High, front gate-

"Arigatou Souji-nii!"

"Douitashimasuta. Ayo cepat! Sepertinya belnya akan berbunyi sebentar lagi," kata Souji-nii

"Ah ya! Jaa!" kataku sebelum berbalik dan meninggalkan Souji-nii. Tak lama kemudian, aku mendengar suara mesin motor yang semakin menjauh.

.

-early morning, Gekkoukan High, class 2-F-

Benar saja, beberapa detik setelah aku memasuki kelasku, bel pun terdengar. Aku langsung berjalan ke bangkuku. Kulihat Minato sedang mengobrol dengan teman sebangkuku alias Junpei dan pemuda berambut cokelat terang. Mereka sedang asik tertawa-tawa saat aku menghampiri mereka. Lalu kutepuk bahu Minato, "Hei!"

Minato menoleh ke arahku, "Ohayou, Minako,"

"Kenapa tadi pagi kau tidak membangunkanku?" tanyaku

"Memang bukan tugasku kan?" jawabnya santai

"Tapi kan kau bisa membantu!"

"Hhh… Toh yang pasti kau tidak telat kan?" tanyanya masih dengan santai

"Iya! Itu juga karena Souji-nii mau mengantarku!" jawabku ketus dan mencibir padanya. Lalu segera duduk di bangkuku.

Setelah aku duduk, kubalikkan tubuhku sehingga menghadap Theo yang duduk di belakangku. Dia sedang membaca sebuah buku yang cukup tebal bersampul merah. "Theo," panggilku. Tapi dia sama sekali tidak merespon.

"Theo!" aku menaikkan suaraku sedikit. Dan lagi-lagi Theo tidak merespon

"Theodore!" teriakku di depan wajahnya. Berhasil! Kali ini dia mengalihkan pandangannya dari buku dan melihat ke arahku. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya.

"Kenapa tadi pagi kau tidak membangunkanku?" tanyaku

"Sudah. Tapi Anda sama sekali tidak mau bangun. Jadi akhirnya saya, Nee-san, dan Tuan Minato berangkat duluan," jelasnya dengan ekspresi datar

"Hnnn," Lalu aku pun membalikkan badanku lagi.

.

Beberapa menit kemudian, pelajaran sudah dimulai. Pelajaran pertamaku hari ini adalah fisika. Takenozuka-sensei pun memasuki kelas kami. Di tangannya terdapat lembaran-lembaran kertas serta beberapa buku. Setelah menyimpan barang-barangnya di meja guru, Takenozuka-sensei berkata, "Pagi ini kita adakan ulangan dadakan tentang materi minggu lalu." Kami semua langsung mengerang dan cemberut mendengar perkataannya.

"Yah… tidak usah disebut ulangan, ini seperti semacam pre-test," sambungnya

Junpei, teman sebangkuku yang awalnya sudah memasang wajah putus asa langsung berwajah lebih cerah, "Yeah! Bukan ulangan!" bisiknya

"Sama saja," kataku

"Hei, apa maksudmu Minako-chan?" Junpei menatapku dengan tatapan bingun

"Toh intinya kita diberi soal untuk dikerjakan kan?" lelaki bertopi biru itu hanya menatapku, "Ya, jadi intinya sih sama-sama mengerjakan soal." lanjutku. Mendengar pernyataanku Junpei langsung kembali memasang wajah putus asanya

"Tenang saja, Junpei. Biasanya soal pre-test itu lebih mudah dan lebih sedikit dari pada soal ulangan." hiburku

"Ya… Semoga…" sahutnya lesu

.

Kami pun mengerjakan soal pre-test itu. Tapi, berhubung aku baru masuk beberapa hari yang lalu, aku belum terlalu mengerti materinya. Alhasil, aku mengerjakan soal pre-test itu dengan asal-asalan. Kulirik Junpei yang duduk di sebelahku. Wajahnya sudah benar-benar lesu, dia hanya menatap kertas soalnya dengan pandangan kosong, sambil sesekali menuliskan beberapa kata di kertas jawabannya.

"Arisato Minako! Jangan lirik-lirik!" tegur Takenozuka-sensei

"Hai!" jawabku cepat

"Ya ampun… Ga mungkin lah Arisato nyontek sama si Junpei! Ada juga si Junpei yang nyontek!" bisik salah satu siswi

"Hihihihi… Iya, iya!" timpal siswi yang lain

"Lagian mana mungkin si Junpei bisa dicontekin!" sahut seorang siswa. Lalu terdengar suara cekikikan.

"Hei! Kerjakan soalnya! Jangan diskusi!" tegur Takenouka-sensei lagi. Setelah itu kelas pun hening kembali.

.

Setelah mengerjakan soal pre-test selama kurang lebih lima belas menit, Takenozuka-sensei meminta kami mengumpulkan kertas soal dan jawaban kami. Lalu, setelah menghitung jumlah kertas jawaban yang kami kumpulkan, Takenozuka-sensei memulai pelajaran pagi ini.

.

-lunch time, Gekkoukan High, class 2-F-

"Minako-chan! Makan siang bareng yuk!" ajak Yukari

"Ayo!"

"Rooftop?" tanya Yukari. Aku mengangguk.

Saat aku akan berdiri, tiba-tiba seseorang menaruh kotak bento di mejaku. Aku langsung mendongak. Aku terkejut ketika mataku bertemu dengan mata Theo. "Bekal Anda," katanya singkat sebelum melenggang keluar kelas.

Aku masih sedikit bingung atau yah… bisa dibilang belum connect karena kaget. Beberapa detik kemudian aku menyadari apa yang terjadi dan memanggil Theo yang untungnya masih berdiri di ambang pintu, "Arigatou Theo!" Theo hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya.

"Halo!" sapa seorang siswa kelasku dengan tiba-tiba

"H-halo," sapaku balik

"Mau makan siang bareng aku?" tanyanya sambil mengedipkan salah satu dari matanya yang berwarna biru

"Ryoji-kun! Jangan godain murid baru dong!" seru Yukari sambil menjitak kepala lelaki berambut hitam itu

"Hehehe kalo gitu aku godain Yukari-chan aja deh~" katanya dengan nada manja. Mendengar hal itu, Yukari langsung menarik syal kuning yang dipakai siswa bernama Ryoji itu dan membuatnya tercekik.

"Makin hari kau makin mirip Stupei!" seru Yukari sebelum menyeretku pergi meninggalkan siswa malang itu

"Hei Arisato! Ingat-ingat namaku ya! Namaku Mochizuki Ryoji!" teriak Ryoji keras-keras. Aku hanya sempat menoleh sedikit dan tersenyum tipis padanya.

.

-lunch time, Gekkoukan High, rooftop-

"Dasar si Ryoji-kun itu! Menyebalkan! Dia itu kerjanya ngegodain siswi Gekkoukan!" omel Yukari

"Hahaha sudahlah Yukari-chan. Lagi pula apa sikapmu tadi apa tidak berlebihan?"

"Ah biarkan saja! Soalnya kalau tidak dibegitukan bisa-bisa jadi seperti si Stupei!" kata Yukari gusar

"Stupei?" tanyaku. Untunglah Theo membawakanku sebuah garpu mungil untuk memakan bekalku yang hanya dua buah onigiri dan beberapa potong sosis gurita. Jadi, kali ini aku tidak perlu berkonsentrasi untuk memegang sumpit menggunakan tangan kiri.

"Iya! Stupid Junpei!" Yukari melahap roti bekalnya. Aku tidak mengatakan apa-apa karena aku sendiri sedang mengunyah sosis gurita yang menjadi bekalku.

"Eh ngomong-ngomong, Minako-chan, kamu ikut klub apa?" tanya Yukari setelah dia menelan rotinya

"Maunya sih kendo, tapi karena tanganku belum sembuh, jadi ditolak." jawabku lesu

"Loh? Kalau gitu kamu ikut klub apa dong?" Yukari menaikkan sebelah alisnya

"Fotografi," kataku sebelum kembali mengunyah sosis guritaku

"Fotografi? Wah, aku kira kau tidak berminat pada hal seperti itu!" Yukari sepertinya sedikit terkejut dengan jawabanku

"Hahaha yah… kurasa fotografi sepertinya cukup seru." Yukari hanya tersenyum

Saat kami sedang mengobrol tentang Archery Club yang diikuti Yukari, datanglah dua orang lelaki. Keduanya sedang asik mengobrol sampai-sampai tidak menyadari kehadiranku dan Yukari. Lelaki yang pertama berambut perak, berkulit putih, dan bermata cokelat. Dia menyampirkan blazer Gekkoukannya di bahu kanannya. Sedangkan baju yang dikenakannya adalah sebuah kemeja putih biasa berlengan panjang yang didobel dengan vest berwarna merah cerah serta celana hitam biasa.

Lalu lelaki yang kedua berwajah lebih sangar daripada lelaki yang pertama. Dia mengenakan sebuah kupluk berwarna cokelat tanah. Menurutku, matanya yang berwarna cokelat sedikit menyeramkan, dan rambutnya yang berwarna cokelat gelap dibiarkan memanjang hingga sebahu. Selain itu baju yang dikenakannya bisa dibilang cukup aneh, karena dia mengenakan sebuah mantel panjang berwarna merah marun dan celana panjang berwarna hitam. 'Apa dia tidak kepanasan?' tanyaku dalam hati saat melihat penampilannya.

Tak berapa lama kemudian, kedua orang itu menyadari keberadaan kami. Si rambut perak hanya menatap kami dengan pandangan dingin, sedangkan si mantel merah memberi kami death glare. Aku dan Yukari langsung meneguk ludah karena ketakutan pada si mantel merah. Lalu Yukari dengan cepat membereskan plastik bekas roti bekalnya dan berdiri. "Maafkan kami senpai, kami akan segera pergi," katanya sambil membungkuk. "Minako, cepat bereskan bekalmu!" bisik Yukari

"T-tunggu dulu! Aku kan belum selesai makan!" kataku

"Sudah, kita lanjutkan di tempat lain saja!" bisik Yukari sambil menarik tanganku

"Tapi kan kita duluan yang di sini! Kenapa malah kita yang harus pergi?" tanyaku dengan suara keras

"Karena mereka itu senpai kita!" bisik Yukari dengan mata yang melotot

"Lalu? Toh seorang 'senpai' itu bukan berarti penguasa kan?" tanyaku dengan nada menyindir

"Sudahlah, jangan cari masalah. Kau kan anak baru di Gekkoukan!" kata Yukari

"Huh! Curang!" umpatku dan memberi kedua senpai itu death glareku

"Maafkan kami, senpai!" sekali lagi Yukari membungkuk. Lalu dia pun menarikku turun menuju kelas kami.

.

*Shinjiro's POV*

Aku dan Akihiko sedang mengobrol tentang kejuaraan tinju yang akan diikuti Akihiko dua minggu lagi saat kami membuka pintu rooftop. Saking serunya kami mengobrol, kami sampai tidak sadar kalau ternyata ada dua anak perempuan yang sedang memakan bekal mereka. 'Rasanya seperti ada yang memerhatikan,' batinku. Lalu aku mengalihkan pandanganku ke arah bangku yang ada di rooftop. Dan aku melihat dua orang anak perempuan. Yang satu berambut cokelat muda dan memakai cardigan pink, dan satu lagi berambut orange.

Anak perempuan yang berambut orange itu menatap kami dengan mata merahnya, seakan-akan kami adalah alien dari planet lain—terutama saat melihatku. Kurasa dia sempat menaikkan sebelah alisnya saat dia melihatku. 'Menyebalkan,'

Sepertinya Akihiko sadar bahwa aku sedang menatap sosok lain, jadi dia mengikuti arah pandanganku. Jadilah kami berdua membalas tatapan dua anak perempuan itu. Tiba-tiba si cardigan pink memunguti plastik yang berserakan ada di sekitarnya dan langsung berdiri.

"Maafkan kami senpai, kami akan segera pergi," katanya sambil membungkuk. "Minako, cepat bereskan bekalmu!" bisik si cardigan pink dengan cukup keras. 'Dia itu idiot atau apa sih? Bisik-bisik kok sekeras itu?' tanyaku dalam hati

"T-tunggu dulu! Aku kan belum selesai makan!" kata si rambut orange sambil sedikit menggembungkan pipinya—yang menurutku cukup lucu. What? Aku bilang apa? Ehm, maksudku… Ah lupakan

"Sudah, kita lanjutkan di tempat lain saja!" bisik Yukari sambil menarik tangan si rambut orange. Yah, percakapan mereka berdua masih bisa kami dengar dengan jelas. Karena, satu si cardigan pink berbisik dengan cukup keras; dan dua, si rambut orange berbicara dengan suara yang cukup keras

"Tapi kan kita duluan yang di sini! Kenapa malah kita yang harus pergi?" tanya si rambut orange dengan ketus

"Karena mereka itu senpai kita!" kata si cardigan pink

"Lalu? Toh seorang 'senpai' itu bukan berarti penguasa kan?" tanya si rambut orange. Kurasa dia menyindir kami

"Sudahlah, jangan cari masalah. Kau kan anak baru di Gekkoukan!" kata si cardigan pink lagi. Lalu kulihat si rambut orange menggumamkan sesuatu dan menatap kami. Mungkin maksudnya memberi kami death glare? Tapi menurutku itu sama sekali tidak seperti death glare.

"Maafkan kami, senpai!" si cardigan pink kembali membungkuk dan menyeret si rambut orange kea rah tangga.

Lalu setelah mereka menutup pintu, Akihiko menyikutku. "Hei, kau menakuti mereka, Shinji!" katanya dengan cengiran lebar

"Kau jangan berlebihan, Aki. Aku kan hanya melihat mereka." kataku sambil mengangkat bahuku, "Lagi pula sepertinya aku harus meralat kata-katamu," sambungku

"Meralat?" Akihiko menatapku dengan tatapan bingung

"Ya. Aku bukan menakuti mereka, tapi menakuti si cardigan pink. Kalau si rambut orange sih sepertinya malah kesal pada kita."

"Hahahaha benar juga," Akihiko hanya terkekeh

"Toh kita tidak pernah meminta mereka pergi kan? Itu kemauan mereka sendiri," gumamku. Akihiko menatapku

"Apa?" tanyaku

"Hei, sepertinya si rambut orange itu menarik,ya kan, Shinji~" kata Akihiko sambil melihatku dengan tatapan yang tidak enak

"Hei! Apa maksudmu, Aki?" kurasakan wajahku sedikit memanas

"Jangan-jangan kau suka pada si rambut orange ya?" goda Akihiko

"Huh! Tidak!" aku memalingkan mukaku

"Hahahaha jujur saja lah Shinji! Aku kan teman baikmu!" katanya sambil memukul sikuku pelan

"Hn… Terserah kau lah,"

"Hahahahahaha!" Akihiko hanya tertawa terbahak-bahak mendengar reaksiku.

*end of Shinjiro's POV*

.

-lunch time, Gekkoukan High, class 2-F-

Aku menggerutu sepanjang perjalanan kami kembali ke kelas. Yukari tak mengatakan sepatah kata pun, hanya memimpin kami ke kelas 2-F. Akhirnya rasa penasaranku memecahkan kebisuan kami, "Yukari-chan, memangnya mereka itu siapa sih?"

"Mereka itu kelas 3. Yang berambut perak namanya Sanada Akihiko-senpai. Orangnya cukup pendiam, pintar, dan selalu berusaha keras. Sanada-senpai juga sangat berprestasi di bidang tinju. Karena itulah Sanada-senpai juga punya banyak fangirls." jawab Yukari

"Hmm… Lalu, yang satu lagi?"

"Kalau tidak salah namanya Aragaki Shinjiro-senpai. Orangnya tertutup dan jarang masuk sekolah. Katanya, dia itu salah satu anggota geng berandalan yang suka nongkrong di Iwatodai Station pada malam hari. Tapi Aragaki-senpai itu sahabat dekatnya Sanada-senpai." Jawab Yukari lagi

"Oooh… pantas mukanya sangar," sahutku

"Hahahaha iya sih…" Yukari tersenyum dan sedikit mengangguk. "Tapi sepertinya kamu tidak takut sama Aragaki-senpai," tambah Yukari

"Ano… Menurutku sepertinya dia bukan orang yang jahat. Hanya wajahnya saja yang sedikit menyeramkan." jelasku

"Memangnya kau tahu dari mana? Kau kan baru pertama bertemu dengan Aragaki-senpai." Yukari mengangkat sebelah alisnya

"Yah… Dari caranya berbicara pada Sanada-senpai…Dia mengingatkanku pada seorang temanku di Inaba." jawabku

"Oh ya? Siapa? Seperti apa orangnya?" tanya Yukari penasaran.

Tak terasa kami sudah sampai di depan pintu kelas kami. Jadi, kami memilih masuk kelas terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembicaraan. Setelah berada di kelas, aku langsung duduk di bangkuku, sedangkan Yukari duduk di bangku Junpei.

"Ayo, ceritakan temanmu itu!" pinta Yukari

"Iya." aku mengangguk. "Temanku itu namanya Tatsumi Kanji. Banyak sekali yang mengatakan hal-hal negatif tentangnya. Ada yang bilang dia itu preman, ada yang bilang dia itu gay, ada yang bilang dia itu anggota geng, yah pokoknya macam-macam. Padahal sebenarnya Kanji itu sangat baik, bahkan hobinya saja menjahit!"

"Wah? Ada ya orang seperti itu?" Yukari hanya kaget mendengar ceritaku. "Lalu penampilannya seperti apa?"

"Gangster tulen. Rambutnya cepak dan dicat pirang, terus hidung dan telinganya ditindik, di dekat alis kirinya ada bekas luka jahitan, badannya cukup berotot dan tinggi, bajunya pun yah… kau tahu, mirip gangster."

"Hahaha pantas saja dia dibilang gangster ya?" Yukari tertawa terbahak-bahak dan aku mengangguk.

"Lalu, bagaimana dengan temanmu yang lain?" tanyanya antusias

"Yah, macam-macam. Sahabatku yang paling dekat namanya Satonaka Chie,dia itu gila kungfu. Terus anak manager pusat perbelanjaan, Hanamura Yosuke, orangnya narsis bangettapi kadang-kadang konyol juga sih. Ada juga anak pemilik penginapan, Amagi Yukiko, sifatnya benar-benar baik, selain itu juga anggun, dan pintar. Terus ada artis centil Kujikawa Rise—"

"Tunggu, maksudmu Kujikawa Rise yang itu? Risette?" sela Yukari dengan tatapan tidak percaya. Aku mengangguk.

"Terus terus terus?"

"Ada juga sepupuku, Shirogane Naoto, dia itu detektif. Tapi kasian juga, karena banyak yang menganggap dia laki-laki karena penampilannya. Bahkan dia tidak mau pakai seragam untuk perempuan!" mata Yukari langsung membulat

"S-serius? Waah… jadi pengen lihat orangnya nih!"

"Haha sayangnya di HPku tidak ada fotonya. Semua fotonya sudah kupindahkan ke netbookku. Tapi kalau kau mau lihat fotonya, kamu bisa add FBnya kok!"

"Oh ya? Apa apa?"

"Detective Prince. Dan oh! Sekalian! Add aku juga ya, Arisato Minako Hamham."

"Oke oke oke! Sip!"

Tak lama setelah itu bel pun berbunyi tanda jam istirahat berakhir.

.

.


to be continued…

.

Aaaaaa Saku mau minta maaf! Kayanya Saku jadi bingung karena chapter ini deh. Saku jadi ragu sama pairingnya… Apa Saku ganti aja gitu ya jadi sama Shinji? Uwaaaaaaaaaaa! o

.

Balesan review:

Deal Fallen: Hahaha iya

Tetsuwa Shuuhei: Bukan sih, tapi nanti dijelasin kok. Kalau soal Igor… KOK BISA TAU SIH? w

pepa33: waaa makasih!

.

See ya in next chapter! And please REVIEW..