Gomen minna -san, saia sangat telat apdet chap ini, karena ide yang pasang surut*?* saia jadi melalaikan fict ini *bungkuk-bungkuk*

Karena pastinya para readers udah pada kangen sama saia *ditimpuk botol* langsung saja ya…

.

.

Last chap...

"Zoro? Kau?"

..

..

..

"HARI MEMASAK MUGIWARA TEAM"

Disclaimer: One Piece beserta isinya punya Eiichiro Oda-sensei.

"HARI MEMASAK MUGIWARA TEAM"

Punya Kirei Atsuka

Warning: OOC. Gaje, misstypo, dkk*?*

Chap: 3

Zoro and Brook in action!

.

.

.

Pemuda itu menatap sinis semua nakamanya yang sedang tersenyum, atau lebih tepatnya mentertawakannya. Bagaimana tidak? Semua nakamanya kini sedang melihatnya dalam keadaannya tidak biasa. Ia yang biasa bergaya preman, kini terlihat dengan penampilan keibuan*?*. Dengan celemek merah muda bergambar-entah-apa-itu-, Zoro menjadi terlihat 'feminim'.

"Huahahaha... Kau keren Zoro! Sanji akan merasa iri dengan gayamu ini!" Usopp mengacungkan kedua ibu jarinya, tanda mengejek.

Zoro melirik Usopp dengan tatapan membunuh, sepertinya nalurinya menyuruh sang pendekar untuk menjadikan Usopp salah satu santapan pagi itu.

Usopp yang merasa terancam, lebih memilih diam dan menurunkan jempolnya perlahan, "a-a-ampun, Zoro..." ucapnya.

Sedangkan Luffy malah bersorak gembira, "asyik... asyik... Zoro masak. Asyik... asyik. Ayo cepatlah buatkan kami makanan!"

Franky kemudian menyikut Robin dan Nami yang masih tertawa, "hey, menurut kalian apa ini tidak berbahaya?" tanyanya.

"Apanya?" kedua gadis itu menyahut.

Franky memasang wajah kecewa, "sepertinya cuma aku yang merasakan hal tidak baik tentang semua ini," ucapnya pada dirinya sendiri.

"Siapa yang mendandanimu seperti ini?" Nami bertanya seraya kertawa kecil melihat penampilan Zoro.

Zoro menunjuk Franky yang masih berpikir disela tawanya.

"Dia... dia yang membuat seperti ini. Pagi-pagi ia membangunkanku dan menyuruhku memakai benda ini!" ucap Zoro kesal, kali ini ia menunjuk celemek berwarna merah muda yang tengah dikenakannya.

"Itu celemek, Zoro. Tapi, kenapa kau mau saja memakainya?" tanya Robin.

Zoro mengela napas panjang, "aku masih mengantuk, terus dia bilang ada musuh dan ia menyuruhku mengenakan ini!" tunjuknya lagi pada celemek yang ia kenakan.

"Sudahlah tak apa, kau juga lucu mengenakannya," puji Robin seraya tersenyum.

"Aku tahu itu, aku memang lucu jika mengenakan apapun," sahut Zoro narsis seraya ingin melepaskan celemek yang masih menggantung manis di lehernya.

"Hooeek…"

Rasanya semua anggota Mugiwara -minus Sanji, Zoro dan Robin ingin muntah saat itu juga mendengar pernyataan Zoro yang terlalu narsis itu.

"Hey, hey.." tahan Nami. Zoro menoleh kearah Nami, ia menaikkan sebelah alisnya bingung.

Nami menunjuk celemek itu, "buat apa kau lepaskan? Bukannya kau harus memasak?"

Sang samurai menatap gadis navigator tajam, "harus menggunakan benda ini?"

Semua mengangguk, termasuk Luffy. Mereka semua masih menahan tawa melihat penampilan tuan samurai itu, sedangkan Zoro hanya menggerutu seraya celingukan mencari sesuatu.

"Ayo cepat lakukan tugasmu! Kami sudah lapar." Nami mendesak tidak sabaran.

Luffy menoel teman hijaunya itu, "kau cari apa, Zoro?"

"Brook. Dia pikir mentang-mentang dia bukan manusia, dia bisa melalaikan tugasnya!" seru Zoro kesal.

"Aku disini!" Brook tiba-tiba muncul entah darimana dan mengejutkan semuanya.

Bletak!

Sebuah jitakan mendarat sempurna di kepala tengkorak nyentrik itu.

"Darimana saja kau?" marah Nami.

"Hah, apa nona navigator merindukanku?" Tanyanya penuh harap.

Nami hanya memandang tengkorak hidup itu dengan tatapan apa-kau-lihat-aku-merindukanmu?

Brook tidak menjawabnya, ia mengalihkan pandangannya dan kemudian sibuk mentertawakan Zoro.

"Pakaian yang bagus, tuan samurai," sindir Brook.

"Sudah… Sudah! Kapan mereka akan memasak, daritadi hanya membahas tentang celemek saja." Chooper yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara.

Semua mengangguk setuju, akhirnya mereka semua memutuskan keluar dari dapur meninggalkan Zoro dan Brook.

"Jangan lama-lama memasaknya. Aku sudah laparrr…." Pesan Luffy.

"Jangan merusak barang apapun!" kali ini Nami berpesan dengan nada sedikit mengancam.

Suasana dapur yang akhirnya sepi juga, Zoro mengehempaskan tubuhnya di kursi makan.

"Haah, menyusahkan saja kalau seperti ini," keluhnya.

Sementara itu Brook hanya tertawa gila sendiri sambil meminun kopinya, ia melirik Zoro, walau pun sebenarnya dia tidak mempunyai mata!

"Hai, tuan samurai aku tahu kau murung, padahal kau tahu aku tidak punya mata! Haha… lelucon yang baguskan?"

Zoro tidak menanggapinya, dia sedang tidak mood untuk membunuh hari ini, kalau tidak akan ada sop Brook untuk sarapan para anggota Mugiwara pagi ini.

Pemuda hijau itu melangkahkan kakinya kearah tempat memasak, "hey, Brook. Cepat ambil l bahan makanan di dalam lemari pendingin!" perintah Zoro seenaknya.

Ya, mungkin karena Brook ingin cari selamat dan menghindari mati untuk kedua kalinya, ia menurut saja.

Tengkorak nyentrik itu, membuka lemari pendingin dan mulai mengeluarkan bahan makanan yang ia ketahui.

Sedangkan Zoro memulai aksi perdananya dalam memasak, 'semoga tidak akan ada yang terluka*?*' batinnya berdoa.

"Hoho… Tuan samurai aku sudah mengeluarkan semuanya!" seru Brook.

Zoro pun menoleh memastikan kerja partner 'bukan manusianya' itu. Ia hanya bisa sweatdrop saja, 'bodoh' gumamnya.

Bagaimana tidak? Brook tidak hanya mengeluarkan bahan makanan saja, seperti buah, sayur, daging, serta es batu *?* serta barang-barang yang-sebenarnya-sangat-tidak-perlu, namun entah malaikat mana yang merasukinya, Zoro menjadi lebih sabar kali ini.

'Ingat Zoro, kalau kau tidak serius melakukannya ini, akan ada pukulan menyakitkan dari monster berambut oren itu' batinnya sambil mengemukakan prinsip hidupnya yang baru disusunnys hari ini.

...xXxXx...

Sementara itu…

Kali ini Nami kembali berteriak untuk kesekian kalinya guna menegur Luffy, Usopp, serta Chooper yang berbuat keributan di dek. Robin hanya tertawa santai sambil membalik halaman buku sejarah yang menjadi kegemarannya itu.

"Haa~ mereka itu berisik sekali, aku tidak bisa membaca koran pagi dengan tenang," keluh Nami sambil merebahkan dirinya di kursi santai dan mengambil koran yang teronggok di lantai.

"Begitulah mereka kalau sedang lapar," jelas Robin mencoba menenangkan gadis navigator itu.

Robin melemparkan pandangan kearah trio heboh Mugiwara itu, terlihat mereka sedang terlari-lari tidak jelas untuk menangkap ikan liar yang baru saja mereka tangkap.

"Lapar saja begitu, apalagi kalau sudah kenyang?"

"Kejar.. Kejar… yeah" terdengar sorakan Luffy dengan hebohnya.

Ikan yang masih tersangkut di kail pancing Chooper itu meloncat-loncat tidak karuan, sepertinya ia belum rela untuk dimakan.

Nami hanya bisa mendengus pasrah, rasanya ia mau pindah tempat saja, tapi ia sudah nyaman disini. Lagipula nantinya ia harus bersusah payah untuk menyeret-nyeret kursi santai yang lumayan berat itu.

Huh, mungkin kalau ada Sanji, mungkin ia bisa meminta bantuannya. Mengingat soal Sanji, terlintas sebuah ide yang mungkin cukup cemerlang di kepalanya.

"Hey, daripada kalian melakukan hal yang tidak jelas seperti itu, mengapa kalian menjenguk Sanji saja? Siapa tahu dia sudah sadar."

Trio itu berhenti sejenak untuk berpikir, "wah ide bagus Nami, lagipula aku tidak menjenguknya sejak kemarin," ucap Usopp.

Akhirnya tanpa aba-aba, trio heboh itu sudah melesat kearah kamar Sanji. Saat itu juga suasana di dek Thousand Sunny menjadi sangat tenang.

"Wow, tenang sekali disini. Aku baru tahu bisa ada tempat setenang ini di dek, padahal biasanya…" Franky yang baru naik ke atas dek melirik lucu kearah Nami.

"Sepertinya ini memang hari keberuntunganmu, Tuan Cyborg," Robin yang tahu maksud pemuda berambut biru cerah itu, balas tersenyum.

Sedangkan orang-yang-dimaksud hanya mendengus saja.

...xXxXx...

Luffy dan Usopp memperhatikan dengan seksama Chooper yang tengah memeriksa keadaan Sanji kala itu, mereka berdua hanya menganga tidak mengerti. Maklum, mereka berdua memang tidak tahu maslah yang berhubungan dengan kesehatan seperti itu.

"Bagaimana Chooper?" Tanya mereka berdua.

"Keadaannya sudah lebih baik dari kemarin, dia hanya perlu istirahat saja. Aku kira akan memburuk setelah kemarin."

Usopp mendelik kaget, "memangnya kemarin Sanji kenapa?"

Sementara Chooper menceritakan insiden kemarin kepada Usopp, Luffy malah sibuk mengobrak-abrik kolong tempat tidur Sanji.

"Huaa? Jadi Nami melakukan hal itu? Jerit Usopp seketika, ketika selesai mendengar dongeng Chooper yang dipikirnya menakutkan itu. Padahal pada dasarnya ia memang penakut.

"Yuhuu, lihat aku menemuakan pasangan sandalku! Umm… rupanya kau disini. Padahal aku mengira kau hilang. Oh~ sandalku tersayang." Ucapnya senang dengan background bunga-bunga sakura yang rontok tersapu badai*?*

Kedua rekannya hanya sweetdrop melihat kelakuan tidak waras sang kapten. Mungkin mereka sedang berpikir, apa mereka tidak salah memilih kapten?

Bahkan Sanji yang sedang tidak sadar pun dapat merasakannya dalam mimpi buruknya yang kelam*?*

...xXxXx...

"Emm, semua bahan sudah dicuci, lalu apa yang harus kulakukan? SIAL! Bahkan aku tidak tahu caranya merebus air!" Ucap Zoro yang sudah mulai frustasi.

"Gampang saja. Kau hanya tinggal potong bahannya. Letakkan panci yang sudah diisi air diatas kompor, tunggu sampai mendidih. Masukkan bahannya dan sedikit tambahan bumbu, kau dapat membuat sup."

Mulut Zoro menganga seketika itu juga, tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

"Hai, Brook. Apa tadi yang kau katakan?"

"Heh, apa? Aku tidak mengatakan hal apapun, Tuan Samurai, "elaknya.

"Tadi itu? Sudahlah mungkin aku cuma berkhayal."

Akhirnya Zoro memutuskan untuk mencoba melakukan hal yang didengarya dari bisikan makhluk pemberi insiprasi yang tidak terdeksi *?*.

Zoro pun menyiapkan ketiga katananya, bersiap melakukan aksi perdananya. Aksi berbahaya dan tidak pernah terpikir olehnya. Yaitu aksi…

Aksi….

.

.

Memotong sayuran dengan katananya!

Setelah sedikit memberikan instruksi pada partner tengkoraknya itu, Zoro pun bersiap, dan….

*?*

Para sayuran berhasil akhirnya terpotong dan masuk kedalam panci dengan selamat, tanpa luka sedikit pun.

...xXxXx...

Satu jam kemudian…

Di dek kapal terlihat Luffy yang sedang mengeliat lemas, seperti sudah tidak makan sejak lahir, anggota lainnya pun terlihat sama, wajah muka sudah seperti bunga layu di gurun Sahara, tidak termasuk Robin tentunya. Wanita itu masih memasang wajah manis sambil tetap berkutat dengan buku-buku tua miliknya.

"Kok lama banget sih? Zoro itu masak apa luluran sih ?"Nami berseru kesal.

Para anggota Mugiwara hanya mengelengkan kepalanya lemas. Sepertinya mereka tidak mau buang-buang tenaga hanya untuk ikut meruntuk kesal atas keleletan pemuda rambut hijau itu.

"Teman-teman, makanan sudah siap," akhirnya suara Zoro terdengar dari arah dapur. Tanpa dikomando lagi, para nakama muggwara langsung melesat kearah dapur.

Para Mugiwara duduk rapi dan siap menjadi tikus percobaan maksakan perdana Zoro yang belum lulus uji kesehatan Grandland itu.

"Kau ini, memasak makanan seperti ini saja lama sekali, memang kau masak apa?" Nami kembali mengomel.

Zoro menatap Nami dengan tatapan dasar-tidak-tahu-terima-kasih. Nami hanya membalasnya dengan death glare saja, maka akhirnya terjadilah perang death glare antara mereka.

"Ayolah, teman-teman tidak baik bertengkar saat makan," Robin mencoba menenangkan kedua makhluk yang sedang adu death glare itu.

Zoro pun berbalik dan bersama Brook mengambil hasil masakan mereka berdua. "Ini dia, nona-nona Nikmatilah! Masakan sederhana kami. Kami menamakannya sup JB (Joro-Brook)" Brook menyilahkan kedua wanita itu itu untuk mengambil makanan itu duluan. Namun sebelumnya ia sudah mendapat jitakan dari Zoro karena mengubah namanya seenaknya.

Nami dan Robin mengambil sup itu terlebih dahulu, baru disusul oleh anggota lain dalam sesi "siapa cepat, dia kenyang*?*

'Hey, apa ini layak dimakan?' bisik Franky pada Usoop. Melihat tampilan sup yang terlihat 'agak' tidak menyakinkan.

Nami mengaduk-aduk sup di mangkok miliknya menggunakan sendok. Wajahnya menunjukkan ekspresi kurang yakin akan makanan ini.

Semua sudah mengambil tempat di meja makan, termasuk Zoro, "itadakimasu!" mereka bersama-sama mencoba hasil masakan duo amatiran itu dan…

.

.

.

"Hueekk!" dengan setentak anggota Mugiwara memuntahkan apa yang baru saja mereka telan keluar dari mulut mereka. Bahkan Usopp dan Franky pun sampai terjungkal ke lantai.

Robin dan Nami memasang tampang mual dengan wajah yang sudah pucat seperti Brook. Zoro dengan sigap berlari keluar guna memuntahkan 'hasil pekerjaan amatirannya itu'. Chooper pun ditemukan menggelepar di lantai seperti ikan yang barusan ditangkapnya tadi.

"Ini rasanya sangat buruk! Bahkan sampai-sampai aku tidak menggambarkannya !" komentar Nami. Disuse anggukan Robin dan beberap orang lainnya.

"Maaf, tuan samurai. Yang dikatakan nona navigator benar. Memang bahannya benar, tapi kurasa ada yang salah dengan bumbunya." Robin mencoba menjelaskan perlahan agar Zoro tidak tersinggung.

"Tenang saja, aku juga merasa ada yang aneh dengan bumbunya," balasnya sambil menggaruk kepala hijaunya dan menyengir ala kudalaut.*?*

Franky menatap Zoro heran, "memang apa saja yang kau masukkan dalam 'benda' itu?" tunjuk Frangky pada sup itu.

Zoro hanya mengangkat bahunya, "hm… Hampir semua bumbu yang ada di dapur aku masukkan."

Kesimpulannya, anggota Mugiwara (minus Sanji dan Brook) menunjukkan ekspresi yang menggambarkan bagaimana rasa makanan itu.

Bagaimana dengan Luffy?

Sang manusia karet itu terlihat sangat-sangat menikmati makanannya, tidak peduli apa sajanya. Sepertinya efek dari buah setan itu, juga membuatnya buta rasa terhadap rasa makanan. =="

"Wah, enak Zoro. Tak buruk untuk amatiran," puji sang kapten. Bahkan ia, meminta tambah sup JB itu.

Semua anggota hanya menganga lebar, 'sepertinya kita benar-benar salah memilih kapten. Haruskah kita bersyukur atau menyesalinya?' mungkin itu yang ada di benak mereka saat itu.

Kesimpulan: Sudah dapat dipastikan, hasil masakan Brook dan Zoro, sepertinya kurang layak dikonsumsi oleh mereka yang masih ingin hidup.

...xXxXx...

"Sudah kuputuskan, untuk makan siang nanti yang memasak adalah tim selanjutnya!" ucap Nami setelah acara sarapan pagi berakhir. Namun ia terlihat agak sedikit lemas.

Maklum saja, ia lebih memilih kelaparan daripada kenapa-kenapa akibat memakan makanan buatan Zoro itu. Lagipula, sup itu juga sudah ludes dilahap Luffy. Sayang kalau dibuang, ucapnya.

Kali ini para Mugiwara, kembali melakukan diskusi untuk masalah masak-memasak. Setelah melihat hasil sebelumnya, yang sangat tidak memuaskan.

Usoop mengangkat tangannya, "berarti kau dan Chooper ya?"

Nami mengangguk, "ya , setidaknya aku bisa menjamin makanan untuk siang ini lebih baik." Nami menatap Zoro dengan tatapan mengejek.

Zoro hanya mendengus kesal atas perkataan Nami. Tapi, seseorang menepuk pundak Zoro, "tak apa tuan samurai. Namanya juga pemula." Robin berucap sambil tersenyum manis.

Sepertinya kata-katanya itu, membuat mood Zoro kembali baik saat itu juga.

'Ya, mungkin untuk kali ini, aku tidak perlu cemas untuk menyiapkan obat sakit perut,' batin Chooper senang.

"Tapi, bukannya harus Zoro dan Brook lagi? Peraturannya begitukan?" ralat Robin.

Nami menghela napas panjang, "ne, Robin-chan aku kira mereka mau hidup." Nami menunjuk para anggota Luffy dkk. "Jadi, lebih baik kita ubah peraturannya. Jadi, setiap grup memiliki satu kali giliran masak saja. Nanti bergantian dengan grup lain, begitu seterusnya."

"Hey Nami, jadi maksudmu jika makan siang kau dan Chopper, berarti yang memasak makan malam adalah…" Franky menatap Nami, mengharapkan jawaban 'tidak'.

"Ya tentu saja Usopp dan Lu…" Nami sedikit berat menyebut nama itu. "Luffy!"

Dan saat itu juga para Mugiwara segera memanjatkan doa, agar mereka selamat dari badai*?*

"Firasatku mengatakan, malam ini akan kurang baik," ungkap Zoro seraya menguap kecil.

"Heh, Zoro jangan menguap sembarangan, mulutmu bau. Kapan terakhir kali sikat gigi" Tanya Usoop sambil menutup kedua hidungnya.

Zoro memutar kedua matanya, "sejak terakir kali Luffy menjadi pandai," ucapnya sangat asal.

"Karena semuanya sudah mengerti, rapat bubar!'' Ucap Nami seenaknya.

Gadis berambut jingga itu keluar dari ruang berkumpul dan memilh bersantai di dek kapal. Sementara yang lain sibuk mempertanyakan kapan terakhir kali Luffy pandai?

...xXxXx...

Siangnya…

Nami menatap Chooper yang berada di sebelahnya dengan tajam, ia memastikan rusa kecil itu melakukan pekerjaannya dengan baik.

Sementara itu, rusa kecil itu matanya tampak berkaca-kaca dan hampir menangis. Di tangannya terdapat sebuah pisau yang berkilat tajam.

"Kau bisa Chopper, kau pasti bisa!" ucapnya menyemangati dirinya.

"Chopper! Lakukan yang benar!" bentak Nami.

"Tapi…" kata-kata Chopper terputus saat menatap mata Nami yang menyeramkan.

Akhirnya Chopper memberanikan diri, ia mengayunkan pisaunya dengan cepat, dan…

.

TBC...

Yaaa… Akhirnya chap ini apdet juga *nangis bahagia-lebay*

Apdetnya lama ya? Gomen… =.=Y

Zoro: Woy, author! Tega amat nistain gue. Puas loe?

Author: Banget *tampang watados*

Zoro: *siap-siap nebas*

Author: *kabur*

Zoro: Huuh.. Gara-gara tuh author ngacir, jadi biarkanlah Roronoa Zoro yang membalas ripiu non loginya.

ReadR: Tenang aja, kami sudah di daftarin sama author ke asuransi jiwa kok kalau mau makan hasil masakan Luffy. Bahkan surat wasiatnya udah jadi loh.

Makasih udah review, ini udah apdet, walaupun sangat-sangat terlambat *bungkuk-bungkuk*

Uchiha tu keren: Wah, makasih udah bilang fictnya keren, tuh si author jadi melayang *lebay*. Ini apdetannya, makasih udah jauh-jauh nyebrang fandom untuk RnR fict ini. Jangan lupa review lagi ya… Ya.. *plak*

Arigatou minna atas reviewnya, jangan lupa bagi yang sudah mereview chap 2, jangan lupa ngereview lagi di chap 3 ya. *plak*

Ehemm... sebelum author bercuap-cuap terlalu lebar, author cuma mau bilang,

REVIEW PLEASEEEE...