Hallo, Readers.

Ternyata fic ini ga tamat sampe 2 chapter. Jadi saya publish dulu sekarang okeh? Kalo ga niat review jangan baca! #digampar

Semoga anda bisa tertawa saat membaca fic ini.

Warning : OC, OOC, OOT?, KERING, misstypo bertebaran, maybe... Sebas x OC?


"Hallo, Ween."

Dimiliki oleh : ariadneLacie

.

"Kuroshitsuji:

Dimiliki oleh : Yana Toboso

.

Cerita 'singkat' chapter sebelumnya : Ciel minta tunangan baru. Lalu, untuk kesuksesan rencananya ia ngusir Elizabeth dengan cara jadi pocong cebol. Dan, kualatnya, dia jadi menggelepar di lantai. Sementara Ciel sedang berusaha melepaskan tali pocongnya, Lacie, sang agen pencari jodoh malah tepar. Sebastian tak kunjung datang untuk membantunya. Padahal para tamu sudah datang! Bahkan ditambah seorang gadis berambut abu-abu yang udik. Dimanakah Sebastian? Ah, bagaimanakah nasib Ciel dan para penghuni Phantomhive's mansion selanjutnya? Apakah mereka dapat menikmati Halloween kali ini?

.

Di sudut pojokan Phantomhive's mansion...

"Aah~ sayangku~ apa kau baik-baik saja?" gumam sebuah suara mesum. "Kau lembut sekali ya, hihi."

Terlihat si pemilik suara mesum ini sedang mengelus-ngelus sesuatu. Ah? Apakah itu?

"Miaaw."

"Apa? Apa? Kau lapar ya? Baik, baik." Kata Sebastian sambil menggendong kucing hitam kesayangannya dan menuangkan susu ke mangkuk. "Silahkan~"

Ya, dialah sang pencinta kucing, Sebastian Michaelis. Jika sudah bersama kucing kesayangannya itu, ia dapat melupakan segala hal bahkan tuannya. Buktinya, ia tidak mendengar bahwa dari tadi tuannya sedang menjerit-jerit meminta bantuannya. Tapi, untunglah ia segera disadarkan dengan sebuah suara Ilahi...

"SEBASTIAAAN! DIMANA KAU?" terdengar seseorang sedang menjerit-jerit memanggil nama Sebastian.

"Ah? Rasanya aku tadi mendengar sesuatu..." gumam Sebastian pura-pura budek. "Ah, sudahlah. Paling juga apa. Saat ini kucingku lebih penting~ hihi."


Sementara itu...

"Hiyaa~ Claude, maid itu manis sekali! Bagaimana jika kita tukar Hannah dengan dia?" seru Alois sambil narik-narik tailcoat Claude.

"Tuan, apakah anda ingin memakai kacamata saya? Apakah mata anda sudah rabun? Kapan terakhir kali anda ke dokter untuk tes keperawanan?" tanya Claude ga nyambung. "Sudah jelas-jelas Hannah lebih bagus kerjanya dan juga lebih seksi dan hitam daripada maid itu, tuan." Lanjut Claude panjang lebar.

"Ah, kau itu banyak omong deh Claude. Ga kayak dulu. Pasti lu abis ke spa buat lulur sama buat jidat lo lebih mengkilap ya?" tanya Alois.

"Tidak, tuan. Saya abis ikut seminar 'how to make your jidat terang'" jawab Claude.

"Ah, Claude. Kenapa kau ga ngajak-ngajak aku sekalian? Mungkin aja nanti aku juga bisa sekalian ke tukang cukur buat ganti model rambut jadi botak di depan dan memperlihatkan pesona jidatku!" timpal Alois.

"Tuan... ternyata... anda akhirnya mengakui bahwa tren sekarang adalah memperlihatkan jidat yang berkilau bagaikan matahari yang bersinar di malam hari!" seru Claude sambil sujud syukur. Akhirnya tuannya itu mendapat hidayah dari Tuhan!

"Aduh, tuan? Kenapa anda sujud-sujud ke arah saya kayak gitu?" tiba-tiba Maylene ikut nimbrung. Padahal udah jelas kalau Claude sujud-sujud ke arah kain pel yang tergeletak 5 meter darinya. Maklum, dia kan silinder dan rabun ayam plus badak.

"Oh, maaf nona. Sepertinya anda salah pa..."

"APA? CLAUDE, BERANI-BERANINYA KAU BERHIANAT DARIKU!" seru Alois sebelum Claude sempat menyelesaikan kalimatnya. "KAU BERANI BERSUJUD PADA ORANG SELAIN DIRIKU? SEHARUSNYA KAU BERSUJUD KETIKA SHOLAT CLAUDE, BUKAN SAAT INI, PADA ORANG INI!" lanjut Alois ngaco.

"Tuan, dengarkan saya dulu..." dan, lagi-lagi sebelum Claude menyelesaikan kalimatnya...

"AH, PEDULI AMAT! KITA PUTUS! NYESEL GUE PERNAH NYIUM JIDAT LO!" seru Alois lalu ia pun segera berlari meninggalkan Claude yang cengo dan Maylene yang lagi belajar salto.

"Tuaaan!" jerit Claude kayak orang mau ketabrak truk di sinetron Indonesia. Lainnya, kali ini ia berhasil menghindari terjangan maut sang vacum cleaner yang kehilangan kendali dan mengejar tuannya yang kecepatannya sudah melebihi becak tercepat di dunia dengan kecepatan 30km/jam!


Sementara itu...

"Ada apa, tuan?" tanya Sebastian. "Loh? Mana tuan? Kok cuma ada si nona butler ini sih?" gumam Sebastian bingung sambil mendekati Lacie yang sedang tergeletak menyedihkan di lantai.

"Ah, daripada mengganggu, lebih baik aku pindahkan saja dulu dia." Kata Sebastian sambil menggendong Lacie dan membawanya keluar kamar.

"Tian..."

"Eh? Rasanya tadi aku mendengar suara tuan." Gumam Sebastian sambil menengok ke dalam kamar. Ah, tapi ia hanya melihat segulung benda putih tergeletak di lantai. "Mungkin hanya perasaanku?" Lalu Sebastian pun berjalan keluar.

"Sebastian..."

KLAK! Terlambat, pintu sudah terlanjur ditutup. Aah, malang sekali nasibmu, Ciel.

"Sebastian... tolong..." Ciel masih memanggil-manggil Sebastian. "Cih! Sialan!" akhirnya Ciel pasrah dan berusaha bangun sendiri.

Ia pun menggeliat, mengaum, menggelepar, berenang *? dan berbagai usaha lain pun dilakukannya. Sampai akhirnya... ya! Dia bisa berdiri! Hore!

"Fiuh, akhirnya aku bisa berdiri juga." Kata Ciel. "Nah, sekarang tinggal keluar dulu..." Ciel pun melompat-lompat persis pocong asli dan keluar ruangan. "Hihihi, lihat saja Sebastian. Aku akan membuatmu ketakutan setengah idup!"


"Ah, Ran Mao. Ternyata Earl lebih kaya dari yang kita kira, ya?" gumam Lau sambil menyeringai. "Hihihi, kalau begini sih, tanpa harus ikut ikutan kuis 'who wants to be a miley arder' kita bisa kaya mendadak kayak di acara uang kejang-kejang!"

Ran Mao hanya terdiam mendengar celotehan ga jelas 'kakak'-nya itu.

"Ah, Ran Mao. Kau juga bisa ambil apapun yang kau inginkan." Kata Lau sambil mulai mengambil koin-koin emas yang ada di kresek. Ia memasukannya ke lengan bajunya yang sudah memiliki fungsi seperti kantong empat dimensinya Doraem*n.

"..." gumam Ran Mao.

"Apa? Apa? Kau ingin pakai baju itu?" tanya Lau sambil menunjuk pada sebuah kain panjang berwarna putih.

"..." gumam Ran Mao tanpa bersuara.

"Hah? Aku juga pakai?" tanya Lau.

"..." gumam Ran Mao lagi.

"Eeh? Apa kau serius?" tanya Lau lagi. Anehnya, ia bisa mengerti Ran Mao yang bisu ga jelas itu.

"...^^..." gumam Ran Mao lagi tanpa bersuara, lagi.

"Hhh... baiklah, baiklah. Dasar adik yang banyak permintaan." Jawab Lau.

Lalu, ia dan Ran Mao pun memakai 'kostum' yang tadi ditunjuk oleh Ran Mao.


"Ah~ Sebby~ sebenarnya kau ada dimana?" gumam sebuah suara banci. "Ah! Sebby~ akhirnya kau kutemukan!" seru suara banci itu saat ia melihat Sebastian.

"Aah... kenapa rasanya perasaanku tidak enak?" gumam Sebastian. Baru saja ia mau membuka pintu kamarnya...

"Sebby~!" seru suara banci yang pemiliknya tak lain adalah, ya, Grell Sutcliff. Siapa lagi?

Sebastian dengan gesit dan tangguh seperti motor yam*ha membuka pintu sehingga Grell menabrak pintu, bukan dirinya.

"Sebby, kau jahat sekali..." rintih Grell sambil memegangi hidungnya yang jadi pesek karena menabrak pintu.

"Tentu saja, lagipula aku ini iblis." Jawab Sebastian sambil tersenyum dan membuat Grell mimisan seketika.

"Sebas... senyumanmu itu... membuatku... membuatku... ingin melahirkan anakmu!*" seru Grell sambil menggeliat-geliat ga jelas. Sebastian langsung merinding seketika. Dan, tanpa buang-buang waktu lagi, Sebastian segera menutup pintu dan masuk ke kamar.

"Dasar shinigami gila. Apakah aku harus menelepon 'UPBG' alias Unit Penanganan Banci Gila ya?" gumam Sebastian sambil menurunkan Lacie di kasur. Lalu, ia diam sebentar. Memandagi si gadis aneh itu. "Sebenarnya, ngapain sih kau disini?" gumam Sebastian. Lalu ia pun menyelimutinya dan berjalan ke arah pintu.

"Aah... kalau aku keluar lewat pintu ini... pasti aku akan bertemu dengan banci itu lagi. Cih, yasud, aku lewat jendela saja." Keluh Sebastian sambil melompat keluar jendela yang berada di lantai 13... eh, terlalu tinggi deng. Lantai 3 maksudnya.

"MAS! JANGAN BUNUH DIRI MAS! HEI!" seru seorang cewek dari bawah sana saat melihat Sebastian hendak melompat. Sebastian pun tidak jadi melompat dari jendela.

"Saya tidak berniat bunuh diri, nona. Lagipula, anda siapa?" tanya Sebastian.

"Saya hanyalah orang yang nyasar ke mansion ini." Jawab gadis itu singkat. Sebastian pun mulai meneliti fisik gadis itu.

'Rambut panjang abu-abu... mata hitam... lebih pendek sedikit dari tuan... memakai gaun hitam... ah, dan... lumayan cantik.' Batin Sebastian. 'Mungkin dia bisa jadi kandidat tunangan tuan muda?'

"Kalau begitu, apakah anda berkenan mampir?" tanya Sebastian.

"Eh? Ah, sebenarnya tadi aku sudah melihat-lihat sedikit. Tapi... tadi aku bertemu dengan dua orang gila yang meributkan soal 'jidat'. Jadi... aku keluar lagi deh. Hehe." Kata gadis itu.

"Jidat? Jangan-jangan... ah sudahlah. Kalau begitu, bagaimana jika anda masuk saja lagi, nona?" Kata Sebastian. Ia pun bersiap melompat dari jendela lagi.

"ADUH, MAS! JANGAN NIAT BUNUH DIRI! SAYA TAU MAS FRUSTASI AKAN MODEL RAMBUT MAS, TAPI JANGAN SAMPAI BUNUH DIRI GITU DONG!" seru gadis itu histeris. Tapi, Sebastian sudah terlanjur melompat... dan...

Ya, tentu. Sebastian ga mati. Masa sih, Sebastian mati? Nanti ceritanya tamat dong!

"Sudah saya katakan, saya tidak niat bunuh diri, nona." Kata Sebastian setelah mendarat dengan mulus kayak muka author ini~ Ih, kok jadi ngaco?

"Mari, saya antar ke dalam?" tawar Sebastian sambil mempersilahkan gadis itu masuk melalui pintu belakang. Gadis itu hanya menurut dan masuk ke pintu belakang yang ditunjuk Sebastian.


Sementara itu...

"Hei, kostum ini bagus juga! Cocok untukmu, Maylene!" seru Finny bersemangat.

"Ah? Masa? Memangnya itu kostum apa?" tanya Maylene sambil melihat-lihat isi lemari bajunya. Padahal isinya cuma baju maid yang modelnya itu-itu doang. Kasian, ga modal sih.

"Lihat! Ini kan, kostum mas kuntolinuk!" kata Finny sambil memperlihatkan baju panjang berwarna putih. "Ada wignya lagi!" tambahnya sambil memperlihatkan wig hitam panjang.

"Wah, kelihatannya seram, ya. Kalau begitu... aku mau pakai, deh!" seru Maylene senang. Ia pun segera menjambret baju itu dan berlari menuju kamar mandi.

"Nah... kalau begitu... aku pakai kostum apa dong?" gumam Finny bingung. "Bard-san, kau pakai kostum apa?" tanya Finny.

"Ah, aku sih..." Bard masih sibuk mengaduk-aduk isi kotak kostum. Tapi, sialnya... "Ah! Rokokku...!"

5 rokok yang Bard isap sekaligus jatuh sekaligus ke kotak berisi kostum itu. Dan, tanpa basa-basi lagi, kotak itu langsung meledak kayak gas elpiji yang bocor. Dan, kamar mereka sepertinya akan kebakaran mendadak.

"Aaaah!" seru Bard dan Finny panik.

"Ho ho ho." Pak Tanaka santai-santai aja. Wah? Kalo janggut lo yang kebakar, lo tetep santai aja, mas? Eh? Pak Tanaka ga punya janggut ya?

Dan, dengan flame thrower-nya, Bard berhasil menghentikan nyala api di dapur... *lho?

"Fiuh... untung saja..." kata Bard sambil melempar flame throwernya ke belakang.

"Aah... Bard-san... kostumnya... nanti kita pakai kostum apa?" seru Finny panik.

"Tenang, ada kostum cadangan kok." Kata Bard santai. Ia pun mulai menyulut lima batang rokok lagi. Dasar, ga kapok tu orang. "Nih!"

"Eeh? Kostum apa itu?" tanya Finny heran.

"Ini kostum mas genderang, sama mas pacung. Hebat kan? Ini sengaja kusimpan!" seru Bard.

"Aah... sepertinya seram juga... ayo kita pakai!" seru Finny girang.

Dan, mereka pun memakai kostum itu...


Sementara itu...

"Sebby~! Sedang apa kau di dalam~? Kok lama~?" seru Grell sambil menggedor-gedor pintu. Saking ributnya, Lacie sampai terbangun.

"Eh? Loh? Ini dimana?" gumamnya heran. "Mana pocong cebol tadi? Lalu... bukannya ini kamar Sebastian ya?"

"Eh? Kamar... Se... Sebas-chan?" gumamnya. Ia pun langsung blushing seketika dan kege-eran stadium 10. "Gue... ngapain gue disini? Jangan-jangan..." ia pun mulai mikir yang aneh-aneh.

"Sebby!" Grell berteriak sambil menggedor-gedor pintu lagi.

"Ah! Ribut amat sih lo! Siapa lo, sih?" omel Lacie kesal. Ia pun segera membuka pintu. "Siapa?"

"Mana Sebby ku?" tanya Grell sambil melet-melet lidah dan kedip-kedipin mata. Autis, mas?

"Apa? Dia tidak ada disini, maaf." Kata Lacie lalu segera berjalan melewati Grell. "Eh, sebentar. Anda Grell Sutcliff, kan?"

"Iya~ saya Grell Sutcliff~ belahan jiwanya Sebas~" kata Grell pede abis sambil bergaya ala model majalah 'hewan-hewan rabies'

"Ah, kalau begitu, bisakah anda ikut saya sebentar? Sebenarnya, saya yang mengundang anda kesini." Kata Lacie. "Perkenalkan, saya Ariadne Lacie." Lanjutnya sambil membungkuk sedikit.

"Boleh~ boleh~ asalkan aku bisa bertemu dengan Sebby~" kata Grell bersemangat.

"Tentu. Kalau begitu, mari." Kata Lacie sambil berjalan duluan. Grell pun segera mengikuti dengan cara jalan kodok. Aduh, ribet amat sih.


Sementara itu...

"Nah, nona. Anda bisa tunggu saja dulu disini." Kata Sebastian setelah mempersilahkan gadis aneh tadi duduk di sofa ruang tamu. "Saya akan segera kembali setelah memanggil tuan muda."

Gadis itu hanya mengangguk. Sebastian pun segera melesat secepat becak untuk memanggil tuan mudanya itu.

"Nah, sekarang... dimana tuan muda?" gumam Sebastian bingung. "Padahal sekarang sudah lewat jam makan siang. Ia pasti sudah lapar. Ah, tapi kenapa dari tadi aku tidak melihat dia? Bahkan batang hidungnya sekalipun."

Sebastian pun berpikir sebentar...

"Ah iya! Hidung tuan muda kan, tenggelam. Gak kayak gue yang mancung gini. Pantesan ga keliatan." Gumam Sebastian ngaco. Ia pun memutuskan untuk berkeliling mansion untuk mencari tuannya itu... tapi...

"HUWAAA!" tiba-tiba seseorang dengan kecepatan becak tercepat di dunia berlari ke arah Sebastian. Untung saja, Sebastian sempat menghindarinya dan membuat orang tersebut menabrak tiang tepat di muka.

"Anda tidak apa-apa?" tanya Sebastian agak menyesal telah menghindar.

"Uuh... bibirku..." seru orang itu sambil memegangi bibirnya. Wah, bibirnya sampai bengkak karena menabrak dinding dengan kecepatan seperti itu, jadinya dower deh! Cup cup, kasian.

"Tuan! Anda tidak apa-apa? Salah sendiri anda lari-lari seperti itu!" seru seorang lagi yang terlihat lebih tua dan lebih tinggi dari orang yang menabrak dinding.

"Tidak! Sudah, jangan mendekat Claude!" seru bocah yang ternyata bernama Alois itu. Claude langsung tersentak kaget.

"Tuan...? sebegitu bencikah anda... pada saya?" kata Claude sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Persis kayak orang baru nyadar kalo dia itu BM alias Bau Mulut.

"Tidak! Gue bencinya ama jidat lo!" seru Alois sambil nangis-nangis di dada Sebastian. Sebastian langsung masang tampang cengo dan jijik.

"Dek, jangan nangis disini dek, nanti kemeja saya bisa kotor sama air mata dan air hidung adek." Kata Sebastian sambil mendorong Alois.

"Tapi... tapi...! Hik!" isak Alois. "Eh, tunggu! Berani-beraninya lo manggil gue adek! Gue udah gede tau!" Alois tiba-tiba berubah mood dan ekspresi.

"Sialan lu, cepet! Sujud sama gue!" seru Alois asal perintah ke Sebastian.

"Hah? Ngapain. Ogah gue, males ah. Dasar orang gila. Dadah, gue mau cari tuan gue dulu." Kata Sebastian kesal dan meninggalkan Alois.

"Heei! Tunggu!" Alois pun segera mengejar Sebastian yang keburu ngacir kayak orang udah kebelet boker. Dan, Alois pun segera menemukan Sebastian yang sedang terdiam kayak patung di tikungan koridor... Alois melihat sesuatu berwarna putih yang tinggi di depan Sebastian...

"Ada apa?" tanya Claude yang baru berhasil menyusul mereka.

"Po...pocong! giyaaa!" jerit Alois histeris kayak orang baru liat penampakan. Eh? Dia kan emang beneran liat penampakan ya?

"Sebastian, mansion ini berhantu?" tanya Claude dengan tampang pucet pasi.

"Aku... aku juga tidak tahu... Claude... tolong aku..." kata Sebastian sambil menatap Claude dengan wajah yang mau nangis.

Claude dan Sebastian saling berpandangan...

"TOLOOONG!" jerit mereka berdua dan segera berlari menyusul Alois kayak rentenir ngejar mangsanya.

.

To Be Continued

.

Wew, panjang banget ternyata fic ini. Saya baru nyadar, fic makin panjang makin garing ya? Dan! susah ya, kalo nyeritain banyak orang dalam tempat yang berbeda. Jadi, mohon maklum jika banyak kata2 "sementara itu... sementara itu..." XD

Be te we, karena fic ini kepanjangan, kayaknya ga kan tamat 2 chapter doang. Jadi, terpaksa deh... oh ya, tapi chapter terakhir pasti waktu hari halloween kok. do'a kan saja ya :D

.

Reply for the reviews :

Arleena Lauren : Ah! tapi saya juga pingin baca fic halloween buatan anda!

Sara Hikari : Makasih^^ yosh, ini udah apdet :D

cleo-luvCiel 4 ever : halo juga :D lanjutan yang mana ya? klo The Black Butler Days sih, udah sampe chap 4 tuh. Wah? mana mana? saya mau baca XD

White Wing : eh? kenapa anda males review? O.o aah... maafkan saya . tapi, meskipun saya hapus, tapi saya melaksanakan apa yang anda sarankan! dan, semoga fic saya menjadi lebih baik lagi ya^^ yosh! akan saya pertahankan sebisanya! arigatou gozaimasu, white-san^^

Thank's for the reviews, thank's for reading my fic.

Maafkan segala kekurangan dari cerita ini, and...

Review please!