Chapter 2: First Attempt to Make It Clear

Rate : T

Disclaimer: saya pinjem tanpa ijin karakternya mas Tite Kubo dan menyalahgunakan mereka. Ha.

Pairing: IchiRuki

Warning: OOC, (makin) tidak terasa romansanya, jayus, jelek, alur terasa dipercepat dan akhirnya dialog lebih banyak daripada deskripsi. Maaf ya, kepala saya rasanya berat setelah dibantai soal-soal UTS yang sudah berlalu -_-

A/N: ternyata pada ga suka kalau dibikin AU ya? O_O *ndesa*. Betewe terima kasih ya buat semua yang udah review, saya jadi antusias ngerjain UTS Kimia loh! XDD #abaikan. Dan saya minta maaf saya banyak memotong scene karena saya susah mendiskripsikan prosesnya QAQ.


"Ichigo! Nee-san! Akhirnya kalian kembali juga...kalian memang tega meninggalkanku sendirian dengan makhluk itu...!" suara ceria Kon membahana seisi ruangan. Ichigo melengos kesal.

"Siapa yang kau bilang makhluk, pyon~?" tanya gigainya Rukia dengan senyumnya yang dikenal sebagai senyuman yang hanya dimiliki pedofil yang gemar membunuh. Kon hanya menjerit pasrah.

"Si-siapa mereka, Kurosaki? D-dan...kenapa bisa ada aku dan kamu di sana, padahal jelas-jelas kita sedang berdiri di sini?" tanya Rukia merasa ketakutan. Tatapannya ke arah 2 wujud yang baru saja disinggungnya jelas-jelas menunjukkan ketakutan. Ichigo kembali menyimpulkan sekarang Rukia pengikut aliran 'begitu kamu melihat dirimu yang satunya muncul di hadapanmu, maka kamu akan mati'. Syukurlah suara Rukia setengah berbisik; sehingga Kon tidak menyadari pertanyaan mencurigakan dari Rukia dan Ichigo mempunyai beberapa waktu untuk menyelesaikan masalahnya dengan Kon.

"...bisa kau keluar kamar sebentar, Rukia? Semuanya akan segera kubereskan dalam waktu singkat." Ichigo memaksakan tersenyum. Rukia mengerenyitkan alisnya; menunjukkan bahwa dia langsung tahu bahwa Ichigo tidak cocok untuk tersenyum seperti itu. Tapi karena Rukia pengikut aliran 'bertemu-kembaranmu-dan-kau-mati', akhirnya Rukia melangkah gontai ke luar dan menutup pintu kamar.

"Ichigo! Kenapa Nee-san barusan keluar—!" sebelum Kon melanjutkan kalimatnya perutnya sudah disodok oleh Ichigo; membuat bulatan hijau-yang-penuh-dengan-air-ludah meluncur dengan indahnya dari mulut badan Ichigo yang asli. Bagus, sekarang satu masalah sudah diselesaikan. Sekarang masalah utama tidak akan selesai dengan hanya sekali sodok. Ichigo menatap pasrah ke arah gigainya Rukia yang terkejut dengan apa yang barusan Ichigo lakukan. Mendadak Ichigo mendengar latar musik pertarungan duel antar dua koboi.

Tapi suasana bisa dibilang sangat mendukung. Gigainya Rukia memasang kuda-kuda bagaikan banteng yang hendak menyeruduk matadornya, ditambah dengan dengusan nafas yang kasar. Ichigo bersumpah itu adalah pose terburuk yang dimiliki oleh Rukia. Tapi karena perannya sebagai matador dan gigainya Rukia berulah seperti banteng liar, dengan berdiri tegak dia tersenyum menantang pada gigainya Rukia.

"Siap?"

"Tentu saja, pyon~"

Rukia berjalan gelisah di depan pintu kamar. Sebenarnya apa sih yang sedang Kurosaki lakukan di kamar? Mungkin kedua makhluk yang mirip denganku dan Kurosaki itu hanya halusinasiku; walaupun tampaknya Kurosaki juga menyadari bahwa kedua makhluk itu sungguhan ada. Dan tadi dia juga bilang bahwa Kurosaki akan mengurus kedua makhluk tersebut. Bagaimana caranya? Pikiran Rukia buyar seketika ketika dia mendengar berbagai macam tubrukan, barang berjatuhan, suara jeritan kesakitan, juga yel-yel penonton (?). Sweatdrop menghiasi bagian samping kepala Rukia.

BRAK! Pintu terbuka dengan paksa dan Ichigo jatuh tengkurap tepat di depan Rukia sambil memegangi bulatan putih di tangan kanannya. Permen? Dia melihat ke wajah Ichigo, dan penampilannya sudah berantakan dan penuh luka. Tapi Ichigo tersenyum; senyum kemenangan.

"Yak Rukia, sekarang semuanya sudah dibereskan. Berhubung sekarang waktunya istirahat, segera pilihlah tempat tidur yang tersedia." Ichigo berusaha berdiri dan merapikan penampilannya. Rukia mengerjapkan matanya berkali-kali. "O ya, tadi aku mengajakmu ke kamarku untuk menyerahkan ini padamu." Ichigo menyodorkan boneka chappy.

"Wah lucunya~terima kasih! Tapi kenapa kau punya barang seperti ini?" mata Rukia bersinar sambil memeluk boneka kelinci putih itu.

"Entahlah, mungkin terbawa, hahaha." Ichigo tertawa datar.

"Kau hidup sendirian?" tanyanya kebingungan. Ichigo berasumsi mungkin saja Rukia merasa segan karena hidup satu rumah dengan cowok yang baru saja dikenalnya beberapa waktu yang lalu.

"Tidak. Keluargaku sedang berwisata dan aku memilih untuk tetap tinggal di rumah," jawab Ichigo sekenanya. "Tapi dulu kamu tinggal di sini kok."

Senyum kecil Rukia kembali muncul. "Kalau boleh tahu, dulu aku tidur di mana, ya?"

Rona muka Ichigo berubah. Mungkin terlalu cepat untuk mengatakan bahwa mereka tinggal di satu kamar (walaupun Rukia masih suka tidur di lemari) dan sudah menjalin hubungan spesial. Ichigo menghela nafas. Dia juga mendapat saran dari Hitsugaya; untuk mengembalikan ingatan Kuchiki, harus dari hal-hal yang ringan atau umum ataupun dari masa kecilnya. Ichigo sudah memanggil Renji agar segera datang ke dunia manusia untuk membantunya. "Kau bisa tidur di kamar kedua adik kembarku."

"Wah kau punya adik kembar ya? Cowok atau cewek?" tanya Rukia antusias. Ichigo merasa takjub sesaat, mungkinkah kehilangan ingatan membuat kecuekan Rukia makin menipis?

"...ya mereka berdua perempuan. Yang satu sangat pandai mengurusi rumah tangga dan yang satunya lagi tomboi," jawab Ichigo tersenyum. Dia mengisyaratkan agar Rukia mengikuti dirinya.

"Pantas saja kau tampak lebih dewasa," komentar Rukia saat mereka menuruni tangga. Ichigo tertegun sesaat. Mungkin personalita Rukia menjadi lebih ramah dan menyenangkan, walaupun Ichigo lebih suka dengan personalitanya yang dulu. Harus sabar...perlahan-lahan...tapi tetap berjalan...

~O~O~O~O~

"Kau bisa tidur di sini, jika ada hal yang kau perlukan bilang saja." Ichigo membuka pintu kamar kedua adiknya dan seisinya mulai terlihat. Terdapat 3 ranjang yang tertata rapi (memang dulu seharusnya Rukia di kamar ini; tapi dia bersikeras untuk tetap di lemari karena dia terlalu malas memindahkan harta berharganya—yang menurut Ichigo hanyalah buku sketsa, spidol, boneka chappy—dan berbagai macam perlengkapan shinigami lainnya), sebuah meja rias, dua meja belajar, satu lemari pakaian yang cukup besar, dan satu rak boneka—yang terdapat 1 boneka alien dan 1 boneka gorila—dan terakhir adalah karpet empuk yang menutupi seluruh bagian lantai.

"Terima kasih banyak, Kurosaki!" Rukia membungkukkan badannya berkali-kali.

"Bukan masalah," Ichigo hanya bisa tersenyum dan perlahan-lahan dia menutup pintu kamar dan berdiri lama di balik pintu. Pikirannya dipenuhi tentang rencana untuk mengembalikan ingatan Rukia begitu pagi menjelang. Ichigo melirik ke jam dinding. Jam enam pagi?

~O~O~O~O~

"Ya, halo. Di sini keluarga Kurosaki," kata Ichigo setengah mengantuk sambil menguap lebar. Dia kembali melirik jam dinding, ternyata dia baru 4 jam terlelap di kamar ditemani gigainya Rukia yang sudah tak bernyawa—walaupun sudah disembunyikan di balik lemari, tapi Ichigo masih bergidik ngeri.

"SELAMAT PAGIIII ICHIIIIIGOOOOOO~~~" Ichigo hampir menutup gagang teleponnya sebelum ada teriakan memohon untuk tidak memutus percakapan dahulu.

"Ada apa, Ayah?" tanyanya gusar. Dia cukup menyesal mengorbankan tidurnya yang indah hanya untuk menjawab telepon Ayahnya—yang menurutnya tidak penting untuk dijawab. Seharusnya dia abaikan saja erangan telepon tadi.

"Pagi-pagi jangan cemberut lah! Nanti nasib baik bisa hilang! Oh iya, cuaca di pantai buruk sekali! Kami terisolasi! Jadi...kira-kira perlu seminggu lagi untuk kembali ke rumah!" jelas Kurosaki Isshin dengan suara yang didramatisir. Ichigo mendadak tersenyum dan sekarang nada bicaranya berubah.

"Kalau begitu, harusnya aku minta Yuzu dan Karin untuk menjaga Ayah baik-baik," katanya santai. "Tenang saja Ayah, aku bisa jaga diri kok."

"Bagaimana dengan Rukia-chan? Sebenarnya Ayah tak suka meninggalkan kalian berdua sendirian di rumah! Kau tidak meng-grepe-grepe dia kan!" tukas Isshin dengan nada yang masih didramatisir.

"...mati saja kau." Ichigo menutup gagang teleponnya dengan kesal. Begitulah resiko kalau mempunyai Ayah yang mesum. Tapi perkataan Ayahnya barusan membuatnya merasa makin tidak enak dengan Rukia. Walaupun begitu, setidaknya dia mempunyai seminggu tanpa keluarga dan kehidupan sekolah—dan itu kesempatan bagus untuk mengembalikan ingatan Rukia tanpa munculnya gangguan.

~O~O~O~O~

"Selamat makan." Ichigo meletakkan segelas air di samping piring makan Rukia.

"Kau memasaknya sendirian?" tanya Rukia takjub.

"Tentu saja, siapa lagi di rumah ini selain kita berdua?" Ichigo menyeret kursinya dan duduk di sebelah Rukia. Rukia masih ragu-ragu untuk menyentuh makanannya. "Tenang saja, aku sudah berjanji untuk tidak berbuat macam-macam."

"Bu-bukan itu yang aku pikirkan!" tukas Rukia cepat-cepat dengan muka memerah. "Ka-kau tidak keberatan dengan kehadiranku di sini kan?"

Ichigo tersenyum kecil. "Kan aku yang mengundangmu di sini, jadi jangan sungkan." Tanpa sadar dia mengelus pipi Rukia. Yang dielus hanya merona sambil memulai kegiatan makannya.

KRIIIIIIIIIING

Lai-lagi atmosfir yang romantis baru saja dihancurkan oleh itulah-inilah, selalu saja ada alasan untuk menghilangkan efek keromantisan dari fic ini. Termasuk suara yang baru saja terdengar. Ichigo melengos dan beranjak dari kursinya. Dia memandang lama ke arah Rukia yang belum memasukkan suapan ke dalam mulut.

"Sebentar, tetaplah di sini. Ada tamu," ujar Ichigo yang langsung berjalan ke arah pintu masuk. Begitu melihat wujud sang tamu, dia langsung ingat bahwa memang dia mengundang sang tamu, sayangnya secara tidak langsung sang tamu merusak atmosfir yang sudah dibangunnya sendiri...(walaupun mendadak dan tak terencana).

"Terima kasih sudah mengundangku di sini, Ichigo! Sekarang, apa yang kau perlukan?" seru Urahara Kisuke gembira yang sekarang berdiri di depan pintu rumah. Ichigo menghela nafas.

"Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan."

"Silahkan saja~tapi kalau bertanya kenapa tidak kamu saja yang ke tokoku. Tugasku sebagai kepala toko kan tidak untuk meninggalkan toko..."

"Tapi kamu tetap saja datang, huh. Pasti kamu sudah tahu soal hollow yang menyerang Rukia kan?"

"...yang pasti menghapus memori itu hanya dampak awal. Efek utama racun itu...sebenarnya menghapus semua kekuatan shinigami. Dan selama ingatan Kuchiki belum pulih dia tidak bisa menggunakan kekuatan shinigaminya. Jadi...Byakuya Kuchiki akan benar-benar memenggal kepalamu jika dalam 3 bulan kamu tidak berhasil."

"!"

"Ada hal lain, Kurosaki?"

"Aku juga minta tolong bukakan Gerbang Senkaimon begitu Renji tiba."

"Kutunggu nanti," Urahara mengeluarkan senyum khasnya dan melangkah pergi. Ichigo melepaskan nafasnya lagi. Dia tak menyangka bebannya semakin berat.

~O~O~O~O~

"Yo, Ichigo!" seru Renji ceria, mengayunkan sebelah tangannya dengan semangat. Ichigo menanggapinya dengan muka datar.

"Kamu terlambat. Tidak ada jalan masuk untuk makhluk yang terlambat," Ichigo hampir menutup pintu rumahnya, namun sebelah kaki Renji berhasil menyelinap masuk dan menghentikan gerakan pintu.

"Bukannya kamu yang memintaku ke sini?" tanyanya masam; sebelah tangannya menarik gagang pintu dengan sekuat tenaga.

"Suka-suka tuan rumah," jawab Ichigo tak kalah masamnya; sebelah tangannya juga berusaha untuk membuat pintu itu tertutup.

"KATAKAN APA YANG TERJADI!" Renji berhasil memenangkan pertandingan memperebutkan-kuasa-pintu, namun tentu saja bukan hal tersebut yang ingin dicapai Renji. Alis palsu Renji mengerenyit, wajahnya berubah menjadi serius.

Ichigo hanya diam. Renji melipat tangannya.

"Jadi, yang kudengar itu benar?"

"...ya, dan aku sangat meminta dirimu untuk mengembalikan ingatan masa kecil Rukia dengan segera."

"Tapi, kenapa kamu harus ikut?"

"Aku khawatir jika kau meng-apa-apa-kan Rukia yang memorinya sedang tertutup. Bisa saja kau memanfaatkan kondisi tersebut, kan?"

"Dasar bodoh! Kami adalah sahabat, bukan apa-apa kok. Kalau begitu, sekarang, mana Rukia?"

"Akan segera kupanggil. Tunggu sebentar dan kami akan kembali."

~O~O~O~O~

~Sudut Pandang Ichigo~

Seperti hal yang sudah kuduga, Rukia sedikit keheranan begitu melihat sesosok makhluk yang berambut merah dan beralis palsu—yang mengklaim bahwa mereka dulu sempat bersahabat. Mungkin Rukia tidak percaya bagaimana cara mereka bertemu dan bersahabat? Dari penampilan saja sudah berbeda jauh. Bagaimana dengan kepribadian? Sikap Rukia membuat Renji terlihat makin canggung. Tampaknya Renji berusaha membiasakan diri dengan menggunakan bahasa yang formal dan terdengar sopan.

"Ehmm...ya, jadi Rukia...kita...eehhmm...dulu...adalah sahabat sejak masa kecil!" kalimat Renji tergagap-gagap; walaupun dia tidak sedang meniru orang gagap. "Da-dan aku di sini untuk mengembalikan kenangan masa kecil yang pernah kita alami!"

Entah aku merasa kata 'kenangan' jadi terasa romantis di telingaku. Tapi bagi Rukia yang tidak (ingat) mengerti apa-apa soal Renji; pasti kata barusan terdengar biasa.

"Uhm...ya...halo, Abarai." Rukia tampaknya sedang berpikir ketika dia menjabat tangan Renji. "Jadi...apa yang akan kamu lakukan untuk mengembalikan memoriku?"

Kata-kata Rukia terdengar seperti Renji adalah pelaku yang mencuri ingatan Rukia.

"Kita—bersama Ichigo Kurosaki akan mengunjungi dunia asalmu, Komunitas Roh," tanggap Renji yang sudah beranjak dari tempat duduknya. "Ayo pergi."

"Tunggu. Aku tidak pernah mendengar apa dan dimana Komunitas Roh!" ujar Rukia cepat-cepat, masih enggan meninggalkan posisinya. Aku tebak Rukia sudah pasti waspada. Tentu saja, mana mungkin ada orang yang mau pergi bersama dengan makhluk-yang-baru-saja-dikenalnya tiba-tiba mengajak pergi ke tempat yang terdengar aneh.

Renji menghela nafas. "Hei Rukia, kamu tidak tahu kamu sejenis makhluk apa? Kau berbeda dengan Ichigo Kurosaki namun setipe denganku."

"Hei! Aku juga dewa kematian!" protesku kesal. Renji membalas protesku dengan tatapan-kau-benar dan hanya tersenyum garing.

"E-eh? Berarti kamu berpakaian seperti itu karena kamu dewa kematian? Dan tadi aku sempat keheranan kenapa tadi Kurosaki juga berpakaian aneh seperti itu...dan kenapa aku tidak berpakaian seperti itu jika aku dewa kematian?" aku yakin kepala Rukia dihujani dengan berbagai macam pertanyaan; yang sekarang sudah disampaikan melalui perkataannya. Renji juga cukup terkejut dan memasang tampang-ternyata-Ichigo-belum-memberitahu-jati-diri-Rukia; tidak lupa menatap kesal terhadapku.

"Itu tugas Ichigo untuk menjelaskannya padamu, sekarang cepat ikuti aku. Dan selama perjalanan Ichigo akan menjelaskannya padamu." Renji yang kayaknya sudah nafsu untuk kembali ke Komunitas Roh segera berjalan menuju ke pintu depan sebelum dia mendengar protesku. Tapi karena itu memang salahku dan Rukia terus memandangiku—menungguku untuk menjelaskan SEMUANYA apa yang terjadi...terpaksa kujelaskan pelan-pelan.

"Jadi Rukia...kamu sebenarnya adalah dewa kematian. Saat itu kita berdua bertugas untuk membasmi hollow; atau gampangnya roh jahat. Tugas dewa kematian ada dua, yaitu mengirim roh ke Komunitas Roh dan membasmi roh jahat dengan menggunakan zanpakutou. Kemarin malam kau pasti melihatku membawa pedang super besar di punggungku kan? Itu adalah zanpakutou milikku, dan kita menggunakan zanpakutou untuk menjalankan kedua tugas tersebut. Sayangnya malam kemarin saat kita berusaha membasmi hollow-hollow tersebut, kamu diserang oleh hollow super spesial dan kamu terluka parah. Ternyata hollow tersebut...menyuntikkan racun untuk menyembunyikan ingatanmu dan kekuatan shinigamimu." Selama penjelasan aku merasa peran Rukia tergantikan olehku. Aku masih ingat saat pertama-tama Rukia memasuki kehidupanku—dan menjejaliku dengan berbagai macam pengetahuan shinigami dan sudah jelas aku tidak antusias mendengarnya. Tapi bedanya Rukia terlihat antusias walaupun hanya ditunjukkan dengan anggukan dan beberapa kata 'oh' yang diucapkan beberapa kali.

"...kamu tidak terkejut?" tanyaku keheranan.

"Tidak. Aku sudah merasa bahwa bahwa hidupku sebelumnya sangat berbeda...karena di sekitarku banyak sekali hal-hal yang berbeda. Seperti aku melihat kemarin malam, kamu berpakaian aneh tanpa seorangpun yang menyadari...dua manusia di kamarmu yang mirip sekali denganmu dan diriku...serta dewa kematian berambut merah," ujar Rukia langsung diikuti dengan gelak tawa. Aku hanya bisa tersenyum kecil.

"Oh ya. Ada hal lagi yang ingin kusampaikan. Karena kekuatan dewa kematianmu tersegel oleh racun, jadinya kau berpakaian biasa dan kemampuan bertarungmu berkurang drastis. Jadinya kamu sekarang dalam kondisi roh biasa—tidak semua orang bisa melihatmu, walaupun kamu bisa melihat mereka," lanjutku dan aku melihat raut muka Rukia. Dia masih belum menghilangkan senyum lebar yang masih terpasang di wajahnya.

"Kalau begitu, terima kasih sudah memberikan pencerahan kepadaku," senyumnya perlahan-lahan memudar. "Tadi kau bilang kemampuan bertarungku berkurang. Apa dewa kematian juga bertarung?"

"...hanya untuk bertarung melawan hollow. Kita bertarung untuk memurnikan hollow...dengan cara memusnahkannya. Dengan begitu hollow akan kembali ke bentuk semula—roh plus atau roh biasa," untuk penjelasan ini aku berhati-hati memilih kata.

"Apa kemampuan itu juga bisa melukai makhluk lain? Seperti dewa kematian lainnya dan manusia?" tanyanya mengerenyitkan alisnya.

"Iya...dan tentu saja ada hukuman tersendiri bagi dewa kematian yang lalai menggunakan kekuatannya. Hal itu akan diadili oleh Pusat 46 yang bertindak sebagai hakim untuk dewa kematian," jawabku—dan aku terkesan dengan barusan apa yang aku ucapkan. Ternyata aku bisa tahu aturan yang berlaku di Seireitei walaupun aku sudah membuat seorang dewa kematian melanggar aturan—walaupun aku juga sih.

Rukia kembali tersenyum puas dan tanpa ragu dia menarik tanganku. "Kalau begitu, apa yang kau tunggu? Aku masih penasaran dengan kehidupan dewa kematian." Dia menggandeng tanganku. Hal itu membuatku senang; apakah penjelasan barusan membuat dinding pemisah di antara kita akhirnya musnah?

"...kau pintar memilih kata-kata. Aku terkesan," bisik Rukia memalingkan mukanya. Aku hanya bisa merona merah. Sayangnya atmosfir barusan dirusak oleh dewa kematian berambut merah—yang barusan kami abaikan.

"HEI KALIAN MAU MEMBUATKU MATI LUMUTAN DI DEPAN PINTU, YA?" sahut Renji kesal sambil menghentakkan kakinya berkali-kali. Aku hanya tersenyum dan raut mukanya berubah begitu melihat Rukia menggandeng tanganku dengan semangat. Renji hanya tersenyum kecil.

"Kalau begitu, ayo jalan!" Renji membalikkan badan dan kami mulai berjalan menuju ke tokonya Urahara agar bisa tiba di Komunitas Roh melalui Gerbang Senkaimon.

~TBC~


~Balasan review untuk yang ga login~ *melambai*

ChikyuLupHJJ : Hohoho terima kasih! Saya akan berusaha...walaupun di sini ga ada unsur romantisnya sedikitpun, maaf mengecewakan T_T

MIO 'ICHIRUGIRAN' KYO GA LOG: Terima kasih! Dan maaf saya cuma bisa memuktahirkan seminggu sekali ._. *pundung di pojokan*


A/N: Beginilah hasil karya author yang tewas setelah dibantai UTS Bahasa Indonesia yang...super sulit. Sumpah sulit banget, daripada soal-soal IPA (yang juga) sulit lainnya ==" (walaupun soal IPS lain saya mengarang bebas -_-) *curhat colongan*. Entah saya harus ngapain untuk meningkatkan mutu tulis-menulis saya...baca buku? Bukan bukan buku yang biasa saya baca, tapi baca buku yang waras orz orz. Maaf banyak bacot. Maaf ya kalau mengecewakan, saya akan berusaha di chapter berikutnya bisa lebih baik :')