*o* Chapter 3 *o*
haaloo..
para Incester(?) XD
maaf ya saya ga bisa update kilat.. ;w;
Biasalah.. pelajar.. -tempong pake sendal swalow-
saya balas ripyu dulu deh~
Nasaka Kobayakawa :
Iya kan? Iya kan? kayak sinetron! O,O Tapi saya usahakan ga jadi kayak gitu, jadinya kayak telenovela aja.. *lemparin tabung gas*
ngena itu maksudnya.. ngena hati gitu? XD wahaha.. makasih Nasaka.. (boleh panggil gitu?)
salam kenal ya..
Namikaze-Tania-Chan:
Hay Tania-chan.. (boleh panggil gitu?) panggil el aja.. :)
iya, kemaren itu copy paste sih dari documentnya.. =.=a jadinya lupa di cek lagi ada yang salah apa engga, soalnya modem saya suka eror, udah nulis lama-lama, ke delete semua.. =3=
okee Tania, terimakasih atas sarannya ya.. :D silahkan nikmati chapter ini X3
Putri Luna:
Aih, aih, makasih Luna, aih aih(?) *nular nih*
silakan menikmati chapter 3 ini~ :3
yak..
Langsung aja ya,,
cari tempat yang nyaman dan aman,
And Happy Reading~ :D
WARNING: AU, OOC, GAJETTE(?) INCEST!
DISCLAIMER: Takeshi Obata and Tsugumi Ohba
PAIRING: SAYUXLIGHT
RATED: T
Just click the review button if you like, and click 'back' if you dislike!
Chapter 3: For a Happy Ending?
Tak Pernah kubayangkan,
Cinta itu penuh pertentangan,
Penuh dengan larangan,
Dan penuh dengan keterpurukan..
Tapi satu yang kupercaya,
Cinta itu..
'Membutakan'
"Misa! Misa! Lihat kemari!" "kyaaa.. itu Misa Amanee! Manisnyaa~" "Misa, Apa benar kau akan menikah?" "Misa!" "Misa Amane"
-xxx-
Seorang gadis berambut blonde, yang dikelilingi para wartawan, berjalan melompat kecil kesana-kesini dengan celetukan sepatu khas berenda pita merah dan hitam, sambil memasang wajah manisnya, mengangkat sudut atas bibirnya agar selalu tersenyum.
Diabaikannya para wartawan yang bertanya kepadanya.
Suasana di pinggir kota Tokyo itu menjadi ramai karena kedatangan seorang model cantik Misa Amane.
Untungnya para bodyguard Misa menjaga agar para kerumunan tidak terlalu mendekat.
Sekarang gadis yang gemar dengan barang-barang gothic itu mulai masuk ke dalam mobil pribadinya.
Sebelum pintu ditutup, seorang wartawan dengan nekat menerobos penjagaan seorang bodyguard,
"Mi-Misa, bisa anda jawab pertanyaan saya? Apa benar anda akan menikah dengan seseorang?".
Misa menatap wartawan itu dan mempersunggingkan senyuman andalannya.
"Tentu saja! Misa akan segera menikah dengan Light-kun~ Sudah ya.. Misa ingin pergi ke suatu tempat..
Sampai jumpa semuanya~".
Mobil yang ditumpangi Misa melajukan kendarannya. Sang wartawan masih mimisan (sejak kapan?)
Karena menerima serangan senyuman manis dari Misa Amane.
Dan sekarang, hendak kemanakah Misa pergi?
-xxx-
"Light-kuun~ Misa datang~"
Yak.
Yang ditujunya adalah rumah kediaman Yagami.
Untuk apa dia kesana?
Tentunya untuk..
"Misa?"
"Light-kuun~"
Setelah pintu rumah Yagami dibuka, tepat sekali yang membukanya adalah Light.
Sehingga Misa tanpa basa-basi langsung memeluk erat Light.
Dan yang dipeluk langsung berwajah kesal.
"Misa. Lepaskan!"
"Tidak mau~ sudah seminggu Misa tidak bertemu dengan Light-kun~ Misa kangeen."
Light mencoba melepaskan tangan Misa yang masih bergelut di pinggang ramping namun berisi milik Light. Tapi hal itu percuma, karena kalau sang Model gothic itu sudah memeluknya, akan sangat susah untuk melepasnya.
"Kak.. Light?"
Tepat pada saat itu, Sayu yang hendak berangkat ke sekolahnya langsung terdiam melihat Misa dan Light yang (dalam tatapannya) sedang bermesraan.
Light yang melihat Sayu memergokinya, langsung kaget dan reflek mendorong tubuh Misa menjauh sekuat tenaga. Hingga Misa terjatuh ke tanah.
"Auw! Sakiit.. Light-kun jahaat!"
"Sa-Sayu, ini.."
Light tanpa mempedulikan kondisi Misa langsung melangkah kea rah Sayu yang hanya diam menatap wajahnya dengan tatapan dingin.
Sayu berjalan mengabaikan Light dan menuju tempat Misa terjatuh, yaitu dekat pintu keluar.
"Kau tidak apa-apa Amane-san?"
Sayu tersnyum ramah.
Yang Light tau, senyuman itu sangat mengiris hatinya. Itu adalah senyuman paksaan dari Sayu. Walau bibirnya membentuk senyuman palsu, tetapi tetap saja hatinya sangat miris melihat Misa yang bermanja-manja di pelukan Light.
"Misa tidak apa-apa Sayu-chan, terimakasih.."
Misa yang dibantu tangan mungil Sayu kembali beranjak berdiri.
"Kakak, Amane-san, Sayu berangkat dulu ya."
Sayu dengan senyumannya yang diketahui Light merupakan hasil dari paksaan sudut bibirnya yang membuatnya harus tersenyum.
Sayu tidak akan menunjukkan kecemburuannya didepan Misa dan Light.
Tidak akan, jika itu bisa.
"Sayu.."
Panggil Light lirih namun Sayu segera berlalu.
-xxx-
Langit kelam.
Inilah pemandangan yang sekarang sedang dilihat oleh sepasang bola mata almond dari seorang gadis yang terduduk di sebuah bangku taman.
Walau langit sudah menunjukkan tanda-tandanya, bahwa ia akan membawakan seorang tamu yang akan turun membasahi permukaan bumi dengan tanpa acuh tak acuh mengenai setiap sudut yang dikenainya, gadis itu tetap memandang ke arah gumpalan hitam diatas sana.
Gumpalan itu sudah menampakkan kilatan sesaat yang disusul oleh bunyi meraung keras.
'tuk'
Setetes benih air yang berasal dari atas sana jatuh tepat di atas dahi Sayu.
Sayu mengerjapkan matanya. Seakan terbangun dari khayalannya.
Dia mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Hingga kakinya mengangkat tanda dia akan bangkit dari tempatnya duduk.
Diambilnya tas yang berada di sampingnya dan gerak kakinya membuat tubuh kecil itu berjalan.
Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Sayu hingga salah satu murid teladan ini bolos dari sekolahnya dan malah terduduk bisu di tempat yang sudah menandakan akan turunnya para molekul air.
*o* Sayu POV *o*
Hujan sudah mulai turun. Entah kenapa kakiku yang biasanya selalu menuruti insting teladanku malah beranjak ke tempat dimana aku bisa menatap para langit yang kini membendung butiran air yang siap untuk dia lepaskan.
Mungkin, jawabannya karna selama perjalanan ke sekolah tadi, aku selalu memikirkan wajah kak Light.
Memikirkan bagaimana kalau kata-katanya tadi malam hanyalah dusta semata. Dia tidak mungkin kan mencintaiku?
Aku sudah tau, dari awal aku sudah tau. Aku hanya anak kecil yang terlalu mendambakan cinta yang tidak akan bisa kurasakan seumur hidup.
x
Hujan semakin memonopoli untuk menderaskan arah jatuhnya.
Seragam sekolahku kini sudah basah dikeroyok oleh para pengendap dikala awan membendung.
Rambut hitamku kini telah basah dan tubuhku mulai merasa angin membuat tubuhku bergetar karna gigilan.
Aku tidak tau harus kemana lagi aku melangkah. Kali ini aku sangat malas sekali untuk pergi ke sekolah. Dan jika aku pulang kerumah dan melihat gadis manja itu lagi,
kupastikan aku tidak akan menahan diri lagi.
Mau tak mau aku harus berteduh. Karna hujan yang sudah mendominasi tempat jatuhnya semakin lebat dan diiringi dengan cambuk kilatan.
Karna itu aku berniat untuk pergi kerumah orang yang sudah lama kupercayai.
Satu-satunya orang yang mengerti perasaanku.
-xxx-
"L"
Kupanggil nama pemilik sebuah rumah yang cat nya berwarna putih dari sudut ke sudut lainnya.
Dulunya rumah ini adalah sebuah klinik. Dan karna kondisi tubuhku yang sering sekali terserang penyakit, aku selalu datang ke klinik ini.
Kupencet bel yang berada di samping pintu klasik yang tentunya berwarna putih.
Terdengar suara orang yang melangkah dari dalam.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dan menampakan seorang lelaki tampan berkulit putih pucat, berbaju putih dan bercelana jeans tanpa mengenakan alas kaki dan sedang memegang beberapa donat yang ditusuk menyerupai sate sedangkan mulutnya saja masih mengunyah sepotong cake.
Aku tersenyum di hadapannya.
"Selamat siang L "
Kataku sopan.
"Bukankah terlalu pagi untuk mengatakan selamat siang Sayu?"
Wajah datar tanpa ekspresi itu memang selalu menjadi salah satu ciri khasnya.
Walau wajahnya tak menampakkan ekspresi peduli, namun aku tau apa yang dirasakannya.
"Ya. Kau benar."
"Masuklah Sayu. Aku bisa repot kalau kalau kau pingsan akibat terpaan hujan yang membuat suhu tubuhmu meningkat sekarang."
L memang seorang dokter. Dia bahkan tau bahwa suhu tubuhku sudah panas tanpa menyentuh terlebih dahulu.
Aku pun masuk kedalam rumah dan L menaruh handuk di punggungku.
Aku melirik kepadanya.
"Terimakasih, L "
"Hn"
Dia hanya menjawab singkat.
-xxx-
Sambil menunggu bajuku yang sedang dikeringkan, aku dipinjami oleh L sebuah piyama yang dulunya terpakai untuk para pasien.
Aku berdiri di beranda rumah L sambil menatap kilatan yang sering kali kutatap saat hujan membabi buta.
"Sayu. Masuklah, jangan terlalu banyak terkena angin. Tubuhmu nanti tidak kuat."
L datang sambil membawa dua cangkir teh.
Aku menuruti kata-katanya.
"Ya."
Dapat kulihat wajah L yang sedikit mengeluarkan ekspresinya. Itu.. ekspresi sedih.
Kini aku duduk di sofa putih milik L.
"Sayu, kau bolos?"
L mulai membuka percakapan.
"Maaf."
Kudengar L menghela nafas pendek sambil menyodorkan padaku secangkir teh yang tadi dibawanya.
"Kenapa minta maaf padaku?"
"..."
Pertanyaan itu tak dapat kujawab. Mungkin karna perasaan bersalahku yang meninggalkan ilmu lah yang membuatku tanpa sadar meminta maaf.
"Sayu. Berhentilah memikirkannya."
Aku menengok dengan cepat ke arah L.
"Aku tidak memikirkannya L ! hanya saja.."
Suaraku tiba-tiba naik dua oktav lebih tinggi.
"Hanya saja?"
Wajah L yang pucat memandang lekat-lekat raut wajahku yang sekarang pasti sedang beraut sedih.
"Kak Light.. dia.. akan menikah."
Kataku lirih sambil menunduk menutupi mataku yang sebentar lagi pasti akan membendung.
L menaruh cangkirnya di meja dekat perapian.
"Sayu, aku sudah memperingatimu sejak awal, kalian.."
"AKU TAU! AKU SUDAH TAU! AKU DAN KAK LIGHT TIDAK MUNGKIN BISA! DARAH INI! DARAH TERKUTUK INI! AKU BENCI DARAH INI!"
Ku ambil sebuah pisau dari samping tempat cangkirku dan kusayat cepat dipermukaan kulit lenganku.
L membelalakkan matanya dan langsung memegang lenganku yang sudah mengeluarkan darah pekat.
"APA YANG KAU LAKUKAN SAYU?"
Aku menepis tangan L yang memegang lenganku.
Kulihat darah yang mengalir mengikuti lekuk lenganku. Seiring dengan air mata yang kini jatuh membanjiri setiap yang ia lewati.
"Darah ini.. darah yang sangat kubenci. Darah yang sama dengan punya kak Light. Darah yang tak memperbolehkan aku mencintainya melebihi seorang kakak. Darah yang membuat hatiku selalu teringat akan hubunganku yang berstatus adik dengan kak Light. Darah yang nantinya akan terus menghantuiku bila kami bercinta. Aku tidak akan bisa.. dengan kak Light.. hiks.. tidak akan.. bisa.."
Aku mulai terisak sambil terus memerhatikan darahku yang terus menerus mengalir.
L hanya menatapku dengan pandangan sedih dan menyesal.
"Sayu.. kau tau, Light-kun itu selalu mencintaimu."
"Bohong! dia tidak pernah mencintaiku! dan tidak akan mencintaiku."
Tangisku mulai mengeras.
"Kau tidak tau Sayu.."
"YA! AKU MEMANG TIDAK TAU! AKU TIDAK TAU APA-APA! AKU HANYA ANAK KECIL YANG SUDAH MEMENDAM CINTA YANG TAK SEMESTINYA KURASAKAN! AKU BENCI TAKDIR INI! AKU BENCI DARAH INI! AKU BENCI SEMUANYA! AKU BENCI!"
Aku berlari ke luar dimana hujan masih tetap beradu untuk turun.
Aku mendengar suara L yang meneriaki namaku dan mengejarku.
Namun kakiku cepat menerjang hujan dan terus berlari.
Tak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti, yang sekarang ingin kulihat dan kurengkuh tubuhnya, hanyalah..
Kak Light.
*o* End Of Sayu POV *o*
-xxx-
Sedangkan di rumah tempat Light berada, Light sedang memandang lekat-lekat berkas yang ada di hadapannya di ruang tamu dekat pintu keluar masuk.
"Huuh~ Light-kuun~ Misa bosan niih, Light-kun tidak memperhatikan Misa sama sekali.. Misa kan datang kesini untuk menemui Light-kun~"
Misa yang berada disamping Light langsung bermanja-manja memeluk lengan Light.
"Misa, kalau kau tidak ada kerjaan. Lebih baik kau tidak usah datang kesini."
Jawab Light dingin sambil melepas lilitan tangan Misa.
"Huuh! Light-kun jahat! Light-kun tidak pernah memikirkan perasaan Misa."
Misa menunduk sebal.
"Hn."
Hanya jawaban singkat yang diberikan oleh Light.
"Light-kun, apa artinya Misa bagi Light-kun?"
Light menghentikan fokus matanya yang menatap berkas-berkas.
"..."
Light masih terdiam. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang pernah dilontarkan oleh Sayu.
"Apa.. aku hanya pelarianmu saja?"
"..."
Light masih diam tak menjawab.
"Apa Sayu-chan yang lebih berarti untukmu?"
Kali ini Light menengok ke arah Misa.
Misa dengan tatapan sayu nya memandang wajah dingin Light.
"Apa maksudmu?"
Light bertanya dengan wajahnya sorot matanya yang tajam.
"Light-kun mencintai.. Sayu kan? bukan sebagai adik. Tapi sebagai perempuan."
'brak'
Misa membelalakkan matanya saat dilihatnya Light membalikkan meja yang ada di depannya.
"Jangan berbicara macam-macam, Misa!"
Light kembali memandang wajah Misa dengan tatapan yang sangat dingin.
Peluh meleleh di kening Misa.
"Kalau.. Light-kun tidak mencintainya.. co-cobalah buktikan!"
Misa memundurkan badannya seiring dengan badan sexy Light yang semakin codong ke arahnya.
Bukan karna nafsu, namun karna rasa kesal terhadap Misa.
"Buktikan?"
Light mulai mengernyitkan dahinya.
"Ci-cium Misa! kalau Light.. menyukai Misa dan tidak.. mencintai Sayu."
Light membelalakkan matanya.
Tubuhnyapun ikut mundur saat dirasakannya pertanyaan Misa yang membuatnya kaget.
Bukan karna Light tidak mencintai Sayu, tapi dia sangat tidak suka bila perasaannya diketahui oleh orang lain. Hanya dirinya dan Sayulah yang boleh tau.
"Tidak mesti dengan cara itu."
Light membalikkan badannya dari hadapan Misa.
"Light-kun tidak pernah sekalipun bilang kalau Light-kun mencintaiku, juga tidak pernah menunjukkan bahwa Light-kun mencintaiku."
Light melirik wajah Misa yang saat ini sedang meneteskan air mata. Kali ini Misa benar-benar menangis.
"Misa.. aku.."
"Light-kun mencintai Sayu! itu sebabnya Light-kun hanya menganggap Misa properti untuk menutupi perasaan Light-kun!"
"DIAM!"
Misa terbelalak dengan bentakan Light.
"Kau mau aku menunjukkan perasaanku? Setelah ku cium kau mau apa?"
"..."
Misa hanya diam dengan terus mengalirkan air matanya.
"Baiklah kalau itu akan membuatmu puas!"
Light dengan matanya yang menyiratkan kekesalan memajukan wajahnya dengan wajah Misa.
Misa yang tadinya kaget dengan reaksi Light, mulai terhisap oleh wajah tampan Light yang seakan mampu menghipnotisnya.
Jarak diantara kedua bibir itu semakin mendekat.
Tiba-tiba..
'Brak'
Pintu yang memang berada dekat dengan ruang tamu terbuka lebar menampakkan sosok Sayu yang sedang kaget dan serentak membelalakkan matanya melihat apa yang ada dihadapannya.
Light menengok ke arah sumber suara dan matanyapun tak kalah terbelalak dari Sayu.
Sayu melihat Light dan Misa yang sedang berciuman.
"Sa..yu?"
Light melangkah gontai ke arah tubuh kecil yang basah kuyup karna terpaan hujan dan hanya memakai piyama tipis dengan lengan yang masih mengalirkan darah anyir.
Sayu tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Betapa sakit hatinya melihat itu.
Air mata Sayu mulai turun membanjiri dengan isakan yang tak mampu ia tahan.
Light mendekat ke arah Sayu.
"Sayu.. ini bukan.."
Tangan Light yang hendak menyentuh lengan Sayu secepat kilat di tepis oleh tangan Sayu yang mengeluarkan darah.
"JANGAN SENTUH!"
Mata Light kembali membelalak.
Wajah Sayu saat itu menyiratkan kebencian yang amat sangat.
Sambil menangis terisak, Sayu memundurkan langkah kakinya yang saat itu tak memiliki alas untuk melindunginya dari jalanan beraspal.
Light diam dengan rasa menyesal yang menyerangnya bertubi-tubi.
"AKU BENCI KAK LIGHT! AKU BENCII!"
Sayu langsung berlari kembali menerpa hujan.
"SAYU!"
Light mengejar Sayu dengan menghiraukan hujan lebat yang terus mengguyurnya.
Dia merasa betapa bajingannya dirinya saat ini.
Ia seperti menorehkan janji palsu pada wanita yang sangat sangat dia cintai sampai rela membuatnya mati demi wanita itu.
Akhirnya tangan Light menggapai tangan Sayu.
"LEPASKAN! AKU TIDAK MAU LAGI! AKU TIDAK MAU LAGI BERHARAP!"
Sayu melampiaskan semua kekesalannya dengan memukul-mukul dada bidang Light.
Light hanya diam dengan raut muka yang menunjukkan penyesalannya.
"Sayu.."
"KENAPA? KENAPA? KENAPA HANYA AKU YANG MENCINTAIMU?"
"Sayu.."
"KENAPA AKU HARUS MERASAKAN INI?"
"Sayu.."
"KENAPA AKU HARUS JATUH CINTA PADAMU?"
Light tak kuasa lagi menahan penyesalannya. Direngkuhnya tubuh rapuh Sayu erat-erat ditengah hujan itu.
Sayu memberontak.
"LEPASKAN AKU! KAU JIJIKKAN PADA PERASAANKU? KAU PASTI JIJIK!"
"SAYU! AKU MENCINTAIMU!"
"BOHONG! SEMUANYA BOHONG! AKU MOHON JANGAN MEMBERIKU KEDUSTAAN!"
Sayu berhasil mendorong tubuh Light menjauh.
Light dapat melihat wajah Sayu yang menangis terisak dengan wajahnya yang memerah.
Air matanya sudah menyatu dengan hujan.
"Aku mohon Sayu.. percayalah padaku.. Aku benar-benar.."
Saat itu, Light melihat tubuh Sayu yang oleng dan jatuh ke tanah.
"SAYU!"
Light langsung melindungi kepala Sayu sebelum kepalanya jatuh membentur permukaan.
"Sayu.."
Lirih Light sambil meneteskan air mata yang tak pernah ia keluarkan dari saat umurnya 10 tahun.
"Kakak, apa artinya aku bagimu?"
"Aku tidak mau.. hanya sekedar adik."
"Aku sangat mencintaimu kakak."
"Aku menjadi gila, karna perasaan ini selalu mengikutiku."
"Aku mohon, jangan membuatku membuang harapan.."
"Aku mohon, Cintailah aku.."
-TBC-
Dikit ya?
Kayaknya engga deh,
el sudah nulis lebih dari 3 jam kok.. =3=
dengan sepenuh hati jiwa dan raga (lebay)
Oh iya, oh iya! kayaknya di chapter depan nanti adalah...
THE LAST CHAPTER~ XD *terus?*
jadi sabar saja menunggu chapter depan ya~ :3
Nah, sekarang saatnya untuk...
REVIEEEW~ X3
