Tamaaaat! Tamaaaat! *tereak-tereak keliling kampung pake toa(?) -plak-*
hiiks! akhirnya.. Fict-ku ada yang tamat juga~ X'D
sekarang hayo kita balas ripyu~
Laurellia:
Waa.. Saya bersyukur ternyata banyak penggemar incest disini! XD
Ternyata saya banyak banget yang salahnya ya.. D'x
Koreksi-Koreksimu itu benar-benar suangat berguna Laurell(?) *boleh panggil gitu?*
Saya panggil Laurell-sensei ajalah.. Benar-benar teliti sekali ya kau ini.. TTwTT kapan el bisa seteliti itu?
Maaf ya, el ga bisa bls riview lama-lama,
Untuk komentarnya, Makasih banyaaak X3
Iya, kan saya cewek, jadinya ga ngerti gimana caranya nunjukkin perasaannya Light..
okee, makasih banyak ya Laurell (maaf blsnya sedikit nih..)
Aku juga minta tolong kalau ada kesempatan, silahkan koreksi lagi Fict saya ini~ *memelas*
salam kenal Laurell :D
Namikaze-Tania-Chan:
waa.. terima kasih Tania,
nah.. untuk bikin penasarannya hilang,
silahkan nikmati chap. ini~ :3
Putri Luna:
Aih.. aih.. Luna, kau menebarkan virus 'aih' 'aih' (?) padaku ya?
aih, aih, jadi nya aku.. aih, aih.. *keterusan*
mau lia kahirnya?
silahkan baca chap ini Luna~ aih, aih..
silakan nikmati.. aih.. aih..(?)
Kuran Heroine:
waa.. Ada Yuuki! XD
Terima kasih Yuki sudah berkenan mereview fict ini.. :'D *hand shake*
Silahkan nikmati chap. ini Yuki~ :3
Yoosh!
mari kita langsung mulai..
Cari tempat yang nyaman dan aman,
And.. Happy Reading~ :D
WARNING: AU, OOC, GAJETTE(?) INCEST!
DISCLAIMER: Takeshi Obata and Tsugumi Ohba
PAIRING: SAYUXLIGHT
RATED: T
Just click the review button if you like, and click 'back' if you dislike!
Chapter 4: I wish this Love, will be the Last Love.
Menyesal.
Itulah satu-satunya kata yang mewakili perasaan Light sekarang.
Kini tubuh pria berwajah stoic itu hanya diam dengan mata kosong menatap lantai-lantai putih yang dapat memantulkan wajah datarnya.
Pikirannya mengulang kembali kejadian beberapa jam yang lalu.
FLASH BACK! Light POV
"AKU MENCINTAIMU SAYU!"
Kataku sambil berteriak melawan suara hujan yang jatuh ke Bumi dengan derasnya.
"BOHONG! SEMUANYA BOHONG! AKU MOHON JANGAN MEMBERIKU KEDUSTAAN!"
Aku tersentak mendengar kata-katanya.
Aku baru sadar bahwa sikapku padanya selama ini terlalu mementingkan anggapan orang lain, tak berfikir bahwa akhirnya aku menyakiti tubuh rapuh yang kini ada pada dekapanku.
Kurasakan tubuh kecilnya yang mendorong tubuhku menjauh.
Hatiku mencelos saat kulihat dirinya menangis dengan air mata yang sudah bersatu dengan hujan.
Wajahnya yang memerah akibat tangisannya.
Dia menangis karna kesalahanku, karna aku tidak pernah memikirkan perasannya. Ini semua salahku! Salahku!.
"Aku mohon Sayu.. Percayalah padaku.. Aku benar-benar.."
Saat itu aku melihat tubuh kecil itu mulai tumbang hendak menyentuh permukaan tanah yang basah oleh terpaan hujan dan kasar oleh aspal.
Cepat-cepat aku berlari kearahnya dan melindungi kepalanya agar tidak terbentur oleh lapisan tanah yang ditutupi oleh aspal.
"SAYU!" Aku terus meneriaki namanya, namun ia sudah tak mungkin menjawabku. Kurasakan badannya yang sangat dingin, membuatku merasakan penyesalan yang tak dapat kuungkapkan lagi seberapa besarnya.
"Sayu..," dengan lirih kusebut namanya dan kurengkuh tubuh kecilnya.
Aku menggendongnya dan bergegas membawanya kerumah L, walaupun hujan masih tetap mengguyur tubuhku. Aku tidak peduli. Walaupun tubuhku jatuh sakit hingga membuatku tak dapat lagi melanjutkan hidup, asalkan rasa bersalahku terhadap Sayu dapat tersampaikan, aku dengan senang hati mati didepannya.
-xxx-
Kini aku sudah ada didepan rumah L.
Dengan kedua tanganku yang menggendong Sayu, aku tidak bisa memencet bel rumah L, jadi kugunakan kakiku untuk menendang keras pintu rumahnya.
'DOK' 'DOK' " L! KAU DIDALAM?" Aku sedikit berteriak menyaingi suara terpaan hujan.
Sudah kutunggu beberapa lama, namun tak ada jawaban.
Kusiapkan kakiku untuk menendang lebih keras pintu itu, namun..
"Kau ingin menghancurkan rumahku ya, Light-kun?"
Aku menengok kea rah sumber suara yang familiar bagiku.
"L?" kulihat tubuh pucatnya yang sama basahnya dengan tubuhku dan Sayu. Dengan gaya jalannya yang bungkuk, dia berjalan kea rah pintu dan membuka pintu rumahnya dengan kunci yang baru saja ia keluarkan dari kantung celana jeans-nya.
"Ayo cepat masuk, Light-kun." Kulihat tatapan mata L yang dingin ke arahku, dan sesaat ia melirik pada wajah Sayu yang pucat dan dingin dengan tatapan khawatir.
Aku tau, itu adalah tatapan mata yang hanya ditunjukkan untuk Sayu. Sedangkan aku, aku pantas untuk disalahkan. Karna aku yang membuat Sayu menjadi menderita dan akhirnya jatuh sakit seperti ini.
Aku berjalan mengikuti L yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumahnya. Aku merasakan dingin disekujur tubuh. Namun, saat melihat wajah Sayu yang diam dan pucat, rasa bersalahku timbul kembali mengalahkan setiap indra perasa milikku.
"Light-kun, tolong kau baringkan Sayu di kamar pasien." Tanpa bantahan, aku menuruti kata-kata L dan langsung membawa Sayu ke kamar paling pojok dekat dengan lorong yang dulunya adalah kamar pasien.
Untungnya pintu kamar itu telah terbuka, jadi tanpa susah payah aku bisa menggendong Sayu tanpa menurunkannya terlebih dahulu.
Aku merebahkan tubuh rapuh itu ditempat tidur berukuran King Size dan menaruh kepalanya dengan hati-hati.
Aku mulai melepas bajunya yang basah kuyup karna hujan.
Kubuka satu persatu kancing piyama yang ia kenakan, dan kutarik pelan untuk melepaskan benda itu sampai meninggalkan tubuh si pemakai.
Kulihat tubuhnya yang putih tanpa cacat sedikit-pun, dan tubuhnya yang entah sejak kapan mulai bertambah kurus, hingga membangkitkan perasaanku sebagai kakak yang tidak bisa merawat adiknya sendiri dengan baik. Dan sebagai lelaki, aku tidak bisa merawat hati wanita yang aku cintai dengan terus membiarkannya menahan sendiri pedih yang disebabkan olehku yang terus melarikan diri karna perasaan terlarang ini.
Aku memang kakak sekaligus laki-laki yang tak layak bersanding denganmu Sayu. Aku telah menyebabkanmu menjadi seperti ini.
Kugenggam erat tangan Sayu dengan kedua tanganku. Kuciumi punggung tangannya yang dingin.
Kutempelkan wajahku pada punggung tangannya, berharap bisa menghangatkan tangannya yang membeku.
Sayu yang tampak cantik dengan hanya terbalut pakaian dalam, membuatku merasakan bahwa tak pantas bila diriku memilikki wanita sesempurna ini.
Kuselimuti tubuhnya dengan selimut, dan kukecup keningnya.
Tak beberapa lama kemudian, L datang dengan mengetuk pintu kamar yang ditempati Sayu.
"Light-kun, bisa aku pinjam Sayu sebentar?"
Aku bangkit dari tempatku duduk dan berjalan kearah L.
"Tentu."
Kataku lirih namun masih disuguhi dengan senyuman yang kupaksakan.
L hanya menatapku datar.
"Lebih baik Light-kun mandi saja dulu, keringkan tubuhmu, kau bisa sakit kalau terus mendiamkan tubuhmu yang sudah kedinginan itu."
Aku tersenyum sesaat.
"Ya. Baiklah,"
Aku-pun pergi meninggalkan kamar itu dan langsung menuju ke kamar mandi yang terletak di pojok ruangan.
Tetes-tetes air yang jatuh setiap kuberjalan, adalah sisa hujan yang tadi mengguyurku dengan tak kenal ampun.
-xxx-
Kini aku sudah membersihkan tubuhku dari benih-benih air yang mengguyurku.
Aku menunggu L yang kini sedang memeriksa Sayu didalam kamar.
Aku hanya duduk diam sambil menatap lantai-lantai yang dapat memantulkan kembali wajahku yang pasti saat ini penuh dengan penyesalan.
End Of FLASH BACK AND LIGHT POV
'kreek'
Suara decitan pintu yang terbuka membangunkan Light dari lamunannya.
Segera ia menengok dan berdiri kearah sumber suara.
"Bagaimana keadaan Sayu, L?"
Dilihatnya wajah L yang tanpa ekspresi mendekat ke arahnya berdiri.
"Kita bicarakan di ruang tamu saja ya, Light-kun." L berjalan setelah menepuk punggung Light.
Light menghela nafas pendek. Ia melihat kebalik pintu sejenak, melihat Sayu yang belum tersadar dari tidurnya.
Lalu kembali menampakkan wajahnya yang penuh penyesalan.
Light berbalik dan mengikuti langkah L.
-xxx-
"Sepertinya hujan sudah berhenti."
Kata L sambil menyodorkan secangkir teh kepada Light.
"Hn," Light hanya menjawab singkat lalu menyeruput teh-nya.
Diluar titik-titik hujan sudah mulai berhenti dan keadaan di atas sana sudah mulai menampakkan cerahnya di sore hari ini.
"Mengenai Sayu.."
Ucap L, "Dia mengidap penyakit Anemia Aplastik." Sambung L yang membuat Light tersentak.
"Hah? Bagaimana bisa? Sayu kan tidak memakai obat-oabat yang.."
"Sayu memakainya."
Jawab L memutus perkataan Light.
"Dia sering datang ke rumahku dan tanpa sepengetahuanku dia meminum obat-obat berdosis tinggi yang menurutnya dapat menenangkan fikirannya."
"Kenapa?"
Tanya Light dengan wajah yang kalut. L hanya melirik sekilas ke arah Light dan langsung memalingkan kembali pandangannya ke arah jendela yang kini ia buka penutupnya (hordennya)
untuk mempersilahkan sinar senja masuk.
"Karna ia frustasi."
Jawaban dari L membuat Light sedikit mencelos.
L kembali menatap wajah Light dengan bola matanya yang hitam kelam.
"Aku memang benar-benar brengsek ya."
Light tersenyum pahit sambil mengepal kedua tangannya hingga kuku-kukunya menekan kencang kulitnya yang meneriaki rasa sakit. Namun rasa sakit itu diacuhkannya.
Baginya, yang paling merasa sakit adalah hatinya yang kini memendam penyesalan yang terdalam.
"Ini semua bukan salahmu seutuhnya Light-kun. Kalau aku ada diposisimu sekarang, pasti aku juga akan bersikap sama sepertimu."
L melangkah kearah Light yang kini terduduk lesu dengan kedua tangan yang menopang wajahnya di dahi.
"Kalian memendam cinta yang seharusnya tidak kalian rasakan. Tapi perasaan egois Sayu lebih besar dibanding dirimu yang masih mau memikirkan status keluarga di antara kalian berdua."
Light hanya diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Tapi kalau Light-kun sendiri merasa tersiksa jika terus memendamnya, lebih baik Light-kun memilih jalan yang bisa membuatmu bahagia."
Ujar L, "Yaitu mencintai Sayu walaupun menentang dunia."
-xxx-
Di kediaman Yagami, seorang wanita dengan rambut blonde-nya berjalan kesana kemari dengan resahnya.
"Aduh, bagaimana ini? Misa telah berbuat jahat. Misa tidak bermaksud sampai membuat keadaannya menjadi seperti ini."
Kembali Misa berjalan mondar-mandir kesana dan kemari.
Tiba-tiba pintu rumah Yagami terbuka. Menampakkan sesosok suami-istri yang merupakan ayah dan ibu Light/Sayu.
"Lho? Amane-san?" tanya Sachiko Yagami ibu Light.
"A-aah! Maaf mengganggu, Misa disini menunggu Light-kun." Jawab Misa dengan senyuman manis yang menjadi harga jualnya.
"waah, bukankah gadis ini seorang artis idola?" tanya Soichiro Yagami pada istrinya.
"Ya, Amane-san ini adalah pacar Light lho yah."
"Benarkah?"
Misa cepat-cepat mengangguk.
"Eh? I-iya! Misa kekasih Light-kun. Maaf terlambat memperkenalkan diri, saya Misa Amane."
Misa membungkukkan badannya 90 derajat.
"Lalu kemana Light?"
Misa mulai bingung menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari mulut Sachiko a.k.a Ibu Light.
"Tadi.. emm.. Light-kun sedang.."
Baru saja Misa ingin membuat alasan, suara orang yang familiar di telinga Misa terdengar dari ambang pintu.
"Ayah? Ibu?"
Light memasang raut wajah yang kaget saat mendapati ayah dan juga ibunya telah pulang dari menginap dirumah pamannya.
"Light? kau sudah pulang ternyata. Kemana Sayu? biasanya dia sudah pulang sekolahkan jam segini?"
Tanya ayah Light sambil menaruh mantelnya di tempat penyimpanan mantel.
Light menunjukkan raut wajah yang susah untuk dijelaskan.
Misa yang melihatnya menghampiri Light.
"Light-kun, ada apa?"
Light menatap dingin ke arah Misa. Misa tersentak dengan tatapan Light yang seolah-olah menyalahkannya.
"Ayah, Ibu, aku ingin menjelaskan sesuatu."
-xxx-
'PLAK'
Suara tamparan keras terdengar menggema sampai ke ujung ruangan.
Misa saja yang berada di luar ruangan, bisa mendengarnya. Hingga hatinya sedikit cemas.
"APA MAKSUDMU LIGHT?"
Tak disangka-sangka, seorang Soichiro Yagami seorang Kepala Pusat Penyelidikan Kepolisian Jepang yang terkenal sangat menyayangi kedua anaknya dan selalu membanggakan kedua anaknya menampar keras pipi kanan Light hingga meninggalkan bekas merah samar.
Light memegang pipinya yang memerah, tanpa merasakan sakit dibagian yang terkena tamparan.
Baginya lebih sakit bila dia terus memendam perasaannya terhadap Sayu.
"Sudah kukatakan tadi, aku dan Sayu saling mencintai. Aku mohon, izinkan aku menjalani hubungan dengan Sayu."
Light dengan wajahnya yang serius menatap wajah ayahnya yang sudah dirasuki setan amarah.
Sachiko ibunya, hanya bisa membelalakkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"KAU TIDAK SADAR DENGAN APA YANG KAU KATAKAN LIGHT? KALIAN INI.."
"Aku tahu ayah! Aku tahu ini salah! Aku tahu bahwa kami ini adik-kakak!"
Potong Light lirih dengan setiap penekanan di semua kata-katanya. Dia hanya bisa menunduk pilu dan mengepal tangannya.
"Kumohon, aku benar-benar mencintai Sayu! Restuilah kami berdua."
Light memohon kepada ayahnya. Baru pertama kali seorang Light Yagami membungkuk memohon kepada orang lain.
Hanya demi Sayu, apapun akan ia lakukan.
"Light, kau ini anak ayah.. Dan Sayu juga.. anak ayah.. Tapi kalian.."
Soichiro mulai melemah karna tak tega melihat Light yang kini berlutut dihadapannya dan meninggalkan setetes benih air mata yang cepat-cepat dihapus oleh Light.
"Sekarang, dimana Sayu?"
Tanya Sachiko yang mulai berbicara sambil menghapus air matanya yang meleleh di lekuk wajahnya.
Light langsung terdiam sejenak. Bingung harus bagaimana ia menjelaskannya.
"Sayu.. Sekarang Sayu berada di rumah L, dia kehilangan kesadaran dan belum sadar sampai sekarang."
Kedua orang tua Light-pun terkejut saat mendengar jawabannya.
"Sa-Sayu kenapa? Ada apa dengannya Light?"
Sachiko langsung memegang kedua bahu Light dan mengguncangnya pelan. Terpancar kekhawatiran dalam raut wajah Sachiko.
"Sayu terkena Anemia akut. Sekarang L sedang mengobatinya."
Jawab Light dengan wajahnya yang kembali menyiratkan penyesalan.
"Ayo kita segera kesana."
Tanpa aba-aba Soichiro langsung bangkit berdiri.
"Tunggu Ayah, bagaimana dengan masalah ini?"
Tanya Sachiko panik. Light hanya diam terduduk, dan menghela nafas pendek.
"Lebih baik sekarang kita lihat keadaan Sayu terlebih dahulu."
Akhirnya mereka bertiga keluar dari ruangan itu.
"Light-kun?"
Tanya Misa cemas melihat Light yang berjalan lesu dengan wajahnya yang beraut sesal.
Tiba-tiba mata hezle Light menatap dengan lembut mata oral green milik Misa.
"Aku tidak apa-apa Misa, sekarang lebih baik kau pulang." Light mengusap lembut rambut Misa.
Misa tidak percaya dengan kelakuan Light barusan.
Baru pertama kali pria stoic itu bersikap lembut padanya. Sungguh itu membuat Misa menjadi bahagia. Walau ia tahu, sebentar lagi ia harus melepaskan cintanya pada Light.
Karna hati Light hanya akan dia berikan pada Sayu. Dan sekarang Misa sudah menyerah untuk bisa mendapatkan hati Light. Baginya kebahagiaan Light lebih penting dari segalanya.
"Light-kun, Misa ingin ikut menjenguk Sayu-chan, boleh kan?"
Tanya Misa dengan mata penuh harap.
Light sedikit mengernyit dan lalu mengangguk pertanda setuju.
"Terima kasih Light-kun."
"Hn."
-xxx-
Mereka kini sampai di rumah L.
Sachiko memencet bel dengan tidak sabarnya.
"Ryuzaki-san , kau didalam?"
Tanya Soichiro dengan oktaf yang agak tinggi karna sudah tak sabar ingin melihat keadaan Sayu.
Tak lama kemudia, pintu terbuka dan menampakkan L yang sedang mengunyah sepotong cake ukura besar hingga memebuhi mulutnya.
"Hehhahat ha.." (Translate: Selamat da..)
"Bagaimana keadaan Sayu?" "Apa dia baik-baik saja?" "Dimana dia sekarang?"
Belum sempat L menjawab, dia sudah dihujani lagi pertanyaan-pertanyaan dari kedua orang tua kakak-adik yang mempunyai cinta terlarang ini.
Tanpa basa-basi Soichiro dan Sachiko langsung masuk kedalam rumah L tanpa mempedulikan yang punya rumah.
Light, Misa dan L hanya bisa menatap pasangan suami-istri yang kelewat panik itu dengan pandangan mengernyit.
"Selamat datang kembali Light-kun, dan kau.. Amane-san kan?"
Misa memerhatikan penampilan L dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Misa, kau tidak sopan."
Sela Light sambil melangkah masuk kedalam meninggalkan kedua orang itu.
Misa masih memperhatikan dengan kernyitan didahinya gaya busana L yang hanya memakai baju putih berlengan panjang dan celana jeans berwarna biru.
"Ada yang salah dengan saya, Amane-san?" Tanya L dengan wajah datarnya.
"Ah! tidak! maaf.. Misa tidak sopan, umm.."
"Panggil saya L, " jawab L setelah tau bahwa Misa ingin memanggil namanya.
"He? Apa L nama panjangmu?" Tanya Misa dengan memiringkan kepalanya.
"Bukan, nama panjang saya sedikit saya rahasiakan. Tapi kalau Amane-san mau, Amane-san bisa memanggilku dengan sebutan 'Ryuzaki'. Biasanya saya memakai nama itu di Jepang."
Jelas L pada Misa sambil menguyah satu buah gula batu.
"Baiklah! Misa akan panggil Ryuzaki-san!"
"Ryuzaki saja."
Timpal L.
"Ah! Baiklah, Ryuzaki."
L langsung berbalik membelakangi Misa.
"Ayo masuk."
Ajak L pada Misa. Misa lalu mengikuti L dari belakang.
'Sepertinya Ryuzaki itu orang yang baik' batin Misa dengan wajahnya yang entah mengapa sedikit merona.
-xxx-
"Sayu.. bagunlah.."
Sachiko menggenggam tangan Sayu yang dingin dengan erat.
"Kenapa bisa begini Light?"
Tanya Soichiro penuh penuntutan, hingga membuat Light kembali merasa bersalah.
"Ini.. salahku,"
ucap Light lirih.
"Aku yang menyebabkan Sayu jadi seperti ini."
Light menatap penuh tanggung jawab ke wajah ayahnya.
"Kau.. Kau apakan Sayu?"
Suara Soichiro naik dua oktaf lebih tinggi dan tangannya siap menampar kembali wajah Light. Light sudah siap memejamkan matanya menerima pukulan ayahnya.
Namun suara kecil dan lembut menghentikan gerak tangannya.
"Ayah.. jangan.. Ayah.."
Sayu terbangun dari tidurnya.
Serentak Ayah dan juga Ibunya menghampiri Sayu yang kini nafasnya masih tersengal-sengal dan mengepul panas.
"Sayu! Sayu kau tidak apa-apa, nak?" Tanya Sachiko dengan penuh kekhawatiran.
"Sayu! Ada apa denganmu? Kenapa kau bisa jadi seperti ini?" Kini giliran Soichiro yang bertanya.
Sayu diam sejenak dan melirik kesekelilingnya seperti mencari seseorang.
Tentu saja Light yang dicarinya. Namun, Light begitu takut Sayu akan membencinya saat melihat wajah Light.
Jadi dia memilih untuk keluar dari kamar tersebut.
"Aku.. tidak apa-apa, Ayah.. Ibu.."
Jawab Sayu dengan nada lemah sambil mempersunggingkan senyumannya.
"Maaf Yagami-san, bolehkah aku memeriksa keadaan Sayu sebentar?" L datang dengan membawa peralatannya.
"Y-Ya. Tentu saja Ryuzaki-san." Jawab Sachiko.
Mereka berdua keluar dari kamar Sayu sesudah mencium kening Sayu.
"Bagaimana keadaanmu Sayu? Kau merasakan sakit?"
Tanya L sambil menensi darah Sayu.
"Tidak, hanya badanku lemas dan berat untuk digerakkan." Sayu sedikit mengengkat tangannya dan mengerjap-ngerjapkannya.
"Hn, aku mengerti."
Setelah beberapa hening, Sayu mulai bertanya.
"Umm.. Kemana.. Kakak?"
Tanyanya tanpa melihat wajah L.
L melirik sedikit wajah Sayu yang memalingkan wajahnya dari L.
"Light-kun ada didepan dengan Amane-san."
'deg'
Sekali lagi Sayu merasa hatinya tersayat.
Lagi-lagi rasa cemburu menggerayanginya.
"oh.."
L melihat ekspresi Sayu yang mulai bersedih.
"Baiklah, aku sudah selesai. Kalau ada apa-apa, panggil aku ya."
L menyunggingkan senyumannya. Senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan ke orang lain.
"Ya,"
Sayu membalasnya dengan senyuman yang lembut.
Beberapa menit setelah L keluar, Misa masuk kedalam kamar Sayu.
"Sayu-chan!" Misa mengembangkan senyumannya. Sayu sedikit terkejut melihat Misa yang datang menjenguknya.
"A-Amane-san?"
Misa duduk disamping Sayu.
Keudanya hening. Bingung ingin mengatakan apa, sampai akhirnya Misa membuka mulutnya.
"Maafkan aku Sayu-chan,"
Ucap Misa dengan kepala menunduk.
"E-eeh? untuk apa?"
"Karna aku sudah.. membuat kesalah pahaman antara Sayu-chan dan Light-kun." Misa kembali menatap Sayu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa maksudmu Amane-san?"
Sayu mengernyitkan dahinya tanda ia tak mengerti.
"Yang kau lihat tadi pagi.. itu bukan yang seperti kau lihat.. Akulah yang.. memaksa Light untuk mencium.. menciumku!"
Misa langsung menunduk sedalam-dalamnya.
Sayu terbelalak kaget mendengar pernyataan Misa.
"Light-kun tidak pernah mencintai Misa. Dia hanya mencintaimu Sayu-chan. Hingga dia rela mengatakan yang sebenarnya tentang perasaan Light-kun terhadap Sayu-chan kepada Yagami-san."
Kali ini Sayu benar-benar tersentak.
"Kak Light bilang pada Ayah dan Ibu?"
Suara Sayu naik oktaf lebih tinggi saking kagetnya.
Misa hanya mengangguk.
"Bodoh! Kakak Bodoh! Sekarang dimana dia?"
Sayu bangkit berdiri dari kasurnya, namun tubuhnya mulai oleng karna masih lemas.
"Sayu-chan!" Untung Misa segera menangkap tubuh Sayu.
"Kau masih belum sehat Sayu-chan."
"Tapi.."
"Kau ingin marah padaku?"
Suara yang familiar terdengar dari ambang pintu.
"Kak.. Kak Light?"
Misa langsung tersenyum dan bangkit dari tempat ia duduk.
"Light-kun, ucapkan apa yang ingin Light-kun ucapkan! Misa akan mendoakan kalian berdua."
Misa dengan senyuman manisnya pergi meninggalkan kedua orang itu.
Kini hening menyertai mereka.
"Maafkan aku Sayu,"
Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir Light.
Light mendekat dan duduk disamping Sayu.
"..."
Sayu hanya diam dan mengalihkan matanya dari wajah Light.
"Kau.. masih marah padaku?"
Tanya Light sambil mengehla nafas panjang.
"..."
Masih tidak ada jawaban.
"Sayu.."
"..."
Sayu masih tidak menjawab.
Samapi akhirnya jemari lentik Light menyentuh dagu Sayu, mengarahkannya menatap wajah Light.
Ternyata wajah Sayu kini sudah sangat memerah.
Light tersenyum simpul.
"Wajahmu merah lho.."
"Huh! Diam!"
Sayu memalingkan kembali wajahnya.
Light menggenggam tangan Sayu. Kali ini ia tidak memberontak.
Diciumnya punggung tangan Sayu oleh Light.
"Aku mencintaimu Sayu. Sungguh aku mencintaimu."
Dada Sayu berdebar saat kalimat itu keluar dari mulut Light.
Sayu kini menatap wajah Light yang sedang tersenyum lemmbut ke arahnya.
Membuat wajahnya kembali memerah.
"Apa jawabanmu?"
"Kak Light bodoh!"
Light mencibir ketika jawaban yang diberikan Sayu malah berupa ejekan.
"Heeh! Kok aku malah dikatai bodoh?"
Light mencubit kedua pipi Sayu.
"Tanpa kuberitahu-pun, kau pasti sudah tahu kan apa jawabanku?"
Wajah memerah Sayu saat mengatakan itu membuat Light tidak tahan untuk mencium gadis yang ada di hadapannya.
Dicumnya bibir ranum Sayu sekilas. Hingga membuat wajah Sayu merona merah panas.
"Aku sudah mendapatkan restu Ayah dan Ibu, karna itu.."
Light merogoh sakunya.
"Maukah kau menikah denganku?"
Sayu membelalakkan matanya saat benda berkilau berwujud 'emas' itu terpampang didepannya disertai dengan lamaran dari orang yang sangat ia cintai.
Tak kuasa air matanya jatuh membasahi lekuk wajahnya.
Kedua tangannya menutup wajahnya yang telah banjir oleh benih air mata.
Light tersenyum dan mengelus lembut rambut Sayu.
"Sayu?"
Light melepaskan kedua tangan Sayu yang menutupi wajahnya.
Menampakkan wajah Sayu yang banjir oleh air mata.
Tiba-tiba Sayu memeluk erat tubuh Light.
"Tentu saja mau!"
Light tersenyum puas mendengar jawaban dari Sayu.
Dan dimalam yang cerah diselimuti bintang,
akhirnya perasaan Sayu terbalas.
*o*o*o* 1 Years Later *o*o*o*
"Waaa.. Mempelai pria dan wanitanya keluar!" "Selamaat"
Sekarang adalah hari bahagia bagi kedua orang manusia yang telah menapaki cinta yang penuh pertentangan.
Sayu dan Light akhirnya melangsungkan pernikahan di Kota Maidstone-Inggis , dekat dengan Sungai Medway. Mereka tidak mau membuat malu orang tua mereka karna omongan orang-orang yang menentang hubungan mereka.
"Sayu! Lempar bunganya!"
Panggil Ledner seorang teman Sayu, yang baru ia kenal di kota Maidstone ini.
Sayu dengan gaun pernikahan yang sera putih, dan dihiasi dengan mawar-mawar putih dan rambutnya yang bergelombang seperti putri dongeng yang dapat meluluhkan setiap laki-laki yang melihatnya.
Light-pun tak kalah menarik perhatian. Dia yang memakai jass putih dengan dihiasi mawar-mawar putih dan wajahnya yang tak bisa diragukan lagi ketampanannya dan kharismanya yang membuat semua wanita yang melihatnya iri kepada Sayu karna dapat bersanding dengan makhluk yang begitu indah untuk dipandang.
Sayu melempar rangkaian bunga Cytrus ke arah para wanita yang berebut ingin mendapatkannya.
Akhirnya yang mendapatkan bunga itu adalah..
"Misa dapat!"
Semua wanita bertepuk tangan.
"Siapa yang ingin kau ajak menikah Misa?" Tanya Matsuda teman Light.
"umm~ Misa ingin menikah dengan Ryuzaki!" Misa langsung memeluk tangan L.
L hanya membelalakkan matanya yang bercelak hitam itu.
Sayu dan Light yang melihatnya di kendaraan tertawa kecil.
"Sayu, aku akan membahagiakanmu."
Light menatap wajah Sayu lembut.
"Aku juga.. Light"
Dan ciuman lembut dari mereka berdua, adalah awal baru dimana adanya dua orang manusia yang memulai cinta dari hubungan yang tak mesti adanya.
~OWARI~
Akhirnya~ Akhirnya~ ukh~ ukh~ ukh~ -geplaked- TTwTT
Maafkan saya, ya.. kalau endingnya kurang.. ya.. kurang memuaskan.. = =a
Abis.. Puegelnya minta ampun nulis ini Fict! =.='' *ga boleh ngeluh*
Tapi.. rasanya satu beban hilang sudah~ :d
Rencananya, Nanti el mau bikin lagi Fict di fandom DN tentunya, dan ceritanya merupakan lanjutan dari Fict ini.. :D
Pairingnya adalah... Near x Kira! XD
Near itu anak dari Light sama Sayu yang cacat. (tentu saja, karna perkawinan sedarah).
Dan Kira anak dari Wammy House yang nantinya akan membuat Near mengenal kehidupan di luar sana,
Nah.. selanjutnya.. nanti baca sendiri pas el buat Fict nya ya~ XD *padahal ga ada yang tertarik.*
Nah, sampai disini dulu perjumpaan kita~
Jangan merindukan EL ya~ *gebuked* *ga ada yang merindukan orang mesum macam kau*
Yok..
Untuk menutup Fict ini,
Saya ucapkan terimakasih sedalam-dalamnya bagi para Redears dan Reviewers *bungkuk dalam-dalam*
Terima kasih semuanya~
Sampai Berjumpa Lagi~
Selamat Tinggal~
Adios~
Abang kenek: "Neng, bisnya udah mau berangjat neng!"
el: Iye bang!
Dadaaa!
EH! lupa!
JANGAN LUPA REVIEW KAWAN-KAWAN!
INGAT!
REVIEW!
Kata terakhir dari saya,
REEEEVIIEEEW!
(^o^)/
