Bagian keempat: My Awesome Brother-in-Law
Disklaimer: Om Tite Kubo yang misterius =="
Pasangan: Ichigo/Rukia~
Rating: T
Peringatan: hancur, OOC yang parah, jayus, jelek, pemangkasan ke-romantis-an, dsb
A/N: Ya ampun saya kehilangan minat gara-gara Bleach yang sekarang menurut saya terlalu dipanjang-panjangkan #dor. Saya baru aja belajar [nggak langsung] deskripsi dari partner fanfiksi kolaborasi saya, semoga kalian gak keberatan ._. Dan maaf saya telat, silahkan bunuh saya dengan cara paling memalukan/sadis saya mau-mau aja -_-". Maaf ya telat, jauh dari lubuk hati saya *plak* saya gak mau mengecewakan kalian TTTTwTTTT #apaini
TIK
TIK
TIK
Bukan suara jarum detik yang bergerak di dalam jam
TIK
TIK
TIK
Bukan pula indikator penghitung mundur suatu bom
TIK
TIK
TIK
Bukan pula kepanjangan dari Teknologi Informasi Komunikasi—
—oke yang terakhir memang tidak berhubungan dengan efek suara rinTIK rinTIK air hujan. Yap benar, satu persatu—walaupun dalam jumlah banyak dan dalam interval waktu yang berbeda tipis—tetes air hujan mulai membasahi segala apapun yang di bawahnya. Mulai dari tanah, bangunan kayu yang ringkih, hewan-hewan yang mulai berlarian menjauhi rintik hujan, dan sosok dewa kematian yang tetap bergeming; tidak mempedulikan efek yang ditimbulkan jika sesuatu berdiri terlalu lama di tempat yang air hujan dapat membasahimu secara sempurna.
Ichigo menatap langit hitam lekat-lekat, walaupun air hujan memaksanya untuk tidak melihat ke atas karena air hujan dapat menusuk matamu atau parahnya dapat masuk ke lubang hidungmu. Ichigo tidak peduli bukan karena dia ingin mencoba betapa pedihnya matamu saat air dengan tingkat keasaman di atas rata-rata, melainkan hanya ingin mendinginkan kepalanya yang sempat memanas beberapa menit yang lalu. Itu saja kok.
Walaupun pendengarannya hanya terisi suara derasnya hujan yang sudah bercampur dengan angin, Ichigo bisa mendengar suara jeritan kesakitan yang terdengar familiar baginya; suara renyah yang didengarnya setiap hari; pemilik suara tersebut adalah orang yang disayanginya selama ini—sekaligus orang yang sangat berarti baginya selama ini.
Rukia Kuchiki
Tentu saja tak ada seorangpun yang menganggap 'segala sesuatu akan baik-baik saja' ketika mendengar jeritan—apalagi jeritan karena pedihnya luka yang didapat—dari orang yang dianggap berharga bagi mereka. Ichigo mengumpulkan kekuatan untuk menenangkan dirinya dan melakukan langkah cahaya—shunpo—dengan tujuan ke sumber arah suara tersebut.
~O~O~O~O~
"Abarai Renji."
Dewa kematian beralis palsu memilih tidak menyahut suara berat yang baru saja memanggilnya. Rasa takut? Ya. Rasa segan? Ya. Rasa hormat? Itulah alasan utama walaupun dia tahu tidak menggubris sahutan atasannya sama saja tidak menunjukkan rasa penghormatan.
"Jelaskan apa yang baru saja kau lakukan."
Suara tersebut semakin mendekat karena pemilik suara tersebut sekarang sudah berdiri dengan angkuh tepat di samping sosoknya. Mata cokelat Renji sama sekali tidak berani mengalihkan pandangan dari sosok yang dianggapnya sangat penting—yang perlahan-lahan diangkat oleh dewa kematian yang bertugas di divisi empat—mulai menjauh dari pandangannya. Begitu menghilang, Renji mengumpulkan seluruh nyalinya untuk bersanding dengan atasan yang sangat dihormatinya tersebut.
"Ma-maafkan aku, Kapten Kuchiki! Ini bisa kujelaskan! Ru-Rukia baru saja dikontrol oleh hollow dan-dan terpaksa aku menusuknya untuk menghilangkan kendali hollow tersebut."
Mendadak penjelasan keduanya diinterupsi oleh suara petir menggelegar; menggetarkan benda-benda ringan dan membuat haori atasannya berkibar dengan penuh semangat. Kilat yang sudah muncul duluan sebelum suaranya sempat membuat Renji semakin takut dengan atasannya—karena hal itu membuat dia bisa melihat wajah angkuh dan pandangan menusuk terlihat jelas oleh kedua mata Renji yang selama ini selalu menghindari ekspresi dingin tersebut.
Byakuya menghela nafas dengan kesal; nafasnya tetap berjalan normal walaupun dia sudah berdiri selama beberapa menit setelah badai menerpa. "Jelaskan lagi begitu kau kembali ke Seireitei."
Sosok Byakuya langsung menghilang dari pandangan Renji. Mendadak pundaknya yang sudah basah kuyup digenggam oleh telapak tangan yang basah juga.
"Renji, dimana Rukia?"
Badai semakin bersemangat untuk memporak-porandakan dan membasahi seluruh area yang masuk ke dalam lingkupannya. Pertanyaan tadi seharusnya terdengar samar-samar karena sudah pasti badai yang berisik menguasai indera pendengaran setiap makhluk, namun ajaibnya Renji dapat mendengar dengan jelas pertanyaan dewa kematian berambut oranye yang baru saja ditujukan kepadanya.
"…akan kujelaskan begitu kita berteduh."
"APA? Aku tidak dapat mendengarmu!"
Kemarahan Renji yang sudah ditahannya saat Byakuya memarahinya secara mental langsung dikeluarkan secara spontan—dengan cara menarik lengan shihakushou Ichigo dan segera mencari tempat yang bisa melindungi mereka dari badai—dan yang paling penting, keduanya bisa melangsungkan percakapan tanpa halangan.
~O~O~O~O~
"Ha-HATCHIIIING!"
"Berhenti main-main, Ichigo."
"SIAPA YANG MAIN-MAIN? SUDAH JELAS JIKA HUJAN-HUJANAN PASTI BERSIN, KAN?"
Renji membanting pintu geser yang sudah lapuk dengan penuh kegusaran. Tidak dihiraukannya bahwa sekujur tubuhnya telah basah kuyup, dia tetap berjalan menuju ke tengah ruangan yang hanya terisi oleh lantai anyaman kayu yang sudah lapuk juga—dan di tengahnya terdapat tungku berkarat yang beralaskan berbagai macam jenis kayu bakar. Ichigo sedang berusaha membuat api dengan cara memutar-mutarkan salah satu ranting kayu di atas batang kayu. Renji yang masih kalap langsung menyambar ranting kayu yang sedang dipegang Ichigo. Langsung saja kegusaran Renji menular ke dalam emosi Ichigo. Renji menghela nafas kesal seraya mengulurkan salah satu tangannya ke arah tumpukan kayu bakar.
"Hadou no San jyuu Ichi, Sakkaho!"
"HE-HENTIKAN, RENJI! AKU TAHU KAU PAYAH DALAM SOAL KIDOU—!"
Kalimat Ichigo langsung terputus begitu bola api merah meledakkan seisi ruangan. Asap tipis keabu-abuan memenuhi seisi ruangan dan salah satu dewa kematian yang berambut merah langsung terkapar pingsan—agaknya terkena serangannya sendiri. Ichigo—yang sempat berlindung di balik zanpakutou-nya yang cukup bisa melindungi dirinya dari ledakan barusan—menghela nafas lega karena api unggun berhasil dinyalakan!
Ichigo merangkak mendekat menuju api unggun untuk mengeringkan dirinya yang basah kuyup. Dia melirik sebentar ke arah Renji yang masih pingsan—diikuti dengan tatapan mengejek. Tak lama kemudian, akhirnya Renji tersadar. Adakah yang mau menebak aksi pertama yang dilakukan Renji setelah tersadar karena aksi bodohnya sendiri? Tidak perlu dijawab, karena sebelum sempat menjawab dia sudah melakukan sesuatu yang mengejutkan—meninju Ichigo.
"KAU INI MEMANG NGAJAK RIBUT ATAU GIMANA, HAH?"
"KAMU SENDIRI YANG MULAI! INI TEMEN MALAH GAK DIBANTUIN!"
"BODO AMAT! Sekarang, cepat jelaskan dimana Rukia!"
Kemarahan Renji baru saja dipadamkan; langsung berganti dengan perasaan bersalah.
"Tadi Kapten Kuchiki juga ada."
Mata cokelat Ichigo melebar. Benaknya langsung dipenuhi dengan apakah dia harus terus mendengarkan kabar yang tidak diharapkannya.
"Tadi…hollow yang bersarang di jiwa Rukia mengendalikan dia sepenuhnya; dan Rukia yang di bawah kendali hollow terus menyerangku. "
Tidak, aku tidak ingin mendengarkan ini.
"…aku menusuk Rukia tepat di tengah dadanya—yang menurutku di sanalah hollow tersebut bersarang."
Ingin rasanya aku meninjunya dan mengasihaninya secara bersamaan.
"Akhirnya Rukia kembali tersadar walaupun dia lemas dan mengeluarkan banyak darah. Namun entah kenapa, mendadak di sekelilingku banyak dewa kematian petugas medis…dan…"
Jangan dilanjutkan, Renji. Atau aku akan benar-benar meninjumu tanpa mengasihanimu.
"…kapten Kuchiki datang dan membawa Rukia pergi. Kapten juga menunggu penjelasanku yang lebih lengkap begitu kita tiba di Seireitei."
Ichigo mendengus kesal seraya menahan amarahnya –dengan terus berpikir melibatkan akal sehatnya. 'Mungkin ini memang kesempatan bagus, mengingat setelah masa kecil mereka diakhiri dengan Byakuya membawa Rukia pergi. Hah, mungkin memang seharusnya aku hanya mengasihanimu, Renji. Aku tahu berat rasanya untuk kesekian kalinya kau kehilangan orang yang kau anggap penting,' pikir Ichigo sembari melipat tangannya.
"Kalau begitu, kita harus ke kediaman Byakuya sekarang juga," sahut Ichigo perlahan begitu dia merasa dia sudah cukup kering.
"Jangan sekarang, bodoh."
"Kenapa?"
"Masih badai, bego."
~O~O~O~O~
Kepala Rukia terus berdenyut sehingga pemiliknya merasa tersiksa dan hanya bisa memegangi kedua sisi kepalanya. Salah satu tangannya menggenggam kepalan selimut kuat-kuat, berharap tidak akan ambruk karena sakit kepalanya yang dia anggap di atas sakit kepala biasa. Kedua bola mata kehitaman memandang sesosok adiknya yang sedang dilanda kesakitan, dan pemilik mata tersebut tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Namun egonya tetap tinggi, sehingga Byakuya Kuchiki memilih tetap diam di tempat duduknya walaupun pikirannya sedang kacau.
Setelah menahan rasa sakit dengan tetap membungkam mulut, akhirnya kepalanya terasa ringan dan dia bisa kembali berbaring di atas ranjang dengan tenang. Rukia menghela nafas lega dan menutup matanya secara perlahan; walaupun dia tidak bermaksud untuk tidur. Mendadak dahinya disentuh oleh telapak tangan yang berukuran cukup besar.
"?"
"Kau tidak apa-apa, Rukia?"
Rukia membuka mulutnya untuk menjawab, namun suaranya dikalahkan oleh suara dobrakan pintu.
"RUKIA!"
Kedua alis mungil Byakuya bertemu. Garis mulutnya yang awalnya melengkung ke atas (sedikit) langsung kembali menjadi datar-horizontal.
"Hei, Renji! Hormati sedikit orang yang lagi sakit, babon! Dan…Kurosaki? Sedang apa kalian di sini?"
Pandangan dingin Byakuya langsung beralih ke sosok adiknya. Begitu pula dengan pandangan Renji—yang lebih terkejut dari pandangan manapun—beralih ke Rukia yang ekspresinya menyiratkan kekesalan. Namun pandangan satu dewa kematian lainnya, Ichigo, tidak menunjukkan rasa keheranan ataupun keterkejutan; melainkan kekecewaan yang mendalam. Renji—yang tidak menghiraukan kehadiran Byakuya—berjalan pelan mendekat ke ranjang Rukia dengan masih memasang tampang keheranan.
"Kau ingat padaku?"
"Kamu ngomong apa, Babon? Bagaimana mungkin aku bisa melupakan alis palsumu?"
Seperti kebanyakan di drama atau film, reaksi seorang sahabat setelah mengetahui sahabat sejatinya belum melupakan tentang dirinya atau teringat kembali; sudah pasti memeluk dengan beruraikan air mata. Namun tidak bagi Abarai Renji. Di dalam ruangan ini ada kakak sahabatnya yang gemar membunuh secara mental ataupun fisik dan sahabatnya satu lagi yang agaknya kecewa karena Rukia lebih ingat duluan tentang Renji daripada Ichigo. Dan intinya—namanya tidak sopan kalau Renji langsung memeluk Rukia di depan Byakuya dan Ichigo. Bagaimana dengan air mata? Oh tolong, Renji harus membuktikan dia bukan anak perempuan yang gampang terharu-biru.
Tatapan dingin Byakuya (secara tidak langsung) mengisyaratkan Renji agar segera menjauh dari adiknya. Renji hanya bisa tersenyum-memohon-maaf kepada Byakuya dan berjalan mundur. Dia tersadar bahwa Ichigo masih menundukkan kepalanya, ekspresinya masih tetap sama sejak dia berdiri di depan pintu. Renji yang dilanda rasa iba kepada sahabatnya, memutuskan untuk menarik pundak Ichigo kemudian mendorong punggungnya agar bisa berhadapan langsung dengan Rukia. Byakuya masih memilih tetap diam walaupun pandangan matanya masih menusuk. Walaupun begitu, tadi Byakuya sempat berharap Rukia juga ingat tentang dirinya duluan sebelum Renji, walaupun kemungkinannya amatlah kecil.
"…Rukia…"
"Kenapa, Kurosaki?"
Ichigo memalingkan muka. Dia tidak mempunyai keberanian untuk terus menatap mata violet yang tidak terisi apa-apa tentang dirinya; selain refleksi mukanya sendiri. Masih banyak potongan-potongan puzzle yang belum ditemukan, dan dia mempunyai kewajiban untuk itu. Agar dia bisa bersama kembali bercengkrama bersama dengan orang yang dikasihinya.
~O~O~O~O~
Berbagai macam bunga krisan yang mempunyai warna berbeda tertata rapi di hamparan permadani hijau. Tidak, tidak hanya bunga krisan yang terpajang di sana, masih ada banyak berbagai macam jenis bunga yang berbeda dan mekar dengan indah—bunga-bunga kesukaan sang pemilik rumah. Burung-burung berkicau dengan indah, angin sepoi-sepoi bergesekan dengan daun-daun pepohonan yang rimbun. Sinar matahari yang berhasil mengusir kuasa awan hitam bersinar dengan penuh kepercayaan diri; mencoba mengeringkan lingkungan yang baru saja dibasahi gerombolan awan hitam barusan. Dua jiwa sedang terduduk di teras kayu mahogani dengan beralaskan bantal bersarung satin. Dua gelas teh diletakkan secara perlahan, dan akhirnya salah satu dari mereka bersuara.
"Adakah yang kau ingat dari sini, Rukia?"
Lawan bicaranya menggelengkan kepala dengan pasti walaupun mata violetnya mulai meredup. "Maafkan aku, kakak. Sampai saat ini belum, tapi aku berjanji dalam waktu dekat akan kembali ingatan tersebut."
Senyum yang sangat jarang ditampilkan mulai terkembang di wajah tampan sang bangsawan. Diulurkan salah satu tangannya untuk mengusap kepala adiknya. "Jangan khawatir, kau tidak perlu terburu-buru."
Dalam jarak beberapa meter dari teras, seorang dewa kematian berambut oranye dan temannya—yang dewa kematian juga—memandang gusar dari balik semak mawar merah dan menggumamkan berbagai macam komentar negatif—walaupun lebih tepat dikatakan 'terkesima'.
"Wuih. Aku gak pernah menyangka Byakuya bisa bersikap selembut itu…dan TERSENYUM? Dunia sudah gila!"
"Jangan keras-keras, bego! Kalau ketahuan bisa-bisa kita didepak dari sini!"
"Hadou no Yon, Byakurai."
Byakuya tak peduli dengan fakta bahwa dia baru saja merusak salah satu bunga favoritnya. Yang penting pengganggu sudah berhasil dilenyapkan; dengan begitu dia bisa memakai karakter aslinya dengan tenang dan tanpa mendapatkan komentar yang tidak diinginkan.
Bersambung?
A/N: SAYA CINTA KALIAN #dibombardir. Buat kalian yang baca ini, saya sangat berterima kasih! Dan review kalian adalah motivasi saya :) #apadeh
