Moshi-moshi minna-san! Baru liat penname saia di fandom ini? Hehehe... saia author nyasar jadi fandom seberang. Yang coba-coba nulis di fandom ini, secara saia salah satu penggemar one piece gitu...*gak ada yang nanya*.
Nah, minna-san, saia hidangkan*?* salah satu karya saia yang dibilang gaje ini, silahkan menikmati *memang makanan?* ^^
"HARI MEMASAK MUGIWARA TEAM"
Disclaimer: yang jelas One Piece beserta isinya bukan punya saia, tapi punya Eiichiro Oda-sensei
"HARI MEMASAK MUGIWARA TEAM"
© Kirei Atsuka
Chap 1:
Sanji sakit ? Oh, no !
Pemuda berambut blonde itu, melirik jam tangannya, "sudah waktunya" gumam pemuda itu. Ia pun berjalan menuju dapur, meninggalkan teman- temannya yang sedang sibuk memperbaiki kapal. Kapal yang mengalami sedikit kerusakan akibat serangan pasukan angkatan laut beberapa hari lalu.
Pemuda bernama Sanji itu, mengambil peralatan masaknya, dan mulai melakukan tugasnya, yaitu memasak untuk semua teman-temannya. Tak lupa menyulut sebatang rokok kegemarannya.
Sementara itu, di dek, sang kapten kapal, Luffy sedang mencapai batas kehiperaktifannya, dan menyebabkan keributan seisi kapal. Ia berlari-lari tidak jelas bersama kedua pengikutnya yang bisa dibilang sama aktifnya. Sungguh bukan kapten kapal yang bisa tiru kelakuannya.
"Luffy, Usop, Chopper ! Tidak bisakah kalian berhenti melakukan kegiatan tidak berguna itu?" marah Nami. Gadis berambut jingga itu, tidak segan-segan melemparkan sepatu yang dikenakannya ke arah Luffy yang sedang asyik bergantungan di tiang kapal*?*.
PLETAKK!
Sang kapten pun terjungkang dengan tidak elitnya.
Sementara itu, Robin hanya menggelengkan kepalanya seraya berpikir keras, 'kenapa aku bisa bergabung dalam tim ini?'
Franky, yang statusnya masih anggota baru hanya bisa sweatdrop, melihat keganasan Nami.
"Lama-lama kau akan terbiasa dengan hal ini." Ucap Zorro santai.
Usop dan Chopper hanya bisa berpelukkan, saking takutnya. Mereka berdua menelan ludah bersamaan, takut kalau Nami akan memperlakukan mereka sama seperti Luffy.
Semua anggota kapal, (kecuali Sanji dan Nami) hanya memasang wajah maklum, melihat kapten mereka yang tergeletak di lantai dengan sebuah benjolan yang sebesar buah jeruk di kepalanya, hadiah manis dari sang navigator, Nami.
Mungkin, karena saking maklumnya, tidak ada yang berinsiatif untuk menolongnya.
Aura-aura mulai kemarahan terasa disekitar Nami, membuat semuanya bergidik ngeri.
"Kalian ini berisik sekali! Sudah kubilang jangan berlarian di dek yang sedang diperbaiki. Kalian dengar TIDAK ?" teriak Nami sungguh-sungguh.
"De... de... ngar Na... nami... ka... kami dengar " jawab Usop dan Chopper ketakutan.
Sedangkan Luffy (yang sudah bangun) hanya cengar-cengir tidak jelas.
"Wah.. disini mulai terasa panas, ada yang mau teh?" celetuk Brook yang membuat suasana menjadi (tidak) lebih baik.
Sanji hanya tertawa terkekeh-kekeh dari balik dapur, hingga ia tersedak rokok yang sedang dihisapnya, "uhuk..uhuk... sialan! Bisa- bisanya aku tersedak rokok!" gumannya seraya masih terbatuk-batuk.
"Sanji kenapa tuh?" tanya Robin mengalihkan perhatian.
"MAKANANNN..!" seru Luffy tiba-tiba.
PLAKKKKK..!
"BERISIK...! Nami kembali memukul Luffy dengan sepatunya.
"Tragis." Respon para anggota Mugiwara.
"Semuanya... makanan sudah siap..." Sanji mengeluarkan kepalanya dari pintu dapur, membuat semua melihat kearahnya.
"Asyikkk makannnn...!" teriak Luffy kembali (kelewat) bersemangat. Ia langsung saja mengambil ancang-ancang ke ruang makan bersama Usop dan Chopper.
"Siapa yang terlambat tidak akan dapat makan." Teriak Usop entah pada siapa.
Semuanya pun bergegas ke ruang makan, meninggal perkakas yang masih berserakan.
"Untung saja, Sanji memanggil. Kalau tidak, mungkin Luffy bisa babak belur dihajar Nami" ucap Franky. Zorro dan Robin pun menggangguk setuju.
Di ruang makan...
Semuanya makan makanan masing-masing dengan tenang, terkecuali, Luffy yang makan dengan bringasnya.
"Huaaa... seperti biasa, masakanmu selalu enak Sanji!" puji Luffy seraya mengigit sepotong daging besar yang berada dihadapannya.
"Haha... tidak perlu sampai seperti itu" tawa Sanji pelan.
"Sanji, kau lelah karena memasak terlalu banyak ya?" tanya Robin seraya memperhatikan wajah Sanji yang terlihat pucat.
"Tidak Robin chan, mungkin aku hanya sedikit lelah karena menghadapi angkatan laut kemarin." Elaknya seraya tersenyum.
"Iya, kemarin itu serangan mereka benar-benar berlebihan. Sampai-sampai Thousand Sunny mengalami kerusakan seperti itu." keluh Franky.
Nami memandang Sanji heran. Tidak biasanya Sanji bersikap tenang. Biasanya ia selalu mengganggunya dan juga Robin. Atau berdebat dengan Zorro, namun hari ini, Sanji bersikap agak berbeda.
"Nami swannn... mau tambah makanannya..?" rayu Sanji kemudian.
'Huh... ternyata masih sama saja.' Pikir Nami kesal.
"Huh!" celetuk Zorro.
Sanji menoleh kesal kearah pemuda berambut hijau itu, "apa maksudmu, Marimo?" bentaknya.
Zorro hanya menbuang muka, tidak menghiraukan perkataan Sanji. Sanji mengepalkan tangannya kesal, ia sudah bersiap menyerang Zorro andai saja, tangan-tangan Robin tidak menahan kaki Sanji dan tangan Zorro yang sudah menyiapkan katananya.
"Hentikan!" seru Nami sambil menggebrak meja makan. Membuat semua anngota terdiam, termasuk Luffy yang baru melahap dagingnya setengah, langsung membatalkan niatnya untuk melahap daging itu.
Nami pun menjadi sweatdrop berat, "eh... lanjutkan saja makan kalian tidak perlu memandangku seperti itu. Hehehe..."
Sehabis makan siang, para anggota meninggalkan ruang makan, kecuali Sanji yang masih membereskan peralatan makan serta mencucinya. Tapi, tiba-tiba ia merasa kepalanya berat.
"Aduh... kepalaku sakit sekali " erangnya sambil memegangi kepalanya. 'Aku harus bertahan, paling tidak sampai aku bisa menyelesaikan pekerjaanku. Baru aku akan meminta obat pada Chopper.' Batinnya pada dirinya sendiri.
Sanji pun berusaha berjalan ke arah kursi yang tak jauh darinya. Namun karena ia tidak kuat lagi, ia pun terjatuh, dan pingsan.
Suasana di dek cukup ramai, Nami kembali memarahi Luffy yang lagi – lagi membuat keributan. Zorro hanya tidur- tiduran seraya menikmati angin yang bertiup sepoi–sepoi namun terdeteksi memiliki kecepatan 211km/persekon*?*. Franky masih sibuk memeriksa mesin kapal. Robin asyik dengan buku- buku tebalnya. Usop dan Choppr masih asyik bercanda tidak jelas.
Cuaca cukup panas, hingga membuat Robin menghentikan kegiatan membacanya, dan melangkahkan kakinya ke dapur. Gadis berambut hitam kebiruan itu, bermaksud mengambil segelas air dari dapur. Robin tampak heran dengan suasana dapur yang sangat teramat sepi. Ia pun berjalan untuk mengambil gelas. Ia sangat terkejut saat menemukan Sanji dalan keadaaan pingsan.
"Sanji.. Sanji... bangun..." Robin mencoba membangunkan Sanji, dengan memercikkan air ke wajah pemuda itu, tapi ia tak kunjung bangun juga. Robin pun menyentuh kening Sanji.
"Astaga panas sekali. Sepertinya Sanji demam. Bagaimana ini? " Gumam Robin panik. Ia pun berteriak memanggil temen-temannya.
"Minna... Tolong! Cepat kesini...!" teriaknya.
"Robin?" seru Nami panik. Ia segera menuju arah dapur disusul oleh yang lain.
" Heh, alis aneh apa yang kau lakukan?" marah Zorro ketika melihat Robin dalam keadaan memeluk Sanji. Ia sudah bersiap mencabut katananya kalau saja Luffy tidak mengganggunya.
"Zorro..."
"APA...?"
"Pinjam pedangmu untuk memotong daging" Luffy mengambil pedang milik Zorro dan membawanya untuk memotong daging bersama Usop.
Nami, Franky, Robin hanya cengo melihat tindakan Luffy yang (sangat) tidak memahami situasi itu. Wajah Zorro sudah memerah karena kesal. Brook memainkan biolanya untuk menambah kesan dramatis.
"Sudahlah, Zorro." Ujar Nami seraya mengipasi Zorro dengan layar kapal yang tergeletak tidak jauh dari situ.
"Dokter ! Kita harus memanggil dokter." Seru Chopper panik.
"Kan kamu dokternya!" seru Nami dkk.
Chopper sweatdrop dan menyadari kebodohannya, "ma...maaf " ujarnya.
"Teman-teman, sepertinya Sanji sedang sakit, tadi aku menemukannya dalam keadaan pingsan" jelas Robin.
"Hei. Teman-teman bantu aku membawa Sanji ke kamarnya." pinta Chopper yang tengah memeriksa keadaan Sanji. Akhirnya Franky, Usop, Zorro, Luffy membantu menggotong Sanji ke kamarnya.
Beberapa waktu kemudian...
"Bagimana keadaannya?" tanya mereka khawatir. Sesaat Chopper selesai memeriksa keadaan Sanji.
"Sanji mengalami kelelahan yang berat dan juga deman tinggi yang belum turun sejak tadi, jadi, di harus beristirahat sampai sembuh" tutur dokter rusa itu.
"Cih, tidak ku sangka, si alis aneh itu bisa sakit juga." Celetuk Zorro.
" Sudah. Lebih baik kita tidak berada di sini. Biarkan sanji berisirahat." Usul Robin
"Nami, aku lapar." Keluh Luffy beberapa jam kemudian. Rupanya perut karetnya sudah minta diisi lagi.
"Ambil saja makanan di dapur." Suruh Nami seraya tetap memfokuskan kedua matanya pada majalah yang sedang ia baca.
Luffy menuruti perintah Nami, dan pergi ke dapur. Taklama kemudian pemuda itu kembali, " di dapur hanya ada bahan makanan mentah. Kalau cuma makan buah saja, mana bisa kenyang." Keluhnya lagi. Ia memasang tampang memelas seraya bergelayutan di lengan Nami.
"Minta saja pada Sanji untuk memasak makanan!" suruh Nami lagi.
"Eh? Bukannya Sanji sedang sakit?" celetuk pemuda berhidung panjang.
"Oh iya, aku lupa." Nami menepuk keningnya pelan.
"Nami, aku masih lapar." Luffy kembali mengeluh kelaparan.
"Baiklah akan ku carikan makanan." Nami beranjak dari tempatnya membaca dan berjalan menuju dapur. Ia pun kembali dan menberi Luffy sebungkus besar makanan ringan. Walaupun ia tahu, itu takakan cukup.
Malammya, seluruh anggota Mugiwara terkecuali Sanji berkumpul, membahas masalah kelaparan yang mulai melanda semenjak Sanji sakit beberapa jam yang lalu.
"Seperti yang kita tahu, Sanji sedang sakit sekarang. Karena itu, aku dan Robin telah membicarakan masalah ini." Ujar Nami membuka suara.
Ia pun memandang ke arah Robin. Robin pun memandang Zorro. Zorro memandang Franky. Franky memandang Luffy. Luffy memandang Usop. Usop pun memandang Chopper, lalu Chopper memandang Brook dengan tatapan takut. Jadilah mereka saling melempar pandangan.
"STOP! Apa- apaan ini?" Nami akhirnya menghentikan acara saling memandang itu.
"Cepat saja katakan saja, apa rencanamu?" potong Zorro tidak sabar.
"Sabar, Zorro. Ini aku baru mau bilang." Nami mengela napasnya berat.
" Aku punya firasat tidak baik tentang ini." Bisik Franky kepada Usop.
Usop pun mengangguk setuju, "ditambah lagi keaadaan cuaca sadang tidak baik." Celetuknya.
"Jadi, kita akan mengadakan tugas memasak secara bergilir setiap hari. Satu grup terdiri atas dua orang yang dipilih secara acak" ujar gadis itu. " Semua harus melaksanakan tugasnya dengan baik, kalau tidak..."
DHUUARRR!
Tiba-tiba petir besar pun menyambar, dan menyebabkan listrik di kapal itu menjadi padam seketika.
"HYAAAAAAA..." Teriak mereka histeris, mereka semua berusaha menggapai apa saja yang berada didekat mereka. Tidak peduli siapa atau apa pun itu.
Lampu kapal kembali menyala, setelah si manusia cyborg, Franky memperbaikinya dengan cepat. Ia pun segera kembali ke ruang berkumpul, ia tercengang kaget melihat keadaan teman-temannnya yang bisa dikatakan sedikit 'ajaib' itu.
Bagimana ia tidak kaget, melihat Nami yang ketakutan seraya memeluk Luffy erat. Zorro yang ternyata sedang bergenggaman tangan dengan Robin. Chopper yang sedang memeluk Brook yang dikiranya Usop, dan Usop yang sedang memeluk kaki meja dengan eratnya.
"Teman-teman?" Franky mencoda menormalkan suasana.
"AAAAAA..."
Setelah menyadari apa yang baru saja terjadi, mereka semua langsung kembali ke posisi tidak-terjadi-apa-apa.
"Eng... lebih baik kita lanjutkan saja. Semua ini tidakkan akan selesai jika tak ada yang serius." Ucap Chopper.
Semua anggota menggaguk setuju, termasuk Luffy. Padahal, ia adalah orang paling diragukan keseriusannya di tim itu.
Akhirnya, Nami kembali menjelaskan semua rencana memasak bergilir itu.
"Peraturannya, setiap tim harus memasak sesuai giliran, misalnya tim satu mendapat giliran memasak untuk besok hari, tim kedua lusa, dan begitu seterusnya. Ada pertanyaan?"
Usop mengacungkan jarinya, "aaa..."
"Bagus, kalau tidak pertanyaan." Lanjut Nami.
Pemuda hidung panjang itu, hanya memasang wajah kesal karena tidak diperhatikan.
"Jadi, setiap tim harus memasak makanan untuk makan pagi, siang dan malam, begitu?" tanya Franky.
Nami hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Ini waktunya pembagian tim." Robin mengambil sebuah botol yang di dalamnya berisi delapan gulungan kertas berisikan nama anggota tim Mugiwara terkecuali Sanji.
"Baiklah, ayo." Seru Luffy bersemangat.
"Gulungan kertas yang keluar pertama adalah tim pertama dan akan memulai tugasnya besok" ujar Robin menjelaskan.
Semua menggangguk paham. Suasana terasa hening dan tenang, bahkan saking heningnya, suara semut berbisik pun tersengar jelas di telinga mereka. Robin mulai mengocok botol yang berisi kertas gulungan, dan entah mengapa semua berharap tidak bersama Luffy sebagai satu tim. Keheningan mulai memuncak saat Robin mulai mengambil dua buah kertas yang membaca nama yang tertera di dalamya.
"Yang mendapat giliran pertama adalah..."
TBC...
Gimana minna? Tidak terlalu gajekan? Untuk chap ini mungkin humornya belum terasa, tapi mulai chap depan, tingkat kegilaan akan meningkat. Oleh karena itu, jangan lupa reviewnya, yach *kitty eyes* ^.^v
Kalau bisa jangan diflame, kasih kritik, saran serta pujian aja...
