Chapter 3: My Childhood Days

Disclaimer: Tite Kubo yang gaje. Saya gak puas baca chapter terbaru -_- *disodok pena*

Pasangan: IchiRuki

Rating: T

Peringatan: OOC yang parah, struktur gramatikal Indonesia yang buruk, romansa yang makin menipis, dan hal-hal lain yang membuat fic ini makin jelek -_-

A/N: Terima kasih! Saya lihat udah sekitar 300 orang yang membaca fic gak jelas ini! Terima kasih banyaaakk~! X'DD


"Aku sudah menunggumu, Ichigo, Renji…dan, ah? Kuchiki?" sambut Urahara dengan ceria begitu melihat tiga tamu yang mendatangi tokonya.

"Tidak usah basa-basi, Urahara," tanggap Ichigo dingin, tangannya masih memegangi tangan Rukia. "Di mana gerbang Senkaimonnya?"

"Ah, berada di ruang bawah. Ayo ikut!" Urahara mengisyaratkan Ichigo, Renji, dan Rukia untuk mengikutinya. Ichigo cukup keheranan karena Renji tak banyak bicara setelah mereka meninggalkan rumah.

Begitu tiba di ruang bawah tanah yang merupakan lapangan latihan pertarungan yang sangatlah luas, Urahara menujuk pada satu pintu geser.

"Ufufufufu~kalian sudah sadar perbedaannya? Dulu saat kalian pertama kali ke sini hanyalah sebuah bingkai raksasa kan? Sekarang kumodifikasi menjadi mirip dengan gerbang Senkaimon yang asli!" tawa Urahara di balik kipasnya. Renji dan Ichigo hanya melengos kesal. Rukia tampaknya masih takjub dengan pemandangan di sekitarnya.

"Tapi tetap saja kan..." Ichigo belum menyelesaikan kalimatnya karena Urahara masih tertawa di balik kipasnya.

"Yap, kalian punya waktu empat menit di dalam sana. Kalau tidak, kalian akan masuk koran sebagai korban yang tertabrak kereta," jelas Urahara yang tampaknya mengucapkan kalimat tersebut tanpa beban. Renji bisa merasakan ada hiasan sewatdrop di samping kepalanya.

Urahara langsung membuka pintu dan terdapat tekanan kuat yang baru saja keluar dari balik pintu. "Siap?"

"Kapanpun siap," ucap Ichigo mantap, pegangan tangannya semakin erat. Rukia masih diam dan Renji juga sudah siap untuk berlari cepat. Ichigo, Renji, dan Rukia segera masuk ke dalam gerbang dan pintu gerbang tersebut langsung tertutup. Urahara terdiam lama memandangi pintu tersebut, diikuti dengan Tessai, Ururu, dan Jinta yang sebenarnya sudah sejak lama berada di belakang Urahara.

"Kalian membuntutiku, ya?" goda Urahara tertawa menyindir.

Tessai hanya diam, Ururu mengangguk, dengan begitu hanya Jinta yang bersuara. "Apa bisa si kepala nanas dan si rambut oranye bisa mengembalikan ingatan Kuchiki?"

Urahara kembali terdiam. "Yah, kita masih bisa berdoa kok."

~O~O~O~O~

"Ke-kenapa harus cepat, Kurosaki?" tanya Rukia panik karena pegangan Ichigo terlalu kuat, dan secara langsung memaksa Rukia untuk berlari mengimbangi kecepatannya.

"Coba melirik ke belakang, tapi jangan hentikan langkah kakimu," jawab Renji yang tampaknya juga berusaha mengimbangi kecepatan lari Ichigo. Rukia sedikit menoleh ke belakang dan matanya melebar. Kereta?

"A-apa itu?" tanya Rukia takjub.

"Akan kujelaskan setelah kita berhasil keluar dari sini. Yak, akhirnya...pintu keluar!" jawab Ichigo sekenanya dan mempercepat langkahnya. Renji akhirnya mendahului Ichigo dan berhasil keluar. Tak lama kemudian Ichigo dan Rukia berhasil mendarat dengan mulus di tanah yang berumput; disambut dengan tatapan mengejek dari Renji.

"Pendaratan yang mulus, hm?" sindirnya dengan santai; walaupun sikapnya tidak menunjukkan bahwa Renji sedang dalam sikap santai. Tangan terlipat dan telapak kaki menghentak-hentakkan tanah. Bagian mananya yang terluhat santai?

Ichigo melengos kesal. "Diamlah, jangan mengejek mentang-mentang kamu udah keluar duluan." Ichigo membantu Rukia berdiri sambil melemparkan death glare—yang bahasa gaulnya tatapan angker—ke arah Renji yang masih saja menunjukkan bahwa Renji masih menyindir Ichigo.

"Huush udah, gak usah banyak bacot! Sekarang, ayo ke Rukongai!" Renji mengisyratkan Ichigo dan Rukia untuk mengikuti dirinya—tanpa ada yang sadar bahwa Renji mulai memakai bahasa yang tidak baku. Rukia masih saja diam selama perjalanan menuju ke pusat desa distrik tujuh puluh delapan.

~O~O~O~O~

Untuk kedua kalinya Ichigo mengunjungi tempat saat Renji dan Rukia tumbuh besar sekaligus menghabiskan masa kecil mereka berdua. Tidak banyak berubah; masih sama seperti saat dia mengunjungi tempat ini bersama Kon. Bentuk desain maupun ukuran bisa dibilang sebagai ukuran super sedang—atau mau kerenan lagi boleh dibilang 'minimalis'—walaupun tetap saja keadaan sekitar kumuh dan penduduk yang meninggali kurang menjaga kebersihan dikarenakan distrik ini termasuk distrik buangan. Kasihan. Rukia termasuk roh yang sangat amat beruntung; bak tertimpa batangan emas di kepala karena dia berasal dari taraf hidup yang termasuk di bawah rata-rata, mendadak menjadi bangsawan yang sangat disegani.

Akhirnya Renji memutuskan bahwa dialah yang akan memecah keheningan selama mereka bertiga berkeliling Rukongai. "HOI! Kenapa kalian diam saja? Kita sudah lama berkeliling dan kalian belum bereaksi sedikitpun? Terutama, kamu!" Renji dengan tanda empat sudut siku-siku di samping mulutnya menunjuk ke arah Rukia yang masih tetap diam. Namun kekesalan Renji mendadak menghilang begitu melihat ekpresi Rukia yang berbeda dari biasanya.

Mata violetnya hanya menunjukkan kekosongan, eskpresi muka yang datar, dan kulitnya makin memucat karena sinar matahari mulai tertutup awan. Ichigo sempat melirik ke arah Rukia dan mengajaknya bicara, "hei Rukia, sudahkah kamu ingat sesuatu?"

Rukia hanya bisa tersenyum menyesal sembari menggelengkan kepalanya. "Belum sama sekali, tapi entah ada perasaan rindu yang muncul begitu tiba di sini. Kurosaki, aku mau minta tolong."

"Apa itu?"

"Tolong segera tinggalkan kami berdua di sini. Entah kenapa, aku merasa kehadiranmu membuatku merasa janggal untuk mengembalikan ingatanku perlahan-lahan di tempat ini."

JLEB

Ichigo bisa merasakan ada zanpakutou super tajam yang baru saja menikam tepat di jantungnya. Renji tampaknya juga terkejut; ditunjukkan dengan matanya yang melebar dan alis palsunya yang mengernyit.

"Kamu serius, Rukia?" di luar dugaan Renji mendadak memegang kedua pundak Rukia dengan erat, dengan ekpresi tidak percaya tentunya.

Rukia mengangguk lemah. "Sepertinya ingatanku tentangmu perlahan-lahan kembali, Abarai."

Ichigo yang merasa tidak nyaman akan kedekatan hubungan persahabatan Rukia dan Renji; langsung menarik tangan Rukia dan memeluknya dengan erat. Keempat mata Rukia dan Renji sama-sama melebar. Ichigo hanya bisa menggumam malu; tapi dirinya enggan untuk melepaskan pelukannya.

"Ke-kenapa, Kurosaki? Tenang saja, aku akan berhati-hati," ujar Rukia pelan dengan nada meyakinkan; tapi belum ada tanda-tanda untuk melepaskan pelukan Ichigo. Dengan berat hati Ichigo perlahan-lahan melepaskan pelukannya, kemudian mengusap kepala Rukia secara lembut.

"WOI, SIAPA SIH YANG BETAH NGELIATIN ORANG BERMESRAAN DI DEPAN MATA?" protes Renji kesal yang langsung menyingkirkan tangan Ichigo dari kepala Rukia. "Lagipula, hei Rukia. Apa maksudmu berhati-hati?"

Ichigo hanya bisa tertawa kecil, diikuti dengan tawa Rukia.

"Kalian tega." Renji kembali melipat tangannya sambil manyun.

"Baiklah, aku akan pergi. Renji, jaga Rukia baik-baik." Ichigo menghela nafas dan memasang tampang serius ke arah Renji.

Renji hanya tersenyum lebar. "Jangan khawatir, Ichigo. Aku harus berapa kali bilang kalau kita hanya sahabat?"

Ichigo hanya terdiam dan membalikkan badannya; mulai berjalan menjauhi dua sosok roh yang berdiri berdampingan. Mendadak Renji menjadi gugup karena untuk pertama kalinya dia berdiri berdua(an) dengan Rukia—yang kondisinya masih hilang ingatan. Renji mengumpulkan keberaniannya dan mulai bersikap ramah. "Sekarang, sudahkah kamu ingat akan sesuatu, hm?"

Mata violet Rukia kembali meredup. "Entahlah, Abarai. Berhubung karena kamu penduduk asli di sini yang tidak kehilangan ingatan...bagaimana kalau kamu membawaku ke tempat saat kita pertama kali bertemu?"

Sekilas untuk orang awam permintaan Rukia terdengar wajar; karena mempunyai tujuan untuk mengembalikan ingatan yang tersembunyi. Tapi bagi Renji itu cukup spesial, karena...saat pertama kali bertemu bukannya dia takjub seperti (mantan plus almarhum) teman-teman masa kecilnya, tetapi terpesona. Hati Renji kembali berdegup kencang dan wajahnya menjadi memerah. Melihat tingkah Renji yang serba salah, Rukia kembali angkat bicara.

"Hei Abarai, apa kau mendengarkan?"

Renji terpaksa tertawa garing untuk menutupi perasaannya yang sedang dikacaukan oleh berbagai spekulasi yang mulai memenuhi kepalanya. "HAHAHAHA! Kalau begitu, ayo!" tanpa basa-basi Renji segera menarik tangan Rukia untuk segera mengunjungi tempat pertama kali mereka bertemu.

~O~O~O~O~

Dalam hitungan menit, akhirnya Rukia dan Renji telah tiba di tempat pertama kali mereka bertemu. Semuanya masih belum berubah, walaupun tempat tersebut termasuk pusat perdagangan bagi masyarakat Rukongai. Renji tersenyum puas dan semoga saja hal-hal yang tidak berubah ini membuatnya untuk memudahkan dalam mengembalikan ingatan Rukia. Renji menepuk bahu Rukia—yang sejak tadi bergeming; matanya hanya fokus ke arah berbagai penjual yang menawarkan berbagai macam barang dagangan.

"Hei, apa kau masih ingat dulu? Dulu...kalau tidak salah, aku; bersama ketiga sahabatku sedang berlari sambil membawa berbagai macam bahan curian dari seorang kakek-kakek yang kalap. Lalu, kamu datang...dan menyerang si kakek tanpa ada keraguan dan rasa hormat sedikit pun, aku masih ingat jelas erangan si kakek saat kamu membenamkan kepalanya berkali-kali menggunakan kakimu," jelas Renji antusias; pandangan matanya tidak beralih dari mata Rukia—yang masih terfokus ke arah berbagai macam penjual. Namun Renji memilih untuk melanjutkan ceritanya daripada menunggu respon dari Rukia, "sejak saat itu kita berteman, yang lambat laun menjadi bersahabat...walaupun sahabat-sahabat kita tidak bisa menemani kita dalam waktu yang lebih lama."

Mendadak telapak tangan yang dingin melingkari leher Renji—yang perlahan-lahan makin kuat tekanannya—membuat Renji kesulitan bernafas. Renji terkejut begitu melihat si pemilik tangan tersebut...adalah Rukia sendiri. Yang membuat Renji terkejut karena mata violet Rukia berubah menjadi hitam legam; dan kulitnya makin sepucat lembaran kertas. Mau tak mau, Renji terpaksa melawan dengan cara mendorong Rukia dengan sekuat tenaga; membuat sosok kecil yang malang itu terlempar jauh dan menghantam salah satu kios milik pedagang.

Renji segera memposisikan dirinya untuk menarik Rukia—tidak menghiraukan protes dan keributan yang mulai bermunculan—menuju ke tempat yang lebih sepi. Renji tidak pernah menyangka bahwa...seekor hollow berhasil mengendalikan tubuh Rukia.

~O~O~O~O~

"LEPASKAN!" bentak Rukia kasar; dengan tujuan untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman yang kuat. Renji terpaksa melepas cengkeramannya—dengan sedikit dorongan—dari pundak Rukia; membuat tubuh Rukia kembali terlempar dan menghantam tanah dengan keras. Debu pasir yang mulai berterbangan—hasil dari hantaman tubuh Rukia dan tanah—menghalangi pandangan Renji. Degup jantung Renji menjadi tak beraturan; sejak dia mengetahui bahwa tubuh Rukia dikuasai oleh hollow. Renji memegang erat zanpakutounya; dan akhirnya dia keluarkan saat Rukia menerjang dirinya untuk dengan sasaran menusuk dadanya dengan tangan kosong.

Renji termasuk orang yang cepat berekasi; zanpakutounya menghalangi kepalan tangan Rukia yang bermaksud untuk menusuk jantungnya. Dengan cepat Rukia segera menghilang dan muncul lagi dari belakang Renji; walaupun Renji tak kalah gesit berhasil memblokade serangan Rukia untuk kedua kalinya. Rukia tersenyum kesal dan segera mengambil jarak di antara mereka berdua.

"JELASKAN RUKIA! APA MAUMU, HAH?" akhirnya Renji mulai angkat bicara sembari menurunkan zanpakutounya. Rukia hanya tersenyum licik dan mulai memasang kuda-kuda menyerang lagi. Renji menyambut serangan Rukia—dengan menusukkan zanpakutounya tepat di dada Rukia. Darah mulai mengalir dan berangsur-angsur beberapa aura hitam muncul dan menghilang; diikuti dengan jeritan kesakitan yang asalnya tak lain dari mulut Rukia.

"AAAAA! SAKIT! SAKIT!"

Renji hanya bisa tersenyum miris; setidaknya dia berhasil menguasai hollow tersebut dan perlahan-lahan warna kulit Rukia kembali menormal, mata yang sejak tadi berwarna hitam legam kembali ke warna violet—walaupun redup—aslinya; walaupun Rukia hanya bisa terjatuh lemas. Renji mencabut zanpakutou dari dada Rukia yang sudah bersimbah darah.

Dia baru saja melukai Rukia. Renji berharap apa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi belaka.


Bersambung~


A/N: udah telat, sekarang lebih pendek dan lebih jelek; bolehkah saya mencap diri saya sendiri sebagai author yang hina dan bodoh? Saya gak nyangka di tengah jalan malah lebih sulit; padahal saya udah punya bayangan jelas jalan menuju akhir cerita T,T. Review mungkin membuat saya mendapat pencerahan~ *plak*